Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PENGARUH RECEIVABLE TURNOVER RATIO, INVENTORY TURNOVER RATIO, DAN TOTAL ASSETS TURNOVER RATIO TERHADAP EARNING POWER PADA PERUSAHAAN FARMASI



BAB I PENDAHULUAN
 A.  Latar Belakang
 Setiap perusahaan selalu berusaha untuk mencapai laba yang optimal  dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Laba penting bagi  perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, tumbuh dan  berkembang serta mampu menghadapi persaingan.

Kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan  penjualan, total aktiva maupun modal sendiri disebut profitabilitas (Sartono,  2001:122). Profitabilitas ini penting bagi perusahaan untuk mengukur kinerja  perusahaan itu sendiri, apakah memenuhi target atau tidak. Sedangkan bagi pihak  luar, khususnya bagi investor, profitabilitas diperlukan sebagai tolok ukur apakah  layak sebagai suatu portofolio investasi atau tidak.
Daya untuk menghasilkan laba atas total aktiva atau earning power menurut Van Horne dan Wachowicz (2005), mengukur efektivitas keseluruhan  dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia. Dari earning power juga  dapat diketahui apakah perusahaan selama suatu periode tertentu telah  menggunakan aktivanya secara efektif atau tidak (Kuswadi, 2004:193).
Riyanto (2001) serta Martono dan Harjito (2001) menyebut earning power dengan rentabilitas, yang menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva  atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Atau dengan kata lain rentabilitas   adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode  tertentu (Riyanto, 1993:28).
Earning power penting karena mengatasi dua kelemahan yang terdapat  pada rasio margin laba bersih (net profit margin) yang tidak memperhitungkan  penggunaan aktiva dan rasio perputaran total aktiva yang tidak memperhitungkan  profitabilitas dalam penjualan (Van Horne dan Wachowicz, 2005:225).
Riyanto (1993) mengemukakan bahwa masalah rentabilitas (earning  power) bagi perusahaan adalah lebih penting dari pada masalah laba, karena laba  yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat  bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui dengan membandingkan laba  yang diperoleh itu dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut,  atau dengan kata lain menghitung rentabilitasnya (earning power).
Dengan demikian maka yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah  tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar laba, tetapi yang lebih penting  ialah usaha untuk mempertinggi rentabilitasnya (earning power). Berhubung dengan itu, maka bagi perusahaan pada umumnya lebih mengarahkan usahanya  untuk mendapatkan titik rentabilitas (earning power) maksimal daripada laba  maksimal (Riyanto, 1993:29).
Rasio yang mengukur tingkat efektifitas dan efisienitas perusahaan dalam  menggunakan aktivanya adalah rasio aktivitas. Rasio aktivitas mengukur  keefektivitasan perusahaan dalam mengelola aktivanya (Martono dan Harjito,  2001:56,59). Rasio aktivitas yang umum digunakan adalah rasio perputaran  piutang (receivable turnover ratio), rasio perputaran persediaan (inventory  turnover ratio), dan perputaran total aktiva (total assets turnover ratio).
 Perusahaan hendaknya mengelola piutangnya untuk meningkatkan  profitabilitas secara efektif. Rasio perputaran piutang (receivable turnover ratio)  membandingkan antara penjualan kredit dengan piutang perusahaan. Rasio ini  menunjukkan berapa kali piutang usaha perusahaan telah berputar menjadi kas  selama periode tertentu. Semakin tinggi perputaran, semakin pendek waktu antara  penjualan kredit dengan penagihan tunainya.
Perbandingan antara harga pokok penjualan dengan persediaan disebut  rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio). Rasio ini menunjukkan  seberapa efektif perusahaan dalam mengelola persediaannya. Perputaran  persediaan yang relatif pelan sering kali merupakan tanda dari barang persediaan  yang berlebih, jarang digunakan atau tidak terpakai dalam persediaan (Van Horne  dan Wachowicz, 2005). Apabila produksi perusahaan merupakan produk yang  mempunyai waktu kadaluarsa, seperti obat-obatan, maka tingkat perputaran  persediaan merupakan hal yang krusial untuk menjaga mutu produk ketika  disalurkan.
Hubungan antara penjualan bersih dengan total aktiva yang dimiliki  perusahaan merupakan rasio perputaran total aktiva (total assets turnover). Nilai  rasio perputaran total aktiva memberitahu kita efisiensi relatif penggunaan total  aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan (Van Horne dan Wachowicz,  2005).
Perusahaan farmasi merupakan perusahaan yang memproduksi obatobatan dan peralatan untuk keperluan analisis kimia. Perusahaan farmasi  merupakan bagian dari perusahaan manufaktur dan termasuk ke dalam industri  barang konsumsi. Skala produksinya yang luas memerlukan kinerja manajerial   yang efektif dan efisien, terutama kinerja manajemen keuangannya dalam  mengelola aktiva yang dimiliki. Pengelolaan aktiva yang efisien dan efektif ini  akan meningkatkan nilai dan kapabilitas perusahaan.
Tabel 1.1 Kondisi Rasio Aktivitas dan Earning Power Perusahaan Farmasi  Tahun 2005-2008  Nama Perusahaan  Tahun Receivable  Turnover Ratio Inventory  Turnover  Ratio Total Assets  Turnover  Ratio Earning Power PT. Darya Varia  Laboratoria Tbk.
(DVLA) 2005  3,73 x  2,70 x  0,98 x  12,98 %  2006  3,61 x  2,99 x  1,03 x  9,38 %  2007  3,58 x  2, 48 x  0,88 x  8,88 %  2008  3,72 x  3,38 x  0,87 x  11,05 %  PT. Pyridam  Farma Tbk.
(PYFA) 2005  4,72 x  2,08 x  0,52 x  1,74 %  2006  4,71 x  2,31 x  0,74 x  2,09 %  2007  5,09 x  2,44 x  0,91 x  1,83 % 2008  6,06 x  2,32 x  1,21 x  2,34 % PT. Shcering  Plough Indonesia  Tbk. (SCPI) 2005  5,34 x  3,61 x  1,79 x  -1,16 %  2006  13,40 x  1,18 x  1, 25 x  -2,52 % 2007  3,75 x  1,53 x  1,32 x  1,99 % 2008  4,14 x  1,11 x  1,02 x  3,31 %  PT. Tempo Scan  Pasific Tbk.
(TSPC) 2005  10,57 x  4,04 x  1,06 x  12,90 % 2006  10,44x  4,27 x  1,10 x  11,34 %  2007  9,06 x  4,28 x  1,13 x  10,42 %  2008  9,29 x  3,98 x  1,22 x  10,97 %  Sumber: www.idx.co.id (diolah, 2010) Dari data perusahaan farmasi periode 2005-2008 yang terdaftar di Bursa  Efek Indonesia di atas, terlihat adanya fluktuasi rasio-rasio aktivitas dan earning  power. Seperti pada PT. Pyridam Farma Tbk., dimana nilai total assets turnover ratio meningkat dari tahun 2005-2008, tetapi nilai earning power berfluktuatif.
Sedangkan pada PT. Tempo Scan Pasific Tbk. nilai earning power cenderung  menurun dari tahun 2005-2008, tetapi nilai rasio perputaran persediaan dan total  aktiva meningkat.
 Hal di atas  bertentangan dengan tulisan Van Horne dan Wachowicz  (2005,225) yang mengemukakan bahwa peningkatan dalam  earning power perusahaan akan terjadi jika terdapat peningkatan dalam perputaran aktiva. Hal itu  juga bertentangan dengan pendapat Syahyunan (2003) yang menyatakan bahwa  kemampuan perusahaan untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara  efektif, akan meningkatkan penjualan dan keuntungan yang relatif baik, rasiorasio aktivitas yang baik akan membuat perusahaan memiliki peluang yang besar  untuk meningkatkan keuntungan.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian untuk melihat  pengaruh nilai rasio aktivitas terhadap earning power pada Perusahaan Farmasi di  Bursa efek Indonesia dengan judul : ”Analisis Pengaruh Receivable Turnover  Ratio, Inventory Turnover Ratio, dan Total Assets Turnover Ratio terhadap  Earning Power pada Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia” B.  Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, dapat dirumuskan masalah  penelitian sebagai berikut:Apakah receivable turnover ratio, inventory turnover  ratio,  dan  total assets turnover ratio  mempengaruhi earning power  pada  Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia.
C.  Kerangka Konseptual Peningkatan daya untuk menghasilkan laba atau kemampulabaan (earning  power)  akan terjadi jika terdapat peningkatan dalam perputaran aktiva,  peningkatan dalam margin laba bersih, atau keduanya (Van Horne dan   Wachowicz, 2005:225). Rentabilitas atau kemampulabaan (earning power) suatu  perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang  menghasilkan laba tersebut (Riyanto, 1993:28). Dengan kata lain rentabilitas adalah  kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Bagi  perusahaan pada umumnya masalah rentabilitas adalah lebih penting dari pada  masalah laba, karena laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa  perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui  dengan membandingkan laba yang diperoleh itu dengan kekayaan atau modal  yang menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain ialah menghitung earning  power-nya (Riyanto, 1993).
Receivable turnover ratio mempengaruhi earning power. Jika tingkat laba  bersih tertentu dapat dipertahankan dengan menggunakan lebih sedikit uang yang  diinvestasikan dalam bentuk piutang, maka perputaran total aktiva akan membaik  yang bermakna semakin efisien aktiva yang digunakan untuk menghasilkan  penjualan, yang lebih jauh lagi berarti semakin baik juga earning power. Hal ini diperkuat oleh penelitian Gunarto (2007) dan Susani (2005).
Faktor lain yang mempengaruhi earning power adalah inventory turnover  ratio.  Menurut Maness (1988), nilai  inventory turnover ratio  yang besar  mengindikasikan terlalu sedikitnya pengaruh persediaan (inventory) terhadap  penjualan dan besarnya kemungkinan kehilangan penjualan, yang berarti akan  menurunkan profit perusahaan. Sebaliknya, nilai inventory turnover ratio yang  kecil menunjukkan terlalu banyak investasi yang digunakan dalam bentuk  persediaan (inventory), sehingga kurang efektif.
Total assets turnover ratio  mempengaruhi earning power secara langsung (Nainggolan, 2007). Nilai rasio ini mengindikasikan bahwa setiap jumlah tertentu   Receivable Turnover (X1) penjualan dihasilkan oleh setiap rupiah aktiva yang diinvestasikan atau bisa juga  menunjukkan berapa kali aktiva berputar setiap periodenya. Semakin sedikit  investasi dalam bentuk aktiva yang digunakan untuk menghasilkan tingkat  penjualan yang sama akan meningkatkan earning power.
Dengan penjelasan di atas, maka model penelitian dapat digambarkan  sebagai berikut: Gambar 1. Kerangka Konseptual Sumber: Nainggolan (2007), (dimodifikasi, 2010) D.  Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah yang ditetapkan, maka hipotesis  penelitian adalah sebagai berikut: “Receivable turnover ratio, inventory turnover  ratio,  dan  total assets turnover ratio  mempengaruhi earning power  pada  Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia.” E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian  1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan  menganalisis pengaruh account receivable turnover ratio, inventory  Inventory Turnover (X2) Total Assets Turnover Ratio (X3) Earning Power (Y)  turnover ratio, dan total assets turnover ratio terhadap earning power pada Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia.
 2. Manfaat Penelitian A. Bagi Perusahaan Sebagai tambahan informasi tentang pengaruh rasio aktivitas terhadap  profitabilitas perusahaan, khususnya earning power, untuk pengambilan  keputusan di masa depan.
B. Bagi Pihak Lain Sebagai informasi tambahan dan bahan rujukan bagi penelitian  selanjutnya mengenai pengaruh rasio aktivitas terhadap tingkat  kemampulabaan (earning power).
C. Bagi Penulis Sebagai penambah ilmu dan pengetahuan serta wawasan juga hasil  penerapan ilmu tentang pengaruh rasio aktivitas terhadap tingkat  kemampulabaan (earning power).
F.  Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Batasan penelitian yang dianalisis hanya terbatas pada rasio aktivitas, yaitu  Receivable Turnover Ratio, Inventory Turnover Ratio, Total Assets  Turnover Ratio sebagai variabel bebas (X1, X2, X3) dan Earning Power sebagai variabel terikat (Y).
 2. Defenisi Operasional a. Earning Power  sebagai variabel terikat (Y) mengukur kemampuan  perusahaan dalam memperoleh laba usaha dengan aktiva yang  digunakan untuk memperoleh laba tersebut (Martono dan Harjito,  2001:61), diukur dengan rumus sebagai berikut (Van Horne dan  Wachowicz, 2005:226): Earning Power = Profitabilitas Penjualan X Efisiensi Aktiva b. Receivable Turnover Ratio  sebagai variabel bebas pertama (X1)  menunjukkan wawasan tentang kualitas piutang perusahaan dan  kesuksesan perusahaan dalam mengumpulkan piutang tersebut  (Martono dan Harjito, 2001:56), diukur dengan rumus: Receivable Turnover =  ceivable Accounts Sales Credit Re c. Inventory Turnover Ratio sebagai variabel bebas kedua (X2)  menunjukkan efektivitas manajemen perusahaan dalam mengelola  persediaan (Martono dan Harjito, 2001:57), diukur dengan rumus: Inventory Turnover =  Inventory SoldGoodsofCost d. Total Assets Turnover Ratio  sebagai variabel bebas ketiga (X3)  menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan  keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan  laba, dapat diukur dengan: TATO =  Assets Total Sales 3. Populasi dan Data Penelitian  Menurut  Cooper dan  Schindler (2001), populasi adalah keseluruhan  elemen yang akan diteliti dan ditarik simpulan.  Populasi yang digunakan  dalam penelitian ini adalah perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia,  yaitu sebanyak 9 perusahaan. Penarikan data penelitian yang dilakukan  adalah  dengan menggunakan metode target population,  yaitu sebuah  elemen atau obyek yang berisi informasi yang diperlukan dalam penelitian  (Maholtra, 2004). Adapun kriteria target population dalam menentukan  data penelitian adalah: a. Perusahaaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak  tahun 2003 sampai sekarang dan terus listing (tidak di-suspend).
b. Perusahaan yang memiliki laporan keuangan tiap akhir tahun yang  lengkap dan mempublikasikannya di tahun 2003-2009.
Tabel 1.2 Penarikan Data Penelitian  No.  Kriteria  Jumlah 1.
Perusahaan Farmasi yang terdaftar di  Bursa Efek Indonesia 9  2.
Perusahaan yang di-suspend tanggal 17  September 2009 (PT. Taisho  Pharmaceutical Indonesia, Tbk) (1)  Perusahaan yang diteliti  8 Dari kriteria di atas, maka perusahaan yang memenuhi syarat untuk  dijadikan data penelitian adalah sebagai berikut: Tabel1.3  Perusahaan yang Diteliti No.
Kode  Emiten Nama Emiten 1.  DVLA  PT. Darya Varia Laboratoria Tbk.
 2.  INAF  PT. Indo Farma Tbk.
3.  KAEF  PT. Kimia Farma Tbk.
4.  KLBF  PT. Kalbe Farma Tbk.
5.  MERK  PT. Merck Inc.
6.  PYFA  PT. Pyridam Farma Tbk.
7.  SCPI  PT. Shcering Plough Indonesia Tbk.
8.  TSPC  PT. Tempo Scan Pasific Tbk.
Sumber: www.idx.co.id (diolah, 2010) 4. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet  dengan situs  www.idx.co.id. Waktu penelitian dilakukan dari bulan  Februari 2010 sampai dengan Mei2010.
5. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder, yang diperoleh melalui media  internet, yang bersumber dari website www.idx.co.id, studi dokumentasi,  dan literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik bahasan.
6. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan studi  dokumentasi, yaitu dengan meneliti dokumen-dokumen dan bahan tulisan  yang dipublikasikan melalui media internet serta sumber-sumber lain yang  berhubungan.
7. Metode Analisis Data  a. Metode Analisis Deskriptif Merupakan analisis yang digunakan dengan cara merumuskan dan  menafsirkan data yang ada sehingga memberikan gambaran yang jelas   melalui pengumpulan, penyusunan, dan analisis data, sehingga  diketahui gambaran umum perusahaan. Dilakukan dengan menghitung  masing-masing variabel bebas dan variabel terikat dengan  menggunakan rumus yang telah dikemukakan sebelumnya.
b. Analisis Regresi Linear Berganda Model analisis yang digunakan untuk menjawab hipotesis adalah  regresi linear berganda dengan formulasi sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2+ b3X3  Keterangan: + e Y = earning power a = konstanta   b1,3   X = koefien regresi 1   X = Receivable Turnover 2   X = Inventory Turnover 3 e = Standard error = Total Assets Turnover  Data diolah dengan menggunakan aplikasi komputer SPSS for Windows  versi 17.0.
c. Pengujian Asumsi Klasik Model analisis regresi berganda di atas harus memenuhi syarat asumsi  klasik sebagai berikut: 1. Uji Normalitas  Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,  variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Model   yang paling baik adalah distribusi data normal atau  mendekati normal.
Uji ini dapat dilakukan melalui analisis Kolmogorov-Smirnov. Apabila  diperoleh nilai sig. Uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05 maka  data dinyatakan normal (Ghozali, 2001).
2. Uji Multikolinieritas  Digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya hubungan linear antara  variabel-variabel bebas dalam model regresi. Salah satu  cara untuk  mendeteksi adanya kolonieritas dilakukan dengan cara mengkorelasikan  antar variabel bebas dan apabila korelasinya tinggi (lebih besar dari 0,8)  maka antar variabel bebas tersebut terjadi multikolinieritas. Cara lain  untuk mengetahui ada  tidaknya multikolinearitas pada suatu model  regresi adalah  dengan melihat nilai tolerance dan VIF (Variance  Inflation Factor) yaitu (Ghozali, 2001:56): a. Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa  tidak terdapat multikolineraitas pada penelitian tersebut.
b. Jika nilai tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka dapat diartikan bahwa  terjadi gangguan multikolinearitas pada penelitian tersebut.
3. Uji Heteroskedastisitas  Heteroskedastisistas adalah adanya varians variable dalam model regresi yang tidak sama (konstan). Pada suatu model regresi yang baik  adalah berkondisi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Konsekuensi adanya heteroskedastisitas  dalam  model regresi adalah penaksir (estimator) yang diperoleh  tidak efisien,  baik dalam sampel kecil maupun sampel besar. Salah satu cara untuk   mendiagnosa adanya heteroskedastisitas  dalam suatu model regresi  adalah dengan melihat Grafik Plot antara nilai perdiksi variabel terikat  (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Adapun dasar analisis dengan  melihat Grafik Plot adalah sebagai berikut (Ghozali, 2001:71): a. Jika terdapat pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola  tertentu yang teratur, maka menunjukkan  telah terjadi  heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada po la yang jelas seperti titik-titik menyebar di atas dan  di bawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak  terjadi  heteroskedastisitas.
4. Uji Autokorelasi  Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi  antar anggota serangkaian observasi yang diurutkan, menurut waktu  (data time series), atau ruang (data cross section). Beberapa faktor yang  menyebabkan adanya autokorelasi adalah tidak dimasukkannya variabel  bebas yang lain, misalnya pada suatu model regresi yang seharusnya  model tersebut terdiri dari  empat variabel bebas dan satu variabel  terikat, dalam pembuatan model dimasukkan dua variabel bebas.
Pengujian terhadap autokorelasi dapat dilakukan dengan uji statistik  Durbin-Watson. Kriteria pengambilan keputusan dapa dilihat pada  tabel.
Tabel 1.4 Kriteria Pengambilan Keputusan Uji Autokorelasi Hipotesis Nol  Keputusan  Jika Tidak ada autokorelasi positif  Tolak  0 < dw < dl  Tidak ada autokorelasi positif  No decision  dl ≤ dw ≤ du Tidak ada korelasi negatif  Tolak  4 – dl < dw < 4 – dl Tidak ada korelasi negatif  No decision  4 – du ≤ dw ≤ 4 – dl Tidak ada autokorelasi positif  atau negatif Tidak ditolak  du < dw < 4 - du  Sumber: Ghozali (2001:96)  Keterangan: dw=  durbin watson du =  batas atas dl =  batas bawah d. Uji Hipotesis 1. Uji F atau Uji Simultan  Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas (X) berpengaruh secara simultan atau bersama-sama terhadap  variabel  terikat (Y), yaitu dengan membandingkan antara nilai kritis F (Ftabel)  dengan nilai Fhitung -  Jika F (F Rasio) yang terdapat dalam tabel Analysis of Variance dari hasil perhitungan (Ghozali, 2001):  hitung ≤Ftabel atau sig.F ≥ α pada α = 5%, maka terima hipotesis  nol (H0 - Jika F ), artinya secara statistik dapat dibuktikan bahwa semua  variabel bebas tidak berpengaruh terhadap perubahan nilai variabel  terikat.
hitung  >  Ftabel atau  sig.F  <  α pada  α  =  5%,  maka menolak  hipotesis nol (H0 2. Uji t atau Uji Parsial ), dan menerima hipotesis alternatif (Ha), artinya  secara simultan dapat dibuktikan bahwa semua variabel bebas  berpengaruh terhadap perubahan nilai variabel terikat.
Uji t digunakan untuk menentukan apakah variabel bebas (X)  berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat (Y). Pengujian ini   dilakukan berdasarkan perbandingan nilai thitung  masing-masing  koefisien regresi dengan nilai ttabel - Jika –t (nilai kritis) sesuai dengan tingkat  signifikansi yang digunakan.
tabel  ≤ thitung ≤ t tabel, atau sig.t ≥  α pada  α  =  5%, maka terima  hipotesis nol (H0 - Jika t ), artinya variabel bebas secara parsial tidak  berpengaruh secara signifikan terhadap nilai variabel terikat.
hitung< -ttabel  atau thitung > ttabel atau sig.t< α pada α = 5%, maka  menolak hipotesis nol (H0 3. Pengujian Koefisien Determinasi (R ) dan menerima hipotesis alternatif (Ha),  artinya secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap nilai  variabel terikat.
2 Persamaan regresi yang diperoleh dalam suatu proses perhitungan tidak  selalu baik untuk mengestimasi nilai variabel terikat (Y), sehingga  diperlukan perhitungan koefisien determinasi. Koefisien determinasi  merupakan persentase pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai  veriabel terikat. Jika R ) 2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat  dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas adalah besar terhadap  variabel terikat. Ini berarti model yang digunakan kuat untuk  menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel  terikat, dan sebaliknya.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi