Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP METODE PENERAPAN NILAI TANAH WARIS DI PULAU BAWEAN


BAB I  PENDAHULUAN  
A.  Latar Belakang Masalah  Islam  adalah  agama  yang  diturunkan  Allah  SWT  untuk  kepentingan,  keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi umat manusia baik secara lahir  maupun secara bathin. Oleh karena itu, agama Islam sanggup mengantarkan dan  memberikan  keselamatan  secara  utuh,  dan  juga  memiliki  ajaran  yang  sangat  lengkap  serta  mencakup  dalam  segala  aspek  kehidupan  termasuk  dalam  hal  kewarisan.
 Proses  perjalanan  kehidupan  manusia  adalah  lahir,  hidup,  dan  mati.
 Semua tahap  itu  membawa pengaruh dan akibat hukum kepada  lingkungannya,  terutama  dengan  orang  yang  dekat  dengannya,  baik  dekat  dalam  arti  nasab,  kerabat,  maupun  dalam  arti  lingkungan.  Kelahiran  seseorang  membawa  akibat  timbulnya hak dan kewajiban bagi dirinya dan orang lain serta timbulnya hokum  antara orang tuanya, kerabat, dan masyarakat.

  Demikian  pula  kematian  seseorang  membawa  pengaruh  dan  akibat  hukum  kepada  dirinya  sendiri,  keluarga,  kerabat,  serta  masyarakat  sekitarnya.
 Selain itu, kematian tersebut menimbulkan kewajiban orang lain bagi dirinya (si     Suparman  Usman  dan  Yusuf  Somawinata,  Fiqih  Mawaris  Hukum  Kewarisan  Islam, (Jakarta: Gema Media Pratama, 2002), Cet. II, Hal. 1.
 1  Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping 2  mayit)  yang  berhubungan  dengan  pengurusan  jenazahnya.  Dari  kematian  tersebut,  timbul  pula  akibat  hukum  lain  secara  otomatis,  yaitu  adanya  ilmu  hukum  yang  menyangkut  hak  para  keluarganya  (ahli  waris)  terhadap  seluruh  harta peninggalannya. Bahkan masyarakat dan negara (Baitul Ma>l)pun dalam  keadaan tertentu mempunyai hak atas harta peninggalan tersebut.
  Hukum waris Islam merupakan aturan yang mengatur tentang pengalihan  harta  seseorang  yang  meninggal  dunia  kepada  ahli  warisnya.  Hal  ini  berarti  menentukan  bahwa  siapa  saja  yang  menjadi  ahli  waris,  dan  berapa  porsi  yang  akan  didapat  dari  setiap  masing-masing  ahli  waris,  juga  menentukan  harta  peninggalan dan harta warisan yang akan dibagikan kepada ahli waris.
 Berangkat  dari  suatu  pemikiran  bahwa  adanya  suatu  hubungan  akan  menimbulkan  akibat  hukum,  dan  juga  mempunyai  implikasi  adanya  hak  dan  kewajiban.  Di  antara  kewajiban  yang  harus  dipenuhi  oleh  ahli  waris  adalah  merawat  dan  menjaga  ketika  seorang  pewaris  sedang  dalam  keadaan  sakit,  sedangkan hak yang akan didapat oleh ahli waris setelah pewarisnya meninggal  dunia adalah menerima warisan dari harta yang ditinggalkan oleh pewaris, baik  berupa harta, tanah, maupun hak-hak lain yang sah.
 Hukum  waris Islam  pada dasarnya  berlaku  kepada  setiap  umat  Islam  di  mana saja. Demikian juga, corak suatu negara Islam memberikan pengaruh atas  hukum  kewarisan  di  daerah  tertentu.  Pengaruh  itu  terbatas  dan  tidak  dapat   Ibid, Hal. 1.
 Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping 3  melampaui garis pokok dari ketentuan hukum kewarisan Islam tersebut. Namun  pengaruh tersebut dapat terjadi pada bagian-bagian yang berasal dari ijtihad atau  pendapat para ahli hukum Islam itu sendiri.
  Hukum  kewarisan  meduduki  tempat  yang  sangat  penting  dalam  hukum  Islam.  Hal  ini  dikarenakan  al-Quran  telah  mengatur  hukum  kewarisan  dengan  jelas dan terperinci. Hal ini dapat dimengerti sebab masalah warisan pasti dialami  oleh  setiap  manusia.  Karena  itu,  hukum  kewarisan  langsung  menyangkut  harta  benda  yang  apabila  tidak  diberikan  ketentuan  yang  pasti  akan  mudah  menimbulkan  sengketa  di  antara  ahli  waris.  Setiap  terjadi  peristiwa  kematian  seseorang,  segera  timbul  bagaimana  harta  peninggalannya  harus  diberlakukan  dan  kepada  siapa  saja  harta  itu  akan  dipindahkan,  serta  bagaimana  cara  pembagiannya. Hal ini diatur dalam hukum waris.
  Sebagaimana diatur dalam al-Quran surat An-Nisa>’ ayat 7.
 Artinya: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak  dan  kerabatnya,  dan  bagi  orang  wanita  ada  hak  bagian  juga  dari   Sajuti Thalib, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika Offest, 2008),  cet. IX, Hal. 1.
  A. Basyir, Hukum Waris Islam,cet. Ke- 14 (Yogyakarta: UII Pres Yogyakarta, 2001), Hal.
 3.
 Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping 4  harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak  menurut bagian yang telah ditentukan”.
  Firman Allah SWT dalam al-Qur’an Surat An-Nisa>’ ayat 8Artinya; “dan  apabila  sewaktu  pembagian  itu  hadir  kerabat,  anak  yatim  dan  orang  miskin,  maka  berilah  mereka  dari  harta  itu  (sekedarnya)  dan  ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik”.
  Hadis|Nabi yang mengatur tentang kewarisan di antaranya :  Hadis| dari  Muhammad  Abdullah  Ibnu  Abbas  yang  diriwayatkan  oleh  Imam Bukhori.
 .
 Artinya: “Berikanlah faraid (bagian yang telah ditentukan) kepada yang berhak  menerimanya  dan  selebihnya  berikanlah  kepada  laki-laki  dari  keturunan laki-laki yang terdekat (as}obah)”.(HR. Imam Bukhori) Harta warisan yang dimaksud dalam hukum Islam adalah segala sesuatu  yang  ditinggalkan  oleh  pewaris  yang  secara  hukum  dapat  beralih  kepada  ahli   Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Sari Agung, 2002), Hal.
Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping 5  warisnya. Dari pembahasan di atas adalah harta yang murni dari hak orang lain di  dalamnya. Pewarisan adalah suatu kejadian hukum yang mengalihkan hak milik  dari pewaris kepada ahli waris.
  Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Waris adalah salah satu  sarana untuk membagikan kekayaan. Hanya masalahnya, membagikan kekayaan  tersebut bukan merupakan illat bagi waris tersebut. Akan tetapi, sarana tersebut  hanya merupakan penjelasan tentang fakta waris itu sendiri. hal itu adalah karena  kekayaan, meski pemilikannya telah dimubahkan, namun kenyataanya kekayaan  tersebut tidak terus mengumpul pasca kematian orang tersebut, maka harus ada  sarana  untuk  mendermakannya  kepada orang  lain.  Pada  faktanya,  sarana  untuk  mendermakan kekayaan secara alami itu sudah bisa dibuktikan, dan itulah waris.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi