BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Semakin tingginya tingkat persaingan perusahaan dan produk menyebabkan setiap perusahaan harus dapat
meunjukkan trik-trik dan strategi beda
dari perusahaan lain untuk mendapatkan market share dan penjualan produk yang tinggi. Setiap perusahaan mengeluarkan
produk baru, produk pesaing akan menantang
dengan mengeluarkan produk pesaing untuk menantang penguasaan pasar. Hal inilah yang harus dicermati setiap
perusahaan agar produknya bisa menjadi
pemimpin pasar. Dalam persaingan pasar, ketika sebuah produk sudah berada pada posisi yang baik dan menjadi ikon
pasar, maka perusahaan saingan akan
mengeluarkan produk saingan untuk menantang penguasaan pasar dan produk dengan segmentasi sama.
Salah satu cara
yang dapat digunakan untuk menguasai pasar adalah mempengaruhi minat untuk beli konsumen melalui
media periklanan. Inilah yang harus
dijadikan sebagai positioning, menempatkan produk pada pikiran calon konsumen (Al Ries, 2002:3). Dengan menempatkan
produk di pikiran konsumen maka
perkembangan produk mutlak meningkat dan mempunyai kemampulabaan yang bergerak signifikan.
Perusahaan berusaha
untuk selalu menciptakan keputusan pembelian konsumen. Mengelola keinginan konsumen untuk
melakukan keputusan pembelian konsumen
memberi nilai baik baagi perusahaan, yaitu memberikan keuntungan maupun laba. Karena tanpa adanya
keputusan pembelian konsumen tentunya
tidak akan ada aktifitas dalam perusahaan tersebut yang akan mengekibatkan kegiatan perusahaan bisa mati.
Dengan iklan yang kuat merupakan aspek
vital bagi perusahaan karena keunggulan yank didapatkan beraneka ragam mulai dari persepsi kualitas
yang lebih bagus dan loyalitas pelanggan
yang lebih besar.
Periklanan selain
dilakukan melalui media cetak seperti koran, majalah dan brosur serta salesman yang telah terlatih
dengan baik. Iklan melalui media televisi
merupakan salah satu cara atau alat yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk memperkenalkan barang atau jasa yang
dihasilkan kepada konsumen untuk memutuskan
membeli atau tidak terhadap suatu produk.
Perusahaan dalam
menayangkan iklannya menggunakan media televisi sebab jangkauannya luas serta ada unsur
hiburan yang sangat mendukung pembentukan
persepsi konsumen terhadap suatu produk yang pada gilirannya dapat mengarah pada tindakan pertukaran juga
memuaskan berbagai pihak yang terlibat
dalam aktifitas pemasaran.
Setiap produk akan
diperkenalkan kepada konsumen berupa nama produk, bentuk produk, harga produk, manfaatnya serta
fungsinya melalui iklan. Setiap perusahaan
akan berusaha memberikan informasi yang tepat dan menarik tentang produk yang ditawarkannya sehingga perusahaan
akan memperoleh laba yang maksimum.
Iklan juga
dipandang sebagai media hiburan dan media komunikasi yang efektif terutama jika ditayangkan di televisi.
Dengan menayangkan iklan suatu produk di
televisi dapat mempengaruhi konsumen sehingga konsumen tertarik untuk melakukan pembelian terhadap produk
tersebut. Walaupun biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk menayangkan iklan produknya di televisi cukup mahal. Tetapi sangat efektif untuk
meningkatkan jumlah penjualan produknya.
Strategi inilah
yang diterapkan perusahaan rokok Sampoerna untuk menarik minat beli konsumen terhadap setiap
produk-produk yang ditawarkan.
Sampoerna adalah
salah satu perusahaan berskala nasional yang sudah berkutat untuk meraih pasar 240 miliar batang rokok
produksi Indonesia pada tahun 2009 yang
diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2008.
(majalah.tempointeraktif.com).
Salah satu produk
Sampoerna yang mempunyai tingkat mind share tinggi di benak konsumen adalah Sampoerna A Mild. A
Mild jika dilihat dari perkembangannya
adalah salah satu kategori rokok yang masih tetap bertahan selama 21 tahun walaupun produk pesaing
lumayan banyak. A Mild yang pertama kali
diluncurkan pada tahun 1989 merupakan sebuah merek yang tidak hanya memimpin pasar tetapi juga merubah rules of
the game di industri rokok (Kartajaya,
2005:433). Hal ini juga diperkuat dengan pengukuhan sebagai Indonesian Best Brand Award dan Indonesian
Customer Loyalty Award (www.amild.com).
Pada Tabel 1.1
berikut terlihat total penjualan rokok oleh masing-masing perusahaan pada tahun 2009.
Tabel 1.1 Total Penjualan Perusahaan Rokok di
Indonesia Tahun 2009 No Perusahaan Jumlah (Miliar
Batang) Persentase 1 Sampoerna 69,6
29 % 2 Gudang Garam 60 25
% 3 Djarum 52,8
22 % 4 Bentoel 16,8 7
% 5 Nojorono 16,08
6,7 % 6 Produsen rokok lainnya 24,72
10.3 % TOTAL 240 100% Sumber : majalah.tempointeraktif.com Pada
Tabel 1.1 dapat dilihat besarnya penguasaan pasar rokok domestik.
Disini dapat
dilihat bagaimana Sampoerna dapat menjadi salah satu market leader dengan penguasaan pasar sebesar 29 %. Ini
menjadi salah satu kekuatan dari Sampoerna
dengan mengeluarkan strategi jitu pemasaran produk rokoknya dengan salah satunya melalui komunikasi
periklanan yang berkualitas, efektif dan tepat sasaran.
Periklanan adalah
elemen penting dari promosi yang mempunyai kekuatan besar dalam mempengaruhi mindshare pasar.
Salah satu media yang periklanan yang
efektif dalam meraih pasar adalah televisi. Ini dibuktikan dengan besarnya belanja iklan terhadap media televisi seperti
terlihat pada Tabel 1.2 berikut.
Tabel 1.2 Belanja Iklan Televisi Nasional Per Sektor
Tahun 2009 (Trilyun Rupiah) No
Sektor Belanja Iklan 1 Telekomunikasi 3,867 2
Pemerintah dan Parpol 3,621 3 Koperasi dan Layanan Sosial 2,441 4
Kendaraan Bermotor 2,175 5 Rokok
2,155 6 Produk Perawatan
Rambut 2,038 7 Layanan Hotline dan Partyline 1,895 8
Produk Perawatan Wajah 1,873 9 Media dan Rumah Produksi 1,858 10
Keuangan dan Perbankan 1,806 11 Sektor Lainnya 3,431 TOTAL
27,16 Sumber : ABG Nielsen Media Idonesia www.pefindo.com Pada Tabel 1.2
terlihat besarnya belanja iklan televisi nasional masingmasing sektor pada
tahun 2009. Iklan sektor telekomunikasi menduduki peringkat pertama dengan total belanja sebesar Rp 3,867
trilyun, disusul oleh iklan pemerintah
dan parpol pada masa kampanye Pemilihan Umum Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
yaitu sebesar Rp 3,621 trilyun. Sektor rokok
menempati posisi kelima dengan belanja sebesar Rp 2, 155 trilyun. Hal ini dikarenakan adanya peraturan pemerintah yang
membatasi penayangan iklan rokok di
televise dimana iklan bertema rokok hanya boleh ditayangkan diatas jam 21.00 WIB.
Berikut Tabel 1.3
menunjukkan besarnya belanja iklan rokok di seluruh media massa di Indonesia.
Tabel 1.3 Belanja Iklan Rokok di Seluruh Media
Massa di Indonesia Media Belanja
Iklan Persentase Televisi Rp 1.336,1 Trilyun 62% Media
Cetak Rp 732,7 Milyar 34% Media Lainnya Rp
86,2 Milyar 4% TOTAL Rp 2.155 Trilyun 100% Sumber : Nielsen Media Research (www.nielsen.net)
Pada Tabel 1.3 terlihat total belanja
iklan di seluruh media di Indonesia pada
tahun 2009 sebesar Rp 2.155 trilyun
dimana penggunaan iklan melalui media
televisi menempati posisi pertama dengan belanja iklan sebesar Rp 1.336,1 trilyun
kemudian diikuti media cetak sebesar Rp 732,7 milyar dan media lainnya sebesar
Rp 86,2 Milyar.
Tahun 2009 jumlah
total pengeluaran iklan rokok di indonesia pada televisi mencapai Rp 1.336,1 dimana untuk
iklan rokok berjenis Mild mendominasi
sebesar Rp 781,06 milyar dan sianya sebesar Rp 555,04 milyar digunakan oleh iklan rokok jenis lain seperti
rokok kretek, rokok filter, dan lain sebagainya.
Hal ini dikarenakan tingginya minat beli konsumen terhadap rokok berjenis Mild
di Indonesia sehingga para produsen rokok Mild di Indonesia bersaing ketat untuk mempengaruhi konsumen
melalui iklan di televisi.
Tabel 1.4
menunjukkan total belanja iklan rokok jenis Mild di Indonesia pada tahun 2009.
Tabel 1.4 Total Belanja Iklan Rokok Jenis Mild
di Televisi No Merek Rokok Belanja Iklan (milyar rupiah) 1 A Mild
174,16 2 Class Mild 91,63 3
Star Mild 88,89 4 LA Lights
87,07 5 U Mild 80,06 6
X Mild 71,84 7 Mezzo Mild
50,26 8 Merek Lainnya 137,15 TOTAL
781,06 Sumber : Nielsen Media Research (www.nielsen.net) Pada Tabel 1.4 terlihat total belanja
iklan yang dilakukan A Mild menempati
posisi pertama dengan pengeluaran sebesar Rp 174,17 milyar untuk menayangkan iklannya di televisi selama tahun
2009. Pada tahun 2009 saja A Mild
mengeluarkan beberapa iklan dengan menggunakan slogan Tanya Kenapa dengan berbagai tema diantaranya “Ga Dapat
Kerja Atau Ga Dapat Gelar” dan “Belum
Tua Belum Boleh Bicara”.
Sampoerna A Mild
merupakan produk yang mempunyai pengalaman dalam membuat strategi iklan yang komunikatif
dalam setiap iklan TV nya. Iklaniklan TV A Mild sangat menarik karena pada
setiap iklan TV A Mild menghadirkan suatu konten yang strategis,
bermakna, mengeksekusi pasar dengan tepat,
dimana produk rokok yang dimata masyarakat dan pemerintah merugikan kesehatan dapat menampilkan sebuah konten
iklan yang peduli terhadap permasalahan
sosial yang sedang dihadapi masyarakat. Inilah suatu keunikan A Mild dalam mengemas iklan yang membuat
konsumen berubah pikiran dan bergerak
menuju A Mild.
Berdasarkan latar belakang, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian
tentang ”Analisis Pengaruh Iklan TV Rokok A Mild Terhadap Keputusan Pembelian Pada Mahasiswa Manajemen
Fakultas Ekonomi UMSU Medan.
B. Perumusan Masalah Perumusan masalah yang
dikemukakan penulis berdasarkan latar belakang penelitian adalah Apakah iklan TV mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian rokok Sampoerna A
Mild pada mahasiswa manajemen Fakultas
Ekonomi UMSU Medan.
C. Kerangka
Konseptual Iklan adalah merupakan kata-kata dalam tayangan yang berfungsi menjelaskan manfaat produk dan memberikan
alasan mengapa konsumen (calon konsumen)
perlu membelinya (Tjiptono, 2003:81).
Keputusan Pembelian
adalah suatu tindakan konsumen dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya dalam mengkonsumsi suatu
produk yang diikuti oleh kepuasan yang
dirasakan oleh konsumen tersebut (Kotler, 2001:224).
Berdasarkan uraian
dari definisi, maka dapat digambarkan kerangka konseptual pada penelitian ini adalah sebagai
berikut : Gambar 1.1. Kerangka Konseptual Sumber : Tjiptono (2003:81) dan
Kotler(2001:224) data diolah Iklan (X) Keputusan Pembelian (Y) Pada Gambar 1.1 iklan sebagai variabel X
merupakan kegiatan untuk memperkenalkan
rokok A Mild kepada konsumen. PT H.M Sampoerna Tbk yang memproduksi dan memasarkan rokok A Mild
mempunyai tujuan dan keinginan agar
iklan yang dimuat dalam televisi dapat mempengaruhi tingkat keputusan pembelian konsumen untuk membeli A Mild (Y).
D. Hipotesis Berdasarkan
perumusan masalah, maka penulis mengambil hipotesa sebagai berikut : Iklan TV A Mild berpengaruh
positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian pada mahasiswa manajemen Fakultas Ekonomi UMSU Medan.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh iklan TV terhadap keputusan pembelian rokok merek
Sampoerna A Mild pada mahasiswa
manajemen Fakultas Ekonomi UMSU Medan.
2. Manfaat Penelitian a. Bagi peneliti, penelitian ini dapat
memperluas wawasan peneliti dan membandingkan
teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan fakta yang terjadi di lapangan.
b. Bagi kalangan akademis lainnya, penelitian
ini dapat menjadi bahan referensi dalam
melakukan penelitian tentang objek yang sama di masa yang akan datang.
c. Sebagai referensi pihak bisnis atau
perusahaan dalam menjalankan proses
pemasaran produknya.
F.
Metode Penelitian 1. Batasan
Operasional a. Penelitian ini dibatasi
hanya pada Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi
UMSU Medan.
b. Objek penelitian adalah rokok Sampoerna A
Mild.
c. Objek penelitian adalah mahasiswa perokok
yang pernah atau sedang menggunakan A
Mild.
d. Subjek penelitian adalah mahasiswa Manajemen
yang aktif mengikuti perkuliahan selama
penelitian berlangsung.
2. Definisi Operasional Variabel a. Variabel Bebas Iklan (X) Iklan A Mild adalah
gambar atau tayangan yang menggunakan logo berbentuk huruf A berwarna merah yang
bertujuan untuk menarik konsumen untuk
membeli dan menggunakannya.
b. Variabel Terikat Keputusan Pembelian (Y) Keputusan
pembelian merupakan saat konsumen membeli dan menggunakan rokok Sampoerna A Mild.
Berikut ini
merupakan tabel yang menunjukkan operasionalisasi variabel, indikator dan skala pengukurannya.
Tabel 1.5 Operasionalisasi Variabel Variabel Indikator
Skala Ukur Iklan (X) 1. Gaya Iklan 2. Logo Iklan 3. Bahasa Iklan 4.
Model Iklan 5. Narasi Iklan Skala Likert Keputusan Pembelian (Y) 1. Pesan Iklan
2. Pengenalan Merek 3. Sikap Konsumen 4. Kepercayaan Konsumen 5. Niat Beli
Konsumen 6. Pembelian Nyata Skala Likert Sumber : Tjiptono (2003:81) dan
Durianto (2003:104), data diolah 3.
Skala Pengukuran Variabel Skala pengukuran data dalam penelitian ini
dalam mengukur variabel iklan dan
keputusan pembelian adalah dengan menggunakan Skala Likert, sebagai alat untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena sosial. Pengujian variabel-variabel yang diteliti, pada setiap jawaban akan diberikan skor (Sugiyono,
2006:86).
Skala Likert
menggunakan 5 (lima) tingkatan jawaban yang dapat dilihat pada Tabel 1.6 Tabel 1.6 Instrumen Skala
Likert No Pertanyaan Skor 1
Sangat Setuju (SS) 5 2 Setuju (ST)
4 3 Kurang Setuju (KS) 3 4
Tidak Setuju (TS) 2 5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 Sumber:
Sugiyono (2006:86) 4. Lokasi dan Waktu
Penelitian Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU),
Jalan Kapten Muchtar Basri No. 3, Glugur Darat Medan. Waktu penelitian dimulai dari bulan
Oktober 2010 sampai dengan Januari 2011.
5. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa
laki-laki di Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi UMSU Medan yang pernah atau sedang menggunakan rokok Sampoerna A Mild yang
jumlahnya tidak diketahui sehingga untuk
menentukan jumlah sampel digunakan rumus sebagai berikut menurut Yuswianto (Raja Bongsu dan Novi Aisha, 2008) :
= n 2 2 ))(()( d qpZα Keterangan : n =
Jumlah sampel Zα = Nilai standar normal
yang besarnya tergantung α α = 0,01 Z=
1,96 p = Estimator proporsi populasi q = 1 – p d =
Penyimpangan yang ditolerir Penulis memperoleh n (jumlah sampel) yang besar dan
nilai p belum diketahui, maka dapat
digunakan p = 0,5. Dengan demikian jumlah sampel yang diwakili populasi dalam penelitian ini adalah
: = n 2 2 ))(()( d qpZα = 2 2 )1,0( )5.0)(5,0()96,1(
= 96,04 = 96 orang Metode penelitian sampel menggunakan Metode Sampling
Aksidental, yaitu penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, artinya siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan penulis dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu
cocok sebagai sumber data (Sugiyono,
2006:77).
Kriteria pemilihan
sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah mahasiswa laki-laki di Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi UMSU Medan yang pernah melakukan pembelian rokok Sampoerna A
Mild minimal 1 bungkus.
6. Jenis dan SumberData Penelitian ini
menggunakan dua jenis sumber data yaitu : a.
Data Primer Data yang diperoleh secara langsung dari responden pada
lokasi penelitian melalui kuesioner
yaitu dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner berisikan pertanyaan
mengenai identitas responden dan variabel
yang diteliti dalam penelitian ini yaitu variabel iklan dan keputusan pembelian.
b. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang
diperoleh melalui studi dokumentasi yang dapat menjadi referensi pendukung berupa buku-buku,
majalah dan intemet.
7. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan antara lain: a.
Daftar Pertanyaan (questionaire) Daftar
pertanyaan (questionaire) adalah pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan melalui beberapa daftar
pertanyaan kepada responden, yaitu
mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi UMSU Medan.
b. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi
yaitu mengumpul data melalui buku,
majalah serta internet yang dapat
menjadi referensi pendukung.
8. Uji Validitas dan Reliabilitas 1. Uji Validitas Instrumen yang valid berarti alat ukur yang
digunakan untuk mendapatkan data
(mengukur) itu valid (Sugiyono, 2006:109). Pengujian validitas menggunakan pendekatan koefisien
korelasi yaitu dengan cara mengkorelasikan
antara skor butir pertanyaan dengan skor totalnya, dan bila nilai korelasinya positif dan r hitung
≥ 0,3
maka butir pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
Pengujian validitas
instrumen dengan menggunakan program SPSS 15.0 for Windows, dengan kriteria sebagai
berikut : 1. Jika rhitung > rtabel, maka pertanyaan
tersebut dinyatakan valid.
2. Jika rhitung < rtabel, maka pertanyaan
tersebut dinyatakan tidak valid.
Responden yang
digunakan dalam uji validitas dan reliabilitas ini adalah 30 orang Mahasiswa Fakultas Ekonomi
UMSU yang tidak menjadi sampel dalam
penelitian ini.
2. Uji
Reliabilitas Reliabilitas merupakan tingkat keandalan suatu instrumen penelitian. Instrumen yang reliabel adalah
instrumen yang apabila digunakan
berulang kali untuk mengukur objek yang sama (Sugiyono, 2006:110). Pengujian dilakukan dengan program
SPSS 15.0 for Windows.
Butir pertanyaan
yang sudah dinyatakan valid dalam uji validitas akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria
sebagai berikut: 1. Jika ralpha positif
atau > rtabel, maka pertanyaan reliabel.
2. Jika ralpha negatif atau < rtabel, maka
pertanyaan tidak reliabel.
9. Metode Analisis Data a. Metode Analisis Deskriptif Metode ini
merupakan cara merumuskan dan
menafsirkan data yang ada sehingga
memberikan gambaran yang jelas mengenai persepsi mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi UMSU
Medan tentang iklan Sampoerna A Mild.
b. Metode Analisis Regresi Linear Sederhana Untuk
mengetahui hubungan atau pengaruh variabel bebas (iklan) dan variabel terikat (keputusan pembelian)
akan digunakan metode analisis fungsi
regresi linear sederhana. Kemudian agar hasil penelitian lebih terarah lagi dan teruji maka digunakan
program SPSS 15.0 for Windows.
Perhitungan
Persamaan Regresi Linear Sederhana Y = a + bx + e Keterangan : Y = Keputusan Pembelian a =
Konstanta b = Koefisien Regresi x = Iklan e = Standar error Dalam analisis
regresi jenis kriteria ketepatan dibagi : 1.
Uji Signifikansi Parsial (Uji - t) Uji – t menentukan seberapa besar
pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap
variabel terikat.
H0 : b1 = 0 Artinya
tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel iklan (X) terhadap variabel keputusan
pembelian (Y).
Ha : b1 ≠ 0 Artinya
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel iklan (X) terhadap variabel keputusan pembelian (Y).
Kriteria
Pengambilan Keputusan: H0 diterima jika thitung
< ttabel pada α = 5% H0
ditolak jika thitung > ttabel pada α = 5% 2. Koefisien Determinan (R 2 ) Koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya
mengukur seberapa besar kemampuan model
dalam menerangkan variabel terikat. Jika R 2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan
bahwa pengaruh variabel iklan (X) adalah
besar terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Hal ini berarti model yang digunakan semakin kuat
untuk menerangkan pengaruh variabel
iklan yang diteliti terhadap variabel keputusan pembelian.
Sebaliknya Jika R 2
semakin kecil (mendekati nol), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel iklan (X) terhadap
variabel keputusan pembelian (Y) semakin
kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel iklan yang
diteliti terhadap variabel keputusan
pembelian.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi