Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PERNIKAHAN SEBAGAI PELUNASAN HUTANG DI DESA PADELEGAN KECAMATAN PADEMAWU KABUPATEN PAMEKASAN


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah Allah  menjelaskan  bahwa seseorang  itu  telah  ditentukan  jodohnya,  hal  ini  dikarenakan  Allah  menciptakan  semua  makhluk-Nya  selalu  berpasangpasangan.  Ada  laki-laki  ada  perempuan,  ada  hujan  ada  terang,  ada  siang  ada  malam. Sesuai dengan firman-Nya dalam al-Qur’an Surat Yasi>n ayat 36 yaitu: Artinya:   Maha  Suci  (Allah)  yang  telah  menciptakan  semuanya  berpasangpasangan,  baik  dari  apa  yang  ditumbuhkan  oleh  bumi  dan  dari  diri  mereka  sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
  Berangkat  dari  penjelasan  ayat  di  atas,  dapat  dipahami  bahwa  semua  makhluk  yang diciptakan di  atas dunia ini semuanya  berpasang-pasangan. Dan  al-Qur’an adalah merupakan pedoman  dan petunjuk bagi kaum yang meyakini.

 Kehidupan berpasang-pasangan secara harfiyah bisa disebut dengan pernikahan.
 Pernikahan  merupakan  salah  satu  sunnah  Rasul  yang  dituntut  untuk  diikuti  umatnya termasuk umat muslim, maka selanjutnya Allah SWT memerintahkan  umat-Nya untuk  melakukan pernikahan. Dengan   melakukan pernikahan  sesuai  dengan  syariat  Islam,  Allah  menjanjikan  akan  memberikan  kehidupan  yang   Departemen  Agama  RI,  Al-qur’an  dan  Terjemahnya,,  (Surabaya:  CV  Pustaka  Agung  Harapan,  2006),    1   berkecukupan,  menghilangkan  berbagai  macam  kesulitan,  dan  diberikannya  kekuatan  yang  mampu  mengatasi  kemiskinan.  Dengan  pernikahan  berarti  membentuk    jalan  yang  mulia  untuk  mengatur  kepentingan  dan  kerukunan  rumah tangga.
  Sebagai umat Islam, pernikahan harus dilaksanakan sesuai dengan syarat  dan  rukun  yang  diatur  dalam  ajaran  agamanya  dan  tidak  juga  melupakan  apa  yang telah diatur oleh  Pemerintah. Karena rukun dan syarat menentukan suatu  perbuatan hukum, terutama yang menyangkut sah tidaknya perbuatan tersebut  dari  segi  hukum.
  Pernikahan  itu  dapat  menentramkan  jiwa,  menahan  emosi,  menutup  pandangan  dari  yang  dilarang  Allah  serta  untuk  mendapatkan  kasih  sayang suami isteri yang dihalalkan oleh Allah.
  Rukun yang paling pokok dalam sebuah ikatan pernikahan adalah adanya  persetujuan  kedua  mempelai  dan  kesepakatan  mereka  dalam  membina  ikatan.
 Sedangkan  kedua  hal  tersebut  tidak  dapat dirasakan  oleh    pancaindera, maka  dari itu hal tersebut harus diwujudkan dengan ungkapan dari kedua mempelai,  ungkapan  pertama  disampaikan  oleh  salah  satu  mempelai  yang  berisi  tentang  keinginannya untuk mengikat sebuah tali pernikahan, hal ini disebut dengan   M.A. Asyhari & Ummu Khoiroh, Ku Pinang Engkau Secara Islami,   (Surabaya: Putra Pelajar, 2001),     Amir Syarifuddin,  Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009),   H.S.A. Al-Hamdani,  Risalah Nikah, (Jakarta: Pustaka Amani,2001), 6   i>ja>b. Ungkapan  kedua akan disampaikan oleh pihak mempelai yang lain dengan  menyampaikan kerelaannya dan persetujuannya, hal itu disebut dengan qabu>l   Asas dan prinsip pernikahan itu dalam bahasa sederhananya yaitu  : a.  Asas sukarela b.  Partisipasi keluarga c.  Perceraian dipersulit d.  Poligami dibatasi secara ketat e.  Kematangan calon mempelai f.  Memperbaiki derajat kaum wanita Prinsip  yang  pertama  merupakan  hal  yang  penting  disoroti  dalam  pembahasan  ini  karena  hal  tersebut  menyangkut  hak  seseorang  dalam  menentukan pasangan hidup, dimana setiap pasangan  harus dalam keadaan rela  dan  telah  mampu  melakukan  persetujuan,  serta  bukan  orang  yang  dalam  pengampuan  orang  lain.  Menurut  hukum  adat,  pernikahan  dapat  merupakan  urusan  kerabat,  keluarga,  persekutuan,  juga  dapat  merupakan  unsur  pribadi,  tergantung pada tata susunan masyarakat yang bersangkutan. Dalam pandangan  masyarakat  adat,  pernikahan  itu  bertujuan  untuk  membangun  dan  memelihara  hubungan kekerabatan yang damai. Hal ini dikarenakan adanya nilai-nilai yang  menyangkut  tujuan  pernikahan  dan  kehormatan  keluarga  serta  kerabat   Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah,  Juz 2,  (Beirut, Lebanon: Da>r al- Fikr,  2006),    Amir Syarifuddin , Hukum Perkawinan…, 26   bersangkutan dalam pergaulan masyarakat, maka proses pelaksanaan pernikahan diatur  dengan  tata  tertib  adat  supaya  dapat  terhindar  dari  pelanggaran  yang  dapat menjatuhkan martabat keluarga dan kerabat yang bersangkutan.
  Dijelaskan  dalam    hukum  pernikahan  Islam  terdapat  beberapa  unsur  pernikahan,  seperti:  definisi  pernikahan,  dasar  hukum  pernikahan,  syarat  dan  rukun  pernikahan  serta  tujuan  pernikahan.  Tujuan  pernikahan  pada  umumnya  bergantung pada masing-masing individu yang akan melakukannya, karena lebih  bersifat  subyektif.  Namun  tujuan  pernikahan  secara  umum  yang  memang  diinginkan  oleh  semua  orang  yang  akan  melakukan  pernikahan,  yaitu  untuk  memperoleh kebahagiaan dan  kesejahteraan lahir batin menuju kebahagiaan dan  kesejahteraan dunia dan akhirat.
  Akad  dalam  pernikahan  berbeda  dengan  akad  hutang  (qirad}).  Akad  hutang (qirad})  dimaksudkan untuk berlemah lembut sesama manusia, menolong  urusan  kehidupan  mereka  dan  memudahkan  bagi  sarana  hidup  mereka  bukan bertujuan  untuk  memperoleh  keuntungan  bukan  pula  untuk  mengeksploitir.
 Karena  itulah  seseorang  yang  diberi  hutang  (qirad})  tidak  dibenarkan  mengembalikan  kepada  pemberi  hutang,  kecuali  apa  yang  mereka  terima  darinya atau semisalnya.
   Muchlis Marwan, Hukum Adat , (Surakarta: Departemen P & K Universitas Sebelas Maret,1995), 1-  Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat…,   Pasaribu,  Chairuman  dan  Lubis,  K.  Suhrawardi,  Hukum  Perjanjian  dalam  Islam,  (Jakarta:  Sinar  Grafika,  1994),  137     Salah  satu  problema  yang  menarik  untuk  senantiasa  dibahas  di  dalam  masalah pernikahan  ialah tujuan pernikahan.  Pada kenyataannya  banyak  orang yang menganggap  gampang  dengan tujuan pernikahan.  Persoalan  yang muncul,  merupakan  persoalan  yang  cukup  menarik  dibahas.  Karena  pernikahan merupakan  hal  penting  dalam  membentuk  keluarga  yang  akan  menjadikan  sebuah tatanan generasi-generasi yang baik kedepannya.  Seringkali kehidupan  dimasyarakat  terjadi  penyalahgunaan  sebuah  pernikahan  dengan  tujuan-tujuan  yang  tidak  sesuai  dengan  tujuan  pernikahan  menurut KHI pasal  3 ( pernikahan  bertujuan  untuk  mewujudkan  kehidupan  rumah  tangga  yang  saki>nah,  mawaddah,  warah}mah).


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi