BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pada perusahaan-perusahaan yang memisahkan antara
kepemilikan dan manajemen secara tegas,
pengukur an kinerja manajemen merupakan hal yang penting. Manajemen perusahaan sering membuat
keputusan yang bertentangan dengan
tujuan perusahaan yaitu untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
Tingkat pengembalian yang dihasilkan
perusahaan akan mencerminkan apakah
suatu perusahaan mampu menciptakan nilai baik atau sebaliknya. Dengan demikian, perusahaan dapat melihat sampai
sejauh mana tingkat efektivitas dari kegiatan
yang telah dilakukan oleh perusahaan serta untuk kedepannya dapat memilih alternatif terbaik bagi perusahaan.
Nilai Tambah
Ekonomis atau Economic Value Added (EVA)
yang merupakan salah satu cara untuk
menilai kinerja keuangan merupakan indikator tentang adanya penambahan nilai dari suatu
investasi. EVA sendiri merupakan alat
komunikasi yang efektif untuk penciptaan nilai yang akhirnya mendorong kinerja perusahaan dan untuk berhubungan
dengan pasar modal.(Young dan Byrne,2001:18).
EVA merupakan suatu aliran, dikarenakan EVA mengukur tingkat laba. EVA adalah suatu cara mengubah
pengukuran saham dari kelebihan pengembalian
menjadi aliran. Perbedaan pokok antara EVA dan pengukuran laba konvensional adalah EVA merupakan laba
ekonomis yang dimana merupakan kebalikan
dari laba akunting.(Young dan Byrne,2001:32). EVA mempertimbangkan seluruh biaya modal yang
dibebankan kepada perusahaan sedangkan
perhitungan akuntansi hanya terbatas pada beban yang dibebankan pada perusahaan selama periode waktu tertentu.
EVA merupakan hak milik merek dagang ekslusif
dari Stern Stewart Company, sebuah
konsultan manajemen berbasis di New York. Stern Stewart menjadikan istilah EVA sebagai hak ciptanya,
sehingga kantor-kantor konsultan lain
memberikan nama yang berbeda untuk nilai ini. (Brigham dan Houston, 2006:68). Beberapa perusahaan besar seperti
Coca-Cola, AT&T, Intel, General Electric,
Yahoo dan sebagainya menggunakan EVA dalam mencapai keberhasilan perusahaan-perusahaan tersebut. (Young dan Byrne,2001:55). Menurut CEO Coca-Cola, Roberto Goizueta, EVA merupakan
kunci untuk sebuah keberhasilan perusahaan
sehingga perusahaan mampu menciptakan laba ekonomis dan perusahaan akan mencapai efisiensi yang sangat
besar. (Young dan Byrne, 2001:43).
Metode EVA
bertujuan mengukur real return yang dihasilkan perusahaan.
Pendekatan ini
kurang populer di Indonesia. Perusahaan yang sadar dan mau menggunakan EVA untuk mengukur kinerja
perusahaan, umumnya perusahaan asing
atau saham perusahaan dimiliki pemodal asing, misalnya Unilever dan Sari Husada. Jika perusahaan sungguh-sungguh ingin
mengaplikasikan pendekatan EVA, harus
melibatkan semua pihak, terutama tingkat manajer hingga direksi (SWA , Oktober
2003).
Perusahaan yang
diteliti adalah perusahaan yang menggunakan metode EVA sebagai tolak ukur kinerjanya, maka dalam
skripsi ini akan dilakukan perbandingan
mengenai tingkat nilai EVA yang tercipta dari dua perusahaan yang berada pada sektor sejenis yaitu pada sektor
Industri Barang Konsumsi. Sub sektor
yang dibandingkan dalam skripsi adalah perusahaan makanan dan minuman dengan perusahaan farmasi. Sektor
perusahaan Makanan dan Minuman merupakan
perusahaan yang menghasilkan produk-produk makanan serta minuman bagi masyarakat. Sektor makanan dan
minuman memiliki lima belas perusahaan
yang terdaftar sebagai perusahaan publik di BEI. Sektor makanan dan minuman cukup diminati mengingat produk yang
dihasilkan adalah produk konsumsi
harian bagi masyarakat sehingga pergerakan harga saham sektor makanan dan minuman cenderung stabil sehingga
investor yang tidak suka bermain risiko
biasanya memilih saham sektor makanan dan minuman.
Sektor perusahaan Farmasi
merupakan perusahaan yang menghasilkan produk
obat-obatan bagi masyarakat. Sektor farmasi sendiri memiliki sembilan perusahaan yang terdaftar sebagai perusahaan
publik di BEI. Perusahaan farmasi juga
cenderung memiliki pergerakan nilai saham yang cukup stabil sehingga menimbulkan risiko yang kecil bagi investor
yang berinvestasi di sektor farmasi.
Berikut ini akan
disajikan daftar perusahaan sektor makanan dan minuman serta farmasi dengan tingkat nilai EVA dari
tahun 2008 sampai dengan 2009.
Tabel 1.1 Daftar
Perusahaan Sektor Makanan & Minuman dengan Nilai EVA Pada Tahun 2008-2009 NO
Nama Perusahaan EVA 2008 2009 1 Akasha Wira Internasional Tbk -50367.12
-13944.32 2 Tiga Pilar Sejahtera
Food Tbk 13593.64 -2279.19 3
Aqua Golden Mississippi Tbk
-12564 -6942.45 4 Cahaya Kalbar Tbk 32123.13
1520.66 5 Davomas Abadi Tbk -257604.45 -1140875.21 6 Delta Djakarta Tbk -13136.28
-8295.3 7 Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk - -8
Indofood Sukses Makmur Tbk
1557221.77 391216.96 9 Multi Bintang Indonesia Tbk 23315.5
28752.84 No Nama Perusahaan 2008
2009 10 Mayora Indah Tbk 3870.5
-8302.73 11 Prasidha Aneka Niaga
Tbk 27358.16 -8742.78 12
Nippon Indosari Corpindo Tbk
- -13 Sekar Laut Tbk -439.26
-13614.84 14 Siantar Top Tbk 9570.23
-17786.91 15 Ultrajaya Milk
Tbk -396345.44 8655.55 Sumber : www.idx.co.id dan
www.idsaham.com(2010) Tabel 1.2 Daftar
Perusahaan Sektor Farmasi Dengan Nilai EVA Pada Tahun 2008-2009 NO Nama Perusahaan EVA 2008
2009 1 Darya Varia Tbk -16383.36
13776.3 2 Indofarma Tbk 16913.22
5355.55 3 Kimia Farma Tbk 6422.48
3592.41 4 Kalbe Farma Tbk 38221.94
138136.91 5 Merck Tbk -90.1
-170 6 Pyridam Farma Tbk 896.53
-210.7 7 Schering Plough
Indonesia Tbk 5633.2 1019.9 8
Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk
-451.4 5286.24 9 Tempo Scan Pacific Tbk -58457.73 -40971.98 Sumber : www.idx.co.id dan
www.idsaham.com(2010) Pada Tabel 1.1
disajikan nilai EVA dari seluruh perusahaan yang berada pada sektor makanan dan minuman. Dari 15
perusahaan makanan dan minuman di BEI
pada tahun 2008, ternyata hanya 7 perusahaan yang mampu menciptakan nilai EVA yang positif dan 6 perusahaan
menghasilkan nilai EVA yang negatif dan
2 perusahaan tidak mempublikasikan laporan keuangannya pada 2 tahun terakhir
sehingga tidak bisa ditelusuri bagaimana nilai EVA pada perusahaan tersebut. Pada tahun 2009, perusahaan makanan
dan minuman yang menghasilkan EVA
positif semakin menurun jumlahnya menjadi hanya 4 perusahaan dan yang menghasilkan EVA negatif menjadi 9 perusahaan.
Hal tersebut menggambarkan penurunan
kinerja dari beberapa perusahaan sektor makanan dan minuman yang menimbulkan nilai EVA pada perusahaan menjadi
negatif.
Pada Tabel 1.2
disajikan nilai EVA dari seluruh perusahaan yang berada pada sektor farmasi di BEI. Dari 9 perusahaan
farmasi di BEI pada tahun 2008, ternyata
ada 5 perusahaan yang mampu menghasilkan nilai EVA yang positif dan 4 perusahaan yang menghasilkan nilai EVA yang
negatif. Pada tahun 2009, perusahaan
farmasi yang menghasilkan EVA positif menjadi 6 perusahaan, meningkat dari tahun 2008, dan yang
menghasilkan EVA negatif adalah 3 perusahaan.
Hal tersebut menggambarkan ada peningkatan kinerja perusahaan farmasi yang dimana perusahaan mampu
meningkatkan nilai EVA dan mampu mempertahankan
nilai EVA yang positif untuk tidak menurun.
Dengan demikian
judul penelitian ini adalah “Analisis
Kinerja Keuangan Berdasarkan
Economic Value Added Pada
Perusahaan Sektor Makanan dan Minuman Dengan Sektor Farmasi Di
Bursa Efek Indonesia”.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar
belakang masalah yang diuraikan, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. “Apakah kinerja keuangan pada perusahaan
sektor makanan dan minuman dengan sektor
farmasi berdasarkan metode EVA sudah berjalan
dengan baik”? 2. “Apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan
antara sektor makanan dan minuman dengan
sektor farmasi di Bursa Efek Indonesia” ? C. Kerangka Konseptual Economic Value
Added (EVA) adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu
perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan
hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal
(cost of capital). EVAmerupakan selisih
dari laba operasi bersih setelah pajak (Net operating after tax) atau disingkat NOPAT dikurangi dengan biaya modal
(cost of capital). (Young dan Byrne,(2001:35).
Menurut Brigham dan Houston (2006:69), menyatakan bahwa EVA adalah suatu estimasi dari laba ekonomis
yang sebenarnya dari bisnis untuk tahun
yang bersangkutan dan sangat jauh berbeda dengan dari laba akuntansi.
EVA memberikan
gambaran mengenai suatu ukuran yang baik mengenai sampai sejauh mana perusahaan telah memberikan
tambahan pada nilai pemegang saham.
Nasser, (2003:6),
menyatakan bahwa hasil penelitian di Amerika Serikat ternyata banyak peusahaan yang setuju bahwa
metode EVA sebagai pengukur terbaik
untuk mengukur kinerja perusahaan.
Dalam penelitian yang dilakukan disimpulkan
bahwa jika dibandingkan dengan
pengukuran lainnya, EVA mempunyai
hubungan paling erat dengan tingkat
pengembalian saham. Hasil penemuan para peneliti mendukung efektivitas EVA sebagai pengukur kinerja perusahaan.
Sebagian dari temuan tersebut adalah sebagai
berikut : EVA berkorelasi positif dengan tingkat pengembalian investasi dalam saham. Korelasi tersebut lebih kuat jika
dibandingkan dengan kolerasi EVA dengan tingkat pengembalian investasi dalam
harta atau Return onEquity(ROE) dan tingkat pengembalian penjualan Return on
Sales (ROS). Sehubungan dengan itu tidak
mengherankan jika EVA dianggap sebagai metode yang unggul.
Jumlah perusahaan
yang belum menggunakan metode EVA dalam mengevaluasi kinerja keuangan masih banyak. Ukuran evaluasi yang biasa digunakan hanya sebatas Earnings (laba
akuntasi) yang dihasilkan pada setiap periodenya.
Berikut ini adalah
gambar model kerangka konseptual yang menyatakan nilai EVA perusahaan sektor makanan dan
minuman tidak sama dengan nilai EVA
perusahaan sektor farmasi: Gambar 1.1
Kerangka Konseptual Sumber :
Young dan O’Byrne(2001);Brigham dan Houston(2006) EVA PERUSAHAAN SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN EVA PERUSAHAAN SEKTOR
FARMASI D. Hipotesis Berdasarkan latar
belakang, perumusan masalah, dan kerangka konseptual yang telah dijelaskan, maka
dikemukakan hipotesis sebagai berikut: 1.
Kinerja keuangan perusahaan sektor makanan dan minuman serta sektor farmasi berdasarkan metode EVA telah berjalan
dengan baik.
2. Terdapat perbedaan kinerja keuangan antara
perusahaan sektor makanan dan minuman
dengan sektor farmasi di Bursa Efek Indonesia.
E. Tujuan dan
Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Mengetahuidan
Menganalisis kinerja keuangan berdasarkan EVA pada perusahaan sektor makanan
dan minuman dengan sektor farmasi di Bursa
Efek Indonesia.
2. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian
ini adalah sebagai berikut : a.
Memberikan informasi mengenai kinerja keuangan berdasarkan EVA pada perusahaan sektor makanan dan minuman
serta sektor farmasi di Bursa Efek
Indonesia.
b. Sebagai bahan referensi bagi peneliti
berikutnya yang akan melakukan penelitian
tentang objek yang sama di masa yang akan datang.
c. Untuk menambah pengembangan wawasan,
pandangan, dan pengembangan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan manajemen
keungan, baik dari segi teoritis maupun aplikasinya secara nyata dalam dunia bisnis.
F. Metode
Penelitian 1. Batasan Penelitian Batasan
penelitian dilakukan agar penelitian lebih terarah dan tidak menyimpang dalam pembahasan dan analisis, sehingga
penulis menetapkan beberapa
batasan operasional sebagai berikut: a.
Data laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan sektor makanan dan minuman dengan
sektor farmasi pada tahun 2008 sampai
2009 b. Menggunakan analisis EVA
(Economic Value Added) sebagai alat ukur
kinerja keuangan pada perusahaan sektor makanan dan minuman dengan sektor farmasi yang terdaftar di BEI c. Perusahaan yang diteliti adalah perusahaan
yang berada pada sektor makanan dan
minuman dengan sektor farmasi.
2. Populasi dan
Sampel Populasi dari penelitian ini
adalah perusahaan yang berada pada sektor
makanan dan minuman serta pada sektor farmasi. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah purposive sampling
yaitu metode penarikan sampel berdasarkan syarat dan kriteria yang ditentukan agar memperoleh data
yang diinginkan. Kriteria yang
ditetapkan yaitu : a. Perusahaan sektor
makanan dan minuman dengan sektor farmasi yang di BEI pada tahun 2008 sampai 2009.
b. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan
tahunan dari tahun 2008 sampai2009.
Tabel 1.3 Pemilihan
Sampel Perusahaan Makanan dan Minuman KETERANGAN JUMLAH PERUSAHAAN Perusahaan sektor makanan dan minuman
yang terdaftar di BEI dari tahun
2008-2009 15 Perusahaan yang datanya tidak lengkap 2 Jumlah sampel yang digunakan 13 Tabel 1.4 Pemilihan Sampel Perusahaan
Farmasi KETERANGAN JUMLAH PERUSAHAAN Perusahaan sektor farmasi yang terdaftar
di BEI dari tahun 2008-2009 9 Perusahaan yang datanya tidak lengkap 0 Jumlah sampel yang digunakan 9 Berdasarkan kriteria seleksi sampel pada
Tabel 1.5 dan Tabel 1.6 maka diperoleh sampel penelitian sebagai berikut: Tabel 1.5 Sampel Penelitian Perusahaan
Makanan dan Minuman No Kode Saham Nama Emiten
Tanggal Listing 1 ADES PT. Akasha Wira Internasional Tbk 13 Juni 2004 2 AISA
PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
11 Juni 1997 3 AQUA PT. Aqua Golden Mississippi Tbk 01 Maret 1990 4 CEKA
PT. Cahaya Kalbar Tbk 09 Juli
1996 5 DAVO PT. Davomas Abadi Tbk 22 Desember 1994 6 DLTA
PT. Delta Djakarta Tbk 12
Februari 1984 7 INDF PT. Indofood Sukses Makmur Tbk 14 Juli 1994 8 MLBI
PT. Multi Bintang Indonesia Tbk
17 Januari 1994 9 MYOR PT. Mayora Indah Tbk 04 Juli 1990 10 PSDN
PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk 18
Oktober 1994 11 SKLT PT. Sekar Laut Tbk 08 September 1993 12 STTP
PT. Siantar Top Tbk 16 Desember
1996 13 ULTJ PT. Ultrajaya Milk Tbk 02 Juli 1990 Sumber : www.idx.co.id(2010) Tabel 1.6 Sampel Penelitian Perusahaan farmasi
No
Kode Saham Nama Emiten Tanggal Listing 1 DVLA
PT. Darya Varia Laboratoria Tbk
11 November 1994 2 INAF PT. Indofarma Tbk 17 April 2001 3 KAEF
PT. Kimia Farma Tbk 04 Juli
2001 No
Kode Saham Nama Emiten Tanggal Listing 4 KLBF
PT. Kalbe Farma Tbk 30 Juli
1991 5 MERK PT. Merck Tbk 23 Juli 1981 6 PYFA
PT. Pyridam Farma Tbk 16
Oktober 2001 7 SCPI PT. Schering Plough Indonesia Tbk 08 Juni 1990 8 SQBI
PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk 29 Maret 1983 9 TSPC
PT. Tempo Scan Pacific Tbk 17
Juni 1994 Sumber : www.idx.co.id(2010) 3.
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui situs www.idx.co.id. Waktu penelitian
dilakukan mulai dari bulan Oktober sampai
dengan selesai.
4. Jenis dan Sumber
Data Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui laporan yang dipublikasikan oleh Bursa
Efek Indonesia. Menurut Situmorang,et
al. (2010:2), data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan dan disatukan oleh studi-studi
sebelumnya atau yang diterbitkan oleh
berbagai instansi lain. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Data perusahaan sektor makanan dan minuman
serta sektor farmasi yang terdaftar di
BEI b) Data laporan keuangan dari tahun
2008 sampai dengan 2009 5.Metode
Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah studi dokumentasi yakni melakukan pengumpulan data
dengan cara membaca, meninjau dan
mempelajari dokumen, buku-buku, majalah, dan literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik
bahasan penelitian.
6. Metode Analisis
Data Metode analisis data yang digunakan penulis untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan adalah: a. Metode Analisis Deskriptif Metode ini
dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mengklasifikasikan data, menjelaskan dan
kemudian melakukan analisa sehingga
memberikan informasi dan gambaran yang sesuai mengenai Economic Value Added (EVA) sebagai
ukuran kinerja keuangan.
b. Metode Analisis Kuantitatif Metode
analisis yang menggunakan cara
merumuskan dan menyajikan data dalam
bentuk angka. Metode kuantitatif yang digunakan penulis adalah: 1. Dalam menganalisis EVA (Economic Value
Added/Nilai Tambah Ekonomis), penulis
menggunakan laporan keuangan berupa Neraca dan Laporan Laba-Rugiperusahaan sektor makanan dan
minuman serta sektor farmasi periode 2008 sampai dengan 2009.
Rumus EVA menurut Brigham dan Houston
(2001:69) EVA = NOPAT– (WACC x Capital Employed) dimana: NOPAT =
Net Operating Profit After Tax atau laba
operasi bersih sesudah pajak.
WACC = Weighted
Average Cost of Capital atau biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan, yang umumnya terdiri atas hutang yang memiliki bunga dan modal sendiri Capital
Employed= Jumlah dana yang tersedia bagi perusahaan untuk membiayai usahanya, yang merupakan penjumlahan dari
total hutang yang memiliki bunga dan
modal sendiri Asumsi : 1) Bila EVA > 0, maka terjadi nilai tambah pada perusahaan
dimana menunjukkan bahwa
manajemen telah berhasil meningkatkan nilai perusahaan.
2) Bila EVA = 0, maka menunjukkan posisi impas
perusahaan (nilai perusahaan tetap),
dimana secara ekonomis semua laba perusahaan digunakan untuk membayar seluruh kewajiban kepada kreditur dan
pemegang saham.
3) Bila EVA < 0, dimana nilai perusahaan
tidak tercipta maka laba yang tersedia tidak
bisa memenuhi harapan perusahaan,kreditur dan pemegang saham.
c.
Pengujian Hipotesis 1. Paired Sample T-Test Menurut Situmorang,et al.
(2010:45), uji Paired Sample T Test ini digunakan
untuk menguji hipotesis beda dua rata-rata yang saling berhubungan. Sampel yang berhubungan
dimaksudkan sebagai penetapan subjek
masuk ke dalam salah satu dari kedua sampel dan juga bisa dikaitkan dengan variabel lain. Pair Sample
T-Test banyak digunakan oleh para
peneliti untuk melihat penelitian dengan perbandingan pada data sebelumnya. Hipotesis terbagi menjadi 2 jenis
yaitu Hipotesis nol(Ho) dan Hipotesis
Alternatif(Ha). Ho menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara nilai EVA tahun 2008 dengan 2009
perusahaan sektor makanan dan minuman
dengan sektor farmasi, sedangkan Ha menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara nilai EVA tahun 2008
dengan 2009 perusahaan sektor makanan
dan minuman dengan sektor farmasi. Dengan tingkat signifikan (α) 5%. Jika nilai Asym.sig
(2-tailed) > taraf nyata (α) maka Ho diterima,
artinya data penelitian tidak memiliki perbedaan , sebaliknya jika nilai Asym.sig (2-tailed) < taraf nyata (α)
maka Ha 2. Independent Sample T-Test diterima, artinya data penelitian memiliki perbedaan.
Independent Sample
T-Test digunakan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok. Independen disini
berarti dua kelompok tersebut tidak
saling terkait, tidak saling berhubungan, berasal dari dua populasi yang berbeda. (Situmorang, et al.
2010:41).
Hipotesis yang ada terbagi menjadi 2 yaitu
hipotesis nol(Ho) dan Hipotesis
alternatif(Ha). Ho menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara nilai EVA perusahaan sektor makanan dan
minuman dengan sektor farmasi, sedangkan
Ha menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara nilai EVA perusahaan sektor makanan dan minuman
dengan sektor farmasi.
Dengan menggunakan
tingkat signifikan (α) 5%. Jika nilai Asym.sig (2-tailed) > taraf nyata (α)
maka Ho diterima, artinya data penelitian memiliki mean yang tidak berbeda, sebaliknya jika nilai
Asym.sig (2-tailed) < taraf nyata (α)
maka Ha diterima, artinya data
penelitian memiliki mean berbeda.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi