Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:ANALISIS YURIDIS TERHADAP LEGALITAS PERCERAIAN DI LUAR PENGADILAN DI DESA SERA TENGAH KECAMATAN BLUTO KABUPATEN SUMENEP


BAB I  PENDAHULUAN  
A.  Latar Belakang Masalah  Pernikahan  merupakan  ibadah  sunnah  yang  sangat  penting  dalam  kehidupan  manusia  karena  dengan  melakukan  pernikahan  yang  sah,  hubungan  laki-laki  dan  perempuan  menjadi  terhormat,  sesuai  dengan  kedudukan  manusia  sebagai makhluk yang mulia dimuka bumi ini. Sementara nikah dari segi istilah  syara’  ialah  suatu  akad  yang  membolehkan  pasangan  suami  isteri  mengambil  kesenangan  diantara  satu  sama  lain  berdasarkan  cara-cara  yang  dibenarkan  syara’.
  Pernikahan  harus  didasari  dengan  cinta,  kasih  sayang  dan  saling  menghargai  serta  menghormati.  Hal  ini  dilakukan  agar  bahtera  rumah  tangga  dapat terpelihara dengan baik sehingga bisa abadi dan dapat mewujudkan tujuan  pernikahan yakni menjadi keluarga yang nyaman, damai, tenteram dan sejahtera.
 Namun jika antara suami isteri sudah tidak ada lagi rasa cinta, kasih sayang dan  saling  menghargai,  selalu  terjadi  perselisihan,  percekcokan,  meskipun  sudah  menempuh  jalan  damai  tetapi  tidak  berhasil  maka  jalan  terakhir  yang  harus  ditempuh adalah perceraian.

   Mohd  Saleh,  Perkawinan  dan  Perceraian  dalam  Islam, (Selangor  Darul  Ehsan:  Hazrah  Enterprise, 2009), 4.
 Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping  Perceraian  merupakan  salah  satu  cara  untuk  mengakhiri  sebuah  pernikahan.  Walaupun pada dasarnya pernikahan  memiliki tujuan  yang  bersifat  selama-lamanya,  tetapi  adakalanya  disebabkan  oleh  keadaan  tertunda  yang  mengakibatkan  pernikahan  tidak  dapat  dipertahankan  lagi  sehingga  harus  diputuskan di tengah jalan atau terpaksa diputus melalui perceraian.
 Perceraian dalam istilah fiqh disebut talak. Talak menurut arti yang umum  ialah  segala  macam  bentuk  perceraian  baik  yang  dijatuhkan  oleh  suami,  yang  ditetapkan  oleh  hakim,  maupun  perceraian  yang  jatuh  dengan  sendirinya  atau  perceraian karena meninggalnya salah seorang dari suami atau isteri.
  Sedangkan  menurut  KHI  pasal  117  perceraian  adalah  ikrar  suami  di  hadapan  sidang  Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan.
  Perceraian  merupakan  sesuatu  yang  diperbolehkan  tetapi  agama  Islam  memandang  bahwa  perceraian  adalah  sesuatu  yang  bertentangan  dengan  asasasas Hukum Islam. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW:  .
  Artinya: Dari  Ibnu  Umar  Radliyallaahu  'anhu  bahwa  Rasulullah  Shallallaahu  'alaihi wa Sallam bersabda: "Perbuatan halal yang paling dibenci Allah ialah cerai."  Ibnu Majah.
    Soemiyati, Hukum  Perkawinan  Islam  Dan  Undang-Undang  Perkawinan, (Yogyakarta:  Liberty, 2007), 103.
  Pasal 117 Kompilasi Hukum Islam   Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah dalam Mausu’ah Al Hadist Kitabu Sittah,(Riyadh : Darus  Salam, 2008), 2597.
  Hakim, Irfan Maulana, Bulughul Maram, (Bandung: Mizan Pustaka, 2010 ), 437.
 Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping  Dari  hadist  tersebut,  dapat  diketahui  bahwa  awalnya  talak  itu  dilarang,  karena  mengandung  pengertian kufur pada  nikmat  nikah,  merobohkan  tujuan  pernikahan,  serta  menyakiti  pihak  isteri,  keluarga,  dan  juga  anak-anak.  Akan  tetapi, Allah yang maha bijaksana menakdirkan bahwa pergaulan antara suamiisteri kadang-kadang  memburuk dan  menjadi  semakin  buruknya  sehingga tidak  ada lagi  jalan keluarnya. Dalam  hal  ini diizinkan perceraian karena tidak dapat  lagi ditegakkan garis-garis yang digariskan Allah SWT.
  Dalam  UU  No.  1  Tahun  1974  Tentang  Perkawinan  pasal  39  disebutkan  bahwa  perceraian  hanya  dapat  dilakukan  di  depan  sidang  Pengadilan  setelah  Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua  belah  pihak  dan  untuk  melakukan  perceraian  itu  harus  dilakukan  berdasarkan  alasan  yang  jelas  serta  dilakukan  dengan  tatacara  yang  telah  ditetapkan  dalam  peraturan perundangan.
 Dalam  KHI  pasal  123  juga  dijelaskan  bahwa  perceraian  itu  terjadi  terhitung  pada  saat  perceraian  itu  dinyatakan  di  depan  sidang.
   Jadi  dapat  dikatakan bercerai ketika perceraian itu diucapakan di depan sidang di hadapan  hakim-hakim  dan  saksi-saksi.  Kalau  merujuk  pada  pasal  ini  maka  perceraian  yang dilakukan di luar pengadilan tidak dapat dikatakan bercerai. Karena dasar  utamanya yaitu harus di depan sidang.
  Al-Kaff, Abdullah Zakiy, Fiqih Tujuh Madzhab,(Bandung: Pustaka Setia, 2000), 148.
  Pasal 123 Kompilasi Hukum Islam  Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping  Adapun  yang  berhak  menangani  kasus  perceraian  adalah  Pengadilan  Agama.  Dalam  hal  ini  telah  diatur  dalam  Peraturan  Pemerintah  No.  45  Tahun  1957  Tentang  Wewenang  Pengadilan  Agama  yang  menyatakan  bahwa  Pengadilan  Agama  atau  Mahkamah  Syari’ah,  memeriksa  dan  memutus  :  perselisihan  antara  suami-isteri  yang  beragama  Islam,  dan  segala  perkara  yang  menurut  hukum  yang  hidup  diputus  menurut  hukum  Agama  Islam  yang  berkenaan  dengan  nikah,  talak,  rujuk,  fasakh,  nafkah,  maskawin,  tempat  kediaman,  mut’ah  dan  sebagainya,  hadhanah,  perkara  waris  mal  waris,  wakaf,  hibah, sadaqah, baitul-mal dan lain-lain yang berhubungan dengan itu, demikian  juga  memutuskan  perkara  perceraian  dan  mengesahkan  syarat  taklik  sudah  berlaku.
  Selanjutnya  jika  perceraian  telah  diperiksa  dan  diputus  oleh  Pengadilan  maka  Kutipan  Akta  Nikah  (  Buku  Nikah)  masing-masing  suami-isteri  ditahan  oleh  Pengadilan  Agama  ditempat  talak  itu  terjadi.  Jadi,  yang  berwenang  mencabut  Buku  Nikah  dalam  hal  ini  adalah  Pengadilan  Agama,  kemudian  diteruskan  dengan  pengiriman  data  perceraian  ke  KUA  tempat  pernikahan  mereka  dilangsungkan  dan  melakukan  pencatatan  perceraian  karena  itu  merupakan suatu hal yang penting menyangkut administrasi kependudukan. Hal   Wantjik Saleh, Kehakiman dan Peradilan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1977), 70.
 Edited withthe trial version of Foxit Advanced PDF Editor To remove this notice, visit: www.foxitsoftware.com/shopping  ini sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi  Kependudukan  merupakan salah satu peristiwa penting.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi