BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap perusahaan selalu
berusaha untuk mencapai laba yang optimal dengan menggunakan sumber daya secara efektif
dan efisien. Laba penting bagi perusahaan
untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, tumbuh dan berkembang serta mampu menghadapi persaingan.
Kemampuan
perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri
disebut profitabilitas (Sartono, 2001:122).
Profitabilitas ini penting bagi perusahaan untuk mengukur kinerja perusahaan itu sendiri, apakah memenuhi target
atau tidak. Sedangkan bagi pihak luar,
khususnya bagi investor, profitabilitas diperlukan sebagai tolok ukur apakah layak sebagai suatu portofolio investasi atau
tidak.
Daya untuk
menghasilkan laba atas total aktiva atau earning power menurut Van Horne dan
Wachowicz (2005), mengukur efektivitas keseluruhan dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang
tersedia. Dari earning power juga dapat
diketahui apakah perusahaan selama suatu periode tertentu telah menggunakan aktivanya secara efektif atau
tidak (Kuswadi, 2004:193).
Riyanto (2001)
serta Martono dan Harjito (2001) menyebut earning power dengan rentabilitas,
yang menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Atau dengan kata lain rentabilitas adalah
kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto, 1993:28).
Earning power
penting karena mengatasi dua kelemahan yang terdapat pada rasio margin laba bersih (net profit
margin) yang tidak memperhitungkan penggunaan
aktiva dan rasio perputaran total aktiva yang tidak memperhitungkan profitabilitas dalam penjualan (Van Horne dan
Wachowicz, 2005:225).
Riyanto (1993)
mengemukakan bahwa masalah rentabilitas (earning power) bagi perusahaan adalah lebih penting
dari pada masalah laba, karena laba yang
besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat
diketahui dengan membandingkan laba yang
diperoleh itu dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain menghitung
rentabilitasnya (earning power).
Dengan demikian
maka yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar
laba, tetapi yang lebih penting ialah
usaha untuk mempertinggi rentabilitasnya (earning power). Berhubung dengan itu,
maka bagi perusahaan pada umumnya lebih mengarahkan usahanya untuk mendapatkan titik rentabilitas (earning
power) maksimal daripada laba maksimal
(Riyanto, 1993:29).
Rasio yang mengukur
tingkat efektifitas dan efisienitas perusahaan dalam menggunakan aktivanya adalah rasio aktivitas.
Rasio aktivitas mengukur keefektivitasan
perusahaan dalam mengelola aktivanya (Martono dan Harjito, 2001:56,59). Rasio aktivitas yang umum
digunakan adalah rasio perputaran piutang
(receivable turnover ratio), rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio), dan perputaran total aktiva
(total assets turnover ratio).
Perusahaan hendaknya mengelola piutangnya
untuk meningkatkan profitabilitas secara
efektif. Rasio perputaran piutang (receivable turnover ratio) membandingkan antara penjualan kredit dengan
piutang perusahaan. Rasio ini menunjukkan
berapa kali piutang usaha perusahaan telah berputar menjadi kas selama periode tertentu. Semakin tinggi
perputaran, semakin pendek waktu antara penjualan
kredit dengan penagihan tunainya.
Perbandingan antara
harga pokok penjualan dengan persediaan disebut rasio perputaran persediaan (inventory
turnover ratio). Rasio ini menunjukkan seberapa
efektif perusahaan dalam mengelola persediaannya. Perputaran persediaan yang relatif pelan sering kali
merupakan tanda dari barang persediaan yang
berlebih, jarang digunakan atau tidak terpakai dalam persediaan (Van Horne dan Wachowicz, 2005). Apabila produksi
perusahaan merupakan produk yang mempunyai
waktu kadaluarsa, seperti obat-obatan, maka tingkat perputaran persediaan merupakan hal yang krusial untuk
menjaga mutu produk ketika disalurkan.
Hubungan antara
penjualan bersih dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan merupakan rasio perputaran total
aktiva (total assets turnover). Nilai rasio
perputaran total aktiva memberitahu kita efisiensi relatif penggunaan total aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan
(Van Horne dan Wachowicz, 2005).
Perusahaan farmasi
merupakan perusahaan yang memproduksi obatobatan dan peralatan untuk keperluan
analisis kimia. Perusahaan farmasi merupakan
bagian dari perusahaan manufaktur dan termasuk ke dalam industri barang konsumsi. Skala produksinya yang luas
memerlukan kinerja manajerial yang
efektif dan efisien, terutama kinerja manajemen keuangannya dalam mengelola aktiva yang dimiliki. Pengelolaan
aktiva yang efisien dan efektif ini akan
meningkatkan nilai dan kapabilitas perusahaan.
Tabel 1.1 Kondisi
Rasio Aktivitas dan Earning Power Perusahaan Farmasi Tahun 2005-2008 Nama Perusahaan Tahun Receivable Turnover Ratio Inventory Turnover Ratio Total Assets Turnover Ratio Earning Power PT. Darya Varia Laboratoria Tbk.
(DVLA) 2005 3,73 x
2,70 x 0,98 x 12,98 % 2006
3,61 x 2,99 x 1,03 x
9,38 % 2007 3,58 x
2, 48 x 0,88 x 8,88 % 2008
3,72 x 3,38 x 0,87 x
11,05 % PT. Pyridam Farma Tbk.
(PYFA) 2005 4,72 x
2,08 x 0,52 x 1,74 % 2006
4,71 x 2,31 x 0,74 x
2,09 % 2007 5,09 x
2,44 x 0,91 x 1,83 % 2008
6,06 x 2,32 x 1,21 x
2,34 % PT. Shcering Plough
Indonesia Tbk. (SCPI) 2005 5,34 x
3,61 x 1,79 x -1,16 % 2006
13,40 x 1,18 x 1, 25 x
-2,52 % 2007 3,75 x 1,53 x
1,32 x 1,99 % 2008 4,14 x
1,11 x 1,02 x 3,31 % PT. Tempo Scan Pasific Tbk.
(TSPC) 2005 10,57 x
4,04 x 1,06 x 12,90 % 2006
10,44x 4,27 x 1,10 x
11,34 % 2007 9,06 x
4,28 x 1,13 x 10,42 % 2008
9,29 x 3,98 x 1,22 x
10,97 % Sumber: www.idx.co.id
(diolah, 2010) Dari data perusahaan farmasi periode 2005-2008 yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia di atas, terlihat
adanya fluktuasi rasio-rasio aktivitas dan earning power. Seperti pada PT. Pyridam Farma Tbk.,
dimana nilai total assets turnover ratio meningkat dari tahun 2005-2008, tetapi
nilai earning power berfluktuatif.
Sedangkan pada PT.
Tempo Scan Pasific Tbk. nilai earning power cenderung menurun dari tahun 2005-2008, tetapi nilai
rasio perputaran persediaan dan total aktiva
meningkat.
Hal di atas
bertentangan dengan tulisan Van Horne dan Wachowicz (2005,225) yang mengemukakan bahwa peningkatan
dalam earning power perusahaan akan
terjadi jika terdapat peningkatan dalam perputaran aktiva. Hal itu juga bertentangan dengan pendapat Syahyunan
(2003) yang menyatakan bahwa kemampuan
perusahaan untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara efektif, akan meningkatkan penjualan dan
keuntungan yang relatif baik, rasiorasio aktivitas yang baik akan membuat
perusahaan memiliki peluang yang besar untuk
meningkatkan keuntungan.
Berdasarkan uraian
di atas, perlu dilakukan penelitian untuk melihat pengaruh nilai rasio aktivitas terhadap
earning power pada Perusahaan Farmasi di Bursa efek Indonesia dengan judul : ”Analisis
Pengaruh Receivable Turnover Ratio,
Inventory Turnover Ratio, dan Total Assets Turnover Ratio terhadap Earning Power pada Perusahaan Farmasi di Bursa
Efek Indonesia” B. Perumusan Masalah Berdasarkan
uraian latar belakang sebelumnya, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:Apakah receivable
turnover ratio, inventory turnover ratio, dan
total assets turnover ratio
mempengaruhi earning power pada Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia.
C. Kerangka Konseptual Peningkatan daya untuk
menghasilkan laba atau kemampulabaan (earning power)
akan terjadi jika terdapat peningkatan dalam perputaran aktiva, peningkatan dalam margin laba bersih, atau
keduanya (Van Horne dan Wachowicz,
2005:225). Rentabilitas atau kemampulabaan (earning power) suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara
laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan
laba tersebut (Riyanto, 1993:28). Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
selama periode tertentu. Bagi perusahaan
pada umumnya masalah rentabilitas adalah lebih penting dari pada masalah laba, karena laba yang besar saja
belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan
itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh itu
dengan kekayaan atau modal yang
menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain ialah menghitung earning power-nya (Riyanto, 1993).
Receivable turnover
ratio mempengaruhi earning power. Jika tingkat laba bersih tertentu dapat dipertahankan dengan
menggunakan lebih sedikit uang yang diinvestasikan
dalam bentuk piutang, maka perputaran total aktiva akan membaik yang bermakna semakin efisien aktiva yang
digunakan untuk menghasilkan penjualan,
yang lebih jauh lagi berarti semakin baik juga earning power. Hal ini diperkuat
oleh penelitian Gunarto (2007) dan Susani (2005).
Faktor lain yang
mempengaruhi earning power adalah inventory turnover ratio.
Menurut Maness (1988), nilai
inventory turnover ratio yang
besar mengindikasikan terlalu sedikitnya
pengaruh persediaan (inventory) terhadap penjualan dan besarnya kemungkinan kehilangan
penjualan, yang berarti akan menurunkan
profit perusahaan. Sebaliknya, nilai inventory turnover ratio yang kecil menunjukkan terlalu banyak investasi
yang digunakan dalam bentuk persediaan
(inventory), sehingga kurang efektif.
Total assets
turnover ratio mempengaruhi earning
power secara langsung (Nainggolan, 2007). Nilai rasio ini mengindikasikan bahwa
setiap jumlah tertentu Receivable
Turnover (X1) penjualan dihasilkan oleh setiap rupiah aktiva yang
diinvestasikan atau bisa juga menunjukkan
berapa kali aktiva berputar setiap periodenya. Semakin sedikit investasi dalam bentuk aktiva yang digunakan
untuk menghasilkan tingkat penjualan
yang sama akan meningkatkan earning power.
Dengan penjelasan
di atas, maka model penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Kerangka Konseptual
Sumber: Nainggolan (2007), (dimodifikasi, 2010) D. Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah yang
ditetapkan, maka hipotesis penelitian
adalah sebagai berikut: “Receivable turnover ratio, inventory turnover ratio,
dan total assets turnover
ratio mempengaruhi earning power pada Perusahaan
Farmasi di Bursa Efek Indonesia.” E.
Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.
Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh account receivable
turnover ratio, inventory Inventory
Turnover (X2) Total Assets Turnover Ratio (X3) Earning Power (Y) turnover ratio, dan total assets turnover
ratio terhadap earning power pada Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia.
2. Manfaat Penelitian A. Bagi Perusahaan Sebagai
tambahan informasi tentang pengaruh rasio aktivitas terhadap profitabilitas perusahaan, khususnya earning
power, untuk pengambilan keputusan di
masa depan.
B. Bagi Pihak Lain Sebagai
informasi tambahan dan bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya mengenai pengaruh rasio aktivitas
terhadap tingkat kemampulabaan (earning
power).
C. Bagi Penulis Sebagai
penambah ilmu dan pengetahuan serta wawasan juga hasil penerapan ilmu tentang pengaruh rasio
aktivitas terhadap tingkat kemampulabaan
(earning power).
F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Batasan
penelitian yang dianalisis hanya terbatas pada rasio aktivitas, yaitu Receivable Turnover Ratio, Inventory Turnover
Ratio, Total Assets Turnover Ratio
sebagai variabel bebas (X1, X2, X3) dan Earning Power sebagai variabel terikat
(Y).
2. Defenisi Operasional a. Earning Power sebagai variabel terikat (Y) mengukur
kemampuan perusahaan dalam memperoleh
laba usaha dengan aktiva yang digunakan
untuk memperoleh laba tersebut (Martono dan Harjito, 2001:61), diukur dengan rumus sebagai berikut
(Van Horne dan Wachowicz, 2005:226): Earning
Power = Profitabilitas Penjualan X Efisiensi Aktiva b. Receivable Turnover
Ratio sebagai variabel bebas pertama
(X1) menunjukkan wawasan tentang
kualitas piutang perusahaan dan kesuksesan
perusahaan dalam mengumpulkan piutang tersebut (Martono dan Harjito, 2001:56), diukur dengan
rumus: Receivable Turnover = ceivable
Accounts Sales Credit Re c. Inventory Turnover Ratio sebagai variabel bebas
kedua (X2) menunjukkan efektivitas
manajemen perusahaan dalam mengelola persediaan
(Martono dan Harjito, 2001:57), diukur dengan rumus: Inventory Turnover = Inventory SoldGoodsofCost d. Total Assets
Turnover Ratio sebagai variabel bebas
ketiga (X3) menunjukkan bagaimana
efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan
aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba, dapat diukur dengan: TATO = Assets Total Sales 3. Populasi dan Data
Penelitian Menurut Cooper dan
Schindler (2001), populasi adalah keseluruhan elemen yang akan diteliti dan ditarik
simpulan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan Farmasi
di Bursa Efek Indonesia, yaitu sebanyak
9 perusahaan. Penarikan data penelitian yang dilakukan adalah
dengan menggunakan metode target population, yaitu sebuah elemen atau obyek yang berisi informasi yang
diperlukan dalam penelitian (Maholtra,
2004). Adapun kriteria target population dalam menentukan data penelitian adalah: a. Perusahaaan Farmasi
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2003 sampai sekarang dan terus listing
(tidak di-suspend).
b. Perusahaan yang
memiliki laporan keuangan tiap akhir tahun yang lengkap dan mempublikasikannya di tahun
2003-2009.
Tabel 1.2 Penarikan
Data Penelitian No. Kriteria
Jumlah 1.
Perusahaan Farmasi
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 9
2.
Perusahaan yang
di-suspend tanggal 17 September 2009
(PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia,
Tbk) (1) Perusahaan yang diteliti 8 Dari kriteria di atas, maka perusahaan yang
memenuhi syarat untuk dijadikan data
penelitian adalah sebagai berikut: Tabel1.3 Perusahaan yang Diteliti No.
Kode Emiten Nama Emiten 1. DVLA
PT. Darya Varia Laboratoria Tbk.
2.
INAF PT. Indo Farma Tbk.
3. KAEF
PT. Kimia Farma Tbk.
4. KLBF
PT. Kalbe Farma Tbk.
5. MERK
PT. Merck Inc.
6. PYFA
PT. Pyridam Farma Tbk.
7. SCPI
PT. Shcering Plough Indonesia Tbk.
8. TSPC
PT. Tempo Scan Pasific Tbk.
Sumber:
www.idx.co.id (diolah, 2010) 4. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian
dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan situs
www.idx.co.id. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Februari 2010 sampai dengan Mei2010.
5. Jenis dan Sumber
Data Penelitian ini menggunakan data sekunder, yang diperoleh melalui media internet, yang bersumber dari website
www.idx.co.id, studi dokumentasi, dan
literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik bahasan.
6. Teknik
Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan studi dokumentasi, yaitu dengan meneliti
dokumen-dokumen dan bahan tulisan yang
dipublikasikan melalui media internet serta sumber-sumber lain yang berhubungan.
7. Metode Analisis
Data a. Metode Analisis Deskriptif Merupakan
analisis yang digunakan dengan cara merumuskan dan menafsirkan data yang ada sehingga memberikan
gambaran yang jelas melalui
pengumpulan, penyusunan, dan analisis data, sehingga diketahui gambaran umum perusahaan. Dilakukan
dengan menghitung masing-masing variabel
bebas dan variabel terikat dengan menggunakan
rumus yang telah dikemukakan sebelumnya.
b. Analisis Regresi
Linear Berganda Model analisis yang digunakan untuk menjawab hipotesis adalah regresi linear berganda dengan formulasi
sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2+ b3X3 Keterangan: + e Y = earning power a =
konstanta b1,3 X = koefien regresi 1 X = Receivable Turnover 2 X = Inventory Turnover 3 e = Standard error =
Total Assets Turnover Data diolah dengan
menggunakan aplikasi komputer SPSS for Windows versi 17.0.
c. Pengujian Asumsi
Klasik Model analisis regresi berganda di atas harus memenuhi syarat asumsi klasik sebagai berikut: 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah
dalam model regresi, variabel pengganggu
atau residual memiliki distribusi normal. Model yang paling baik adalah distribusi data
normal atau mendekati normal.
Uji ini dapat
dilakukan melalui analisis Kolmogorov-Smirnov. Apabila diperoleh nilai sig. Uji Kolmogorov-Smirnov
lebih besar dari 0,05 maka data
dinyatakan normal (Ghozali, 2001).
2. Uji
Multikolinieritas Digunakan untuk
menunjukkan ada tidaknya hubungan linear antara variabel-variabel bebas dalam model regresi.
Salah satu cara untuk mendeteksi adanya kolonieritas dilakukan
dengan cara mengkorelasikan antar
variabel bebas dan apabila korelasinya tinggi (lebih besar dari 0,8) maka antar variabel bebas tersebut terjadi
multikolinieritas. Cara lain untuk
mengetahui ada tidaknya
multikolinearitas pada suatu model regresi
adalah dengan melihat nilai tolerance
dan VIF (Variance Inflation Factor)
yaitu (Ghozali, 2001:56): a. Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10,
maka dapat diartikan bahwa tidak
terdapat multikolineraitas pada penelitian tersebut.
b. Jika nilai
tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka dapat diartikan bahwa terjadi gangguan multikolinearitas pada
penelitian tersebut.
3. Uji
Heteroskedastisitas Heteroskedastisistas
adalah adanya varians variable dalam model regresi yang tidak sama (konstan).
Pada suatu model regresi yang baik adalah
berkondisi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Konsekuensi adanya heteroskedastisitas
dalam model regresi adalah
penaksir (estimator) yang diperoleh
tidak efisien, baik dalam sampel
kecil maupun sampel besar. Salah satu cara untuk mendiagnosa adanya heteroskedastisitas dalam suatu model regresi adalah dengan melihat Grafik Plot antara nilai
perdiksi variabel terikat (ZPRED) dengan
residualnya (SRESID). Adapun dasar analisis dengan melihat Grafik Plot adalah sebagai berikut
(Ghozali, 2001:71): a. Jika terdapat pola tertentu seperti titik-titik yang ada
membentuk pola tertentu yang teratur,
maka menunjukkan telah terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada
po la yang jelas seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka
tidak terjadi heteroskedastisitas.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk
mengetahui apakah terjadi korelasi antar
anggota serangkaian observasi yang diurutkan, menurut waktu (data time series), atau ruang (data cross
section). Beberapa faktor yang menyebabkan
adanya autokorelasi adalah tidak dimasukkannya variabel bebas yang lain, misalnya pada suatu model
regresi yang seharusnya model tersebut
terdiri dari empat variabel bebas dan
satu variabel terikat, dalam pembuatan model
dimasukkan dua variabel bebas.
Pengujian terhadap
autokorelasi dapat dilakukan dengan uji statistik Durbin-Watson. Kriteria pengambilan keputusan
dapa dilihat pada tabel.
Tabel 1.4 Kriteria
Pengambilan Keputusan Uji Autokorelasi Hipotesis Nol Keputusan
Jika Tidak ada autokorelasi positif
Tolak 0 < dw < dl Tidak ada autokorelasi positif No decision
dl ≤ dw ≤ du Tidak ada korelasi negatif
Tolak 4 – dl < dw < 4 – dl Tidak
ada korelasi negatif No decision 4 – du ≤ dw ≤ 4 – dl Tidak ada autokorelasi
positif atau negatif Tidak ditolak du < dw < 4 - du Sumber: Ghozali (2001:96) Keterangan: dw= durbin watson du = batas atas dl = batas bawah d. Uji Hipotesis 1. Uji F atau
Uji Simultan Uji F digunakan untuk
mengetahui apakah variabel bebas (X) berpengaruh secara simultan atau
bersama-sama terhadap variabel terikat (Y), yaitu dengan membandingkan antara
nilai kritis F (Ftabel) dengan nilai
Fhitung - Jika F (F Rasio) yang terdapat
dalam tabel Analysis of Variance dari hasil perhitungan (Ghozali, 2001): hitung ≤Ftabel atau sig.F ≥ α pada α = 5%,
maka terima hipotesis nol (H0 - Jika F ),
artinya secara statistik dapat dibuktikan bahwa semua variabel bebas tidak berpengaruh terhadap perubahan
nilai variabel terikat.
hitung >
Ftabel atau sig.F < α
pada α
= 5%, maka menolak hipotesis nol (H0 2. Uji t atau Uji Parsial ),
dan menerima hipotesis alternatif (Ha), artinya secara simultan dapat dibuktikan bahwa semua
variabel bebas berpengaruh terhadap
perubahan nilai variabel terikat.
Uji t digunakan
untuk menentukan apakah variabel bebas (X) berpengaruh secara parsial terhadap variabel
terikat (Y). Pengujian ini dilakukan
berdasarkan perbandingan nilai thitung
masing-masing koefisien regresi
dengan nilai ttabel - Jika –t (nilai kritis) sesuai dengan tingkat signifikansi yang digunakan.
tabel ≤ thitung ≤ t tabel, atau sig.t ≥ α pada
α = 5%, maka terima hipotesis nol (H0 - Jika t ), artinya variabel
bebas secara parsial tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap nilai variabel terikat.
hitung<
-ttabel atau thitung > ttabel atau
sig.t< α pada α = 5%, maka menolak
hipotesis nol (H0 3. Pengujian Koefisien Determinasi (R ) dan menerima
hipotesis alternatif (Ha), artinya
secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap nilai variabel terikat.
2 Persamaan regresi
yang diperoleh dalam suatu proses perhitungan tidak selalu baik untuk mengestimasi nilai variabel
terikat (Y), sehingga diperlukan
perhitungan koefisien determinasi. Koefisien determinasi merupakan persentase pengaruh semua variabel
bebas terhadap nilai veriabel terikat.
Jika R ) 2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas adalah
besar terhadap variabel terikat. Ini
berarti model yang digunakan kuat untuk menerangkan
pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat, dan sebaliknya.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi