Selasa, 25 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT WOMEN ENTREPRENEUR DALAM BERWIRAUSAHA



BAB I  PENDAHULUAN  A. Latar Belakang Masalah  Wanita berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), wanita berwirausaha sudah sejak lama  menjadi pemikiran dan isi hati Ibu Kartini. Diungkapkan oleh Dr. Suparman  Sumahamijaya bahwa sesungguhnya Ibu Kartini telah merintis pendidikan mandiri bagi  wanita sejak beliau berumur 16 tahun, sejak sekitar tahun 1893. Hal ini dapat kita  buktikan dari hampir semua tulisan Ibu Kartini yang termuat di dalam kumpulan surat –  suratnya yang dibukukan dengan judul Door duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah  Terang),hampir setiap halaman surat – suratnya penuh dengan kata – kata perlunya  pengembangan watak di atas pendidikan otak, karena dengan pembentukan watak Ibu  Kartini yakin manusia akan lebih mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung dari  kerabat dan dari siapapun. Ibu Kartini memikirkan suatu pendidikan menuju Independent  career (karir yang bebas), tidak
saja bagi wanita tetapi juga bagi para pria. Ibu Kartini  tidak hanya memperjuangkan pendidikan sekedar ketrampilan kerumahtanggaan, tetapi  lebih dari itu, Ibu Kartini berjuang untuk dilaksanakannya pendidikan berdikari. Ibu  Kartini sangat memperhatikan bidang bisnisterbukti dari usahanya dalam membantu  keuangan dan pemasaran wood carving, textile weaving, dyeing works in gold and  copper and tortoise shell (ukiran kayu, tenunan, sepuhan emas dan tembaga dan kulit  kura – kura).
Sekarang ini sudah banyak kemajuan kita lihat dari berbagai bidang. Wanita-wanita  Indonesia sudah mampu memasuki lapangan kerja seperti pekerjaan di bidang kesehatan,  perdagangan, keamanan, dan sebagainya. Kita jumpai pula wanita yang bergerak dalam  bidang bisnis yang lebih dikenal dengan istilah Wanita Pengusaha, wanita yang  berwirausaha. Mereka mendirikan asosiasi, yaitu Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia  (IWAPI). (Alma, 2005 :37).
Wanita memegang peranan penting dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan  bernegara. Salah satu peran wanita yang sering terabaikan adalah di bidang  pengembangan ekonomi. Padahal kenyataannya 46,23% wanita merupakan pelaku  ekonomi. (www.asppuk.or.id).
Pada saat ini di Indonesia, semua bidang usaha terbuka bagi wanita dan ini  merupakan tantangan bagi kaum wanita yang selalu memperjuangkan hak emansipasi.
Pandangan yang tertanam di masyarakat adalah bahwa pria merupakan kepala rumah  tangga , sedangkan wanita merupakan ibu rumah tangga. Namun kata ‘ibu rumah tangga’  pada wanita tersebut tidak bisa dianggap enteng . Hasil penelitian Bank Dunia  menyebutkan, meningkatkan porsi wanita untuk memperoleh pendidikan menengah  sebesar 1 % atau sekitar 62 ribu wanita di Indonesia, diproyeksikan akan terjadi  peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 735 juta dolar Amerika.
(www.eksekutif.com).
Data yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik mengenai tingkat pendidikan yang  diperoleh pengusaha profil industri skala kecil dan kerajinan pada tahun 2002 sangat  mengecewakan karena perbedaan tingkat pendidikan antara wanita dan pria sangat  timpang dan didominasi oleh kaum pria. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa  pengusaha wanita sulit berkembang. Di samping faktor tingkat pendidikan yang rendah  serta faktor sosial budaya dan adat istiadat, ada faktor –faktor lain yang menjadi  penghambat bagi women entrepreneur dalam berwirausaha. Menurut penelitian dari  Proyek Peningkatan Peran Usaha Swasta (Private Enterprise Participation Project) tentang wanita pengusaha di Indonesia pada tahun 2003 menyebutkan, fakta bahwa 35 %  wanita mengalami kesulitan dalam memperoleh pinjaman. (www.eksekutif.com).
Menurut Alma (2005), selain faktor – faktor ini, faktor kewanitaan dan faktor  emosional menjadi faktor lain yang menghambat seorang wanita dalam berwirausaha.
Sebagai seorang ibu rumah tangga, ada masa hamil dan menyusui yang akan sedikit  mengganggu jalannya bisnis. Faktor emosional yang dimiliki wanita, disamping  menguntungkan juga bisa merugikan. Misalnya dalam pegambilan keputusan, karena ada  faktor emosional maka keputusan yang diambil akan kehilangan rasionalitasnya.
Menurut pengamat investasi Adler Haymas Manurung, wanita memang sebaiknya  memilih bisnis yang disukainya agar risiko kerugian bisa dikurangi. Hal ini penting  karena dalam berbisnis mereka jadi mengerti benar terhadap bidang usaha yang  digelutinya. Adler yang juga menjabat Direktur Investasi PT Nikko Securities Indonesia  ini menyarankan wanita dalam memulai bisnis sebaiknya melakukan 3 (tiga) hal, yaitu  berawal dari skala kecil, mau belajar pemasaran, dan mengubah mentalitas menjadi aktif  bersosialisasi. Di sisi lain, risiko dalam mengelola bisnis adalah menyita waktu. Maka itu,  kata Adler, kepandaian dalam membagi waktu antara urusan bisnis dan keluarga harus  dijaga dengan baik. Mengenai lokasi usaha, dia menyarankan sebaiknya tidak jauh dari  tempat tinggal sehingga waktunya tidak habis di luar rumah dan para wanita itu  sebaiknya memilih jenis usaha yang tidak jauhdengan aktivitas yang disukainya seperti  salon.
Jalan Sei Mencirim Medan merupakan salah satu jalan yang dipenuhi salon. Hampir  semua salon yang ada di sepanjang jalan itu dimiliki oleh wanita dan salon – salon itu  letaknya berdekatan, bahkan saling bersebelahan antara salon yang satu dengan salon  yang lainnya. Hal ini menjadi fenomena tersendiri karena salon – salon itu bersaing  secara sehat sejak belasan tahun yang lalu dan tetap eksis sampai sekarang.
Merebaknya bisnis yang dijalankan para wanita ini semakin menambah jumlah  pengusaha. Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) mencatat jumlah wanita yang  menjadi pengusaha meningkat setiap tahunnya. Anggota IWAPI saat ini disebutkan telah  mencapai lebih dari 16.000 orang. Bagi Adler, minat ibu rumah tangga untuk berbisnis  itu tak menjadi masalah, selama dia bisa mengurus keluarga dengan baik, karena hal ini  merupakan peran utama mereka dalam keluarga (web.bisnis.com).
Kesadaran akan risiko dan ketidakpastian dalam hidup menyadarkan wanita untuk  berbisnis. Badai krisis moneter atau kasus dalam keluarga memberi pelajaran pada kaum  ibu untuk mempersiapkan masa depan. Risiko dalam kehidupan keluarga memang akan  terus ada. Tapi, kemampuan mengantisipasi risiko itu yang lebih penting.
Berdasarkan uraian ini, maka penulis tertarik untuk mengetahui faktor – faktor  penghambat tersebut sehingga penulis membuat penelitian yang berjudul  “Analisis  Faktor-Faktor Yang Menghambat Women Entrepreneur Dalam Berwirausaha  (Studi Kasus Pada Wanita Pengusaha Salon Di Jalan Sei Mencirim Medan)”.
B.  Perumusan Masalah  Berdasarkan latar belakang penelitan ini, maka permasalahan yang ingin dibahas  dapat dirumuskan sebagai berikut:  1.  faktor-faktor apakah yang menghambat women entrepreneur dalam berwirausaha.
2.  faktor-faktor apakah yang paling dominan menghambat women entrepreneur dalam  berwirausaha.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian  1. Tujuan Penelitian  Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:  a.  Untuk mengetahui faktor – faktor yang menghambat women entrepreneur dalam  berwirausaha.
b.  Untuk mengetahui faktor-faktor paling dominan yang menghambat women  entrepreneurdalam berwirausaha.
2. Manfaat Penelitian  a.  Bagi pelaku bisnis khususnya pengusaha wanita, sebagai sumber informasi  untuk menjadi pertimbangan dalam berwirausaha dan sebagai bahan  masukan kepada para calon wirausahawan yang ingin mencoba untuk  berwirausaha.
b.  Bagi Fakultas Ekonomi USU, diharapkan dapat menambah atau memperluas  khazanah penelitian yang terdapat di lembaga itu.
c.  Bagi peneliti, memberikan kontribusi bagi pemikiran untuk memperluas  cakrawala berpikir khususnya dalam bidang kewirausahaan.
d. Bagi peneliti lain, sebagai bahan referensi yang nantinya dapat memberikan  perbandingan dalam mengadakan penelitianlebih lanjut di masa yang akan  datang.
D. Kerangka Konseptual Menurut Alma (2005:43), faktor penghambat wanita dalam berwirausaha, antara  lain :  1.  Faktor kewanitaan  Sebagai seorang ibu rumah tangga ada masa hamil dan menyusui sehingga agak  mengganggu jalannya bisnis.
2.  Faktor sosial budaya dan adat istiadat  Wanita sebagai ibu rumah tangga bertanggung jawab penuh dalam urusan rumah  tangga.
3.  Faktor emosional  Faktor emosional yang dimiliki wanita, disamping menguntungkan juga bisa  merugikan. Misalnya dalam pegambilan keputusan, karena ada faktor emosional  maka keputusan yang diambil akan kehilangan rasionalitasnya.
4.  Faktor administrasi  Faktor administrasi yang berbelit merupakan satu faktor yang sangat menghambat  wanita dalam memulai membuka usaha.
5.  Faktor pendidikan  Faktor pendidikan yang rendah menjadi alasan lain yang menghambat wanita  berwirausaha.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka kerangka konseptual dapat dibuat secara  skematis sebagai berikut : Sumber : Alma (2005) dimodifikasi  Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Penelitian  E.  Hipotesis  Adapun hipotesis yang dikemukakan sehubungan dengan permasalahan di atas  adalah:  1. Faktor-faktor yang menghambat wanita untuk berwirausaha adalah faktor  kewanitaan, faktor sosial budaya dan adat istiadat, faktor emosional, faktor  administrasi, dan faktor pendidikan.
2. Faktor administrasi merupakan faktor yang paling dominan yang menjadi  penghambat wanita dalam berwirausaha.
F.  Metode Penelitian  1.  Batasan dan Identifikasi Variabel Penelitian  Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam membahas dan menganalisis  permasalahan, maka penelitian ini dibatasi pada faktor-faktor yang  1. Faktor Kewanitaan  2. Faktor Sosial Budaya dan Adat Istiadat  3. Faktor Emosional  4. Faktor Administrasi  5. Faktor Pendidikan  Faktor Penghambat  Women Entrepreneur  dalam berwirausaha   menghambat women entrepreneur dalam berwirausaha dan dalam hal ini  wanita pengusaha salon di Jalan Sei Mencirim Medan. Adapun variabel dalam  penelitian ini adalah Faktor Kewanitaan, Faktor Sosial Budaya dan Adat  Istiadat, Faktor Emosional, Faktor Administrasi dan Faktor Pendidikan.
2.  Definisi Operasional Variabel  Dalam penelitian ini variabel-variabel yang dioperasionalkan adalah  semua variabel yang termasuk dalam hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk  memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan penelitian,  maka perlu defenisi variabel-variabel yang akan diteliti sebagai berikut :  a.  Faktor kewanitaan adalah wanita sebagai ibu rumah tangga yang  mempunyai masa untuk hamil dan menyusui.
b.  Faktor sosial budaya dan adat istiadat adalah wanita sebagai ibu rumah  tangga yang bertanggung jawab penuh dalam urusan rumah tangga.
c.  Faktor emosional adalah faktor dalam diri wanita yang sering kali  kehilangan rasionalitasnya dalam mengambil keputusan.
d.  Faktor administrasi adalah faktor-faktor yang berbelit-belit dalam  mengurus prosedur dalam memulai usaha.
e. Faktor pendidikan adalah pendidikan formal yang ditamatkan oleh  wanita yang berwirausaha.
Tabel 1.1.
Definisi Operasionalisasi Variabel  VARIABEL INDIKATOR SKALA  UKUR  Faktor Kewanitaan  1.  masa kehamilan  2.  masa menyusui  3. perilaku pada saat PMS  Guttman  Faktor Sosial Budaya  dan Adat Istiadat  1. bertanggung jawab penuh dalam  urusan rumah tangga 2. menyelesaikan urusan rumah  tangga sebelum pergi bekerja 3. suami yang bertanggung jawab  memberi nafkah untuk keluarga Guttman  Faktor emosional  1.  mengambil keputusan  berdasarkan hati nurani  2.  elemen – elemen emosional  bersifat rasional dalam  mengambil keputusan  3.  elemen – elemen emosional  mempengaruhi hubungan  dengan karyawan  Guttman Faktor Administrasi  1.  prosedur peminjaman uang ke  bank berbelit - belit  Guttman  VARIABEL INDIKATOR SKALA  UKUR  2.  menghadapi kesulitan dalam  memperoleh pinjaman  3.  merasa didiskriminasi dalam  mengurus administrasi membuka  usaha  Faktor Pendidikan  1. pendidikan sangat penting  Guttman  2. pengetahuan tentang bisnis harus  luas  3. lulus sarjana dalam bidang bisnis  Sumber : Alma (2005) diolah  3. Skala Pengukuran Variabel  Variabel faktor penghambat women entrepreneur dalam berwirausaha diukur  dengan menggunakan skala pengukuran Guttman. Skala ini digunakan untuk  mengklasifikasikan obyek atau kejadian ke dalam kelompok (kategori)  terpisah untuk menunjukkan kesamaan atau perbedaan tertentu dari obyek.
Dalam penelitian ini terdiri dari dua kategori, pada setiap jawaban akan diberi  skor.
Pembagiannya adalah :  a. Ya  = 1  b. Tidak = 0  4.  Tempat dan Waktu Penelitian  Penelitian akan dilakukan di salon kecantikan Jl. Sei Mencirim Medan.
Penelitian akan dilakukan selama bulan Pebruari - Maret 2008.
5. Populasi dan Sampel  Menurut Kuncoro (2003), Populasi adalah sekelompok elemen yang lengkap  yang biasanya berupa orang, objek, transaksi atau kejadian dimana kita  tertarik untuk mempelajarinya atau objek penelitian. Populasi dalam  penelitian ini adalah women entrepreneur yang mendirikan salon di Jl. Sei  Mencirim Medan yang berjumlah 10 orang.
Teknik pengambilan sampel menggunakan metodeNonprobability Sampling  yang merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang /  kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih  menjadi sampel. Metode Nonprobability Sampling yang digunakan adalah  teknik Sampling Jenuh yang merupakan teknik penentuan sampel bila semua  anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila  jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Dalam hal ini, populasi  dari penelitian yang akan dilakukan adalah 10 responden, maka kesepuluh  responden itu akan langsung digunakan sebagai sampel.
6.  Jenis dan Sumber Data  Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data, yakni :  a.  Data Primer  Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden terpilih  pada lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara  (interview) dan memberikan daftar pertanyaan (questionnaire).
b.  Data Sekunder  Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi dokumen dengan  mempelajari berbagai tulisan melalui buku, jurnal, dan majalah dan situs  internet untuk mendukung penelitian.
7. Teknik Pengumpulan Data  a.  Observasi  Observasi adalah pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan  langsung pada lokasi penelitian, dalam hal ini di Jl. Sei Mencirim Medan,  untuk melengkapi catatan penelitian yang diperlukan.
b.  Wawancara (Interview) Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara melalui tatap muka (face to  face) dengan responden terpilih. Wawancara dilakukan dengan  menggunakan alat bantu berupa seperangkat daftar pertanyaan yang telah  dipersiapkan terlebih dahulu atau sering disebut dengan interview guide.
c.  Daftar Pertanyaan (questionnaire) Questionnairemerupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan  dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis  kepada responden untuk dijawabnya.
8.  Metode Analisis Data  Statistik deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data yang  dikumpulkan mula-mula disususun, diklasifikasikan dan dianalisis sehingga  akan memberikan gambaran yang jelas mengenai perusahaan dan masalah  yang sedang diteliti.
Jika tujuan penelitian adalah deskriptif yang terbatas pada upaya memberi  suatu gambaran tentang variabel-variabel yang diteliti, teknis, analisis yang  sering digunakan adalah statistika dasar yang berkaitan dengan parameter  statistik deskriptif. Termasuk dalam parameter statistik deskriptif antara lain  adalah penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram,  perhitungan modus, median, perhitungan desil, persentil, perhitungan  penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi.   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi