Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:ITSBAT NIKAH POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN DAN HAK ANAK


BAB I  PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah Islam  merupakan  aturan  yang  sesuai  dengan  fitrah  diciptakannya  manusia  dan  sejalan  dengan  kepentingan  kehidupannya.  Islam  memperhatikan  moralitas manusia memelihara kebersihan masyarakat, serta tidak mentoleransi  timbulnya  materealisme  yang  mendorong  terjadinya  kerusakan  akhlak  dalam  masyarakat  .
 Allah  menciptakan  laki-laki  dan  perempuan  sehingga  mereka  dapat  berhubungan satu sama lain, sehingga mencintai menghasilkan keturunan serta  hidup  dalam  kedamaian  sesuai  dengan  perintah  Allah  SWT  dan  petunjuk  dari  Rasul-Nya.  Sebagaimana  Allah  berfirman  dalam  Al-Qur’an  surat  ar-Rum  ayat  21: Artinya:  Dan  di  antara  tanda-tanda  kekuasaan-Nya  ialah  Dia  menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung  dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan  sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda  bagi kaum yang berfikir.

   Musfir Aj-Jahrni, Poligami dari berbagai Persepsi, (Jakarta:Gema Insani Press,1997), 66.
  Tim Disbintalad, Al-Qur’an Terjemah Indonesia, (Jakarta:Sari Agung, 1995), 796.
  Secara  realita  perkawinan  adalah  bertemunya  dua  makhluk  lawan  jenis  yang mempunyai kepentingan dan pandangan hidup yang sejalan. Sedang tujuan  perkawinan itu adalah agar manusia mempunyai kehidupan yang bahagia dunia  akhirat,  atau  dengan  kata  lain  perkawinan  bertujuan  untuk  mewujudkan  kehidupan  rumah  tangga  yang  sakinah,  mawadah  warahmah.  Seiring  dengan  tujuan  tersebut,  dapat  diartikan  juga  agar  perkawinan  menjadi  kekal  abadi  sehingga  tidak  putus  begitu  saja.  Pondasi  untuk  membentuk  dan  membina  kelangsungan  keluarga  demikian  itu  adalah  adanya  ikatan  lahir  batin  antara  seorang  suami  dan  seorang  isteri.  Hukum  mengharapkan  itu  semua  terwujud  apabila dilaksanakan berdasarkan hukum yang berlaku  .
 Menurut  Undang-Undang  Nomor  1  tahun  1974  pasal  1,  perkawinan  adalah  “ikatan  lahir  batin  antara  seorang  pria  dengan  seorang  wanita  sebagai  suami  isteri  dengan  tujuan  membentuk  keluarga  yang  bahagia  dan  kekal  berdasarkan Ketuhanan Yang Maha  Esa”  .  Dengan pasal ini dapat dilihat tujuan  pernikahan  itu  sendiri  yaitu  untuk  membentuk  kelurga  bahagia  dan  kekal  berdasarkan  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa  .  Rumusan  tersebut  mengandung  harapan  bahwa  dengan  melangsungkan  pernikahan  akan  diperoleh  suatu  kebahagiaan, baik materiil maupun spiritual.
  Titik Triwulan dan Trianto,  Poligami Perspektif Perikatan Nikah,  (Jakarta: Prestasi Pustaka,  2007), 5.
  Department agama  RI,  Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Dalam Lingkup Peradilan  Agama, Undang-Undang Perkawinan, 131.
  Asmin, Status Perkawinan Antara Agama, (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1986), 20.
  Sebagaimana dalam Undang - Undang Perkawinan disebutkan pada pasal  2 ayat (2): tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan  yang  berlaku.  Sedangkan  di  dalam  kompilasi  Hukum  Islam  juga  disebutkan,  pada pasal 6 ayat (2): “perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan pegawai  pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum”. Kemudian pasal 7 ayat (1)  menyatakan : “perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah”  .
 Demikianlah  untuk  melangsungkan  perkawinan  harus  dilaksanakan  menurut  tata  cara  yang  ditetapkan  oleh  peraturan  Perundang-undang  yang  berlaku.  Apabila  tidak  dilakukan  demikian,  banyak  orang  yang  menyebut  perkawinan  itu  hanya  di  bawah  tangan  atau  perkawinan  sirri  .  Secara  agama  perkawinan ini sah, akan tetapi tidak mempunyai kekuatan hukum, karena tidak  memiliki  bukti-bukti  perkawinan  yang  sah  menurut  peraturan  perundangundangan yang berlaku  .
 Satu  hal,  jalur  nikah  sirri  telah  menjadi  pilihan  bagi  mereka  yang  bermaksud  untuk  beristeri  lebih  dari  satu  orang  (poligami).  Dari  nikah  sirri  inilah  kemudian  mereka  lanjutkan  kepada  permintaan  untuk  ditetapkan  pernikahannya dengan melalui jalur itsbat nikah poligami. Jalur ini mereka pilih   Abdurrahman,  Kompilasi  Hukum Islam  di  Indonesia,  (Jakarta:  Akademika  Pressindo,  2001),  114.
  Amir  Nuruddin  Dan  Azhari  Akmal  Tarigan,  Hukum  Perdata  Islam  Di  Indonesia,  (Jakarta:  Pernada Media, 2004), 124.
  Jaih  Mubarok,  Modernisasi  Hukum  Perkawinan  di  Indonesia,  (Bandung:  Pustaka  Bani  Quraisy), 87.    dibandingkan  dengan  melaksanakan  prosedur  poligami  menurut  ketentuan  Undang-Undang  Perkawinan.  Oleh karena itu perlu dipikirkan dan dikaji secara  mendalam  sebelum  dan  atau  dalam  menetapkan  kebijakan  penegakan  hukum  dalam  memberikan  alternatif  penyelesaian  permasalahan  kebutuhan  dan  kepastian hukum terhadap nikah siri melalui Itsbat nikah poligami.
 Banyak  permasalahan  yang  bisa  muncul  dari  adanya  itsbat  nikah  poligami,  misalnya  mengenai  status  baru  bagi  isteri  maupun  anak  hasil  nikah  sirri  ataupun  isteri  dan  anak-anak  yang  dinikahi  secara  sah  sebelumnya  (isteri pertama).  Maka  Pengadilan  Agama  dalam  mengambil  keputusan  terhadap  permohonan  itsbat nikah poligami  isteri poligami yang diajukan ke Pengadilan  Agama  harus  menerima,  memeriksa,  menimbang,  memberi  keputusan  dalam  menyelesaikan  perkara  yang  diajukannya  dengan  pertimbangan  yang  matang  dan kajian mendalam, Pengadilan Agama harus banyak belajar dari kasus-kasus  yang telah ada, sesuai fakta kejadian dan demi keadilan dimasyarakat.
 Pada  buku  PTA  (Pedoman  Tehnis  Administrasi)  dan  TPA  (Tehnis  Peradilan  Agama) 2008, bahwa Pekawinan yang tidak dicatatkan oleh Pegawai  Pencatat  Nikah  (PPN)  berindikasikan  penyelundupan  hukum  untuk  mempermudah  poligami  tanpa  prosedur  hukum,  dan  manjadi  masalah  dalam  status,  hak-hak  waris  atau  hak-hak  lain  atas  kebendaan.  Maka  Pengadilan  Agama  harus  lebih  bijak  dalam  memeriksa  dan  memutus  permohonan  Itsbat   nikah  poligami,  ini  dengan  tujuan  agar  proses  Itsbat  nikah  poligami  tidak  dijadikan sebagai alat untuk melegalkan perbuatan penyelundupan hukum.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi