Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEND PAYOUT RATIO PADA INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI BURSA EFEK INDONESIA



BAB I PENDAHULUAN 
A.  Latar Belakang 
Dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional suatu negara,  diperlukan pembiayaan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat. Kebutuhan  pembiayaan pembangunan di masa mendatang akan semakin besar. Kebutuhan  yang semakin besar ini tidak akan dapat dibiayai oleh pemerintah saja melalui  penerimaan pajak dan penerimaan lainnya. Untuk itu pasar modal sebagai salah  satu alternatif pembiayaan pembangunan harus dapat memfasilitasi perkembangan  ekonomi pasar.
Pasar modal membantu dunia usaha untuk dapat memperoleh sebagian  atau seluruh pembiayaan jangka panjang yang dibutuhkan. Di pasar modal, para  pemodal dapat melakukan investasi melalui pemilikan berbagai surat-surat  berharga baik yang bersifat penyertaan (saham) maupun yang bersifat pinjaman  (obligasi) serta berbagai instrumen derivatif termasuk  rights, warrants, dan  options (Anwar, 2008:4). Investasi di pasar modal merupakan penanaman modal  dibidang aset keuangan yang pada dasarnya mengharapkan suatu hasil atas efek  yang dibeli. Walaupun demikian, perlu diperhatikan bahwa pilihan investasi  selalu harus mempertimbangkan tingkat harapan keuntungan di satu sisi dan  tingkat risiko di sisi lain.
 Dalam kegiatan investasi, secara umum dikenal adanya prinsip bahwa  semakin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan maka semakin tinggi pula  tingkat risiko yang kemungkinan dihadapi, dan sebaliknya semakin rendah tingkat  keuntungan yang diharapkan maka semakin rendah pula kemungkinan risiko yang  dihadapi (high risk high return and low risk low return). Dalam hubungannya  dengan kepemilikan saham melalui pasar modal, masyarakat dapat ikut menikmati  keberhasilan perusahaan melaui pembagian dividen dan peningkatan harga saham  yang diharapkan (capital gain) (Lubis, 2008:9).
Capital gain  merupakan jumlah yang mencerminkan kelebihan hasil  penjualan aktiva modal yang melebihi dari biaya asli aktiva tersebut. Dividen  adalah bagian laba yang diberikan emiten kepada pemegang saham. Dari laba  bersih yang diperoleh perusahaan, sebagian dibayarkan dalam bentuk dividen  kepada para pemegang saham sedangkan sebagian lainnya disisihkan sebagai laba  ditahan (retained earning) yang berfungsi untuk pertumbuhan perusahaan.
Kebijakan pembayaran dividen mempunyai pengaruh terhadap pemegang  saham dan perusahaan yang membayar dividen. Umumnya perusahaan cenderung  memberikan dividen dengan jumlah yang relatif stabil atau meningkat secara  teratur. Kebijakan ini kemungkinan besar disebabkan oleh asumsi bahwa investor  melihat kenaikan dividen sebagai suatu tanda yang baik dimana perusahaan  memiliki prospek cerah, demikian pula sebaliknya jika pembayaran dividen oleh  perusahaan menurun maka dianggap tidak memiliki prospek yang cerah. Selain  itu, pemberian dividen yang relatif stabil diakibatkan adanya asumsi bahwa  investor cenderung lebih menyukai dividen yang tidak berfluktuasi (dividen yang  stabil).
 Keputusan dividen perusahaan menjadi sangat penting karena menentukan  apakah aliran dana diberikan kepada investor dan apakah dana ditahan untuk  diinvestasikan kembali. Perusahaan harus memeriksa relevansi antara laba yang  ditahan untuk diinvestasikan kembali (retained earning to be reinvested) dengan  laba yang dibagikan kepada para pemegang sahamnya dalam bentuk dividen  (revenue that devided to the shareholders as dividend). Pertumbuhan perusahaan  dan dividen adalah dua hal yang diinginkan perusahaan tetapi sekaligus  merupakan suatu tujuan yang berlawanan.
Untuk mencapai tujuan tadi perusahaan menetapkan kebijakan dividen  yaitu kebijakan yang dibuat oleh perusahaan untuk menetapkan proporsi  pendapatan yang dibagikan sebagai dividen yang membuat semakin sedikit laba  yang dapat ditahan dan sebagai akibatnya ialah menghambat tingkat pertumbuhan  perusahaan. Sebaliknya, kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar labanya  berarti bagian dari laba yang tersedia untuk pembayaran dividen adalah semakin  kecil. Persentase laba yang dibayarkan perusahaan dalam bentuk dividen tunai  pada pemegang saham disebut dengan rasio pembayaran dividen atau yang sering  disebut Dividend Payout Ratio (Sartono, 2001:281).
Dividend payout ratio memiliki informasi yang berguna bagi perusahaan  dan para pemegang saham. Bagi perusahaan, informasi yang terkandung dalam  dividend payout ratio digunakan untuk mempertimbangkan dalam penetapan  pembagian jumlah dividen. Bagi pemegang saham, informasi yang terkandung  dalam dividend payout ratio  digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam  pengambilan keputusan  investasi. Semakin tinggi  dividend payout ratio  yang  ditetapkan oleh perusahaan akan menyebabkan laba ditahan yang semakin kecil   sehingga dana yang tersedia untuk ditanamkan kembali ke dalam perusahaan  semakin kecil. Hal itu menyebabkan pertumbuhan perusahaan terhambat.
Besarnya dividen yang dibayarkan ke pemegang saham ditentukan pada  rapat dewan komisaris. Pertimbangan besarnya dividend payout ratio ini diduga  sangat berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan. Bila kinerja keuangan  perusahaan bagus, diharapkan mampu untuk menetapkan besarnya dividend  payout ratio yang mana besarnya sesuai dengan harapan pemegang saham yaitu  mendapatkan dividen dalam jumlah yang besar. Kinerja keuangan perusahaan  dapat dilihat melalui laporan keuangan perusahaan yaitu dengan menganalisis  rasio keuangan melalui laporan keuangan tersebut.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen antara lain  posisi  kas atau  likuiditas, kebutuhan dana untuk membayar hutang, tingkat  ekspansi yang tinggi, dan skala perusahaan (Sartono, 2000:254). Sedangkan  Husnan dan Puji Astuti (1994) (dalam Sudarsi, 2002:2) menyebutkan bahwa  operating cash flow dan tingkat laba mempengaruhi kebijakan dividend payout  ratio.
Cash Position atau likuiditas merupakan faktor penting penentu jumlah  dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham. Oleh karena dividen  merupakan cash outflow, maka makin kuatnya posisi kas atau likuiditas  perusahaan berarti makin besar kemampuannya membayar dividen.
Debt to Equity Ratio  (DER) merupakan rasio hutang terhadap modal.
Tujuan dari rasio ini adalah untuk mengukur  bauran dana dalam neraca dan  membuat perbandingan antara dana yang diberikan oleh pemilik (ekuitas) dan  dana yang dipinjam (hutang). Hutang meningkatkan baik laba maupun risiko.
 Semakin besar hutang, semakin besar risiko yang ditanggung. Dengan  menambahkan hutang proporsi dividen yang dibayarkan menjadi lebih kecil  karena harus membayarkan kewajiban terlebih dahulu.
Return on Assets  (ROA) menunjukkan kemampuan modal yang  diinvestasikan dalam total aktiva untuk menghasilkan laba perusahaan. Semakin  besar Return on Assets (ROA) maka semakin besar kemungkinan dividen yang  dibagikan oleh perusahaan karena rasio ini menunjukkan pula tingkat efisiensi  investasi yang nampak pada tingkat perputaran aktiva.
Growth Potential  (GP) menunjukkan potensi perusahaan untuk  bertumbuh. Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin besar  kebutuhan akan dana untuk membiayai perluasan atau pertumbuhan tersebut.
Semakin besar kebutuhan  dana dimasa mendatang maka semakin mungkin  perusahaan menahan pendapatan, bukan membayarnya sebagai dividen.
Firm Size  mencerminkan ukuran perusahaan berdasarkan kapitalisasi  pasarnya. Faktor ini menjelaskan bahwa suatu perusahaan yang mapan dan besar  memiliki akses yang lebih mudah ke pasar modal. Bagi perusahaan yang sudah  mapan dan besar lebih mudah mempertahankan dividend payout ratio yang tinggi  dibandingkan dengan perusahaan yang kecil.
Berikut ini adalah tabel yang memperlihatkan bagaimana pengaruh Cash  Position, Debt to Equity Ratio, Return on Assets, Growth Potential, dan Firm Size terhadap Dividend Payout Ratio pada periode 2006-2009.
 Tabel 1.1 Nilai Rata-Rata Cash Position, Debt to Equity Ratio, Return on Assets, Growth  Potential, dan Firm Size Serta Dividend Payout Ratio periode 2006-2009.
2006  2007  2008  2009 Cash Position  1,53  1,84  1,90  1,58 Debt to Equity Ratio  0,82  0,86  0,94  1,45 Return on Assets  14,63  14,17  15,25  18,17 Growth Potential  11,74  18,81  22,35  9,97 Firm Size  28,13  28,29  28,48  28,58 Dividend Payout Ratio  50,98  53,63  63,84  55,15 Sumber: www.idx.co.id (2010, diolah) Cash Position perusahaan yang semakin besar menggambarkan bahwa  semakin besar pula kemampuannya dalam membayar dividen (Sudarsi, 2002:4).
Dari tabel diatas nilai dividend payout ratio berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi  nilai cash position, ketika nilai cash position naik maka dividend payout ratio juga mengalami kenaikan dan begitu pula sebaliknya.
Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam  memenuhi kewajibannya melalui modal sendiri. Semakin tinggi kewajiban maka  akan semakin rendah kemampuan perusahaan dalam membayar dividen (Sudarsi,  2002:04). Namun pada tahun 2006-2007, debt to equity ratiomeningkat dari 0,82  menjadi 0,86 tetapi dividend payout ratio juga mengalami kenaikan dari 50,98%  menjadi 53,63%. Begitu pula pada tahun 2007-2008, debt to equity ratio yang  mengalami peningkatan dari 0,86 menjadi 0,94 juga diikuti oleh kenaikan dari  dividend payout ratio dari 53,63% menjadi 63,84%.
Return on Assets (ROA) menunjukkan ukuran keseluruhan keefektifan  manajemen dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia. Semakin tinggi  pengembalian yang dihasilkan semakin banyak dividen yang mungkin dibagikan  (Sundjaja dan Barlian, 2002:122). Akan tetapi pada tahun 2006-2007, return on  assets mengalami penurunan dari 14,63% menjadi 14,17% sementara dividend   payout ratio malah mengalami kenaikan dari 50,98% menjadi 53,63%. Sedangkan  pada tahun 2008-2009, return on assets yang mengalami kenaikan dari 15,25%  menjadi 18,17% tidak diikuti oleh dividend payout ratio yang malah mengalami  penurunan dari 63,84% menjadi 55,15%.
Growth Potential  (GP) menunjukkan potensi pertumbuhan perusahaan  yang diukur dengan perbandingan total aset. Semakin cepat tingkat pertumbuhan  perusahaan, semakin besar dana untuk membiayai perusahaan sehingga  pembagian dividen menjadi lebih kecil (Sartono, 2000:255). Namun pada tahun  2006-2007, growth potential  yang mengalami kenaikan dari 11,74% menjadi  18,81% juga diikuti oleh kenaikan dividend payout ratio dari 50,98% menjadi  53,63%. Begitu pula pada tahun 2007-2008, nilai growth potential yang naik dari  18,81% menjadi 22,35% juga diikuti oleh naiknya dividend payout ratio dari  53,63% menjadi 63,84%. Sedangkan pada tahun 2008-2009, nilai growth  potential yang mengalami penurunan dari 22,35% menjadi 9,97% diikuti juga  oleh penurunan dividend payout ratio dari 63,84% menjadi 55,15%.
Firm Size  menunjukkan ukuran perusahaan berdasarkan kapitalisasi  pasarnya. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin tinggi pula dividen  yang dibayarkannya (Sartono, 2000:255). Namun pada tahun 2008-2009, nilai  firm size  mengalami peningkatan dari 28,48 menjadi 28,58 akan tetapi nilai  dividend payout ratio malah mengalami penurunan dari 63,84% menjadi 55,15%.
Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa fluktuasi cash position diikuti oleh fluktuasi dividend payout ratio yang searah. Variabel lain yaitu debt  to equity ratio yang mengalami peningkatan juga belum tentu dapat menurunkan  pembagian dividen yang dilakukan perusahaan. Persentase return on assets yang   mengalami penurunan tidak menjadikan perusahaan untuk menurunkan dividen  yang akan dibagikan begitu pula ketika return on assets  yang mengalami  kenaikan tidak menjadikan perusahaan untuk menaikkan pembagian dividennya.
Persentase growth potential yang mengalami kenaikan (penurunan) tidak  menjadikan perusahaan melakukan penurunan (kenaikan) dalam pembagian  dividen. Nilai firm size yang terus mengalami kenaikan juga tidak membuat  perusahaan terus menaikkan dividen yang dibagikan.
Tidak semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia  membagikan devidennya kepada para pemegang saham, baik berupa deviden  tunai maupun deviden kas.  Ini dikarenakan pertimbangan-pertimbangan yang  dilakukan perusahaan guna mencapai pertumbuhan perusahaan melalui  penggunaan laba yang diperoleh.
Pada tahun 2009, emiten disektor industri barang konsumsi mampu  mencetak laba bersih sebesar Rp. 16,49 triliun atau naik 45,03% dibandingkan  dengan laba bersih dari sektor ini pada tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan  mencapai 66,11% (www.bataviase.co.id). Selama periode 2006-2009 tercatat  sebanyak 11 perusahaan industri barang konsumsi yang membagikan dividen  kepada para pemegang sahamnya dari 33 perusahaan yang terdaftar di BEI.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk menganalisis rasiorasio keuangan yang diduga berpengaruh terhadap dividend payout ratiodengan  judul “Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada  Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
 B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan masalah  sebagai berikut: “Apakah Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA),  Growth Potential (GP), dan Firm Size berpengaruh terhadap Dividend Payout  Ratio (DPR) pada indutri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI)?”  C. Kerangka Konseptual Persentase laba yang dibayarkan perusahaan dalam bentuk dividen tunai  pada pemegang saham disebut dengan  dividend payout ratio  atau rasio  pembayaran dividen. Faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio antara lain: Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA),  Growth Potential (GP), dan Firm Size.
Dividend payout ratio  mencerminkan kemampuan perusahaan untuk  membayarkan dividen setiap tahun kepada pemegang saham. Peningkatan hutang  akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang  saham karena kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen  (Sundjaja dan Barlian, 2002:391).
Cash position merupakan posisi kas perusahaan dan faktor penting yang  harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan untuk menentukan besarnya  dividen yang akan dibayarkan. Perusahaan yang memiliki posisi kas yang  semakin kuat akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen  (Sudarsi, 2002:4).
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan salah satu ukuran paling mendasar  dalam keuangan perusahaan. Rasio ini merupakan pengujian yang baik bagi   kekuatan keuangan perusahaan. Tujuan dari rasio ini adalah untuk mengukur bauran dana dalam neraca dan membuat perbandingan antara dana yang diberikan  oleh pemilik (ekuitas) dan dana yang dipinjam (hutang). Hutang meningkatkan  baik laba maupun risiko. Semakin besar hutang, semakin besar risiko yang  ditanggung. Dengan menambahkan hutang ke dalam neracanya, perusahaan  secara umum dapat meningkatkan profitabilitasnya, yang kemudian menaikkan  harga sahamnya, sehingga meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham  dan membangun potensi pertumbuhan yang lebih besar dengan syarat biaya  hutang lebih kecil daripada dana ekuitas (Walsh, 2004:118).
Return on Assets (ROA) merupakan tolak ukur kemampuan perusahaan  dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang digunakan. Rasio ini menunjukkan  pula tingkat efisiensi investasi yang nampak pada tingkat perputaran aktiva.
Apabila return on assets  (ROA) meningkat maka kemungkinan pembagian  dividen juga akan meningkat (Horne dan Wachowicz, 2005:224).
Growth Potential (GP) adalah potensi pertumbuhan perusahaan yang  diukur dengan perbandingan total aset. Tingkat pertumbuhan yang tinggi  memerlukan dana yang besar, sehingga laba yang diperoleh lebih banyak ditahan  dibandingkan untuk dibagikan kepada para pemegang saham (Sartono, 2000:255).
Firm Size  menunjukkan besar kecilnya perusahaan berdasarkan  kapitalisasi pasarnya. Perusahaan yang besar dan mapan mampu menghasilkan  dividend payout ratio yang tinggi dibandingkan perusahaan yang kecil (Sartono,  2000:255).
 Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan  sebelumnya, maka kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan  sebagai berikut : Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber: Sundjaja dan Barlian (2002), Sudarsi (2002), Walsh (2004), Horne dan Wachowicz (2005), Sartono (2000) (dimodifikasi) D.  Hipotesis Penelitian Berdasarkan  perumusan masalah dan kerangka konseptual yang telah  dikemukakan, maka hipotesis dari penelitian ini adalah: “Cash Position, Debt to  Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm  Size berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio pada industri barang konsumsi  di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
Cash Position (X1) Debt to Equity Ratio (X2)  Return on Assets (X3)  Dividend Payout Ratio (Y) Growth Potential (X4)  Firm Size (X5)   E.  Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui  dan menganalisis  pengaruh Cash  Position, Debt to Equity Ratio (DER) dan Return on Assets (ROA), Growth  Potential (GP), dan Firm Size secara signifikan terhadap Dividend Payout  Ratio pada industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2.  Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: a. Bagi Perusahaan Industri Barang Konsumsi Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam penentuan kebijakan  dividen. Faktor-faktor yang diteliti tersebut diharapkan dapat membantu  manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan  besarnya dividen yang dibayarkan.
b. Bagi Investor Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat  untuk pengambilan keputusan investasi di pasar modal (saham). Dengan  menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembayaran dividen  per lembar saham investor berharap dapat melakukan prediksi pendapatan  dividend payout ratio yang diterima oleh pemegang saham biasa.
c. Bagi Peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan  menambah wawasan dan pola pikir tentang analisis faktor-faktor yang  mempengaruhi dividend payout ratio pada industri barang konsumsi di  Bursa Efek Indonesia (BEI).
 d. Bagi Pihak Lain Penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran dan  informasi bagi berbagai pihak lain yang ingin melakukan penelitian lebih  lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio.
F.  Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Batasan operasional dalam penelitian ini adalah: a. Data laporan keuangan industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia  (BEI) periode 2006-2009.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi  Dividend Payout Ratio  antara lain:  Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA),  Growth Potential (GP), dan Firm Size.
c. Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini, yaitu industri  barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2009.
2.  Definisi Operasional Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel terikat (dependen)  dan variabel bebas (independen). Variabel terikat (Y) adalah dividend payout  ratio, sedangkan variabel bebas (X) terdiri dari Cash Position, Debt to Equity  Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size.
1)  Variabel Independen (X) a. Cash Position (X1 Cash Position  atau posisi kas merupakan rasio kas akhir tahun  dibandingkan dengan earning after tax. Cash Position merupakan faktor  internal yang dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga pengaruhnya  )   dapat dirasakan secara langsung bagi kebijakan dividen.  Dividen  merupakan cash outflow  dengan demikian makin kuatnya posisi kas  perusahaan akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen.
Cash Position dihitung berdasarkan perbandingan kas akhir tahun dengan  Earning After Tax (EAT) (Sudarsi, 2002:4).
Rumus: πΆπΆπ‘Žπ‘Žπ‘Žπ‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘Žπ‘Žπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒ= Kas akhir tahun Laba bersih setelah pajak b. Debt to Equity Ratio (X2 Debt to Equity Ratio merupakan rasio hutang terhadap ekuitas (modal  sendiri).  Faktor ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam  memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian  modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar  rasio ini menunjukkan semakin besar kewajibannya dan rasio yang  semakin rendah akan menujukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan  dalam memenuhi kewajibannya. Peningkatan hutang ini akan  mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang  saham, artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin  menurunkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Debt to  equity ratio dihitung hanya dengan membagi total utang perusahaan  (termasuk kewajiban jangka pendek) dengan ekuitas pemegang saham  (Horne dan Wachowicz, 2005:209).
)   Rumus: 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝑃𝑃 𝑃𝑃𝑃𝑃 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝑃𝑃𝑃𝑃𝐸𝐸 π‘…π‘…π‘Žπ‘Žπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒ= Total utang Ekuitas pemegang saham c. Return on Assets (X3 Rasio profitabilitas mengukur  kemampuan perusahaan menghasilkan  keuntungan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Salah  satu rasio profitabilitas adalah Return on Assets (ROA) yang mengukur  kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat  aktiva yang tertentu. Semakin besar ROA menunjukkan efisiensi dan  efektivitas pengelolaan aset, yang berarti semakin baik. ROA dapat  dihitung dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan total  aktiva (Horne dan Wachowicz, 2005:224).
)  Rumus: 𝑅𝑅𝐷𝐷𝑃𝑃𝐸𝐸𝑅𝑅𝑃𝑃 𝑃𝑃𝑃𝑃 π΄π΄π‘Žπ‘Žπ‘Žπ‘Žπ·π·π‘ƒπ‘ƒπ‘Žπ‘Ž= Laba bersih setelah pajak Total aktiva d. Growth Potential (X4 Growth Potential  (GP) adalah potensi pertumbuhan perusahaan yang  diukur dengan rasio selisih total aset pada tahun t dengan total aset pada  tahun t-1 terhadap total aset pada t-1. Semakin cepat tingkat pertumbuhan  perusahaan, semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai  perluasan sehingga pembayaran dividen menjadi lebih kecil (Sudarsi,  2002:5).
)   Rumus: πΊπΊπ‘…π‘…π‘ƒπ‘ƒπΊπΊπ‘ƒπ‘ƒβ„Ž π‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ·π·π‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘ƒπ‘Žπ‘Žπ‘ƒπ‘ƒ= TAt−TAt−1 TAt−1 e. Firm Size (X5 Firm size  adalah ukuran perusahaan berdasarkan kapitalisasi pasarnya.
Proxy ini dapat ditentukan melalui log natural dari total aset. Faktor ini  menjelaskan bahwa suatu perusahaan yang besar memilki akses yang lebih  mudah ke pasar modal. Kemudahan aksesibilitas ke pasar modal dapat  diartikan adanya fleksibilitas dan kemampuan perusahaan untuk  menciptakan hutang atau memunculkan dana yang lebih besar dengan  catatan perusahaan tersebut memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih  tinggi daripada perusahaan kecil (Sudarsi, 2002:5).
)  Rumus: Firm Size = Ln Total aset 2)  Variabel Dependen (Y) Dividend payout ratio  mencerminkan kemampuan perusahaan untuk  membayarkan dividen setiap tahun kepada pemegang saham. Peningkatan  hutang akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang diprioritaskan  daripada pembagian dividen. Rasio pembayaran dividen dapat diukur  dengan membandingkan dividen kas per lembar saham dengan laba yang  diperoleh per lembar saham (Sundjaja dan Barlian, 2002:391).
Rumus:  DPR= Dividen kas per lembar saham Laba yang diperoleh per lembar saham 3.  Populasi dan Sampel Target populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua industri  barang konsumsi yang terdaftar (listing) di BEI pada periode Januari 2006 sampai  dengan Desember 2009, yaitu sebanyak 33 perusahaan. Penarikan sampel yang  dilakukan oleh penulis adalah dengan menggunakan desain sampel non  probabilitas dengan metode purposive sampling  dimana penentuan sampel  dilakukan dengan pertimbangan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan dan  masalah penelitian. (Rochaety, 2007:66).
Kriteria (pertimbangan) penarikan sampel yang digunakan oleh peneliti  adalah sebagai berikut: a.  Emiten barang konsumsi yang selalu listing di BEI selama periode penelitian,  yaitu 2006-2009.
b.  Emiten barang konsumsi yang memiliki data laporan keuangan yang lengkap  selamaperiode penelitian, yaitu 2006-2009.
c.  Emiten barang konsumsi yang selalu membagikan dividen selama periode  penelitian, yaitu 2006-2009 dalam satuan rupiah.
 Tabel 1.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Penarikan Sampel No  Karakteristik Sampel  Jumlah 1  Emiten barang konsumsi yang selalu listing di Bursa  Efek Indonesia (BEI) selama periode penelitian, yaitu  2006-2009 33 2  Emiten barang konsumsi yang tidak memiliki data  laporan keuangan yang lengkap selama periode  2006-2009 (4) 3  Emiten barang konsumsi yang tidak membagikan  dividen selama periode 2006-2009 dalam satuan  rupiah (18) Jumlah Sampel  11 Sumber: www.idx.co.id, 2010 (diolah) Berdasarkan karakteristik penarikan sampel diatas, maka diperoleh sampel  penelitian sebanyak 11 perusahaan. Adapun sampel perusahaan tersebut antara  lain: Tabel 1.3 Sampel Penelitian No  Kode Emiten  Nama Emiten  Tanggal Listing 1  AQUA  Aqua Golden Missisippi Tbk  01 Maret 1990 2  DLTA  Delta Djakarta Tbk  30 Januari 1989 3  HMSP  HM Sampoerna Tbk  15 Agustus 1990 4  INDF  Indofood Sukses Makmur Tbk  14 Juli 1994 5  KAEF  Kimia Farma Tbk  04 Juli 2001 6  MERK  Merck Tbk  23 Juli 1981 7  MLBI  Multi Bintang Indonesia Tbk  15 Desember 1981 8  MYOR  Mayora Indah Tbk  04 Juli 1990 9  TCID  Mandom Indonesia Tbk  30 September 1993 10  TSPC  Tempo Scan Pacific Tbk  17 Juni 1994 11  UNVR  Unilever Indonesia Tbk  11 Januari 1990 Sumber: www.idx.co.id, 2010 (diolah)  4.  Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui media  internet dengan situs www.idx.co.id.
b. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dari bulan Oktober 2010 sampai dengan bulan  Januari 2011.
5.  Jenis Data Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui  laporan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia. Data sekunder adalah  data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan  kepada masyarakat pengguna data (Kuncoro, 2003:127).
6.  Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi  dokumentasi berupa literatur, jurnal, penelitian terdahulu, dan laporan-laporan  yang dipublikasikan untuk mendapat gambaran masalah yang akan diteliti serta  melalui data sekunder berupa laporan-laporan yang dipublikasikan oleh Bursa  Efek Indonesia (BEI).
 7.  Metode Analisis Data Untuk menganalisis data dalam penelitian, penulis menggunakan tahaptahap sebagai berikut: a.  Metode Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data-data  dikumpulkan, diklasifikasikan, dianalisis, dan diinterpretasikan secara objektif  sehingga memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang dibahas.
b.  Analisis Regresi Linear Berganda Pada tahap ini akan dijelaskan hubungan antara variabel terikat dengan  variabel bebas dengan rumus: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 Dimana: + e  Y  =  Dividend Payout Ratio a  =  Konstanta X1  X =  Cash Position 2 X  =  Debt to Equity Ratio (DER) 3 X  =  Return on Assets (ROA) 4  X =  Growth Potential (GP) 5 b  =  Firm Size 1,2,3,4,5 e  =  Term of error =  Koefisien regresi variabel independen  c.  Pengujian Asumsi Klasik Adapun syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi model regresi berganda  sebelum data-data tersebut dianalisis adalah sebagai berikut: 1.  Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah  data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan  bentuk lonceng (Situmorang et al., 2010:91). Uji normalitas dilakukan dengan  pendekatan kolmogorv smirnov. Dengan menggunakan tingkat signifikan 5%  maka jika nilai Asymp.Sig. (2-tailed) diatas nilai signifikan 5% artinya variabel  residua l berdistribusi normal (Situmorang et al., 2010:95).
2.  Uji Multiko linieritas Uji multikolinieritas bertujuan menguji apakah model regresi ditemukan  adanya korelasi antarvariabel bebas atau  independen. Hubungan linear  antarvariabel inilah yang disebut dengan multikolinieritas (Nachrowi dan Usman,  2002:118). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antarvariabel  independen. Uji multikolinieritas menggunakan kriteria variance inflation factor (VIF) dengan ketentuan bila VIF > 5 terjadi masalah multikolinieritas yang serius  (Situmorang et al., 2010:133).
3.  Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model  regresi terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke  pengamatan lainnya. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan  lain tetap, maka terjadi homokedastisitas dan jika berbeda disebut   heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi  heteroskedastisitas (Situmorang et al., 2010:98).
4.  Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada  korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan  pengganggu pada periode sebelumnya. Metode deteksi terhadap autokorelasi  dilakukan dengan menggunakan metode The Runs Test.  Kriteria keputusan  menolak hipotesisi nol jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05 sehingga dapat  disimpulkan bahwa residual tidak random atau terjadi autokorelasi antar nilai  residual.
d.  Koefisien Determinasi Nilai Adjusted R Square pada menunjukkan proporsi variabel dependen  yang dijelaskan oleh variabel independen. Semakin tinggi nilai Adjusted R Square maka akan semakin baik bagi model regresi variabel terikat juga semakin besar.
Kelemahan mendasar dalam penggunaan koefisien determinasi adalah  biasa terhadap jumlah variabel independen. Semakin banyak variabel independen  ditambahkan ke dalam model maka R square akan meningkat walaupun variabel  tersebut tidak berpengaruh secara signifikan ke dalam model. Oleh karena itu  banyak peneliti yang menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R Square untuk mengevaluasi model (Situmorang et al., 2010:144).
 e.  Pengujian Hipotesis 1.  Uji Secara Simultan (Uji F) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah model ini dapat dipakai  untuk mengestimasi variabel terikat.
Bentuk Pengujian: H0 : b1 = b2 = b3= b4 = b5 H = 0, artinya secara simultan tidak terdapat pengaruh  yang signifikan dari variabel Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return  on Assets  (ROA),  Growth Potential  (GP), dan  Firm Size  terhadap  variabel  Dividend Payout Ratio (DPR).
1 : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠b4 ≠ b5 ≠ 0, artinya secara simultan terdapat pengaruh yang  signifikan dari variabel Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on  Assets (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size terhadap variabel Dividend  Payout Ratio (DPR). Pada penelitian ini nilai Fhitung akan dibandingkan dengan  nilai Ftabel Kriteria penilaian hipotesis pada uji-F ini adalah: pada tingkat signifikan (Ξ±) = 5%.
Terima H0 bila Fhitung ≤ Ft Tolak H abel 0 (Terima H1) bila Fhitung > F 2.  Uji Secara Parsial (Uji t) tabel Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah setiap variabel bebas  mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
Bentuk Pengujian: H0 : b1 = b2 = b3 =  b4 = b5= 0, artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh  yang signifikan dari Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets  (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size terhadap variabel Dividend Payout  Ratio (DPR).
H1 : b1 ≠  b2 ≠  b3 ≠ b4 ≠  b5 Pada penelitian ini nilai t ≠ 0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang  signifikan dari Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), dan Return on Assets  (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size terhadap variabel Dividend Payout  Ratio (DPR).
hitung  akan dibandingkan dengan ttabel Kriteria pengambilan keputusan pada uji-t ini adalah: pada tingkat  signifikan (Ξ±) = 5%.
H0 diterima jika: - ttabel ≤ thitung ≤ t H tabel 1 diterima jika:   thitung > t t tabel hitung ≤ - ttabel 

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi