Kamis, 27 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PEMBENTUKAN DISONANSI KOGNITIF KONSUMEN PEMILIK SEPEDA MOTOR YAMAHA MATIC PADA MAHASISWA



BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
 Seorang konsumen dapat merasakan ketidaknyaman setelah melakukan suatu  pembelian atau tidak. Apabila konsumen merasakan ketidaknyamanan pasca melakukan  transaksi pembelian berarti konsumen telah mengalami kondisi disonansi kognitif. “Disonansi kognitif adalah ketidaknyamanan pembelian karena konflik setelah  pembelian” (Kotler dan Armstrong, 2001: 228). Kondisi disonansi kognitif pembeli  dapat diukur dengan  tiga dimensi yakni emosional, kebijaksanaan pembelian dan  perhatian setelah transaksi. Seorang konsumen akan mengalami disonansi kognitif pasca  melakukan pembelian suatu produk, terutama sekali produk yang mahal salah satu  contohnya adalah produk otomotif seperti sepeda motor.

Hampir setiap produsen sepeda motor dewasa ini memproduksi sepeda motor  yang diakui memiliki teknologi hebat, hemat BBM serta harga yang ekonomis. Hal ini  mempengaruhi konsumen dalam memilih sepeda motor sebagai kendaraan pilihan  mereka. Yamaha Mio merupakan pengembangan produk yang dilakukan oleh PT.
Yamaha Motor dalam usahanya untuk mendiffererensiasikan produknya dalam hal  sepeda motor  matic. Sepeda motor Yamaha  matic  didesain sebagai sepeda motor  untuk konsumen yang ingin memiliki sepeda motor automatic dengan kualitas tinggi,  model yang trendi dan sporty namun hemat bahan bakar. Produk ini juga memiliki  sejumlah keunggulan dibanding sepeda motor merek lain. Keunggulannya antara lain:  sepeda motor Yamaha matic dalam hal ini Yamaha Mio generasi terbaru telah teruji  sebagai sepeda motor yang bandel, bertenaga dengan kapasitas 115 cc, gesit dan   suaranya tidak berisik, suku cadangnya lebih mudah didapat dan dilengkapi dengan  bagasi yang cukup luas namun tetap hemat bahan bakar. Dari hal inilah yang membuat  banyak masyarakat memilih menggunakan sepeda motor matic Yamaha Mio, sehingga  menempatkan sepeda motor ini sebagai salah satu sepeda motor terlaris di Indonesia.
Mahasiswa merupakan salah satu kelompok masyarakat yang banyak menggunakan kendaraan sepeda motor untuk melakukan kegiatannya sehari-hari.
Sepeda motor automatic merupakan salah satu pilian mereka karena sepeda motor  automatic lebih mudah dikendarai dan cocok untuk pria dan wanita. Namun informasiinformasi baik informasi yang positif maupun yang negatif mengenai sepeda motor  Yamaha matic akan membuat konsumen dalam dalam hal ini Mahasiswa merasa  dihadapkan pada suatu kondisi yang membingungkan, dimana kepercayaan mereka  tidak sejalan bersama, hal inilah yang akan mengakibatkan timbulnya disonansi.
Berdasarkan fenomena di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian  Analisis Pembentukan Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Sepeda Motor Yamaha  Matic Pada Mahasiswa S1 Program Reguler dan Ekstensi Departemen Manajemen  Fakultas Ekonomi USU.
B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas , maka hal yang menarik untuk diteliti adalah :  Faktor-faktor apa saja yang membentuk Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik sepeda  motor Yamaha Matic pada Mahasiswa S1 Program Reguler dan Ekstensi Departemen  Manajemen Fakultas Ekonomi USU?   C. Kerangka Konseptual  Kerangka konseptual adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek  penelitian ditujukan, dimana hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang  secara logis diterangkan, dikembangkan, dan dielaborasi dari perumusan masalah yang  telah diidentifikasi melalui proses wawancara, observasi dan  survey  literature (Kuncoro, 2003: 4).
Penelitian 22 item yang didesain oleh Sweeney, Hausknect dan Soutar (2000:  369) menyatakan bahwa Cognitive Dissonance dapat di ukur dengan tiga dimensi yaitu:  Emotional, Wisdhom of Purchase, Concern Over the Deal. Kerangka penelitian ini  mengemukakan variabel-variabel yang akan diteliti yaitu Emotional  (Emosional)  sebagai X1, Wisdhom of Purchase (Kebijaksanaan Pembelian) sebagai X2, Concern  Over the Deal (Perhatian setelah Transaksi) sebagai X3, dan Cognotive Dissonance (Disonansi Kognitif) sebagai Y.
Emotional  (Emosional) adalah ketidaknyamanan psikologis yang dialami  seseorang terhadap keputusan pembelian.  Wisdhom of Purchase  (Kebijaksanaan  Pembelian) adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah transaksi  pembelian, dimana mereka bertanya-tanya apakah mereka sangat membutuhkan produk  tersebut atau apakah mereka telah memilih produk yang sesuai. Concern over the Deal (Perhatian setelah Transaksi) adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah  transaksi pembelian dimana mereka bertanya-tanya apakah mereka telah dipengaruhi  oleh tenaga penjual yang bertentangan dengan kemauan atau kepercayaan mereka.
Dimensi ini menghasilkan 22 item yang dapat digunakan untuk mengukur Cognitive  Dissonance (Disonansi kognitif). Tiga dimensi dari 22 item tersebut bukan hal yang   baru untuk mengukur Cognitive Dissonance karena sudah digunakan Sweeney, at all (2003: 227) untuk mengukur Cognitive Dissonance pada penelitian sebelumnya.
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber: Soutar dan Sweeney, 2003 (data diolah oleh penulis) D.  Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara atas rumusan masalah,  yang kebenarannya akan diuji dalam pengujian hipotesis (Sugiono, 2003:306).
Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka hipotesis penelitian ini adalah:  “Faktor- faktor dari dimensi Emosional (Emotional) yaitu telah membuat sesuatu  yang salah (1), putus asa (2), menyesal (3), kecewa (4), takut(5), hampa (6), marah  (7), cemas (8), kesal (9), frustasi (10), sakit hati (11), depresi (12), marah dengan  diri sendiri (13), muak (14), mendapat masalah (15),  Kebijakan Pembelian (Wisdom of Purchase) yaitu telah melakukan hal yang tepat untuk membeli sepeda  motor Yamaha matic (16), merasa bahwa sangat membutuhkan sepeda motor  Yamaha matic (17), seharusnya tidak perlu membeli suatu apapun (18), telah  membuat pilihan yang tepat (19), Perhatian Setelah Transaksi (Concern Over the  Deal) yaitu telah melakukan kesalahan dengan persetujuan yang dibuat (20), telah  melakukan suatu ketololan (21), tenaga penjual telah membuat bingung (22),  Emotional (Emosional) (X1) Wisdhom of Purchase (Kebijaksanaan Pembelian) (X2) Concern Over the Deal (Perhatian setelah Transaksi) (X3) Cognitive Dissonance (Disonansi kognitif) (Y)  mempunyai pengaruh terhadap  pembentukan Disonansi  Kognitif Konsumen  Pemilik Sepeda Motor Yamaha  Matic Mahasiswa  S1 Program Reguler dan  Ekstensi Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi USU”.
E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: a.  Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang membentuk Disonansi  Kognitif Konsumen Pemilik Sepeda Motor Yamaha Matic Pada Mahasiswa S1 Program Reguler dan Ekstensi Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi  USU.
b. Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor utama yang membentuk Disonansi  Kognitif Konsumen Pemilik Sepeda Motor Yamaha Matic Pada Mahasiswa  S1 Program Reguler dan Ekstensi Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi  USU.
2. Manfaat Penelitian a.  Bagi Perusahaan Sebagai sumbangan informasi dan pengetahuan agar dapat meningkatkan  penjualan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pelanggannya.
b.  Bagi Departemen Manajemen FE USU Menambah koleksi skripsi di perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas  Sumatera Utara.
c.  Bagi Penulis  Untuk memperdalam pengetahuan di bidang manajemen pemasaran mengenai  perubahan sikap konsumen pasca pembelian.
d.  Bagi Peneliti Lain Sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan perbandingan dalam  melakukan penelitian di masa yang akan datang.
F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasioanal Batasan operasional dalam penelitian ini adalah: 1.   Variabel independen (X) yaitu seberapa besar pengaruh disonansi kognitif  pemilik sepeda motor Yamaha Matic yang terdiri dari variabel Emotional (Emosional) sebagai X1, Wisdhom of Purchase (kebijaksanaan Pembelian)  sebagai X2, dan Concern Over the deal (Perhatian setelah Transaksi) sebagai  X3.
2.   Variabel dependen (Y) yaitu pembentukan Cognitive Dissonance (disonansi  kognitif) pemilik sepeda motor Yamaha Matic pada mahasiswa S1 Program  Regular dan Ekstensi Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi USU.
2. Definisi Operasional Variabel Penguraian definisi operasional varibel-variabel yang akan diteliti  merupakan suatu cara untuk mempermudah pengukuran variabel penelitian. Selain  itu juga memberi batasan-batasan pada obyek yang akan diteliti.
a.  Emosional(Emotional)  Berkaitan dengan situasi psikologi konsumen setelah melakukan pembelian,  dalam hal ini kondisi psikologi konsumen secara alami mempertanyakan  apakah tindakan yang dilakukannya telah tepat.
 b.  Kebijakan Pembelian(Wisdom of Purchase)  Berkaitan dengan keputusan yang telah dilakukan, disini konsumen  mempertanyakan apakah dia telah membeli suatu barang yang benar-benar  dengan apa yang dibutuhkannya.
c.  Perhatian Setelah Transaksi(Concern Over the Deal)  Berkaitan dengan kekecewaan konsumen dimana pada kondisi ini konsumen  cenderung kurang yakin dengan keputusan yang telah dibuatnya (Sweeney, et  all).
Tabel 1.1  Definisi Operasional Variabel Variabel  Definisi  Variabel  Indikator  Pengukuran  Variabel  Emosional (Emotional) Berkaitan dengan  situasi psikologi  konsumen,  mempertanyakan  apakah tindakan  yang  dilakukannya  telah tepat.
1.Membuat sesuatu yang salah;  2.putus asa; 3.menyesal; 4.kecewa;  5.takut; 6.hampa; 7.marah;  8.cemas; 9.kesal; 10.frustasi;  11.sakit hati; 12.depresi; 13.marah  dengan diri sendiri; 14.muak;  15mendapat masalah.
Skala Likert Variabel  Kebijakan  Pembelian  (Wisdom of  Purchase) Berkaitan dengan  keputusan yang  telah dilakukan,  mempertanyakan  apakah dia telah  membeli barang  yang benar  dengan apa yang  dibutuhkannya  1.Sangat membutuhkan sepeda  motor Yamaha  matic; 2.perlu  membeli sepeda motor Yamaha  matic; 3.telah membuat pilihan  yang tepat; 4.telah melakukan hal  yang tepat.
Skala Likert  Variabel  Perhatian  Setelah  Transaksi  (Concern  Over the  Deal) Berkaitan dengan  kekecewaan  konsumen  dimana  cenderung  kurang yakin  dengan  keputusan yang  telah dibuatnya 1.tidak merasa melakukan suatu  ketololan; 2.tenaga penjual tidak  membuat mereka bingung;  3.merasa nyaman dengan  persetujuan yang telah dibuat.
Skala Likert Sumber: Soutar dan Sweeney, 2003 (data diolah penulis) 3.  Pengukuran Variabel Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah faktor Emotional (emosional),  Wisdhom of Purchase  (Kebijaksanaan Pembelian) dan  Concern Over the Deal  (Perhatian setelah Pembelian). Ketiga variabel tersebut diukur dengan skala likert yaitu  digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok  orang tentang fenomena sosial (Sugiono 2006:104).
Peneliti memberikan lima alternatif jawaban kepada responden, dengan  menggunakan skala 1 sampai 5 untuk keperluan analisis kuantitatif penelitian ini yang  dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini: Tabel 1.2 Instrumen Skala Likert No  Pertanyaan  Skor 1  Sangat setuju  5 2  Setuju (S)  4 3  Kurang setuju (KS)  3 4  Tidak Setuju (TS)  2 5  Sangat Tidak Setuju (STS)  1 Sumber: Sugiyono (2006: 105)  Responden diharuskan memilih salah satu dari sejumlah kategori jawaban yang  tersedia pada penelitian ini, kemudian masing-masing jawaban diberi skor tertentu (5, 4,  3, 2, 1). Skor jawaban dari responden dijumlahkan, dan jumlah ini merupakan total skor.
Total skor inilah yang menjadi tafsir sebagai posisi responden dalam skala likert.
4. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kampus Ekonomi  Jl. Prof.
T. M. Hanafiah, SH Medan. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan peneliti dengan  pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada Mahasiswa Program Reguler  dan Ekstensi Departemen Manajemen  yang dilakukan pada  bulan Februari 2009 sampai April 2009.
5.  Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa S1 Program Reguler dan Ekstensi  Manajemen Fakultas Ekonomi USU yaitu angkatan 2006 dan angkatan 2007 yang  telah menggunakan sepeda motor Yamaha Matic yang berjmlah 685 orang.
b. Sampel Metode penarikan sampel yang dipakai adalah Propotianate Stratified  Random Sampling. Propotianate Stratified Random Sampling yaitu metode  penarikan sampel acak secara proporsional untuk setiap kelompok strata dalam  populasi. Tehnik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota atau unsur yang  tidak homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiono, 2006:92).
Sedangkan dalam menentukan jumlah sampel, penulis menggunakan rumus  dari Slovin (Umar, 2004: 78) sebagai berikut:  N  n =  1 + (Ne 2 )  dimana: n  = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi e  = Taraf Kesalahan 10% 685  n  =  1 + ( 685. 0.1 2 )  = 87,26  Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 87,26 dibulatkan menjadi 87  orang dengan taraf kesalahan 10%. Untuk lebih jelasnya mengenai populasi dan  sampel dalam penlitian ini, dapat dilihat pada Table 1.3.
Tabel 1.3 Populasi dan Sampel Program Studi  Mahasiswa Jumlah  2006  2007  Manajemen Reguler  210  229  439 Manajemen Ekstensi  137  109  246 Jumlah Populasi 685  Sumber: Bagian Kemahasiswaan FE USU  6. Jenis Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu data primer  (primary data) dan data sekunder (secondary data).
a.  Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden yang  terpilih pada lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan memberikan  kuesioner dan wawacara kepada responden terpilih.
b.  Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi pustaka dengan  mepelajari berbagai tulisan dari buku, jurnal, majalah dan internet untuk  mendukung penelitian ini.
7. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ialah:  a.  Kuesioner Meyebarkan daftar petanyaan kepada responden terpilih tentang bagaimana  pengaruh faktor  Emotional  (Emosional),  Wishdhom of Purchase (Kebijaksanaan Pembelian) dan Concern Over the Deal (Perhatian setelah  Pembelian) berpengaruh terhadap pembentukan  Cognitive Dissonance (Disonansi kognitif) konsumen pemilik sepeda motor Yamaha Matic pada  Mahasiswa S1 Program Reguler dan Ekstensi Departemen Manajemen  Fakultas Ekonomi USU.
b.  Wawancara Wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhak dan berwenang.
 c.  Studi Kepustakaan Studi kepustakaan dibuat untuk mengumpulkan data dan informasi dengan  bantuan bermacam-macam buku yang memberikan landasan bagi perumusan  hipotesis, penyusunan kuesioner, dan pembahasan teoretis. Peneliti juga  menyertakan informasi yang didapat melalui artikel yang relevan dari jurnaljurnal ilmiah dan buku-buku lain yang berkaitan dengan penelitian.
8. Teknik Analisis Data a.  Analisis Deskriptif Analisis deskriptif adalah salah satu dari metode analisis, dengan cara data  disusun dan dikelompokkan, kemudian dianalisis sehingga diperoleh  gambaran tentang masalah yang dihadapi dan untuk menjelaskan hasil  perhitungan.
b.  Analisis Faktor Analisis faktor digunakan untuk mereduksi faktor sehingga didapat faktorfaktor utama yang membentuk Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Ponsel  Nokia berkamera pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera  Utara. Dalam penelitian ini, analisis faktor menggunakan bantuan aplikasi  software SPSS 14.0 for Windows Evaluation Version.
Proses dasar dari analisis faktor, adalah: 1.  Menentukan variabel yang akan dianalisis. Dalam penelitian ini, variabel yang  akan dianalisis adalah variabel Emosional (Emotional) yang terdiri dari 15  faktor yaitu telah membuat sesuatu yang salah (1), merasa putus asa (2),  merasa menyesal (3), merasa kecewa dengan diri sendiri (4), merasa takut(5),  merasa hampa (6), merasa marah (7), merasa cemas atau khawatir (8), merasa   kesal atau jengkel (9), merasa frustasi (10), merasa sakit hati (11), merasa  depresi (12), merasa marah dengan diri sendiri (13), merasa muak (14),  mendapat masalah (15). Variabel Kebijakan Pembelian (Wisdom of Purchase)  terdiri dari 4 faktor yaitu merasa bahwa telah melakukan hal yang tepat untuk  membeli sepeda motor Yamaha  matic  (16), merasa bahwa sangat  membutuhkan sepeda Yamaha matic (17), merasa bahwa seharusnya tidak  perlu membeli suatu apapun (18), dan merasa bahwa telah membuat pilihan  yang tepat (19). Variabel Perhatian setelah Transaksi (Concern Over the Deal)  terdiri dari 3 faktor yaitu terkejut bahwa telah melakukan kesalahan dengan  persetujuan yang dibuat (20), telah melakukan suatu ketololan (21), terkejut  bahwa tenaga penjual telah membuat bingung (22).
2.  Menguji variabel-variabel yang telah ditentukan dengan menggunakan metode  Bartlett test of sphercity  serta pengukuran MSA (Measure of Sampling  Adequacy). Hipotesis untuk signifikansi adalah: Ho = Sampel (variabel) belum memadai untuk dianalisis lebih lanjut Hi = Sampel (variabel) sudah memadai untuk dianalisis lebih lanjut Kriteria dengan melihat probabilitas (signifikan): Angka Sig.>0,05 maka Ho diterima Angka Sig,<0,05 maka Ho ditolak Angka MSA (Measure of Sampling Adequacy) berkisar antara 0 sampai 1,  dengan kriteria: MSA-1, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain.
MSA>0,5, variabel masih bisa diprediksi dan bisa dianalis lebih lanjut   MSA<0,5, variabel tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisis lebih lanjut,  atau dikeluarkan variabel lainnya.
Dasar MSA ini akan digunakan untuk menganalisis setiap variabel.
3.  Hasil Anti Image Matrics perlu diperhatikan, khususnya pada angka korelasi  yang bertanda a (arah diagonal dari kiri atas ke kanan bawah). Dengan kriteria  angka MSA seperti dibahas di atas, maka apabila terlihat MSA variabel tidak  memenuhi batas 0,5 maka variabel tersebut dikeluarkan kemudian pengujian  diulang lagi. Misal ada lebih dari satu variabel yang mempunyai MSA di bawah  0,5 maka yang dikeluarkan adalah variabel dengan MSA terkecil, dan tentunya  proses pengujian tetap diulang.
4.  Melakukan proses inti pada analisis faktor, yakni factoring atau melakukan  ekstraksi terhadap sekumpulan variabel yang ada, sehingga terbentuk satu atau  lebih faktor. Banyak metode untuk melakukan proses ekstraksi, namun metode  yang digunakan pada penelitian ini adalah metode yang paling populer  digunakan yaitu Principal Component Analysis.
5.  Interpretasi atas faktor yang telah terbentuk, khususnya memberi nama atas  faktor yang terbentuk tersebut yang dianggap bisa mewakili variabel-variabel  anggota faktor tersebut.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi