Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS DESAIN STRUKTUR ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA PADA KANTOR DIREKSI PT PERKEBUNAN NUSANTARA III



BAB I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah 
Organisasi merupakan wadah yang dibentuk oleh sekelompok orang yang  bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran bersama. Diantara faktorfaktor produksi, manusia mempunyai peranan penting dalam kegiatan perusahaan  karena faktor manusia merupakan penggerak dari faktor produksi lain. Alat yang  diperlukan sebagai faktor penggerak manusia selaku karyawan dalam suatu  organisasi perusahaan yaitu motivasi kerja.

Motivasi adalah keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang  memberikan energi, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarah atau  menyalurkan perilaku kearah mencapai kebutuhan yang member kepuasan atau  mengurangi ketidakseimbangan (Sinungan, 2005 : 134). Motivasi kerja tampak  sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan daya dan potensi tenaga kerja  agar secara produktif berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi  bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif sehingga berhasil mencapai dan  mewujudkan tujuan perusahaan.
Motivasi kerja dipengaruhi oleh dua faktor yaitu motivasi intrinsik dan  motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang berasal dari  rangsangan di dalam perusahaan. Motivasi ekstrinsik diwujudkan dalam bentuk  rangsangan dari luar yang bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan  1  suatu aktivitas yang membawa manfaat kepada individu itu sendiri  (Ardana,2008:31). Yang termasuk ke dalam motivasi intrinsik yaitu minat  terhadap pekerjaan yang diberikan atasan, penghargaan (reward),  sifat pekerjaan  itu sendiri, kompetensi, tanggung jawab. Yang termasuk kedalam motivasi  ekstrinsik dapat berupa gaji, lingkungan kerja,    kebijakan atau prosedur  perusahaan, hubungan antar manusia, supervisi.
Salah satu unsur motivasi ekstrinsik yang turut mempengaruhi organisasi  adalah desain struktur organisasi.  Tujuan lebih nyata adanya desain struktur  organisasi yakni dapat mempengaruhi motivasi dan komitmen anggota untuk  mencapai tujuan organisasi (Philip, 2000:13). Desain organisasi merupakan  sebuah proses memilih dan mengelola aspek-aspek struktural dan kultural yang  dilakukan oleh para manajer sehingga organisasi mampu mengendalikan kegiatan  apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan bersama (Wisnu, 2005:11).
Desain organisasi mempunyai implikasi-implikasi penting pada manfaat  kompetitif perusahaan dimana salah satunya adalah untuk meningkatkan  koordinasi dan motivasi para pekerja (Wisnu, 2005: 12). Menurut Sutermeister  yang dikutip oleh Sutisna (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi  kerja personil, terdiri dari  kondisi fisik lingkungan kerja, kondisi sosial  lingkungan kerja, dan keterpenuhan kebutuhan dasar individu.  Kondisi sosial  lingkungan kerja meliputi empat faktor utama, yaitu organisasi formal, organisasi  informal, pemimpin dan serikat pekerja.    Salah satu faktor utama organisasi  formal yang sangat berpengaruh terhadap motivasi kerja adalah desain struktur  organisasi.
Dengan dibentuknya desain struktur organisasi dalam perusahaan, maka  akan jelaslah hubungan dasar antara mereka yang berwenang dalam pembuat  keputusan dan dengan mereka yang wajib untuk melaksanakan keputusan  tersebut.  Pihak manajemen perusahaan sebagai pihak yang berwenang untuk  membuat keputusan harus dapat merencanakan dan menentukan suatu desain  organisasi yang merupakan proses memilih dan mengimplementasikan struktur  yang terbaik untuk mengelola sumber-sumber daya dalam mencapai tujuan  sehingga dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Adapun unsur kunci  dalam membangun desain  struktur  organisasi yang baik sehingga dapat  memotivasi karyawan yaitu yaitu pembagian kerja, departementalisasi, hirarki dan  koordinasi (Wahjono, 2010:17).
Penelitian ini akan meneliti seberapa pentingnya suatu desain  struktur organisasi dalam meningkatkan motivasi kerja yang diterapkan oleh Kantor  Direksi PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan apakah dapat  menghasilkan suatu harmonisasi kerja yang selaras sehingga  dapat mencapai  tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.  Adapun latar belakang dari penelitian  ini yakni rendahnya motivasi kerja karyawan pada Kantor Direksi PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) Medan, dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal ini dapat  dilihat dari tidak stabilnya laba bersih perusahaan dari tahun ke tahun. Laporan  Laba Bersih PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan dapat dilihat pada  Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Laporan Laba Bersih PTPN III (Persero) Medan Tahun 2005-2009 No.  Tahun  Laba (Rp Juta)  Peningkatan /Penurunan (%)  1  2005  277.915  -2  2006  293.853  5,73 3  2007  701.948  138,88 4  2008  844.718  20,34 5  2009  519.814  (38,46%) Sumber: Annual Report 2010 Kandir PTPN III (Persero) Medan (data diolah, 2011) Tabel 1.1 menunjukkan bahwa pada tahun 2005 PTPN III (Persero)  memperoleh laba bersih sebesar 277.915 (dalam juta rupiah), tahun 2006 PTPN  III (Persero) memperoleh laba bersih sebesar  293.853 (dalam juta rupiah). Pada  tahun 2007  terjadi peningkatan laba bersih sebesar 138,88% menjadi 701.948 (dalam juta rupiah). Tahun 2008 laba meningkat 20,34% menjadi 844.718 (dalam  juta rupiah). Pada tahun 2009, terjadi penurunan laba bersih sebesar 38,46%  dengan total laba bersih sebesar 519.814.
Dari Tabel 1.1 di atas dapat disimpulkan bahwa PTPN III (Persero) Medan  memiliki kinerja yang tidak stabil. Kondisi ini bisa terjadi apabila tidak didukung  oleh desain dan sistem organisasi yang baik dalam memotivasi karyawannya agar  karyawan berjuang untuk meningkatkan keberhasilan kerjanya. Tinggi atau  rendahnya motivasi kerja karyawan PTPN III (Persero) Medan dapat  mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam meningkatkan provitabilitasnya.
Desain struktur organisasi sebagai proses penentuan keputusan untuk  memilih alternatif kerangka kerja jabatan, proyek pekerjaan, dan departemen.
Dengan demikian, keputusan atau tindakan-tindakan yang dipilih ini akan  menghasilkan sebuah struktur organisasi. Pembagian kerja yang merupakan salah  satu unsur kunci pembentuk desain organisasi yang baik, harus dilakukan dengan  tepat. Pembagian kerja merupakan salah satu faktor yang paling penting karena  adanya pembagian kerja akan dapat memberikan kejelasan bagi para karyawan  untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan beban kerja yang  menjadi tanggung jawab serta mencegah kemungkinan terjadinya tumpang tindih  pekerjaan, pemborosan dan saling melempar tanggung jawab bilamana terjadi  kesalahan dan kesulitan. Namun, pembagian kerja harus diikuti dengan  penempatan karyawan pada posisi yang tepat. Prinsip penting yang digunakan  dalam pembagian kerja ini yaitu “The Right Man On The Right Job”.   Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan merupakan  bagian administratif dan manajemen pusat dari seluruh areal PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) Medan. Karyawan pelaksana pada Kantor Direksi yang  berada di Medan sebagai Kantor Pusat Manajemen BUMN PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) haruslah memiliki kemampuan dalam menyampaikan serta  menyajikan keakuratan data kepada manajemen perusahaan maupun para pihakpihak yang berkepentingan (stakeholder).   Dalam hal pencapaian target kerja  Kantor Direksi maka setiap divisi haruslah dapat membagi pekerjaan kepada  anggota dengan prinsip “The Right Man On the Right Place”.    Salah satu  departemen atau bagian yang ada di Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III  (Persero) Medan adalah Bagian Sumber Daya Manusia (SDM).  Pembagian kerja  pada bagian SDM dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Pembagian kerja karyawan pelaksana Bagian SDM berdasarkan Strata  Jabatan & Tingkat Pendidikan Pada Kantor Direksi PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) Medan Tahun 2010 No .
Tugas &  Tanggung Jawab Strata IV Gol IVA-IVD  Strata III Gol IIIA-IIID Strata II Gol IIA-IID Strata I Gol IA-ID Jumlah Pendidikan  S3  DIV-S2  SMA-DIII  SD-SMP  1  Staf urusan  kesehatan 2  2  1  -  5 2  Staf urusan  Poliklinik Kantor  Direksi 1  1  1  1  4 3  Staf urusan  pengembangan 4  1  1  -  6 4  Staf urusan  pensiun -  2  1  1  4 5  Staf urusan  penggajian 1  1  2  2  6 6  Staf urusan  personalia 1  2  2  1  6 7  Staf urusan  hubungan  industrial 1  2  1  1  5 TOTAL  10  11  9  6  36 Sumber : Bagian SDM Kandir PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan, data diolah.
Tabel 1.2 menunjukkan pemetaan pembagian kerja  pada bagian SDM.
Dasar pengelompokan tugas tiap karyawan berdasarkan fungsi atau biasa disebut  urusan yang dijalankan. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa desain  organisasi yang dilaksanakan pada Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III  (Persero) Medan khususnya pada elemen pembagian kerja masih kurang baik  dikarenakan masih terdapat karyawan yang tidak memiliki keahlian dan  pendidikan khusus dalam menduduki posisi jabatan yang riskan terhadap  penyampaian keakuratan data bagian SDM.  Urusan yang memerlukan keahlian  yaitu tenaga kesehatan pada Poliklinik masih ditempati oleh karyawan dengan  tingkat pendidikan SD-SMP sebanyak 1 orang. Demikian juga halnya pada  urusan yang sangat memerlukan ketelitian dan keakuratan data yaitu pada urusan  penggajian dimana masih terdapat karyawan dengan tingkat pendidikan SD-SMP  sebanyak 2 orang. Ketidaktepatan penempatan dan pembagian kerja berdasarkan  strata maupun tingkat pendidikan karyawan dapat mengakibatkan ketimpangan  kerja dimana beban kerja tiap karyawan bisa terjadi tumpang tindih. .
Suatu desain struktur organisasi harus memperhatikan banyak hal untuk  dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Berbagai macam kegiatan dilakukan  untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Salah satu diantaranya adalah mengenai  penggunaan sumber daya manusia dalam organisasi yang perlu diatur sedemikian  rupa agar dapat dipergunakan secara efektif  .  Perusahaan perlu  mempertimbangkan upaya untuk memotivasi karyawannya agar bekerja dengan  baik. Apabila motivasi kerja karyawan menurun maka kinerja karyawan akan  menyusut seakan kemampuan yang mereka miliki rendah. Motivasi juga  menggambarkan hubungan antara harapan dan tujuan dengan hal yang dilakukan  untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan motivasi yang bersifat  positif dan negatif yang dapat digunakan agar karyawan mau bekerja giat dan  optimal untuk mencapai tujuan perusahaan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk menulis skripsi  dengan judul : “Analisa Desain Struktur Organisasi Dalam Meningkatkan  Motivasi Kerja pada Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III (Persero)  Medan”.
B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian pada Kantor Direksi PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) Medan maka penulis merumuskan permasalahan sebagai  berikut : “Apakah desain struktur organisasi yang terdapat pada Kantor Direksi PT  Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan berpengaruh positif dan signifikan  dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan?” C. Kerangka Konseptual Desain struktur organisasi ataupun desain organisasi merupakan proses  bagaimana membentuk sebuah organisasi yang mendukung sasaran strategis  perusahaan. Banyak organisasi dibentuk secara kurang sistematis sehingga  menyebakan hambatan dalam produktivitas pekerjaan dan pengembangan karir  seseorang. Menurut Kates & Galbraith (2007:1), desain organisasi adalah proses  meninjau dan mengkonfigurasi struktur, proses, sistem penghargaan, dan aktivitas  orang atau individu untuk menciptakan suatu organisasi yang efektif yang mampu  mencapai strategi bisnis.
Menurut Wahjono (2010 :17) ada empat bagian sebagai elemen ataupun  unsur untuk membangun desain struktur organisasi, yaitu pembagian kerja,  departementalisasi, hirarki dan koordinasi.
Menurut Sastrohahadiwiryo (2005:267), motivasi dapat diartikan sebagai  keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energi, mendorong  kegiatan atau menggerakkan dan mengarahkan perilaku kearah mencapai  kebutuhan yang memberi kepuasan serta mengurangi  ketidakseimbangan.
Motivasi kerja dapat memberi energi yang menggerakkan segala potensi yang ada,  menciptakan keinginan yang tinggi dan luhur, serta meningkatkan kebersamaan.
Menurut Ardana (2008 : 31) ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi  yaitu: 1.  Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang berasal dari rangsangan di  dalam perusahaan.  Pada umumnya karakteristik individu turut  mempengaruhi bagaimana orang menilai apa yang diperolehnya dari  rangsangan dalam perusahaan.
2.  Motivasi ekstrinsik diwujudkan dalam bentuk rangsangan dari luar yang  bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan suatu aktivitas yang  membawa manfaat kepada individu itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini  dapat diransang dalam bentuk-bentuk seperti gaji, lingkungan kerja,  hubungan antar manusia, kebijakan atau peraturan perusahaan, pimpinan  atau supervisi.
Tujuan lebih nyata adanya desain struktur organisasi yakni dapat  mempengaruhi motivasi dan komitmen anggota untuk mencapai tujuan organisasi  (Philip, 2000:13).  Desain organisasi mempunyai implikasi-implikasi penting pada  manfaat kompetitif perusahaan dimana salah satunya adalah untuk meningkatkan  koordinasi dan motivasi para pekerja (Wisnu, 2005: 12). Menurut Sutermeister  yang dikutip oleh Sutisna (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi  kerja personil, terdiri dari kondisi fisik lingkungan kerja, kondisi sosial  lingkungan kerja, dan keterpenuhan kebutuhan dasar individu. Kondisi sosial  lingkungan kerja meliputi empat faktor utama, yaitu organisasi formal, organisasi  informal, pemimpin dan serikat pekerja. Salah satu faktor utama organisasi  formal yang sangat berpengaruh terhadap motivasi kerja adalah desain struktur  organisasi.
Dengan demikian, melalui desain struktur organisasi yang baik dapat  mempengaruhi peningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga secara otomatis  tujuan perusahaan untuk meningkatkan profit perusahaan dapat tercapai.
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber : Wisnu (2005:12), Philip (2000:13), data diolah 2011 D. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah  penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian ini disusun dalam bentuk  kalimat pertanyaan (Sugiyono 2006: 51). Berdasarkan perumusan masalah yang  Desain Organisasi (X) Elemennya : 1.  Pembagian kerja 2.  Departementalisasi 3.  Hirarki 4.  Koordinasi Motivasi Kerja (Y)  telah dikemukakan maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:  ”Desain  struktur  organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap  peningkatan motivasi kerja pada Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III  (Persero) Medan.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Untuk menganalisis pengaruh desain struktur organisasi terhadap motivasi  kerja dan membandingkannya dengan teori-teori yang penulis ketahui.
2. Manfaat Penelitian a. Bagi Perusahaan  Sebagai sarana informasi dan bahan masukan bagi perkembangan  perusahaan dalam mempertimbangkan desain organisasi.
b. Bagi Penulis Memperluas wawasan penulis tentang manajemen perusahaan, khususnya  desain stuktur organisasi perusahaan.
c. Bagi Pihak Lain Referensi bagi penulis selanjutnya sehingga dapat dijadikan perbandingan  dalam melakukan penelitian yang sama di masa yang akan datang.
F.  Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Variabel Penelitian ini hanya dibatasi pada :  a.  Desain struktur organisasi yang digunakan Kantor Direksi PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) Medan sebagai variabel bebas (X) yang nilainya  tidak tergantung pada variabel lain, terdiri dari Pembagian Kerja (X1),  Departementalisasi (X2), Hirarki (X3), Koordinasi (X4).
b.  Motivasi Kerja sebagai variabel terikat (Y) yang dipengaruhi oleh variabel  lain.
2.  Definisi Operasional Variabel Definisi operasional yang dipergunakan dalam laporan penelitian ini adalah : a.  Variabel Bebas (X) adalah variabel yang nilainya tidak tergantung pada  variabel lain. Adapun yang menjadi variabel bebas atau independen variabel  dari penelitian ini adalah  Desain struktur organisasi merupakan proses  bagaimana membentuk sebuah organisasi yang mendukung sasaran strategis  perusahaan. Menurut Wahjono (2010 :17) ada empat bagian sebagai elemen  ataupun unsur untuk membangun desain organisasi, yaitu : 1.  Pembagian Kerja (X1).
Membagi seluruh beban pekerjaan menjadi banyak tugas yang dapat  diselesaikan dengan baik.
2.  Departementalisasi (X2).
Dasar yang dipakai untuk pengelompokan pekerjaan 3.  Hirarki (X3).
Dasar penentuan siapa atasan dan siapa bawahan untuk meminta  pertanggungjawaban.
4.  Koordinasi (X4).
Menyatukan kegiatan menjadi satu kesatuan untuk menyelaraskan  pencapaian tugas lintas departemen.
b.  Variabel terikat (Y) adalah variabel yang dipengaruhi dan nilainya tergantung  pada variabel lain. Adapun yang menjadi variabel terikat adalah motivasi  kerja.  Menurut Robbins dan Coulter, motivasi adalah kesediaan untuk  mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang  dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa  kebutuhan individu tertentu. Ada 2 faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu  (Ardana, 2008 : 31) : 1.  Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang berasal dari rangsangan di  dalam perusahaan.  Pada umumnya karakteristik individu turut  mempengaruhi bagaimana orang menilai apa yang diperolehnya dari  rangsangan dalam perusahaan.
2.  Motivasi ekstrinsik diwujudkan dalam bentuk rangsangan dari luar yang  bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan suatu aktivitas yang  membawa manfaat kepada individu itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini  dapat diransang dalam bentuk-bentuk seperti gaji, lingkungan kerja,  hubungan antar manusia, kebijakan atau peraturan perusahaan, pimpinan  atau supervisi.
Mekanisme operasional variabel dapat dilihat pada Tabel 1.3 berikut ini:  Tabel 1.3 Operasional Variabel Variabel  Elemen  Defenisi Variabel  Indikator  Skala  Ukur Desain  Struktur  Organisa si (X) Pembagian  kerja (X1) Membagi seluruh beban  pekerjaan menjadi banyak  tugas yang dapat  diselesaikan dengan baik 1. Penempatan (The Right  Man On The Right Place) 2. Pembagian beban kerja berdasarkan urusan 3. Spesialisasi  keahlian/ketrampilan  khusus  Skala  Likert Departemen talisasi (X2) Dasar yang dipakai untuk  pengelompokan pekerjaan 1.  Pengelompokan kegiatan  berdasarkan fungsi 2.  Perbedaan fungsi 3.  Efisiensi pekerjaan Skala  Likert Hirarki (X3) Dasar penentuan jumlah  individu yang dapat  diarahkan dan  bertanggung jawab kepada  supervisi tertentu Rentang kendali Banyaknya pendelegasian  wewenang Penentuan banyaknya  tingkatan wewenang  yang harus dimiliki  perusahaan Skala  Likert Koordinasi (X4) Menyatukan kegiatan  menjadi satu kesatuan  untuk menyelaraskan  pencapaian tugas lintas  departemen 1.  Komunikasi 2.  Kerja sama 3.  Kesatuan tujuan Skala  Likert Motivasi  Kerja (Y) Motivasi  intrinsik Merupakan motivasi yang  berasal dari rangsangan di  dalam perusahaan 1. Minat terhadap pekerjaan 2. Penghargaan 3. Kemampuan atau  kompetensi 4. Sifat pekerjaan 5. Tanggung jawab Skala  Likert Motivasi  ekstrinsik Diwujudkan dalam bentuk  rangsangan dari luar yang  bertujuan menggerakkan  individu untuk melakukan  suatu aktivitas yang  membawa manfaat kepada  1.  Gaji  2.  Lingkungan Kerja 3.  Hubungan antar manusia 4.  Kebijakan atau peraturan  perusahaan 5.  Sikap pimpinan atau  Skala  Likert  individu itu sendiri  supervisi Sumber: Wahjono (2010 : 17), Ardana(2008:31) data diolah 2011 3.  Skala Pengukuran Variabel Ada banyak skala pengukuran dimana skala pengukuran utama yaitu skala  nominal, skala ordinal, skala interval, skala ratio .
Pada penelitian ini menggunakan skala Likert yaitu digunakan untuk  mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang  fenomena sosial (Sugiyono, 2006 : 105).
Untuk keperluan analisis kuantitatif penelitian ini, maka peneliti  memberikan lima alternatif jawaban kepada responden dengan menggunakan  skala 1 sampai 5 yang dapat dilihat pada Tabel 1.4 berikut ini: Tabel 1.4 Skor Pendapat Responden No.  Pertanyaan  Skor 1  Sangat Setuju (SS)  5 2  Setuju (S)  4 3  Ragu-ragu (RG)  3 4  Tidak Setuju (TS)  2 5  Sangat Tidak Setuju (STS)  1 Sumber: Sugiyono (2006 : 105) 4.  Lokasi dan Waktu Penelitian  Penelitian yang dilakukan pada Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara  III (Persero) Medan yang berlokasi di Jl. Sei Batanghari No. 2 Medan. Waktu  penelitian di mulai pada bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011.
5.  Populasi dan Sampel a.  Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja pada  Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan yang berjumlah  441 orang.
b.  Sampel Peneliti dalam penelitian ini tidak mengambil seluruh populasi sebagai  sampel yang akan diambil, sehingga digunakan rumus  Slovin dengan tingkat  kesalahan 10% (Umar, 2007 : 78).
Rumus Slovin : N 1 + N(e)² Keterangan : n = Jumlah sampel N = Ukuran populasi E = Tingkat kesalahan Berdasarkan rumus di atas dapat diketahui jumlah sampel dengan cara : 441 n =  n =   1 + 441(0,1)² 441 1 + 441(0,01) = 82 orang Berdasarkan hasil penarikan sampel diatas, maka jumlah sampel yang diambil  adalah sebanyak 82 orang responden.
Pengambilan sampel setiap bagian-bagian yang ada di perusahaan  menggunakan proporsional sampling (Sugiyono, 2006 : 81) sehingga dapat  diketahui berapa orang yang akan diambil sebagai responden di masing-masing  bagian yang ada di Kantor Direksi PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)  Medan.
Kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan mempunyai  12 bagian ataupun divisi dalam perusahaan dan untuk mewakili masing-masing  bagian maka 82 sampel di distribusikan sebagai berikut : Tabel 1.5 Jumlah Sampel No .
Bagian  Populasi Sampel  Jumlah sampel  yang mewakili 1  Bagian Tanaman  37  37/441 x 82 = 6,88  7 2  Bagian Teknik  37  37/441 x 82 = 6,88  7 3  Bagian Teknologi  37  37/441 x 82 = 6,88  7 4  Bagian Pembiayaan  37  37/441 x 82 = 6,69  7 5  Bagian Kemitraan  38  38/441 x 82 = 7,07  7 6  Bagian Umum  38  38/441 x 82 = 7,07  7 7  Bagian SDM  36  36/441 x 82 = 6,69  7 8  Bagian Pemasaran  37  37/441 x 82 = 6,88  7 n =   9  Bagian Pengadaan  38  38/441 x 82 = 7,07  7 10  Bagian Sekretaris  38  38/441 x 82 = 7,07  7 11  Bagian SPI  34  34/441 x 82 = 6,32  6 12  Bagian IT  34  34/441 x 82 = 6,32  6 TOTAL  441    82 Sumber : Kantor Direksi PTPN III (Persero) Medan, diolah peneliti 2011 Penelitian mengambil 82 orang sebagai responden dari tiap bagian yang  ada di Kantor Direksi PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan, dimana  penentuan responden dengan menggunakan metode aksidental karena seluruh  karyawan mempunyai kriteria yang sama untuk dijadikan responden.
6.  Jenis dan Sumber Data Peneliti menggunakan dua jenis data dalam melakukan penelitian untuk  membantu memecahkan masalah, yaitu: a.  Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh dari responden secara langsung di  lokasi penelitian melalui kuesioner dan wawancara mengenai variabel  yang diteliti.
b.  Data Sekunder Data sekunder adalah data yang berisikan informasi dan teori-teori yang  digunakan untuk mendukung penelitian.  Peneliti memperoleh data  sekunder dari literature, buku , majalah dan internet.
7. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :  a.   Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan  cara  memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk  dijawab. Dalam hal ini pemberian angket dilakukan dengan kontak  langsung kepada responden yaitu karyawan pelaksana pada Kantor Direksi  PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan.
b.  Wawancara merupakan memperoleh data-data melalui proses percakapan  dalam bentuk tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berwenang  memberi data dan informasi yang dibutuhkan.
c. Studi Dokumentasi merupakan perolehan data melalui buku-buku dan  internet yang mempunyai relevansi dalam penelitian.
8. Uji Validitas dan Realiabilitas Uji validitas bertujuan untuk menguji apakah kuesioner layak untuk  digunakan sebagai instrumen penelitian. Suatu skala pengukur dikatakan valid  apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur  (Sugiyono 2006 : 109). Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila  digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan  data yang sama. Kriteria dalam menentukan validitas suatu kuesioner adalah  sebagai berikut: Jika r hitung > r tabel  maka pertanyaan tersebut valid Jika r hitung < r tabel maka pertanyaan tersebut tidak valid.
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan terhadap alat penelitian, yakni  kuesioner. Dalam penelitian ini disebarkan kuesioner sebagai alat pengumpulan  data yang berisi 22 pertanyaan untuk mengukur validitas. Penyebaran kuesioner  khusus uji validitas dan reliabilitas diberikan kepada 30 orang di luar responden  diluar sampel yaitu karyawan kantor direksi PT Perkebunan Nusantara III  (Persero) Medan.
Tabel 1.6 Validitas Tiap Pertanyaan Scale Mean if  Item Deleted Scale Variance  if Item Deleted Corrected ItemTotal Correlation Cronbach's Alpha if  Item Deleted Validitas VAR1  78.7000  153.872  .433  .949  Valid VAR2  78.7333  152.409  .818  .940  Valid VAR3  78.5333  159.844  .550  .944  Valid VAR4  78.6667  158.713  .606  .943  Valid VAR5  78.3667  156.378  .664  .943  Valid VAR6  78.4333  155.771  .773  .942  Valid VAR7  78.3667  153.482  .698  .942  Valid VAR8  79.1333  157.982  .377  .948  Valid VAR9  78.9667  161.344  .331  .947  Tidak Valid VAR10  78.1667  151.523  .770  .941  Valid VAR11  78.1667  152.420  .696  .942  Valid VAR12  78.6333  154.171  .687  .942  Valid VAR13  78.9667  155.826  .559  .944  Valid VAR14  78.4333  156.599  .630  .943  Valid VAR15  78.2000  154.441  .721  .942  Valid VAR16  78.1667  156.075  .699  .942  Valid VAR17  78.4000  156.593  .543  .944  Valid VAR18  78.1333  154.120  .784  .941  Valid VAR19  77.9667  151.620  .827  .940  Valid VAR20  78.1000  150.921  .840  .940  Valid VAR21  78.1000  150.921  .840  .940  Valid VAR22  78.1667  153.385  .754  .941  Valid Sumber : Hasil pengolahan data dengan SPSS 18.00 for Windows (2011) Tabel 1.6  menunjukkan validitas dari setiap pertanyaan yang diajukan  dalam kuesioner. Pada pengujian validitas pertama, terdapat 1 butir yang tidak  valid yaitu pernyataan pada variabel 9 yang berarti pernyataan tersebut belum  mempunyai konstruksi yang baik, yang dapat dilihat pada kolom Corrected ItemTotal Correction yang nilainya lebih kecil dari r table (r hitung <0,361), dimana  untuk sampel sebanyak 30 sebesar 0,361. Dengan demikian, data variabel 9 harus  dibuang, lalu dilakukan pengujian kembali.
Tabel 1.7 Validitas Tiap Pertanyaan Scale Mean if  Item Deleted Scale Variance  if Item Deleted Corrected ItemTotal Correlation Cronbach's Alpha if  Item Deleted Validitas VAR1  75.5000  145.707  .442  .951  Valid VAR2  75.5333  144.326  .833  .942  Valid VAR3  75.3333  151.885  .547  .946  Valid VAR4  75.4667  150.464  .622  .945  Valid VAR5  75.1667  148.557  .658  .945  Valid VAR6  75.2333  147.771  .779  .944  Valid VAR7  75.1667  145.799  .689  .944  Valid VAR8  75.9333  150.271  .367  .951  Valid VAR10  74.9667  143.826  .765  .943  Valid VAR11  74.9667  144.585  .697  .944  Valid VAR12  75.4333  146.185  .693  .944  Valid VAR13  75.7667  148.254  .543  .947  Valid VAR14  75.2333  148.875  .619  .945  Valid VAR15  75.0000  146.690  .715  .944  Valid VAR16  74.9667  148.516  .678  .945  Valid VAR17  75.2000  148.234  .563  .946  Valid VAR18  74.9333  145.926  .803  .943  Valid VAR19  74.7667  143.909  .823  .942  Valid VAR20  74.9000  143.128  .840  .942  Valid VAR21  74.9000  143.128  .840  .942  Valid VAR22  74.9667  145.275  .768  .943  Valid Sumber: Hasil Pengolahan Data dengan SPSS 18.0 for Windows (2011) Pada pengujian kedua, seperti yang terlihat pada kolom Corrected ItemTotal Correction tidak ada lagi nilainya yang dibawah 0,361. Dengan demikian  Var1,Var2, Var3, Var4, Var5, Var6, Var7, Var8, Var10,Var11, Var12, Var13,  Var14, Var15, Var16, Var17, Var18, Var19, Var20, Var21, Var22 dinyatakan  valid.
Uji realibilitas dilakukan untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan  (kuesioner) menunjukkan konsistensi dalam mengukur gejala yang sama  (Sugiyono 2006 : 110). Makin kecil kesalahan pengukuran, makin realiabel alat  pengukur dan sebaliknya. Dalam uji validitas dan realibilitas kuesioner akan  diberikan kepada 30 responden di luar sampel yang akan diteliti pada Kantor  Direksi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan. Kriteria dalam  menentukan reliabilitas suatu kuesioner adalah sebagai berikut: Jika r alpha positif atau > r tabel  maka pertanyaan tersebut reliabel Jika r alpha positif atau < r tabel  maka pertanyaan tersebut tidak reliabel Tabel 1.8 Reliability Statistics Sumber: Pengolahan Data SPSS 18.00 (2011) Apabila nilai reliabilitas instrument (Cronbach Alpha) diatas atau sama  dengan 0,60 maka instrumen dinyatakan reliabel. Pada Tabel 1.8 dapat dilihat  bahwa Cronbach’s Alpha (ralpha) sebesar 0,947, berarti lebih besar dari 0,60 yang  berarti bahwa instrument tersebut reliabel. Ini menunjukkan semua butir  pertanyaan pada kuesioner yang telah diuji validitas kedua kalinya dapat  digunakan untuk memperoleh data penelitian.
Cronbach's Alpha  N of Items .947  21  9. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini peneliti menganalisis melalui melalui beberapa tahap,  yaitu: a.  Metode Analisis Deskriptif Metode penelitian analisis deskriptif adalah penelitian yang dilakukan  untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih  (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel  lain. Penganalisaan data dengan cara menyusun data, mengelompokkannya,  selanjutnya menginterpretasikannya, sehingga diperoleh gambaran yang  sebenarnya mengenai kondisi perusahaan.
b.  Uji Asumsi Klasik Sebelum peneliti melakukan analisis regresi, terlebih dahulu dilakukan  pengujian asumsi klasik agar perkiraan tidak bias dan efisiensi. Ada beberapa  kriteria persyaratan asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu : 1.  Uji Normalitas Nugroho ( 2005 : 64) menyatakan analisis normalitas dilakukan dengan  mengamati penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal grafik. Metode yang  dipakai dalam pengujian ini adalah metode plot. Jika data menyebar di sekitar  garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi tidak  memenuhi asumsi normalitas.
2.  Uji multikolinearitas Nugroho ( 2005 : 59) menyatakan pengujian ini digunakan untuk menguji  apakah model regresi ditemuakan adanya korelasi antara variable bebas  dengan variabel terikat. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas  digunakan ketentuan sebagai berikut, jika nilai Variance Inflation Factor (VIF)  tidak lebih besar dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 maka  model dapat dikatakan terbebas dari multikolinearitas.
3.  Uji Heteroskedastisitas Nugroho (2005:63) menyatakan pengujian ini digunakan dalam model regresi  untuk melihat terjadi ketidaksamaan varians dasar residual pengamatan yang  lain. Jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Cara mendekati ada  tidaknya heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat pada gambar  Scatterplot Model.
Analisis pada gambar scatterplot yang menyatakan model  regresi  linear  berganda tidak terdapat heteroskedastisitas jika : 1.  Titik-titik data menyebar di atas dan dibwah atau di sekitar angka 0.
2.  Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.
3.  Penyebaran titik-titik dan tidak boleh membentuk pola bergelombang  melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.
4.  Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.
c.  Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh  dari variabel-variabel bebas yaitu Pembagian  Kerja sebagai (X1),  Departementalisasi (X2), Hirarki (X3), Koordinasi (X4), terhadap Motivasi Kerja  (Y). Analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini menggunakan bantuan  aplikasi software SPSS versi 18.00 for Windows. Adapun model persamaan yang digunakan adalah menurut Sugiyono (2006 : 211) Keterangan : Y = Motivasi kerja a = angka konstanta ( harga Y bila X = 0) b = angka arah atau koefisien regresi, bila (+) maka naik, bila (-) maka terjadi  penurunan e = Standar error  X1 = Pembagian Kerja X2 = Departementalisasi X3 = Hirarki X4 = Koordinasi Dalam analisis regresi ada 3 (tiga) jenis kriteria ketepatan, yaitu : 1.  Uji F hitung (Uji serempak/simultan) Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas dimasukkan  dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel  terikat. Uji F digunakan untuk melihat secara bersama-sama (serentak)  variabel bebas yaitu (X1, X2, X3, X4) terhadap variabel terikat yaitu Motivasi  Kerja (Y).
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + … e  H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = 0 Artinya secara bersama-sama tidak terdapat pengaruh yang positif dan  signifikan dari variabel-variabel bebas yaitu (X1, X2, X3, X4) terhadap  variabel terikat yaitu Motivasi Kerja (Y).
Ha : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ 0 Artinya secara bersama-sama terdapat pengaruh yang positif dan signifikan  dari variabel-variabel bebas yaitu (X1, X2, X3, X4) terhadap variabel terikat  yaitu motivasi kerja.
Kriteria Pengambilan Keputusan : H0 diterima apabila Fhitung < Ftabel  pada α = 5% H0 diterima apabila Fhitung >Ftabel  pada α = 5% 2.  Uji t hitung (Uji Parsial) Uji hipotesis dilakukan dengan uji-t yaitu secara parsial untuk membuktikan  hipotesis awal tentang peranan desain  struktur  organisasi (X) dalam  meningkatkan motivasi kerja karyawan (Y) Kantor Direksi PT Perkebunan  Nusantara III (Persero) Medan. Hasil uji ini pada output  SPSS dapat dilihat  pada Tabel Coefficients.
Kriteria pengujian sebagai berikut : H0  : b1 = 0 (Tidak ada pengaruh yang signifikan dari desain  struktur  organisasi dalam meningkatkan motivasi kerja) H0 : b1≠  0  (Ada  pengaruh  yang  signifikan  dari  desain struktur organisasi  dalam meningkatkan motivasi kerja).
Dengan kriteria pengambilan keputusan :  Ho diterima jika t hitung < t tabel pada α = 5% Ha diterima jika t hitung > t tabel pada α = 5% 3.  Koefisien determinan (R²) Koefisien determinan (R²) digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh  variabel bebas terhadap variabel terikat. Dengan kata lain, koefisien  determinasi digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas  yang diteliti yaitu desain  struktur  organisasi (X) terhadap peningkatan  motivasi kerja karyawan (Y). Dalam  output SPSS, koefisien determinan  terletak pada Tabel Model Summary  dan tertulis R Square.  Besarnya R  Square  berkisar antara angka 0 sampai dengan 1 (satu). Apabila R Square  semakin kecil atau mendekati angka 0 (nol), maka hubungan antara variabel  bebas (X) dengan variabel terikat (Y) semakin lemah. Sebaliknya, apabila R  Square semakin besar atau mendekati angka 1 (satu), maka hubungannya  kedua variabel semakin kuat.   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi