Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:STUDI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN PA SURABAYA NOMOR: 3862/Pdt.G/2010/PA.Sby TENTANG PEMBATALAN IKRAR WAKAF


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah Perwakafan  tanah  milik  merupakan  perbuatan  suci,  mulia  dan  terpuji  yang  dilakukan  oleh  seorang  (umat  Islam)  atau  badan  hukum,  dengan  memisahkan  sebagian dari harta kekayaan yang ia cintai berupa tanah hak milik  dan  melembagakannya  untuk  selama-lamanya,  menjadi  tanah  “wakaf-sosial”,  yaitu  wakaf  yang  diperuntukkan  bagi  kepentingan  peribadatan  atau  keperluan  umum  lainnya,  sesuai  dengan ajaran  hukum Islam.
  Sebagaimana firman  Allah  SWT, dalam surat ali-Imra>n ayat 92  Artinya:  "Kamu  sekali-kali  tidak  sampai  kepada  kebajikan  (yang  sempurna),  sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa  saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya ".

 (Q.S ali-Imra>n : 92)  Firman Allah dalam surat al-Baqara>h ayat 267 yang bunyinya: Menurut UU No. 41/04 tentang Wakaf, bahwa wakaf juga diperbolehkan untuk jangka waktu  tertentu.
  Budi  Harsono,  Hukum  Agraria  Indonesia  Sejarah  Pembentukan  Pokok  Agraria,  Isi  dan  Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2008, cet. XII, hal. 348.
  Departemen Agama RI, Al-Qur’a<n dan Terjemahannya. (Surabaya: Mekar, 2004), 77.    Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian  dari hasil usahamu yang baik-baik....."  (Q.S al-Baqara>h : 267)  Redaksi  al-Qur’a<n  surat  ali-Imra>n  ayat  92  dan  al-Baqara>h  ayat  267  tersebut, secara makna tekstual tidak menjelaskan wakaf sama sekali, namun para  ulama>’ menjadikan  redaksi  ini  sebagai  referensi  wakaf  tidak  melihat  pada  z}ahir  ayat,  namun meninjau pada makna yang terkandung di dalamnya yang secara implisit  menerangkan  wakaf  ditinjau  dari  keumuman  sedekah,  hal  ini  sesuai  dengan  definisi wakaf yaitu mengeluarkan harta wakaf untuk mendapatkan kebaikan.
  Dalam  konteks  inilah  maka  para  fuqaha>’  mengemukakan  h}adi>s  Nabi  Muhammad  Saw  yang  berbicara  tentang  keutamaan  sedekah  ja>riyah  sebagai  salah satu sandaran wakaf.  Diriwayatkan dari Abi> Hurai>rah: Artinya:  "Dari  Abi>  Hurai>rah  bahwasanya  Rasulullah  Saw.  bersabda:  Apabila  seorang meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara:  shadaqah  jariyah  atau  ilmu  yang  bermanfaat  atau  anak  shaleh  yang  mendoakan kedua orang tuanya". (HR. Muslim)  Para ahli hadits dan kebanyakan ahli fiqh mengidentikkan s{adaqah ja>riyah dalam  hadits ini adalah wakaf, yang pahalanya mengalir terus menerus kepada si wakif,  selama  harta  yang  diwakafkan  tersebut  dimanfaatkan  guna  urusan  ibadah atau   Ibid., 49.
  Abdul Manna, Fiqih Lintas Madzhab, (Kediri: PP al-Falah, 2009), 57.
  Ibn Hajr al-Asqola@ni@, Bulu@ghul Mara@m, (Surabaya: Da@r al-Ilmu, 2007), 19.
  kemaslahatan  umum.
  Untuk  mewujudkan  tujuan  wakaf  tersebut,  maka  pelaksanaannya  harus  sesuai  dengan  peraturan-peraturan  yang  berlaku,  baik  menurut  hukum  Islam  maupun  hukum  yang  telah  ditetapkan  oleh  Negara  (hukum positif).
 Sedangkan di Indonesia sumber-sumber pengaturan wakaf, antara lain:  Peraturan  Pemerintah  No.  28  Tahun  1977  tentang  Perwakafan  Tanah  Milik,  Permendagri  No.  6  Tahun  1977  tentang  tata  cara  pendaftaran  tanah  mengenai  Perwakafan  Tanah  Milik,  Permenag  No.  1  Tahun  1978  tentang  Peraturan  Pelaksana PP No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, dan berbagai  surat  keputusan  Menag  dan  Dirjen  Binbaga  Islam  Departemen  Agama,  serta  Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (KHI). Yang lebih penting diatas semua itu  adalah  Undang-undang  No.  41  tahun  2004  dan  Peraturan  Pemerintah  No.  42  Tahun  2006  tentang  Perwakafan.  Dalam  pasal  70  ditegaskan  bahwa  “semua  peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perwakafan masih tetap  berlaku  sepanjang  tidak  bertentangan  dan/atau  belum  diganti  dengan  peraturan  yang baru berdasarkan Undang-undang ini”.\  Sebelum adanya UU No. 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar Pokok  Agraria dan peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah  Milik,  masyarakat  Islam  Indonesia  masih  menggunakan  kebiasaan-kebiasaan   Juhaya S. Praja, Perwakafan di Indonesia Sejarah, Pemikiran, Hukum dan Perkembangannya,  (Bandung: Yayasan Piara, 1997), 8.
  Samsul Anwar, Studi Hukum Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Cakrawala, 2006), 63.
  keagamaan, seperti menggunakan kebiasaan perwakafan tanah dengan cara lisan  atas dasar saling percaya terhadap seseorang atau lembaga tertentu tanpa melalui  prosedur administrasi.
  Pelaksanaan  hukum  perwakafan  di  Indonesia  semula  masih  sangat  sederhana tidak disertai administrasi, cukup dilakukan  Ikrar  (pernyataan) secara  lisan.  Pengurusan  dan  pemeliharaan  tanah  wakaf  kemudian  diserahkan  ke  nad{ir,  oleh  karena  tidak  tercatat  secara  administratif,  maka  banyak  tanah wakaf  tidak  mempunyai  bukti  perwakafan  sehingga  banyak  tanah  wakaf  yang  hilang dan banyak pula yang menjadi sengketa di pengadilan.
  Hal  ini  membuktikan  bahwa  pada  masa  lalu  orang  mewakafkan  harta  bendanya  untuk  kegiatan  keagamaan  hanya  didasari  rasa  ikhlas,  berjuang  membesarkan  agama  Islam  tanpa  memerlukan  adanya  bukti  tertulis,  ini  juga  disebabkan  karena perwakafan dalam literatur fiqh tidak harus tertulis.  Apalagi  sebelum  keluarnya  PP  No.  28  Tahun  1977  tentang  Perwakafan  Obyek  Milik,  perwakafan obyek milik tidak diatur secara tuntas dalam bentuk hukum positif   Skripsi Arkamin,  Analisis Hukum Islam Terhadap Putusan PA Nganjuk tentang Sengketa  Wakaf di Desa Puhkerap kecamatan Rejoso, 4.
  Dalam pengelolaan harta wakaf, pihak yang paling berperan dalam berhasil tidaknya dalam  pemanfaatan  harta  wakaf  adalah  naz}ir,  yaitu  seseorang  atau  sekelompok  orang  dan  badan  hukum  yang  diserahi  tugas  oleh  si  wa>qif   (orang  yang  mewakafkan  harta)  untuk  mengelola  harta  wakaf  sesuai peruntukannya.
  Imam  Suhadi,  Wakaf  Untuk  Kesejahteraan  Umat,  (Yogyakarta:  PT  Dana  Bhakti  Prima  Yasa, 2002), 6.
  dan  belum  ada  penegasan  bahwa  Ikrar  Wakaf  tersebut  harus  tertulis  dalam  bentuk Akta Ikrar Wakaf.
  Tanah  wakaf  dalam  perkembangannya  masih  banyak  terdapat  masalah  baik  dari  segi  pengelolaannya,  maupun  dari  segi  pengamanan  atau  Penguasaannya.  Tidak  sedikit  terdapat  kasus  tanah  wakaf  yang  terjadi  di  tengah-tengah  masyarakat  yang  pada  akhirnya  terjadi  peralihan  penguasaan  tanah  wakaf  yang  semula  merupakan  aset  umat  dan  digunakan  untuk  kepentingan umat menjadi penguasaan hak milik pribadi.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi