BAB I.
PENDAHULUAN.
1.1 Latar Belakang.
Skripsi Ekonomi: Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas dan Arus Kas Terhadap Kondisi Financial Distress
Perkembangan perekonomian
di Indonesia sekarang
menjadi lebih baik,
terbukti dengan semakin
menguatnya nilai rupiah
yang sekarang ini mencapai angka
Rp. 8700 yang
mengalami penguatan sebesar
2,5% dibanding periode sebelumnya
(pada tahun 2010
kisaran
Rp.9000/$-Rp.9200/$).
Keadaan perekonomian ini
membuat suasana investasi
semakin semarak di Indonesia
apalagi dengan semakin banyaknya perusahaan yang gopublicdi BEI (Bursa Efek
Indonesia) yang pada akhir tahun 2010 berjumlah 413
perusahaan. Oleh karena
itu banyak investor
yang tertarik untuk melakukan
investasi di perusahaan-perusahaan yang go public.
Para investor
dalam melakukan investasi
akan mempertimbangkan beberapa hal
diantaranya yaitu pengembalian investasi
yang di harapkan dan tingkat
resiko yang harus diterima. Banyak
sekali faktor yang mempengaruhi resiko dalam
melakukan invetasi diantaranya
adalah tingkat kesehatan keuangan
perusahaan yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam mengolah
asset dan mendapatkan laba.
Tingkat kesehatan
suatu perusahaan dapat
dilihat dari laporan keuangan
yang disajikan oleh
perusahaan yang bersangkutan.
Laporan keuangan yang
diterbitkan o leh perusahaan
merupakan salah satu
sumber informasi mengenai tingkat
kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan sehingga investor bisa
mengetahui besar kecilnya
resiko investasi yang
akan ditanggungnya. Di
dalam laporan keuangan
yang disajikan oleh
perusahaan, para investor
dapat membaca dan
memprediksi tingkat keuntungan
dan kerugian yang akan dipero leh
suatu perusahaan. Perusahaan yang mempunyai tingkat perputaran arus kas yang stabil,
tingkat keuntungan yang cukup tinggi serta volume
penjualan yang meningkat
cenderung terhindar dari kebangkrutan. Begitu
pula sebaliknya perusahaan
yang memiliki perputaran arus kas yang tidak stabil dan menurunnya
volume penjualan bisa berdampak terhadap kondisi
kesulitan keuangan (financial
distress) dan apabila
tidak segera ditanggulangi maka
perusahaan akan mengalami kebangkrutan.
Menurut Atmini
(2005)financial distress
adalah suatu konsep
luas yang terdiri
dari beberapa situasi
dimana suatu perusahaan
menghadapi masalah kesulitan
keuangan. Istilah umum
untuk menggambarkan situasi tersebut
adalah kebangkrutan, kegagalan,
ketidakmampuan melunasi hutang dan default. Ketidakmampuan melunasi hutang
menunjukkan adanya masalah liku
iditas, sedangkan defaultberarti suatu
perusahaan melanggar perjanjian dengan kreditur dan dapat menyebabkan tindakan
hukum.
Kebangkrutan adalah kesulitan keuangan yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu untuk menjalankan
operasi perusahaan dengan baik sedangkan kesulitan
keuangan (financial distress) adalah kejadian-kejadian yang mewakili dan termasuk dalam kebangkrutan,
seperti pelanggaran kontrak pinjaman. Menurut Platt
dan Platt (2002) financial distress mendahului hampir semua kebangkrutan kecuali jika
kebangkrutan itu terjadi secara tiba- tiba dan
disebabkan oleh peristiwa
tidak terduga seperti
bencana alam, perubahan
peraturan pemerintah, dan pengesahan undang-undang. Financial distress
dapat diprediksi terlebih
dahulu sebagai early warning
signal sehingga dapat
dilakukan
perbaikan-perbaikan keuangan yang
akan menghindari terjadinya
kebangkrutan.
Menurut Platt dan
Platt (2002) informasi
tentang financial distress dapat
bermanfaatdalam mempercepat tindakan
manajemen untuk mencegah masalah sebelum terjadinya kebangkrutandengan caraseperti
penggabungan perusahaan atau
pengambil alihan perusahaan,
manfaat lain mengenai informasi
tentang financial distress yaitu memberikan tanda peringatanawal adanya kebangkrutan pada masa yang akan datang
untuk mencegah high cost dari kebangkrutan yang meliputi directdan indirect cost. Direct
cost adalah biaya yang
keluar secara nyata
karena pembubaran atau
percobaan reorganisasi dari
perusahaan yang dapat berupa biaya untuk
hukum, akuntan dan jasa professional lainnya.
Foster (1986)
menjelaskan bahwa ada
empat kategori dalam mengelompokkan sebuah
perusahaan,
kategori-kategori tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 1.Kategori Perusahaan Non
Financialy Distressed
FinancialyDistressed Non Bankruptcy I II Bankruptcy III IV Sumber:
Foster (1986) Tabel diatas
menunjukkan bahwa perusahaan
yang masuk dalam kategori I
adalah perusahaan yang
tidak bangkrut dan
tidak mengalami financial
distress. Di dalam perusahaan kelompok I ini merupakan perusahaan yang
sehat dan tidak
mengalami kondisi kesulitan
keuangan dan perkiraan perusahaan
mengalami kebangkrutan sangatlah
kecil. Kategori II diperuntukkan bagi
perusahaan yang tidak bangkrut
namun mengalami financial
distress. Perusahaan pada
kelompok II ini
bisa disebut perusahaan yang
mengalami gejala kesulitan
keuangan dan ada
kecenderungan bisa mengalami kebangkrutan akan tetapi masih ada
kemungkinan bisa keluar dari kondisi
tersebut. Kategori III
menunjukkan bahwa perusahaan
bangkrut namun tidak mengalami
financial distress. Padakelompok III ini perusahaan dalam
hal keuangan bisa
dikatakan baik atau
sehat namun perusahaan
ini mengalami kebangkrutan yang
disebabkan beberapa hal diantaranya bencana alam,
keputusan pemerintah, permasalahan
kasus hukum yang
menimpanya dan karena peraturan perundangan yang disahkan. kategori IV menunjukkan perusahaan bangkrut dan mengalami financial
distress.Pada kelompok IV ini perusahaan mengalami kesulitam keuangan dan sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa bertahan serta terhindar dari
kebangkrutan.
Elloumi dan
Gueyie (2001) dalam
Parulian (2007) mengkategorikan perusahaan dengan financial distress apabila
selama dua tahun berturut-turut mengalami
laba bersih negatif. Classens et al.,(1999)dalam Wardhani (2006) mendefinisikan
perusahaan yang berada
dalam kesulitan keuangan
yaitu perusahaan
yang memiliki interest
coverage ratio (rasio laba usaha
terhadap biaya bunga) kurang dari satu.
Banyak sekali
literatur yang menggambarkan
model prediksi kebangkrutan perusahaan, tetapi hanya sedikit
penelitian yang berusaha untuk memprediksi financial distress perusahaan. Hal ini dikarenakan sangat sulit mendefinisikan
secara objektif permulaan
adanya Financial distress.
Perusahaan yang mengalami kerugian,
tidak dapat membayar kewajiban
atau tidak likuid mungkin memerlukan
restrukturisasi. Untuk mengetahui
adanya gejala akan
terjadinya kebangkrutan, diperlukan
pengelompokkan kondisi perusahaan
menurut tingkat kesehatannya guna menghindari kerugian
dalam nilai investasi yang
dilakukan oleh investor.
Penelitian ini
merupakan modifikasi dari
penelitian yang dilakukan oleh
Atmini (2005) yang
menganalisis tentang arus
kas dan laba
untuk memprediksi kondisifinancial distress perusahaan
manufaktur yang listed di BEI dengan
menggunakan sampel 23
perusahaan dan membagi
menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 dan
2 adalah perusahaan yang melaporkan laba dan arus
kas positif dengan
kriteria yaitu kelompok 1
melaporkan laba dan arus kas perusahaan lebih tinggi dari pada
perusahaan di kelompok 2. Kelompok 3 dan
4 merupakan perusahaan yang melaporkan laba dan arus kas negatif.
Penelitian ini
bertujuan untuk menguji
pengaruh beberapa rasio keuangan
terhadap gejala munculnyafinancial distress. Penulis menggunakan sampel
perusahaan manufaktur dan
perbankan yang mengalami financial distressdan non financial
distressuntuk menguji tingkat
sensitivitas antara kedua tipe perusahaan tersebut.
Data diperoleh dari IDX
antara tahun 2008-2010 dengan
beberapa kriteria tertentu.
Berdasarkan uraian tersebut,
penulis tertarik untuk
meneliti “PENGARUH RASIO
LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, RENTABILITAS
DAN ARUS KAS
TERHADAP KONDISI FINANCIAL
DISTRESS PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR BEI PERIODE 2008-2010”.
1.2 Perumusan Masalah.
Perumusan masalah dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut ini.
1. Apakah rasio likuiditas berpengaruh terhadap
gejala financial distresspada
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? .
2. Apakah rasio solvabilitas berpengaruh terhadap gejala financial distresspada perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia? .
3. Apakah rasio rentabilitas berpengaruh terhadap
gejalafinancial distresspada
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?.
4. Apakah arus
kas berpengaruh terhadap
gejala financial distress pada
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?.
1.3 Tujuan Penelitian.
Tujuan diadakannya penelitian ini
adalah:.
1. Untuk mengetahui pengaruh
rasio likuiditas terhadap kemungkinan terjadinya
financial distress pada suatu perusahaan.
2. Untuk
mengetahui pengaruh rasio
solvabilitas terhadap kemungkinan terjadinya financial distress pada
suatu perusahaan.
3. Untuk mengetahui
pengaruh rasio rentabilitas
terhadap kemungkinan terjadinya
financial distress pada suatu perusahaan.
4. Untuk mengetahui
pengaruh arus kas
terhadap kemungkinan terjadinya financial distresspada suatu
perusahaan.
1.4 Manfaat Penelitian.
Manfaat dari penelitian ini
adalah :.
1. Bagi perusahaan,
dapat memberikan informasi
bagi perusahaan untuk
mengetahui terjadinya gejala
financial distress pada perusahaan
sehingga dapat mengambil kebijakan dan strategi untuk mencegah perusahan tersebut mengalami
kebangkrutan.
2. Bagi para investor yang ingin
melakukan investasi, bisa melakukan investasi
pada perusahaan yang tepat karena mengetahui informasi perusahaan
mana yang nantinya
bisa bertahan dan
perusahaan mana yang
saat itu sedang
mengalami goncangan dan
terancam terlikuidasi.
3. Bagi pemberi
pinjaman, informasi
kesehatan suatu perusahaan akan membantu
membuat keputusan apakah
akan memberikan pinjaman
dan menentukan kebijakan
untuk mengawasi pinjaman yang telah diberikan.
4. Bagi
ilmu pengetahuan, dengan
penelitian ini diharapkan
dapat memberikan tambahan
khasanah dari penelitian yang sudah ada.
Skripsi Ekonomi: Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas dan Arus Kas Terhadap Kondisi Financial Distress
Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi