1BAB I.
PENDAHULUAN.
1.1. Latar Belakang Masalah .
Dunia bisnis
berubah, sejak abad ke enam silam. Heraclitus sudah menandaskan sangat tegas bahwasannya tidak ada
yang kekal didunia terkecuali perubahan
itu sendiri. Secara gamblang disaksikan bersama , betapa signal – signal pertanda perubahan zaman begitu cepat
terjadi. Thomas Robert Malthus lebih
dari 200 tahun lalu menyatakan bahwa “the power of population akan tumbuh jauh melebihi
kemampuan the power in the earth untuk
menghasilkan makanan bagi manusia”. Temuan Malthus tentu saja banyak menimbulkan banyak kehebohan –
kehebohan, (Khasali, 2006).
Sebagian orang
inggris menanggapi bahwa bumi ini hanyalah berbentuk bulat dan terdiri dari segumpalan tanah yang hingga saat itu
mereka diami. Terjadi dua kelompok pada
masa itu yakni kaum optimis dan kaum pesimis. Kaum pesimis terdiri dari sekelompok orang yang berkutat dalam
keributan, maki – makian terhadap kerajaan
dan menyuarakan ketakutan. Kaum optimis meneruskan kerja dan membiarkan hidupnya masuk ke zona
ketidaknyamanan (discomfortable) serta melkukan
tindakan cermat dalam menyelamatkan kehidupan.
Perubahan yang
paling menarik tentu saja ada pada di dunia usaha yang mana suatu perusahaan dipaksa untuk dapat
mempertahankan pertumbuhannya di tengah
– tengah era globalisasi yang penuh dengan goncangan teknologi, politik, pasar, dan kompetisi. Ada beberapa
karakteristik perubahan pasar yaitu tidak 1 2mudah
untuk dikendalikan. Membutuhkan change
maker. Pada dunia bisnis banyak pemimpin
perubahan yang telah gugur bahkan dilengserkan oleh pro status quo sebelum namanya dikenal banyak
orang, tidak semua orang dapat diajak
melihat perubahan; perubahan dapat terjadi setiap saat ; berkenaan dengan uang maupun teknologi ; membutuhkan waktu,
biaya, kekuatan ; budaya korporat; mitos
; harapan dan kepanikan. Pada hakikatnya
secara umum perubahan pasar, teknologi, politik dan kompetisi sangat berhubungan erat dengan
strategi pemasaran yang mengacu pada:
produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjuabelikan, lokasi adalah tempat diperjual belikan produk dan pusat
pengendalian, harga adalah suatu nilai tukar
yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi
seseorang atau kelompok pada waktu tertentu
dan tempat tertentu. Strategi pemasaran yang baik adalah strategi pemasaran yang mampu menentukan lokasi dan
harga penjualan dan harga per unit agar
mampu dijangkau oleh pelanggan. Perusahaan
yang mampu membaca perubahan permintaan dan waktu akan mampu merespon perubahan pasar, kompetisi,
politik dan teknologi dengan baik. Akan
tetapi bila salah satu di antara dua faktor tersebut tidak mempengaruhi secara positive, maka tingkat qualitas
perusahaan dalam menghadapi perubahan pasar,
teknologi, politik dan kompetisi akan semakin rendah. Sedangkan tingkat penjualan (volume penjualan) dapat di
tingkatkan dengan memperbaiki produk maupun
tempat distribusi perusahaan yang telah ada pada saat itu. 2Menurut Swasta (1982) “strategi adalah serangkaian rancangan besar
yang menggambarkan bagaimana sebuah
perusahaan harus beroperasi untuk mencapai tujuannya”. Pemasaran Menurut Stanton
pemasaran adalah “sesuatu yang meliputi seluruh
sistem yang berhubungan dengan tujuan untuk merencanakan dan menentukan harga sampai dengan mempromosikan
dan mendistribusikan barang dan jasa
yang bisa memuaskan kebutuhan pembeli aktual maupun potensial”. PT. Perkebunan Nusantara V Indonesia adalah
suatu perusahaan yang bergerak dibidang
produk maupun jasamanufaktur. PT. Perkebunan Nusantara V Indonesia merupakan BUMN Perkebunan yang
didirikan tanggal 11 Maret 1996 sebagai
hasil konsolidasi kebun pengembangan PT. Perkebunan Nusantara II, PT. Perkebunan Nusantara IV, dan PT. Perkebunan Nusantara
V Kota Pekanbaru.
Adapun perubahan
dari sisi politik intervensi kebijakan dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1997 dengan sisi output
minyak kelapa sawit, melalui pajak
pertambahan nilai ditanggung pemerintah. Surat Keputusan Mentri Keuangan
nomor 188/011/2007 tanggal 24 September 2007, Pemerintah memberikan fasilitas pembebasan PPN (atau PPN ditanggung pemerintah selanjutnya disebut PPN-DTP) untuk jenis
minyak kepala sawit ditingkat produsen terhitung mulai tanggal 25 September
2007. Dalam pelaksanaannya, setiap
faktur Pajak Keluaran produsen dan penjual minyak goreng di-cap “DTP”. PPN sendiri merupakan pajak yang dikenakan
atas setiap pertambahan nilai dari barang dalam peredarannya dari produsen. Indonesia
menganut sistem tarif tunggal PPN yaitu
sebesar 10%. Dengan demikian secara definitif dapat dikemukakan bahwa PPN-DTP adalah pajak
terutang suatu perusahaan, baik 2swasta
maupun BUMN yang ditanggung pemerintah melalui penyediaan peng anggaran
dalam subsidi pajak. Kebijakan tersebut
diadopsi pemerintah dalam rangka mendorong investasi dan melakukan stabilisasi
harga pada saat perekonomian global
melambat dan harga komoditas meningkat.
Melalui mekanisme ini, PPN 10%
(yang lazimnya termasuk komponen harga minyak goreng dari produsen ke distributor) akan
disubsidi dalam bentuk Di Tanggung Pemerintah
(DTP) memanfaatkan dana “Subsidi Minyak
” yang sudah dialokasikan. Berdasarkan
data APBN-P 2007 Pemerintah menentukan subsidi untuk PPN-DTP sebesar Rp 325 milyar. Sedangkan
untuk tahun anggaran 2008 DPR telah
menyetujui anggaran subsidi khusus minyak senilai 600 miliar atau Rp 275 miliar lebih tinggi dibandingkan anggaran
serupa di 2007. Pada tahun angggaran
2009 pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan menerbitkan Permenkeu No.231/PMK.011/2008 yang mengatur
mengenai Pajak Pertambahan Nilai
Ditanggung Pemerintah Atas Penyerahan Minyak Goreng Sawit Dalam Negeri Untuk Tahun Anggaran 2009. Dalam
Peraturan tersebut disebutkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 800 miliar untuk memberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai
Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) minyak
sawit.
Dari sisi
kompetisi,PT.Perkebunan Nusantara V Kota
Pekanbaru dalam perjalanannya dihadapkan
oleh para pesaing yang sama – sama bergerak pada produksi minyak kelapa sawit atau crude palm
oil (CPO), yang merupakan salah satu
komoditas agroindustri terpenting dan selalu menjadi sorotan dalam kinerja ekspor non migas Indonesia. Beberapa
PT.Perkebunan Nusantara V Kota 2Pekanbaru
(PT.PN I – PT. PN IX) yang ada
merupakan pesaing dari PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru, disamping
perkebunan rakyat dan perkebunan swasta
yang ada di kota Pekanbaru. Dalam suatu
perusahaan pemasaran memegang peranan
yang sangat penting, karena dengan pemasaran yang baik maka barang yang diproduksi oleh
perusahaan akan diterima oleh pasar, dan
mendapat keuntungan dari penjualan produk. Untuk mencapai tujuan pemasaran maka perlu diterapkan konsep
pemasaran yang berorientasi pada konsumen. Kepuasaan konsumen menjadi sasaran
utama. Persaingan pemasaran oleh
perusahaan perkebunan di Indonesia
merupakan salah satu hal yang terpenting. Karena Indonesia negara produsen danpengekspor minyak kelapa sawit yang cukup besar disamping negara-negara
lain di dunia, khususnya wilayah Timur
Tengah. Produksi minyak kepala sawit di
Indonesia sebagian besar berasal dari
PT. Perkebunan Nusantara. Dengan potensi sedemikian besar, dan persaingan yang sedemikian ketat dari pesaing-pesaing lain maka dibutuhkan usaha pemasaran yang baik untuk dapat terus
mempertahankan konsumen. Berbagai strategi
pun dilakukan guna menjadi perusahaan
market leader diantara pesaingnya. Agar tetap dapat memenuhi permintaan pasar
domestik dan internasional yang kian
hari kian meningkat, dan juga meneyusaikan dengan kompetisi dari para pesaing nya. Maka PT. Perkebunan
Nusantara V terus menerus melakukan perbaikan dibidang kinerja operasional nya.
Lewat perbaikan SDM (sumber daya manusianya
) dan juga membangun industri hilir dan pada saat nya kelak berupaya untuk go public. Dalam rangka itu lah
PTPN mengundang rekan bisnis 2nya untuk
menjalin kerja sama dan memperluas jaringan perusahaan nya sehingga dapat bersaing di pasar global. Dengan
menggunakan prinsip saling menguntungkan
bukan hanya sekedar jual – beli.
Saat ini Perusahaan
bergerak di bidang perkebunan sawit dan karet, meliputi pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan,
pemanenan sampai dengan pengolahan hasil
produksinya menjadi barang jadi dan setengah jadi berupa minyak sawit (CPO), inti sawit, PKO, PKM,
Standard Indonesia Rubber 10/20 (SIR
10/20) dan produk lainnya. Selain itu Perusahaan juga melakukan pengembangan lahan melalui pola kemitraan dan
pola plasma untuk meningkatkan pasokan
bahan baku produksi. Perusahaan
mengelola 12 PKS yang menghasilkan minyak kelapa sawit (CPO) dan inti sawit yang dijual dan
dipasarkan di pasar dalam dan luar negeri, sehingga produk tersebut harus memenuhi
kriteria baku mutu standar nasional maupun
internasional. Spesifikasi minyak sawit harus memenuhi persyaratan seperti kadar asam lemak bebas, kadar air, dan
kadar kotoran. Sedangkan inti sawit
harus memenuhi criteria kadar air, kadar kotoran, inti pecah dan inti berubah warna. Inti sawit yang dihasilkan PKS-PKS
tersebut sebagian besar diolah di Pabrik
PKO/PKM milik sendiri di Tandun dan telah memberikan kontribusi yang positif terhadap pendapatan perusahaan.
Ditengah kondisi perekonomian global yang
mulai membaik, persaingan di industri sejenis juga mulai meningkat, sehingga Perusahaan melakukan berbagai usaha
untuk meningkatkan kinerjanya. Usaha
yang dilakukan Perusahaan antara lain adalah meningkatkan pasokan bahan baku melalui pembelian Tandan Buah Segar
(TBS), Bahan Olah Karet (Bokar), 2meningkatkan
utilisasi olah pabrik, konversi energi dan usaha - usaha produktif lainnya. Perusahaan juga sedang melakukan
upaya upaya penataan manajerial, seperti
system pengadaan barang dan jasa berbasis internet (e-procurement), serta secara berkala melakukan update Rencana Jangka
Panjang Perusahaan (RJPP).
Perusahaan
mengelola 51 unit kerja yang terdiri dari 1 unit Kantor Pusat; 5 Unit Bisnis Strategis (UBS); 25 unit Kebun
Inti/Plasma; 12 Pabrik Kelapa Sawit (PKS);
1 unit Pabrik PKO; 4 fasilitas Pengolahan Karet; dan 3 Rumah Sakit. Areal yang dikelola oleh Perusahaan seluas
160.745 Ha, yang terdiri dari 86.219 Ha
lahan sendiri/inti dan 74.526 Ha lahan plasma. Untuk data – data penjualan bersih PT. Perkebunan Nusantara V kota
Pekanbaru mengalami perkembangan yang
signifikan dari tahun 2006 hingga tahun 2010. Pada tahun 2006 penjualan bersih PT. Perkebunan Nusantara V kota
Pekanbaru mencapai 1.523.991.000. kemudian
seiring berkembangnya zaman. Pada tahun 2007 Penjualan bersih PT.
Perkebunan V Kota Pekanbaru mengalami peningkatan sebesar 2.413.293.000. Kemudian pada tahun 2008
meningkat hingga menyentuh angka 3.815.232.000.
Setahun kemudian hasil penjualan bersih perusahaan tepatnya pada tahun 2009 menjadi 3.611.619.000 hal tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Dan pada tahun 2010
hasil penjualan kembali konsisten dengan
peningkatan hasil penjualan menjadi
4.103.185.000. Berikut adalah
ikhtisar laba rugi pen jualan usaha PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru : 2Uraian Laba/Rugi 2006
2007 2008 2009
201Penjualan Bersih
1.523.991 2.413.293 3.815.232
3.611.619 4.103.18Laba Kotor 409.691
743.112 1.016.095 683.856
851.67Laba Usaha 169.180 431.610
653.137 292.825 447.09Laba Sebelum Pajak 134.787
350.796 587.728 208.364
357.34Laba Bersih 96.610 245.177
410.177 145.352 261.04JumlahSaham (lembar penuh) 250.000
250.000 250.000 250.000
820.00Laba Bersih per Saham (Rp
000) 386
981 1642 581 31Pembayaran
Dividen 24.152
61.294 102.619 43.606
*) Rasio Pembayaran Dividen 25%
25% 25% 30% *)
Tabel 1.1 Uraian Laba/Rugi Sumber : Annual Report Keuangan PT. Perkebunan
Nusantara V Kota Pekanbaru 2Gambar
1.1 Gambar 1.Gambar 1.3 Gambar
1.Sumber : Annual Report Keuangan PT. Perkebunan Nusantara V Kota
Pekanbaru 2Dari data yang telah
ditunjukan, maka dapat diambil kesimpulan. Bahwasannya, bahwasannya data penjualan
tersebut mengalami perubahan yang signifikan.
Khususnya pada pasca tahun 2006. Yang mana kita ketahui terdapat perubahan kebijakan, yaitu intervensi dari
pemerintah yang awal mulanya PT. Perkebunan
Nusantara V Kota Pekanbaru dikenakan pajak senilai 10 persen setiap pertambahan nilai penjualan, namun kini PT.
Perkebunan V Kota Pekanbaru tidak dikenakan
PPN setiap faktur Pajak Keluaran produsen dan penjual minyak goreng di-cap
“DTP” (Ditanggung Pemerintah).
PPN sendiri merupakan pajak yang dikenakan
atas setiap pertambahan nilai dari barang dan atau jasa (subsidi minyak).
1.2. Perumusan
Masalah .
Berdasarkan latar
belakang masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimana strategi
pemasaran PT. Perkebunan Nusantara V Kota
Pekanbaru dalam menghadapi perubahan pasar, teknologi, politik, dan kompetisi?” . 1.3. Tujuan Penelitian.
Untuk mengetahui dan menganalisa strategi
pemasaran yang dilakukan untuk
menghadapi perubahan pasar, teknologi, politik dan kompetisi pada kantor PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. 1.4. Manfaat Penelitian.
Manfaat yang
diharapkan dari penelitian antara lain : a.
Bagi Perusahaan .
Sebagai saran dan
masukan agar perusahaan mampu bersikap adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan dan era
globalisasi khususnya pihak manajemen bagian pemasaran kantor PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. b. Bagi
pembaca dan peneliti lain.
Untuk menambah
pengetahuan dan wawasan dalam penyusunan penelitian lanjutan dan sekaligus bahan masukan informasi
ilmiah untuk melanjutkan penelitian
mengenai strategi pemasaran yang dipengaruhi oleh teknologi, politik, pasar, kompetisi dan perubahan pasar. c. Bagi
penulis .
Sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan studi strata-1 jurusan manajemen serta dapat mengaplikasikan ilmu
yang diperoleh berupa teori dan praktek
langsung pada perusahaan.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi