Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH STRUKTUR MODAL TERHADAP ECONOMIC VALUE ADDED PADA PERUSAHAAN PROPERTI DAN REAL ESTATE



BAB I PENDAHULUAN
 A.  Latar Belakang  
 Perusahaan merupakan organisasi yang aktivitasnya bertujuan untuk  memaksimalkan kemakmuran para pemegang saham, memperoleh laba dan  meningkatkan penjualan. Persaingan bisnis yang semakin ketat seiring dengan perkembangan perekonomian  menuntut  perusahaan untuk  terus melakukan  inovasi, meningkatkan kinerja serta memanfaatkan setiap peluang yang ada agar  perusahaan dapat mencapai tujuan dan terus bertahan dalam bisnis.

Modal adalah salah satu hal yang dibutuhkan perusahaanuntuk mencapai  tujuan  organisasi  dan memanfaatkan setiap peluang yang ada.  Modal sangat  dibutuhkan untuk  mendanai berbagai aktivitas  operasional  maupun untuk  pengembangan perusahaan.  Oleh karena  itu, keputusan pendanaan  menjadi  pertimbangan yang sangat penting bagi perusahaan.
Dasar keputusan pendanaan sangat  erat  kaitannya  dengan pemilihan  sumber dana,  yaitu  apakah perusahaan  memilih sumber dana dari dalam  perusahaan atau dari luar perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan dana dari  luar perusahaan jika pendanaan dengan modal sendiri masih kurang.  Namun  demikian,  manajer keuangan harus mempertimbangkan dengan tepat sumber  pinjaman dan besarnya pinjaman yang dibutuhkan perusahaan. Pinjaman tersebut  juga harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan karena utang yang terlalu  besar dapat memperbesar risiko tidak terbayarnya kewajiban.
Terdapat berbagai pertimbangan tertentu dari perusahaan dalam mengatur  perpaduan sumber modal mana yang akan dipakai. Apabila suatu perusahaan tidak   menyukai manajemen perusahaannya dikelola oleh banyak pemilik, maka  keputusan modal kerja yang dipakai adalah dari utang (Astuti, 2002:138).
Namun, manajer keuangan terkadang juga lebih menyukai penggunaan modal  sendiri. Hal ini sesuai dengan pecking order theory yang menyarankan manajer  untuk menggunakan pembiayaan internal terlebih dahulu, kemudian utang dan  terakhir penjualan saham baru.
Struktur modal yang optimal  terjadi pada  leverage keuangan  tingkat  tertentu  (Martono dan Harjito, 2001:240). Leverage  keuangan ini merupakan  perimbangan penggunaan utang dengan modal  sendiri  ataupun aset  dalam  perusahaan. Struktur modal diproksikan melalui rasio leverage, yaitu: debt to  equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to asset ratio (LDAR) dan equity to asset ratio (EAR).
Debt to equity ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam  memenuhi utangnya melalui modal sendiri.Debt to asset ratio (DAR) merupakan  persentase harta (asset) yang dibiayai oleh utang. Long term debt to equity ratio (LDER) merupakan rasio yang mencerminkan persentase penyediaan dana oleh  pemegang saham terhadap kewajiban jangka panjang. Long term debt to asset  ratio (LDAR) merupakan rasio yang menunjukkan besarnya tingkat penggunaan  utang jangka panjang dibandingkan dengan aset total yang dimiliki. Equity to  Asset ratio (EAR) didefinisikan sebagai proporsi dana dari aktiva yang sumber  pendanaannya berasal dari ekuitas atau pemegang saham.
Pembahasan mengenai pengaruh struktur modal terhadap economic value  added  perusahaan masih  jarang dilakukan.  Penelitian yang dilakukan  Suwito (2002)  mengenai hubungan struktur modal dengan economic value added  menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara perubahan proporsi  utang dan modal saham perusahaan dengan perubahan EVA. Hasil penelitiannya  menunjukkan bahwa setiap penambahan utang dan modal saham di dalam struktur  modal perusahaan akan diikuti pula dengan penurunan EVA. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Anshari (2008)  yang juga melakukan  penelitian mengenai hubungan struktur modal dengan economic value added  perusahaan.  Anshari  berkesimpulan  bahwa  tidak terdapat  korelasi signifikan  antara perubahan proporsi utang ataupun modal saham dengan perubahan EVA.
Penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun proporsi utang perusahaan terus  meningkat, bukan berarti EVA perusahaanjuga akanturun.
Economic Value Added (EVA) merupakan suatu pendekatan penilaian  kinerja perusahaan yang relatif masih baru dengan memperhatikan secara adil  harapan para  shareholder  perusahaan. Pendekatan EVA dapat membantu  perusahaan dalam menilai kinerjanya, apakah modal yang dimiliki perusahaan,  baik itu modal utang ataupun modal saham telah menciptakan nilai tambah bagi  perusahaan atau tidak. Pengembalian dari suatu investasi baru akan berarti apabila  besarnya hasil yang diperoleh melebihi besarnya modal yang dikeluarkan.
Rasio keuangan yang selama ini digunakan dalam penentuan kebijakan  investasi telah dipakai secara luas. Namun demikian, penggunaan analisis rasio  keuangan sebagai alat ukur akuntansi konvensional memiliki kelemahan utama  yaitu mengabaikan adanya biaya modal, sehingga sulit untuk mengetahui apakah  perusahaan telah mampu menciptakan nilai atau tidak. Berdasarkan analisis rasio  keuangan, banyak perusahaan yang terlihat menguntungkan padahal kenyataannya bisa saja tidak demikian jika dianalisis dengan pendekatan EVA.
 EVA sebagai suatu konsep baru membantu mengatasi kelemahan rasio  keuangan, yaitu dengan mengukur nilai tambah (value creation) yang dihasilkan  perusahaan dengan cara mengurangi biaya modal (cost of capital) yang timbul  sebagai akibat dari investasi yang dilakukan. Biaya modal merupakan merupakan  aspek yang paling khusus dan penting dalam EVA. Oleh  karena itu, meskipun  melibatkan perhitungan yang tidak sederhana, sangatlah penting bagi investor  untuk memahami konsep EVA.
Semakin positif nilai EVA, maka semakin bagus pula kinerja perusahaan.
Kondisi ini mencerminkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan  dengan biaya modal yang dikeluarkan. Ini  berarti manajemen telah mampu  menciptakan kekayaan  bagi pemilik modal. Namun sebaliknya, EVA negatif  mencerminkan manajemen perusahaan belum mampu menciptakan nilai tambah  bagi pemilik modal. Oleh karena itu, pendekatan EVA menutut para manajer  untuk memilih investasi yang dapat memaksimumkan tingkat pengembalian dan  meminimumkan biaya modal dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan.
Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan properti dan real estate yang  terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2009. Bursa efek sebagai  lembaga pendukung pasar modal  merupakan salah satu lembaga yang  memobilisasi dana masyarakat dengan menyediakan sarana atau tempat untuk  mempertemukan penjual dan pembeli dana-dana jangka panjang yang disebut dengan efek.
Berdasarkan laporan Properti Asia (www.metrotvnews.com tanggal 1 Oktober 2010), pasar sektor real estate di Indonesia naik 12% mencapai  US$ 5 miliar selama pertengahan tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009.
/diakses  Bahkan survei dari Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) memperkirakan pasar  properti dapat tumbuh 15% pada tahun 2010. Data PSPI juga menunjukkan sektor  properti dan konstruksi di Indonesia memberikan kontribusi  sebesar 9,3%  terhadap PDB, serta menyumbang 73% terhadap total investasi di Indonesia. Data  Bank Indonesia pada kuartal kedua tahun 2010, menunjukkan pinjaman di sektor  properti melalui perbankan nasional mencapai Rp. 224,7 triliun atau naik 12,2%  dibandingkan periode yang sama tahun 2009.
Gambar 1.1 :  Grafik Perkembangan Akumulasi Pinjaman Sektor Properti Indonesia Sumber : Data Bank Indonesia, PSPI (April 2009) Gambar 1.1  memperlihatkan perkembangan akumulasi pinjaman sektor  properti di Indonesia sebelum krisis, saat krisis, dan pasca krisis. Grafik tersebut  menunjukkan akumulasi pinjaman sektor properti di Indonesia mengalami siklus  naik dan turun. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang  terjadi. Kondisi dunia properti di Indonesia mengalami keterpurukan hebat pada  tahun 1998 hingga tahun 1999. Saat itu dunia properti berada pada situasi collapse karena beban perekonomian dalam negeri yang kian terpuruk dan tidak mampu  menahan krisis ekonomi yang terjadi. Namun, memasuki tahun 2000 sektor   properti Indonesia mulai mengalami perbaikan. Pasar properti mengalami fase  recovery yang ditunjukkan dengan semakin berkembangnya produk properti yang  sebelumnya tersendat. Pasca krisis ekonomi produk properti berkembang ke arah  yang lebih positif. Kondisi ini ditandai dengan semakin meningkatnya pinjaman  oleh para pemodal untuk mendanai usahanya di sektor properti dan real estate.
Berdasarkan uraian serta permasalahan tersebut, peneliti sangat tertarik  untuk mengkaji fenomena ini lebih lanjut melalui penelitian dengan judul “Pengaruh Struktur Modal Terhadap  Economic Value Added  pada  Perusahaan Properti dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia”.
B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya,  maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: “Apakah terdapat pengaruh struktur modal dengan variabel debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER),long  term debt to asset ratio  (LDAR) dan equity to asset ratio  (EAR) terhadap  economic value added (EVA) pada perusahaan properti dan real estate di Bursa  Efek Indonesia?” C.  Kerangka Konseptual Perkembangan sektor  properti dan real estate  yang semakin  membaik mendorong perusahaan untuk menetapkan kebijakan pendanaan yang tepat agar  dapat terus berinovasi dan berkembang ke arah pencapaian yang diharapkan  perusahaan. Oleh karena itu, Manajer keuangan sebagai pengambil keputusan   pendanaan harus cerdas dalam menentukan struktur modal yang optimal bagi  perusahaan.
Struktur modal yang optimal terjadi pada leverage  keuangan tingkat  tertentu (Martono dan Harjito, 2001:240). Leverage  keuangan ini  merupakan  perimbangan penggunaan utang dengan modal maupun aset perusahaan. Rasio  leverage keuangan antara lain: debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to asset ratio (LDAR) dan equity to asset ratio (EAR).
Alur pemikiran selanjutnya adalah tentang pentingnya economic value  added perusahaan. Young dan O’Byrne (2001:17) mendefinisikan EVA sebagai keuntungan ekonomis (residual income) yang menyatakan bahwa kekayaan hanya  diciptakan ketika sebuah perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya modal.
EVA dapat dinyatakan sebagai perhitungan profitabilitas suatu operasi perusahaan  yang tidak hanya mengurangkan biaya operasi dari pendapatan yang ada namun  juga mengurangkan biaya modal yang terkait dengan operasi tersebut terhadap  total pendapatan.
Penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan pendekatan EVA  menyebabkan perhatian manajemen sesuai dengan kepentingan para pemegang  saham. Pendekatan EVA menutut para manajer untuk bertindak cerdas dalam  menetapkan struktur modal, baik itu utang ataupun modal saham  yang dapat  memaksimalkan tingkat pengembalian dan meminimalkan tingkat biaya modal  sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Penelitian yang dilakukan Suwito (2002) mengenai hubungan struktur  modal dengan economic value added menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang   signifikan antara perubahan proporsi utang dan modal saham perusahaan dengan  perubahan EVA. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa setiap penambahan  utang dan modal saham di dalam struktur modal perusahaan akan diikuti pula  dengan penurunan EVA. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan  Anshari (2008) yang juga melakukan penelitian mengenai hubungan struktur  modal dengan economic value added perusahaan. Anshari berkesimpulan bahwa tidak terdapat korelasi signifikan antara perubahan proporsi utang ataupun modal  saham dengan perubahan EVA. Penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun  proporsi utang perusahaan terus meningkat, bukan berarti EVA perusahaan juga  akan turun.
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka kerangka konseptual dapat digambarkan dalam baganberikut: Gambar 1.2 :  Kerangka Konseptual (Pengaruh Struktur Modal Terhadap Economic Value Added)  Sumber  : Martono dan Harjito (2001), Young dan O’Byrne (2001) (diolah) Debt to Equity Ratio (DER)  Economic Value Added  (EVA) Long Term Debt to  Equity Ratio (LDER) Equity to Asset Ratio  (EAR) Debt to Asset Ratio (DAR) Long Term Debt to  Asset Ratio (LDAR)  D.  Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah struktur modal dengan variabel debt  to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity  ratio (LDER), long term debt to asset ratio, (LDAR) dan equity to asset  ratio (EAR) berpengaruh secara signifikan terhadap economic value added  (EVA) pada perusahaan properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia.
E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 3.  Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh  struktur modal dengan variabel debt to equity ratio (DER), debt to asset  ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to  asset ratio (LDAR) dan equity to asset ratio (EAR) terhadap economic  value added (EVA) pada perusahaan properti dan real estate di Bursa Efek  Indonesia.
4.  Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: a.  Bagi Penulis Melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah penulis dalam  menganalisis pengaruh struktur modal terhadap EVA perusahaan.
b.  Bagi peneliti lanjutan  Sebagai referensi untuk penelitian lanjutan, khususnya penelitian yang  berkaitan dengan pengaruh struktur modal terhadap EVA dengan ruang   lingkup yang lebih luas, sehingga hasilnya menjadi lebih baik dan dapat  diimplikasikan dengan mudah dalam operasional perusahaan.
c.  Bagi praktisi Sebagai sumber informasi dan referensi bagi para manajer perusahaan,  untuk mengetahui dan memperhatikan pentingnya stuktur modal dalam  rangka pencapaian kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang  diharapkan dan memaksimalkan nilai perusahaan.
F.  Metode Penelitian 8.  Batasan Operasional Batasan operasional dalam penelitian ini terdiri atas hal-hal berikut ini: a.  Variabel bebas dalam penelitian ini adalah struktur modal yang terdiri atas  variabel debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term  debt to equity ratio (LDER), long term debt to asset ratio (LDAR) dan  equity to asset ratio (EAR).
b.  Variabel terikat dalam penelitian ini adalah economic value added (EVA).
c.  Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan properti dan real estate yang  terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun2006-2009.
9.  Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel a.  Variabel Bebas (X), terdiri dari: (1) Debt to Equity Ratio (X1 Debt to equity ratio (DER) menggambarkan perbandingan utang dengan  ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal  )   sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya untuk  membayar utang. DER diformulasikan sebagai berikut: 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 𝐷𝐷𝑑𝑑 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐷𝐷𝐸𝐸 π‘…π‘…π‘Žπ‘Žπ·π·πΈπΈπ‘‘π‘‘ =  π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 𝑇��π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐷𝐷𝐸𝐸 (2) Debt to Asset Ratio(X2 Debt to asset Ratio (DAR) adalah rasio yang mengukur seberapa besar  jumlah aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.  DAR diformulasikan  sebagai berikut: 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 𝐷𝐷𝑑𝑑 𝐴𝐴𝐴��𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 π‘…π‘…π‘Žπ‘Žπ·π·πΈπΈπ‘‘π‘‘=  π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 )  Semakin tinggi rasio utang-aktiva  suatu perusahaan mengindikasikan  bahwa dengan struktur modal tersebut, risiko keuangan yang ditanggung  para pemegang saham semakin tinggi.
(3) Long Term Debt to Equity Ratio (X3 Long term debt to equity ratio (LDER) adalah variabel yang didefinisikan  sebagai proporsi dari utang jangka panjang yang sumber pendanaannya  berasal dari ekuitas atau pemegang saham. LDER diformulasikan sebagai  berikut:  πΏπΏπ‘‘𝑑𝐿𝐿𝐿𝐿 𝑇𝑇𝐷𝐷𝑇𝑇𝑇𝑇 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 𝐷𝐷𝑑𝑑 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐷𝐷𝐸𝐸 π‘…π‘…π‘Žπ‘Žπ·π·πΈπΈπ‘‘π‘‘ =  πΏπΏπ‘‘𝑑𝐿𝐿𝐿𝐿 𝑇𝑇𝐷𝐷𝑇𝑇𝑇𝑇 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Ž��𝑇𝑇 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐷𝐷𝐸𝐸 )  (4) Long Term Debt to Asset Ratio (X4 Long term debt to asset ratio (LDAR) merupakan perbandingan utang  jangka panjang dengan aset total. Rasio ini menunjukkan seberapa besar  tingkat penggunaan utang jangka panjang dibandingkan aset total yang  dimiliki. LDAR diformulasikan sebagai berikut: )   πΏπΏπ‘‘𝑑𝐿𝐿𝐿𝐿 𝑇𝑇𝐷𝐷𝑇𝑇𝑇𝑇 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷 𝐷𝐷𝑑𝑑 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 π‘…π‘…π‘Žπ‘Žπ·π·πΈπΈπ‘‘π‘‘ =  πΏπΏπ‘‘𝑑𝐿𝐿𝐿𝐿 𝑇𝑇𝐷𝐷𝑇𝑇𝑇𝑇 𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷𝐷�� π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 (5) Equity to Asset Ratio  (X5 Equity to asset ratio (EAR) merupakan variabel indikator yang  didefinisikan sebagai proporsi dana dari aktiva yang sumber pendanaannya  berasal dari ekuitas atau pemegang saham. Ukuran dari variabel EAR  adalah jumlah ekuitas dibagi dengan jumlah aktiva. EAR diformulasikan  sebagai berikut: 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐷𝐷𝐸𝐸 𝐷𝐷𝑑𝑑 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 π‘…π‘…π‘Žπ‘Žπ·π·πΈπΈπ‘‘π‘‘ =  π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ 𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐷𝐷𝐸𝐸 π‘‡π‘‡π‘‘π‘‘π·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡�� 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 ) b.  Variabel Terikat (Y), yaitu:  Young dan O’Byrne (2001:17) berpendapat bahwa EVA didasarkan pada  gagasan keuntungan ekonomis (juga dikenal sebagai penghasilan  sisa/residual income) yang menyatakan bahwa kekayaan hanya  diciptakan ketika sebuah perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya  modal. EVA dapat dinyatakan sebagai perhitungan profitabilitas suatu  operasi perusahaan yang tidak hanya mengurangkan biaya operasi dari  pendapatan yang ada, tetapi juga mengurangkan biaya modal yang terkait  dengan operasi tersebut terhadap total pendapatan. EVA diformulasikan  sebagai berikut: EVA=(RONA−WACC)×𝐼𝐼𝐿𝐿𝐼𝐼𝐷𝐷𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷𝐼𝐼 π‘π‘π‘Žπ‘Žπ‘π‘πΈπΈπ·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ Keterangan: RONA : Return on Net Asset WACC  :   Weighted Average Cost of Capital Invested Capital  :   Modal yang diinvestasikan  Langkah - Langkah Menghitung EVA Langkah 1 : Menghitung RONA (Return on Net Asset), dengan rumus: RONA =  NOPAT 𝑁𝑁𝐷𝐷𝐷𝐷 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷 Keterangan: NOPAT   =   laba operasi bersih sesudah pajak merupakan  sejumlah laba  perusahaan yang akan dihasilkan jika perusahaan tersebut tidak  memiliki utang dan tidak memiliki aset finansial.
NOPAT = EBIT(1−T) EBIT  = Earning Before Interest and Tax (laba sebelum bunga dan pajak).
T  =  Tax atau pajak Net Asset =  (aktiva bersih) adalah jumlah aktiva yang dikurangi kewajiban.
Langkah 2 : Menghitung WACC (Weighted Average Cost of Capital) WACC=(Ke × We)+ [(Kd × (1−T))  ×Wd]  Keterangan: Ke = Biaya ekuitas yang dicari dengan metode CAPM, yaitu: Ke =Rf+ [Ξ² × (Rm−Rf)] Rf = Tingkat suku bunga bebas risiko yang didasarkan pada tingkat  bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada tahun 2006-2009.
Beta (Ξ²)  =   Tingkat sensitivitas suatu saham terhadap kondisi pasar secara  umum. Koefisien dapat  dihitung dengan cara meregresi return saham perusahaan dengan return pasar perbulan dalam satu tahun.
Nilai koefisien beta dari hasil pengolahan dengan menggunakan  SPSS menjadi beta saham individu.
 Ri  =  Tingkat pengembalian atas saham individual.
Ri=  Pit − Pit−1 + Dit Pit−1 Rm = Tingkat pengembalian atas pasar saham.
Rm=  IHSG t − IHSG t−1 IHSG t−1 We  =   Komposisi ekuitas pada struktur modal We=  Ekuitas Utang + Ekuitas ×100% Kd = Biaya utang, dihitung dengan rumus: Kd= Kewajiban Bunga × (1 −T) Wd = Komposisi utang pada struktur modal Wd=  Ekuitas Utang Utang + Ekuitas  × 100% T  =  Tingkat pajak T  =  Beban Pajak Laba Sebelum Pajak  × 100% Langkah 3 : Menghitung modal yang diinvestasikan (Invested Capital) Young dan O’Byrne (2006:39) berpendapat bahwa modal yang diinvestasikan  adalah jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka  pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga (non-interest bearing liabilities),  seperti utang, upah yang akan jatuh tempo (accrued wages) dan pajak yang akan  jatuh tempo (accrued taxes).
Modal yang diinvestasikan= Kewajiban Jangka Panjang+Ekuitas Langkah 4 : Menghitung nilai tambah ekonomi dengan rumus EVA  EVA=(RONA−WACC)×𝐼𝐼𝐿𝐿𝐼𝐼𝐷𝐷𝐴𝐴𝐷𝐷𝐷𝐷𝐼𝐼 π‘π‘π‘Žπ‘Žπ‘π‘πΈπΈπ·π·π‘Žπ‘Žπ‘‡π‘‡ EVA > 0, artinya telah terjadi pertambahan nilai tambah ekonomis.
EVA = 0, artinya perusahaan beradapada titik impas.
EVA < 0, artinya tidak terjadi proses pertambahan nilai ekonomis.
10.  Tempat dan Waktu Penelitian a.  Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet  dengan situs www.idx.co.id dan  b.  Waktu Penelitian www.yahoofinance.com Waktu penelitian diperkirakan mulai pada bulan November 2010 sampai  dengan Desember2010.
11.  Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak pada sektor  properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006-2009. Penarikan sampel yang dilakukan peneliti  adalah dengan  menggunakan desain sampel non probabilitas dengan metode judgment  sampling. Judgment sampling adalah salah satu jenis purposive  sampling dimana peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa  karakteristik anggota populasi yang disesuaikan dengan maksud penelitian  (Kuncoro, 2003:119).  Kriteria penarikan sampel yang digunakan oleh  peneliti adalah: a.  Perusahaan yang selalu listing di Bursa Efek Indonesia selama periode  penelitian, yaitu tahun2006-2009.
 b.  Perusahaan yang  memiliki laba bersih yang positif (tidak mengalami  kerugian) selama periode penelitian, yaitu tahun2006-2009.
Tabel 1.1 Jumlah Sampel Berdasarkan Kriteria Penarikan Sampel No  Kriteria  Jumlah  1  Perusahaan yang bergerak pada sektor properti  dan real estate  yang terdaftar di Bursa Efek  Indonesia  37 2  Perusahaan yang tidak terdaftar secara terus  menerus di Bursa Efek Indonesia selama tahun  2006-2009.
4 3  Perusahaan yang tidak memiliki  laba bersih  positif  (mengalami kerugian)  selama tahun  2006-2009.
17 Jumlah Sampel  16 Sumber: www.idx.co.id(diakses tanggal 15 Agustus 2010) Berdasarkan kriteria penarikan sampel, maka diperoleh sampel penelitian  sebanyak 16 perusahaan. Sampel sasaran penelitian tersebut antara lain: Tabel 1.2 Sampel Penelitian No Kode  Emiten Nama Perusahaan  1  ASRI  PT ALAM SUTERA REALTY TBK 2  BAPA  PT BEKASI ASRI PEMULA TBK 3  COWL  PT COWELL DEVELOPMENT TBK 4  CTRS  PT CIPUTRA SURYA TBK 5  DART  PT DUTA ANGGADA REALTY TBK 6  DILD  PT INTILAND DEVELOPMENT TBK 7  DUTI  PT DUTA PERTIWI TBK 8  ELTY  PT BAKRIELAND DEVELOPMENT TBK 9  GMTD  PT GOWA MAKASSAR TOURISM DEVELOPMENT TBK 10  JRPT  PT JAYA REAL PROPERTY TBK 11  LAMI  PT LAMICITRA NUSANTARA TBK 12  LPCK  PT LIPPO CIKARANG TBK 13  LPKR  PT LIPPO KARAWACI TBK 14  RBMS  PT RISTIA BINTANG MAHKOTA SEJATI TBK 15  SIIP  PT SURYA INTI PERMATA TBK 16  SMRA  PT SUMMARECON AGUNG TBK Sumber: www.idx.co.id(diakses tanggal15 Agustus 2010)   12.  Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kuantitatif  yang bersumber dari data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh  secara tidak langsung melalui buku-buku dan jurnal ilmiah, serta media internet  yaitu melalui situs resmi bursa efek www.idx.co.iddan www.yahoofinance.com.
Data tersebut meliputi:  a.  Sejarah singkat perusahaan.
b.  Neraca perusahaan dari tahun 2006-2009.
c.  Laporan laba rugi perusahaan dari tahun 2006-2009.
d.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari tahun 2006-2009.
e.  Harga saham perusahaan dari tahun 2006-2009.
f.  Tingkat suku bunga bebas risiko yang didasarkan pada tingkat bunga  Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari tahun 2006-2009.
g.  Data-data lain yang dianggap perlu misalnya hasil publikasi, buku-buku  ilmiah dan literatur lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
13.  Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui: a.  Tahap pengumpulan data pendukung berupa penelitian terdahulu, laporan  yang dipublikasikan serta pendapat para ahli yang bersumber dari bukubuku ilmiah untuk mendapat gambaran dari masalah yang akan diteliti.
b.  Tahap obsevarsi non partisipan dengan penelitian secara tidak langsung ke  perusahaan yaitu di Bursa Efek Indonesia melalui situs www.idx.co.iddan  www.yahoofinance.com.
 14.  Metode Analisis Data Untuk mengolah dan menganalisis data, peneliti menggunakan aplikasi  komputer yaitu Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 16.0 for  windo ws. Adapun  metode analisis data yang digunakan dalam penelitian  ini menggunakan tahap-tahap sebagai berikut: a.  Metode Analisis Deskriptif  Metode analisis deskriptif merupakan  metode yang digunakan untuk  menganalisis dan mengolah data-data yang tersedia sehingga diperoleh  gambaran yang jelas mengenai fakta-fakta dan hubungan antara fenomena  yang diteliti.
b.  Pengujian Asumsi Klasik Sebelum data tersebut dianalisis dengan model regresi linier berganda  maka sebelumnya harus memenuhi syarat uji asumsi klasik, yaitu: (1) Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah  data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data  dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola  seperti distribusi normal yakni distribusi data tersebut tidak menceng ke  kiri atau menceng ke kanan (Situmorang, dkk., 2010:91). Uji ini dilakukan  melalui pendekatan  Kolmogorv-smirnov  dan pendekatan grafik yang  terdiri dari histogram dan normal probability plot.
(2) Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah grup  mempunyai varians yang sama diantara anggota grup tersebut. Jika varians   sama dan ini yang seharusnya terjadi maka dikatakan ada  homoskedastisitas. Sedangkan jika varians tidak sama dikatakan terjadi  heteroskedastisitas (Situmorang, dkk., 2010:98). Model regresi yang baik  adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Pengujian heteroskedastisitas data dilakukan dengan menggunakan Uji  Glejser.
(3) Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi  linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan  kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (Situmorang, dkk.,  2010:113). Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari  autokorelasi. Gejala autokorelasi dideteksi dengan menggunakan metode  The Breusch-Godfrey (BG) Test.
(4) Uji Multikolinearitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan  adanya korelasi antar variabel independen. Jika terdapat korelasi antar  variabel independen, maka dapat dikatakan terdapat masalah  multikolinieritas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas  dapat dilakukan dengan melihat nilai toleransi variabel  dan  Variance  Inflation factor (VIF) dengan ketentuan: a)  VIF  > 5, artinya terdapat masalah multikolinieritas.
b)  VIF  < 5, artinya tidak terdapat masalah multikolinieritas.
c)  Tolarance < 0,1 artinya terdapat masalah multikolinieritas.
d)  Tolarance > 0,1 artinya tidak terdapat masalah multikolinieritas.
 c.  Metode Analisis Regresi LinearBerganda  Regresi linear berganda ditujukan untuk menentukan hubungan linear  antara beberapa variabel bebas dengan variabel terikat.
Rumus : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5  Keterangan: + e Y   =   EVA (Economic Value Added) a   =   Konstanta X1 X =   DER (Debt to Equity Ratio)  2  X =   DAR (Debt to Asset Ratio)  3  X =  LDER (Long term Debt To Equity Ratio)  4  X =  LDAR (Long term Debt To Asset Ratio)  5 b  = EAR (Equity To Asset Ratio)  1 b  = Koefisien regresi variabel DER 2  b =   Koefisien regresi variabel DAR 3  b =  Koefisien regresi variabel LDER 4  b =  Koefisien regresi variabel LDAR 5  e   =   Error =  Koefisien regresi variabel EAR (1) Goodness of Fit atau Uji Determinan (R 2 )  Koefisien determinasi dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square  yang  menunjukkan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan  variabel dependen. Semakin tinggi nilai Adjusted R Square maka semakin  baik model regresi yang digunakan karena itu berarti kemampuan variabel   bebas menjelaskan variabel terikat juga semakin besar, demikian pula  apabila yang terjadi sebaliknya.
(2) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)  Pengujian ini digunakan untuk menguji koefisien regresi secara serempak.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas  secara serempak (simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap  variabel terikat.
Bentuk pengujiannya adalah: (a) H0 : b1 = b2 = b3 =  b 4 = b5 (b) H  =  0, artinya variabel DER, DAR, LDER,  LDAR, EAR  yang terdapat pada model ini secara serempak tidak  mempunyai pengaruh terhadap EVA.
a :  b 1 ≠ b 2 ≠ b3 ≠ b 4 ≠  b5 Pada penelitian ini nilai F ≠ 0, artinya variabel DER,  DAR, LDER, LDAR, EAR yang terdapat pada model ini secara serempak mempunyai  pengaruh yang signifikan terhadap EVA.
hitung akan dibandingkan dengan F  tabel  Kriteria pengambilan keputusan pada uji-F ini adalah:  pada  tingkat signifikan () = 5 % (a) H0 diterima, jika F hitung  ≤ F tabel  (b) H atau apabila nilai signifikansi () > 0.05  yang artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh  terhadap variabel terikat atau dapat dikatakan bahwa model regresi tidak  signifikan.
a diterima, jika F hitung > F tabel  atau apabila nilai signifikansi () < 0.05  yang artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap  variabel terikat atau dapat dikatakan bahwa model regresi signifikan  (3) Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)  Pengujian ini digunakan untuk menguji koefisien regresi secara individual.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah secara parsial masingmasing variabel bebas mempunyai pengaruh signifikan atau tidak terhadap  variabel terikat.
Bentuk pengujiannya adalah: (a) H0 : bi (b) H = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel bebas  secara parsial terhadap variabel terikat.
a : bi  Pada penelitian ini t ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel bebas secara  parsial terhadap variabel terikat.
hitung  akan dibandingkan dengan t tabel Kriteria pengambilan keputusan: pada tingkat  signifikansi () = 5 %.
(a) H0 diterima, jika t hitung < t tabel (b) H atau apabila nilai signifikansi () > 0.05  yang artinya variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh terhadap  variabel terikat.
a diterima, jika t hitung > t tabel atau apabila nilai signifikansi () < 0.05  yang artinya variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel  terikat.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi