Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN ECONOMIC VALUE ADDED PADA PERUSAHAAN SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN DENGAN SEKTOR FARMASI



BAB I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah
 Pada perusahaan-perusahaan yang memisahkan antara kepemilikan dan  manajemen secara tegas, pengukur an kinerja manajemen merupakan hal yang  penting. Manajemen perusahaan sering membuat keputusan yang bertentangan  dengan tujuan perusahaan yaitu untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
Persaingan global dan resesi di seluruh dunia menunjukkan  adanya  kelemahan dari berbagai pendekatan keuangan tradisional yang biasa digunakan  untuk mengukur kinerja suatu perusahaan, kondisi itu mengharuskan perusahaan  memerlukan persiapan dalam membenahi dan meningkatkan kinerja setiap  perusahaan. Tekanan dalam pasar yang teregulasi untuk selalu menghasilkan  keuntungan yang bertambah telah membuat ratusan perusahaan besar di seluruh  dunia menerapkan tolak ukur kinerja baru untuk mencatat keberhasilan  manajemen dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham dan memotivasi  karyawan di seluruh perusahaan agar bekerja konsisten mencapai tujuan  penciptaan nilai. (Young dan Byrne,2001:4)  Mayoritas perusahaan menggunakan sejumlah ukuran untuk menyatakan  tujuan dan sasaran keuangan perusahaan. Rencana-rencana strategis sering kali  didasarkan pada pertumbuhan pendapatan atau pangsa pasar. Di dalam setiap  industri, perusahaan-perusahaan yang memiliki nilai tertinggi akan menghasilkan  tingkat pengembalian yang lebih baik bagi para pemegang saham. (Young dan  Byrne,2001:15).
 Tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan akan mencerminkan  apakah suatu perusahaan mampu menciptakan nilai baik atau sebaliknya. Dengan  demikian, perusahaan dapat melihat sampai sejauh mana tingkat efektivitas dari  kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan serta untuk kedepannya dapat  memilih alternatif terbaik bagi perusahaan.
Nilai Tambah Ekonomis atau Economic Value Added  (EVA) yang  merupakan salah satu cara untuk menilai kinerja keuangan merupakan indikator  tentang adanya penambahan nilai dari suatu investasi. EVA sendiri merupakan  alat komunikasi yang efektif untuk penciptaan nilai yang akhirnya mendorong  kinerja perusahaan dan untuk berhubungan dengan pasar modal.(Young dan  Byrne,2001:18). EVA merupakan suatu aliran, dikarenakan EVA mengukur  tingkat laba. EVA adalah suatu cara mengubah pengukuran saham dari kelebihan  pengembalian menjadi aliran. Perbedaan pokok antara EVA dan pengukuran laba  konvensional adalah EVA merupakan laba ekonomis yang dimana merupakan  kebalikan dari laba akunting.(Young dan Byrne,2001:32). EVA  mempertimbangkan seluruh biaya modal yang dibebankan kepada perusahaan  sedangkan perhitungan akuntansi hanya terbatas pada beban yang dibebankan  pada perusahaan selama periode waktu tertentu.
EVA  merupakan hak milik merek dagang ekslusif dari Stern Stewart  Company, sebuah konsultan manajemen berbasis di New York. Stern Stewart  menjadikan istilah EVA sebagai hak ciptanya, sehingga kantor-kantor konsultan  lain memberikan nama yang berbeda untuk nilai ini. (Brigham dan Houston,  2006:68). Beberapa perusahaan besar seperti Coca-Cola, AT&T, Intel, General   Electric, Yahoo dan sebagainya menggunakan EVA dalam mencapai keberhasilan  perusahaan-perusahaan tersebut.  (Young dan Byrne,2001:55). Menurut CEO  Coca-Cola, Roberto Goizueta, EVA merupakan kunci untuk sebuah keberhasilan  perusahaan sehingga perusahaan mampu menciptakan laba ekonomis dan  perusahaan akan mencapai efisiensi yang sangat besar.  (Young dan Byrne,  2001:43).
Metode EVA bertujuan mengukur real return yang dihasilkan perusahaan.
Pendekatan ini kurang populer di Indonesia. Perusahaan yang sadar dan mau  menggunakan EVA untuk mengukur kinerja perusahaan, umumnya perusahaan  asing atau saham perusahaan dimiliki pemodal asing, misalnya Unilever dan Sari  Husada. Jika perusahaan sungguh-sungguh ingin mengaplikasikan pendekatan  EVA, harus melibatkan semua pihak, terutama tingkat manajer hingga direksi (SWA , Oktober 2003).
Perusahaan yang diteliti adalah perusahaan yang menggunakan metode  EVA sebagai tolak ukur kinerjanya, maka dalam skripsi ini akan dilakukan  perbandingan mengenai tingkat nilai EVA yang tercipta dari dua perusahaan yang  berada pada sektor sejenis yaitu pada sektor Industri Barang Konsumsi. Sub  sektor yang dibandingkan dalam skripsi adalah perusahaan makanan dan  minuman dengan perusahaan farmasi. Sektor perusahaan Makanan dan Minuman  merupakan perusahaan yang menghasilkan produk-produk makanan serta  minuman bagi masyarakat. Sektor makanan dan minuman memiliki lima belas  perusahaan yang terdaftar sebagai perusahaan publik di BEI. Sektor makanan dan  minuman cukup diminati mengingat produk yang dihasilkan adalah produk   konsumsi harian bagi masyarakat sehingga pergerakan harga saham sektor  makanan dan minuman cenderung stabil sehingga investor yang tidak suka  bermain risiko biasanya memilih saham sektor makanan dan minuman.
Sektor perusahaan Farmasi merupakan perusahaan yang menghasilkan  produk obat-obatan bagi masyarakat. Sektor farmasi sendiri memiliki sembilan  perusahaan yang terdaftar sebagai perusahaan publik di BEI. Perusahaan farmasi  juga cenderung memiliki pergerakan nilai saham yang cukup stabil  sehingga  menimbulkan risiko yang kecil bagi investor yang berinvestasi di sektor farmasi.
Berikut ini akan disajikan daftar perusahaan sektor makanan dan minuman  serta farmasi dengan tingkat nilai EVA dari tahun 2008 sampai dengan 2009.
Tabel 1.1 Daftar Perusahaan Sektor Makanan & Minuman dengan Nilai EVA Pada Tahun 2008-2009  NO    Nama Perusahaan EVA 2008    2009 1  Akasha Wira Internasional Tbk    -50367.12    -13944.32 2  Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk    13593.64    -2279.19 3  Aqua Golden Mississippi Tbk    -12564    -6942.45 4  Cahaya Kalbar Tbk    32123.13    1520.66 5  Davomas Abadi Tbk    -257604.45    -1140875.21 6  Delta Djakarta Tbk    -13136.28    -8295.3 7  Indofood CBP Sukses Makmur Tbk    -    -8  Indofood Sukses Makmur Tbk    1557221.77    391216.96 9  Multi Bintang Indonesia Tbk    23315.5    28752.84  No    Nama Perusahaan    2008    2009 10  Mayora Indah Tbk    3870.5    -8302.73 11  Prasidha Aneka Niaga Tbk    27358.16    -8742.78 12  Nippon Indosari Corpindo Tbk    -    -13  Sekar Laut Tbk    -439.26    -13614.84 14  Siantar Top Tbk    9570.23    -17786.91 15  Ultrajaya Milk Tbk    -396345.44    8655.55 Sumber : www.idx.co.id dan www.idsaham.com(2010)  Tabel 1.2 Daftar Perusahaan Sektor Farmasi Dengan Nilai EVA  Pada Tahun 2008-2009  NO Nama Perusahaan   EVA 2008    2009 1  Darya Varia Tbk    -16383.36    13776.3 2  Indofarma Tbk    16913.22    5355.55 3  Kimia Farma Tbk    6422.48    3592.41 4  Kalbe Farma Tbk    38221.94    138136.91 5  Merck Tbk    -90.1    -170 6  Pyridam Farma Tbk    896.53    -210.7 7  Schering Plough Indonesia Tbk    5633.2    1019.9 8  Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk    -451.4    5286.24 9  Tempo Scan Pacific Tbk     -58457.73    -40971.98 Sumber : www.idx.co.id dan www.idsaham.com(2010)   Pada Tabel 1.1 disajikan nilai EVA dari seluruh perusahaan yang berada  pada sektor makanan dan minuman. Dari 15 perusahaan makanan dan minuman di  BEI pada tahun 2008, ternyata hanya 7 perusahaan yang mampu menciptakan  nilai EVA yang positif dan 6 perusahaan menghasilkan nilai EVA yang negatif  dan 2 perusahaan tidak mempublikasikan laporan keuangannya pada 2  tahun  terakhir sehingga tidak bisa ditelusuri bagaimana nilai EVA pada perusahaan  tersebut. Pada tahun 2009, perusahaan makanan dan minuman yang menghasilkan  EVA positif semakin menurun jumlahnya menjadi hanya 4 perusahaan dan yang  menghasilkan EVA negatif menjadi 9 perusahaan. Hal tersebut menggambarkan  penurunan kinerja dari beberapa perusahaan sektor makanan dan minuman yang  menimbulkan nilai EVA pada perusahaan menjadi negatif.
Pada Tabel 1.2 disajikan nilai EVA dari seluruh perusahaan yang berada  pada sektor farmasi di BEI. Dari 9 perusahaan farmasi di BEI pada tahun 2008,  ternyata ada 5 perusahaan yang mampu menghasilkan nilai EVA yang positif dan  4 perusahaan yang menghasilkan nilai EVA yang negatif. Pada tahun 2009,  perusahaan farmasi yang menghasilkan EVA positif menjadi 6 perusahaan,  meningkat dari tahun 2008, dan yang menghasilkan EVA negatif adalah 3  perusahaan. Hal tersebut menggambarkan ada peningkatan kinerja perusahaan  farmasi yang dimana perusahaan mampu meningkatkan nilai EVA dan mampu  mempertahankan nilai EVA yang positif untuk tidak menurun.
Dengan demikian judul penelitian ini adalah “Analisis  Kinerja  Keuangan Berdasarkan Economic Value Added  Pada Perusahaan  Sektor  Makanan dan Minuman Dengan Sektor Farmasi Di Bursa Efek Indonesia”.
 B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan, maka penulis  merumuskan masalah sebagai berikut: 1.  “Apakah kinerja keuangan pada perusahaan sektor makanan dan  minuman dengan sektor farmasi berdasarkan metode EVA sudah  berjalan dengan baik”?  2.  “Apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan antara sektor makanan  dan minuman dengan sektor farmasi di Bursa Efek Indonesia” ? C. Kerangka Konseptual Economic Value Added (EVA) adalah suatu sistem manajemen keuangan  untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa  kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua  biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). EVAmerupakan  selisih dari laba operasi bersih setelah pajak (Net operating after tax) atau  disingkat NOPAT dikurangi dengan biaya modal (cost of capital). (Young dan  Byrne,(2001:35). Menurut Brigham dan Houston (2006:69), menyatakan bahwa  EVA adalah suatu estimasi dari laba ekonomis yang sebenarnya dari bisnis untuk  tahun yang bersangkutan dan sangat jauh berbeda dengan dari laba akuntansi.
EVA memberikan gambaran mengenai suatu ukuran yang baik mengenai sampai  sejauh mana perusahaan telah memberikan tambahan pada nilai pemegang saham.
Nasser, (2003:6), menyatakan bahwa hasil penelitian di Amerika Serikat  ternyata banyak peusahaan yang setuju bahwa metode EVA sebagai pengukur  terbaik untuk mengukur kinerja perusahaan.
 Dalam penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa jika dibandingkan  dengan pengukuran lainnya, EVA  mempunyai hubungan paling erat dengan  tingkat pengembalian saham. Hasil penemuan para peneliti mendukung efektivitas  EVA sebagai pengukur kinerja perusahaan. Sebagian dari temuan tersebut adalah  sebagai berikut : EVA berkorelasi positif dengan tingkat pengembalian investasi  dalam saham. Korelasi tersebut lebih kuat jika dibandingkan dengan kolerasi EVA dengan tingkat pengembalian investasi dalam harta atau Return onEquity(ROE) dan tingkat pengembalian penjualan Return on Sales (ROS). Sehubungan dengan  itu tidak mengherankan jika EVA dianggap sebagai metode yang unggul.
Jumlah perusahaan yang belum menggunakan metode  EVA  dalam  mengevaluasi  kinerja keuangan  masih banyak. Ukuran evaluasi yang biasa  digunakan hanya sebatas Earnings (laba akuntasi) yang dihasilkan pada setiap  periodenya.
Berikut ini adalah gambar model kerangka konseptual yang menyatakan  nilai EVA perusahaan sektor makanan dan minuman tidak sama dengan nilai  EVA perusahaan sektor farmasi: Gambar 1.1  Kerangka Konseptual  Sumber : Young dan O’Byrne(2001);Brigham dan Houston(2006) EVA PERUSAHAAN  SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN EVA PERUSAHAAN SEKTOR FARMASI  D. Hipotesis Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, dan kerangka  konseptual yang telah dijelaskan, maka dikemukakan hipotesis sebagai berikut: 1.  Kinerja keuangan perusahaan sektor makanan dan minuman serta sektor  farmasi berdasarkan metode EVA telah berjalan dengan baik.
2.  Terdapat perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan sektor makanan  dan minuman dengan sektor farmasi di Bursa Efek Indonesia.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Mengetahuidan Menganalisis kinerja keuangan berdasarkan EVA pada perusahaan sektor makanan dan minuman dengan sektor farmasi di  Bursa Efek Indonesia.
2.  Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : a.  Memberikan informasi mengenai kinerja keuangan berdasarkan EVA  pada perusahaan sektor makanan dan minuman serta sektor farmasi di  Bursa Efek Indonesia.
b.  Sebagai bahan referensi bagi peneliti berikutnya yang akan melakukan  penelitian tentang objek yang sama di masa yang akan datang.
c.  Untuk menambah pengembangan wawasan, pandangan, dan  pengembangan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan   manajemen keungan, baik dari segi teoritis maupun aplikasinya secara  nyata dalam dunia bisnis.
F. Metode Penelitian 1.  Batasan Penelitian Batasan penelitian dilakukan agar penelitian lebih terarah dan tidak  menyimpang dalam pembahasan dan analisis,  sehingga  penulis  menetapkan beberapa batasan operasional sebagai berikut: a.  Data laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan  perusahaan sektor makanan dan minuman dengan sektor farmasi pada  tahun 2008 sampai 2009 b.  Menggunakan analisis EVA (Economic Value Added) sebagai alat  ukur kinerja keuangan pada perusahaan sektor makanan dan minuman  dengan sektor farmasi yang terdaftar di BEI c.  Perusahaan yang diteliti adalah perusahaan yang berada pada sektor  makanan dan minuman dengan sektor farmasi.
2. Populasi dan Sampel  Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan yang berada pada  sektor makanan dan minuman serta pada sektor farmasi. Adapun teknik  pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah  purposive sampling yaitu metode penarikan sampel berdasarkan syarat dan  kriteria yang ditentukan agar memperoleh data yang diinginkan. Kriteria  yang ditetapkan yaitu :   a. Perusahaan sektor makanan dan minuman dengan sektor farmasi yang di  BEI pada tahun 2008 sampai 2009.
b.  Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan tahunan dari tahun 2008  sampai2009.
Tabel 1.3 Pemilihan Sampel Perusahaan Makanan dan Minuman KETERANGAN     JUMLAH PERUSAHAAN Perusahaan  sektor makanan dan  minuman  yang terdaftar di BEI dari  tahun 2008-2009  15  Perusahaan yang datanya tidak lengkap    2 Jumlah sampel yang digunakan    13 Tabel 1.4 Pemilihan Sampel Perusahaan Farmasi KETERANGAN    JUMLAH PERUSAHAAN Perusahaan  sektor farmasi  yang  terdaftar di BEI dari tahun 2008-2009  9  Perusahaan yang datanya tidak lengkap    0 Jumlah sampel yang digunakan    9 Berdasarkan kriteria seleksi sampel pada Tabel 1.5 dan Tabel 1.6 maka diperoleh sampel penelitian sebagai berikut:  Tabel 1.5 Sampel Penelitian Perusahaan Makanan dan Minuman No  Kode Saham    Nama Emiten  Tanggal Listing 1    ADES  PT. Akasha Wira Internasional Tbk    13 Juni 2004 2    AISA  PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk    11 Juni 1997 3    AQUA  PT. Aqua Golden Mississippi Tbk    01 Maret 1990 4    CEKA  PT. Cahaya Kalbar Tbk    09 Juli 1996 5    DAVO  PT. Davomas Abadi Tbk    22 Desember 1994 6    DLTA  PT. Delta Djakarta Tbk    12 Februari 1984 7    INDF  PT. Indofood Sukses Makmur Tbk    14 Juli 1994 8    MLBI  PT. Multi Bintang Indonesia Tbk    17 Januari 1994 9    MYOR  PT. Mayora Indah Tbk    04 Juli 1990 10    PSDN  PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk    18 Oktober 1994 11    SKLT  PT. Sekar Laut Tbk    08 September 1993 12    STTP  PT. Siantar Top Tbk    16 Desember 1996 13    ULTJ  PT. Ultrajaya Milk Tbk    02 Juli 1990 Sumber : www.idx.co.id(2010)  Tabel 1.6 Sampel Penelitian Perusahaan farmasi  No  Kode Saham    Nama Emiten    Tanggal Listing 1     DVLA  PT. Darya Varia Laboratoria Tbk    11 November 1994 2    INAF  PT. Indofarma Tbk    17 April 2001 3    KAEF  PT. Kimia Farma Tbk    04 Juli 2001  No  Kode Saham    Nama Emiten    Tanggal Listing 4    KLBF  PT. Kalbe Farma Tbk    30 Juli 1991 5    MERK  PT. Merck Tbk    23 Juli 1981 6    PYFA  PT. Pyridam Farma Tbk    16 Oktober 2001 7    SCPI  PT. Schering Plough Indonesia Tbk    08 Juni 1990 8    SQBI  PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk    29 Maret 1983 9    TSPC  PT. Tempo Scan Pacific Tbk    17 Juni 1994 Sumber : www.idx.co.id(2010)  3. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan  di Bursa Efek Indonesia melalui  situs www.idx.co.id. Waktu penelitian dilakukan mulai dari bulan Oktober  sampai dengan selesai.
4. Jenis dan Sumber Data Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh  melalui laporan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia. Menurut  Situmorang,et al. (2010:2), data sekunder adalah data yang telah  dikumpulkan dan disatukan oleh studi-studi sebelumnya atau yang  diterbitkan oleh berbagai instansi lain. Data yang digunakan dalam  penelitian ini adalah : a)  Data perusahaan sektor makanan dan minuman serta sektor farmasi yang  terdaftar di BEI b)  Data laporan keuangan dari tahun 2008 sampai dengan 2009  5.Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah studi  dokumentasi yakni melakukan pengumpulan data dengan cara membaca,  meninjau dan mempelajari dokumen, buku-buku, majalah, dan literatur  ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik bahasan penelitian.
6. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan penulis untuk menganalisis  data yang telah dikumpulkan adalah: a.  Metode Analisis Deskriptif Metode ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data,  mengklasifikasikan data, menjelaskan dan kemudian melakukan  analisa sehingga memberikan informasi dan gambaran yang sesuai  mengenai Economic Value Added (EVA) sebagai ukuran kinerja  keuangan.
b.  Metode Analisis Kuantitatif Metode analisis  yang menggunakan cara merumuskan dan  menyajikan data dalam bentuk angka. Metode kuantitatif yang digunakan  penulis adalah: 1.  Dalam menganalisis EVA (Economic Value Added/Nilai Tambah  Ekonomis), penulis menggunakan laporan keuangan berupa Neraca dan  Laporan Laba-Rugiperusahaan sektor makanan dan minuman serta sektor  farmasi  periode 2008 sampai dengan 2009.
 Rumus EVA menurut Brigham dan Houston (2001:69) EVA = NOPAT– (WACC x Capital Employed)  dimana:  NOPAT  = Net Operating Profit After Tax  atau laba operasi bersih  sesudah pajak.
WACC = Weighted Average Cost of Capital atau biaya modal rata-rata  tertimbang perusahaan,  yang umumnya terdiri atas hutang  yang memiliki bunga dan modal sendiri Capital Employed= Jumlah dana yang tersedia bagi perusahaan untuk membiayai  usahanya, yang merupakan penjumlahan dari total hutang  yang memiliki bunga dan modal sendiri Asumsi : 1)  Bila EVA  > 0, maka terjadi nilai tambah pada  perusahaan  dimana  menunjukkan bahwa manajemen telah berhasil meningkatkan nilai  perusahaan.
2)  Bila EVA = 0, maka menunjukkan posisi impas perusahaan (nilai perusahaan  tetap), dimana secara ekonomis semua laba perusahaan digunakan untuk  membayar seluruh kewajiban kepada kreditur dan pemegang saham.
3)  Bila EVA < 0, dimana nilai perusahaan tidak tercipta maka laba yang tersedia  tidak bisa memenuhi harapan perusahaan,kreditur dan pemegang saham.
 c.  Pengujian Hipotesis 1. Paired Sample T-Test Menurut Situmorang,et al. (2010:45), uji Paired Sample T Test ini  digunakan untuk menguji hipotesis beda dua rata-rata yang saling  berhubungan. Sampel yang berhubungan dimaksudkan sebagai penetapan  subjek masuk ke dalam salah satu dari kedua sampel dan juga bisa  dikaitkan dengan variabel lain. Pair Sample T-Test banyak digunakan oleh  para peneliti untuk melihat penelitian dengan perbandingan pada data  sebelumnya. Hipotesis terbagi menjadi 2 jenis yaitu Hipotesis nol(Ho) dan  Hipotesis Alternatif(Ha). Ho menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan  antara nilai EVA tahun 2008 dengan 2009 perusahaan sektor makanan dan  minuman dengan sektor farmasi, sedangkan Ha menyatakan bahwa  terdapat perbedaan antara nilai EVA tahun 2008 dengan 2009 perusahaan  sektor makanan dan minuman dengan sektor farmasi. Dengan tingkat  signifikan (α) 5%. Jika nilai Asym.sig (2-tailed) > taraf nyata (α) maka Ho  diterima, artinya data penelitian tidak memiliki perbedaan , sebaliknya jika  nilai Asym.sig (2-tailed) < taraf nyata (α) maka Ha 2. Independent Sample T-Test diterima, artinya data  penelitian memiliki perbedaan.
Independent Sample T-Test digunakan untuk menguji signifikansi  beda rata-rata dua kelompok. Independen disini berarti dua kelompok  tersebut tidak saling terkait, tidak saling berhubungan, berasal dari dua  populasi yang berbeda. (Situmorang, et al. 2010:41).
 Hipotesis yang ada terbagi menjadi 2 yaitu hipotesis nol(Ho) dan  Hipotesis alternatif(Ha). Ho menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan  antara nilai EVA perusahaan sektor makanan dan minuman dengan sektor  farmasi, sedangkan Ha menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara nilai  EVA perusahaan sektor makanan dan minuman dengan sektor farmasi.
Dengan menggunakan tingkat signifikan (α) 5%. Jika nilai Asym.sig (2-tailed) > taraf nyata (α) maka Ho diterima, artinya data penelitian memiliki  mean yang tidak berbeda, sebaliknya jika nilai Asym.sig (2-tailed) < taraf  nyata (α) maka Ha  diterima, artinya data penelitian memiliki mean  berbeda.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi