Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN GUGATAN WARIS DALAM PUTUSAN HAKIM PENGADILAN AGAMA JOMBANG NO. 1056/PDT.G/2010/PA.JBG


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah Islam adalah agama rah}matan li al-‘a>lami>n, diantara prinsip-prinsip dasar  dan umum dalam syari’at Islam adalah mudah dan memudahkan (al-yusr  wa altaisi>r),  toleransi  dan  keseimbangan  (al-tasa>muh  wa  al-i’tidal)  dan  menghindari  kesulitan  dalam  memahami  ketentuan  hukum  syariah.  Islam  adalah  sebagai  agama  dan  juga  sebagai  hukum.  Jika  kita  berbicara  tentang  hukum  secara  sederhana terlintas dalam  pikiran kita  seperangkat norma yang mengatur tingkah  laku dalam masyarakat. Dalam sistem hukum Islam terdapat istilah al-ah}ka>m alkhamsah  yakni  penggolongan  hukum  yang  lima  yaitu  mubah},  sunah,  makruh,  wajib, h}aram.
  Segala  aturan  atau  hukum  tersebut  berfungsi  untuk  mengintegrasikan kepentingan  manusia  sehingga  tercipta  suatu  keadaan  yang  tertib.  Tujuan  dari hukum-hukum tersebut adalah al-maqa>sid al-syari> ’ah yaitu: 1. memelihara agama, 2.  memelihara jiwa, 3.  memelihara akal, 4.  memelihara keturunan,  5.  memelihara  harta.

   Zainuddin Ali, Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia,  (Jakarta: Sinar  Grafika, 2006), h 8.
  Ibid., h 12.
  Islam  sebagai  agama  tidak  hanya  mengatur  aspek-aspek  ‘ubudiyah  semata,  tetapi  juga  mengatur  aspek-aspek  mu’a> malah  (sosial  kemasyarakatan).
 Salah  satu  aspek  mu’a>malah  yang  terpenting  adalah  pengaturan  tentang  harta  warisan  yaitu  harta  yang  ditinggalkan  oleh  seseorang  yang  telah  meninggal  memerlukan  pengaturan  tentang  siapa  yang  berhak  menerimanya,  berapa  jumlahnya dan bagaimana cara mendapatkannya.
  Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa: ‚Ilmu itu ada tiga macam (ilmu  yang  utama),  dan  selain  dari  yang  tiga  itu  adalah  tambahan,  adapun  ilmu  yang  tiga  itu  adalah:  1.  Ayat  Al-Qur’an,  2.  Sunnah  yang  datang  dari  Nabi,  dan  3.
 Faridhah (ilmu faraidh/hukum kewarisan) yang adil.
  Al-Quran  sebagai  kitab  pedoman  telah  menggariskan  secara  rinci  seperangkat ayat-ayat hukum kewarisan, yang didalamnya telah ditentukan porsi  atau bagian secara pasti bagi masing-masing ahli waris sebagai zaw  al-furud yang  dinyatakan  dengan  angka-angka  pecahan  yaitu  1/8  (satu  per  delapan),  1/6  (satu  per enam), ¼ (satu per empat), 1/3 (satu per tiga), ½ (satu per dua), dan 2/3 (dua  per  tiga).  Selain  itu  ada  juga  bagian  yang  tidak  pasti  atau  disebut  dengan  ‘Ashabah.
   Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta : Prenada Media, 2004), h 3.
  Suhrawardi K.Lubis, Hukum Waris Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), h 6.
  Al-imam  al-hafiz  Jalaluddin  ‘Abdurrahman  bin  Abi  Bakr  al-Suyuti,  Syarah  Muslim  bin  Hajjaj, Jilid III, (Lebanon: Dar al-Kitab al-‘ilmiyah,2006 ), h 377.
  Hal  tersebut  secara  rinci  dijelaskan  dalam  QS.  Al-Nisa’  :  11-12  berikut  ini: Artinya:  Allah  mensyari’atkan  bagimu  tentang  (pembagian  pusaka  untuk)  anakanakmu.  Yaitu  bagian  seorang  anak  lelaki  sama  dengan  bagian  dua  orang  anak  perempuan;  dan  jika  anak  itu  semuanya  perempuan  lebih  dari  dua,  maka  bagi  mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang  saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan unuk dua orang ibu, bapak, masingmasingnya  seperenam  dari  harta  yang  ditinggalkan,  jika  yang  meninggal  itu  mempunyai anak; jika yang meninggal iu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi  oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat  sepertiga; jika yang meninggal  itu  mempunyai  beberapa  saudara,  maka  ibunya  mendapat  seperenam.
 (pembagian-pembagian  tersebut  diatas)  sesudah  dipenuhi  wasiat  yang  ia  buat  atau  (dan)  sesudah  dibayar  hutangnya.  (tentang)  anak-anakmu,  kamu  tidak  mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.
 Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha  Bijaksana.
  Surat Al-Nisa’ ayat 7: Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro,  2005), h 63.
  Artinya: ‚Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibubapa  dan  kerabatnya,  dan  bagi  orang  wanita  ada  hak  bagian  (pula)  dari  harta  peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian  yang telah ditetapkan.
  Berdasarkan uraian diatas, sangat jelas, bahwa hukum  kewarisan  adalah  hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta (tirkah) pewaris,  menentukan  siapa-siapa  yang  berhak  menjadi  ahli  waris  dan  berapa  bagiannya  masing-masing.
  Pembagian  harta  peninggalan  atau  harta  warisan  setelah  meninggalnya  pewaris  merupakan  bentuk  kewajiban  karena  berdasarkan  nash  yang qat’i (jelas, tegas serta tidak memerlukan penjelasan lain).
  Meskipun  al-Quran  dan  Hadis  telah  memerintahkan  untuk  membagi  harta waris, namun pada prakteknya sering timbul persoalan-persoalan kewarisan  yang  tidak  hanya  dapat  diselesaikan  berdasarkan  waris  Islam,  sehingga  timbul  cara-cara lain dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
 Karena setiap orang memiliki kepribadian, tradisi, kemampuan, profesi,  kepentingan  dan patokan tingkah laku yang beraneka ragam, maka hal itu dapat  juga  menjadi  sumber  perselisihan,  pertentangan  dan  persengketaan  di  antara  mereka. Oleh karena itu,  dibutuhkan lembaga peradilan sebagai tempat  mencari keadilan.  Dalam  literatur  fiqih  Islam,  untuk  berjalannya  peradilan  dengan  baik   Ibid., h 78.
  Kompilasi Hukum Islam, Pasal 171, (Jakarta: Media Center, 2006)  Fatchur Rahman, Ilmu Waris, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1981), h 34.
  dan  normal,  diperlukan  adanya  enam  unsur  yakni:  Qa>dhi  (Hakim),  H}ukum, Mah}ku>m  Bihi  (Penggugat),  Mah}ku<m  alaih  (Tergugat),  Mah}ku< m  lahu  (permohonan suatu hak), dan Putusan.
 Hukum  yang  digunakan  dalam  lingkup  Pengadilan  Agama  ada  dua  macam  yakni hukum materiil meliputi Al-quran, hadits, kitab-kitab fiqih, UU no.
 1  tahun  1974  tentang  perkawinan,  PP  no.  9  tahun  1975  tentang  pelaksanaan  undang-undang  no.1  tahun  1974  tentang  perkawinan,  Instruksi  Presiden  no.  1  tahun  1991  tentang  Kompilasi  Hukum  Islam,  dan  yurisprudensi.  Sedangkan  hukum  formalnya  meliputi  HIR  (Herzeine  Inlandsch  Reglement),  RBg (Reglement  Buiten  Govesten),  UU  no.  5  tahun  2004  tentang  perubahan  atas  undang-undang  nomor 14 tahun 1985 tentang mahkamah agung, UU no. 7 tahun  1989  tentang  peradilan  agama,  UU  no.  3  tahun  2006  tentang  perubahan  atas  undang-undang no.  7 tahun 1989 tentang peradilan agama,  dan UU  no.  20 Tahun  1947 tentang UU perulangan.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi