Rabu, 26 November 2014

Skripsi Ekonomi: Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas dan Arus Kas Terhadap Kondisi Financial Distress

 BAB I.
PENDAHULUAN.
1.1 Latar Belakang.
Skripsi Ekonomi: Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas dan Arus Kas Terhadap Kondisi Financial Distress
Perkembangan  perekonomian  di  Indonesia  sekarang  menjadi  lebih  baik,  terbukti  dengan  semakin  menguatnya  nilai  rupiah  yang  sekarang  ini  mencapai  angka  Rp.  8700  yang  mengalami  penguatan  sebesar  2,5% dibanding  periode  sebelumnya  (pada  tahun  2010  kisaran  Rp.9000/$-Rp.9200/$).  Keadaan  perekonomian  ini  membuat  suasana  investasi  semakin  semarak di Indonesia apalagi dengan semakin banyaknya perusahaan yang gopublicdi BEI (Bursa  Efek  Indonesia)  yang pada  akhir tahun 2010  berjumlah 413  perusahaan.  Oleh  karena  itu  banyak  investor  yang  tertarik  untuk  melakukan investasi di perusahaan-perusahaan yang go public.

Para  investor  dalam  melakukan  investasi  akan  mempertimbangkan  beberapa hal  diantaranya yaitu pengembalian investasi  yang di harapkan dan  tingkat resiko yang harus diterima.  Banyak sekali faktor yang mempengaruhi  resiko  dalam  melakukan  invetasi  diantaranya  adalah  tingkat  kesehatan  keuangan  perusahaan  yang  menggambarkan  kemampuan  perusahaan  dalam  mengolah asset dan mendapatkan laba.
Tingkat  kesehatan  suatu  perusahaan  dapat  dilihat  dari  laporan  keuangan  yang  disajikan  oleh  perusahaan  yang  bersangkutan.  Laporan  keuangan  yang  diterbitkan  o leh  perusahaan  merupakan  salah  satu  sumber  informasi mengenai tingkat kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan sehingga   investor  bisa  mengetahui  besar  kecilnya  resiko  investasi  yang  akan  ditanggungnya.  Di  dalam  laporan  keuangan  yang  disajikan  oleh  perusahaan,  para  investor  dapat  membaca  dan  memprediksi  tingkat  keuntungan  dan  kerugian yang akan dipero leh suatu perusahaan. Perusahaan yang mempunyai  tingkat perputaran arus kas yang stabil, tingkat keuntungan yang cukup tinggi  serta  volume  penjualan  yang  meningkat  cenderung  terhindar  dari  kebangkrutan.  Begitu  pula  sebaliknya  perusahaan  yang  memiliki  perputaran  arus kas yang tidak stabil dan menurunnya volume penjualan bisa berdampak  terhadap  kondisi  kesulitan  keuangan  (financial  distress)  dan  apabila  tidak  segera ditanggulangi maka perusahaan akan mengalami kebangkrutan.
Menurut  Atmini  (2005)financial  distress adalah  suatu  konsep  luas  yang  terdiri  dari  beberapa  situasi  dimana  suatu  perusahaan  menghadapi  masalah  kesulitan  keuangan.  Istilah  umum  untuk  menggambarkan  situasi  tersebut  adalah  kebangkrutan,  kegagalan,  ketidakmampuan  melunasi  hutang  dan default. Ketidakmampuan melunasi hutang menunjukkan adanya masalah  liku iditas,  sedangkan defaultberarti  suatu  perusahaan  melanggar  perjanjian  dengan kreditur dan dapat menyebabkan tindakan hukum.
Kebangkrutan  adalah kesulitan keuangan  yang sangat parah sehingga  perusahaan tidak mampu untuk menjalankan operasi perusahaan dengan baik  sedangkan  kesulitan  keuangan  (financial  distress) adalah  kejadian-kejadian  yang mewakili dan termasuk dalam kebangkrutan, seperti pelanggaran kontrak  pinjaman.  Menurut Platt  dan  Platt  (2002) financial  distress mendahului  hampir semua kebangkrutan kecuali jika kebangkrutan itu terjadi secara tiba-  tiba  dan  disebabkan  oleh  peristiwa  tidak  terduga  seperti  bencana  alam,  perubahan  peraturan  pemerintah,  dan pengesahan  undang-undang. Financial  distress  dapat  diprediksi  terlebih  dahulu  sebagai early  warning  signal  sehingga  dapat  dilakukan  perbaikan-perbaikan  keuangan  yang  akan  menghindari terjadinya kebangkrutan.
Menurut Platt  dan  Platt  (2002)  informasi  tentang financial  distress dapat bermanfaatdalam mempercepat  tindakan manajemen  untuk  mencegah  masalah sebelum  terjadinya kebangkrutandengan caraseperti penggabungan  perusahaan  atau  pengambil  alihan  perusahaan,  manfaat  lain  mengenai  informasi  tentang financial distress yaitu memberikan  tanda peringatanawal  adanya kebangkrutan pada masa yang akan datang untuk mencegah high cost  dari  kebangkrutan yang  meliputi directdan indirect  cost. Direct  cost adalah  biaya  yang  keluar  secara  nyata  karena  pembubaran  atau  percobaan  reorganisasi dari perusahaan  yang dapat berupa biaya  untuk  hukum,  akuntan  dan jasa professional lainnya.
Foster  (1986)  menjelaskan  bahwa  ada  empat  kategori  dalam  mengelompokkan  sebuah  perusahaan,  kategori-kategori  tersebut  adalah  sebagai berikut: Tabel 1.Kategori Perusahaan Non Financialy Distressed  FinancialyDistressed Non Bankruptcy I II Bankruptcy III IV Sumber: Foster (1986)  Tabel  diatas  menunjukkan  bahwa  perusahaan  yang  masuk  dalam  kategori  I  adalah  perusahaan  yang  tidak  bangkrut  dan  tidak mengalami  financial distress. Di dalam perusahaan kelompok I ini merupakan perusahaan  yang  sehat  dan  tidak  mengalami  kondisi  kesulitan  keuangan  dan  perkiraan  perusahaan  mengalami  kebangkrutan  sangatlah  kecil.  Kategori  II  diperuntukkan  bagi  perusahaan  yang tidak  bangkrut  namun  mengalami  financial  distress.  Perusahaan  pada  kelompok  II  ini  bisa  disebut  perusahaan  yang  mengalami  gejala  kesulitan  keuangan  dan  ada  kecenderungan  bisa  mengalami kebangkrutan akan tetapi masih ada kemungkinan bisa keluar dari  kondisi tersebut.  Kategori  III  menunjukkan  bahwa  perusahaan  bangkrut  namun tidak mengalami financial distress. Padakelompok III ini perusahaan  dalam  hal  keuangan  bisa  dikatakan  baik  atau  sehat  namun  perusahaan  ini  mengalami kebangkrutan yang disebabkan beberapa hal diantaranya bencana  alam,  keputusan  pemerintah,  permasalahan  kasus  hukum  yang  menimpanya  dan karena  peraturan perundangan  yang disahkan. kategori  IV menunjukkan  perusahaan bangkrut dan mengalami financial distress.Pada kelompok IV ini  perusahaan  mengalami kesulitam  keuangan dan sudah tidak ada harapan lagi  untuk bisa bertahan serta terhindar dari kebangkrutan.
Elloumi  dan  Gueyie  (2001)  dalam  Parulian  (2007)  mengkategorikan  perusahaan dengan financial distress apabila selama dua tahun berturut-turut  mengalami laba bersih negatif. Classens et al.,(1999)dalam Wardhani (2006)  mendefinisikan  perusahaan  yang  berada  dalam  kesulitan  keuangan  yaitu   perusahaan  yang memiliki interest  coverage  ratio (rasio laba usaha terhadap  biaya bunga) kurang dari satu.
Banyak  sekali  literatur  yang  menggambarkan  model  prediksi  kebangkrutan perusahaan, tetapi hanya sedikit penelitian yang berusaha untuk  memprediksi  financial distress perusahaan. Hal  ini dikarenakan sangat sulit  mendefinisikan  secara  objektif  permulaan  adanya Financial  distress.
Perusahaan  yang mengalami  kerugian,  tidak dapat membayar kewajiban  atau  tidak  likuid mungkin memerlukan restrukturisasi.  Untuk  mengetahui  adanya  gejala  akan  terjadinya  kebangkrutan,  diperlukan  pengelompokkan  kondisi  perusahaan  menurut tingkat kesehatannya guna menghindari  kerugian  dalam  nilai investasi yang dilakukan oleh investor.
Penelitian  ini  merupakan  modifikasi  dari  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Atmini  (2005)  yang  menganalisis  tentang  arus  kas  dan  laba  untuk  memprediksi  kondisifinancial distress perusahaan manufaktur yang  listed  di  BEI  dengan  menggunakan  sampel  23  perusahaan  dan  membagi  menjadi  4  kelompok. Kelompok 1  dan  2  adalah perusahaan  yang melaporkan laba dan  arus  kas  positif  dengan  kriteria  yaitu kelompok 1 melaporkan laba dan  arus  kas perusahaan lebih tinggi dari pada perusahaan di kelompok 2. Kelompok 3  dan 4 merupakan perusahaan yang melaporkan laba dan arus kas negatif.
Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menguji  pengaruh  beberapa  rasio  keuangan terhadap gejala munculnyafinancial distress. Penulis menggunakan  sampel  perusahaan  manufaktur  dan  perbankan  yang  mengalami financial  distressdan non  financial  distressuntuk  menguji  tingkat  sensitivitas  antara   kedua  tipe perusahaan  tersebut.  Data diperoleh dari IDX  antara  tahun 2008-2010  dengan  beberapa  kriteria  tertentu.  Berdasarkan  uraian  tersebut,  penulis  tertarik  untuk  meneliti  “PENGARUH  RASIO  LIKUIDITAS,  SOLVABILITAS,  RENTABILITAS  DAN  ARUS  KAS  TERHADAP  KONDISI  FINANCIAL  DISTRESS PERUSAHAAN  YANG  TERDAFTAR BEI PERIODE 2008-2010”.
1.2 Perumusan Masalah.
Perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut ini.
1. Apakah  rasio likuiditas berpengaruh  terhadap  gejala financial  distresspada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? .
2. Apakah  rasio solvabilitas berpengaruh terhadap  gejala financial  distresspada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? .
3. Apakah  rasio rentabilitas berpengaruh  terhadap  gejalafinancial  distresspada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?.
4. Apakah  arus  kas  berpengaruh  terhadap  gejala financial  distress pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?.
1.3 Tujuan Penelitian.
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah:.
1. Untuk mengetahui pengaruh rasio likuiditas terhadap kemungkinan  terjadinya financial distress pada suatu perusahaan.
 2. Untuk  mengetahui  pengaruh  rasio  solvabilitas  terhadap  kemungkinan terjadinya financial distress pada suatu perusahaan.
3. Untuk  mengetahui  pengaruh  rasio  rentabilitas  terhadap  kemungkinan terjadinya financial distress pada suatu perusahaan.
4. Untuk  mengetahui  pengaruh  arus  kas  terhadap  kemungkinan  terjadinya financial distresspada suatu perusahaan.
1.4 Manfaat Penelitian.
Manfaat dari penelitian ini adalah :.
1. Bagi  perusahaan,  dapat  memberikan  informasi  bagi  perusahaan  untuk  mengetahui  terjadinya  gejala  financial  distress  pada  perusahaan sehingga dapat mengambil kebijakan dan strategi untuk  mencegah perusahan tersebut mengalami kebangkrutan.
2. Bagi para investor yang ingin melakukan investasi, bisa melakukan  investasi pada perusahaan yang tepat karena mengetahui informasi  perusahaan  mana  yang  nantinya  bisa  bertahan  dan  perusahaan  mana  yang  saat  itu  sedang  mengalami  goncangan  dan  terancam  terlikuidasi.
3. Bagi  pemberi  pinjaman,  informasi kesehatan  suatu  perusahaan akan  membantu  membuat  keputusan  apakah  akan  memberikan  pinjaman  dan  menentukan  kebijakan  untuk  mengawasi  pinjaman  yang telah diberikan.
 4. Bagi  ilmu  pengetahuan,  dengan  penelitian  ini  diharapkan  dapat  memberikan tambahan khasanah dari penelitian yang sudah ada.

 Skripsi Ekonomi: Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas dan Arus Kas Terhadap Kondisi Financial Distress

Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi