Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGGUNAAN MAHAR PEKERJAAN DALAM PERKAWINAN DI WILAYAH MIGAS DESA BEGED KEC. GAYAM KAB. BOJONEGORO


BAB I  PENDAHULUAN  
A. Latar Belakang  Kata  nikah  berasal  dari  bahasa  Arab   yang  merupakan masdar atau  kata  asal  dari  kata  kerja   sinonimnya tazawwaja kemudian  diterjemahkan  dalam bahasa Indonesia sebagai perkawinan. Menurut bahasa, An-Nika>hberarti  al-d}hammu wa-al-tada>khul( ) yaitu bertindih dan memasukkan.
 Menurut al-Fara’ An-Nukh adalah sebutan dari kemaluan. Perkawinan salah satu  ketentuan Allah yang umum berlaku pada semua makhluk baik kepada manusia,  hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
  Perkawinan  adalah  ikatan  lahir  batin  antara  seorang  laki-laki  dan  perempuan  untuk  memenuhi  tujuan  hidup  berumah  tangga  sebagai  suami  isteri  dengan  memenuhi  syarat  dan  rukun  yang  telah  ditentukan  oleh  syariat  Islam.

  Pada dasarnya menikah adalah fitrah manusia, Rasulullah saw menyebut menikah  adalah  sunnahnya.  Kita  paham  betul  bahwa  setiap  pasangan  muslim  dan  muslimah  mempunyai  tujuan  yang  utama  dalam  menikah  yaitu  mendapatkan  ridha Allah. Di dalam tujuan itu tersimpan perwujudan dan membentuk keluarga  yang sakinah mawa>ddah  wa  rah}mah.  Keluarga  sakinah  merupakan  dambaan   M. Thalib, Perkawinan Menurut Islam, (Surabaya : Al Ihklas, 1993), 1.
   M.  Afnan  Hafidh  dan  A.  Ma’ruf  Asrori,  Tradisi  Islami:  Panduan  Prosesi  Kelahiran,  Perkawinan dan Kematian, (Surabaya: Khalista, 2009), 88.
      2  setiap pasangan suami istri dalam kehidupan rumah tangga. Kita juga menyadari  bahwa  keluarga  sakinah  dapat  menciptakan  kedamaian,  kebahagiaan  dan  kesejahteraan.
 Sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ru>m ayat 21, yang berbunyi:  Artinya : “Dan  di  antara  tanda-tanda  kekuasaan-Nya  ialah  Dia  menciptakan  untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan  merasa  tenteram  kepadanya,  dan  dijadikan-Nya  diantaramu  rasa  kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar  terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
  Perkawinan adalah suatu kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan  manusia, perseorangan maupun kelompok. Sesugguhnya dengan jalan perkawinan  yang  sah,  pergaulan  laki-laki  dan  perempuan  terjadi  secara  terhormat  sesuai  kedudukan  manusia  sebagai  makhluk  yang  berkehormatan.  Pergaulan  hidup  berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram, dan penuh kasih sayang  antara  suami  istri.  Anak  keturunan  dari  perkawinan  yang  sah  menghiasi  kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan kelangsungan hidup manusia secara  bersih  dan  berkehormatan.
   Alquran  menjelaskan  bahwa  manusia  baik  pria  maupun wanita secara naluriah di samping mempunyai keinginan terhadap anak  keturunan,  harta  kekayaan,  dan  lain-lain  juga  mempunyai  kecenderungan  lawan  jenisnya.  Penyaluran  nafsu  syahwat  untuk  menjamin  kelangsungan  hidup  umat    Departemen  Agama  RI, Al-Qur’an  dan  Terjemahannya,, (Bandung:  Diponegoro,  2005),  406.
  Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawian Islam,(Yogyakarta : UII Press, 1999), 1.
     3  manusia  dapat  saja  ditempuh  melalui  jalur  luar  perkawinan  namun  dalam  mendapatkan  ketenangan  dalam  hidup  bersama  suami  istri  itu  tidak  mungkin  didapatkan  kecuali  melalui  jalur  perkawinan.
   Adapun  diantara  hikmah  yang  dapat  ditemukan  dalam  perkawinan  itu  adalah  menghalangi  mata  dari  melihat  kepada  hal-hal  yang  tidak  diizinkan syara’ dan  menjaga  kehormatan  diri  dari  terjatuh pada kerusakan seksual. Hal ini adalah sebagaimana Nabi bersabda:  .
 Artinya: Dari  Abdullah  berkata:  Rasulullah  SAW  bersabda  :  “Hai  para  pemuda, barang siapa yang telah sanggup di antaramu untuk kawin,  maka  kawinlah  karena  sesungguhnya  kawin  itu  dapat  mengurangi  pandangan (yang liar) dan lebih menjaga kehormatan.
  Sebagaimana  yang telah diketahui  bersama,  bahwa setiap perbuatan  bisa  dianggap sah apabila sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Dalam  Islam  suatu  perkawinan  dianggap  sah  jika  perkawinan  itu  telah  dilaksanakan  dengan  memenuhi  syarat dan rukunnya  sesuai dengan ketentuan-ketentuan  yang  ada dalam  hukum Islam.  Rukun  yang dimaksud dalam perkawinan adalah  suatu  hal yang pasti ada dalam perkawinan. Jadi syarat perkawinan masuk pada setiap  rukun perkawinan mempunyai syarat masing-masing yang harus ada pada tujuan  tersebut. Sehingga antara syarat dan rukun itu menjadi satu rangkaian (satu paket)  atau dengan kata lain saling terkait dan melengkapi.
  Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,(Jakarta: Kencana, 2009), 47.
  Al-Ima>m  Muhammad  Isma>’il  As}-S{an’ani,  Subulussala>m, Juz  3,  (Bandung:  Diponegoro, tt),109.
     4  Adapun  syarat-syarat  perkawinan  mengikuti  rukun-rukun  perkawinan  itu  sendiri.
   Kemudian  dari  kelima  rukun  kawin  tersebut,  terdapat  beberapa  syarat  yang  harus  terpenuhi  supaya  pelaksanaan  perkawinan  itu  sah.  Jadi,  jika  syaratsyaratnya terpenuhi, perkawinan menjadi sah dan dari sanalah timbul kewajiban  dan hak-hak perkawinan. Syarat itu ada yang berkaitan dengan rukun dalam arti  syarat yang berlaku untuk setiap unsur yang menjadi rukun. Dengan begitu rukun  perkawinan itu adalah segala hal yang harus terwujud dalam suatu perkawinan.
  Sedangkan  mahar  kedudukannya  sebagai  kewajiban  perkawinan  dan  sebagai  syarat sahnya perkawinan. Bila tidak ada mahar, maka pernikahannya tidak sah.
  Mahar, secara istilah diartikan sebagai harta yang menjadi hak istri dari suaminya  dengan adanya akad atau dukhu>l.
  Mahar  merupakan  kewajiban  calon  suami untuk  memberikannya  kepada  calon  mempelai  perempuan  atau  istri.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi