BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pelaksanaan pembangunan
ekonomi nasional suatu negara, diperlukan
pembiayaan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat. Kebutuhan pembiayaan pembangunan di masa mendatang akan
semakin besar. Kebutuhan yang semakin
besar ini tidak akan dapat dibiayai oleh pemerintah saja melalui penerimaan pajak dan penerimaan lainnya. Untuk
itu pasar modal sebagai salah satu
alternatif pembiayaan pembangunan harus dapat memfasilitasi perkembangan ekonomi pasar.
Dalam kegiatan investasi, secara umum dikenal
adanya prinsip bahwa semakin tinggi
tingkat keuntungan yang diharapkan maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang kemungkinan dihadapi, dan
sebaliknya semakin rendah tingkat keuntungan
yang diharapkan maka semakin rendah pula kemungkinan risiko yang dihadapi (high risk high return and low risk
low return). Dalam hubungannya dengan
kepemilikan saham melalui pasar modal, masyarakat dapat ikut menikmati keberhasilan perusahaan melaui pembagian
dividen dan peningkatan harga saham yang
diharapkan (capital gain) (Lubis, 2008:9).
Capital gain merupakan jumlah yang mencerminkan kelebihan
hasil penjualan aktiva modal yang
melebihi dari biaya asli aktiva tersebut. Dividen adalah bagian laba yang diberikan emiten
kepada pemegang saham. Dari laba bersih
yang diperoleh perusahaan, sebagian dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham sedangkan sebagian
lainnya disisihkan sebagai laba ditahan
(retained earning) yang berfungsi untuk pertumbuhan perusahaan.
Kebijakan
pembayaran dividen mempunyai pengaruh terhadap pemegang saham dan perusahaan yang membayar dividen.
Umumnya perusahaan cenderung memberikan
dividen dengan jumlah yang relatif stabil atau meningkat secara teratur. Kebijakan ini kemungkinan besar
disebabkan oleh asumsi bahwa investor melihat
kenaikan dividen sebagai suatu tanda yang baik dimana perusahaan memiliki prospek cerah, demikian pula
sebaliknya jika pembayaran dividen oleh perusahaan
menurun maka dianggap tidak memiliki prospek yang cerah. Selain itu, pemberian dividen yang relatif stabil
diakibatkan adanya asumsi bahwa investor
cenderung lebih menyukai dividen yang tidak berfluktuasi (dividen yang stabil).
Keputusan dividen perusahaan menjadi sangat
penting karena menentukan apakah aliran
dana diberikan kepada investor dan apakah dana ditahan untuk diinvestasikan kembali. Perusahaan harus
memeriksa relevansi antara laba yang ditahan
untuk diinvestasikan kembali (retained earning to be reinvested) dengan laba yang dibagikan kepada para pemegang
sahamnya dalam bentuk dividen (revenue
that devided to the shareholders as dividend). Pertumbuhan perusahaan dan dividen adalah dua hal yang diinginkan
perusahaan tetapi sekaligus merupakan
suatu tujuan yang berlawanan.
Untuk mencapai
tujuan tadi perusahaan menetapkan kebijakan dividen yaitu kebijakan yang dibuat oleh perusahaan
untuk menetapkan proporsi pendapatan
yang dibagikan sebagai dividen yang membuat semakin sedikit laba yang dapat ditahan dan sebagai akibatnya ialah
menghambat tingkat pertumbuhan perusahaan.
Sebaliknya, kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar labanya berarti bagian dari laba yang tersedia untuk
pembayaran dividen adalah semakin kecil.
Persentase laba yang dibayarkan perusahaan dalam bentuk dividen tunai pada pemegang saham disebut dengan rasio
pembayaran dividen atau yang sering disebut
Dividend Payout Ratio (Sartono, 2001:281).
Dividend payout
ratio memiliki informasi yang berguna bagi perusahaan dan para pemegang saham. Bagi perusahaan,
informasi yang terkandung dalam dividend
payout ratio digunakan untuk mempertimbangkan dalam penetapan pembagian jumlah dividen. Bagi pemegang saham,
informasi yang terkandung dalam dividend
payout ratio digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan
keputusan investasi. Semakin tinggi dividend payout ratio yang ditetapkan
oleh perusahaan akan menyebabkan laba ditahan yang semakin kecil sehingga dana yang tersedia untuk ditanamkan
kembali ke dalam perusahaan semakin
kecil. Hal itu menyebabkan pertumbuhan perusahaan terhambat.
Besarnya dividen
yang dibayarkan ke pemegang saham ditentukan pada rapat dewan komisaris. Pertimbangan besarnya
dividend payout ratio ini diduga sangat
berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan. Bila kinerja keuangan perusahaan bagus, diharapkan mampu untuk
menetapkan besarnya dividend payout
ratio yang mana besarnya sesuai dengan harapan pemegang saham yaitu mendapatkan dividen dalam jumlah yang besar.
Kinerja keuangan perusahaan dapat
dilihat melalui laporan keuangan perusahaan yaitu dengan menganalisis rasio keuangan melalui laporan keuangan
tersebut.
Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kebijakan dividen antara lain posisi
kas atau likuiditas, kebutuhan
dana untuk membayar hutang, tingkat ekspansi
yang tinggi, dan skala perusahaan (Sartono, 2000:254). Sedangkan Husnan dan Puji Astuti (1994) (dalam Sudarsi,
2002:2) menyebutkan bahwa operating cash
flow dan tingkat laba mempengaruhi kebijakan dividend payout ratio.
Cash Position atau
likuiditas merupakan faktor penting penentu jumlah dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang
saham. Oleh karena dividen merupakan
cash outflow, maka makin kuatnya posisi kas atau likuiditas perusahaan berarti makin besar kemampuannya
membayar dividen.
Debt to Equity
Ratio (DER) merupakan rasio hutang
terhadap modal.
Tujuan dari rasio
ini adalah untuk mengukur bauran dana
dalam neraca dan membuat perbandingan
antara dana yang diberikan oleh pemilik (ekuitas) dan dana yang dipinjam (hutang). Hutang
meningkatkan baik laba maupun risiko.
Semakin besar hutang, semakin besar risiko
yang ditanggung. Dengan menambahkan
hutang proporsi dividen yang dibayarkan menjadi lebih kecil karena harus membayarkan kewajiban terlebih
dahulu.
Return on
Assets (ROA) menunjukkan kemampuan modal
yang diinvestasikan dalam total aktiva
untuk menghasilkan laba perusahaan. Semakin besar Return on Assets (ROA) maka semakin
besar kemungkinan dividen yang dibagikan
oleh perusahaan karena rasio ini menunjukkan pula tingkat efisiensi investasi yang nampak pada tingkat perputaran
aktiva.
Growth
Potential (GP) menunjukkan potensi
perusahaan untuk bertumbuh. Semakin
cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai perluasan
atau pertumbuhan tersebut.
Semakin besar
kebutuhan dana dimasa mendatang maka
semakin mungkin perusahaan menahan
pendapatan, bukan membayarnya sebagai dividen.
Firm Size mencerminkan ukuran perusahaan berdasarkan
kapitalisasi pasarnya. Faktor ini
menjelaskan bahwa suatu perusahaan yang mapan dan besar memiliki akses yang lebih mudah ke pasar
modal. Bagi perusahaan yang sudah mapan
dan besar lebih mudah mempertahankan dividend payout ratio yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang kecil.
Berikut ini adalah
tabel yang memperlihatkan bagaimana pengaruh Cash Position, Debt to Equity Ratio, Return on
Assets, Growth Potential, dan Firm Size terhadap Dividend Payout Ratio pada
periode 2006-2009.
Tabel 1.1 Nilai Rata-Rata Cash Position, Debt
to Equity Ratio, Return on Assets, Growth Potential, dan Firm Size Serta Dividend Payout
Ratio periode 2006-2009.
2006 2007
2008 2009 Cash Position 1,53
1,84 1,90 1,58 Debt to Equity Ratio 0,82
0,86 0,94 1,45 Return on Assets 14,63
14,17 15,25 18,17 Growth Potential 11,74
18,81 22,35 9,97 Firm Size 28,13
28,29 28,48 28,58 Dividend Payout Ratio 50,98
53,63 63,84 55,15 Sumber: www.idx.co.id (2010, diolah) Cash
Position perusahaan yang semakin besar menggambarkan bahwa semakin besar pula kemampuannya dalam membayar
dividen (Sudarsi, 2002:4).
Dari tabel diatas
nilai dividend payout ratio berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi nilai cash position, ketika nilai cash
position naik maka dividend payout ratio juga mengalami kenaikan dan begitu
pula sebaliknya.
Debt to Equity
Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya melalui modal sendiri.
Semakin tinggi kewajiban maka akan
semakin rendah kemampuan perusahaan dalam membayar dividen (Sudarsi, 2002:04). Namun pada tahun 2006-2007, debt to
equity ratiomeningkat dari 0,82 menjadi
0,86 tetapi dividend payout ratio juga mengalami kenaikan dari 50,98% menjadi 53,63%. Begitu pula pada tahun
2007-2008, debt to equity ratio yang mengalami
peningkatan dari 0,86 menjadi 0,94 juga diikuti oleh kenaikan dari dividend payout ratio dari 53,63% menjadi
63,84%.
Return on Assets
(ROA) menunjukkan ukuran keseluruhan keefektifan manajemen dalam menghasilkan laba dengan
aktiva yang tersedia. Semakin tinggi pengembalian
yang dihasilkan semakin banyak dividen yang mungkin dibagikan (Sundjaja dan Barlian, 2002:122). Akan tetapi
pada tahun 2006-2007, return on assets
mengalami penurunan dari 14,63% menjadi 14,17% sementara dividend payout ratio malah mengalami kenaikan dari
50,98% menjadi 53,63%. Sedangkan pada
tahun 2008-2009, return on assets yang mengalami kenaikan dari 15,25% menjadi 18,17% tidak diikuti oleh dividend
payout ratio yang malah mengalami penurunan
dari 63,84% menjadi 55,15%.
Growth
Potential (GP) menunjukkan potensi
pertumbuhan perusahaan yang diukur
dengan perbandingan total aset. Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin besar dana untuk membiayai
perusahaan sehingga pembagian dividen
menjadi lebih kecil (Sartono, 2000:255). Namun pada tahun 2006-2007, growth potential yang mengalami kenaikan dari 11,74% menjadi 18,81% juga diikuti oleh kenaikan dividend
payout ratio dari 50,98% menjadi 53,63%.
Begitu pula pada tahun 2007-2008, nilai growth potential yang naik dari 18,81% menjadi 22,35% juga diikuti oleh
naiknya dividend payout ratio dari 53,63%
menjadi 63,84%. Sedangkan pada tahun 2008-2009, nilai growth potential yang mengalami penurunan dari 22,35%
menjadi 9,97% diikuti juga oleh
penurunan dividend payout ratio dari 63,84% menjadi 55,15%.
Firm Size menunjukkan ukuran perusahaan berdasarkan
kapitalisasi pasarnya. Semakin besar
ukuran perusahaan maka semakin tinggi pula dividen yang dibayarkannya (Sartono, 2000:255). Namun
pada tahun 2008-2009, nilai firm
size mengalami peningkatan dari 28,48
menjadi 28,58 akan tetapi nilai dividend
payout ratio malah mengalami penurunan dari 63,84% menjadi 55,15%.
Berdasarkan uraian
diatas dapat dilihat bahwa fluktuasi cash position diikuti oleh fluktuasi
dividend payout ratio yang searah. Variabel lain yaitu debt to equity ratio yang mengalami peningkatan
juga belum tentu dapat menurunkan pembagian
dividen yang dilakukan perusahaan. Persentase return on assets yang mengalami penurunan tidak menjadikan
perusahaan untuk menurunkan dividen yang
akan dibagikan begitu pula ketika return on assets yang mengalami kenaikan tidak menjadikan perusahaan untuk
menaikkan pembagian dividennya.
Persentase growth
potential yang mengalami kenaikan (penurunan) tidak menjadikan perusahaan melakukan penurunan
(kenaikan) dalam pembagian dividen.
Nilai firm size yang terus mengalami kenaikan juga tidak membuat perusahaan terus menaikkan dividen yang
dibagikan.
Tidak semua
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia membagikan devidennya kepada para pemegang
saham, baik berupa deviden tunai maupun
deviden kas. Ini dikarenakan
pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan
perusahaan guna mencapai pertumbuhan perusahaan melalui penggunaan laba yang diperoleh.
Pada tahun 2009,
emiten disektor industri barang konsumsi mampu mencetak laba bersih sebesar Rp. 16,49 triliun
atau naik 45,03% dibandingkan dengan
laba bersih dari sektor ini pada tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 66,11% (www.bataviase.co.id). Selama
periode 2006-2009 tercatat sebanyak 11
perusahaan industri barang konsumsi yang membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya dari 33
perusahaan yang terdaftar di BEI.
Berdasarkan uraian
di atas maka peneliti tertarik untuk menganalisis rasiorasio keuangan yang
diduga berpengaruh terhadap dividend payout ratiodengan judul “Analisis Faktor-faktor yang
mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada Industri
Barang Konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
B.
Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka
dirumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah
Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size
berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio
(DPR) pada indutri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI)?” C. Kerangka Konseptual Persentase laba yang
dibayarkan perusahaan dalam bentuk dividen tunai pada pemegang saham disebut dengan dividend payout ratio atau rasio pembayaran dividen. Faktor-faktor yang
mempengaruhi dividend payout ratio antara lain: Cash Position, Debt to Equity
Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Growth
Potential (GP), dan Firm Size.
Dividend payout
ratio mencerminkan kemampuan perusahaan
untuk membayarkan dividen setiap tahun
kepada pemegang saham. Peningkatan hutang akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih
yang tersedia bagi para pemegang saham
karena kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen (Sundjaja dan Barlian, 2002:391).
Cash position
merupakan posisi kas perusahaan dan faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan
untuk menentukan besarnya dividen yang
akan dibayarkan. Perusahaan yang memiliki posisi kas yang semakin kuat akan semakin besar kemampuannya
untuk membayar dividen (Sudarsi, 2002:4).
Debt to Equity
Ratio (DER) merupakan salah satu ukuran paling mendasar dalam keuangan perusahaan. Rasio ini merupakan
pengujian yang baik bagi kekuatan
keuangan perusahaan. Tujuan dari rasio ini adalah untuk mengukur bauran dana
dalam neraca dan membuat perbandingan antara dana yang diberikan oleh pemilik (ekuitas) dan dana yang dipinjam
(hutang). Hutang meningkatkan baik laba
maupun risiko. Semakin besar hutang, semakin besar risiko yang ditanggung. Dengan menambahkan hutang ke dalam
neracanya, perusahaan secara umum dapat
meningkatkan profitabilitasnya, yang kemudian menaikkan harga sahamnya, sehingga meningkatkan
kesejahteraan para pemegang saham dan
membangun potensi pertumbuhan yang lebih besar dengan syarat biaya hutang lebih kecil daripada dana ekuitas
(Walsh, 2004:118).
Return on Assets
(ROA) merupakan tolak ukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang
digunakan. Rasio ini menunjukkan pula
tingkat efisiensi investasi yang nampak pada tingkat perputaran aktiva.
Apabila return on
assets (ROA) meningkat maka kemungkinan
pembagian dividen juga akan meningkat
(Horne dan Wachowicz, 2005:224).
Growth Potential
(GP) adalah potensi pertumbuhan perusahaan yang diukur dengan perbandingan total aset. Tingkat
pertumbuhan yang tinggi memerlukan dana
yang besar, sehingga laba yang diperoleh lebih banyak ditahan dibandingkan untuk dibagikan kepada para
pemegang saham (Sartono, 2000:255).
Firm Size menunjukkan besar kecilnya perusahaan
berdasarkan kapitalisasi pasarnya.
Perusahaan yang besar dan mapan mampu menghasilkan dividend payout ratio yang tinggi dibandingkan
perusahaan yang kecil (Sartono, 2000:255).
Berdasarkan latar belakang dan perumusan
masalah yang dikemukakan sebelumnya,
maka kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 1.1 Kerangka
Konseptual Sumber: Sundjaja dan Barlian (2002), Sudarsi (2002), Walsh (2004), Horne
dan Wachowicz (2005), Sartono (2000) (dimodifikasi) D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual
yang telah dikemukakan, maka hipotesis
dari penelitian ini adalah: “Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA),
Growth Potential (GP), dan Firm Size
berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio pada industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
Cash Position (X1) Debt
to Equity Ratio (X2) Return on Assets (X3)
Dividend Payout Ratio (Y) Growth
Potential (X4) Firm Size (X5) E.
Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER) dan
Return on Assets (ROA), Growth Potential
(GP), dan Firm Size secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio pada industri barang konsumsi di Bursa
Efek Indonesia (BEI).
2. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian
ini adalah: a. Bagi Perusahaan Industri Barang Konsumsi Penelitian ini dapat
dijadikan pertimbangan dalam penentuan kebijakan dividen. Faktor-faktor yang diteliti tersebut
diharapkan dapat membantu manajemen
perusahaan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan besarnya dividen yang dibayarkan.
b. Bagi Investor Penelitian
ini bermanfaat sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi di pasar
modal (saham). Dengan menganalisis
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembayaran dividen per lembar saham investor berharap dapat
melakukan prediksi pendapatan dividend
payout ratio yang diterima oleh pemegang saham biasa.
c. Bagi Peneliti Penelitian
ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan dan pola pikir tentang
analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
dividend payout ratio pada industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
d. Bagi Pihak Lain Penelitian ini bermanfaat
memberikan sumbangan pemikiran dan informasi
bagi berbagai pihak lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi dividend payout ratio.
F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Batasan operasional dalam
penelitian ini adalah: a. Data laporan keuangan industri barang konsumsi di
Bursa Efek Indonesia (BEI) periode
2006-2009.
b. Faktor-faktor
yang mempengaruhi Dividend Payout
Ratio antara lain: Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return
on Assets (ROA), Growth Potential (GP),
dan Firm Size.
c. Perusahaan yang
menjadi sampel dalam penelitian ini, yaitu industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI)
periode 2006-2009.
2. Definisi Operasional Pada penelitian ini
terdapat dua variabel yaitu variabel terikat (dependen) dan variabel bebas (independen). Variabel
terikat (Y) adalah dividend payout ratio,
sedangkan variabel bebas (X) terdiri dari Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Growth
Potential (GP), dan Firm Size.
1) Variabel Independen (X) a. Cash Position (X1 Cash
Position atau posisi kas merupakan rasio
kas akhir tahun dibandingkan dengan
earning after tax. Cash Position merupakan faktor internal yang dapat dikendalikan oleh
manajemen sehingga pengaruhnya ) dapat dirasakan secara langsung bagi
kebijakan dividen. Dividen merupakan cash outflow dengan demikian makin kuatnya posisi kas perusahaan akan semakin besar kemampuannya
untuk membayar dividen.
Cash Position
dihitung berdasarkan perbandingan kas akhir tahun dengan Earning After Tax (EAT) (Sudarsi, 2002:4).
Rumus: πΆπΆππππβ ππππππππππππππππ= Kas akhir tahun Laba bersih setelah pajak b. Debt to Equity Ratio (X2
Debt to Equity Ratio merupakan rasio hutang terhadap ekuitas (modal sendiri).
Faktor ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan
oleh beberapa bagian modal sendiri yang
digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin besar
kewajibannya dan rasio yang semakin
rendah akan menujukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Peningkatan
hutang ini akan mempengaruhi tingkat pendapatan
bersih yang tersedia bagi pemegang saham,
artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan dalam membayar
dividen. Debt to equity ratio dihitung
hanya dengan membagi total utang perusahaan (termasuk kewajiban jangka pendek) dengan
ekuitas pemegang saham (Horne dan
Wachowicz, 2005:209).
) Rumus: π·π·π·π·π·π·ππ ππππ πΈπΈπΈπΈπΈπΈπππππΈπΈ π
π
ππππππππ= Total utang Ekuitas pemegang saham c. Return on Assets (X3 Rasio
profitabilitas mengukur kemampuan
perusahaan menghasilkan keuntungan pada
tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Salah satu rasio profitabilitas adalah Return on
Assets (ROA) yang mengukur kemampuan
perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aktiva yang tertentu. Semakin besar ROA
menunjukkan efisiensi dan efektivitas
pengelolaan aset, yang berarti semakin baik. ROA dapat dihitung dengan membandingkan laba bersih
setelah pajak dengan total aktiva (Horne
dan Wachowicz, 2005:224).
) Rumus: π
π
π·π·πππΈπΈπ
π
ππ ππππ π΄π΄πππππ·π·ππππ= Laba bersih setelah pajak Total aktiva d. Growth Potential (X4 Growth
Potential (GP) adalah potensi
pertumbuhan perusahaan yang diukur
dengan rasio selisih total aset pada tahun t dengan total aset pada tahun t-1 terhadap total aset pada t-1.
Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan,
semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai perluasan sehingga pembayaran dividen menjadi
lebih kecil (Sudarsi, 2002:5).
) Rumus: πΊπΊπ
π
πππΊπΊππβ πππππππ·π·ππππππππππ= TAt−TAt−1 TAt−1 e. Firm Size (X5 Firm size adalah ukuran perusahaan berdasarkan
kapitalisasi pasarnya.
Proxy ini dapat
ditentukan melalui log natural dari total aset. Faktor ini menjelaskan bahwa suatu perusahaan yang besar
memilki akses yang lebih mudah ke pasar
modal. Kemudahan aksesibilitas ke pasar modal dapat diartikan adanya fleksibilitas dan kemampuan
perusahaan untuk menciptakan hutang atau
memunculkan dana yang lebih besar dengan catatan perusahaan tersebut memiliki rasio
pembayaran dividen yang lebih tinggi
daripada perusahaan kecil (Sudarsi, 2002:5).
) Rumus: Firm Size = Ln Total aset 2) Variabel Dependen (Y) Dividend payout
ratio mencerminkan kemampuan perusahaan
untuk membayarkan dividen setiap tahun
kepada pemegang saham. Peningkatan hutang
akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang diprioritaskan daripada pembagian dividen. Rasio pembayaran
dividen dapat diukur dengan
membandingkan dividen kas per lembar saham dengan laba yang diperoleh per lembar saham (Sundjaja dan
Barlian, 2002:391).
Rumus: DPR= Dividen kas per lembar saham Laba yang
diperoleh per lembar saham 3. Populasi
dan Sampel Target populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua
industri barang konsumsi yang terdaftar
(listing) di BEI pada periode Januari 2006 sampai dengan Desember 2009, yaitu sebanyak 33
perusahaan. Penarikan sampel yang dilakukan
oleh penulis adalah dengan menggunakan desain sampel non probabilitas dengan metode purposive
sampling dimana penentuan sampel dilakukan dengan pertimbangan tertentu yang
disesuaikan dengan tujuan dan masalah
penelitian. (Rochaety, 2007:66).
Kriteria
(pertimbangan) penarikan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut: a. Emiten barang konsumsi yang selalu listing di
BEI selama periode penelitian, yaitu
2006-2009.
b. Emiten barang konsumsi yang memiliki data
laporan keuangan yang lengkap selamaperiode
penelitian, yaitu 2006-2009.
c. Emiten barang konsumsi yang selalu membagikan
dividen selama periode penelitian, yaitu
2006-2009 dalam satuan rupiah.
Tabel 1.2 Jumlah Sampel Berdasarkan
Karakteristik Penarikan Sampel No
Karakteristik Sampel Jumlah 1 Emiten barang konsumsi yang selalu listing di
Bursa Efek Indonesia (BEI) selama
periode penelitian, yaitu 2006-2009 33 2 Emiten barang konsumsi yang tidak memiliki
data laporan keuangan yang lengkap
selama periode 2006-2009 (4) 3 Emiten barang konsumsi yang tidak membagikan dividen selama periode 2006-2009 dalam satuan rupiah (18) Jumlah Sampel 11 Sumber: www.idx.co.id, 2010 (diolah) Berdasarkan
karakteristik penarikan sampel diatas, maka diperoleh sampel penelitian sebanyak 11 perusahaan. Adapun
sampel perusahaan tersebut antara lain: Tabel
1.3 Sampel Penelitian No Kode
Emiten Nama Emiten Tanggal Listing 1 AQUA
Aqua Golden Missisippi Tbk 01
Maret 1990 2 DLTA Delta Djakarta Tbk 30 Januari 1989 3 HMSP
HM Sampoerna Tbk 15 Agustus 1990 4 INDF
Indofood Sukses Makmur Tbk 14
Juli 1994 5 KAEF Kimia Farma Tbk 04 Juli 2001 6 MERK
Merck Tbk 23 Juli 1981 7 MLBI
Multi Bintang Indonesia Tbk 15
Desember 1981 8 MYOR Mayora Indah Tbk 04 Juli 1990 9 TCID
Mandom Indonesia Tbk 30 September
1993 10 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk 17 Juni 1994 11 UNVR
Unilever Indonesia Tbk 11 Januari
1990 Sumber: www.idx.co.id, 2010 (diolah)
4. Tempat dan Waktu Penelitian a.
Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
melalui media internet dengan situs
www.idx.co.id.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Oktober 2010 sampai dengan bulan Januari 2011.
5. Jenis Data Data dalam penelitian ini adalah
data sekunder yang diperoleh melalui laporan
yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh lembaga
pengumpul data dan dipublikasikan kepada
masyarakat pengguna data (Kuncoro, 2003:127).
6. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan
data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi dokumentasi berupa literatur, jurnal,
penelitian terdahulu, dan laporan-laporan yang dipublikasikan untuk mendapat gambaran
masalah yang akan diteliti serta melalui
data sekunder berupa laporan-laporan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
7.
Metode Analisis Data Untuk menganalisis data dalam penelitian, penulis
menggunakan tahaptahap sebagai berikut: a.
Metode Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah suatu
metode analisis dimana data-data dikumpulkan,
diklasifikasikan, dianalisis, dan diinterpretasikan secara objektif sehingga memberikan informasi dan gambaran
mengenai topik yang dibahas.
b. Analisis Regresi Linear Berganda Pada tahap
ini akan dijelaskan hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas dengan rumus: Y = a + b1X1 +
b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 Dimana: + e Y =
Dividend Payout Ratio a = Konstanta X1 X =
Cash Position 2 X = Debt to Equity Ratio (DER) 3 X =
Return on Assets (ROA) 4 X = Growth Potential (GP) 5 b = Firm
Size 1,2,3,4,5 e = Term of error = Koefisien regresi variabel independen c.
Pengujian Asumsi Klasik Adapun syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi
model regresi berganda sebelum data-data
tersebut dianalisis adalah sebagai berikut: 1.
Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah
distribusi sebuah data mengikuti atau
mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng (Situmorang et al., 2010:91).
Uji normalitas dilakukan dengan pendekatan
kolmogorv smirnov. Dengan menggunakan tingkat signifikan 5% maka jika nilai Asymp.Sig. (2-tailed) diatas
nilai signifikan 5% artinya variabel residua
l berdistribusi normal (Situmorang et al., 2010:95).
2. Uji Multiko linieritas Uji multikolinieritas
bertujuan menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antarvariabel bebas atau independen. Hubungan linear antarvariabel inilah yang disebut dengan
multikolinieritas (Nachrowi dan Usman, 2002:118).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antarvariabel independen. Uji multikolinieritas menggunakan
kriteria variance inflation factor (VIF) dengan ketentuan bila VIF > 5
terjadi masalah multikolinieritas yang serius (Situmorang et al., 2010:133).
3. Uji Heteroskedastisitas Uji
heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan varians dari
residual satu pengamatan ke pengamatan
lainnya. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka terjadi homokedastisitas dan
jika berbeda disebut heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas (Situmorang et al.,
2010:98).
4. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan
menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu
pada periode sebelumnya. Metode deteksi terhadap autokorelasi dilakukan dengan menggunakan metode The Runs
Test. Kriteria keputusan menolak hipotesisi nol jika nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) < 0,05 sehingga dapat disimpulkan
bahwa residual tidak random atau terjadi autokorelasi antar nilai residual.
d. Koefisien Determinasi Nilai Adjusted R Square
pada menunjukkan proporsi variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen.
Semakin tinggi nilai Adjusted R Square maka akan semakin baik bagi model
regresi variabel terikat juga semakin besar.
Kelemahan mendasar
dalam penggunaan koefisien determinasi adalah biasa terhadap jumlah variabel independen.
Semakin banyak variabel independen ditambahkan
ke dalam model maka R square akan meningkat walaupun variabel tersebut tidak berpengaruh secara signifikan
ke dalam model. Oleh karena itu banyak
peneliti yang menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R Square untuk
mengevaluasi model (Situmorang et al., 2010:144).
e.
Pengujian Hipotesis 1. Uji Secara
Simultan (Uji F) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah model ini
dapat dipakai untuk mengestimasi
variabel terikat.
Bentuk Pengujian: H0
: b1 = b2 = b3= b4 = b5 H = 0, artinya secara simultan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel Cash Position,
Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA),
Growth Potential (GP), dan Firm Size
terhadap variabel Dividend Payout Ratio (DPR).
1 : b1 ≠ b2 ≠ b3
≠b4 ≠ b5 ≠ 0, artinya secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel Cash Position, Debt
to Equity Ratio (DER), Return on Assets
(ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size terhadap variabel Dividend Payout Ratio (DPR). Pada penelitian ini nilai
Fhitung akan dibandingkan dengan nilai
Ftabel Kriteria penilaian hipotesis pada uji-F ini adalah: pada tingkat
signifikan (Ξ±) = 5%.
Terima H0 bila
Fhitung ≤ Ft Tolak H abel 0 (Terima H1) bila Fhitung > F 2. Uji Secara Parsial (Uji t) tabel Pengujian
ini dilakukan untuk menguji apakah setiap variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
variabel terikat.
Bentuk Pengujian: H0
: b1 = b2 = b3 = b4 = b5= 0, artinya
secara parsial tidak terdapat pengaruh yang
signifikan dari Cash Position, Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Growth Potential (GP), dan Firm Size
terhadap variabel Dividend Payout Ratio
(DPR).
H1 : b1 ≠ b2 ≠
b3 ≠ b4 ≠ b5 Pada penelitian ini
nilai t ≠ 0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan dari Cash Position, Debt to Equity
Ratio (DER), dan Return on Assets (ROA),
Growth Potential (GP), dan Firm Size terhadap variabel Dividend Payout Ratio (DPR).
hitung akan dibandingkan dengan ttabel Kriteria
pengambilan keputusan pada uji-t ini adalah: pada tingkat signifikan (Ξ±) = 5%.
H0 diterima jika: -
ttabel ≤ thitung ≤ t H tabel 1 diterima jika:
thitung > t t tabel hitung ≤ - ttabel
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi