Kamis, 07 Agustus 2014

ANALISIS KOMPARATIF TENTANG METODE PENETAPAN MASA IDDAH DALAM KHI DAN UU. NO. 1 TAHUN 1974


BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah  Perkawinan merupakan sunnatullah yang berlaku kepada semua makhluk  hidup  yang  ada  di  dunia  ini,  baik  manusia,  hewan,  maupun  tumbuhan.
  Perkawinan, khususnya bagi manusia, ialah sebagai bentuk ibadah kepada Allah  dan  perintah  menjalankan  sunnah  Rasul.  Di  dalam  Al-Quran  banyak  ayat-ayat  yang menerangkan tentang perkawinan. Begitu pula didalam hadis, tidak sedikit  sabda  Nabi  yang  menjelaskan  masalah  perkawinan.  Sebab,  perkawinan  merupakan suatu bentuk peresmian hubungan seorang laki-laki dan perempuan.
 Dan  hubungan  antara  laki-laki  dan  perempuan  tersebut  tidak  bisa  dibiarkan  begitu saja. Harus melalui tahapan-tahapan agar hubungan itu menjadi resmi dan  sah. Sehingga hubungan terlarang antar sesama manusia bisa terhindarkan.

 Selain  itu,  perkawinan  bagi  manusia  bermanfaat  untuk  mendapatkan  keturunan dan melestarikan kehidupan. Bisa dibayangkan apabila manusia hidup  di  dunia  ini  tanpa  sebuah  ikatan  perkawinan.  Generasi  manusia  ke  depan  akan  punah  disebabkan  tidak  adanya  penerus  yang  menjalankan  roda  kehidupan.
 Maka, sudah seharusnya perkawinan itu dilaksanakan sebaik mungkin dan sesuai    Sayyid  Sabiq, Fiqhussunnah, diterjemahkan  oleh  Mohammad  Thalib,  Jilid  6,  (Bandung:PT  Alma’arif,1980),      2  dengan aturan  yang  berlaku. Hal  ini  bertujuan agar  manusia  bisa  hidup dengan  baik dan membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lainnya.
  Di  Indonesia  perkawinan  diatur  dalam  sebuah  perangkat  hukum  yang  dimaksudkan  untuk  mengatur  kehidupan  manusia  khususnya  yang  meliputi  hubungan  lain  jenis.  Hal  ini  kemudian  dikenal  dengan  istilah  hukum  positif.
 Hukum positif di Indonesia terbagi ke dalam hukum perdata dan hukum pidana.
 Sedangkan perkawinan itu sendiri termasuk wilayah hukum perdata, yaitu hukum  yang bersifat privat (pribadi).
 Dalam  masalah  perkawinan  ada  dua  landasan  hukum  yang  merupakan  referensi  untuk  menjelaskan  pokok-pokok  permasalahan  dalam  perkawinan,  yaitu  Kompilasi  Hukum  Islam  (KHI)  dan  Undang-Undang  No.  1  Tahun  1974  tentang  Perkawinan.  Dua  produk  hukum  tersebut,  yakni  KHI  dan  UndangUndang  No.  1  Tahun  1974  telah  menjadi  rujukan  utama  bagi  institusi,  badan  ataupun lembaga di Indonesia saat ini yang berkecimpung di dalam hukum islam  khususnya  di  bidang  perkawinan.  Baik  KHI  maupun  Undang-Undang  Perkawinan,  mengatur  segala  ketentuan  seputar  perkawinan.  Mulai  dari  dasar  perkawinan, syarat, pencegahan, perjanjian hingga masalah perceraian.
 KHI  dalam  sejarahnya  merupakan  gabungan  dari  beberapa  pendapat  Imam  Madzhab  yang  populer  di  kalangan  umat  Islam,  seperti  Imam  Syafi’i,  Hanafi,  Maliki,  Hanbali.  Berbagai  pendapat  imam-imam  tersebut  kemudian   Andi  Tahir  Hamid, Beberapa  Hal  Baru Tentang  Peradilan  Agama  dan  Bidangnya, (Jakarta :  Sinar Grafika, 1996),      3  diambil  dan  disesuaikan  dengan  hukum,  kondisi  dan  masyarakat  di  Indonesia.
 Selain  itu,  KHI  dalam  perumusannya  juga  mengadopsi  dari  beberapa  UndangUndang dan  hukum adat  yang  berlaku di  indonesia.
  Hal  itu dimaksudkan agar  KHI  bisa  berlaku  efektif  pada  rakyat  Indonesia  yang  beragam  dan  majemuk.
 Sehingga pada akhirnya KHI disahkan melalui Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun  1991  tentang  Kompilasi  Hukum  Islam.  Isi  KHI  sendiri  terdiri  dari  tiga  buku,  yaitu  buku I tentang Perkawinan, buku II tentang Hukum Kewarisan, dan  buku  III tentang Hukum Perwakafan.
  Dan yang akan dibahas dalam penelitian kali ini  hanya fokus kepada bab Perkawinan saja.
 Adapun Undang-Undang perkawinan terbentuk melalui sidang paripurna  DPR  pada  tanggal  22  Desember  1973  setelah  mengalami  sidang-sidang  yang  berlangsung selama tiga bulan. Undang-Undang tersebut kemudian diundangkan  sebagai UU. No. 1 Tahun 1974 pada tanggal 2 Januari 1974.
 Dalam  penelitian  ini,  penulis  ingin  mengkomparasikan  satu  poin  permasalahan yang terdapat pada KHI dan UU. No. 1 Tahun 1974, yaitu masalah  masa  iddah.  Masa  iddah  adalah  masa  menunggu  seorang  wanita  setelah  dia  diceraikan  suaminya.  Pada  masa  itu  dia  tidak  diperbolehkan  menikah  atau  menawarkan  diri  kepada  laki-laki  lain  untuk  menikahinya.
   Tujuannya  selain  untuk  mengetahui  kebersihan  rahim  seorang  wanita,  juga  memberi  kesempatan   Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta:Kencana, 2006),   Mohammad Daud Ali, Hukum Islam, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 2  Syaikh  Kamil  Muhammad  Uwaidah,  Al-Jami’  Fii  Fiqhi  An-Nisa’  ,Abdul  Ghoffar,  (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,1998), 4     4  kepada suami untuk memikirkan kembali keputusannya untuk bercerai. Bisa saja  selama  masa  iddah  berlangsung,  si  suami  menyadari  dan  menyesalkan  keputusannya untuk menceraikan istrinya. Dengan begitu, dia bisa rujuk kepada  istrinya  dan  menjalani  kembali  hubungan  perkawinan  tanpa  harus  mengadakan  akad baru.
 Masa  iddah di dalam  KHI diatur dalam Bab 17  bagian kedua pasal 153  ayat 1-6.
  WAKTU TUNGGU  Pasal 153  1)  Bagi  seorang  istri  yang  putus  perkawinannya  berlaku  waktu  tunggu  atau  iddah,  kecuali qobla  al  dukhul dan  perkawinannya  putus bukan karena kematian suami  2)  Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut :  a.  Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qobla al  dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari  b.  Apabila  perkawinan  putus  karena  perceraian  waktu  tunggu  bagi  yang  masih  haid  ditetapkan  3  (tiga)  kali  suci  dengan  sekurang-kurangnya  90  (sembilan  puluh)  hari,  dan  bagi  yang  tidak haid ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari  c.  Apabila  perkawinan  putus  karena  perceraian  sedang  janda  tersebut  dalam  keadaan  hamil,  waktu  tunggu  ditetapkan  sampai melahirkan  d.  Apabila  perkawinan  putus  karena  kematian,  sedang  janda  tersebut  dalam  keadaan  hamil,  waktu  tunggu  ditetapkan  sampai melahirkan  3)  Tidak  ada  waktu  tunggu   bagi  yang  putus  perkawinan  karena  perceraian  sedangkan  antara  janda  tersebut  dengan  bekas  suaminya qobla al dukhul 4)  Bagi  perkawinan  yang  putus  karena  perceraian,  tenggang  waktu  tunggu  dihitung  sejak  jatuhnya  putusan  Pengadilan  Agama  yang  mempunyai  kekuatan  hukum  tetap,  sedangkan  bagi  perkawinan  yang  putus  karena  kematian,  tenggang  waktu  tunggu  dihitung  sejak kematian suami   Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, (Surabaya : Arkola, t.t), 2     5  5)  Waktu  tunggu  bagi  istri  yang  pernah  haid  sedang  pada  waktu  menjalani  iddah tidak haid karena  menyusui,  maka  iddahnya tiga  kali waktu suci  6)  Dalam  hal  keadaan  pada  ayat  (5)  bukan  karena  menyusui,  maka  iddahnya  selama  satu  tahun,  akan  tetapi  bila  dalam  waktu  satu  tahun  tersebut  ia  berhaid  kembali,  maka  iddahnya  menjadi  tiga  kali waktu suci  Sedangkan pada UU. No. 1 Tahun 1974 masa iddah terdapat dalam bab 7  pasal 39 ayat 1-3.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi