Sabtu, 09 Agustus 2014

Skripsi Syariah:STUDI HUKUM ISLAM TENTANG ADAT PEMBERIAN WASIAT KEPADA ANAK LAKI-LAKI SULUNG DI DESA TLAGAH KECAMATAN GALIS KABUPATEN BANGKALAN


BAB I  PENDAHULUAN  
A. Latar Belakang  Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat manusia yang ingin mencapai  kebahagiaan dunia dan akhirat.
 Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk suatu  umat atau suatu abad, akan tetapi al-Qur’an diturunkan untuk seluruh umat  manusia sepanjang masa, karena itu luasajarannya adalah sama dengan luasnya  umat manusia. Al-Qur’an sebagai aturan hukum bagi seluruh umat manusia,  khususnya bagi umat muslim, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat ArRa’d ayat: 37 yang berbunyi sebagai berikut “Dan demikianlah Kami turunkan al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar)  dalam bahasa Arab, dan seandainya kamumengikuti hawa nafsu mereka setelah  datang pengetahuan padamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan  pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. 13 : 37).

 Berdasarkan bunyi ayat di atas, berarti setiap manusia terlebih lagi  mereka yang menyatakan beriman kepada al-Qur’an (ajaran Islam), harus taat  kepada seluruh aturan hukum yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian,   Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran Quran, h.
 Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, h. 464   setiap muslim berkewajiban mentaati seluruh aturan hukum yang telah diajarkan  oleh agama Islam.
Salah satu bidang hukum dalam Islam adalah masalah wasiat yakni  hukum yang mengatur tentang perpindahan hak kepemilikan harta peninggalan  (tirkah).
 Wasiat juga dapat diartikan sebagai suatu pernyataan kehendak  seseorang mengenai apa yang akan dilakukan terhadap harta bendanya sesudah  dia meninggal dunia.
 Menurut para Ulama’ wasiatadalah pemberian hak untuk  memiliki suatu benda atau mengambilmanfaatnya, setelah meninggalnya si  pemberi wasiat, melalui pemberian suka rela (tabarru’).
 Hal ini sesuai dengan  firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 180-181 yang berbunyi “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang di antara kamu datang (tanda-tanda)  kematian, jika dia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk Ibu,  Bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orangorang yang bertakwa. Maka barang  siapa mengubah wasiat itu setelah  mendengar, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui”   Kompilasi Hukum Islam, h.
 M. Idris Ramulyo, Perbandingan Dan Hukum Kewarisan Islam, h.
 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, h.
 Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, h. 4..4   Mengacu pada ayat di atas, menunjukkan betapa pentingnya masalah  wasiat tentang harta kekayaan yang bakal dibagi-bagikan oleh pemberi wasiat  kepada penerima wasiat. Ayat tersebut juga menerangkan tentang rukun dan  syarat wasiat, salah satunya adalah  mengenai penerima wasiat dan kadar  pemberian wasiat.
Menurut ulama’ Mazhab az-Zahiri dan Abi Ibrahim Ismail bin Yahya alMuzani (tokoh fiqh Mazhab Syafi’i) berpendapat bahwa berwasiat kepada ahli  waris, sekalipun di izinkan oleh ahli waris yang lain hukumnya tidak sah.
 Menurut pendapat jumhur ulama’ wasiatkepada ahli waris hukumnya tidak sah.
 hal ini sesuai h}adi>s| nabi Muhammad saw:  “Diceritakan dari Abdul Wahab bin Najdah diceritakan dari Ibn ’Aiyas dari  Habila Ibn Muslim dari Abu Umamah, ia berkata aku mendengar Rosulullah Saw  bersabda, Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada tiap-tiap yang  berhak. Oleh karena itu, tidak ada wasiat kepada ahli waris.”  (HR. Abi< Da<ud)  Dalam hukum Islam bagi orang yang menerima wasiat bukanlah seorang  ahli waris, sehingga tidak sah hukumnyaapabila seseorang yang berwasiat,   Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, h. 1  Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita Edisi Lengkap, diterjemahkan oleh m.
Abdul ghoffar, dari kitab al-Jami’ fii Fiqhi an-Nisa’,h.
 Abi< Da<ud, Sarah Sunan Abi< Da<ud, h. 324   mewasiatkan harta bendanya kepada ahli warisnya.
 Sebagaimana sabda Nabi  Muhammad saw, yang berbunyi “Diceritakan dari Abdul Wahab bin Najdah diceritakan dari Ibn ’Aiyas dari  Habila Ibn Muslim dari Abu Umamah, ia berkata aku mendengar Rosulullah Saw  bersabda, Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada tiap-tiap yang  berhak. Oleh karena itu, tidak ada wasiat kepada ahli waris.”  (HR. Abi< Da<ud)  Maka tetaplah hadits tersebut sebagaimana makna zhahirnya, yaitu tidak  ada wasiat bagi ahli waris. Barangsiapamensyaratkan persetujuan ahli waris,  maka syarat tersebut bathil (tidak sah). Karena syarat tersebut tidak ada dalam  Kitabullah.
 Begitu juga dalam kadar pemberian harta wasiat, sudah ditentukan dalam  hukum Islam. Bahwa kadar dalam mewasiatkan hartanya tidak boleh melebihi  sepertiga harta peninggalan, sehingga tidak sah hukumnya bagi orang yang  berwasiat melebihi sepertiga harta peninggalannya.
 Sebagaimana sabda nabi  Muhammad saw, yang berbunyi:  Ibnu Rusy<d, Bidayah al-Mujtahid,jilid 2, diterjemahkan oleh Imam Ghazali, dari kitab asli  Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid, h.
 Abi< Da<ud, Sarah Sunan Abi< Da<ud, h.
 http:// Larangan Wasiat Bagi Ahli Waris.com  Sudarsono, Hukum Waris Dan Sistem Bilateral, h.107   ْ “Dari Sa’ad bin Abi Waqash RA. ia pernah berkata, Rasulullah SAW,  menjengukku sedang sakit pada haji wada’, kemudian saya bertanya kepada  beliau, wahai Rasulullah penyakitku semakin berat, sedangkan saya ini  mempunyai harta yang banyak dan tidak ada yang bakal mewarisi kecuali  seorang anak perempuan, bolehkah saya mensedekahkannya dua pertiga kata  saya? beliau bersabda, tidak boleh. saya bertanya lagi, saya sedekahkan  setengahnya ? beliau bersabda, tidak. sepertiga sepertiga itu banyak  sesungguhnya kamu meninggalkan ahli waris mu dalam keadaan kaya itu lebih  baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan meminta-minta pada  orang lain.” (H.R.Muslim)  Dalam hukum wasiat jumhur ulama’ berpendapat, bahwa seseorang tidak  diperbolehan berwasiat kepada ahli warisnya.
 Begitu juga dalam jumlah harta  yang diwasiatkan, seseorang tidak dibolehkan berwasiat melebihi sepertiga dari  hartanya, baik wasiat itu diberikan kepada orang lain maupun kepada ahli  warisnya, dan dalam wasiat tersebut harus dihadiri minimalnya dua orang  saksi.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi