Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH HARGA DAN PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMAKAIAN KARTU AS FRESS PADA MAHASISWA REGULER



BAB I PENDAHULUAN 
A.  Latar Belakang Masalah 
Produk kartu seluler banyak sekali beredar dipasaran dengan berbagai  macam merek. Secara jelas masyarakat bersikap rasional dan selektif terhadap  pembelian barang yang diinginkannya baik kualitas produk maupun harganya. Titik awal setiap pembelian adalah bahwa adanya kebutuhan atau keinginan. Konsumen akan memutuskan membeli produk karena alasan-alasan tertentu,  atau paling tidak ada keyakinan bahwa kemampuan produk dalam memenuhi  kebutuhan mempunyai nilai yang besar dibandingkan biaya yang akan  dikeluarkan.

Perilaku konsumen bersifat dinamis, selalu bergerak seiring  berjalannya waktu. Oleh karena itu, setiap strategi yang ditetapkan oleh  perusahaan akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Memahami  perilaku konsumen tidaklah mudah, terkadang mereka dengan terus terang  menyatakan kebutuhan dan keinginannya, namun sering pula mereka  bertindak sebaliknya. Dalam memahami konsumen dan mengembangkan  strategi pemasaran yang tepat harus memahami yang konsumen pikirkan dan  rasakan. Hal ini yang dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi di Indonesia.
Perkembangan kebutuhan dan tingginya aktifitas masyarakat dalam  menggunakan alat telekomunikasi telah membuat usaha di  bidang  telekomunikasi terus berkembang.
Perusahaan telekomunikasi adalah salah satu perusahaan yang paling  kompetitif. Kondisi demografis Indonesia yaitu negara dengan penduduk yang  banyak, mendukung perusahaan seluler berkembang pesat dalam menjawab  kebutuhan masyarakat akan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi  mampu menggeser media komunikasi dari kebutuhan sekunder atau tersier  menjadi kebutuhan primer. Jika dahulu telepon seluler (ponsel) menjadi  barang mewah konsumsi kelas menengah keatas, sekarang hampir seluruh  elemen kelas masyarakat telah memiliki ponsel sebagai bagian dari kebutuhan  dan gaya hidup. Seorang pejabat negara, pengusaha, mahasiswa, pelajar  hingga tukang sayur keliling hampir dapat dipastikan merupakan pengguna  ponsel.
Jumlah pelanggan seluler di Indonesia telah mencapai angka 180 juta  pelanggan yang dilayani oleh 10 operator telekomunikasi yaitu Telkom,  Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, Hutchison, Sinar Mas Telecom,  Sampoerna Telecommunication, Bakrie Telecom, Mobile-8, dan Natrindo  Telepon. Dengan adanya berbagai operator selular, maka berdampak pada  ketatnya persaingan untuk mendapatkan konsumen dimana perusahaan  berlomba-lomba untuk menawarkan harga yang termurah yang sering kita  dengar dengan sebutan persaingan harga (www.perangtarifseluler.com,  diakses 28 September 2010).
Harga merupakan salah satu faktor yang harus dikendalikan secara  selaras dan serasi dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Persaingan  harga atau tarif yang terjadi diantara perusahaan telekomunikasi saat ini sangat  ketat. Tetapi perusahaan harus tetap bijak dalam menentukan tarif yang  ditawarkan, dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal.
Menurut Istijanto (2009:14), Persaingan antara perusahaan dan  pesaing adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Jika peluang pasarnya  besar, akan berdampak pada semakin banyak pesaing. Aktifitas kompetitif  yang dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi biasanya dilakukan dengan  menetapkan harga secara agresif untuk mengadapi persaingan dengan  menurunkan tarif yang bertujuan untuk meningkatkan daya tarik produk.
Dalam persaingan bisnis GSM (Global System for Mobile Telecomunications),  saat ini para operator seluler begitu gencar melakukan promosi untuk  mempertahankan pelanggan lama dan mendapatkan pelanggan baru. Para  operator yang ada berlomba-lomba menurunkan tarif, tidak hanya itu harga  kartu perdana (starter pack) semakin murah, dimana harga jualnya di bawah  nilai pulsa yang ada di dalamnya untuk mempertahankan pelanggan lama serta  menarik pelanggan baru karena yang terjadi saat ini banyak para pelanggan  baru tersebut membuang kartu-kartu perdana ketika masa aktifnya habis,  karena mengisi ulang pulsa dirasakan akan lebih mengeluarkan banyak uang  dibanding dengan membeli kartu perdana baru. Kondisi ini jelas menimbulkan  perang tarif yang sebenarnya merugikan perusahaan dalam jangka panjang.
Hingga saat ini telah tercatat tiga operator SIM Card terbesar, yaitu  Telkomsel, Indosat, Exelcomindo Pratama. Dari ketiga operator tersebut,  Telkomsel menduduki posisi yang pertama. Dapat dilihat melalui Tabel 1.1: Tabel 1.1 Pangsa Pasar Telkomsel, Indosat, Exelcomindo No  Operator Seluler  Pangsa Pasar 1  Telkomsel    55,6% 2  Indosat    24,8% 3  Excelcomindo    14,8% Sumber: www.antara.co.id, (diakses 28 September 2010) Berikut ini akan diperlihatkan tabel perbandingan tarif yang ditawarkan oleh  ketiga operator yang menduduki tiga tingkatan pangsa pasar terbesar di  Indonesia : Tabel 1.2 Tarif Telkomsel, Indosat, Exelcomindo Sumber : www.centralpulsa.net, (diakses 28 September 2010) Telkomsel sebagai operator yang memiliki pangsa pasar paling besar  berusaha mempertahankan posisinya diperingkat atas. Dalam  usaha  mempertahankan posisinya, Telkomsel meluncurkan paket perdana baru Kartu  As Fress yang memberikan benefit gratis berbagai update info setiap harinya seperti:  Fashion,  Olahraga, Otomotif, Gaya Hidup,  Elektronik &  Telekomunikasi, dan sebagainya serta gratis 100 SMS perbulan dan skema  merupakan kartu prabayar pertama di Indonesia yang memperkenalkan tarif  per detik. Pengguna kartu As Fress tetap  berkesempatan menikmati  komunikasi murah lewat berbagai tarif promo dan program Kartu As lainnya  seperti paket nelepon jagoan serbu yang menawarkan berbagai tawaran tarif  No  Operator  Seluler 10 menit 20 menit 30 menit 40 menit 50 menit 60 menit 1  As Fress  1000  1000  1000  1000  1000  1000 2  Im3  1.355  1.360  1.365  1.370  1.375  1.380 3  XL bebas  1.548  1.608  1.668  2.208  3.465  4.722  murahnya yang dapat memenuhi kebutuhan saat berkomunikasi hanya dengan  menghubungi *100# (www.telkomsel.com, diakses 28 September 2010).
Perusahaan harus memperhatikan faktor produk, disamping tarif untuk  menjalankan strategi pemasarannya. Produk merupakan lini utama dalam  bauran pemasaran, dengan adanya produk yang unggul maka perusahaan  dapat berkembang mengikuti pangsa pasar. Produk pada operator SIM Card adalah kualitas penerimaan sinyal, jaringan luas, dan fitur-fitur yang lengkap.
Kualitas produk pada perusahaan merupakan tanggung jawab seorang manajer  terhadap bagian-bagian di dalam perusahaan, penentuan dari kualitas produk  diatur pada bagiannya masing-masing, di samping itu keputusan konsumenlah  yang dapat menilai apakah produk mempunyai kualitas yang tinggi. Apabila  konsumen merasa produk tersebut berkualitas maka keputusannya adalah  membeli.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh harga dan produk  terhadap keputusan pemakaian kartu As Fress khususnya pada mahasiswa  FISIP USU. Hal ini dikarenakan banyaknya kartu selular yang beredar di  lingkungan mahasiswa FISIP USU, permasalahan yang akan dihadapi adalah  bagaimana memilih kartu seluler yang sesuai dengan harapan, mengingat  mahasiswa termasuk sebagai konsumen yang kritis dan sedang mengalami  proses pendewasaan mental dan intelektual. Disamping itu mahasiswa  termasuk dalam segmen  smart costumer  yang membutuhkan banyak  pertimbangan sebelum melakukan peralihan terhadap suatu produk yang  digunakan.
Uraian di atas merupakan ide yang mendasari dilakukannya penelitian  dengan judul  “Pengaruh Harga dan Produk Terhadap Keputusan  Pemakaian Kartu As Fress Pada Mahasiswa Reguler S-1 FlSIP USU”.
B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka  dirumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimana Pengaruh Harga dan  Produk Terhadap Keputusan Pemakaian Kartu As Fress?” C. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual merupakan pondasi utama dimana sepenuhnya  proyek itu ditujukan, hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang  secara logis diterangkan, dan dikolaborasikan dari perumusan masalah yang  telah diidentifikasikan melalui proses wawancara, observasi dan  survei  literatur. Hubungan antara survei literatur dan kerangka konseptual adalah  survei literatur meletakkan pondasi yang kuat untuk membangun kerangka  konseptual (Kuncoro, 2003: 44).
Harga adalah satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang  mendatangkan pendapatan. Kotler (2000:339) mengemukakan defenisi yang  sederhana bahwa harga adalah jumlah uang yang dibebankan untuk sebuah  produk atau jasa. Lebih luas lagi, harga adalah jumlah nilai yang konsumen  pertukarkan untuk mendapatkan manfaat dari memiliki atau menggunakan  produk atau jasa. Pada umumnya harga merupakan faktor utama yang  mempengaruhi pembelian.
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar  untuk diperhatikan, dibeli, digunakan, ataupun yang dikonsumsi, serta dapat  memuaskan kebutuhan konsumen terhadap produk.
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang ada, maka  dapat digambarkan model kerangka pengaruh harga dan produk terhadap  keputusan pemakaian kartu As Fress sebagai berikut: Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber: Setiadi(2003), Kuncoro(2003), Kotler(2000) data diolah.
D. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara yang hendak diuji  kebenarannya melalui riset (Suliyanto. 2006:53). Berdasarkan latar belakang  dan masalah yang ada, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: “Harga  dan produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan  menjadi pemakai kartu As Fress pada mahasiwa reguler S-1  FISIP  USU”.
E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian  1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga dan produk  As terhadap keputusan untuk menjadi pemakai kartu As  Fress  pada  mahasiwa reguler S-1 FISIP USU.
Harga (X1) Produk (X2) Keputusan menjadi  pemakai kartu As Fress (Y)  2. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini adalah : a. Bagi Penulis 1) Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis  dalam bidang pemasaran terutama dalam bidang perilaku konsumen.
2) Untuk belajar menerapkan ilmu yang didapat dibangku kuliah.
b.  Bagi Perusahaan Sebagai sumbangan pemikiran dalam mengetahui pengaruh harga dan  produk terhadap keputusan pemakaian kartu As .
c. Bagi Pihak Lain Dapat digunakan sebagai bahan referensi yang nantinya dapat  memberikan perbandingan dalam mengadakan penelitian pada masa  yang akan datang.
F.  Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Batasan operasional dalam penelitian ini adalah: a.  Variabel  independen (variabel bebas), yaitu harga (X1), dan  produk(X2 b.  Variabel dependen (variabel terikat), yaitu keputusan pemakaian kartu  As Fress, pada mahasiswa reguler S-1 FISIP USU.
).
2. Defenisi Operasional Variabel  Harga sebagai variabel bebas (X1 Produk sebagai variabel bebas (X ); merupakan biaya yang dikenakan  kepada pelanggan yang melakukan panggilan dengan cara pemotongan  pulsa. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert.
2 Keputusan pemakaian kartu As Fress (Y); merupakan keputusan yang  diambil oleh mahasiswa reguler S-1 FISIP USU sebagai konsumen  menyangkut kepastian menggunakan jasa operator As Fress. Skala yang  digunakan adalah skala Likert.
); produk merupakan segala sesuatu  yang ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, dibeli, digunakan ataupun  yang dikonsumsi, serta dapat memuaskan kebutuhan konsumen terhadap  produk. Skala pengukurannya adalah skala Likert.
Tabel 1.3 Defenisi Operasional Variabel Variabel  Indikator  Skala Pengukuran Harga (X1 1. Harga terjangkau ) 2. Harga isi ulang ekonomis 3. Diuntungkan dengan adanya persaingan  harga Skala Likert Produk (X2 1. Kualitas penerimaan sinyal ) 2. Fitur-fitur lengkap 3. Fasilitas lengkap dan mudah Skala Likert  Keputusan  Pemakaian  Kartu As  Fress (Y) 1. Mampu memenuhi kebutuhan  komunikasi  2. Kenal dengan produknya 3. Tarif yang murah dan ekonomis 4. Merasa puas dengan produk As Fress 5. Tetap memilih As Fress walaupun  banyak kartu prabayar lain Skala Likert Sumber : Setiadi (2003), data diolah 3. Pengukuran Variabel (Paramater Variabel) Pengukuran parameter variabel dilakukan dengan mengukur variabel  harga, variabel produk dan variabel keputusan pemakaian kartu As Fress  dengan menggunakan skala Likert (Sugiyono, 2004:86), yaitu suatu alat ukur  yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau  sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Penulis menggunakan lima alternatif jawaban kepada responden dengan  skala 1-5, sebagai berikut : Tabel 1.4 Instrumen Skala Likert No.  Alternatif Jawaban  Skor 1  Sangat setuju (SS)  5 2  Setuju (S)  4 3  Kurang Setuju (KS)  3 4  Tidak Setuju (TS)  2 5  Sangat Tidak Setuju (STS)  1 Sumber : Sugiyono (2004) 4. Lokasi dan Waktu Penelitian  Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Reguler S-1 FISIP USU yang  beralamat di Jl.Dr.A.Sofian No.1 Kampus USU Padang Bulan-Medan sejak  Oktober 2010-Desember 2010.
5. Jenis Data Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data, yaitu : a. Data Primer Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden  terpilih pada lokasi penelitian, dan digunakan untuk kepentingan  penelitian yang dilakukan oleh penulis. Data primer diperoleh dengan  memberikan daftar pertanyaan (questionare) dan wawancara (interview) kepada mahasiswa Reguler S-1 FISIP USU yang menggunakan kartu As.
b. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi dokumentasi yang  diperoleh dari buku, majalah, internet yang dapat menjadi referensi  pendukung. Bukan merupakan data yang digunakan untuk penelitian  penulis secara langsung.
6. Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi adalah suatu kelompok dari elemen penelitian, dimana  elemen adalah unit terkecil yang merupakan sumber dari data yang  diperlukan (Ginting dan Situmorang, 2008: 128). Populasinya adalah  mahasiswa S-1 Reguler FISIP USU Stambuk 2007-2010 sebanyak 2305  orang, pengguna kartu As yang jumlahnya tidak diketahui.
Tabel 1.5 Jumlah Populasi Mahasiswa Sumber : FISIP USU, 2010 (diolah) b. Sampel Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang  dianggap dapat menggambarkan populasinya (Ginting dan Situmorang,  2008: 125). Menurut Supramono dan Haryanto (2003: 63), alternatif  formula yang digunakan untuk menentukan sampel pada populasi yang  sulit diketahui (unidentified) adalah sebagai berikut:  n = ( Zα) 2 d (p) (q) Dimana : 2 Stambuk Departemen Antropologi  Komunikasi  Adm.
Negara Kesejahteraan  Sosial Sosiologi  Politik  Adm.
Bisnis 2007  38  112  78  52  54  74  -2008  50  134  90  60  74  90  -2009  57  127  89  69  75  86  159 2010  76  141  115  92  93  103  117 Jumlah  221  514  372  273  296  353  276  n =  jumlah sampel  Zα =   nilai standar normal yang besarnya tergantungt α Bila α = 0,05 maka Z = 1,67 Bila α = 0,01 maka Z = 1,96 p   =  estimator proporsi populasi q =  1 – p d =  Penyimpangan yang ditolerir = 10% Penulis memperoleh jumlah sampel yang besar dan nilai (p) belum  diketahui, maka dapat digunakan nilai p = 0,5. Sehingga jumlah sampel  menjadi: n = (1,96) 2 0,1 (0,5) (0,5) n = 96,04 dibulatkan menjadi 96 orang 2 Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode  Purposive Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan  menggunakan kriteria atau pertimbangan tertentu. Kriteria sampel adalah  mahasiswa reguler S-1 FISIP USU yang menggunakan kartu As.
7. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan  menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, antara lain: a. Wawancara (interview), yaitu pengumpulan data dengan mengadakan  tanya jawab langsung kepada mahasiswa Reguler S-1 FISIP USU yang  memakai kartu As.
b. Daftar pertanyaan (quistionare), yaitu pengumpulan data dengan  mengajukan daftar pertanyaan secara tertulis untuk diisi oleh responden c. Studi dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan mengumpulkan data  dari buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan penelitian.
8. Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Uji validitas untuk mengukur apakah data yang telah didapat setelah  penelitian merupakan data yang valid dan alat ukur yang digunakan  (kuesioner) (Sugiyono, 2004: 109). Bila koefisien korelasi (r) masingmasing pertanyaan sama dengan 0,361 atau lebih, maka butir instrumennya  dinyatakan valid (Sugiyono, 2004:116).  Uji Validitas dilakukan terlebih  dahulu dengan memberikan kuesioner kepada 30 orang responden yang  diambil dari luar sampel. Uji validitas dilakukan di Fakultas Ekonomi USU.
Uji reliabilitas dilakukan untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan  (kuesioner) menunjukkan konsistensi dalam mengukur gejala yang sama  (Sugiyono, 2004: 110). Bila koefisien korelasi (r) positif dan signifikan,  maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliable. Uji validitas dan  reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan bantuan software  SPSS 16.0 for Windows.
9. Teknik Analisis Data a. Metode Analisis Deskriptif  Metode analisis deskriptif adalah metode penganalisaan yang  dilakukan dengan cara menentukan data, mengumpulkan data, dan  mengintepretasikan data sehingga dapat memberikan gambaran masalah  yang dihadapi.
b. Analisis Kuantitatif 1. Analisis Regresi Berganda Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui besarnya  hubungan dan pengauh variabel independen yang jumlahnya dua atau  lebih (X1 ,X2 Y = a + b ) terhadap variabel dependen (Y).
1X1 + b2X2  Keterangan : + e Y    = Keputusan pemakaian Kartu As Fress a    = konstanta b1, b2 X = koefisien regresi 1 X = Harga 2  e     = standar error = Produk  2. Uji Fhitung  Uji F (Uji Serentak) hitung Model hipotesis dalam uji F dilakukan untuk mengetahui apakah secara serentak variabel  bebas mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak terhadap  variabel terikat.
hitung ini adalah:  Ho : b1 = b2  (variabel bebas secara  bersama-sama tidak memiliki pengaruh  signifikan terhadap variabel terikat) = 0 Ha : b1 ≠ b2 (variabel bebas secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan  terhadap variabel terikat) ≠ 0 Nilai Fhitung akan dibandingkan dengan Ftabel Ho diterima, bila F . Kriteria pengambilan  keputusan yaitu: hitung < Ftabel Ho ditolak, bila F pada α = 5% hitung > Ftabel 3. Analisis Statistik t pada α = 5% Yaitu sebagai uji signifikan individual. Uji ini menunjukkan  bagaimana daya dukung dalam menerangkan variasi variabel terikat.
Bentuk pengujiannya adalah : Ho : bi  Artinya suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang  signifikan terhadap variabel dependen = 0 Ho : bi ≠ Artinya suatu variabel independen merupakan penjelas yang signifikan  terhadap variabel dependen.
0 Kriteria Pengambilan Keputusan Ho diterima jika thitung < ttabel  Ho ditolak jika t pada α = 5% hitung > ttabel  4. Koefisien Determinasi (R pada α = 5% 2 )  Pengujian kontribusi pengaruh dari variabel bebas (X1, X2) terhadap  variabel tidak bebas (Y), dapat dilihat dari koefisien determinasi  berganda (R 2 ) 0<R 2 <1. Hal ini menunjukkan jika R 2 semakin dekat  dengan 1, maka pengaruh variabel bebas (X1, X2) terhadap variabel  tidak bebas (Y) semakin kuat. Sebaliknya jika R 2 semakin dekat pada 0  maka pengaruh variabel bebas (X1, X2) terhadap variabel Y semakin  lemah.
BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu 1. Nainggolan (2007), “Pengaruh Tarif Hemat Simpati (Rp 300,-/menit)  Terhadap Keputusan Pemakaian Kartu Simpati di SMA Negeri 5 Medan”.
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai R 2 sebesar 0,298. Ini berarti sebesar  29,8% keputusan menjadi pemakai kartu Simpati dipengaruhi oleh tarif hemat  (Rp 300,-/menit), dan sisanya 70,2% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak  terdapat pada persamaan model.
2. Siregar (2009), “Daya Dukung Tarif Hemat Dan Produk Simpati Pede  Terhadap Keputusan Pemakaian Kartu Simpati Pada Siswa SMA Negeri 6  Medan”. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai R 2 sebesar 0,499 , artinya  variabel bebas yakni tarif hemat dan produk mampu menjelaskan 49,9%  terhadap variabel terikat keputusan pemakaian Kartu Simpati pada siswa SMA  Negeri 6 Medan, sedangkan 50,1 % lainnya dijelaskan oleh variabel lainnya.   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi