Rabu, 09 April 2014

Skripsi Hukum Internasional: STUDI TENTANG KERJA SAMA INTERNATIONAL CRIMINAL POLICE ORGANIZATION (ICPO-INTERPOL) DENGAN POLRI DALAM MENANGKAP PELAKU KEJAHATAN YANG MELARIKAN DIRI KELUAR NEGERI



BAB I  PENDAHULUAN
  A.  Latar Belakang  
 Ketika  pelaku  kejahatan  seperti  pembunuh,  pencuri,  teroris  atau  yang sering terjadi di  Indonesia saat ini  yaitu koruptor berhasil kabur ke  luar  negeri,  dan  hampir  mustahil  untuk  ditangkap  karena  melewati  yurisdiksi  penegak  hukum  Indonesia,  kerja  sama  para  penegak  hukum  Indonesia dengan pihak berkompeten di luar negeri merupakan salah satu  solusi paling memungkinkan untuk menangkap para buronan tersebut.

Para  pihak  yang  berkompeten  tersebut  antara  lain  seperti  International  Criminal  Police  Organisation  (ICPO-INTERPOL)  sebagai  organisasi  kepolisian  nasional  negara-negara  di  dunia.  Dalam  skala  regional  ada  EUROPOL  di  kawasan  benua  Eropah,  di  kawasan  Asia  Tenggara dalam kerangka ASEAN ada ASEANAPOL. Kedua organisasi  yang  belakangan  ini  merupakan  organisasi  kepolisian  yang  sifatnya  regional. Sebagai organisasi kepolisian, tentulah peranannya lebih tampak  dalam  bidang  pengimplementasian  dari  kaidah-kaidah  hukum  pidana  internasional terutama yang merupakan hukum pidana internasional dalam  arti formal-prosedural.
  I. Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional, Yrama Widya, Bandung,2006.,  hal.
  Beberapa kejahatan yang telah diatur dalam konvensi internasional  antara  lain  :  kejahatan  narkotika,  kejahatan  terorisme,  kejahatan  uang  palsu,  kejahatan  terhadap  penerbangan  sipil  dan  lain-lain  .  Kejahatankejahatan  yang  diatur  dalam  konvensi  internasional  pada  dasarnya  memiliki  tiga  karakteristik  yaitu  :  kejahatan  yang  membahayakan  umat  manusia, kejahatan yang mana pelakunya dapat diekstradisi, dan kejahatan  yang dianggap bukan kejahatan politik.
 Untuk  dapat  bertindak  cepat  dalam  memberantas  kejahatan  yang  sering tidak mengenal batas-batas Negara, mau tidak mau POLRI melalui  National  Central  Bureau (NCB)  akan  sering  berhubungan  dengan  Internasional  Criminal  Police  Organization (ICPO/INTERPOL).
Misalnya  dalam  usaha  memberantas  kejahatan.  INTERPOL  sering  mengedarkan  perintah  penangkapan  ke  seluruh  Negara  anggota  sehingga  memungkinkan  seluruh  Negara  anggota  INTERPOL  untuk  mencari  tertuduh atau penjahat yang dicari dan menangkapnya.
 Kerjasama  antar  negara  melalui  keterlibatan  INTERPOL  dapat  memainkan  peran  penting  untuk  menangkap  dan  memulangkan  para  buronan   tersebut.  Dengan  segala  langkah  yang  luar  biasa  dan  semangat  kerja  sama  antar  negara  dalam  memerangi  kejahatan  upaya  perburuan  pelaku  kejahatan  yang  kabur  ke  luar  negeri  meski  pelan  tapi  pasti  akan  membuahkan  hasil  yang  diharapkan.  Saat  ini  masyarakat  tinggal   R. Makbul Padmanegara, Kejahatan Internasional, Tantangan dan Upaya Pemecahan ,  Majalah INTERPOL Indonesia, Jakarta, 2007, hal   Sardjono, Kerjasama Internasional di Bidang Kepolisian, NCB Indonesia, Jakarta,  1996, hal 1  Damian, Edy, Kapita Selekta Hukum Internasional,Alumni, Bandung,1991., hal.
  menunggu, mendesak, dan melihat pelaku tindak pidana yang kabur dapat  ditangkap dan dipenjara di Indonesia.
 Bergabungnya  Indonesia  dengan  INTERPOL  membuat  Indonesia  wajib  memiliki  kantor  INTERPOL  yang  dinamakan  NCB-INTERPOL  (National  Central  Bureau-INTERPOL).  NCB-INTERPOL  merupakan  kantor  cabang  INTERPOL  di  masing-masing  negara  anggota.  Di  Indonesia,  NCB-INTERPOL  berkedudukan  di  Markas  Besar  POLRI.
Kepala NCB-INTERPOL Indonesia dijabat oleh KaPOLRI (Kepala Polisi  Republik  Indonesia)  yang  dalam  pelaksanaan  tugas  sehari-hari  diemban  oleh  Sekretaris  NCB-INTERPOL  Indonesia  (berpangkat  Brigadir  Jenderal). Di NCB-INTERPOL Indonesia terdapat 6 bidang yang masingmasing  dikepalai  oleh  seorang  Kabid  (berpangkat  Kombes)  dan  Subbag  Renmin (berpangkat AKBP). Bidang-bidangnya antara lain:  1.  Bidang  INTERPOL  yang  bertugas  melaksanakan  kerja  sama  internasional  kepolisian  dalam  rangka  mencegah  dan  memberantas  kejahatan transnasional.
2.  Bidang  Kermadiksipol  (kerja  sama  pendidikan  dan  misi  kepolisian)  bertugas  melaksanakan  kerja  sama  internasional  dalam  rangka  meningkatkan  kemampuan  SDM  POLRI  dan  merintis  partisipasi  POLRI  dalam  misi  perdamaian  internasional  di  bawah  PBB  maupun  misi organisasi lainnya.
 Sardjono.Op. Cit.,  hal.
  3.  Bidang Protokol bertugas melaksanakan kegiatan protokoler perjalanan  dinas pejabat POLRI ke luar negeri dan kunjungan tamu pejabat asing  atau organisasi internasional.
4.  Bidang  Kominter  (komunikasi  internasional)  bertugas  melaksanakan  penyelenggaraan  dan  pengembangan  sistem  pertukaran  informasi  dalam rangka kerja sama internasional kepolisian.
5.  Bidang  Konvint  (konvensi  internasional)  bertugas  melaksanakan  penyusunan perjanjian internasional dan menyelenggarakan pertemuan  internasional dalam rangka penanggulangan kejahatan transnasional.
6.  Bidang Lotas (LO dan perbatasan) bertugas melaksanakan pembinaan  kantor  penghubung  LO (Liaison  Officer)  POLRI  di  luar  negeri  dan  mengkoordinir  kegiatan  LO  polisi  negara  lain  di  Indonesia  serta  memfasilitasi  penanganan  masalah  di  perbatasan  negara  yang  memerlukan tindakan kepolisian.
POLRI  memiliki  beberapa  LO  di  negara  lain  yang  berbentuk  atase  kepolisian dan staf teknis kepolisian. Atase kepolisian berkedudukan di Kedutaan  Besar  Republik  Indonesia  sedangkan  Staf  Teknis  Kepolisian  berkedudukan  di  Konsulat  Jenderal  Republik  Indonesia.  Atase  Kepolisian  disingkat  ATPOL  saat  ini  sudah  ditempatkan  di  7  negara  yaitu  Malaysia,  Australia,  Saudi  Arabia,  Thailand, Filipina, Timor Leste dan USA sedangkan ke depan direncanakan untuk  penempatan  ATPOL  di  Singapura,  Hong  Kong,  Belanda,  China,  dan  lain-lain.
Sedangkan untuk Staf Teknis saat ini telah ditempatkan di Penang, Kuching dan  Tawao  (kesemuanya  di  Malaysia).  Rencana  ke  depan  akan  ditempatkan  Staf    Teknis  di  Davao-Filipina,  Johor  Bahru-Malaysia,  Jeddah-Arab  Saudi,  DarwinAustralia, dan lain-lain. Disamping LO di atas, POLRI juga memiliki perwakilan  di  sekretariat  ASEANAPOL  dan  direncanakan  juga  untuk  menempatkan  LO  di  organisasi internasional lainnya seperti LOBANG (LO-Bangkok, kantor regional  INTERPOL wilayah Asia Pasifik),  ICPO-INTERPOL  Lyon-Perancis, PBB New  York-USA,  dan  lain-lain.  Sedangkan  untuk  LO  kepolisian  negara  asing  di  Indonesia,  dikoordinir  dalam  wadah  IFLEC  yaitu  International  Foreign  Law  Enforcement  Community.  Saat  ini  LO  Kepolisian  yang  telah  bergabung  dalam  IFLEC  antara  lain  PDRM-Malaysia,  AFP-Australia,  FBI-USA,  NPA-Jepang,  KNPA-Korea  Selatan,  dan  lain-lain.  Disamping  itu  juga  ada  satu  wadah  koordinasi  tidak  resmi  yaitu  Tim  Koordinasi  INTERPOL  yang  beranggotakan  berbagai  instansi  dan  departemen  di  Indonesia  seperti  BI,  PPATK,  Bea  Cukai,  Imigrasi,  Kementrian  Luar  Negeri  (Kemlu),  dan  lain-lain untuk  mempermudah  dan mempercepat proses kerja sama internasional yang membutuhkan penanganan  instansi/departemen sesuai dengan lingkup tugasnya.
Banyak  hal  yang  bisa  dimanfaatkan  dengan  keberadaan  NCB-INTERPOL  Indonesia seperti:  1.  bantuan  penyelidikan  (pengecekan  identitas,  keberadaan  seseorang,  data  exit/entry  seseorang  dari/ke  suatu  negara,  dokumen,  alamat,  catatan  kriminal, status seseorang, dan lain-lain),  Ibid. hal.
  2.  bantuan penyidikan (pemeriksaan saksi/tersangka, pengiriman penyidik ke  suatu negara, pinjam barang bukti, penggeledahan, penyitaan lintas negara,  pemanggilan saksi, dan lain-lain), 3.  pencarian buronan yang lari ke negara lain, dan lain-lain.
Di dalam kerja sama internasional, ada beberapa jalur yang bisa ditempuh  antara  lain  melalui  jalur  police  to  police.  Jalur  ini  bisa  ditempuh  apabila  telah  memiliki hubungan baik dengan kepolisian negara yang diajak atau diminta untuk  kerja  sama.  Apabila  tidak  bisa  ditempuh,  dapat  melalui  jalur  INTERPOL.  Jadi  NCB-INTERPOL  Indonesia  yang  menghubungkan  ke  NCB-INTERPOL  negara  lain untuk memintakan/dimintakan kerja samanya. Dan apabila hal ini masih juga  tidak memungkinkan, baru ditempuh jalur resmi yaitu melalui saluran diplomatik  dengan  pengajuan  melalui  Kementerian  Luar  Negeri  RI  yang  mewakili  Pemerintah  Indonesia  untuk  berhubungan  dengan  pemerintah  negara  lain.  Perlu  digaris bawahi  bahwa  apabila  penyidik  belum  memiliki  hubungan  baik  dengan  kepolisian negara setempat maka dia tidak bisa/tidak boleh meminta bantuan ke  negara  tersebut.  Hal  itu  merupakan  bentuk  pelanggaran  mekanisme  kerja  sama  dan  bisa  menimbulkan  akibat  dari  mulai  tidak  ada  tanggapan,  protes  melalui  saluran diplomatik, teguran KBRI/Kemlu  kepada  KaPOLRI sampai citra  negatif  negara lain terhadap POLRI.

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi