Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:STUDI KOMPARASI TENTANG BATAS USIA ANAK DALAM HAK NAHPASCA PERCERAIAN MENURUT ORDINAN 43 KELUARGA ISLAM NEGERI SARAWAK DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM


BAB I  PENDAHULUAN  
A.  Latar Belakang Masalah   Anak adalah makhluk sosial yang harus diakui keberadaannya, dihargai  harkat martabatnya sebagaimana orang dewasa, karena anak adalah aset yang  sangat berharga dibandingkan dengan  harta kekayaan lainnya, dalam  membentuk keluarga, masyarakat, dan negara. Anak juga merupakan amanah,  nikmat dan anugerah serta karunia yang Allah berikan kepada manusia.
  Bagi orang tua, anak tersebut diharapkan dapat mengangkat derajat dan  martabat orang tua kelak apabila ia dewasa, menjadi anak yang baik yang selalu  mendoakannya apabila ia meninggal. Berangkat dari pemikiran inilah, baik  bapak maupun ibu dari anak-anak itu sama-sama mempunyai keinginan keras  untuk dapat lebih dekat dengan anak-anaknya agar dapat membimbing langsung  dan mendidiknya agar kelak ketika anak-anaknya sudah dewasa dapat tercapai  apa yang dicita-citakan itu.

  Demikian pula anak-anak yang terlahirdari perkawinan itu, selalu ingin  dekat dengan orang tuanya sampai mereka dapat berdiri sendiri dalam  mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini. Anak adalah amanah Allah SWT  sebagai hasil perkawinan antara ayah dan ibu, sebagai amanah anak harus dijaga  sebaik mungkin oleh yang memegangnya, yaitu orang tua. Mempunyai anak   yang saleh dan selalu mendoakan orang tuanya merupakan idamansetiap orang,  seperti mana dalam sebuah hadis Nabi menjelaskan (  Artinya:  “Dari Abu Hura>irah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Apabila  anak keturunan Adam meninggal dunia,maka akan terputuslah amal  daripadanya kecuali dari tiga perkara: s}ada>qah ja>riyyah, ilmu yang  bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya.”    Dalam perspektif hukum Islam pengasuhan anak sering dikenal dengan  sebutan kata H{ad}a>nah yang menurut bahasanya berarti “meletakkan sesuatu  dekat tulang rusuk atau di pangkuan”,karena ibu waktu menyusukan anaknya  meletakkan anak itu di pangkuannya, seakan-akan ibu di saat itu melindungi dan  memelihara anaknya, sehingga “H{ad}a>nah” dijadikan istilah yang maksudnya:  “pendidikan dan pemeliharaan anak sejak dari lahir sampai sanggup berdiri  sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak itu.
   Para ahli fiqh mendefinisikan h} ad} a>nahialah “melakukan pemeliharaan  anak-anak yang masih kecil laki-laki ataupun perempuan atau yang sudah besar,  tetapi belum tamy>iz, tanpa perintah daripadanya, menyediakan sesuatu yang  menjadikan kebaikannya, menjaganyadari sesuatu yang menyakiti dan   Abu al-H}usain Muslim bin al-Hajjaj al-Quraisy an-Naisa>buriy, S}ah}ih} Muslim , Juz III,  (Dahlan: Indonesia, tt.), h. 1255   Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana,2003), h. 175   merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akalnya agar mampu berdiri sendiri  menghadapi hidup dan memikul tanggung jawabnya.
   Manakala definisi menurut Ordinan 43 Keluarga Islam Negeri Sarawak  Tahun 2001 ialah hak untuk menjaga anak-anak dengan memiliki hak penjagaan  ke atasnya serta memelihara kebajikannya termasuk memberi kasih sayang,  menyediakan tempat tinggal, memberi pendidikan dan membiayai pelajaran  anak-anak itu.
   Adapun menurut Kompilasi Hukum Islam sebagaimana yang dijelaskan  dalam pasal 1 huruf (g) yang berbunyi: “Pemeliharaan anak atau h}ad}a>nahialah  kegiatan mengasuh, memelihara dan mendidik anak hingga dewasa atau mampu  berdiri sendiri”.
   Masalah pemeliharaan dan pendidikan anak telah diatur dalam hukum  Islam dengan jelas, bahwa orang tuanyalah yang memegang peran penting  (tanggung jawab) untuk melakukan dan melaksanakan h}ad} a>nahterhadap anakanaknya (keturunan) dengan sebaik-baiknya. Tapi malangnya, kebanyakan  timbulnya perselisihan dalam rumah tangga adalah kurangnya kepercayaan  antara suami istri, sehingga kadang-kadang membawa keguncangan serta  berakhir dengan perceraian. Dengan adanyaperceraian, maka salah satu pihak   Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 8, (Bandung: PT Alma’arif, 1980), h. 173   Arieff Salleh Rosman, Isu Wanita dalam Perundangan Islam, (Johor Darul Takzim,  Malaysia: Universiti Teknologi Malaysia, 2008), h. 24   Dedi Supriyadi, Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, (Bandung:  Pustaka Al-Fikriis, 2009), h. 118   yang paling dirugikan adalah sang anak, karena dengan perceraian tersebut maka  anak kehilangan kasih sayang yang selama ini telah dia dapatkan.
  Dalam hadis Rasulullah SAW menyatakan bahwa ibulah yang paling  berhak dalam pengasuhan anak yang belum mumay>yiz seperti dalam hadis  berikut:  ْ (  Artinya:  “Dari hadis yang diriwayatkan oleh Amr bin Syuaib dari ayahnya, dari  kakeknya, Abdullah bin Amr bahwa seorang perempuan berkata  kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku  ini telah menjadikan perutku sebagai tempat (naungan)-nya, air  susuku menjadi minumannya, dan pangkuanku tempat berteduhnya.
Sedang ayahnya telah mentalakku seraya menginginkan untuk  mengambilnya dari ku”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kamu  lebih berhak terhadapnya selama belum menikah”.
  Berdasarkan Ordinan 43 KeluargaIslam Negeri Sarawak Tahun 2001  tentang bab pemeliharaan anak, orang yang paling berhak memelihara anak yang  belum mumay>yizadalah ibunya. Seperti yang terkandung di dalam seksyen  (pasal) 85 sub sekysen (ayat) 1 yang berbunyi:  1.  Tertakluk kepada seksyen 86, ibu adalahyang paling berhak dari segala  orang bagi menjaga anak kecilnyadalam masa ibu itu masih dalam  perkahwinan dan juga selepas perkahwinannya dibubarkan.
2.  Jika Mahkamah berpendapat bahawaibu adalah hilang kelayakkan  mengikut Undang-undang Islam dari mempunyai hak terhadap h}ad}a>nahatau   Abu Daud Sulaiman bin Al-‘Asy’ats As-Sajastani, Sunan Abu Daud Juz I, (Beirut: Daar  Fikr, 2003), h, 525   penjagaan anaknya, maka hak itu, tertakluk kepada sub seksyen (3),  hendaklah berpindah kepada salah seorang daripada yang berikut mengikut  susunan keutamaan yang berikut, iaitu:  a.  Nenek sebelah ibu hingga ke atas;  b.  Bapa;  c.  Nenek sebelah bapa hingga ke atas;  d.  Kakak atau adik perempuan seibu sebapa;  e.  Kakak atau adik perempuan seibu;  f.  Kakak atau adik perempuan sebapa;  g.  Anak perempuan dari kakak atau adik perempuan seibu sebapa;  h.  Anak perempuan dari kakak atau adik perempuan seibu;  i.  Anak perempuan dari kakak atau adik perempuan sebapa;  j.  Emak saudara sebelah ibu;  k.  Emak saudara sebelah bapa;  l.  Saudara mara lelaki yang boleh menjadi warisnya sebagai ‘asabah.
 Adapun di dalam KHI pasal 156 ayat (a) mengatakan:  a.  Anak yang belum mumay>yizberhak mendapatkan h}ad} a>nah dari ibunya,  kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan  oleh:  1)  Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;  2)  Ayah;  3)  Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;  4)  Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;  5)  Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ibu;  6)  Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi