BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Lembaga Keuangan adalah
setiap perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, menyalurkan dana atau kedua-duanya
(Kasmir, 2002:2). Lembaga Keuangan
dibagi menjadi dua kelompok yaitu Lembaga Keuangan Bank (LKB) dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
Lembaga Keuangan Bank (LKB) merupakan
lembaga keuangan yang memberikan jasa keuangan paling lengkap.
Lembaga Keuangan
Bank (LKB) dalam praktiknya terdiri dari Bank Sentral, Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Kebutuhan
masyarakat akan jasa keuangan semakin meningkat dan beragam maka peranan dunia perbankan semakin
dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat
baik yang berada di negara maju maupun negara berkembang.
Perbankan
mendominasi perkembangan ekonomi dan bisnis suatu negara bahkan aktivitas dan keberadaan perbankan sangat
menentukan kemajuan suatu negara.
Perkembangan
perbankan menunjukkan dinamika dalam kehidupan ekonomi (Kasmir, 2002:27).
Bank diwajibkan
menjaga kinerjanya dengan baik ditinjau dari segi prospek usahanya agar dapat selalu berkembang
dan meningkatkan sikap kehatihatian dalam upaya pengelolaan asetnya karena
resiko yang dialami oleh bank akan
sangat mempengaruhi pertumbuhan labanya. Pertumbuhan laba tidak dapat dipastikan, maka perlu adanya suatu prediksi
pertumbuhan laba.
Menurut Warsidi dan Pramuka (2000) dalam
Haryanti (2007), pertumbuhan laba
dihitung dengan cara mengurangkan laba periode sekarang dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi
dengan laba periode sebelumnya. Kenaikan atau penurunan laba memberikan
dampak terhadap kebijakan keuangan untuk
kegiatan selanjutnya, seperti pembayaran hutang, penyisihan investasi, mendapatkan pinjaman,
dan menjaga kelangsungan bank.
Jadi pertumbuhan
laba merupakan informasi yang sangat penting bagi pihak intern maupun ekstern bank dan menggambarkan
prospek hasil usaha serta keadaan
keuangan bank di masa yang akan datang.
Pertumbuhan laba
dapat diukur dari aspek Capital, Asset, Earning, dan Liquidity
dengan menggunakan rasio keuangan. Bank menggunakan laporan keuangan untuk menghitung rasio Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing
Loans (NPL), Net Interest Margin (NIM), Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO),
Giro Wajib Minimum (GWM) dan Loan to
Deposit Ratio (LDR) yang merupakan
faktor keuangan yang mempengaruhi
pertumbuhan laba.
Rasio-rasio
keuangan tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan laba bank. Menurut Hardanto
(2006:36), semakin tinggi CAR, maka laba
bank semakin rendah karena tingkat aktivitas bank menurun. Rasio NPL mengukur jumlah kredit bermasalah, bila
mengalami kenaikan akan dapat menurunkan
tingkat laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:8). Rasio NIM mengukur pendapatan bank. Rasio NIM yang mengalami kenaikan
akan meningkatkan pertumbuhan laba
perusahaan (Yuwono, 2002:162).
Rasio BO/PO membandingkan antara biaya dan
pendapatan sebuah bank.
Kenaikan pendapatan
dari periode ke periode akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162). Kenaikan
GWM akan langsung berpengaruh pada biaya
dana yang pada akhirnya akan menurunkan laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:209). Rasio LDR yang
meningkat membuat bank mampu mendapatkan laba yang tinggi pula
(Margaretha, 2007:60).
Tabel 1.1 Perkembangan
Aspek Capital, Asset, Earning dan Liquidity Pada Bank Umum Periode 2005 - 2008 Tahun
Aspek Rasio Persentase (%) Pertumbuhan Laba (%) 2005 Capital
CAR 19,30 19,78 Asset
NPL 7,56 Earning NIM
5,63 BO/PO 89,50 Liquidity GWM 12,67 LDR
59,66 2006 Capital CAR
21,27 Asset NPL 6,07 Earning NIM
5,80 22,94 BO/PO 86,98 Liquidity GWM 26,48 LDR
61,56 2007 Capital CAR
19,30 Asset NPL 4,07 Earning NIM
5,70 BO/PO 84,06 Liquidity GWM 27,68 (20,69) LDR
66,32 2008 Capital CAR
16,76 Asset NPL 3,20 Earning NIM
5,66 BO/PO 88,59 Liquidity GWM 18,38 LDR
74,58 Sumber: Statistik Perbankan Indonesia September 2009, dimodifikasi Data Tabel 1.1 menjelaskan bahwa variabel CAR,
NPL, NIM, GWM dan LDR menimbulkan
pengaruh terhadap pertumbuhan laba yang sejalan dengan asumsi, tetapi pada tahun tertentu,
rasio-rasio tersebut berlawanan dengan asumsi.
Nilai CAR yang
mengalami kenaikan atau penurunan memiliki pengaruh bervariasi terhadap pertumbuhan laba. CAR yang
semakin tinggi seharusnya mengakibatkan
pertumbuhan laba menurun, tetapi pada tahun 2006 dan 2008, CAR bergerak searah dengan pertumbuhan laba.
CAR di tahun 2006 meningkat menjadi
21,27% dan pertumbuhan laba juga mengalami kenaikan 19,78%.
Variabel NPL juga
mengalami hal yang sama dengan CAR. NPL yang merupakan kredit bermasalah akan menurunkan pertumbuhan
laba bank, tetapi pada tahun 2008, NPL
mengalami penurunan menjadi 3,20% yang diikuti oleh penurunan pertumbuhan laba menjadi (20,69%).
NIM memiliki
pengaruh positif terhadap pertumbuhan laba, namun variabel NIM juga tidak selalu sesuai dengan
asumsi yang ada. NIM turun menjadi 5,70%
dan pertumbuhan laba meningkat menjadi 22,94% pada tahun 2007. Penulis tertarik untuk mengkaji fenomena
ini lebih lanjut melalui penelitian mengenai
“Pengaruh Aspek Capital, Asset, Earning dan Liquidity Terhadap Pertumbuhan Laba Bank Umum Di Indonesia”.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang
penelitian tersebut dirumuskan masalah sebagai
berikut: Apakah aspek Capital, Assets, Earning, dan Liquidity mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan laba pada Bank
Umum di Indonesia? C. Kerangka
Konseptual Rasio keuangan dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan laba (Yuwono, 2002:162). Penelitian ini menggunakan
aspek Capital, Assets, Earning, dan
Liquidity yang berfokus pada kinerja
keuangan bank. Capital Adequacy Ratio (CAR)
adalah perbandingan antara modal sendiri terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko. Rasio modal yang lebih tinggi
akan mengurangi tingkat aktivitas bisnis
dan akan mengakibatkan turunnya laba bank (Hardanto, 2006:36). Non Performing Loans (NPL) adalah perbandingan
antara kualitas aktiva produktif bermasalah
(kredit bermasalah) terhadap aktiva produktif (kredit, surat berharga, penyertaan dan penanaman lainnya). Semakin
besar jumlah kredit bermasalah dari seluruh
kredit yang diberikan akan dapat menurunkan tingkat laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:8).
Net Interest Margin
(NIM) adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih terhadap rata-rata aktiva produktif.
Kenaikan pendapatan dari periode ke periode
akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162).
Biaya
Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan biaya
operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan
operasional yang diperoleh bank. Semakin kecil angka rasio BO/PO, maka semakin baik kondisi bank tersebut.
Kenaikan pendapatan dari periode ke periode
akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162).
NPL (X2) NIM (X3) BO/PO (X4) GWM (X5) LDR (X6) CAR (X1) Giro Wajib Minimum (GWM) adalah perbandingan
antara giro pada Bank Indonesia terhadap
seluruh dana yang berhasil dihimpun. Kebijakan kenaikan GWM akan langsung berpengaruh pada biaya dana
yang pada akhirnya akan menurunkan laba
bank (Retnadi dan Eko, 2006:209). Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah perbandingan
antara seluruh kredit yang diberikan kepada pihak ketiga terhadap Dana Pihak
Ketiga. Semakin tinggi rasio LDR memberikan indikasi semakin rendah kemampuan likuiditas
bank yang bersangkutan, namun dilain
pihak semakin besar jumlah kredit yang diberikan diharapkan bank akan mendapatkan laba yang tinggi pula
(Margaretha, 2007:60).
Gambar 1.1 : Kerangka Konseptual.
Sumber : Yuwono (2002), Hardanto (2006), Retnadi dan
Eko (2006), Margaretha (2007) dimodifikasi.
Pertumbuhan Laba (Y)
D. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang kebenarannya harus diuji
secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Terdapat pengaruh aspek
Capital, Assets, Earning dan Liquidity terhadap
pertumbuhan laba pada Bank Umum di Indonesia.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
aspek Capital, Assets, Earning dan Liquidity terhadap pertumbuhan laba pada Bank
Umum di Indonesia.
2. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat sebagai berikut: a.
Bagi Bank Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi
manajemen bank dalam rangka memperbaiki
kinerja keuangan bank pada masa yang akan
datang. b. Bagi
Penulis Dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang perbankan terutama yang berkaitan dengan perasioan
terhadap kinerja keuangan suatu bank.
Pertumbuhan laba bank dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan bank yang baik.
c. Bagi
Pembaca Penelitian ini diharapkan dapat memberikan umpan balik sehingga penelitian ini dapat dijadikan sebagai
tambahan atau pedoman penelitian selanjutnya.
F. Metode Penelitian 1.
Batasan Operasional Batasan operasional dalam penelitian ini yaitu: a. Aspek Capital, Asset, Earning dan Liquidity
yang mempengaruhi Pertumbuhan
Laba. Rasio yang digunakan sebagai variabel bebas adalah CAR, NPL, NIM, BO/PO,
GWM, LDR. Variabel terikat dari penelitian ini adalah Pertumbuhan Laba. Penelitian ini
menggunakan data laporan keuangan mulai
tahun 2006 sampai tahun 2008 yang telah diaudit.
b. Populasi dari penelitian ini adalah Bank
Umum. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan
kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran (Triandaru, 2008:84).
2. Definisi Operasional Variabel adalah segala
sesuatu yang diteliti dan mempunyai variasi rasio dimana dalam penelitian ini penulis
menggunakan 6 (enam) variabel sebagai objek
yaitu: a. Variabel Independen (Variabel X) Variabel
Independen atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain.
1) Capital (aspek Permodalan) CAR ( adalah rasio
yang mengukur kemampuan permodalan yang ada
untuk menutup kemungkinan kerugian di dalam kegiatan perkreditan dan perdagangan surat-surat berharga. Semakin
tinggi CAR, maka semakin mampu suatu
bank menunjang kebutuhannya (Loen dan Sonny, 2008:122).
2) Assets (Aspek Kualitas Aset) NPL ( adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
tingkat bermasalahnya suatu kredit. NPL
mengukur kredit-kredit yang tergolong nonlancar
dengan likuiditas kurang lancar, diragukan atau macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia tentang
Kualitas Aktiva Produktif.
Kenaikan NPL
merupakan indikasi penting untuk melihat kondisi bank.
Kenaikan yang
begitu tinggi menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi.
Angka NPL yang
tinggi dapat menurunkan tingkat laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:8).
3)
Earning (Aspek Rentabilitas) NIM (
adalah perbedaan antara pendapatan bunga (pinjaman, sekuritas) dan beban bunga (deposito, dana pinjaman).
Semakin tinggi indikator rasio ini, akan
menunjukkan efisiensi yang semakin baik dalam pengelolaan bank (Putri dan Niki, 2008). BO/PO
( adalah rasio yang digunakan untuk
mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasional yang diperoleh
bank. Semakin kecil angka rasio BO/PO,
maka semakin baik kondisi bank tersebut.
4) Liquidity (Aspek Likuiditas) GWM ( adalah cadangan minimum wajib yang harus
disimpan bank-bank, ditempatkan pada
giro bank bersangkutan di Bank Indonesia.
Cadangan wajib ini
bertujuan untuk menjaga jumlah uang beredar, menekan ekspansi kredit dan mengantisipasi
permintaan uang, khususnya yang bersifat
mendadak (Darmawan, 2006:482). Kebijakan kenaikan GWM akan langsung berpengaruh
pada biaya dana yang pada akhirnya akan
menurunkan laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:209). LDR (
adalah perbandingan antara kredit yang disalurkan dan dana masyarakat yang berhasil dihimpun suatu bank
(Darmawan, 2006:362).
b.
Variabel Dependen (Variabel Y): Pertumbuhan Laba Variabel dependen
dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya.
Variabel ini
disebut variabel Y. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan laba.
3. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan
objek penelitian sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu
penelitian. Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah seluruh Bank Umum Konvensional yang ada di Indonesia yang berjumlah 147 bank.
Sampel adalah
himpunan bagian dari populasi yang menjadi objek sesungguhnya. Sampel dalam penelitian ini
diambil dari Bank Umum Konvensional
kecuali Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang ada di Indonesia.
Pemilihan sampel
yang akan diuji dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu metode pemilihan sampel dengan beberapa
kriteria tertentu (Sugiyono, 2006:61).
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
a.
Bank Umum Konvensional kecuali Bank Pembangunan Daerah (BPD).
b. Bank Umum menerbitkan laporan keuangan selama
tiga tahun berturut-turut, yaitu tahun
2006 – 2008.
c.
Laporan keuangan harus mempunyai tahun buku yang berakhir 31 Desember dan telah diaudit.
d. Bank tidak dilikuidasi dan dimerger.
Tabel 1.2 Jumlah
Sampel Berdasarkan Karakteristik Sampel No
Kriteria sampel Jumlah 1. Bank Umum yang terdaftar di Bank
Indonesia 147 2. Bank Pembangunan Daerah (BPD) (26) 3.
Bank Umum yang tidak menerbitkan laporan keuangan secara berturut-turut selama tahun 2006 - 2008
(46) 4.
Bank yang melakukan merger dan dilikuidasi (14) Jumlah populasi yang masuk kriteria
sampel 35 Sumber: www.bi.go.id (10
November 2009, dimodifikasi) Berdasarkan karakteristik sampel yang diteliti maka
dari 42 bank diperoleh 21 bank yang
dianggap layak untuk dijadikan sampel penelitian yakni: Tabel 1.3 Sampel
Penelitian No. Nama Bank 1. Bank Agroniaga 2. Bank Antardaerah 3. Bank Artha Graha Internasional 4. Bank Bukopin 5. Bank Bumi Arta 6. Bank Capital Indonesia 7. Bank Central Asia 8. Bank CIMB Niaga 9. Bank Commonwealth 10. Bank Danamon 11. Bank Dipo Internasional No.
Nama Bank 12. Bank Ekonomi
Raharja 13. Bank Ekspor Indonesia 14. Bank Ganesha 15. Bank Himpunan Saudara 1906 16. Bank ICB Bumiputera 17. Bank Index Selindo 18. Bank Internasional Indonesia 19. Bank Jasa Jakarta 20. Bank Mandiri 21. Bank Mayapada Internasional 22. Bank Mega 23.
Bank Negara Indonesia 24. Bank
OCBC NISP 25. Bank Pan Indonesia 26. Bank Permata 27. Bank Sinarmas 28. Bank Swadesi 29. Bank Swaguna 30. Bank Tabungan Negara 31. Bank Tabungan Pensiunan Nasional 32. Bank UOB Buana 33. Bank Victoria Internasional 34. Citibank N.A.
35. HSBC Sumber: www.bi.go.id (10 November 2009,
dimodifikasi) 4. Tempat dan Waktu
Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bank Indonesia melalui media internet
dengan situs www.bi.go.id mulai dari
bulan November 2009 sampai Maret 2010.
5.
Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data sekunder yang dibutuhkan
dalam penelitian ini yaitu neraca Bank Umum tahun 2006 –
2008, laporan laba rugi Bank Umum tahun 2006 – 2008, catatan atas laporan keuangan Bank Umum tahun 2006 – 2008,
hasil publikasi, buku-buku ilmiah, dan
literatur lainnya yang bersangkutan dengan masalah yang diteliti.
6. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini dilakukan melalui: a.
Tahap pertama yaitu pengumpulan data pendukung berupa penelitian terdahulu,
laporan yang dipublikasikan serta pendapat para ahli yang bersumber dari buku-buku teks untuk mendapat
gambaran dari masalah yang akan diteliti.
b. Tahap kedua dilakukan dengan mengumpulkan
data sekunder yaitu mengumpulkan data
laporan keuangan tahunan (annual report)
tahun 2006 – 2008 dan informasi
penting lainnya yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia.
7. Metode Analisis Data a. Metode Analisis Deskriptif Metode analisis
deskriptif adalah metode analisis tentang keadaan Bank Umum melalui pengumpulan dan analisa data
mengenai sejarah, struktur organisasi,
dan kegiatan bank sehingga terbentuk gambaran umum bank. Pada tahap ini dilakukan perhitungan
masing-masing variabel terkait yaitu
variabel terikat (dependen) dan variabel bebas (independen).
b.
Metode Regresi Berganda Penelitian ini menggunakan model analisis
koefisien regresi berganda untuk
menganalisis pengaruh CAR, NPL, LDR, GWM, BOPO, dan NIM terhadap kinerja keuangan (Y) dalam
hal ini pertumbuhan laba yang disusun
dalam bentuk persamaan berikut : Y = α
+ +
+ + +
+ +e Keterangan: Y =
Pertumbuhan Laba α = Koefisien konstanta
= Koefisien regresi variabel independen =
Capital Adequacy Ratio (CAR) = Non Performing Loans (NPL) = Net Interest Margin (NIM) = Biaya Operasional/Pendapatan Operasional
(BO/PO) = Giro Wajib Minimum (GWM) = Loan to Deposit Ratio (LDR) e = error Data di atas sebelum dianalisis
dengan model regresi linier berganda
maka harus memenuhi syarat uji normalitas dan uji asumsi klasik: 1)
Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah
distribusi sebuah data mengikuti atau
mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng. Data yang baik
adalah data yang mempunyai pola seperti
distribusi normal (Situmorang, 2009:55). Uji ini dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov.
2) Uji Asumsi Klasik Pengujian hipotesis dapat
dilakukan dengan terlebih dahulu menguji
ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik. Regresi linier berganda memiliki syarat asumsi klasik
yang harus dipenuhi sebelum data
tersebut dianalisis yaitu sebagai berikut: a)
Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji model regresi
linier apabila ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu
pada periode sebelumnya (Situmorang, 2009:78).
Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu).
Pengujian ada tidaknya problem autokorelasi dapat dilihat dari rasio statistik Durbin Watson
(Yamin dan Heri, 2009:86).
Tabel 1.4 Tingkat
Autokorelasi (Durbin Watson) DW
Kesimpulan Kurang dari 1,10 Ada
autokorelasi 1,10 – 1,54 Tidak ada
kesimpulan 1,55 – 2,46 Tidak ada
autokorelasi 2,47 – 2,90 Tidak ada
kesimpulan b) Uji Multikolinearitas Multikolinearitas
dapat dilihat dari rasio tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) kedua ukuran ini
menunjukkan setiap variabel independen
manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance adalah mengukur
variabilitas variabel independen yang
terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya.
VIF < 5 maka
tidak terdapat persoalan multikolinearitas (Situmorang, 2009:104).
c) Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas
bertujuan untuk menguji model regresi apabila
terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan kepengamatan lainnya. Varians dari satu
residual pengamatan ke pengamatan
lainnya jika tetap maka terjadi homoskedastisitas jika berbeda maka disebut heterokedastisitas. Model
regresi yang baik adalah yang tidak
terjadi heterokedastisitas (Situmorang, 2009:65).
3) Pengujian Kelayakan Model (Uji Goodness of
Fit) Adjusted R Square menunjukkan
proporsi variabel dependen yang dijelaskan
oleh variabel independen. Rasio yang semakin tinggi maka akan semakin baik bagi model regresi karena
menandakan bahwa kemampuan variabel
bebas menjelaskan variabel terikat juga semakin besar.
c. Pengujian Hipotesis Uji hipotesis berguna
untuk memeriksa atau menguji apakah koefisien regresi yang didapat signifikan. Ada dua jenis
koefisien regresi yang dapat dilakukan
yaitu uji F dan uji t.
1) Uji
F F test untuk menguji apabila variabel bebas secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak
signifikan dengan variabel terikat (Y).
Ho : =
= 0, artinya secara simultan variabel CAR, NPL, LDR, GWM, BOPO, dan NIM tidak
memenuhi model penelitian.
Ha : = 0, maka dianggap variabel telah memenuhi model penelitian terhadap
variabel independen.
Pengambilan
keputusan: diterima jika ≤
pada α = 5% diterima jika
> pada α = 5% 2) Uji t untuk menguji koefisien regresi secara
parsial dari variabel terikat.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh
signifikan dari variabel CAR, terhadap
variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠
0, artinya terdapat
pengaruh signifikan dari
variabel CAR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara
parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh
signifikan dari variabel NPL, terhadap
variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠
0, artinya terdapat
pengaruh signifikan dari variabel
NPL, terhadap variabel
pertumbuhan laba secara parsial.
Ho : =
0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel LDR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara
parsial.
Ha : ≠
0, artinya terdapat
pengaruh signifikan dari
variabel LDR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara
parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh
signifikan dari variabel GWM, terhadap
variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠
0, artinya terdapat
pengaruh signifikan dari
variabel GWM, terhadap variabel pertumbuhan laba secara
parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh
signifikan dari variabel BO/PO, terhadap
variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠
0, artinya terdapat
pengaruh signifikan dari
variabel BO/PO, terhadap variabel pertumbuhan laba secara
parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh
signifikan dari variabel NIM, terhadap
variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0,
artinya terdapat pengaruh
signifikan dari variabel
NIM, terhadap variabel
pertumbuhan laba secara parsial.
Pengambilan
keputusan: diterima jika ≤
≤ pada α = 5% diterima jika >
> pada α = 5%
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi