Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN PERUSAHAAN PERTAMBANGAN DI BEI PERIODE 2005-2009



BAB I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah
 Mengamati perkembangan pasar modal di negara-negara maju, ternyata pasar  modal mempunyai peran yang sangat penting, baik dari sisi permintaan modal oleh  perusahaan, yang biasa disebut emiten (issuer), maupun sisi penawaran oleh pemilik  modal, yaitu masyarakat yang disebut investor. Bagi emiten, dengan memasuki pasar  modal akan mendorong pemanfaatan manajemen yang professional. Karena  perusahaan yang sudah go public akan terus menjadi sorotan masyarakat, dan untuk  mendapatkan sorotan positif, perusahaan harus berprestasi baik dengan dikelola oleh  tenaga-tenaga yang profesioanl. Pada dasarnya pasar modal hampir sama dengan  pasar-pasar lain. Untuk setiap pembeli yang berhasil, selalu harus ada penjual yang  berhasil. Jika jumlah orang yang ingin membeli lebih banyak dibandingkan dengan  orang yang ingin menjual, harga akan menjadi semakin tinggi dan bila tidak ada  seorangpun yang membeli dan banyak yang mau menjual maka harga akan jatuh.
Pasar modal dapat dikatakan sebagai pasar abstract, karena yang diperjualbelikan  adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana yang keterkaitannya dalam investasi  lebih dari satu tahun. Pasar uang dan pasar modal berkembang dengan pesat, baik  dalam bentuk saham maupun instrumen hutang.
Pasar modal sebagai pesaing bank dalam perannya adalah sebagai sumber  pembiayaan maupun sebagai sumber investasi. Perkembangan disektor keuangan oleh  beberapa pakar digambarkan sebagai innovation spiral, yaitu suatu keadaan dimana  pasar keuangan dan perantara keuangan selain bersaing tetapi juga saling melengkapi.
 Para ahli menyatakan bahwa integrasi di bidang keuangan dan modal berlangsung  lebih cepat dari pada di bidang riil (barang). Implikasi dari integrasi keuangan ini adalah :  (1) Bagi pencari dana, tersedia sumber dana yang tidak terbatas jumlahnya; (2) bagi investor  tersedia berbagai cara dan alternatif investasi yang tidak terbatas jumlahnya; (3) pergerakan  uang dan modal ditentukan secara arbitrage, berdasarkan perbedaan return dan resiko.
Keadaan ini membawa dampak yang sangat besar terhadap keadaan perekonomian suatu  negara secara umum dan perkembangan pasar modal domestik pada khususnya. Melalui  pasar modal, dunia usaha akan dapat memperoleh sebagian atau seluruh pembiayaan jangka  panjang yang diperlukan. Selain itu, pengaktifan ini juga dimaksudkan untuk meratakan  hasil-hasil pembangunan melalui kepemilikan saham-saham perusahaan serta penyediaan  lapangan kerja dan pemerataan kesempatan usaha.
Dampak perkembangan pasar modal pada prinsipnya tertumpu pada dua hal yaitu; (1)  efisiensi sistem pasar modal dan (2) kualitas produk yang diperdagangkan di pasar modal.
Kedua kriteria ini merupakan kriteria utama yang menentukan berhasil tidaknya pasar modal  sebagai alternatif pembiayaan perusahaan. Sebelum perusahaan mendapatkan pembiayaan  dari investor, maka perusahaan lebih dulu menunjukkan kinerja perusahaannya dengan  menerbitkan laporan keuangan sebagai bukti dari kredibilitas perusahaan yang akan dibiayai.
Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor dalam  mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan tersebut menjadi optimal bagi  investor apabila investor tersebut dapat menganalisis lebih lanjut melalui analisis laporan  keuangan. Rasio keuangan berguna untuk memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil  operasi, kondisi keuangan perusahaan saat ini dan masa mendatang, serta berbagai pedoman  bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang.
Dan pada penelitian ini maka penulis memilih perusahaan pertambangan yang  terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai media penelitian. Yang menjadi pertimbangan   penulis untuk meneliti sektor pertambangan adalah dari fakta yang menunjukkan bahwasanya  Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah terutama untuk  sektor pertambangan. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu alasan yang  kuat bagi para pengusaha untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di sektor  pertambangan. Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Wijaya (2008) yang meneliti sejauh  mana rasio modal saham mempengaruhi return saham perusahaan pertambangan, menjadi  pemicu bagi penulis untuk melakukan hal yang sama. Penelitian dengan menggunakan rasio  modal saham ini membahas mengenai sejauh mana laporan keuangan perusahaan menjadi  kunci utama dalam menstimulus para investor untuk menginvestasikan modalnya. Tetapi  berdasarkan artikel oleh Sunarsip sebagai Ekonom dan sekaligus Kepala The Indonesia  Economic Intellegence mengatakan bahwa secara mikro, kinerja perusahaan yang bergerak di  sektor pertambangan memang mengalami lonjakan besar. Setidaknya dapat dilihat dari  capaian laba perusahaan. Pada tahun 2007, kinerja keuangan perusahaan yang bergerak di  sektor pertambangan (BUMN dan swasta) umumnya meningkat dratis dibandingkan tahun  2006.
Dengan perkembangan tersebut memang pantas bila harga saham dari para emiten  pertambangan mengalami lonjakan. Namun, perlu dilihat seberapa besar pengaruh faktor  fundamental dan sentimen telah membentuk harga saham tersebut. Berdasarkan pengamatan  Sunarsip, faktor sentimen pasar masih cukup besar mempengaruhi harga saham sektor  pertambangan, terkait dengan harga komoditas pertambangan di pasar global. Oleh karena itu  rasio modal saham yang menjadi variabel pengukur  return  saham  di perusahaan  pertambangan di bursa efek Indonesia memiliki kemungkinan yang kecil untuk berpengaruh.
Selain karena sentimen pasar yang lebih dominan membentuk harga saham, sistem kerja  perusahaan pertambangan juga menjadi salah satu alasannya. Seperti yang diketahui bahwa  perusahaan pertambangan menggunakan sistem pembiayaan jangka panjang yang juga sesuai   dengan kegiatan operasinya yang jangka panjang. Dengan alasan ini maka penulis ingin  melakukan uji beda antara perusahaan pertambangan dengan perusahaan lain dengan tujuan  ingin mengukur perbedaan pengaruh rasio modal saham terhadap return. Uji beda dilakukan  untuk membuktikan pada sektor apa rasio modal saham lebih cocok untuk dipakai. Pada  penelitian ini maka sektor pembanding yang dipilih adalah perusahaan asuransi. Perusahaan  asuransi dipilih menjadi alternatif pembanding karena perusahaan asuransi adalah perusahaan  yang menjadikan modal sebagai alat pengukur utama dalam kegiatan kegiatan operasinya.
Oleh karena itu maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh rasio  modal saham terhadap return saham perusahaan pertambangan denganperusahaan asruransi,  apakah memiliki hasil yang sama atau tidak dari penelitian terdahulu. Berikut disajikan  pertumbuhan Return on Equity (ROE) dan Return dari tahun 2005 sampai 2009 di perusahaan  pertambangan di Bursa Efek Indonesia: Tabel 1.1 Return Saham Tahun 2005-2009  EMITEN  PERUSAHAAN Return Saham (%) 2005  2006  2007  2008  2009 ANTM  PT. Aneka Tambang, Tbk  0,776  1,24  0,38  -0,67  -0,25 ARTI  PT. Ratu Prabu Energi, Tbk  0,49  0,2  -0,32  0,88  -0,206 ATPK  PT. ATPK Resources, Tbk  0,07  -0,617  9  -0,48  -0,66 BUMI  PT. Bumi Resources, Tbk  0,31  0,019  0,47  0,02  0,14 CITA  PT. Cita Mineral Investindo, Tbk  -0,32  0,95  1,31  0,25  -0,46 CNKO  PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk  -0,75  0,7  0,99  -0,23  0,1 CTTH  PT. Citatah Industri Marmer, Tbk  -0,15  -0,36  6,45  0,55  0,72 DOID  PT. Delta Dunia Makmur, Tbk  3,03  -0,45  0,33  -0,1  -0,68 ENRG  PT. Energi Mega Persada, Tbk  0,67  -0,05  1,94  -0,19  -0,3 INCO  PT.International Nickel Indonesia, Tbk  -0,46  14,39  2,41  2,64  0,2 KKGI  PT. Resouce Alam Indonesia, Tbk  0,297  -0,51  0,07  -0,06  -0,28 MEDC  PT.Medco Energi Internasional, Tbk  0,98  0,22  2,17  -0,34  -0,3 MITI  PT. Mitra Investindo, Tbk  0,48  -0,354  1,17  0,69  0,09 PTBA PT.Tambang Batubara Bukit Asam,  Tbk -0,42  0,82  -0,09  -0,12  0,88  PTRO  PT. Petrosea, Tbk  0,78  0,295  5,72  0,31  -0,91 TINS  PT. Timah, Tbk  -0,078  10,25  2,46  0,73  -0,6  Tabel 1.2      Return on Equity Tahun 2005-2009  EMITEN  PERUSAHAAN Return On Equity (ROE) (%) 2005  2006  2007  2008  2009  ANTM  PT. Aneka Tambang, Tbk  0.52  51.85  83,32  23,93  9,62 ARTI  PT. Ratu Prabu Energi, Tbk  17,8  -128,08  -48,29  3,74  -40,96 ATPK  PT. ATPK Resources, Tbk  -2  -66,49  -27,92  -13,89  -23,46 BUMI  PT. Bumi Resources, Tbk  0.66  62,49  68,2  80,84  22,17 CITA  PT. Cita Mineral Investindo, Tbk  17,8  225,2  0,39  0,37  0,6 CNKO  PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk  0,043  0.31  -35,53  2,72  24,66 CTTH  PT. Citatah Industri Marmer, Tbk  -1,69  614,83  2,71  1,75  322,55 DOID  PT. Delta Dunia Makmur, Tbk  17,8  1,15  -1,55  0,5  -81,4 ENRG  PT. Energi Mega Persada, Tbk  10  0,22  120,91  30,46  14,97 INCO PT. International Nickel Indonesia,  Tbk 0.69  44,27  -32,08  44,64  32,05  KKGI  PT. Resouce Alam Indonesia, Tbk  -0,03  -24,68  21,3  68,16  7,13 MEDC  PT. Medco Energi Internasional, Tbk  0.14  31,64  3,28  5,98  34,97 MITI  PT. Mitra Investindo, Tbk  17,8  -34,25  37,8  63,82  65,98 PTBA PT. Tambang Batubara Bukit Asam,  Tbk 0,23  29,14  14,94  7,13  5,7  PTRO  PT. Petrosea, Tbk  13,33  13,92  79,01  55,2  16,01 TINS  PT. Timah, Tbk  0,07  20,72  76,2  65,49  35,19 Sumber: www.idx.co.id(diolah) Dari tabel 1.2 dapat dilihat bahwa rasio modal saham yang diukur dengan ROE yang  cenderung meningkat tidak selalu mengindikasikan peningkatan  return  sahan suatu  perusahaan. Sebaliknya, ROE yang cenderung menurun tidak selalu mengindikasikan  penurunan return saham suatu perusahaan. Hal ini dapat dilihat pada PT. Cita Mineral  Investindo Tbk (CITA) yang menunjukkan pergerakannya dari tahun 2005 sampai 2009. Di  tahun 2006 ROE berada pada posisi 225,2 dan ROE pada 2007 berada pada posisi 0,93.
Tetapi return tidak mengalami peningkatan seperti peningkatan yang terjadi pada ROE.
Besarnya return di tahun 2006 hanya sebesar 0,95, tetapi d tahun 2007 besarnya return  adalah 1,31. Artinya peningkatan ROE tidak diikuti oleh peningkatan  return  jika  dibandingkan dengan tahun 2007. Sedangkan di tahun 2009 ROE mengalami penurunan, di  posisi 22,17 dengan return sebesar 0,14. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan ROE  tidak mempengaruhi besarnya return karena hasilnya adalah return mengalami peningkatan   dari tahun sebelumnya. Begitu juga halnya dengan emiten ANTM, ATPK, CTTH, ENRG,  MEDC, MITI, PTBA, dan PTRO, dimana rasio ROE-nya tidak selalu berbanding lurus  dengan perubahan return saham perusahaan. Melihat fenomena return saham diatas, maka  peneliti tertarik untuk melakukan penelitian apakah ada variabel lain yang diangkat dalam  penelitian ini yang dapat mempengaruhi return saham perusahaan pertambangan di Bursa  Efek Indonesia dengan menggunakan data keuangan tahun 2005 sampai 2009. Variabel lain  yang diangkat dalam penelitian ini adalah Price Earning Ratio,Price to Book Value, dan  Book Value Per Share. Penelitian untuk menganalisis pengaruh berbagai faktor modal saham  terhadap tingkat harga saham telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan penggunaan  variabel dependen dan variabel independen yang beragam. Hasil akhir dari penelitiannya  adalah berpengaruh signifikan antara kedua variabel tersebut, walaupun terdapat hasil yang  tidak signifikan yang relatif kecil, tetapi ada penelitian yang memiliki perbedaan hasil  meskipun variabel independen yang digunakan sama. Oleh karena itu, penulis akan  melakukan penelitian tentang analisis rasio keuangan terhadap return  saham dengan  penambahan variabel yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Motivasi dalam melakukan  penelitian ini adalah untuk menguji konsistensi pengaruh rasio keuangan berdasarkan data  akuntansi terhadap  return  saham. Oleh karena kinerja saham menjadi salah satu  pertimbangan investor dalam melakukan investasi, maka penelitian ini ingin menganalisis  kembali temuan penelitian sebelumnya dari aspek modal saham dengan judul “ Analisis  Pengaruh Rasio Modal Saham Terhadap Returnsaham Perusahaan Pertambangan Di  Bursa Efek Indonesia”.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka permasalahan  yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah “ Apakah ROE, PER, PTBV, dan BVPS   berpengaruh signifikan terhadap return saham? ” dan “ Apakah ada perbedaan pengaruh  ROE, PER, PTBV, dan BVPS terhadap return saham? “.
C. Kerangka Konseptual Dalam melakukan investasi di pasar modal, ada dua hal yang penting diperhatikan  yaitu keuntungan yang diperoleh dan resiko yang mungkin terjadi. Investor memerlukan  pertimbangan-pertimbangan yang matang untuk berinvestasi.  Laporan tahunan yang  diterbitkan juga menjadi hal yang sangat penting bagi para pemegang saham. Laporan ini  memuat laporan keuangan dasar dan juga analisis manajemen atas operasi tahun lalu dan  pendapat mengenai prospek-prospek perusahaan di masa mendatang. Salah satu teknik yang  digunakan untuk menghitung keadaan perusahaan adalah dengan rasio modal saham (Gill,  2004). Rasio modal saham adalah rasio yang mengukur sejauh mana keadaan perusahaan  ditinjau dari laporan keuangannya. Gill (2004) mengklasifikasikan rasio modal saham  menjadi empat rasio yaitu ROE, PER, BVPS, dan PTBV. Semakin besar ROE, PER, BVPS,  dan PTBV suatu perusahaan, semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar keuntungan  perusahaan yang dapat dinikmati oleh pemegang saham, maka semakin besar pula  kemungkinan harga saham naik. Sebaliknya ketika ROE, PER, BVPS, dan PTBV menurun  maka harga saham ikut juga turun, hal itu juga akan diikuti perubahan return sahamnya.
ROE adalah rasio laba bersih terhadap ekuitas saham biasa dalam mengukur tingkat  pengembalian atas investasi dari pemegang saham biasa. ROE adalah bagian dari rasio  profitabilitas yang paling penting dalam rasio akuntansi. Para pemegang saham melakukan  investasi untuk mendapatkan pengembalian atas uang mereka, dan rasio ini menunjukkan  seberapa baik mereka telah melakukan hal tersebut dari sisi akuntansi. PER adalah rasio  harga per lembar saham terhadap laba per lembar saham, menunjukkan jumlah banyaknya  uang yang dikeluarkan investor untuk setiap laba yang dilaporkan. BVPS adalah rasio nilai  buku per lembar saham untuk mengukur seberapa besar nilai buku dari setiap saham. PTBV   adalah rasio harga saham yang digunakan untuk mengukur apakah harga saham  diperdagangkan di atas atau di bawah nilai buku saham tersebut. Penelitian ini juga menggunakan uji beda untuk membandingkan apakah ada pengaruh perbedaan rasio modal  saham terhadap  return saham perusahaan pertambangan dan asuransi. Uji beda yang  digunakan adalah Independent Sample T-test karena menurut Situomorang et, al (2010:43) uji  beda t-test  digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan  memiliki nilai rata-rata yang berbeda. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya,  maka secara konseptual, penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: ≠ D.  Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara atas suatu permasalahan. Dalam penelitian ini,  maka hipotesis yang dikemukakan adalah sebagai berikut:≠ 1.  Ada pengaruh yang signifikan dari ROE (Return On Equity), PER (Price Earning  Ratio), PTBV (Price To Book Value), dan BVPS (Book Value Per Share) terhadap  return saham perusahaan pertambangan dan asuransi di Bursa Efek Indonesia.
2.  Ada pengaruh perbedaan dari ROE (Return On Equity), PER (Price Earning  Ratio), PTBV (Price To Book Value), dan BVPS (Book Value Per Share) terhadap  return saham perusahaan pertambangan dan asuransi di Bursa Efek Indonesia.
Return On Equity (X1) Price Earning Ratio (X2)  Book Value Per Share (X3)  Price To Book Value (X4)  Return  Pertambangan Return  Aasuransi  E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini  adalah: a.  Untuk mengetahui dan menganalisi pengaruh Return On Equity, Price Earning Ratio,  Book Value Per Share, dan Price to Book Value secara simultan terhadap return saham pada  perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia.
b.  Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Return On Equity, Price Earning  Ratio, Book Value Per Share, dan Price to Book Value secara parsial terhadap return saham  pada perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia.
2.  Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:  1)  Bagi perusahaan Pertambangan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pihak manajemen  perusahaan pertambangan dalam penetapan kebijakan terutama menyangkut keuangan dan  kebijakan lain berdasarkan analisis rasio keuangan.
2)  Bagi Investor Untuk memberikan informasi bagi investor mengenai signifikansi Return On Equity (ROE),  Price Earning Ratio (PER), Book Value Per Share (BVPS), dan Price to Book Value (PTBV)  sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam kegiatan investasi.
3)  Bagi Penulis Untuk menambah wawasan penulis baik dari segi teoritis maupun kenseptual mengenai pasar  modal, kususnya untuk mengetahui secara empiris pengaruh Return On Equity (ROE), Price   Earning Ratio (PER), Book Value Per Share (BVPS), dan Price to Book Value (PTBV) terhadap return saham perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia.
4)  Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai referensi bagi penulis selanjutnya, khususnya penelitian mengenai pengaruh rasio  modal saham terhadap return saham perusahaan pertambangan dengan ruang lingkup yang  lebih luas sehingga hasilnya menjadi lebih sempurna.
F.  Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Variabel Batasan operasional variabel digunakan untuk menghindari kesimpangsiuran dalam  membahas dan menganalisis permasalahan dalam penelitian ini. Batasan operasional variabel  dalam penelitian ini antara lain: a)  Variabel independen (X) adalah Return on Equity (X1), Price Earning Share (X2),  Book Value Per Share (X3), dan Price to Book Value (X4).
b)  Variabel dependent (Y) adalah return saham setelah publikasi laporan keuangan,  karena diharapkan return saham akan bereaksi terhadap laporan keuangan. Data laporan  keuangan perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009 setiap tahun.
2.  Definisi Operasional Variabel Definisi operasional dari variabel-variabel yang akan diteliti adalah: 1)  Variabel Independen (X) a.  Return On Equity (X1) Return On Equity menunjukkan kemampuan ekuitas perusahaan dalam menghasilkan laba  perusahaan. Rasio On Equity dapat dihitung sebagai berikut (Brigham dan Houston:2006): Return On Equity =  π‘³π‘³π‘³π‘³π‘³π‘³π‘³π‘³ 𝑳𝑳𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃 𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑳𝑳𝑻𝑻 𝑬𝑬𝑬𝑬𝑬𝑬𝒃𝒃𝑻𝑻𝑳𝑳𝒃𝒃 b.  Price Earning Ratio (X2)  Price Earning Ratio mengukur seberapa banyak para investor bersedia membayar untuk  rupiah dari laba yang dilaporkan. Perhitungan PER ditunjukkan dalam persamaan berikut  (Brigham dan Houston (2006:110)): PER =  π‘―𝑯𝑳𝑳𝒃𝒃𝑯𝑯𝑳𝑳 𝑷𝑷𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑷𝑷𝒃𝒃𝒃𝒃 𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳 𝑷𝑷𝒃𝒃𝑷𝑷𝑷𝑷𝑳𝑳𝑷𝑷𝑳𝑳𝑻𝑻𝑳𝑳𝑷𝑷 𝑷𝑷𝒃𝒃𝒃𝒃 𝑻𝑻𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳 c.  Book Value Per Share (X3) Book Value Per Share mengukur seberapa besar nilai buku dari setiap saham. Perhitungan  BVPS ditunjukkan dalam persamaan sebagai berikut (Brigham dan Houston (2006:112)): BVPS =  π‘»π‘»π‘»π‘»π‘»π‘»π‘³π‘³π‘»π‘» 𝑬𝑬𝑬𝑬𝑬𝑬𝒃𝒃𝑻𝑻𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑱𝑱𝑬𝑬𝑳𝑳𝑻𝑻𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳 𝑩𝑩𝒃𝒃𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳 π’šπ’šπ‘³π‘³π‘·π‘·π‘―π‘― 𝑩𝑩𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝒃𝑷𝑷𝑳𝑳𝒃𝒃 d.  Price to Book Value (X4) Price to Book Value mengukur apakah harga saham yang diperdagangkan di atas atau di  bawah nilai buku saham tersebut. Perhitungan PTBV ditunjukkan dalam persamaan berikut  ini (Brigham dan Houston (2006:115)): PTBV =  π‘―𝑯𝑳𝑳𝒃𝒃𝑯𝑯𝑳𝑳 𝑷𝑷𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑷𝑷𝒃𝒃𝒃𝒃 𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳 𝑡𝑡𝒃𝒃𝑻𝑻𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑩𝑩𝑬𝑬𝑬𝑬𝑬𝑬 𝑷𝑷𝒃𝒃𝒃𝒃 𝑻𝑻𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝑳𝒃𝒃 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳 2)  Variabel Dependen (Y) Variabel dependent atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh  variabel lain. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah return saham.
Return  adalah tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor dari investasi yang  dilakukannya. Penghitungan return dilakukan tanpa menggunakan dividen karena tidak  semua perusahaan menerbitkan dividen setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan beberapa  perusahaan saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) membuat kesepakatan bahwa  dividen tidak dibagikan kepada para pemegang saham tetapi dijadikan dalam bentuk laba  ditahan. Perhitungan  return  saham dapat ditunjukkan dalam persamaan berikut ini  (Jogiyanto:2000):  Return =  π‘―𝑯𝑳𝑳𝒃𝒃𝑯𝑯𝑳𝑳 𝑷𝑷𝒃𝒃𝑷𝑷𝑬𝑬𝑻𝑻𝑬𝑬𝑷𝑷𝑳𝑳𝑷𝑷 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳𝑯𝑯𝑳𝑳𝒃𝒃𝑯𝑯𝑳𝑳 𝑨𝑨𝑨𝑨𝑳𝑳𝑻𝑻 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳 𝑯𝑯𝑳𝑳𝒃𝒃𝑯𝑯𝑳𝑳 𝑨𝑨𝑨𝑨𝑳𝑳𝑻𝑻 𝑺𝑺𝑳𝑳𝒃𝒃𝑳𝑳𝑳𝑳  3.  Populasi dan Sampel a.  Populasi  Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek,  transaksi, atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek  penelitian (Kuncoro, 2003:103). Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan  pertambangan di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2009 yang berjumlah 28 perusahaan.
b.  Sampel Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi (Kuncoro,2003:103).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik  purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu dimana  peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakteristik anggota  sampel yang disesuaikan dengan maksud penelitian (Kuncoro, 2003:119).
Adapun pertimbangan yang digunakan dalam sampel ini adalah sebagai berikut: 1.  Perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2005-2009..
2.  Perusahaan menerbitkan laporan tahunan (annual report) pada tahun 2005 serta  memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang dibutuhkan.
Tabel 1.3  Jumlah sampel berdasarkan karakteristik sampel No  Karakteristik Sampel  Jumlah 1.
Industri pertambangan yang terdaftar di BEI tahun  2005-2009  28  2.
Industri pertambangan yang tidak memiliki laporan  tahunan yang lengkap 12  Jumlah akhir sampel  16 Sumber : www.idx.co.id (diolah)  Berdasarkan karakteristik penarikan jumlah sampel tersebut, maka diperoleh sampel  sebanyak 16 industri sektor pertambangan, antara lain: Tabel 1.4  Perusahaan Yang Menjadi Sampel No  Nama Emiten  Kode Emiten 1.  PT. Aneka Tambang, Tbk  ANTM 2.  PT. Ratu Prabu Energi, Tbk  ARTI 3.  PT. ATPK Resources, Tbk  ATPK 4.  PT. Bumi Resources, Tbk  BUMI 5.  PT. Cita Mineral Investindo, Tbk  CITA 6.  PT. Exploitasi Energi Indonesia, Tbk  CNKO 7.  PT. Citatah Industri Marmer, Tbk  CTTH 8.  PT. Delta Dunia Makmur, Tbk  DOID 9.  PT. Energi Mega Persada, Tbk  ENRG 10.  PT. International Nickel Indonesia, Tbk  INCO 11.  PT. Resouce Alam Indonesia, Tbk  KKGI 12.  PT. Medco Energi Internasional, Tbk  MEDC 13.  PT. Mitra Investindo, Tbk  MITI 14.  PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk  PTBA 15.  PT. Petrosea, Tbk  PTRO 16.  PT. Timah, Tbk  TINS Sumber: www.idx.co.id 4.  Tempat dan Waktu Penelitian a.  Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di BEI melalui situs www.idx.co.id dan www.duniainvestasi.com.
 b.  Waktu Penelitian Waktu penelitian dimulai pada bulan September 2010 sampai selesai.
5.  Jenis Data Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui laporan keuangan  yang dipublikasikan oleh Bursa efek Indonesia. Menurut Kuncoro (2003:127), data sekunder  adalah data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan  kepada masyarakat pengguna data. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah: a.  Data perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2005 sampai  tahun 2009.
b.  Data laporan keuangan selama 5 tahun yaitu mulai tahun 2005 sampai dengan tahun  2009.
c.  Harga saham masing-masing perusahaan pertambangan yang digunakan dalam  penelitian ini yaitu harga saham tahunan. Harga saham yang dipakai adalah closing price.
6.  Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan mengumpulkan data  pendukung berupa jurnal, buku-buku referensi, internet dan literature ilmiah lainnya untuk  mendapatkan gambaran masalah yang diteliti serta mengumpulkan data sekunder yang  relevan dari laporan yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia.
7.  Metode Analisis Data a.  Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah metode analisis dimana data-data yang ada  dikumpulkan, diklasifikasi, dianalisis, dan diinterpretasikan secara objektif sehingga  memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang dibahas.
 b.  Regresi Linear Berganda Regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh vatiabel bebas yakni ROE, PER,  BTVS, dan PTBV terhadap variabel terikat yaitu return saham perusahaan pertambangan di  Bursa Efek Indonesia, dengan rumus: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e Dimana:    Y  = Harga saham perusahaan pertambangan X1  = ROE (Return On Equity) X2  = PER (Price Earning Ratio) X3  = BVPS (Book Value Per Share) X4  = PTBV (Price to Book Value) a   = Konstan b1…b5  = Koefisien regresi variabel independen e  = error term  atau variabel yang tidak diteliti c. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah distribusi sebuah data mengikuti atau  mendekati distribusi normal. Uji normalitas dilakukan melalui analisis grafik dan analisis  kolmogorov Smirnov. Hipotesisnya sebagai berikut: Ho : data residual berdistribusi normal H1 : data residual tidak berdistribusi normal Dengan menggunakan tingkat signifikan (Ξ±) = 5%. Jika nilai Asy.mig (2-tailed) > dari taraf  kesalahan (0,05) maka Ho diterima, artinya data residual berdistribusi normal, sebaliknya jika  Asy.sig (2-tailed) < dari taraf kesalahan (0,05) maka H1 diterima, artinya data residual  berdistribusi normal.
2. Uji Heteroskedastisitas  Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi  ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika  variance dari residual satu pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika  berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas  atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas menggunakan grafik dan uji  park.
3. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan  adanya korelasi antara variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi  korelasi antara variabel bebas. Adanya multikolinieritas dapat dilihat dari tolerance value  atau nilai variance inflation Factor (VIF0 dengan ketentuan sebagai berikut: 1.  Jika Tolerance Value < 0,1 atau VIF > 5 terjadi multiko linieritas.
2.  Jika Tolerance Value > 0,1 atau VIF < 5 tidak terjadi multiko linieritas.
4. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada  korelasi antara kesalahan penggangguan pada periode t dengan kesalahan penggangguan pada  periode sebelumnya. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu  berkaitan satu sama lainnya. Pengujian autokorelasi dilakukan dengan cara The Runs Test  sebagai uji nonparametik dengan tanda negatif dan positif. Kriteria keputusan adalah tidak  menolak hipotesis nol jika taksiran R berasal pada jarak interval, dan menolak hipotesis nol  jika taksiran R diluar batas interval.
d.  Pengujian Hipotesis 1)  Uji F (Serentak/Simultan)  Uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabel bebas (ROE, PER,  BVPS, dan PTBV) terhadap variabel terikat (return saham perusahaan pertambangan). Bentuk  pengujian: Ho : b1 = b2 = b3 = b4 = 0, tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara  bersama-sama dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
H1 : b1 ≠  b2    b3    b4    0,  artinya  terdapat  pengaruh  yang  positif  dan  signifikan  secara  bersama-sama dari variabel bebas terdapat variabel terikat.
Dengan kriteria pengambilan keputusan: Ho diterima jika F hitung < F tabel pada Ξ± = 5% H1 diterima jika F hitung > F tabel pada Ξ± = 5% 2)  Uji t (Parsial) Uji t digunakan untuk menguji setiap variabel bebas (X) apakah mempunyai  pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel terikat (Y), bentuk pengujian: Ho : b1 0, artinya tidak terdapat yang positif dan signifikan secara parsial dari variabel bebas  terhadap variabel terikat.
H1 : b1 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara parsial dari variabel  bebas terdapat variabel terikat. Dengan kriteria pengambilan keputusan:  Ho diterima jika t hitung < t tabel pada Ξ± = 5% H1 diterima jika t hitung > t tabel pada Ξ± = 5% 3)  Koefisien Determinasi (𝑹𝑹 𝟐𝟐 )  Koefisien determinan (𝑅𝑅 2 ) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan  variabel bebas menjelaskan variabel terikat. Dalam output SPSS, koefisien determinan  terletak pada Tabel Model 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆 𝑏𝑏 dan tertulis R Square. Besarnya R Square berkisar   antara 0-1 yang berarti semakin kecil besarnya R Square, maka hubungan kedua variabel  semakin lemah. Sebaliknya jika R Square semakin mendekati 1, maka hubungan kedua  variabel semakin kuat.
e.  Independen Sample T Test Independen sample T test dilakukan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua  kelompok. Uji beda t test ini digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak  berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda. Tujuan uji beda t test adalah  membandingkan rata-rata dua kelompok tersebut, apakah mempunyai nilai rata-rata (mean)  yang sama atau tidak sama secara signifikan.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi