BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perusahaan merupakan organisasi yang
aktivitasnya bertujuan untuk memaksimalkan
kemakmuran para pemegang saham, memperoleh laba dan meningkatkan penjualan. Persaingan bisnis yang
semakin ketat seiring dengan perkembangan perekonomian menuntut
perusahaan untuk terus melakukan inovasi, meningkatkan kinerja serta
memanfaatkan setiap peluang yang ada agar perusahaan dapat mencapai tujuan dan terus
bertahan dalam bisnis.
Modal adalah salah
satu hal yang dibutuhkan perusahaanuntuk mencapai tujuan
organisasi dan memanfaatkan
setiap peluang yang ada. Modal sangat dibutuhkan untuk mendanai berbagai aktivitas operasional
maupun untuk pengembangan
perusahaan. Oleh karena itu, keputusan pendanaan menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi
perusahaan.
Dasar keputusan
pendanaan sangat erat kaitannya
dengan pemilihan sumber
dana, yaitu apakah perusahaan memilih sumber dana dari dalam perusahaan atau dari luar perusahaan.
Perusahaan dapat menggunakan dana dari luar
perusahaan jika pendanaan dengan modal sendiri masih kurang. Namun demikian, manajer keuangan harus mempertimbangkan
dengan tepat sumber pinjaman dan
besarnya pinjaman yang dibutuhkan perusahaan. Pinjaman tersebut juga harus disesuaikan dengan kemampuan
perusahaan karena utang yang terlalu besar
dapat memperbesar risiko tidak terbayarnya kewajiban.
Terdapat berbagai
pertimbangan tertentu dari perusahaan dalam mengatur perpaduan sumber modal mana yang akan dipakai.
Apabila suatu perusahaan tidak menyukai
manajemen perusahaannya dikelola oleh banyak pemilik, maka keputusan modal kerja yang dipakai adalah dari
utang (Astuti, 2002:138).
Namun, manajer
keuangan terkadang juga lebih menyukai penggunaan modal sendiri. Hal ini sesuai dengan pecking order
theory yang menyarankan manajer untuk
menggunakan pembiayaan internal terlebih dahulu, kemudian utang dan terakhir penjualan saham baru.
Struktur modal yang
optimal terjadi pada leverage keuangan tingkat tertentu
(Martono dan Harjito, 2001:240). Leverage keuangan ini merupakan perimbangan penggunaan utang dengan modal sendiri
ataupun aset dalam perusahaan. Struktur modal diproksikan melalui
rasio leverage, yaitu: debt to equity
ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER),
long term debt to asset ratio (LDAR) dan equity to asset ratio (EAR).
Debt to equity
ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi utangnya melalui modal sendiri.Debt
to asset ratio (DAR) merupakan persentase
harta (asset) yang dibiayai oleh utang. Long term debt to equity ratio (LDER)
merupakan rasio yang mencerminkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap kewajiban jangka
panjang. Long term debt to asset ratio (LDAR)
merupakan rasio yang menunjukkan besarnya tingkat penggunaan utang jangka panjang dibandingkan dengan aset
total yang dimiliki. Equity to Asset
ratio (EAR) didefinisikan sebagai proporsi dana dari aktiva yang sumber pendanaannya berasal dari ekuitas atau
pemegang saham.
Pembahasan mengenai
pengaruh struktur modal terhadap economic value added
perusahaan masih jarang
dilakukan. Penelitian yang
dilakukan Suwito (2002) mengenai hubungan struktur modal dengan
economic value added menunjukkan bahwa
terdapat korelasi yang signifikan antara perubahan proporsi utang dan modal saham perusahaan dengan
perubahan EVA. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa setiap penambahan utang dan modal saham di dalam struktur modal perusahaan akan diikuti pula dengan
penurunan EVA. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Anshari
(2008) yang juga melakukan penelitian mengenai hubungan struktur modal
dengan economic value added perusahaan. Anshari
berkesimpulan bahwa tidak terdapat korelasi signifikan antara perubahan proporsi utang ataupun modal
saham dengan perubahan EVA.
Penelitiannya
menunjukkan bahwa meskipun proporsi utang perusahaan terus meningkat, bukan berarti EVA perusahaanjuga
akanturun.
Economic Value
Added (EVA) merupakan suatu pendekatan penilaian kinerja perusahaan yang relatif masih baru
dengan memperhatikan secara adil harapan
para shareholder perusahaan. Pendekatan EVA dapat membantu perusahaan dalam menilai kinerjanya, apakah modal
yang dimiliki perusahaan, baik itu modal
utang ataupun modal saham telah menciptakan nilai tambah bagi perusahaan atau tidak. Pengembalian dari suatu
investasi baru akan berarti apabila besarnya
hasil yang diperoleh melebihi besarnya modal yang dikeluarkan.
Rasio keuangan yang
selama ini digunakan dalam penentuan kebijakan investasi telah dipakai secara luas. Namun
demikian, penggunaan analisis rasio keuangan
sebagai alat ukur akuntansi konvensional memiliki kelemahan utama yaitu mengabaikan adanya biaya modal, sehingga
sulit untuk mengetahui apakah perusahaan
telah mampu menciptakan nilai atau tidak. Berdasarkan analisis rasio keuangan, banyak perusahaan yang terlihat
menguntungkan padahal kenyataannya bisa saja tidak demikian jika dianalisis dengan
pendekatan EVA.
EVA sebagai suatu konsep baru membantu
mengatasi kelemahan rasio keuangan,
yaitu dengan mengukur nilai tambah (value creation) yang dihasilkan perusahaan dengan cara mengurangi biaya modal
(cost of capital) yang timbul sebagai
akibat dari investasi yang dilakukan. Biaya modal merupakan merupakan aspek yang paling khusus dan penting dalam
EVA. Oleh karena itu, meskipun melibatkan perhitungan yang tidak sederhana,
sangatlah penting bagi investor untuk memahami
konsep EVA.
Semakin positif
nilai EVA, maka semakin bagus pula kinerja perusahaan.
Kondisi ini
mencerminkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya modal yang dikeluarkan. Ini berarti manajemen telah mampu menciptakan kekayaan bagi pemilik modal. Namun sebaliknya, EVA
negatif mencerminkan manajemen
perusahaan belum mampu menciptakan nilai tambah bagi pemilik modal. Oleh karena itu,
pendekatan EVA menutut para manajer untuk
memilih investasi yang dapat memaksimumkan tingkat pengembalian dan meminimumkan biaya modal dengan tujuan
memaksimumkan nilai perusahaan.
Objek dalam
penelitian ini adalah perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun
2006-2009. Bursa efek sebagai lembaga
pendukung pasar modal merupakan salah
satu lembaga yang memobilisasi dana
masyarakat dengan menyediakan sarana atau tempat untuk mempertemukan penjual dan pembeli dana-dana
jangka panjang yang disebut dengan efek.
Berdasarkan laporan
Properti Asia (www.metrotvnews.com tanggal 1 Oktober 2010), pasar sektor real
estate di Indonesia naik 12% mencapai US$
5 miliar selama pertengahan tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009.
/diakses Bahkan survei dari Pusat Studi Properti
Indonesia (PSPI) memperkirakan pasar properti
dapat tumbuh 15% pada tahun 2010. Data PSPI juga menunjukkan sektor properti dan konstruksi di Indonesia
memberikan kontribusi sebesar 9,3% terhadap PDB, serta menyumbang 73% terhadap
total investasi di Indonesia. Data Bank
Indonesia pada kuartal kedua tahun 2010, menunjukkan pinjaman di sektor properti melalui perbankan nasional mencapai
Rp. 224,7 triliun atau naik 12,2% dibandingkan
periode yang sama tahun 2009.
Gambar 1.1 : Grafik Perkembangan Akumulasi Pinjaman Sektor
Properti Indonesia Sumber : Data Bank Indonesia, PSPI (April 2009) Gambar
1.1 memperlihatkan perkembangan
akumulasi pinjaman sektor properti di
Indonesia sebelum krisis, saat krisis, dan pasca krisis. Grafik tersebut menunjukkan akumulasi pinjaman sektor properti
di Indonesia mengalami siklus naik dan
turun. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang terjadi. Kondisi dunia properti di Indonesia
mengalami keterpurukan hebat pada tahun
1998 hingga tahun 1999. Saat itu dunia properti berada pada situasi collapse karena
beban perekonomian dalam negeri yang kian terpuruk dan tidak mampu menahan krisis ekonomi yang terjadi. Namun,
memasuki tahun 2000 sektor properti
Indonesia mulai mengalami perbaikan. Pasar properti mengalami fase recovery yang ditunjukkan dengan semakin
berkembangnya produk properti yang sebelumnya
tersendat. Pasca krisis ekonomi produk properti berkembang ke arah yang lebih positif. Kondisi ini ditandai
dengan semakin meningkatnya pinjaman oleh
para pemodal untuk mendanai usahanya di sektor properti dan real estate.
Berdasarkan uraian
serta permasalahan tersebut, peneliti sangat tertarik untuk mengkaji fenomena ini lebih lanjut
melalui penelitian dengan judul “Pengaruh Struktur Modal Terhadap Economic Value Added pada Perusahaan
Properti dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia”.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis merumuskan masalah penelitian
sebagai berikut: “Apakah terdapat pengaruh struktur modal dengan variabel debt
to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity
ratio (LDER),long term debt to asset
ratio (LDAR) dan equity to asset
ratio (EAR) terhadap economic value added (EVA) pada perusahaan
properti dan real estate di Bursa Efek
Indonesia?” C. Kerangka Konseptual Perkembangan
sektor properti dan real estate yang semakin
membaik mendorong perusahaan untuk menetapkan kebijakan pendanaan yang
tepat agar dapat terus berinovasi dan
berkembang ke arah pencapaian yang diharapkan perusahaan. Oleh karena itu, Manajer keuangan
sebagai pengambil keputusan pendanaan
harus cerdas dalam menentukan struktur modal yang optimal bagi perusahaan.
Struktur modal yang
optimal terjadi pada leverage keuangan
tingkat tertentu (Martono dan Harjito,
2001:240). Leverage keuangan ini merupakan perimbangan penggunaan utang dengan modal
maupun aset perusahaan. Rasio leverage
keuangan antara lain: debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR),
long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to asset ratio (LDAR) dan
equity to asset ratio (EAR).
Alur pemikiran
selanjutnya adalah tentang pentingnya economic value added perusahaan. Young dan O’Byrne (2001:17)
mendefinisikan EVA sebagai keuntungan ekonomis (residual income) yang
menyatakan bahwa kekayaan hanya diciptakan
ketika sebuah perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya modal.
EVA dapat
dinyatakan sebagai perhitungan profitabilitas suatu operasi perusahaan yang tidak hanya mengurangkan biaya operasi
dari pendapatan yang ada namun juga
mengurangkan biaya modal yang terkait dengan operasi tersebut terhadap total pendapatan.
Penilaian kinerja
keuangan dengan menggunakan pendekatan EVA menyebabkan perhatian manajemen sesuai dengan
kepentingan para pemegang saham.
Pendekatan EVA menutut para manajer untuk bertindak cerdas dalam menetapkan struktur modal, baik itu utang
ataupun modal saham yang dapat memaksimalkan tingkat pengembalian dan
meminimalkan tingkat biaya modal sehingga
dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Penelitian yang
dilakukan Suwito (2002) mengenai hubungan struktur modal dengan economic value added menunjukkan
bahwa terdapat korelasi yang signifikan
antara perubahan proporsi utang dan modal saham perusahaan dengan perubahan EVA. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa setiap penambahan utang dan modal
saham di dalam struktur modal perusahaan akan diikuti pula dengan penurunan EVA. Hal ini berbeda dengan
hasil penelitian yang dilakukan Anshari
(2008) yang juga melakukan penelitian mengenai hubungan struktur modal dengan economic value added perusahaan.
Anshari berkesimpulan bahwa tidak terdapat korelasi signifikan antara perubahan
proporsi utang ataupun modal saham
dengan perubahan EVA. Penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun proporsi utang perusahaan terus meningkat,
bukan berarti EVA perusahaan juga akan
turun.
Berdasarkan
kerangka berpikir tersebut, maka kerangka konseptual dapat digambarkan dalam
baganberikut: Gambar 1.2 : Kerangka
Konseptual (Pengaruh Struktur Modal Terhadap Economic Value Added) Sumber
: Martono dan Harjito (2001), Young dan O’Byrne (2001) (diolah) Debt to
Equity Ratio (DER) Economic Value Added (EVA) Long Term Debt to Equity Ratio (LDER) Equity to Asset Ratio (EAR) Debt to Asset Ratio (DAR) Long Term Debt
to Asset Ratio (LDAR) D.
Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah struktur modal dengan
variabel debt to equity ratio (DER),
debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to asset ratio,
(LDAR) dan equity to asset ratio (EAR)
berpengaruh secara signifikan terhadap economic value added (EVA) pada perusahaan properti dan real estate
di Bursa Efek Indonesia.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh struktur modal dengan variabel debt to equity
ratio (DER), debt to asset ratio (DAR),
long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to asset ratio (LDAR) dan equity to asset ratio
(EAR) terhadap economic value added
(EVA) pada perusahaan properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia.
4. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian
ini adalah sebagai berikut: a. Bagi
Penulis Melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah penulis dalam menganalisis pengaruh struktur modal terhadap
EVA perusahaan.
b. Bagi peneliti lanjutan Sebagai referensi untuk penelitian lanjutan,
khususnya penelitian yang berkaitan
dengan pengaruh struktur modal terhadap EVA dengan ruang lingkup yang lebih luas, sehingga hasilnya
menjadi lebih baik dan dapat diimplikasikan
dengan mudah dalam operasional perusahaan.
c. Bagi praktisi Sebagai sumber informasi dan
referensi bagi para manajer perusahaan, untuk
mengetahui dan memperhatikan pentingnya stuktur modal dalam rangka pencapaian kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba yang diharapkan dan
memaksimalkan nilai perusahaan.
F. Metode Penelitian 8. Batasan Operasional Batasan operasional dalam
penelitian ini terdiri atas hal-hal berikut ini: a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
struktur modal yang terdiri atas variabel
debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), long term debt to equity ratio (LDER), long term debt to
asset ratio (LDAR) dan equity to asset
ratio (EAR).
b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
economic value added (EVA).
c. Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan
properti dan real estate yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia selama tahun2006-2009.
9. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel a. Variabel Bebas (X), terdiri dari: (1) Debt to
Equity Ratio (X1 Debt to equity ratio (DER) menggambarkan perbandingan utang
dengan ekuitas dalam pendanaan
perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal ) sendiri
perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya untuk membayar utang. DER diformulasikan sebagai
berikut: π·π·π·π·π·π·π·π· π·π·π‘π‘ πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ·π·πΈπΈ π
π
πππ·π·πΈπΈπ‘π‘ = πππ‘π‘π·π·ππππ π·π·π·π·π·π·π·π· π��π‘π‘π·π·ππππ πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ·π·πΈπΈ (2) Debt to Asset Ratio(X2 Debt to asset Ratio (DAR) adalah rasio yang
mengukur seberapa besar jumlah aktiva
perusahaan dibiayai oleh utang. DAR
diformulasikan sebagai berikut: π·π·π·π·π·π·π·π· π·π·π‘π‘ π΄π΄π΄��π΄π΄π·π·π·π· π
π
πππ·π·πΈπΈπ‘π‘= πππ‘π‘π·π·ππππ π·π·π·π·π·π·π·π· πππ‘π‘π·π·ππππ π΄π΄π΄π΄π΄π΄π·π·π·π· ) Semakin tinggi rasio
utang-aktiva suatu perusahaan
mengindikasikan bahwa dengan struktur
modal tersebut, risiko keuangan yang ditanggung para pemegang saham semakin tinggi.
(3) Long Term Debt
to Equity Ratio (X3 Long term debt to equity ratio (LDER) adalah variabel yang
didefinisikan sebagai proporsi dari
utang jangka panjang yang sumber pendanaannya berasal dari ekuitas atau pemegang saham. LDER
diformulasikan sebagai berikut: πΏπΏπ‘π‘πΏπΏπΏπΏ πππ·π·ππππ π·π·π·π·π·π·π·π· π·π·π‘π‘ πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ·π·πΈπΈ π
π
πππ·π·πΈπΈπ‘π‘ = πΏπΏπ‘π‘πΏπΏπΏπΏ πππ·π·ππππ π·π·π·π·π·π·π·π· πππ‘π‘π·π·π��ππ πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ·π·πΈπΈ ) (4) Long Term Debt to Asset
Ratio (X4 Long term debt to asset ratio (LDAR) merupakan perbandingan utang jangka panjang dengan aset total. Rasio ini
menunjukkan seberapa besar tingkat
penggunaan utang jangka panjang dibandingkan aset total yang dimiliki. LDAR diformulasikan sebagai berikut:
) πΏπΏπ‘π‘πΏπΏπΏπΏ πππ·π·ππππ π·π·π·π·π·π·π·π· π·π·π‘π‘ π΄π΄π΄π΄π΄π΄π·π·π·π· π
π
πππ·π·πΈπΈπ‘π‘ = πΏπΏπ‘π‘πΏπΏπΏπΏ πππ·π·ππππ π·π·π·π·π·π·π·�� πππ‘π‘π·π·ππππ π΄π΄π΄π΄π΄π΄π·π·π·π· (5) Equity to Asset Ratio (X5 Equity
to asset ratio (EAR) merupakan variabel indikator yang didefinisikan sebagai proporsi dana dari
aktiva yang sumber pendanaannya berasal
dari ekuitas atau pemegang saham. Ukuran dari variabel EAR adalah jumlah ekuitas dibagi dengan jumlah
aktiva. EAR diformulasikan sebagai
berikut: πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ·π·πΈπΈ π·π·π‘π‘ π΄π΄π΄π΄π΄π΄π·π·π·π· π
π
πππ·π·πΈπΈπ‘π‘ = πππ‘π‘π·π·ππππ πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ·π·πΈπΈ πππ‘π‘π·π·πππ�� π΄π΄π΄π΄π΄π΄π·π·π·π· ) b. Variabel Terikat (Y),
yaitu: Young dan O’Byrne (2001:17)
berpendapat bahwa EVA didasarkan pada gagasan
keuntungan ekonomis (juga dikenal sebagai penghasilan sisa/residual income) yang menyatakan bahwa
kekayaan hanya diciptakan ketika sebuah
perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya modal. EVA dapat dinyatakan sebagai
perhitungan profitabilitas suatu operasi
perusahaan yang tidak hanya mengurangkan biaya operasi dari pendapatan yang ada, tetapi juga mengurangkan
biaya modal yang terkait dengan operasi
tersebut terhadap total pendapatan. EVA diformulasikan sebagai berikut: EVA=(RONA−WACC)×πΌπΌπΏπΏπΌπΌπ·π·π΄π΄π·π·π·π·πΌπΌ πππππππΈπΈπ·π·ππππ Keterangan: RONA : Return on Net Asset WACC :
Weighted Average Cost of Capital Invested Capital :
Modal yang diinvestasikan Langkah
- Langkah Menghitung EVA Langkah 1 : Menghitung RONA (Return on Net Asset),
dengan rumus: RONA = NOPAT πππ·π·π·π· π΄π΄π΄π΄π΄π΄π·π·π·π· Keterangan: NOPAT = laba operasi bersih sesudah pajak
merupakan sejumlah laba perusahaan yang akan dihasilkan jika
perusahaan tersebut tidak memiliki utang
dan tidak memiliki aset finansial.
NOPAT = EBIT(1−T) EBIT = Earning Before Interest and Tax (laba
sebelum bunga dan pajak).
T = Tax
atau pajak Net Asset = (aktiva bersih)
adalah jumlah aktiva yang dikurangi kewajiban.
Langkah 2 :
Menghitung WACC (Weighted Average Cost of Capital) WACC=(Ke × We)+ [(Kd ×
(1−T)) ×Wd] Keterangan: Ke = Biaya ekuitas yang dicari
dengan metode CAPM, yaitu: Ke =Rf+ [Ξ² × (Rm−Rf)] Rf = Tingkat suku bunga bebas
risiko yang didasarkan pada tingkat bunga
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada tahun 2006-2009.
Beta (Ξ²) =
Tingkat sensitivitas suatu saham terhadap kondisi pasar secara umum. Koefisien dapat dihitung dengan cara meregresi return saham
perusahaan dengan return pasar perbulan dalam satu tahun.
Nilai koefisien
beta dari hasil pengolahan dengan menggunakan SPSS menjadi beta saham individu.
Ri
= Tingkat pengembalian atas saham
individual.
Ri= Pit − Pit−1 + Dit Pit−1 Rm = Tingkat
pengembalian atas pasar saham.
Rm= IHSG t − IHSG t−1 IHSG t−1 We =
Komposisi ekuitas pada struktur modal We= Ekuitas Utang + Ekuitas ×100% Kd = Biaya
utang, dihitung dengan rumus: Kd= Kewajiban Bunga × (1 −T) Wd = Komposisi utang
pada struktur modal Wd= Ekuitas Utang Utang
+ Ekuitas × 100% T =
Tingkat pajak T = Beban Pajak Laba Sebelum Pajak × 100% Langkah 3 : Menghitung modal yang
diinvestasikan (Invested Capital) Young dan O’Byrne (2006:39) berpendapat bahwa
modal yang diinvestasikan adalah jumlah
seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga
(non-interest bearing liabilities), seperti
utang, upah yang akan jatuh tempo (accrued wages) dan pajak yang akan jatuh tempo (accrued taxes).
Modal yang
diinvestasikan= Kewajiban Jangka Panjang+Ekuitas Langkah 4 : Menghitung nilai
tambah ekonomi dengan rumus EVA EVA=(RONA−WACC)×πΌπΌπΏπΏπΌπΌπ·π·π΄π΄π·π·π·π·πΌπΌ πππππππΈπΈπ·π·ππππ EVA > 0, artinya telah terjadi pertambahan nilai tambah ekonomis.
EVA = 0, artinya
perusahaan beradapada titik impas.
EVA < 0, artinya
tidak terjadi proses pertambahan nilai ekonomis.
10. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di
Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan situs www.idx.co.id dan b.
Waktu Penelitian www.yahoofinance.com Waktu penelitian diperkirakan
mulai pada bulan November 2010 sampai dengan
Desember2010.
11. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian
ini adalah perusahaan yang bergerak pada sektor properti dan real estate yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006-2009. Penarikan sampel yang dilakukan
peneliti adalah dengan menggunakan desain sampel non probabilitas
dengan metode judgment sampling.
Judgment sampling adalah salah satu jenis purposive sampling dimana peneliti memilih sampel
berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakteristik
anggota populasi yang disesuaikan dengan maksud penelitian (Kuncoro, 2003:119). Kriteria penarikan sampel yang digunakan oleh
peneliti adalah: a. Perusahaan yang selalu listing di Bursa Efek
Indonesia selama periode penelitian,
yaitu tahun2006-2009.
b.
Perusahaan yang memiliki laba
bersih yang positif (tidak mengalami kerugian)
selama periode penelitian, yaitu tahun2006-2009.
Tabel 1.1 Jumlah
Sampel Berdasarkan Kriteria Penarikan Sampel No
Kriteria Jumlah 1
Perusahaan yang bergerak pada sektor properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 37 2
Perusahaan yang tidak terdaftar secara terus menerus di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2006-2009.
4 3 Perusahaan yang tidak memiliki laba bersih positif
(mengalami kerugian) selama tahun
2006-2009.
17 Jumlah
Sampel 16 Sumber: www.idx.co.id(diakses
tanggal 15 Agustus 2010) Berdasarkan kriteria penarikan sampel, maka diperoleh
sampel penelitian sebanyak 16
perusahaan. Sampel sasaran penelitian tersebut antara lain: Tabel 1.2 Sampel
Penelitian No Kode Emiten Nama
Perusahaan 1 ASRI
PT ALAM SUTERA REALTY TBK 2
BAPA PT BEKASI ASRI PEMULA TBK 3 COWL
PT COWELL DEVELOPMENT TBK 4
CTRS PT CIPUTRA SURYA TBK 5 DART
PT DUTA ANGGADA REALTY TBK 6
DILD PT INTILAND DEVELOPMENT TBK 7 DUTI
PT DUTA PERTIWI TBK 8 ELTY PT BAKRIELAND DEVELOPMENT TBK 9 GMTD
PT GOWA MAKASSAR TOURISM DEVELOPMENT TBK 10 JRPT
PT JAYA REAL PROPERTY TBK 11
LAMI PT LAMICITRA NUSANTARA TBK 12 LPCK
PT LIPPO CIKARANG TBK 13
LPKR PT LIPPO KARAWACI TBK 14 RBMS
PT RISTIA BINTANG MAHKOTA SEJATI TBK 15
SIIP PT SURYA INTI PERMATA TBK 16 SMRA
PT SUMMARECON AGUNG TBK Sumber: www.idx.co.id(diakses tanggal15 Agustus
2010) 12. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah jenis data kuantitatif yang bersumber dari data sekunder. Data
sekunder merupakan data yang diperoleh secara
tidak langsung melalui buku-buku dan jurnal ilmiah, serta media internet yaitu melalui situs resmi bursa efek
www.idx.co.iddan www.yahoofinance.com.
Data tersebut
meliputi: a. Sejarah singkat perusahaan.
b. Neraca perusahaan dari tahun 2006-2009.
c. Laporan laba rugi perusahaan dari tahun 2006-2009.
d. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari tahun
2006-2009.
e. Harga saham perusahaan dari tahun 2006-2009.
f. Tingkat suku bunga bebas risiko yang
didasarkan pada tingkat bunga Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) dari tahun 2006-2009.
g. Data-data lain yang dianggap perlu misalnya
hasil publikasi, buku-buku ilmiah dan
literatur lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
13. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini dilakukan melalui: a.
Tahap pengumpulan data pendukung berupa penelitian terdahulu, laporan yang dipublikasikan serta pendapat para ahli
yang bersumber dari bukubuku ilmiah untuk mendapat gambaran dari masalah yang
akan diteliti.
b. Tahap obsevarsi non partisipan dengan
penelitian secara tidak langsung ke perusahaan
yaitu di Bursa Efek Indonesia melalui situs www.idx.co.iddan www.yahoofinance.com.
14.
Metode Analisis Data Untuk mengolah dan menganalisis data, peneliti
menggunakan aplikasi komputer yaitu
Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 16.0 for windo ws. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan tahap-tahap
sebagai berikut: a. Metode Analisis
Deskriptif Metode analisis deskriptif
merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis dan mengolah data-data yang
tersedia sehingga diperoleh gambaran
yang jelas mengenai fakta-fakta dan hubungan antara fenomena yang diteliti.
b. Pengujian Asumsi Klasik Sebelum data tersebut
dianalisis dengan model regresi linier berganda maka sebelumnya harus memenuhi syarat uji
asumsi klasik, yaitu: (1) Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah untuk
mengetahui apakah distribusi sebuah data
mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah
data yang mempunyai pola seperti
distribusi normal yakni distribusi data tersebut tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan (Situmorang, dkk.,
2010:91). Uji ini dilakukan melalui
pendekatan Kolmogorv-smirnov dan pendekatan grafik yang terdiri dari histogram dan normal probability
plot.
(2) Uji
Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
sebuah grup mempunyai varians yang sama
diantara anggota grup tersebut. Jika varians sama dan ini yang seharusnya terjadi maka
dikatakan ada homoskedastisitas.
Sedangkan jika varians tidak sama dikatakan terjadi heteroskedastisitas (Situmorang, dkk.,
2010:98). Model regresi yang baik adalah
yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Pengujian
heteroskedastisitas data dilakukan dengan menggunakan Uji Glejser.
(3) Uji
Autokorelasi Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi linear ada korelasi antara
kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya
(Situmorang, dkk., 2010:113). Model
regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari autokorelasi. Gejala autokorelasi dideteksi
dengan menggunakan metode The
Breusch-Godfrey (BG) Test.
(4) Uji
Multikolinearitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel
independen. Jika terdapat korelasi antar variabel independen, maka dapat dikatakan
terdapat masalah multikolinieritas.
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai toleransi
variabel dan Variance Inflation factor (VIF) dengan ketentuan: a) VIF
> 5, artinya terdapat masalah multikolinieritas.
b) VIF
< 5, artinya tidak terdapat masalah multikolinieritas.
c) Tolarance < 0,1 artinya terdapat masalah
multikolinieritas.
d) Tolarance > 0,1 artinya tidak terdapat
masalah multikolinieritas.
c.
Metode Analisis Regresi LinearBerganda Regresi linear berganda ditujukan untuk
menentukan hubungan linear antara
beberapa variabel bebas dengan variabel terikat.
Rumus : Y = a +
b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 Keterangan:
+ e Y = EVA (Economic Value Added) a =
Konstanta X1 X = DER (Debt to
Equity Ratio) 2 X =
DAR (Debt to Asset Ratio) 3 X =
LDER (Long term Debt To Equity Ratio) 4 X = LDAR (Long term Debt To Asset Ratio) 5 b =
EAR (Equity To Asset Ratio) 1 b = Koefisien regresi variabel DER 2 b =
Koefisien regresi variabel DAR 3 b
= Koefisien regresi variabel LDER 4 b =
Koefisien regresi variabel LDAR 5 e
= Error = Koefisien regresi variabel EAR (1) Goodness
of Fit atau Uji Determinan (R 2 ) Koefisien
determinasi dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square yang menunjukkan
seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Semakin tinggi nilai
Adjusted R Square maka semakin baik
model regresi yang digunakan karena itu berarti kemampuan variabel bebas menjelaskan variabel terikat juga
semakin besar, demikian pula apabila
yang terjadi sebaliknya.
(2) Uji
Signifikansi Simultan (Uji-F) Pengujian
ini digunakan untuk menguji koefisien regresi secara serempak.
Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara serempak (simultan) mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap variabel
terikat.
Bentuk pengujiannya
adalah: (a) H0 : b1 = b2 = b3 = b 4 = b5
(b) H =
0, artinya variabel DER, DAR, LDER, LDAR, EAR
yang terdapat pada model ini secara serempak tidak mempunyai pengaruh terhadap EVA.
a : b 1 ≠ b 2 ≠ b3 ≠ b 4 ≠ b5 Pada penelitian ini nilai F ≠ 0, artinya
variabel DER, DAR, LDER, LDAR, EAR yang
terdapat pada model ini secara serempak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap EVA.
hitung akan
dibandingkan dengan F tabel Kriteria pengambilan keputusan pada uji-F ini
adalah: pada tingkat signifikan (∝) = 5 % (a) H0 diterima,
jika F hitung ≤ F tabel (b) H atau apabila nilai signifikansi (∝) > 0.05 yang artinya variabel bebas secara
bersama-sama tidak berpengaruh terhadap
variabel terikat atau dapat dikatakan bahwa model regresi tidak signifikan.
a diterima, jika F
hitung > F tabel atau apabila nilai
signifikansi (∝) < 0.05
yang artinya
variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat atau dapat dikatakan bahwa
model regresi signifikan (3) Uji
Signifikansi Parsial (Uji-t) Pengujian
ini digunakan untuk menguji koefisien regresi secara individual.
Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui apakah secara parsial masingmasing variabel bebas
mempunyai pengaruh signifikan atau tidak terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujiannya
adalah: (a) H0 : bi (b) H = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari
variabel bebas secara parsial terhadap
variabel terikat.
a : bi Pada penelitian ini t ≠ 0, artinya terdapat
pengaruh signifikan dari variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
hitung akan dibandingkan dengan t tabel Kriteria
pengambilan keputusan: pada tingkat signifikansi
(∝) = 5 %.
(a) H0 diterima,
jika t hitung < t tabel (b) H atau apabila nilai signifikansi (∝) > 0.05 yang artinya variabel bebas secara parsial
tidak berpengaruh terhadap variabel
terikat.
a diterima, jika t
hitung > t tabel atau apabila nilai signifikansi (∝) < 0.05 yang artinya variabel bebas secara parsial
berpengaruh terhadap variabel terikat.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi