Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH EKONOMI MAKRO TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MULTIFINANCE DAN PERBANKAN



BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah 
Kondisi perekonomian Indonesia secara makro  dapat menjadi bahan  pertimbangan dalam pengambilan keputusan investor dalam penempatan dananya  pada suatu jenis investasi. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun  1997 mengakibatkan kinerja Badan Usaha menurun tajam, bahkan di antaranya  menderita kerugian. Pada saat itu variabel ekonomi makro seperti tingkat suku  bunga, nilai tukar rupiah, dan inflasi mengalami perubahan yang cukup tajam.

Suku bunga adalah harga yang harus dibayar atas modal pinjaman, dan  dividen serta keuntungan modal yang merupakan hasil dari modal ekuitas.
Tingkat suku bunga yang meningkat menyebabkan investor menarik investasinya  pada saham dan memindahkan pada investasi berupa tabungan dan deposito  sehingga akan mempengaruhi harga saham dan return yang diisyaratkan oleh  investor.
Nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan  dalam mata uang negara lainnya. Melemahnya kurs nilai tukar rupiah akan  menyebabkan meningkatnya harga barang-barang impor diikuti oleh harga produk  dalam negeri sehingga mengakibatkan inflasi, yaitu kecenderungan terjadinya  peningkatan harga-harga produk secara keseluruhan.
Kondisi perekonomian Indonesia tahun 2005-2009 mengalami peningkatan  yang diwujudkan melalui kinerja indikator makro ekonomi yang semakin  membaik yang ditunjukkan pada Tabel 1.1 Universitas Sumatera Utara Tabel 1.1 Indikator Ekonomi Tahun  Inflasi (%)  Nilai Tukar Rupiah (Rp)  Suku Bunga SBI (%) 2005  10,40  9.709,80  10,54 2006  13,33  9.166,07  11,83 2007  6,40  9.136,20  8,6 2008  10,31  9.485,05  8,66 2009  4,89  10.129,13  7,15 Sumber : www.bi.go.id(15/3/2010,diolah)  Berdasarkan Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa inflasi yang terjadi selama  lima tahun tersebut mengalami fluktuasi. Pada saat inflasi mengalami penurunan,  akan menjadi sinyal positif bagi investor dikarenakan menurunnya risiko daya beli  uang (purchasing power of money) dan risiko penurunan pendapatan riil.
Sebaliknya pada saat inflasi mengalami kenaikan akan berdampak pada para  investor karena akan mempengaruhi kinerja badan usaha. Inflasi akan  menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga perusahaan yang pada akhirnya  juga akan menyebabkan hutang pada pihak ketiga berupa beban bunga akan  menjadi meningkat.
Rata-rata nilai tukar rupiah Indonesia selama lima tahun itu berfluktuasi  terhadap dolar US, ada mengalami apresiasi (penguatan nilai tukar) dan depresiasi  (pelemahan nilai tukar). Pada saat depresiasi, nilai tukar menurun dan nantinya  perlahan-lahan dapat meningkatkan suku bunga sehingga investor menarik  sahamnya dan akan mempengaruhi harga saham. Pada saat terjadi apresiasi, suku  bunga akan menurun dan akan berpengaruh pada harga saham.
Variabel suku bunga SBI rate selama lima tahun itu cenderung menurun  sehingga kesempatan investasi yang lebih menarik adalah investasi pada saham  dibandingkan investasi pada tabungan atau deposito. Selain itu, dengan adanya  Universitas Sumatera Utara penurunan tingkat suku bunga berarti biaya modal berupa beban hutang yang  ditanggung perusahaan tidak besar.
Pergerakan nilai tukar yang tidak menentu ditambah kenaikan suku bunga  yang terus berlangsung menjadi salah satu kendala yang cukup serius bagi  perusahaan pembiayaan (multifinance). Dampaknya sungguh terasa terutama bagi  perusahaan pembiayaan yang modalnya berasal dari perbankan.
Kenaikan suku bunga BI Rate menyebabkan bank-bank menaikkan suku  bunga. Tidak hanya itu, bank-bank pun akan semakin selektif dalam pemberian  kredit. Multifinance yang mempunyai sumber dana utama dari perbankan akan  mengalami masalah dari dua sisi sekaligus. Pertama, harga dana makin mahal dan  relatif lebih sulit. Kedua, risiko makin besar karena harga ke konsumen lebih  mahal sekaligus menurunnya daya beli masyarakat.
Kinerja perusahaan Multifinance mulai menunjukkan kekuatannya setelah  krisis ekonomi. Hal ini terlihat dari mulai aktifnya pembiayaan yang dilakukan  perusahaan  Multifinance yang terdiri atas sewa guna usaha (leasing), anjak  piutang (factoring), pembiayaan konsumen, dan kartu kredit. Ada peningkataan  pembiayaan di industri ini, pembiayaan perusahaan  Multifinance  masih  didominasi oleh sektor pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha kemudian  diikuti oleh anjak piutang dan kartu kredit. Peningkatan pembiayaan oleh  perusahaan Multifinance dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini.
Universitas Sumatera Utara Tabel 1.2 Posisi Pembiayaan Rupiah dan Valuta Asing Perusahaan Multifinance Menurut Jenis Pembiayaan (dalam miliar rupiah) Sumber: www.bi.go.id(20/5/2010,diolah)  Berdasarkan Tabel 1.2, tahun 2005 sampai tahun 2009 pembiayaan di  industri ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar 21,72% setiap tahunnya.
Kenaikan pertumbuhan pembiayaan tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar  37,03%, sedangkan pertumbuhan pembiayaan terendah terjadi pada tahun 2009  yaitu 3,86%. Hal ini terjadi karena dampak dari krisis global pada pertengahan  tahun 2008 yang menyebabkan terjadinya inflasi sehingga BI menaikkan suku  bunga. Sulitnya mendapatkan funding dari bank akan menghambat Multifinance untuk mengembangkan pembiayaannya.
Pendanaan perbankan ke sektor perusahaan pembiayaan sepertinya akan  terus meningkat, meski terjadi kenaikan tingkat suku bunga. Hal ini karena  perbankan masih merupakan sumber utama pendanaan bagi perusahaan  pembiayaan. Industri pembiayaan masih akan dihadapkan pada beberapa kendala  di masa yang akan datang. Salah satunya adalah kenaikan suku bunga yang  diprediksi masih akan terus berlangsung hingga akhir tahun seiring dengan  naiknya suku bunga kredit perbankan dan pergerakan nilai tukar rupiah yang  sangat berfluktuatif membuat industri perbankan dan industri pembiayaan harus  tepat membuat kebijakan manajemen berikutnya.
Jenis Pembiayaan  2005  2006  2007  2008  2009  Leasing  19.085  32.644  36.482  50.680  46.528 Factoring  1.411  1.280  2.200  2.221  2.027 Kartu Kredit  1.763  1.477  1.442  1.145  930 Pembiayaan  45.387  57.296  67.562  83.191  93.054  Jumlah  67.646  92.697  107.686  137.237  142.539 Universitas Sumatera Utara Kinerja perbankan dapat dilihat dari pertumbuhan aset, kredit, dan dana  pihak ketiga (DPK), pada gambar 1.1 berikut.
Gambar 1.1: Pertumbuhan Aset, Kredit, dan Dana Perbankan Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (20/5/2010, diolah) Pada Gambar 1.1 dapat dilihat bahwa aset, kredit, dan dana pihak ketiga  dari perbankan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini berarti sektor  perbankan mengalami pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Perkembangan  perbankan sepanjang tahun 2009 menunjukkan adanya recovery setelah krisis  global yang berlangsung pada medio 2008. Hal tersebut tercermin dengan adanya  pertumbuhan aset, kredit, dan dana pihak ketiga perbankan pada periode Juni  hingga Desember 2009 yang relatif lebih tinggi dibanding semester pertama 2009  (Economic Review,2009).
Kegiatan perusahaan  Multifinance  dan kinerja Perbankan akan  mempengaruhi pertumbuhan masing-masing perusahaan, yang berdampak pada  harga saham perusahaan tersebut. Pergerakan harga saham yang cenderung  mengikuti pergerakan inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, dan suku  bunga ini menjadi ketertarikan bagi peneliti untuk meneliti apakah terdapat  hubungan antara harga saham dengan variabel-variabel tersebut.
Universitas Sumatera Utara Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan  penelitian dengan judul “Pengaruh Ekonomi Makro terhadap Harga Saham  pada Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.” B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka  dirumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh variabel ekonomi  makro yang terdiri dari : Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga terhadap Harga  Saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia?” C. Kerangka Konseptual Harga saham sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran,  harga suatu saham akan cenderung naik bila suatu saham mengalami kelebihan  permintaan dan cenderung turun jika terjadi kelebihan penawaran. Boedie dkk  (dalam Utami dan Rahayu, 2003) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi  harga saham yaitu inflasi, nilai tukar, dan suku bunga.
Inflasi merupakan kecenderungan terjadinya peningkatan harga produkproduk secara keseluruhan (Tandelilin, 2001:212). Kenaikan harga dari satu atau  dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi kecuali bila kenaikan itu  meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Inflasi akan  menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga perusahaan yang pada akhirnya  juga akan menyebabkan hutang pada pihak ketiga berupa beban bunga akan  menjadi meningkat.
Universitas Sumatera Utara Nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan  dalam mata uang negara lainnya (Sukirno, 2004:397), maksudnya mengukur nilai  valuta suatu negara dari perspektif valuta negara lain. Hubungan nilai tukar  dengan harga saham adalah berlawanan arah (negatif) di mana pada saat nilai  tukar terdepresiasi maka harga saham naik, dan pada saat nilai tukar mengalami  apresiasi maka harga saham turun. Nilai tukar dimasukkan dalam penelitian ini  karena nilai tukar saat ini sering berfluktuasi yang dapat mengakibatkan pasar  modal Indonesia mengalami kemunduran yang berdampak terhadap  perekonomian Indonesia, juga karena adanya perbedaan pendapat hubungan  antara nilai tukar dengan harga saham.
Perubahan suku bunga dapat mempengaruhi variabilitas return suatu  investasi yang tercermin akibat perubahan harga saham (Tandelilin, 2001:48-49).
Perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik. Apabila  suku bunga meningkat maka harga saham akan turun, hal tersebut dapat terjadi  karena investor akan lebih tertarik terhadap investasi yang terkait dengan suku  bunga (misalnya deposito) dengan cara memindahkan investasinya.
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan  sebelumnya, maka variabel yang mempengaruhi harga saham yang digunakan  dalam penelitian ini yaitu inflasi, nilai tukar, dan suku bunga. Kerangka  konseptual dapat digambarkan pada Gambar 1.2.
Universitas Sumatera Utara Gambar 1.2 : Kerangka Konseptual Sumber : Utami dan Rahayu, 2003(23/2/2010,diolah)  D. Hipotesis Berdasarkan kerangka konseptual, maka dihipotesiskan sebagai berikut: “Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga berpengaruh terhadap Harga Saham  Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.” E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk menguji dan  menganalisis pengaruh antara variabel inflasi, nilai tukar, dan suku bunga  terhadap harga saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa  Efek Indonesia.
2.  Manfaat Penelitian a.Bagi Peneliti Sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah  wawasan peneliti dalam bidang keuangan khususnya mengenai Inflasi,  Nilai Tukar, Suku Bunga, dan Harga Saham.
Inflasi (X1) Suku Bunga (X3) Nilai Tukar (X2)  Harga Saham (Y) Universitas Sumatera Utara b. Bagi Investor Sebagai bahan pertimbangan dan rekomendasi dalam pengambilan  keputusan melakukan investasi pada saham Perusahaan Multifinancedan  Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
c.Bagi Pihak Lainnya Sebagai sumbangan pemikiran dan informasi bagi peneliti selanjutnya  yang ingin melakukan pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai  pengaruh inflasi, nilai tukar rupiah, dan suku bunga terhadap harga saham.
F. Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Adapun yang menjadi batasan operasional dalam penelitian ini adalah sebagai  berikut : a. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : (1)  Variabel bebas (independent variable) yang terdiri dari inflasi, nilai  tukar, dan suku bunga.
(2)  Variabel terikat (dependent variable) yaitu harga saham.
b. Perusahaan yang menjadi target populasi adalah Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2005-2009.
c. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : (1)  Data laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan  perusahaan publik yang ada di BEI dari tahun 2005-2009.
(2)  Harga saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan yaitu pada saat  closing price yang ada di BEI dari tahun 2005-2009.
Universitas Sumatera Utara (3)  Data Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga pada tahun 2005-2009 yang  dipublikasikan Bank Indonesia.
2.  Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut : a.  Variabel Bebas (Independent Variable)  1. Inflasi (X1 Inflasi merupakan kecenderungan terjadinya peningkatan harga produk  secara keseluruhan (Tandelilin, 2001:212). Data inflasi yang dipergunakan  dalam penelitian ini adalah data perbulan yang kemudian dirata-ratakan  menjadi data tahunan dengan menggunakan rumus: )  Inflasi akan menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga perusahaan yang  pada akhirnya juga akan menyebabkan hutang perusahaan Multifinance dan  Perbankan pada pihak ketiga berupa beban bunga akan menjadi meningkat.
Oleh karena itu, rata-rata inflasi tahunan akan dikalikan dengan beban bunga  (interest expense) masing-masing perusahaan.
2. Nilai Tukar (X2 Nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam  mata uang negara lainnya (Sukirno, 2004:397), maksudnya mengukur nilai  valuta suatu negara dari perspektif valuta negara lain. Nilai tukar diukur dari  perubahan nilai tukar mata uang rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika  Serikat (US$). Terdapat dua harga dalam nilai tukar yaitu harga jual dan  )  Universitas Sumatera Utara harga beli setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi (Utami dan Rahayu,  2003). Harga jual nilai tukar dan harga beli nilai tukar dirata-ratakan untuk  mendapatkan nilai tukar tengah yang kemudian dirata-ratakan menjadi data  tahunan dengan menggunakan rumus: Fluktuasi nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap pendapatan (beban)  operasional perusahaan sebagai hasil dari keuntungan (kerugian) transaksi  valuta asing/derivatif. Oleh karena itu, rata-rata nilai tukar ini akan dikaitkan  dengan other operating revenue dengan cara membagikan other operating  revenue dengan rata-rata nilai tukar tengah tahunan pada laporan keuangan  masing-masing perusahaan.
3. Suku Bunga (X3 Suku bunga yaitu berupa suku bunga riil yang dihitung dari perubahan suku  bunga SBI jangka waktu satu bulan yang telah disesuaikan dengan tingkat  inflasi (Utami dan Rahayu, 2003), yang dihitung dengan menggunakan  rumus: )  Rata-rata suku bunga tahunan ini akan dikalikan dengan  piutang usaha  perusahaan, yang disebut loans (pinjaman pada pihak ketiga) pada laporan  keuangan masing-masing perusahaan.
b.  Variabel Terikat (Dependent Variable) (Y) Universitas Sumatera Utara Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham  masing-masing perusahaan yang termasuk perusahaan  Multifinance dan  Perbankan yang terdaftar di BEI. Harga saham dihitung dari harga bulanan  yang dikalkulasikan menjadi rata-rata tahunan dengan menggunakan rumus  sebagai berikut (dalam Utami dan Rahayu, 2003): 3.  Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perusahaan  Multifinance dan Perbankan yang listing atau terdaftar di BEI selama periode  tahun 2005-2009. Pengambilan sampel menggunakan pendekatan Non probability  sampling, yaitu dengan metode “Purposive Sampling”. Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan kriteria (pertimbangan)  tertentu (Sugiyono, 2005:78).
Adapun kriteria penarikan sampel dalam penelitian ini adalah: a.  Emiten yang sahamnya aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dan  tidak pernah di-suspend (diberhentikan) selama periode tahun 2005-2009.
b.  Emiten yang mempublikasikan laporan keuangan per tahun selama periode  tahun 2005-2009.
c.  Emiten yang mempublikasikan harga saham perbulan selama periode tahun  2005-2009  Universitas Sumatera Utara Tabel 1.3 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Pengambilan Sampel a. Perusahaan Multifinance b. Perusahaan Perbankan No  Karakteristik Sampel  Jumlah 1.  Perusahaan Perbankan yang terdaftar selama periode 2005-2009  20  2.  Perusahaan yang pernah disuspend  0  3.  Perusahaan yang belum mempublikasikan laporan keuangan   (2) 4.  Perusahaan yang tidak mempublikasikan harga saham perbulan   (1) Jumlah Akhir Sampel  17  Sumber: www.idx.co.id (27/2/2010, diolah peneliti) Berdasarkan Tabel 1.3, diperoleh sampel penelitian sebanyak 6 perusahaan  Multifinance dan 17 perusahaan Perbankan, sebagai berikut: Tabel 1.4 Nama-nama Perusahaan Multifinance Sumber: www.idx.co.id (27/2/2010, diolah peneliti) No  Karakteristik Sampel  Jumlah 1.  Perusahaan pembiayaan yang terdaftar selama periode 2005-2009  8  2.  Perusahaan yang pernah disuspend  0  3.  Perusahaan yang belum mempublikasikan laporan keuangan   (2)  4.  Perusahaan yang tidak mempublikasikan harga saham perbulan   0  Jumlah Akhir Sampel  6 No.  Kode  Nama Perusahaan 1.  ADMF  PT. Adira Dinamika Multifinance Tbk 2.  BBLD  PT. Buana Finance Tbk 3.  BFIN  PT. BFI Finance Indonesia Tbk 4.  CFIN  PT. Clipan Finance Indonesia Tbk 5.  INCF  PT. Indocitra Finance Tbk 6.  TRUS  PT. Trust Finance Indonesia Tbk Universitas Sumatera Utara Tabel 1.5 Nama-nama Perusahaan Perbankan Sumber: www.idx.co.id (27/2/2010, diolah peneliti) 4.  Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan  mengumpulkan data pendukung literatur, jurnal, dan buku-buku referensi  untuk mendapatkan gambaran masalah yang diteliti serta mengumpulkan data  sekunder yang relevan dari laporan yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia  dan Bank Indonesia.
5.  Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian No.  Kode  Nama Perusahaan 1.  BABP  PT. Bank ICB Bumiputera Tbk 2.  BBCA  PT. Bank Central Asia Tbk 3.  BBNI  PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 4.  BBNP  PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk 5.  BBRI  PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 6.  BKSW  PT. Bank Kesawan Tbk 7.  BMRI  PT. Bank Mandiri Tbk 8.  BNGA  PT. Bank CIMB Niaga Tbk 9.  BNII  PT. Bank Internasional Indonesia Tbk 10.  BNLI  PT. Bank Permata Tbk 11.  BSWD  PT. Bank Swadesi Tbk 12.  BVIC  PT. Bank Victoria International Tbk 13.  INPC  PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk 14.  MAYA  PT. Bank Mayapada Internasional Tbk 15.  MEGA  PT. Bank Mega Tbk 16.  NISP  PT. Bank OCBC NISP Tbk 17.  PNBN  PT. PAN Indonesia Bank Tbk Universitas Sumatera Utara Penelitian dilakukan di BEI melalui situs www.yahoofinance.com,  www.idx.co.id, dan www.bi.go.id.
b. Waktu Penelitian Waktu penelitian yaitu dimulai pada bulan Mei 2010 sampai dengan Juli  2010.
6.  Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang  bersumber dari data sekunder. Data sekunder yaitu berasal dari publikasi Bursa  Efek Indonesia tentang data emiten, laporan-laporan yang dipublikasikan oleh  Bank Indonesia, berbagai hasil penelitian dan buku referensi, jurnal-jurnal,  majalah-majalah, laporan harga saham yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.
7.  Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode  analisis deskriptif dan metode analisis statistik.
a.  Metode Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data yang  dikumpulkan, diklasifikasikan, dianalisis, dan diinterpretasikan secara objektif  sehingga memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang dibahas.
b.  Metode Analisis Statistik 1) Analisis Regresi Linear Berganda Universitas Sumatera Utara Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari  inflasi, nilai tukar, dan suku bunga terhadap harga saham. Model yang  digunakan adalah sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 Di mana : Y  = Harga saham + e a   = Konstanta X1  X = Inflasi 2  X = Nilai Tukar 3 b = Suku Bunga 1-3  = Koefisien regresi variabel X e   = Standard error    1-3 Ada beberapa kriteria persyaratan asumsi klasik yang harus dipenuhi  sebelum melakukan analisis regresi, agar didapat perkiraan yang efisien dan tidak  bias (Situmorang dkk, 2008 : 55-105), yaitu : a) Uji Normalitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi,  variabel bebas dan variabel terikat atau keduanya mempunyai distribusi normal  atau tidak. Model yang paling baik adalah berdistribusi data normal atau  mendekati normal. Uji ini dilakukan melalui analisis Kolmogrov-Smirnov.
Apabila diperoleh nilai signifikan uji Kolmogrov-Smirnov lebih besar dari (>)  0,05 maka data dinyatakan normal.
Universitas Sumatera Utara b) Uji Multikolinearitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linear  ditemukan adanya korelasi yang tinggi di antara variabel bebas. Untuk mendeteksi  ada tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari besarnya nilai Variance  Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan : Bila VIF > 5 maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
Bila VIF < 5 maka tidak terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
Hubungan linear antar variabel inilah yang disebut dengan multikolinearitas.
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel  independen.
c)  Uji Autokorelasi Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada  korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dan kesalahan pengganggu  pada t-1 Tabel 1.6 (periode sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas  dari autokorelasi. Untuk menguji ada tidaknya autokorelasi dalam satu model  regresi, maka digunakan model statistik dari D-W (Durbin-Watson) dengan  ketentuan sebagai berikut: Kriteria Pengambilan Keputusan Uji Autokorelasi Hipotesis nol  Keputusan  Jika Tidak ada autokorelasi positif  Tolak  0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif  No decision  dl ≤ d ≤ du Tidak ada korelasi negatif  Tolak  4 - dl < d < 4 Tidak ada korelasi negatif  No decision  4 - du ≤ d ≤ 4 - dl Tidak ada autokorelasi, positif atau  negatif  Tidak ditolak  du < d < 4 - du Sumber : Situmorang dkk (2008:86) Keterangan : du = batas atas Universitas Sumatera Utara dl = batas bawah d) Uji Heteroskedastisitas Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi  ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika  varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain sama, maka  disebut homoskedastisitas. Cara mendeteksi ada tidaknya gejala  heteroskedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik  scatterplot di sekitar nilai X dan Y. Jika ada pola tertentu, maka terjadi gejala  heteroskedastisitas.
2) Pengujian Hipotesis a)  Pengujian Hipotesis Serempak (Uji F) Pengujian ini dilakukan untuk menguji hipotesis bahwa “Inflasi, Nilai Tukar,  dan Suku Bunga mempunyai pengaruh yang signifikan secara simultan  terhadap Harga Saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek  Indonesia”. Bentuk pengujian: H0 : b1 = b2 = b3 H = 0, artinya inflasi, nilai tukar, dan suku bunga tidak  mempunyai pengaruh signifikan secara simultan terhadap harga saham  Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
1 : b1    b2 ≠  b3 Pada penelitian ini nilai F ≠  0,  artinya  inflasi,  nilai  tukar,  dan  suku  bunga  mempunyai pengaruh signifikan secara simultan terhadap harga saham  Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
hitung akan dibandingkan dengan Ftabel H pada tingkat  signifikan α = 5%. Kriteria penilaian hipotesis pada uji simultan atau uji F: 1 ditolak (H0 diterima) jika Fhitung ≤ Ftabel pada α = 5% Universitas Sumatera Utara H1 diterima (H0 ditolak) jika Fhitung > Ftabel b)  Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t) pada α = 5% Pengujian ini dilakukan untuk menguji hipotesis bahwa “Inflasi, Nilai Tukar,  dan Suku Bunga mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap  Harga Saham Perusahaan Multifinance  dan Perbankan  di Bursa Efek  Indonesia”. Bentuk pengujian: H0 : b1 = b2 = b3 H = 0, artinya inflasi, nilai tukar, dan suku bunga tidak  mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap harga saham  Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
1 : b1  ≠ b2 ≠  b3 Pada penelitian ini nilai t ≠  0,  artinya  inflasi,  nilai  tukar,  dan  suku  bunga  mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap harga saham  Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
hitung akan dibandingkan dengan ttabel H  pada tingkat  signifikan α = 5%. Kriteria penilaian hipotesis pada uji parsial atau uji t: 1 ditolak (H0 diterima) jika thitung ≤ ttabel H pada α = 5% 1 diterima (H0 ditolak) jika thitung > ttabel c)  Koefisien Determinasi (R pada α = 5% 2 Koefisien determinasi adalah koefisien nilai yang menunjukkan besarnya  variasi variabel dependen (variabel terikat) yang dipengaruhi oleh variasi  variabel independen (variabel bebas). Pengukuran besarnya persentase  kebenaran dari uji regresi tersebut dapat dilihat melalui nilai koefisien  determinasi multipleR ) 2 (koefisien determinan mengukur proporsi dari variasi  yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas). Semakin tinggi R 2 (mendekati  Universitas Sumatera Utara satu), maka semakin baik regresi tersebut. Namun, apabila semakin mendekati  nol maka variabel bebas secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel  terikat.
Universitas Sumatera Utara  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi