Kamis, 07 Agustus 2014

Skripsi Syariah:TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI CALON ISTRI TINGGAL DI KEDIAMAN CALON SUAMI PASCA KHITBAH DI DESA KARANGMANGU KECAMATAN NGAMBON KABUPATEN BOJONEGORO


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah Islam adalah sebuah ajaran agama yang disyariatkan oleh Allah SWT kepada  manusia sampai akhir zaman.  Kehadiran agama Islam  yang dibawa Nabi Muhammad  SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang  sejahtera lahir  dan  batin.  Dan  Islam  merupakan  suatu  ajaran  yang  bertujuan  untuk  mencapai  kemaslahatan  dan  kebahagiaan  dunia  dan  akhirat,  karena  didalamnya  terdapat  berbagai  petunjuk  tentang  bagaimana  seharusnya  manusia  itu  menyikapi  kehidupan  ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.
 Agama  Islam  telah mengatur 3 (tiga) hal  yang fundamental, yaitu hubungan  manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan diri sendiri dan hubungan manusia  dengan sosial masyarakat.  Aspek hukum  yang mengatur hubungan manusia dengan  tuhan  disebut  ibadah,  sementara  aspek  hukum  yang  mengatur  hubungan  manusia  dengan  manusia  lain,  alam  dan  lingkungan  disebut  mua’amalah.  Sedang  bagian  muamalah  biasanya  meliputi  :  Hukum  niaga,  munakahat,  hukum  wajib,  hukum  pidana, hukum tata negara, hukum internasional, hukum acara dan lain-lain,  terakhir   Studi Islam IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam, (Surabaya : IAIN Press,2004), h. 108   inilah yang termasuk didalamnya membahas tentang tata cara sebelum menikah yang  terdiri dari beberapa syarat dan rukun.

 Jelaslah bahwa di sini Islam bukanlah agama yang hanya mengajarkan ajaranajaran  ritual  saja,  akan  tetapi  juga  mengajarka n  tata  etika  dan  moral  serta  sosial  kemasyarakatan,  yang  diantaranya  adalah  tata  cara  pernikahan  (perkawinan)  yang  sebelumnya ada tahapan-tahapannya, yaitu taaruf (mengenal) dan khitbah (pinangan).
 Begitu  besar  peran  suami  istri  dalam  keluarga,  sehingga  Islam  selalu  memperhatikan  hubungan  antara  pria  dengan  seorang  wanita,  baik  sebelum  dan  sesudah terjadinya akad nikah.
 Sebelum  menikah  ada  beberapa  fase-fase  yang  harus  dilalui,  yaitu  pertama  adalah  acara  taaruf,  yang  mana  dari  pihak  laki-laki  mengutus  seorang  perempuan  yang dipercaya atau orang lain yang masih menjadi mahromnya si perempuan untuk  menyelidiki perempuan yang akan dipinang tersebut. Dengan tujuan mengetahui atau  mengenal si perempuan,  apakah ia masih gadis (belum ada ikatan perkawinan  atau  tunangan  dengan  orang  lain)  ataukah  seorang  janda,  ia  cacat  ataukah  sempurna  tubuhnya,  ia  dari  keluarga  baik-baik  atau  tidak,  ia  sholehah  (berakhlak  dan  taat  menjalankan agamanya) ataukah sebaliknya serta banyak lagi hal untuk diketahui.
 Kemudian setelah diketahui dan yakin terhadap keadaan perempuan tersebut  dan  layak  untuk  dinikahi  oleh  si  laki-laki  sebagaimana  yang  disabdakan  oleh  Nabi  Muhammad saw  Artinya  :“  Perempuan  dinikahi  karena  empat  perkara  :  karena  hartanya,  keturunannya,  kecantikannya  dan  agamanya,  pilihlah  olehmu  karena  agamanya  niscaya engkau berbahagia”.
  Maka  diadakanlah  fase  kedua  yaitu  acara  khitbah  yang  mana  disebut  peminangan, dari pihak laki-laki ke pihak perempuan.
 Adapun  khitbah  itu  adalah  peminangan  kepada  seorang  wanita  untuk  dijadikan  istri,  atau  suatu  tanda  ikatan  dari  laki-laki  kepada  perempuan  untuk  dijadikan istri dikemudian hari dengan melalui prosesi keagamaan yang sudah umum  berlaku di tengah-tengah  masyarakat,  yaitu dari pihak keluarga pria datang kepada  pihak  keluarga  wanita  untuk  mengadakan  acara  pinangan  dengan  melalui  musyawarah  dan  kesepakatan  biasanya  ditandai  pemberian  cincin  atau  lainnya,  dengan  tujuan  tidak  diperkenankan  orang  lain  melamar  atau  menikahi  perempuan  yang sudah dipinang tersebut.
 Dalam  ajaran  Islam  setelah  khitbah  atau  dalam  istilah  sekarang  tunangan,  adalah  merupakan  hubungan  yang  belum  dihalalkan  untuk  bertemu  berduaan  atau   Ibnu Hajar al-Asqalani, Tarajamah Bulughul Maram, Diterj. Muh.Sjarief Sukandy, (Bandung  : al -Ma’aarif, 1986) h   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta :  Depdikbud, 2009), h   Slamet Abidin, Fiqih Munakahat 1, (Bandung : Pustka Setia,1999), h 41   bahkan bepergian bersama-sama  sebagaimana pergaulan orang yang sudah menikah layaknya  suami  istri,  sebab  tunangan  itu  hanyalah  suatu  ikatan  janji  untuk  menuju  nikah  bukan  pernikahan,  oleh  karenanya  hal  tersebut  belumlah  sampai  pada  taraf  halal bahkan semuanya masih dikategorikan haram.
 Dari  uraian  diatas  dapat  disimpulkan  bahwa  menyendiri  dengan  tunangan  hukumnya  haram.Agama  tidak  memperkenankan  melakukan  sesuatu  terhadap  pinangannya,  kecuali  melihat.  Hal  ini  dikarenakan  menyendiri  (berduaan)  dengan  pinangan  akan  menimbulkan  perbuatan  yang  dilarang  agama.  Akan  tetapi,  bila  ditemani  oleh  salah  seorang  mahramnya  guna  mencegah  terjadinya  perbuatan perbuatan maksiat, maka dibolehkan  .
 Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad saw  “Dari Ibnu Abbas dari Nabi  saw., Beliau bersabda : “ Janganlah seorang laki -laki  bersama  dengan  seorang  perempuan,  melainkan  (hendaklah)  besertanya  (ada)  mahromnya.” (HR.Bukhori)  Khitbah hanyalah suatu ikatan janji untuk menuju jenjang pernikahan, maka  tidak  diperkenankan  sedikitpun  untuk  mengikuti  jejak  dan  aturan  pergaulan  orang   M.A.Tihami , Fiqih Munakahat, (Jakarta : Raja Grafindo perkasa, 2010), h.
  Ibnu Hajar al-Asqalani, Panduan Lengkap Masalah Fiqh, Diterj.Irfan Hakim, (Bandung : Mizan Pustaka, 2010), h.459.
  yang sudah menikah, karenanya hal tersebut belumlah sampai pada taraf halal, seperti  bepergian bersama, bersenda gurau dan lain sebagainya.
 Mengenai  pergaulan  seseorang  yang  belum  melakukan  pernikahan,  yang  mana ia masih baru selesai melaksanakan peminangan, maka ada larangan-larangan  baginya  yang  menjadi  tolak  ukur  dalam  mengadakan  pergaula n  kepada  perempuan  yang  telah  dipinangnya.  Pergaulan  bagi  orang  yang  masih  dalam  tunangan  adalah  terlarang  mutlak  secara  syar’i,  untuk  berdua-duaan  tanpa  didampingi  mahram  si  perempuan yang bijaksana dan mengerti batasan-batasan agama mengenai pergaulan  antara laki-laki dan perempuan.  Sehingga keduanya diharapkan selama dalam ikatan  khitbah untuk menjaga kehormatan, kemulyaan dan harga dirinya masing-masing.
 Pada  masa  tunangan  itulah  kedua  belah  pihak  memiliki  kesempatan  dan  berusaha  mengenal  calon  pasangan  hidupnya  dengan  batasan-batasan  yang  telah  diatur  oleh  Islam,  kalau  ternyata  ada  kesesuaian  maka  perkawinan  dapat  dilangsungkan,  tetapi  kalau  terdapat  ketidaksesuaian,  bolehlah  pertunangan  dapat  dibatalkan  dengan  cara  yang  arif.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi