Kamis, 27 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PENGARUH RASIO LEVERAGE DAN RASIO LIKUIDITAS TERHADAP EARNING PER SHARE PADA INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN



BAB I PENDAHULUAN 
 A. Latar Belakang Masalah 
Seorang investor menaruh harapan akan memperoleh manfaat dari setiap  transaksi penanaman modal. Investor perlu memilih sejumlah informasi sebelum  melakukan transaksi di pasar modal agar bisa mengambil keputusan tentang  saham perusahaan yang layak dipilih. Salah satu informasi tersebut adalah  Earning Per Share yang memberikan analisis keuntungan bersih per lembar  saham yang mampu dihasilkan oleh perusahaan. Kemampuan perusahaan  menghasilkan laba bersih per lembar saham merupakan indikator fundamental  keuangan perusahaan yang sering dipakai sebagai acuan untuk mengambil  keputusan investasi dalam saham di pasar modal.

Earning per Share  (EPS) adalah ukuran untuk melihat tingkat  kesejahteraan para pemegang saham/ menggambarkan tingkat balas jasa bagi  pemegang saham biasa. Kondisi leverage dan kondisi likuiditas perusahaan  ternyata mempengaruhi EPS perusahaan. Keputusan perusahaan tentang  pendanaan akan mempengaruhi leverage perusahaan. Leverage perusahaan dapat  diukur dengan rasio leverage, yaitu Debt to Total Asset dan  Longterm Debt to  Equity Ratio.  Debt to Total Asset Ratio memperlihatkan proporsi antara hutang  yang dimiliki dan seluruh kekayaan yang dimiliki. Supaya aman porsi hutang  terhadap aktiva harus lebih kecil. Longterm Debt to Equity Ratiomenggambarkan  perbandingan hutang jangka panjang dengan ekuitas dalam pendanaan perusahaan  untuk memenuhi kewajibannya. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Untuk   keamanan pihak luar, rasio leverage sebaiknya menunjukkan modal sendiri lebih  besar dari jumlah hutang atau minimal sama.( Harahap, 2007:303)  Sawir, (2000:11) berpendapat apabila hasil pengembalian atas aktiva yang  ditunjukkan rentabilitas ekonomis, lebih besar daripada biaya hutang maka  leverage itu menguntungkan dan hasil pengembalian atas modal (rentabilitas  modal sendiri) dengan penggunaan leverage ini juga meningkat.
Menurut Harahap (2007) pemegang saham atau manajemen mengharapkan  laba yang besar. Perusahaan yang memiliki tingkat hutang yang tinggi dengan  beban tetap yang tinggi  berarti perusahaan memiliki DTA dan LDER tinggi  berarti, sehingga akan mengurangi beban pajak dan menyebabkan keuntungan  bagi perusahaan. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi laba bersih pemegang  saham biasa termasuk dividen, di lain pihak meningkatkan risiko karena  kewajiban untuk membayar hutang lebih diutamakan.
Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan  untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan  menggunakan aktiva lancar yang tersedia (Syamsuddin, 2007:41). Dengan  demikian perusahaan harus memberikan perhatian lebih terhadap likuiditas dan  perusahaan harus membuat strategi yang bermanfaat untuk mengoptimalisasikan  dan mengelola aktiva lancar yang dimiliki perusahaan agar seluruh kewajiban  lancarnya yang segera jatuh tempo dapat dilunasi dengan baik. Current Rasio merupakan salah satu rasio likuiditas yang sangat berpengaruh. Semakin besar  perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, maka Semakin tinggi  kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya (Harahap,2007:   301). Semakin tinggi current ratio  akan dapat menurunkan EPS perusahaan  karena aktiva lancar tidak didayagunakan dengan efektif (Djarwanto, 2001: 130).
Perusahaan yang menjadi subjek penelitian ini adalah perusahaanperusahaan emiten industri makanan dan minuman. Perusahaan makanan dan  minuman memiliki prospek yang sangat bagus di Indonesia. Industri makanan dan  minuman merupakan salah satu industri yang cenderung diminati oleh investor  sebagai salah satu target investasinya. Penyebabnya adalah bahwa hasil dari  industri makanan dan minuman sangat digemari oleh masyarakat Indonesia  (Tambunan,  2007: 52). Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan industri  makanan dan minuman setiap tahunnya yang ditunjukkan pada Tabel 1.1  Tabel 1.1 Pertumbuhan Penjualan Industri Makanan dan Minuman Tahun 2004-2007  Rp Juta N o  Nama Perusahaan  2004  2005  2006  2007 1  PT Aqua golden Missisipi Tbk  1.333.147  1.563.156  1.683721  1.952.156 2  PT Davomas Abadi Tbk  1.032.178  1.120.893  1.656.584  2.800.084 3  PT Delta Djakarta Tbk  353.481  432.729  396.733  439.823 4  PT Fast Food Tbk  889.423  1.028.393  1.276.416  1.589.643 5  PT Indofood sales Makmur Tbk  17.918.528  18.764.650  21.941.558  2.785.8304 6  PT Multi Bintang Indonesia Tbk  710.911  852.613  891.001  978.600 7  PT Mayora Indah Tbk  1.378.127  1.706.184  1.971.513  2.828.440 8  PT Siantar Top Tbk  712.558  641.698  555.208  466.507 9  PT Tunas Baru Lampung Tbk  710.911  852.613  891.001  978.600 10  PT Ultra Jaya Milk Tbk  546.325  711.732  835.230  1.126.800 Total Penjualan Industri  26.066.879  28.042.684  32.421.963  41.726.926 Pertumbuhan rata-rata penjualan Industri -  7,58%  15,61 %  28,70 % Sumber : www.idx.co.id, 16 Maret 2009 (Diolah )   Pada Tabel 1.1 terlihat bahwa rata- rata penjualan industri makanan dan  minuman mengalami pertumbuhan sejak tahun 2004 sampai dengan 2007. diikuti  dengan persentase pertumbuhan penjualan yang juga mengalami peningkatan  setiap tahunnya. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan penjualan pada industri  makanan dan minuman mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Berikut ini adalah informasi dan gambaran tingkat leverage dan likuiditas  pada sektor industri makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia berdasarkan  laporan keuangan tahunan selama periode 2004-2007, yaitu:  Tabel 1.2 Data Rata-rata Rasio Leverage, Rasio Likuiditas, dan EPS Pada Industri Makanan dan Minuman Tahun2004-2007  Periode   Debt to Total  Asset (%) Longterm Debt to  Equity Ratio (%) Current Ratio (%) Earning Per  Share (Rp) 2004  44,82  106,09  5830,92  1.457,66 2005  46,11  107,56  465,18  1.273,75 2006  45,92  105,57  296,43  1.032,83 2007  47,83  121,58  322,03  1.256,50 Sumber : www.idx.co.id(16 Maret 2009, diolah)  Berdasarkan Tabel 1.2 diperoleh bahwa variabel DTA (Debt to Total Asset  Ratio), Longterm Debt to Equity Ratio(LDER), Current Ratio (CR), dan Earning  Per Share (EPS dari rata-rata sektor industri makanan dan minuman mengalami  fluktuasi setiap tahunnya. Pada tahun 2004 saat DTA sebesar 44,82%, DER  106,09%, dan CR 5.830,92%, EPS perusahaan sebesar Rp 1457,66. Pada tahun  2005 DTA meningkat sebesar 46,11%, LDER meningkat menjadi 107,56%, CR  menurun menjadi 465,18% sedangkan EPS menurun menjadi Rp 1.273,75. Pada  tahun 2006 DTA menurun menjadi 45,92%, LDER  menurun menjadi 105,57%,  dan CR juga menurun menjadi 296,43%, mengakibatkan EPS menurun menjadi   Rp 1.032,83. Pada tahun 2007, DTA meningkat menjadi 47,83%, LDER  meningkat menjadi 121,58% dan CR juga meningkat menjadi 322,03%, hal ini  juga mengakibatkan EPS meningkat menjadi Rp1.256,50.
Pada suatu perusahaan apabila semakin tinggi Rasio Leverage (Debt to  Total Asset, Longterm Debt to Equity Ratio) akan bisa mengakibatkan kenaikan  Earning Per Share karena adanya penggunaan aset sehingga perusahaan harus  mengeluarkan biaya dan beban tetap. Semakin tinggi Rasio Likuiditas (Current  Ratio) akan dapat menurunkan EPS perusahaan karena aktiva lancarnya tidak  didayagunakan dengan efektif. Namun fenomena yang terjadi adalah tahun 2004-2006 DTA dan LDER mengalami kenaikan,  Current Ratio menurun sedangkan EPS mengalami penurunan. Namun pada tahun 2007, kenaikan DTA, LDER,  Current Ratio  searah dengan kenaikan EPS.
Fenomena ini memerlukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh Rasio  Leverage, yaitu Debt to Total Asset, Longterm Debt to Equity Ratio dan Rasio  Likuiditas, yaitu  Current Ratio  terhadap  Earning Per Share  pada industri  makanan dan minuman yang telah go public di Bursa Efek Indonesia.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut , maka permasalahan dapat  dirumuskan sebagai berikut: Apakah Rasio Leverage, yaitu Debt to Total Asset,  Longterm Debt to Equity Ratio dan Rasio Likuiditas, yaitu  Current Ratio mempunyai pengaruh terhadap Earning Per Share pada sektor industri makanan  dan minuman yang telah Go Public di Bursa Efek Indonesia?  C. Kerangka Konseptual Earning per Share  adalah salah satu indikator yang dapat dijadikan  pertimbangan sebelum berinvestasi sebagaimana yang dikemukakan oleh  Syamsuddin (2007:66) bahwa ”EPS menggambarkan jumlah rupiah yang  diperoleh untuk setiap lembar saham biasa”.  Penggunaan hutang yang berbedabeda besarnya akan menghasilkan EPS yang berbeda- beda pula dan perubahan  EPS tersebut akan berlanjut mempengaruhi naik turunnya harga saham (Brigham  & Weston, 2001:613).
Debt to Total Asset (DTA) adalah rasio yang mengukur tingkat  penggunaan hutang terhadap total asset yang dimiliki perusahaan. Semakin rendah  rasio ini, maka semakin besar perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam  peristiwa likuidasi. Disisi lain pemegang saham akan menginginkan  laba lebih  besar. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat hutang  terhadap total aktiva,  semakin besar risiko keuangan sehingga investor akan menginginkan EPS yang  tinggi (Van Horne dan Wachowich, 2001:138).
Longterm Debt to Equity Ratio  (DER) mencerminkan kemampuan  perusahaan dalam memenuhi hutang melalui modal sendiri. Jika Longterm Debt to  Equity Ratio tinggi berarti perusahaan memiliki tingkat hutang jangka panjang  yang tinggi dengan beban tetap yang tinggi, sehingga akan mengurangi beban  pajak dan menyebabkan keuntungan bagi perusahaan. Hal tersebut tentu akan  mempengaruhi laba bersih pemegang saham  biasa  (EPS), di lain pihak  meningkatkan risiko karena kewajiban untuk membayar hutang lebih diutamakan  (Harahap, 2007: 303).
 Current ratio adalah mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar  kewajiban yang segera harus dipenuhi dari aktiva lancarnya.  Semakin tinggi  current ratio akan dapat menurunkan EPS perusahaan karena aktiva lancar tidak  didayagunakan dengan efektif (Djarwanto, 2001: 130).
Berdasarkan teori- teori yang dikemukakan sebelumnya, maka kerangka  konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 1.1. Kerangka Konseptual  Sumber : Harahap (2007); Van Horne & Wachowicz(2005); Djarwanto (2001); diolah D. Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah yang diuraikan pada perumusan masalah,  maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : ” Rasio Leverage, yaitu Debt to Total Asset, Debt to Equity Ratio, dan Rasio  Likuiditas, yaitu Current Ratio  mempunyai pengaruh terhadap Earning Per  Share (EPS) pada sektor industri makanan dan minuman yang go public di  BEI periode 2004-2007.
Rasio Leverage DTA (X1) LDER (X2) Earning Per  Share (EPS)  (Y) Rasio Likuiditas CR (X3)  E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Mengetahui pengaruh Rasio Leverage,  yaitu Debt to Total Asset, Debt to  Equity Ratio, dan Rasio Likuiditas, yaitu Current Ratio terhadap Earning Per  Share (EPS) pada Sektor Industri Makanan dan Minuman yang go public di  BEI periode 2004-2007.
2. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat : a. Bagi Penulis Penelitian ini diharapkan menambah wawasan berpikir khususnya dalam  bidang keuangan terutama dalam memahami pengaruh rasio leverage dan rasio  likuiditas terhadap Earning Per Share (EPS) perusahaan.
b.Bagi Perusahaan Diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak manajemen perusahaan dalam  mengevaluasi pengaruh pembiayaan dengan modal pinjaman sehingga dapat  memberikan pengembalian yang tinggi bagi para pemegang saham perusahaan.
c. Bagi Pihak Lain Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan  referensi untuk penelitian lanjutan pada ruang lingkup dan kajian yang lebih luas.
 F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Variabel Adapun yang menjadi batasan operasional dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut : a.  Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat yaitu EPS dan  variabel bebas yaitu rasio leverage, yaitu Debt to Total Asset, Debt to  Equity Ratio dan rasio likuiditas dengan indikator Current Ratio.
b.  Perusahaan emiten yang menjadi subjek penelitian adalah perusahaan yang  bergerak pada industri makanan dan minuman dan terdaftar di Bursa Efek  Indonesia serta mempublikasikan data laporan keuangan yang lengkap dan  telah diaudit menggunakan tahun buku berakhir pada 31 Desember.
c.  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan  dari tahun 2004 sampai dengan 2007.
d.  Perusahaan emiten menggunakan modal eksternal yakni pinjaman atau  hutang dalam pendanaan perusahaan.
2. Definisi Operasional Variabel  Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok variabel yang terdiri dari,  yaitu a) Variabel Terikat (Dependent Variabel) (Y) Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Earning Per  Share (EPS). EPS merupakan rasio yang menunjukkan bagian laba untuk setiap  saham. EPS menggambarkan profitabilitas perusahaan yang tergambar pada setiap  lembar saham. EPS bertujuan untuk mengukur besarnya kemampuan perusahaan  dalam mendistribusikan pendapatannya kepada pemegang saham yang dihitung   dengan membagi laba bersih untuk pemegang saham biasa dengan jumlah lembar  saham biasa yang beredar.
Laba Bersih bagi Pemegang Saham Biasa EPS =  Jumlah Lembar saham beredar b) Variabel Bebas (Independent Variabel ) = X Variabel bebas adalah Rasio Leverage dan Rasio Likuiditas dengan  indikator, Debt to Total Asset, Debt to Equity Ratio dan  Current Ratio..
1.   Debt to Total Asset (X1) Debt to Total Asset (DTA) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur  tingkat penggunaan hutang (kewajiban ) terhadap total aset yang  dimiliki  perusahaan.
Rumus : DTA =  tan x Aktiva Total g Hu Total 2.  Longterm Debt to Equity Ratio (X2) Longterm Debt to Equty Ratio (DER) adalah rasio yang digunakan untuk  melihat seberapa besar kemampuan modal yang dimiliki perusahaan dalam  melunasi seluruh hutang-hutangnya atau untuk memperkirakan seberapa besar  perbandingan antara  hutang jangka panjang perusahaan dengan modalnya.
Rumus : LDER= tan x Ekuitas Total Panjang Jangkag Hu  3.   Current Ratio  Current Ratio  (CR) adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan  dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dari aktiva lancarnya Rumus : Current Ratio (CR) =  x Lancar Kewajiban Lancar Aktiva 3. Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perusahaan makanan  dan minuman yang listing serta terdaftar di BEI sampai tahun 2007. Pengambilan  sampel  penelitian menggunakan cara  purposive sampling  yaitu penentuan  berdasarkan karakteristik tertentu (Umar, 2008: 92).
Kriteria perusahaan yang dijadikan sampel penelitian adalah sebagai  berikut : 1)  Perusahaan yang bergerak pada industri makanan dan minuman yang terdaftar  di BEI dan mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit dari tahun  2004 sampai dengan 2007.
2)  Perusahaan tidak memiliki ekuitas dan EPS yang negatif , karena ekuitas dan  EPS yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian besar.
3)  Perusahaan menggunakan modal pinjaman (hutang).
Tabel 1.3 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Sampel No   Karakteristik Sampel  Jumlah 1  Perusahan sektor industri makanan dan minuman  yang terdaftar di BEI  19 2.  Perusahaan yang memiliki ekuitas dan EPS yang  negatif  (9) Jumlah sampel  10 Sumber : www.idx.co.id, 16 Maret 2009( data diolah)   Berdasarkan karakteristik penarikan sampel tersebut, maka diperoleh sampel  penelitian sebanyak 10  perusahaan sektor industri makanan dan minuman.
Adapun sampel- sampel tersebut adalah : Tabel 1.4 Sampel Penelitian  No   Kode  Emiten Nama Perusahaan  Tanggal Listing 1  AQUA  PT Aqua Golden Mississipi Tbk  01 Maret 1990 2  DLTA  PT Delta Djakarta Tbk  27 Februari 1984 3  DAVO  PT Davomas Abadi Tbk  22 Desember 1994 4  FAST  PT Fast Food Indonesia Tbk  11 Mei 1993 5  INDF  PT Indofood Sukses Makmur Tbk  14 juli 1994 6  MYOR  PT Mayora Indah Tbk  04 Juli 1990 7  MLBI  PT Multi Bintang Indonesia Tbk  15 Desember 1981 8  STTP  PT Siantar Top Tbk  16 Desember 1996 9  TBLA  PT Tunas Baru Lampung Tbk  14 Februari 2000 10  ULTJ  PTUltra Jaya Milk Tbk  02 Juli 1990 Sumber : www.idx.co.id, 16 Maret 2009 ( data diolah) 4. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan situs  www.idx.co.id dan www.google.com.
2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Februari -Mei2009.
5. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang  bersumber dari data sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil publikasi Bursa  Efek Indonesia tentang data emiten, media internet, buku-buku referensi, majalah,  dan surat kabar lainnya.
 6. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan  mengumpulkan data berupa laporan keuangan setiap perusahaan dari tahun 2004-2007 untuk sektor industri makanan dan minuman yang dikutip dari laporan  keuangan yang telah dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia.
7. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis  deskriptif dan analisis statistik.
a. Analisis Deskriptif Metode deskriptif yaitu metode penganalisaan data dengan cara menyusun  data, mengelompokkannya selanjutnya mengintrepretasikannya sehingga  diperoleh gambaran yang sebenarnya mengenai keadaan tingkat leverage,  likuiditas, dan Earning Per Share (EPS) pada industri makanan dan minuman  yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
b. Analisis Statistik Pada tahap ini akan dijelaskan hubungan antara variabel terikat  yaitu Earning Per Share (EPS) dan variabel bebas yaitu Rasio Leverage (Debt to Total  Asset dan Debt to Equity Ratio) dan Rasio Likuiditas (Current Ratio) dengan  Model Regresi Linear Berganda dengan rumus: Y = a+ b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Dimana : Y  =  Earning Per Share a  =  konstanta X1   =  Debt to Total Asset   X2  =  Debt to Equity Ratio   X3 =  Current Ratio b1,2,3   =  koefisien regresi variabel x e   =   error  1. Pengujian  Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi,  variabel dependen dan variabel independen atau keduanya berdistribusi normal  atau mendekati normal ( Umar, 2008: 181). Metode yang digunakan untuk  menguji normalitas adalah dengan menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov.
2. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Multikolinearitas Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi  ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2005 : 91). Hubungan  linear antar variabel dependen inilah yang disebut dengan multikolinearitas.
Model regerei yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel  independen. Uji multikolinearitas dalam penelitian ini menggunakan Variance  Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan : Bila VIF > 5, maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
Bila VIF < 5, maka tidak terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
b. Uji Heteroskestisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model  regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke  pengamatan lain (Ghozali, 2005 : 105). Jika varians dari residual suatu  pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Jika  varians tidak konstan atau berubah-ubah disebut dengan heteroskedasitas.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji  heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan grafik dan gletser test.
 c. Uji Autokorelasi Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam regresi linear terdapat  hubungan kuat baik positif maupun negatif antardata yang ada pada variabel-  variabel penelitian. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari  autokorelasi (Umar, 2008:185). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa  autokorelasi terjadi apabila observasi yang berturut-turut sepanjang waktu  mempunyai antara satu dengan yang lainnya. Untuk menguji ada atau tidaknya  autokorelasi dalam suatu model regresi, maka dilakukan dengan menggunakan  uji Durbin- Watson (DW) yang diberi simbol d.
Tabel 1.5 Kriteria Pengambilan Keputusan Uji Autokorelasi Hipotesis nol  Keputusan  Jika Tidak ada autokorelasi positif  Tolak   0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif  No decision  dl ≤ d ≤ du Tidak ada korelasi negatif  Tolak  4-dl < d < 4 Tidak ada korelasi negatif  No decision  4-du ≤ d ≤ 4 -dl Tidak ada autokorelasi positif atau  negatif Tidak ditolak  du <d < 4- du Sumber : Situmorang, et.al (2008 : 86)  Keterangan : du = batas atas dl = batas bawah c.  Pengujian Hipotesis 1. Uji – F  Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara  serentak mempunyai pengaruh yang signifikasn terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujian : Ho : b1 = b2 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara serentak  dari current ratio, DAR, DER terhadap EPS industri makanan dan minuman di  BEI .
 H1 :  b 1 # b2 # 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari  current ratio, DAR, LDER terhadap EPS industri makanan dan minuman di BEI.
Pada penelitian ini nilai Fhitung akan dibandingkan dengan Ftabel pada  tingkat signifikan (α) = 5 %. Kriteria penilaian hipotesis pada uji- F : Ho diterima (H1 ditolak) jika Fhitung ≤ Ftabel  pada α = 5 % Ho ditolak (H1 diterima) jika Fhitung  > Ftabel  pada α = 5 % 2. Uji- t  Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah setiap variabel bebas  mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
Bentuk Pengujian : Ho : b1 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas  (CR, DTA, LDER) terhadap variabel terikat (EPS) Ha : bi # 0 artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas (CR,  DTA, LDER) terhadap variabel terikat (EPS).
Kriteria pengambilan keputusan pada uji – t ini adalah : Ho diterima jika : -ttabel  ≤ thitung  ≤ ttabel Ho diterima jika : thitung  < - thitung  atau t hitung  > ttabel Dalam menganalisis data, penulis menggunakan program Software SPSS  (Statistic Package for the Social Sciencs) 15.00 for windows.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi