Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP KEWAJIBAN MENIKAH EKSOGAMI DALAM ADAT MINANGKABAU DI NAGARI SIPANGKUR KECAMATAN TIUMANG KABUPATEN DHARMASRAYA SUMATERA BARAT


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah Allah  SWT  telah  menciptakan  makhluk  hidup  itu  berpasang-pasangan  yaitu  jantan  dan  betina,  laki-laki  dan  perempuan.  Tetapi  manusia  tidak  sama  dalam  hal  menyalurkan  insting  seksualnya  dengan  makhluk  lainnya,  yang  bebas  mengikuti  nalurinya tanpa aturan. Untuk menjaga kehormatan dan mertabat manusia maka Allah  memberikan  jalan  yang  terhormat  berdasarkan  kerelaan  dalam  suatu  ikatan  yang  disebut  dengan  pernikahan  atau  perkawinan.  Pernikahan  inilah  yang  diridhoi  Allah  dan  diabadikan  dalam  Islam  untuk  selamanya.

 Perkawinan  merupakan  suatu  perbuatan  yang  diperintahkan  oleh  Allah  kepada  ummat  manusia,  perintah  tersebut  dijelaskan dalam firman-Nya surat an-Nu>r ayat 32 “Dan kawinkanlah orang-orang  yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang  yang  layak  (berkawin)  dari  hamba-hamba  sahayamu  yang  lelaki  dan  hamba-hamba  sahayamu  yang  perempuan.  jika  mereka  miskin  Allah  akan  memampukan  mereka  dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”   Slamet Abidin dan H Aminuddin, Fiqih Munakahat 1, (Bandung: Pustaka Setia, 1999),  Departemen  Agama  RI,  al-Quran  dan  Terjemahannya,  (Bandung:  Jumanatul  „Ali-Art,  2005),  1   Perkawinan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor  1 Tahun 1974  ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri  dengan  tujuan  membentuk  keluarga  (rumah  tangga)  yang  bahagia  dan  kekal  berdasarkan  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa.
 Sedangkan  dalam  pengertian  populernya  perkawinan  adalah  akad  yang  memberikan  faedah  hukum  kebolehan  mengadakan  hubungan antara pria dan wanita dengan pemenuhan kewajiban masing-masing.
Sebagai  ummat  Islam,  perkawinan  haruslah  dilaksanakan  dengan  memenuhi  seluruh  rukun  dan  syarat  yang  sudah  ditentukan.   Perkawinan  yang  tidak  dapat  memenuhi  syarat  dan  rukunya  menjadikan  perkawinan  tersebut  tidak  sah  menurut  hukum.
 Prinsip-prinsip  perkawinan  merurut  hukum  Islam  dan  peraturan  perundangundangan  tentang  perkawinan  yang  berlaku  di  Indonesia  terdir i  dari  beberapa  asas,  diantaranya  asas  kesukarelaan,  asas  persetujuan,  dan  asas  kebebasan  memilih  pasangan. Di dalam asas kebebasan memilih pasangan  mengandung arti bahwa setiap  orang berhak untuk memilih pasangan menentukan bahwa setiap orang berhak untuk memilih  pasangan  perkawinannya   secara  bebas  asalkan  sesuai  syariat  Islam ,  yaitu  tidak melanggar ketentuan perkawinan menurut hukum Islam .
  Undang-undang  Republik  Indonesia  Nomor  1  Tahun  1974  Tentang  Perkawinan  Pasal  1,  (Tangerang Selatan: SL Media,t.t),   H.M.A.  Tihami  dan  Sohari  Sahrani,  Fikih  Munakahat,  Kajian  Fikih  Nikah  Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010),   Soemiyati,  Hukum  Perkawinan  Islam  dan  UUP  (UU  No.  1/1974),  cet.  6  (Yogyakarta:  Liberty, 2007), 5-6   Perkawinan  menurut hukum adat tidak hanya semata-mata  berarti suatu ikatan  antara  seorang  pria  dan  wanita  sebagai  suami  istri  untuk  maksud  mendapatkan  keturunan dan  membangun serta membina kehidupan keluarga rumah tangga, tetapi  juga berarti suatu hubungan  yang menyangkut para anggota  keluarga pihak laki-laki  dan  keluarga  pihak  perempuan.  Terjadinya  perkawinan,  berarti  berlakunya  ikatan  kekerabatan  untuk  saling  membantu  dan  menunjang  hubungan  kekerabatan  yang  rukun dan damai.
 Indonesia  merupakan  negara  yang terdiri dari  bermacam-macam  suku  bangsa,  tiap  suku  bangsa  mempunyai  sistem  perkawinan  adat  yang  berbeda.  Sistem  perkawinan menurut hukum adat tersebut ada tiga, pertama  endogami, dalam sistem  ini orang hanya diperbolehkan kawin dengan seorang   dari suku keluarganya sendiri.
Kedua exogami, dalam sistem ini orang diharuskan kawin dengan orang di luar suku  keluarganya.  Ketiga eleutherogami, sistem ini tidak mengenal larangan-larangan  atau  keharusan-keharusan  seperti  halnya  dalam  sistem  endogami  ataupun  exogami,  larangan-larangan  yang  terdapat  dalam  sistem  ini  adalah  larangan-larangan  yang  bertalian  dengan  ikatan  kekeluargaan.
 Dari  ketiga  sistem  perkawinan  tersebut,  masyarakat kenagarian Sipangkur menganut sistem eksogami. Masyarakat kenagarian Sipangkur  mewajibkan  atau  mengharuskan  kawin  dengan  orang  di  luar  suku  keluarganya.
 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1990),  Surojo Wignjodipuro, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, (Jakarta: CV Haji Masagung,  1992), 132   Wilayah pemerintahan  kenagarian  Sipangkur terdiri dari  beberapa suku antara  lain, suku Melayu dikepalai oleh seorang Ninik Mamak atau Kepala Kaum bergelar  Datuk  Penghulu  Mudo,  suku  Saligandi  dikepalai  oleh  seorang  Ninik  Mamak  atau  Kepala Kaum bergelar Datuk  Paduko Rajo, suku Mandahiling dikepalai oleh seorang  Ninik Mamak atau Kepala Kaum bergelar Datuk Marajo, suku Kaluai dikepalai oleh  seorang Ninik Mamak atau Kepala Kaum bergelar Datuk Rajo Penghulu. Suku -suku  tersebut  diatas  berasal  atau  pecahan  suku  tert ua  di  Alam  Minangkabau  yaitu  Bodi,  Caniago, Koto, Piliang.
 Memang dalam satu  Nagari  haruslah ada empat buah suku  menurut  peraturan  di  dalam  tata  negara  Minangkabau  seperti  disebutkan  di  dalam  kata  adat;  Nagari  bakaampek  suku,  Ampek  suku  nan  sekoto,  (Nagari  berkeempat  suku, empat suku yang sekoto).
pacl j : e �g; ��: span>menerima,  memeriksa,  menimbang,  memberi  keputusan  dalam  menyelesaikan  perkara  yang  diajukannya  dengan  pertimbangan  yang  matang  dan kajian mendalam, Pengadilan Agama harus banyak belajar dari kasus-kasus  yang telah ada, sesuai fakta kejadian dan demi keadilan dimasyarakat.
 Pada  buku  PTA  (Pedoman  Tehnis  Administrasi)  dan  TPA  (Tehnis  Peradilan  Agama) 2008, bahwa Pekawinan yang tidak dicatatkan oleh Pegawai  Pencatat  Nikah  (PPN)  berindikasikan  penyelundupan  hukum  untuk  mempermudah  poligami  tanpa  prosedur  hukum,  dan  manjadi  masalah  dalam  status,  hak-hak  waris  atau  hak-hak  lain  atas  kebendaan.  Maka  Pengadilan  Agama  harus  lebih  bijak  dalam  memeriksa  dan  memutus  permohonan  Itsbat   nikah  poligami,  ini  dengan  tujuan  agar  proses  Itsbat  nikah  poligami  tidak  dijadikan sebagai alat untuk melegalkan perbuatan penyelundupan hukum.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi