BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan persaingan dan
penawaran produk di pasar tentu mewajibkan para pemasar menciptakan strategi jitu agar
tetap bertahan dalam pasar domestik maupun
pasar global. Agar perusahaan dapat bertahan dan memenangkan persaingan tersebut maka perusahaan dapat
melakukan berbagai strategi pengembangan
merek seperti co-branding, brand extension,line extension serta strategi pengembangan merek lainnya.
Adiwijaya (2006)
menyatakan dalam situasi krisis moneter yang terjadi saat ini, strategi yang paling cocok untuk
menghemat biaya perusahaan adalah strategi
ekstensifikasi/perluasan merek (brand extension). Strategi memperluas merek adalah upaya meluaskan nama merek yang
telah terbukti berhasil, guna meluncurkan
produk atau lini produk yang baru atau yang merupakan hasil modifikasi (Kotler, 2004: 85). Sebagai sebuah
strategi, ekstensifikasi merek cukup menjanjikan
sejumlah keunggulan. Perusahaan dapat memakai nama merek terkenal untuk memungkinkan produk barunya
langsung dikenal. Latar belakang keputusan
untuk melakukan ekstensifikasi yaitu bahwa kontribusi nama merek terhadap produk ekstensifikasi akan positif.
Lux merupakan sabun
pertama yang dipasarkan secara massal diluncurkan pada tahun 1924 di Amerika Serikat. Lux adalah salah satu merek yang sudah ada sekitar 80 tahun dan pertama kali
dipasarkan dalam bentuk sabun mandi
padat.
Lux merupakan salah satu produk Unilever dalam
kategori sabun kecantikan.
Tujuan Lux adalah
untuk memenuhi kebutuhan wanita yang ingin tampil cantik dan percaya diri dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahun 2008
Unilever meluncurkan produk pada kategori baru yaitu sabun mandi cair . Sabun mandi cair Lux masuk
ke pasar produk sabun dengan menggunakan
strategi ekstensifikasi merek lux yang sudah kuat pada kategori sabun mandi padat. Kekuatan merek sabun cair
Lux dapat dibuktikan dengan keberhasilannya
memperoleh tingkat pertama dalam
memperebutkan posisi market leader sabun
mandi cair . Berikut adalah daftar brand sabun mandi cair yang berhasil meraih
peringkat .
Tabel 1.1 Market
Share Sabun Mandi Cair ( dalam bentuk % ) Brand
Total Jakarta Bandung
Semarang Surabaya Medan Lux
39,66 40,25 35,08
51,17 33,96 54,45 Lifebuoy 31,57
33,61 26,43 17,03
35,88 25,36 Biore 10,23
6,72 20,35 20,63
11,13 5,02 Dove 2,88
3,14 5,59 0 0 2,6 Gatsby
2,86 2,82 5
4,45 1,38 0 Nuvo
2,44 1,3 3,61
0 5,45 3,56 Cussons
1,83 1,68 2,84
0 2,42 0 Sumber :Indonesian Consumer Profile 2008,
MARS Indonesia Adanya generalisasi
image pada merek Lux diharapkan mampu membentuk persepsi kualitas yang sama antara
kategori produk sabun mandi padat dan
sabun mandi cair sebagai produk hasil perluasan merek. Keputusan Lux untuk melakukan ektensifikasi merek pada
produk sabun , harus diimbangi dengan
pertimbangan apakah konsumen memiliki persepsi kualitas yang positif dan pengetahuan yang mendorong keputusan
pembelian pada Sabun Lux.
Menurut Durianto, dkk (2001:96) “Brand
perceived quality adalah persepsi
pelanggan terhadap kualitas suatu merek
produk”. Brand perceived quality dapat
didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas dari suatu merek produk atau jasa
layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan
pelanggan. Persepsi kualitas tidak dapat ditetapkan secara objektif karena merupakan suatu persepsi dan melibatkan
apa yang penting bagi pelanggannya.
Kesan kualitas yang tinggi terhadap sesuatu merek akan membentuk suatu citra yang positif bagi merek
tersebut yang menjadi salah satu faktor
untuk melakukan keputusan
pembelian. Menurut majalah
SWA No. 18/XXIV/ 3 SEPTEMBER 2009
bahwa Lux selalu menawarkan produk yang berkualitas.
Hal ini dapat dilihat dari produk yang ditawarkan seperti sabun mandi cair yang bukan saja menawarkan manfaat
emosional melainkan juga dapat memberikan
manfaat fungsional berupa kepraktisan . Sabun mandi cair Lux juga lebih banyak menghasilkan busa bila
dibandingkan dengan sabun lainnya sehingga
memberikan kesan mewah di setiap mandi. Dianggap konsisten dengan tidak mengubah positioning produk sebagai
sabun kecantikan para bintang.
Konsistensi ini
membuat konsumen sangat percaya terhadap kualitas Lux cair.
Dipersepsi positif
sebagai sabun para bintang. Apalagi, ikon dalam iklan yang adalah bintang-bintang ternama Indonesia.
Sabun mandi cair Lux selalu mengembangkan inovasi produk. Misalnya, bahan
sabun yang digunakan ramah lingkungan
dan aroma yang dipilih sesuai dengan selera pelanggan.
Menurut Sumarwan
(2003:119), pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai
berbagai macam produk serta informasi
lainnya yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
Pemasar mutlak
perlu memeriksa apa yang sudah diketahui oleh konsumen, karena pengetahuan ini adalah faktor penentu
utama dari perilaku konsumen. Apa yang
konsumen beli, di mana mereka membeli, dan kapan mereka membeli akan bergantung pada pengetahuan yang relevan
dengan keputusan ini. Pengetahuan konsumen
di dalam tiga bidang umum, yaitu: Pengetahuan produk (product knowledge, Pengetahuan pemakaian (usage
knowledge), Pengetahuan harga (Price
knowledge). Menurut Majalah SWA NO.18/XXIV/3 SEPTEMBER 2009 dalam hal pengetahuan produk, Lux selalu
berusaha memberikan informasi mengenai
sabun mandi cair Lux melalui media iklan. Dengan media iklan dapat membantu konsumen mengenai dimana harus
membeli sabun mandi cair Lux seperti
pasar tradisional, toko eceran, maupun supermaket. Dalam hal pengetahuan pemakaian, Iklan juga memberikan
pengetahuan tentang bagaimana menggunakan
sabun mandi cair Lux dengan benar. Dalam hal pemberian pengetahuan harga, iklan dapat memberikan
informasi mengenai kisaran harga dari
berbagai macam ukuran sabun mandi cair. Unilever juga rajin melakukan pengarahan secara langsung dengan cara
memberikan pengarahan bagaimana cara
penggunaan sabun cair yang benar di toko-toko, supermarket atau pasar dan juga sabun mandi cair secara rutin Lux
melakukan pembaruan, mulai dari produk, kemasan
hingga variannya.
Keputusan pembelian
adalah suatu reaksi yang riil atas keberhasilan program pemasaran suatu produk
(Kotler,2003:85). Perusahaan harus dapat menciptakan strategi pemasaran yang baik untuk
dapat menciptakan keberhasilan tersebut.
Salah satunya adalah menciptakan persepsi kualitas dan pengetahuan yang baik atas produk yang ditawarkan. Setiap
akan melakukan keputusan pembelian,
konsumen melakukan evaluasi megenai sikapnya. Persepsi kualitas mempengaruhi keputusan pembelian dalam hal
sejauh mana suatu produk memberikan
manfaat atau kualitas positif yang dirasakan konsumen. Ketika persepsi konsumen akan suatu produk baik maka
konsumen akan menentukan keputusan
pembelian. Pengetahuan mempengaruhi keputusan pembelian dalam hal di mana ia membeli produk tersebut, kapan
akan membeli produk.
Swalayan Sinuraya
sejak tahun 2008 telah memasarkan sabun mandi cair Lux.
Data Penjualan sabun mandi cair dapat dilihat pada tabel 1.2 Tabel 1.2 Data volume penjualan sabun mandi
cair pada Swalayan Sinuraya Merek Volume Penjualan / botol 2008 2009
2010 Lifebuoy 1300 1240
1320 Lux 1770 1550
1800 Biore 1002 1200
1100 Sumber : Swalayan Sinuraya(23 Februari 2011) Dari Tabel 1.2 menunjukkan bahwa volume
penjualan sabun mandi cair Lux lebih
tinggi dibandingkan dengan sabun mandi cair merek lainnya.
Berdasarkan
Prasurvey yang dilakukan pada Konsumen Swalayan Sinuraya bahwa konsumen
melihat kualitas sabun mandi cair Lux lebih baik dibandingkan sabun mandi cair merek lain, meskipun
ekspektasi mereka lebih dari itu. Tingkat pengetahuan konsumen mengenai
kemasan sabun mandi cair Lux tergolong tinggi, sedangkan pengetahuan
konsumen mengenai harga sabun mandi cair Lux tergolong rendah. Produk sabun mandi cair Lux
yang selalu tersedia di Swalayan Sinuraya
membuat konsumen Sinuraya lebih memutuskan melakukan pembelian sabun mandi cair Lux dibandingkan dengan sabun
mandi cair merek lainnya.
Persepsi
kualitas dan pengetahuan merupakan
persepsi pelanggan terhadap pembelian
secara keseluruhan. Persepsi pelanggan terhadap persepsi kualitas dan pengetahuan yang dimiliki oleh
sabun mandi cair Lux mungkin akan dapat
memberikan dampak positif bagi pelanggan yang kemudian akan menciptakan minat bagi pelanggan untuk mengambil keputusan
melakukan pembelian di Swalayan Sinuraya
Simalingkar Medan.
Berdasarkan latar
belakang penelitian tersebut, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Persepsi Kualitas dan Pengetahuan terhadap Keputusan Pembelian Sabun
Mandi Cair Lux ( Studi Kasus Konsumen
Swalayan Sinuraya Simalingkar Medan )” 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut.
Apakah persepsi
kualitas dan pengetahuanberpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian Sabun Mandi Cair Lux pada konsumen Swalayan Sinuraya Simalingkar Medan ? 1.3
Tujuan Penelitian Tujuan
penelitian ini adalah mendapatkan bukti empiris bahwa faktor persepsi kualitas dan pengetahuan berpengaruh
terhadap keputusan pembelian Sabun
Mandi Cair Lux sebagai produk
ekstensifikasi merek, khususnya pada konsumen
yang membeli di Swalayan Sinuraya
Simalingkar Medan .
1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini
antara lain: a. Bagi Pihak Swalayan
Sinuraya Sebagai informasi dan masukan kepada pihak Swalayan untuk semakin meningkatkan kinerjanya agar dapat melayani
pelanggan dengan baik.
b. Bagi Penulis Penelitian ini bermanfaat untuk
menambah wawasan dan pengetahuan mengenai
strategi pemasaran khususnya dalam hal ekstensifikasi merek.
c. Bagi Peneliti Lain Sebagai bahan informasi
dan referensi yang dapat dijadikan perbandingan dalam mengadakan penelitian pada bidang yang
sama di waktu yang akan datang.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi