Kamis, 27 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH STRUKTUR MODAL TERHADAP PROFITABILITAS PADA INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN



BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
 Pada dasarnya pasar keuangan (financial market) terdiri dari dua bagian,  yaitu pasar uang (money market) dan pasar modal (capital market). Pasar uang  dan pasar modal dibedakan atas instrumen keuangan atau surat berharga yang  diperjualbelikan. Pasar modal merupakan pasar untuk surat berharga jangka  panjang seperti saham, warrant, obligasi, right, obligasi konvertibel, dan berbagai  produk turunan (derivativ) seperti opsi (put atau call), sedangkan pasar uang pada  sisi yang lain merupakan pasar surat berharga jangka pendek seperti, Sertifikat  Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).

Pasar modal Indonesia sebagai salah satu lembaga yang memobilisasi dana  masyarakat dengan menyediakan sarana atau tempat untuk mempertemukan  penjual dan pembeli dana-dana jangka panjang yang disebut efek. Dalam hal ini  pasar modal memiliki fungsi ekonomi karena menyediakan fasilitas atau tempat  mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang mempunyai kelebihan dana  (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Selain itu pasar modal  memiliki fungsi keuangan karena pasar modal memberikan kemungkinan dan  kesempatan memperoleh imbalan berupa return bagi pemilik dana sesuai dengan  karakteristik investasi yang dipilih.
Tujuan sebuah perusahaan melakukan kegiatan operasionalnya ialah untuk  memperoleh profitabilitas yang maksimum, selain untuk mencapai tujuan-tujuan  perusahaan yang lainnya. Dengan adanya profitabilitas yang cukup tinggi dan  didukung oleh nilai perusahaan yang semakin baik maka kredibilitas dan   kontinuitas perusahaan dapat dipertahankan serta perusahaan dapat tumbuh terus  dan melakukan ekspansi dalam bisnisnya. Tujuan diatas bukan hanya untuk  perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), namun juga berlaku  untuk perusahaan-perusahaan swasta yang terbuka maupun tidak terbuka yang  biasanya berorientasi pada laba. Oleh karena itu suatu perusahaan dituntut untuk  dapat melakukan kegiatan operasionalnya secara efisien dan efektif sehingga akan  meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Pasar modal dapat digunakan oleh perusahaan sebagai sumber  mendapatkan sumber pendanaan jangka panjang untuk kepentingan investasi  tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Perusahaan yang  membutuhkan dana akan mencatatkan sahamnya di bursa atau menambah volume  saham dengan penerbitan saham baru. Pihak yang menawarkan atau menjual efek  kepada masyarakat melalui pasar modal disebut emiten.
Pada masa sekarang konsumen semakin menyukai makanan dan minuman  siap saji (prepared food and beverages). Pernyataan ini diduku ng oleh hasil survei  yang dilakukan oleh Survei Sosial Ekonomi (Susenas) yang menyingkapkan  bahwa pola pengeluaran untuk konsumsi makanan jadi di antara masyarakat  perkotaan telah meningkat. Semakin kurangnya waktu yang tersedia, serta  semakin membudayanya cara-cara praktis dalam penyediaan pangan,  menyebabkan masyarakat kota cenderung menyenangi makanan ready to eat.
Selain di kota hal yang sama juga terjadi pada masyarakat pedesaan, hal ini terjadi  akibat gencarnya urbanisasi membuat cara hidup masyarakat desa terpengaruh  dari cara hidup perkotaan dalam konsumsi pangan (Nikijuluw, Suara  Pembaharuan Daily, 2009).
 Konsumen tidak lagi memilih produk tradisional saja, tetapi juga produk-produk fortifikasi yaitu produk-produk makanan olahan hasil industri makanan  dan minuman, seperti susu, biskuit, permen, vitamin dan mineral. Perubahan  keinginan tersebut disebabkan mereka memiliki pengetahuan yang baru berkat  media yang diakui berperan penting dalam mengedukasi konsumen. Diperkirakan  juga bahwa dalam lima tahun ke depan, industri makanan olahan akan bertumbuh  8% per tahun dengan pertumbuhan volume penjualan 4%-11%. Didukung makin  meningkatnya kesadaran kesehatan, pengenalan produk baru dan pertumbuhan  tempat ritel modern juga mendorong pertumbuhan industri makanan (Ketua  Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia, Thomas  Darmawan, ANTARA 2009) Industri makanan dan minuman merupakan salah satu industri sebagai  emiten yang mencatatkan sahamnya di BEI. Industri yang mencatatkan sahamnya  ada sebanyak 12 perusahaan (2009). Sebagai salah satu industri yang memiliki  prospek baik sudah seharusnya saham industri makanan dan minuman terbuka di  Indonesia cukup aktif diperdagangkan di lantai bursa. Perusahaan multinasional  juga mengamati perkembangan sektor ini dan melihat prospek perusahaan lokal  semakin bagus, sehingga mereka juga berniat melakukan ekspansi ke pangsa pasar  asia lewat industri ini. Alasannya industri ini memiliki tingkat pertumbuhan yang  cukup tinggi dan dapat bertahan untuk jangka panjang. Hal ini sangat mungkin  dilihat dari pola hidup masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif dan jumlah  penduduk Indonesia yang sangat tinggi mendukung pertumbuhan industri  makanan dan minuman (Chris Biantoro, Warta Ekonomi, 2009).
Saat ini harga komoditas pertanian di dunia mengalami kenaikan yang bisa   menyebabkan terjadinya krisis pangan di Indonesia. Krisis pangan yang terjadi  sekarang adalah ketidakmampuan masyarakat membeli produk pangan, sedangkan  komoditasnya ada. Krisis pangan di Indonesia bukan disebabkan kekurangan  pangan dalam artian pangan sebagai sesuatu yang dimakan. Pasalnya, Indonesia memiliki berbagai jenis komoditas biji-bijian, umbi, holtikura, sayur dan buah,  serta komoditas ternak dan ikan. Kenaikan harga komoditas pertanian yang  memicu kenaikan harga makanan dan minuman olahan dinilai tidak akan  membuat industri makanan dan minuman olahan menderita, karena perusahaan  pasti telah memiliki proyeksi dan antisipasi (Direktur PT Indofood Sukses  Makmur Tbk, Franciscus Welirang, ANTARA, 2009).
Pada umumnya suatu perusahaan dapat bertahan apabila ia dapat  mempertahankan dan meningkatkan kinerja perusahaan. Upaya ini dapat  dilakukan dengan mengukur struktur modal dalam mempengaruhi tingkat  profitabilitas perusahaan. Struktur modal sering dihubungkan dengan nilai  perusahaan dan memiliki pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan.
Profitabilitas merupakan tingkat kemampuan perusahaan untuk mengukur  efektivitas manajemen yang dihitung oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan  investasi perusahaan. Sedangkan cara menghitung rasio profitabilitas yang  berhubungan dengan struktur modal salah satunya adalah dengan Return on  Equity (ROE). Menurut Sartono (2000:296) semakin besar penggunaan hutang  dalam struktur modal maka ROE suatu perusahaan semakin meningkat, berbeda  dengan Weston dan Brigham (2001:150) yang menyatakan bahwa perusahaan  yang memiliki tingkat pengembalian investasi (profitabilitas) yang tinggi  cenderung memiliki hutang dalam jumlah kecil.
 PERBANDINGAN FLUKTUASI RASIO DAR, DER, LDER,  ROE -0.2 -0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 2007 2008 2009 ROE DAR DER LDER Gambar 1.1: Grafik Perbandingan Fluktuasi Rasio DER, DAR, LDER terhadap Rasio ROE  rata-rata Industri Makanan dan Minuman yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Sumber: www.e-bursa.com (data diolah) Pada Gambar 1.1 memperlihatkan fluktuasi daripada Return on Equity  (ROE) dari tahun 2007 sampai tahun 2009 mengalami kenaikan. Pergerakan yang  signifikan ini, diikuti rasio Debt to Equity Ratio (DER) dan Longterm Debt to  Equity Ratio (LDER)  yang mengalami fluktuasi yang semakin meningkat.
Sebaliknya pada Debt to Asset Ratio (DAR) cenderung mengalami penurunan dari  tahun 2007 sampai tahun 2009. Peristiwa ini dapat membuktikan bahwa proporsi  pendanaan hutang lebih besar ditanggung oleh ekuitas atau pemegang saham pada  industri makanan dan minuman, daripada menggunakan asset perusahaan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik melakukan  penelitian lebih lanjut dengan judul : “Pengaruh Struktur Modal terhadap  Profitabilitas pada Industri Makanan dan Minuman yang Go Public”  B.  Perumusan Masalah Masalah adalah sesuatu yang memerlukan pemecahan dan merupakan  sesuatu yang tidak diinginkan. Oleh karena itu setiap masalah memerlukan  tanggapan dan cara-cara untuk mengatasinya agar perusahaan berjalan sesuai  dengan yang diharapkan. Perumusan masalah merupakan tahap awal yang harus  dilakukan sebelum mencapai ke tahap pembahasan.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka  peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel struktur modal yang terdiri dari Debt  to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Equity  Ratio (LDER) terhadap profitabilitas pada perusahaan Industri makanan  dan minuman yang go public?”  C. Kerangka Konseptual Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba  dengan memanfaatkan semua sumber daya yang terdapat pada perusahaan.
Profitabilitas dapat diukur melalui rasio Return On Equity (ROE). ROE berguna  untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diberikan oleh perusahaan untuk  setiap rupiah modal dari pemilik. ROE menunjukkan kesuksesan manajemen  dalam memaksimalkan pengembalian pada pemegang saham, semakin tinggi rasio  ini akan semakin baik karena memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar  pada pemegang saham.
Debt to Asset Ratio (DAR) yaitu rasio yang menekankan persentase aktiva  perusahaan yang didukung oleh hutang. Nilai DAR yang tinggi mengakibatkan   ketidakmampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya, sedangkan  di pihak pemegang saham mengakibatkan pembayaran bunga yang tinggi dan  akan mengurangi pembayaran dividen.
Debt to Equity Ratio (DER) menekankan persentase penyediaan dana oleh  pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio DER, maka  semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham.
Longterm Debt to Equity Ratio  (LDER) menekankan persentase  penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap kewajiban jangka panjang. Dari  kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan  semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka  panjang.
Struktur Modal Gambar 1.2 Kerangka Konseptual Sumber : Diolah dari berbagai sumber (Sartono, Keown, Husnan. et,al)  Debt to Asset Ratio (X1)  Debt to Equity Ratio (X2)  Longterm Debt to  Equity Ratio (X3)  Profitabilitas (Return on Equity) (Y)  D. Hipotesis Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena, atau  keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi. Hipotesis berupa pernyataan  mengenai konsep yang telah terjadi atau akan terjadi. Hipotesis berupa pernyataan  mengenai konsep yang dapat dinilai benar atau salah jika menunjuk pada suatu  fenomena yang diamati dan diuji secara empiris. Fungsi dari hipotesis adalah  sebagai pedoman untuk dapat mengarahkan penelitian agar sesuai dengan apa  yang kita harapkan (Kuncoro, 2003:47-48).
Berdasarkan kerangka konseptual yang telah dibuat, maka hipotesis yang  dapat dirumuskan adalah: “Struktur modal dengan variabel rasio hutang dengan asset (Debt to Asset  Ratio), rasio hutang dengan modal sendiri (Debt to Equity Ratio) dan rasio  hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Longterm Debt to Equity Ratio)  secara serempak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada  industri makanan dan minuman yang go public.” E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun peneliti  melakukan penelitian ini adalah untuk menganalisis  pengaruh struktur modal (Debt to Asset Ratio, Longterm Debt to Asset Ratio, Debt  to Equity Ratio, Longterm Debt to Equity Ratio) terhadap profitabilitas (Return on  Equity) pada perusahaan industri makanan dan minuman yang tercatat di Bursa  Efek Indonesia dengan menggunakan laporan keuangan dari tahun 2007-2009.
 2.  Manfaat Penelitian a.  Bagi Perusahaan Penelitian ini bermanfaat sebagai dasar pertimbangan dan masukan bagi  pihak perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya.
b.  Bagi Peneliti Penelitian ini adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan  menambah wawasan peneliti melalui analisis dan pengujian pengaruh  struktur modal terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman  yang go public.
c.  Bagi kalangan Akademis Lainnya Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi dalam melakukan penelitian  selanjutnya khususnya mengenai pengaruh struktur modal terhadap  profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang go public.
F.  Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional a.  Variabel yang digunakan oleh penulis terbagi dua yaitu variabel dependent  (terikat, Yi) dan variabel independent (bebas, Xi). Dengan variabel bebas yaitu  Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio, Longterm Debt to Equity Ratio.
Variabel terikat yaitu profitabilitas perusahaan dengan indikatornya Return on  Equity  (ROE). Hubungan antara keempat variabel tersebut adalah naik  turunnya variabel terikat (ROE) dipengaruhi oleh kelompok variabel bebas  yaitu DAR, DER, LDER, maka apabila salah satu variabel bebas berubah  akibatnya variabel terikatpun ikut berubah.
 b.  Laporan Keuangan yang digunakan adalah tahun 2007, 2008 dan 2009.
2.  Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Definisi operasional  variabel adalah unsur penulisan yang  memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Dalam penulisan  ini, definisi operasional variabelnya adalah sebagai berikut: a.  Profitabilitas (Yi) merupakan rasio yang mengukur efektivitas manajemen  yang dihitung oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi  perusahaan. Dalam penulisan ini profitabilitas diidentifikasikan dengan rasio  pengembalian ekuitas atau ROE dengan cara membandingkan laba bersih  dengan ekuitas. Variabel ini digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian  modal pemilik perusahaan. Rumus: Laba Bersih ROE Ekuitas = b.  DAR (Debt to Asset Ratio, X1) sering disebut dengan rasio hutang (debt ratio),  adalah variabel yang mendefinisikan seberapa banyak proporsi dari aktiva  yang sumber pendanaannya berasal dari pinjaman atau kredit. Rasio ini diukur  dari jumlah hutang dibagi dengan jumlah aktiva. Rumus: Debt DAR Asset = c.  DER (Debt to Equity Ratio, X2) adalah variabel yang bertujuan melihat berapa  besar proporsi dari modal perusahaan yang berasal dari pinjaman atau kredit.
Rumus: Debt DER Equity = d.  LDER (Longterm Debt to Equity Ratio, X3) adalah variabel yang didefinisikan   sebagai proporsi dari hutang jangka panjang yang sumber pendanaanya  berasal dari ekuitas atau pemegang saham. Ukuran dari variabel LDER  dipakai untuk mengindikasikan bahwa semakin besar rasio perbandingannya,  maka semakin besar risiko yang ditanggung para pemegang saham (Warsono,  2003:239). Rumus: = Longterm Debt LDER Shareholder Equity 3.  Populasi dan Sampel a.  Populasi  Populasi penelitian ini adalah seluruh industri makanan dan minuman  yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sebanyak 12 perusahaan pada tahun 2009.
b.  Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini  adalah  metode purposive sampling atau sampel jenuh. Metode purposive sampling adalah  metode pengambilan sampel dengan  ketentuan seluruh populasi digunakan untuk  pengambilan sampel ( Kuncoro, 2003:104). Adapun kriteria penarikan sampel  yang digunakan antara lain:  1)  Emiten yang memiliki data laporan keuangan per triwulan yang  lengkap selama periode penelitian.
2)  Emiten yang memiliki data harga saham yang lengkap selama periode  penelitian.
Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 12 perusahaan yang menggunakan  laporan keuangan untuk tahun 2007, 2008 dan 2009, yaitu :  Tabel1.1  Sampel Penelitian No.  Kode  Nama Perusahaan 1.  ADES  Ades Waters Indonesia Tbk 2.  AISA  Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 3.  AQUA  Aqua Golden Mississippi Tbk 4.  CEKA  Cahaya Kalbar Tbk 5.  DLTA  Delta Djakarta Tbk 6.  INDF  Indofood Sukses Makmur Tbk 7.  MLBI  Multi Bintang Indonesia Tbk 8.  MYOR  Mayora Indah Tbk 9.  PSDN  Prasidha Aneka Niaga Tbk 10.  SKLT  Sekar Laut Tbk 11.  STTP  Siantar TOP Tbk 12.  ULTJ  Ultra Jaya Milk Tbk Sumber: www.idx.co.id 4.  Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian (diolah)  a.  Tempat Penelitian Penelitian ini mengambil data untuk penelitian secara tidak langsung  mengambil dari Bursa Efek Indonesia, yaitu dengan cara diambil dari media  internet terutama memanfaatkan situs resmi BEI seperti situs  b.  Waktu Penelitian www.idx.co.id,  www.e-bursa.com.
Penelitian ini dilaksanakan mulai Juli 2010 sampai dengan Desember2010.
5.  Jenis Data Jenis data dalam penulisan ini adalah data sekunder berupa data kuantitatif  yang bersumber dari laporan-laporan keuangan yang telah dipublikasikan,  majalah-majalah, jurnal-jur nal, situs BEI (www.idx.co.id), buku-buku literatur.
 6.  Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penulisan ini adalah teknik dokumentasi  dengan cara mengumpulkan  data berupa laporan keuangan setiap perusahaan  sampel untuk tahun 2007, 2008, 2009 dan IHSG sektor industri makanan dan  minuman, yang dikutip dari laporan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek  Indonesia (www.e-bursa.com, www.idx.co.id).
7.  Metode Analisis Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a.  Metode Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan suatu metode dimana data-data yang  dikumpulkan dan dikelompokan kemudian dianalisis dan diinterpretasikan  secara objektif.
b.  Metode Analisis Statistik 1)  Metode Analisis Linier Berganda Peneliti menggunakan Metode Analisis Regresi Berganda (Multiple  Linear Regression) untuk mengetahui besarnya hubungan dan  pengaruh variabel bebas yang jumlahnya lebih dari dua variabel  terhadap terikat (Sugiyono, 2003:211). Dengan bentuk persamaan  regresi berikut ini: Y = b0+b1DAR+b2DER+b3LDER+e Keterangan: ROE  = Return on Equity DAR  = Debt to Asset Ratio DER  = Debt to Equity Ratio  LDER  = Longterm Debt to Equity Ratio b0  = Konstanta b1, b2, b3, b4 = Koefisien Regresi e   =  Standard Error 2)  Pengujian Hipotesis Proses selanjutnya adalah melakukan pembuktian hipotesis yang  diajukan dengan perhitungan menggunakan alat Bantu program SPSS  16.00 dengan teknik analisis sebagaiberikut:  a)  Uji Serempak (Uji F) Uji Serempak adalah untuk mengetahui apakah secara  serempak variabel bebas (DAR, DER, LDER) mempunyai  pengaruh atau tidak terhadap variabel terikat, dengan hipotesis  sebagai berikut: H0: b1=b2=b3=b4=0, artinya seluruh variabel bebas (DAR, DER,  LDER) secara serempak tidak berpengaruh signifikan terhadap  variabel terikat (ROE).
Ha: minimal satu b1≠0, artinya variabel bebas (DAR, DER, LDER)  secara serempak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat  (ROE).
Kriteria Pengambilan Keputusan: H0 diterima jika Fhitung ≤ Ftabel pada α=5% Ha diterima (tolak H0) jika Fhitung > Ftabel pada α=5% b)  Uji Parsial (Uji t) Pengujian yang dilakukan untuk menguji apakah variabel   bebas  (DAR, DER, LDER) secara parsial mempunyai pengaruh  signifikan terhadap nilai variabel terikat (ROE) dengan perumusan  hipotesis sebagai berikut: H0: b1=0, artinya variabel bebas (DAR, DER, LDER) secara parsial  tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (ROE).
Ha: b1≠0, artinya variabel bebas (DAR, DER, LDER) secara parsial  berpengaruh  signifikan  terhadap  variabel  terikat.  Dengan  α=10%  dan derajat kebebasan (n-k).
Kriteria Pengambilan Keputusan: H0 diterima jika –ttabel ≤ thitung ≤ ttabel pada α=10%, df=n-k  Haditerima jika thitung > ttabel thitung < -ttabel   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi