Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH ASPEK CAPITAL, ASSET, EARNING DAN LIQUIDITY TERHADAP PERTUMBUHAN LABA BANK UMUM



BAB I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang  
 Lembaga Keuangan adalah setiap perusahaan yang bergerak di bidang  keuangan, menyalurkan dana atau kedua-duanya (Kasmir, 2002:2). Lembaga  Keuangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu Lembaga Keuangan Bank (LKB)  dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). Lembaga Keuangan Bank (LKB)  merupakan lembaga keuangan yang memberikan jasa keuangan paling lengkap.

Lembaga Keuangan Bank (LKB) dalam praktiknya terdiri dari Bank Sentral, Bank  Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Kebutuhan masyarakat akan jasa keuangan semakin meningkat dan  beragam maka peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan  masyarakat baik yang berada di negara maju maupun negara berkembang.
Perbankan mendominasi perkembangan ekonomi dan bisnis suatu negara bahkan  aktivitas dan keberadaan perbankan sangat menentukan kemajuan suatu negara.
Perkembangan perbankan menunjukkan dinamika dalam kehidupan ekonomi  (Kasmir, 2002:27).
Bank diwajibkan menjaga kinerjanya dengan baik ditinjau dari segi  prospek usahanya agar dapat selalu berkembang dan meningkatkan sikap kehatihatian dalam upaya pengelolaan asetnya karena resiko yang dialami oleh bank  akan sangat mempengaruhi pertumbuhan labanya. Pertumbuhan laba tidak dapat  dipastikan, maka perlu adanya suatu prediksi pertumbuhan laba.
 Menurut Warsidi dan Pramuka (2000) dalam Haryanti (2007),  pertumbuhan laba dihitung dengan cara mengurangkan laba periode sekarang  dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi dengan laba periode  sebelumnya.  Kenaikan atau penurunan laba memberikan dampak terhadap  kebijakan keuangan untuk kegiatan selanjutnya, seperti pembayaran hutang,  penyisihan investasi, mendapatkan pinjaman, dan menjaga kelangsungan bank.
Jadi pertumbuhan laba merupakan informasi yang sangat penting bagi pihak  intern maupun ekstern bank dan menggambarkan prospek hasil usaha serta  keadaan keuangan bank di masa yang akan datang.
Pertumbuhan laba dapat diukur dari aspek Capital, Asset, Earning, dan  Liquidity  dengan menggunakan rasio keuangan. Bank menggunakan laporan  keuangan untuk menghitung rasio  Capital Adequacy Ratio (CAR),  Non  Performing Loans  (NPL),  Net Interest Margin  (NIM), Biaya  Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO), Giro Wajib Minimum (GWM)  dan Loan to Deposit Ratio  (LDR) yang merupakan faktor keuangan yang  mempengaruhi pertumbuhan laba.
Rasio-rasio keuangan tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap  pertumbuhan laba bank. Menurut Hardanto (2006:36), semakin tinggi CAR, maka  laba bank semakin rendah karena tingkat aktivitas bank menurun. Rasio NPL  mengukur jumlah kredit bermasalah, bila mengalami kenaikan akan dapat  menurunkan tingkat laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:8). Rasio NIM mengukur  pendapatan bank. Rasio NIM yang mengalami kenaikan akan meningkatkan  pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162).
 Rasio BO/PO membandingkan antara biaya dan pendapatan sebuah bank.
Kenaikan pendapatan dari periode ke periode akan meningkatkan pertumbuhan  laba perusahaan (Yuwono, 2002:162). Kenaikan GWM akan langsung  berpengaruh pada biaya dana yang pada akhirnya akan menurunkan laba bank  (Retnadi dan Eko, 2006:209). Rasio LDR yang meningkat membuat  bank  mampu mendapatkan laba yang tinggi pula (Margaretha, 2007:60).
Tabel 1.1 Perkembangan Aspek Capital, Asset, Earning dan Liquidity Pada Bank Umum Periode 2005 - 2008  Tahun  Aspek  Rasio  Persentase (%) Pertumbuhan Laba (%) 2005  Capital  CAR  19,30 19,78  Asset  NPL  7,56 Earning  NIM  5,63 BO/PO  89,50 Liquidity GWM  12,67 LDR  59,66 2006  Capital  CAR  21,27 Asset  NPL  6,07 Earning  NIM  5,80 22,94  BO/PO  86,98 Liquidity GWM  26,48 LDR  61,56 2007  Capital  CAR  19,30 Asset  NPL  4,07 Earning  NIM  5,70 BO/PO  84,06 Liquidity GWM  27,68 (20,69)  LDR  66,32 2008  Capital  CAR  16,76 Asset  NPL  3,20 Earning  NIM  5,66 BO/PO  88,59 Liquidity GWM  18,38 LDR  74,58 Sumber: Statistik Perbankan Indonesia September 2009, dimodifikasi  Data Tabel 1.1 menjelaskan bahwa variabel CAR, NPL, NIM, GWM dan  LDR menimbulkan pengaruh terhadap pertumbuhan laba yang sejalan dengan  asumsi, tetapi pada tahun tertentu, rasio-rasio tersebut berlawanan dengan asumsi.
Nilai CAR yang mengalami kenaikan atau penurunan memiliki pengaruh  bervariasi terhadap pertumbuhan laba. CAR yang semakin tinggi seharusnya  mengakibatkan pertumbuhan laba menurun, tetapi pada tahun 2006 dan 2008,  CAR bergerak searah dengan pertumbuhan laba. CAR di tahun 2006 meningkat  menjadi 21,27% dan pertumbuhan laba juga mengalami kenaikan 19,78%.
Variabel NPL juga mengalami hal yang sama dengan CAR. NPL yang merupakan  kredit bermasalah akan menurunkan pertumbuhan laba bank, tetapi pada tahun  2008, NPL mengalami penurunan menjadi 3,20% yang diikuti oleh penurunan  pertumbuhan laba menjadi (20,69%).
NIM memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan laba, namun  variabel NIM juga tidak selalu sesuai dengan asumsi yang ada. NIM turun  menjadi 5,70% dan pertumbuhan laba meningkat menjadi 22,94% pada tahun  2007. Penulis tertarik untuk mengkaji fenomena ini lebih lanjut melalui penelitian  mengenai “Pengaruh Aspek Capital, Asset, Earning dan Liquidity Terhadap  Pertumbuhan Laba Bank Umum Di Indonesia”.
B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut dirumuskan masalah  sebagai berikut: Apakah aspek Capital, Assets, Earning, dan Liquidity mempunyai  pengaruh terhadap pertumbuhan laba pada Bank Umum di Indonesia?  C. Kerangka Konseptual Rasio keuangan dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan laba  (Yuwono, 2002:162). Penelitian ini menggunakan aspek Capital, Assets, Earning,  dan Liquidity  yang berfokus pada kinerja keuangan bank. Capital Adequacy Ratio  (CAR) adalah perbandingan antara modal sendiri terhadap Aktiva Tertimbang  Menurut Resiko. Rasio modal yang lebih tinggi akan mengurangi tingkat aktivitas  bisnis dan akan mengakibatkan turunnya laba bank (Hardanto, 2006:36). Non  Performing Loans (NPL) adalah perbandingan antara kualitas aktiva produktif  bermasalah (kredit bermasalah) terhadap aktiva produktif (kredit, surat berharga,  penyertaan dan penanaman lainnya). Semakin besar jumlah kredit bermasalah dari  seluruh kredit yang diberikan akan dapat menurunkan tingkat laba bank (Retnadi  dan Eko, 2006:8).
Net Interest Margin (NIM) adalah perbandingan antara pendapatan bunga  bersih terhadap rata-rata aktiva produktif. Kenaikan pendapatan dari periode ke  periode akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162).
Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) adalah rasio yang digunakan  untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap  pendapatan operasional yang diperoleh bank. Semakin kecil angka rasio BO/PO,  maka semakin baik kondisi bank tersebut. Kenaikan pendapatan dari periode ke  periode akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162).
 NPL (X2)  NIM (X3)  BO/PO (X4)  GWM (X5)  LDR (X6)  CAR (X1)  Giro Wajib Minimum (GWM) adalah perbandingan antara giro pada Bank  Indonesia terhadap seluruh dana yang berhasil dihimpun. Kebijakan kenaikan  GWM akan langsung berpengaruh pada biaya dana yang pada akhirnya akan  menurunkan laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:209). Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah perbandingan antara seluruh kredit yang diberikan kepada pihak ketiga terhadap Dana Pihak Ketiga. Semakin tinggi rasio LDR memberikan  indikasi semakin rendah kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan, namun  dilain pihak semakin besar jumlah kredit yang diberikan diharapkan bank  akan mendapatkan laba yang tinggi pula (Margaretha, 2007:60).
Gambar 1.1  : Kerangka Konseptual.
Sumber  : Yuwono (2002), Hardanto (2006), Retnadi dan Eko (2006),  Margaretha (2007) dimodifikasi.
Pertumbuhan  Laba (Y)  D. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang  kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut: Terdapat pengaruh aspek Capital, Assets, Earning dan Liquidity  terhadap pertumbuhan laba pada Bank Umum di Indonesia.
E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian  1.  Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aspek Capital, Assets,  Earning dan  Liquidity terhadap pertumbuhan laba pada Bank Umum di  Indonesia.
2.  Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: a.  Bagi Bank Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi manajemen  bank dalam rangka memperbaiki kinerja keuangan bank pada masa yang  akan datang.   b.  Bagi Penulis Dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang perbankan  terutama yang berkaitan dengan perasioan terhadap kinerja keuangan suatu  bank. Pertumbuhan laba bank dapat dijadikan pertimbangan dalam  menentukan bank yang baik.
 c.  Bagi Pembaca Penelitian ini diharapkan dapat memberikan umpan balik sehingga  penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan atau pedoman penelitian  selanjutnya.
F.  Metode Penelitian  1.  Batasan Operasional Batasan operasional dalam penelitian ini yaitu: a.  Aspek Capital, Asset, Earning dan  Liquidity  yang mempengaruhi  Pertumbuhan Laba. Rasio yang digunakan sebagai variabel bebas adalah CAR, NPL, NIM, BO/PO, GWM, LDR. Variabel terikat dari penelitian ini  adalah Pertumbuhan Laba. Penelitian ini menggunakan data laporan  keuangan mulai tahun 2006 sampai tahun 2008 yang telah diaudit.
b.  Populasi dari penelitian ini adalah Bank Umum. Bank Umum adalah bank  yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau  berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa  dalam lalu lintas pembayaran (Triandaru, 2008:84).
2.  Definisi Operasional Variabel adalah segala sesuatu yang diteliti dan mempunyai variasi rasio  dimana dalam penelitian ini penulis menggunakan 6 (enam) variabel sebagai  objek yaitu:  a.  Variabel Independen (Variabel X) Variabel Independen atau variabel bebas adalah variabel yang  mempengaruhi variabel lain.
1)  Capital (aspek Permodalan) CAR ( adalah rasio yang mengukur kemampuan permodalan yang  ada untuk menutup kemungkinan kerugian di dalam kegiatan perkreditan  dan perdagangan surat-surat berharga. Semakin tinggi CAR, maka  semakin mampu suatu bank menunjang kebutuhannya (Loen dan Sonny,  2008:122).
2)  Assets (Aspek Kualitas Aset) NPL (   adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat  bermasalahnya suatu kredit. NPL mengukur kredit-kredit yang tergolong  nonlancar dengan likuiditas kurang lancar, diragukan atau macet  berdasarkan ketentuan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif.
Kenaikan NPL merupakan indikasi penting untuk melihat kondisi bank.
Kenaikan yang begitu tinggi menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi.
Angka NPL yang tinggi dapat menurunkan tingkat laba bank (Retnadi dan  Eko, 2006:8).
 3)  Earning (Aspek Rentabilitas) NIM (   adalah perbedaan antara pendapatan bunga (pinjaman,  sekuritas) dan beban bunga (deposito, dana pinjaman). Semakin tinggi  indikator rasio ini, akan menunjukkan efisiensi yang semakin baik dalam  pengelolaan bank (Putri dan Niki, 2008). BO/PO ( adalah rasio yang  digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi  terhadap pendapatan operasional yang diperoleh bank. Semakin kecil  angka rasio BO/PO, maka semakin baik kondisi bank tersebut.
4)  Liquidity (Aspek Likuiditas) GWM (  adalah cadangan minimum wajib yang harus disimpan  bank-bank, ditempatkan pada giro bank bersangkutan di Bank Indonesia.
Cadangan wajib ini bertujuan untuk menjaga jumlah uang beredar,  menekan ekspansi kredit dan mengantisipasi permintaan uang, khususnya  yang bersifat mendadak (Darmawan, 2006:482). Kebijakan kenaikan GWM akan langsung berpengaruh pada biaya dana yang pada akhirnya  akan menurunkan laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:209).  LDR  ( adalah perbandingan antara kredit yang disalurkan dan dana  masyarakat yang berhasil dihimpun suatu bank (Darmawan, 2006:362).
 b.  Variabel Dependen (Variabel Y): Pertumbuhan Laba Variabel dependen dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya.
Variabel ini disebut variabel Y. Variabel terikat dalam penelitian ini  adalah pertumbuhan laba.
3.  Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian sebagai sumber data yang  memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. Populasi yang digunakan  dalam penelitian ini adalah seluruh Bank Umum Konvensional yang ada di  Indonesia yang berjumlah 147 bank.
Sampel adalah himpunan bagian dari populasi yang menjadi objek  sesungguhnya. Sampel dalam penelitian ini diambil dari Bank Umum  Konvensional kecuali Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang ada di Indonesia.
Pemilihan sampel yang akan diuji dalam penelitian ini menggunakan  metode purposive sampling  yaitu metode pemilihan sampel dengan beberapa  kriteria tertentu (Sugiyono, 2006:61). Kriteria yang digunakan adalah sebagai  berikut:  a.  Bank Umum Konvensional kecuali Bank Pembangunan Daerah (BPD).
b.  Bank Umum menerbitkan laporan keuangan selama tiga tahun berturut-turut,  yaitu tahun 2006 – 2008.
 c.  Laporan keuangan harus mempunyai tahun buku yang berakhir 31 Desember  dan telah diaudit.
d.  Bank tidak dilikuidasi dan dimerger.
Tabel 1.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Sampel No  Kriteria sampel  Jumlah 1.  Bank Umum yang terdaftar di Bank Indonesia  147 2.  Bank Pembangunan Daerah (BPD)  (26) 3.  Bank Umum yang tidak menerbitkan laporan keuangan  secara berturut-turut selama tahun 2006 - 2008  (46) 4.  Bank yang melakukan merger dan dilikuidasi  (14) Jumlah populasi yang masuk kriteria sampel  35 Sumber: www.bi.go.id (10 November 2009, dimodifikasi) Berdasarkan karakteristik sampel yang diteliti maka dari 42 bank diperoleh  21 bank yang dianggap layak untuk dijadikan sampel penelitian yakni: Tabel 1.3 Sampel Penelitian No.  Nama Bank 1.  Bank Agroniaga 2.  Bank Antardaerah 3.  Bank Artha Graha Internasional 4.  Bank Bukopin 5.  Bank Bumi Arta 6.  Bank Capital Indonesia 7.  Bank Central Asia 8.  Bank CIMB Niaga 9.  Bank Commonwealth 10.  Bank Danamon 11.  Bank Dipo Internasional  No.  Nama Bank 12.  Bank Ekonomi Raharja 13.  Bank Ekspor Indonesia 14.  Bank Ganesha 15.  Bank Himpunan Saudara 1906 16.  Bank ICB Bumiputera 17.  Bank Index Selindo 18.  Bank Internasional Indonesia 19.  Bank Jasa Jakarta 20.  Bank Mandiri 21.  Bank Mayapada Internasional 22.  Bank Mega 23.  Bank Negara Indonesia 24.  Bank OCBC NISP 25.  Bank Pan Indonesia 26.  Bank Permata 27.  Bank Sinarmas 28.  Bank Swadesi 29.  Bank Swaguna 30.  Bank Tabungan Negara 31.  Bank Tabungan Pensiunan Nasional 32.  Bank UOB Buana 33.  Bank Victoria Internasional 34.  Citibank N.A.
35.  HSBC Sumber: www.bi.go.id (10 November 2009, dimodifikasi) 4.  Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bank Indonesia melalui media internet dengan  situs www.bi.go.id mulai dari bulan November 2009 sampai Maret 2010.
 5.  Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data  sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu neraca Bank Umum tahun  2006  – 2008, laporan laba rugi Bank Umum tahun 2006 – 2008, catatan atas  laporan keuangan Bank Umum tahun 2006 – 2008, hasil publikasi, buku-buku  ilmiah, dan literatur lainnya yang bersangkutan dengan masalah yang diteliti.
6.  Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui: a.  Tahap pertama yaitu pengumpulan data pendukung berupa penelitian  terdahulu,  laporan yang dipublikasikan serta pendapat para ahli yang  bersumber dari buku-buku teks untuk mendapat gambaran dari masalah  yang akan diteliti.
b.  Tahap kedua dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yaitu  mengumpulkan data laporan keuangan tahunan (annual report)  tahun  2006 – 2008 dan informasi penting lainnya yang dipublikasikan oleh Bank  Indonesia.
7.  Metode Analisis Data a.  Metode Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah metode analisis tentang keadaan  Bank Umum melalui pengumpulan dan analisa data mengenai sejarah,  struktur organisasi, dan kegiatan bank sehingga terbentuk gambaran umum  bank. Pada tahap ini dilakukan perhitungan masing-masing variabel terkait  yaitu variabel terikat (dependen) dan variabel bebas (independen).
 b.  Metode Regresi Berganda Penelitian ini menggunakan model analisis koefisien regresi  berganda untuk menganalisis pengaruh CAR, NPL, LDR, GWM, BOPO,  dan NIM terhadap kinerja keuangan (Y) dalam hal ini pertumbuhan laba  yang disusun dalam bentuk persamaan berikut :  Y = α +  +  +   +   +   +  +e Keterangan:  Y  = Pertumbuhan Laba α  = Koefisien konstanta  = Koefisien regresi variabel independen = Capital Adequacy Ratio (CAR) = Non Performing Loans (NPL)  = Net Interest Margin (NIM)  = Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO)  = Giro Wajib Minimum (GWM)  = Loan to Deposit Ratio (LDR) e  = error Data di atas sebelum dianalisis dengan model regresi linier  berganda maka harus memenuhi syarat uji normalitas dan uji asumsi  klasik: 1)  Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi  sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi   data dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai  pola seperti distribusi normal (Situmorang, 2009:55). Uji ini dilakukan  dengan uji Kolmogorov Smirnov.
2)  Uji Asumsi Klasik Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan terlebih dahulu  menguji ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik.  Regresi  linier berganda memiliki syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi  sebelum data tersebut dianalisis yaitu sebagai berikut: a)  Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji model regresi linier  apabila ada  korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t  dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (Situmorang,  2009:78). Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu). Pengujian ada tidaknya problem autokorelasi dapat  dilihat dari rasio statistik Durbin Watson (Yamin dan Heri, 2009:86).
Tabel 1.4 Tingkat Autokorelasi (Durbin Watson) DW  Kesimpulan Kurang dari 1,10  Ada autokorelasi 1,10 – 1,54  Tidak ada kesimpulan 1,55 – 2,46  Tidak ada autokorelasi 2,47 – 2,90  Tidak ada kesimpulan b)  Uji Multikolinearitas Multikolinearitas dapat dilihat dari rasio tolerance dan Variance  Inflation Factor (VIF) kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel   independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen  lainnya. Tolerance adalah mengukur variabilitas variabel independen  yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya.
VIF < 5 maka tidak terdapat persoalan multikolinearitas (Situmorang,  2009:104).
c)  Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji model regresi  apabila terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan  kepengamatan lainnya. Varians dari satu residual pengamatan ke  pengamatan lainnya jika tetap maka terjadi homoskedastisitas jika  berbeda maka disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik  adalah yang tidak terjadi heterokedastisitas (Situmorang, 2009:65).
3)  Pengujian Kelayakan Model (Uji Goodness of Fit)  Adjusted R Square menunjukkan proporsi variabel dependen yang  dijelaskan oleh variabel independen. Rasio yang semakin tinggi maka akan  semakin baik bagi model regresi karena menandakan bahwa kemampuan  variabel bebas menjelaskan variabel terikat juga semakin besar.
c.  Pengujian Hipotesis Uji hipotesis berguna untuk memeriksa atau menguji apakah koefisien  regresi yang didapat signifikan. Ada dua jenis koefisien regresi yang dapat  dilakukan yaitu uji F dan uji t.
 1)  Uji F F test untuk menguji apabila variabel bebas secara simultan  mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak signifikan dengan  variabel terikat (Y).
Ho :        =  = 0, artinya secara simultan variabel  CAR, NPL, LDR, GWM, BOPO, dan NIM tidak memenuhi model  penelitian.
Ha :   = 0, maka dianggap variabel  telah memenuhi model penelitian terhadap variabel independen.
Pengambilan keputusan:  diterima jika      pada α = 5% diterima jika  >    pada α = 5% 2)  Uji t untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel  terikat.
Ho :  = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel CAR,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha :    0,  artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  CAR,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho :  = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel NPL,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha :    0,  artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  NPL,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
 Ho :  = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel LDR,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha :    0,  artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  LDR,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho :  = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel GWM,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha :    0,  artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  GWM,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho :  = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel  BO/PO, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha :    0,  artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  BO/PO,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho :  = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel NIM,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha :   0,  artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  NIM,  terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Pengambilan keputusan:  diterima jika       pada α = 5% diterima jika  >   >  pada α = 5%   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi