BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kondisi perekonomian Indonesia secara makro dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan
investor dalam penempatan dananya pada
suatu jenis investasi. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mengakibatkan kinerja Badan Usaha menurun
tajam, bahkan di antaranya menderita
kerugian. Pada saat itu variabel ekonomi makro seperti tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah, dan inflasi
mengalami perubahan yang cukup tajam.
Suku bunga adalah
harga yang harus dibayar atas modal pinjaman, dan dividen serta keuntungan modal yang merupakan
hasil dari modal ekuitas.
Tingkat suku bunga
yang meningkat menyebabkan investor menarik investasinya pada saham dan memindahkan pada investasi
berupa tabungan dan deposito sehingga
akan mempengaruhi harga saham dan return yang diisyaratkan oleh investor.
Nilai tukar
merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lainnya. Melemahnya
kurs nilai tukar rupiah akan menyebabkan
meningkatnya harga barang-barang impor diikuti oleh harga produk dalam negeri sehingga mengakibatkan inflasi,
yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan
harga-harga produk secara keseluruhan.
Kondisi
perekonomian Indonesia tahun 2005-2009 mengalami peningkatan yang diwujudkan melalui kinerja indikator
makro ekonomi yang semakin membaik yang
ditunjukkan pada Tabel 1.1 Universitas Sumatera Utara Tabel 1.1 Indikator
Ekonomi Tahun Inflasi (%) Nilai Tukar Rupiah (Rp) Suku Bunga SBI (%) 2005 10,40
9.709,80 10,54 2006 13,33
9.166,07 11,83 2007 6,40
9.136,20 8,6 2008 10,31
9.485,05 8,66 2009 4,89
10.129,13 7,15 Sumber :
www.bi.go.id(15/3/2010,diolah) Berdasarkan
Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa inflasi yang terjadi selama lima tahun tersebut mengalami fluktuasi. Pada
saat inflasi mengalami penurunan, akan
menjadi sinyal positif bagi investor dikarenakan menurunnya risiko daya beli uang (purchasing power of money) dan risiko
penurunan pendapatan riil.
Sebaliknya pada
saat inflasi mengalami kenaikan akan berdampak pada para investor karena akan mempengaruhi kinerja
badan usaha. Inflasi akan menyebabkan
terjadinya kenaikan suku bunga perusahaan yang pada akhirnya juga akan menyebabkan hutang pada pihak ketiga
berupa beban bunga akan menjadi
meningkat.
Rata-rata nilai
tukar rupiah Indonesia selama lima tahun itu berfluktuasi terhadap dolar US, ada mengalami apresiasi
(penguatan nilai tukar) dan depresiasi (pelemahan
nilai tukar). Pada saat depresiasi, nilai tukar menurun dan nantinya perlahan-lahan dapat meningkatkan suku bunga
sehingga investor menarik sahamnya dan
akan mempengaruhi harga saham. Pada saat terjadi apresiasi, suku bunga akan menurun dan akan berpengaruh pada
harga saham.
Variabel suku bunga
SBI rate selama lima tahun itu cenderung menurun sehingga kesempatan investasi yang lebih
menarik adalah investasi pada saham dibandingkan
investasi pada tabungan atau deposito. Selain itu, dengan adanya Universitas Sumatera Utara penurunan tingkat
suku bunga berarti biaya modal berupa beban hutang yang ditanggung perusahaan tidak besar.
Pergerakan nilai
tukar yang tidak menentu ditambah kenaikan suku bunga yang terus berlangsung menjadi salah satu
kendala yang cukup serius bagi perusahaan
pembiayaan (multifinance). Dampaknya sungguh terasa terutama bagi perusahaan pembiayaan yang modalnya berasal
dari perbankan.
Kenaikan suku bunga
BI Rate menyebabkan bank-bank menaikkan suku bunga. Tidak hanya itu, bank-bank pun akan
semakin selektif dalam pemberian kredit.
Multifinance yang mempunyai sumber dana utama dari perbankan akan mengalami masalah dari dua sisi sekaligus.
Pertama, harga dana makin mahal dan relatif
lebih sulit. Kedua, risiko makin besar karena harga ke konsumen lebih mahal sekaligus menurunnya daya beli
masyarakat.
Kinerja perusahaan
Multifinance mulai menunjukkan kekuatannya setelah krisis ekonomi. Hal ini terlihat dari mulai
aktifnya pembiayaan yang dilakukan perusahaan Multifinance yang terdiri atas sewa guna
usaha (leasing), anjak piutang
(factoring), pembiayaan konsumen, dan kartu kredit. Ada peningkataan pembiayaan di industri ini, pembiayaan
perusahaan Multifinance masih didominasi
oleh sektor pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha kemudian diikuti oleh anjak piutang dan kartu kredit.
Peningkatan pembiayaan oleh perusahaan
Multifinance dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini.
Universitas
Sumatera Utara Tabel 1.2 Posisi Pembiayaan Rupiah dan Valuta Asing Perusahaan
Multifinance Menurut Jenis Pembiayaan (dalam miliar rupiah) Sumber:
www.bi.go.id(20/5/2010,diolah) Berdasarkan
Tabel 1.2, tahun 2005 sampai tahun 2009 pembiayaan di industri ini mengalami peningkatan rata-rata
sebesar 21,72% setiap tahunnya.
Kenaikan
pertumbuhan pembiayaan tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar 37,03%, sedangkan pertumbuhan pembiayaan
terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu
3,86%. Hal ini terjadi karena dampak dari krisis global pada pertengahan tahun 2008 yang menyebabkan terjadinya inflasi
sehingga BI menaikkan suku bunga.
Sulitnya mendapatkan funding dari bank akan menghambat Multifinance untuk
mengembangkan pembiayaannya.
Pendanaan perbankan
ke sektor perusahaan pembiayaan sepertinya akan terus meningkat, meski terjadi kenaikan
tingkat suku bunga. Hal ini karena perbankan
masih merupakan sumber utama pendanaan bagi perusahaan pembiayaan. Industri pembiayaan masih akan
dihadapkan pada beberapa kendala di masa
yang akan datang. Salah satunya adalah kenaikan suku bunga yang diprediksi masih akan terus berlangsung hingga
akhir tahun seiring dengan naiknya suku
bunga kredit perbankan dan pergerakan nilai tukar rupiah yang sangat berfluktuatif membuat industri
perbankan dan industri pembiayaan harus tepat
membuat kebijakan manajemen berikutnya.
Jenis
Pembiayaan 2005 2006
2007 2008 2009 Leasing 19.085
32.644 36.482 50.680
46.528 Factoring 1.411 1.280
2.200 2.221 2.027 Kartu Kredit 1.763
1.477 1.442 1.145
930 Pembiayaan 45.387 57.296
67.562 83.191 93.054 Jumlah
67.646 92.697 107.686
137.237 142.539 Universitas
Sumatera Utara Kinerja perbankan dapat dilihat dari pertumbuhan aset, kredit,
dan dana pihak ketiga (DPK), pada gambar
1.1 berikut.
Gambar 1.1:
Pertumbuhan Aset, Kredit, dan Dana Perbankan Sumber: Statistik Perbankan
Indonesia (20/5/2010, diolah) Pada Gambar 1.1 dapat dilihat bahwa aset, kredit,
dan dana pihak ketiga dari perbankan
mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini berarti sektor perbankan mengalami pertumbuhan ke arah yang
lebih baik. Perkembangan perbankan
sepanjang tahun 2009 menunjukkan adanya recovery setelah krisis global yang berlangsung pada medio 2008. Hal
tersebut tercermin dengan adanya pertumbuhan
aset, kredit, dan dana pihak ketiga perbankan pada periode Juni hingga Desember 2009 yang relatif lebih tinggi
dibanding semester pertama 2009 (Economic
Review,2009).
Kegiatan
perusahaan Multifinance dan kinerja Perbankan akan mempengaruhi pertumbuhan masing-masing
perusahaan, yang berdampak pada harga
saham perusahaan tersebut. Pergerakan harga saham yang cenderung mengikuti pergerakan inflasi, nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika, dan suku bunga
ini menjadi ketertarikan bagi peneliti untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara harga saham dengan
variabel-variabel tersebut.
Universitas
Sumatera Utara Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Ekonomi Makro terhadap Harga Saham pada Perusahaan Multifinance dan Perbankan di
Bursa Efek Indonesia.” B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah
yang dikemukakan sebelumnya, maka dirumuskan
masalah sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh variabel ekonomi makro yang terdiri dari : Inflasi, Nilai Tukar,
dan Suku Bunga terhadap Harga Saham
Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia?” C. Kerangka
Konseptual Harga saham sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran, harga suatu saham akan cenderung naik bila
suatu saham mengalami kelebihan permintaan
dan cenderung turun jika terjadi kelebihan penawaran. Boedie dkk (dalam Utami dan Rahayu, 2003) menyatakan
bahwa faktor yang mempengaruhi harga
saham yaitu inflasi, nilai tukar, dan suku bunga.
Inflasi merupakan
kecenderungan terjadinya peningkatan harga produkproduk secara keseluruhan
(Tandelilin, 2001:212). Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai
inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas
(atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Inflasi akan menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga
perusahaan yang pada akhirnya juga akan
menyebabkan hutang pada pihak ketiga berupa beban bunga akan menjadi meningkat.
Universitas
Sumatera Utara Nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang
dinyatakan dalam mata uang negara
lainnya (Sukirno, 2004:397), maksudnya mengukur nilai valuta suatu negara dari perspektif valuta
negara lain. Hubungan nilai tukar dengan
harga saham adalah berlawanan arah (negatif) di mana pada saat nilai tukar terdepresiasi maka harga saham naik, dan
pada saat nilai tukar mengalami apresiasi
maka harga saham turun. Nilai tukar dimasukkan dalam penelitian ini karena nilai tukar saat ini sering
berfluktuasi yang dapat mengakibatkan pasar modal Indonesia mengalami kemunduran yang
berdampak terhadap perekonomian
Indonesia, juga karena adanya perbedaan pendapat hubungan antara nilai tukar dengan harga saham.
Perubahan suku
bunga dapat mempengaruhi variabilitas return suatu investasi yang tercermin akibat perubahan
harga saham (Tandelilin, 2001:48-49).
Perubahan suku
bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik. Apabila suku bunga meningkat maka harga saham akan
turun, hal tersebut dapat terjadi karena
investor akan lebih tertarik terhadap investasi yang terkait dengan suku bunga (misalnya deposito) dengan cara
memindahkan investasinya.
Berdasarkan latar
belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka variabel yang mempengaruhi
harga saham yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu inflasi, nilai tukar, dan suku bunga. Kerangka konseptual dapat digambarkan pada Gambar 1.2.
Universitas
Sumatera Utara Gambar 1.2 : Kerangka Konseptual Sumber : Utami dan Rahayu,
2003(23/2/2010,diolah) D. Hipotesis Berdasarkan
kerangka konseptual, maka dihipotesiskan sebagai berikut: “Inflasi, Nilai
Tukar, dan Suku Bunga berpengaruh terhadap Harga Saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa
Efek Indonesia.” E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan dilaksanakannya
penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis
pengaruh antara variabel inflasi, nilai tukar, dan suku bunga terhadap harga saham Perusahaan Multifinance
dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
2. Manfaat Penelitian a.Bagi Peneliti Sebagai
sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan peneliti dalam bidang keuangan
khususnya mengenai Inflasi, Nilai Tukar,
Suku Bunga, dan Harga Saham.
Inflasi (X1) Suku
Bunga (X3) Nilai Tukar (X2) Harga Saham
(Y) Universitas Sumatera Utara b. Bagi Investor Sebagai bahan pertimbangan dan
rekomendasi dalam pengambilan keputusan
melakukan investasi pada saham Perusahaan Multifinancedan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
c.Bagi Pihak
Lainnya Sebagai sumbangan pemikiran dan informasi bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan pengembangan penelitian
lebih lanjut mengenai pengaruh inflasi,
nilai tukar rupiah, dan suku bunga terhadap harga saham.
F. Metode
Penelitian 1. Batasan Operasional Adapun
yang menjadi batasan operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari : (1)
Variabel bebas (independent variable) yang terdiri dari inflasi, nilai tukar, dan suku bunga.
(2) Variabel terikat (dependent variable) yaitu
harga saham.
b. Perusahaan yang
menjadi target populasi adalah Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa
Efek Indonesia selama tahun 2005-2009.
c. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah : (1)
Data laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan publik yang ada di BEI dari tahun
2005-2009.
(2) Harga saham Perusahaan Multifinance dan
Perbankan yaitu pada saat closing price
yang ada di BEI dari tahun 2005-2009.
Universitas
Sumatera Utara (3) Data Inflasi, Nilai
Tukar, dan Suku Bunga pada tahun 2005-2009 yang dipublikasikan Bank Indonesia.
2. Definisi Operasional Variabel Definisi
operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Variabel Bebas (Independent Variable) 1. Inflasi (X1 Inflasi merupakan kecenderungan
terjadinya peningkatan harga produk secara
keseluruhan (Tandelilin, 2001:212). Data inflasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data perbulan yang
kemudian dirata-ratakan menjadi data
tahunan dengan menggunakan rumus: ) Inflasi
akan menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga perusahaan yang pada akhirnya juga akan menyebabkan hutang
perusahaan Multifinance dan Perbankan
pada pihak ketiga berupa beban bunga akan menjadi meningkat.
Oleh karena itu,
rata-rata inflasi tahunan akan dikalikan dengan beban bunga (interest expense) masing-masing perusahaan.
2. Nilai Tukar (X2 Nilai
tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lainnya (Sukirno, 2004:397),
maksudnya mengukur nilai valuta suatu
negara dari perspektif valuta negara lain. Nilai tukar diukur dari perubahan nilai tukar mata uang rupiah
Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat
(US$). Terdapat dua harga dalam nilai tukar yaitu harga jual dan ) Universitas
Sumatera Utara harga beli setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi (Utami dan
Rahayu, 2003). Harga jual nilai tukar
dan harga beli nilai tukar dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai tukar tengah yang kemudian
dirata-ratakan menjadi data tahunan
dengan menggunakan rumus: Fluktuasi nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap
pendapatan (beban) operasional
perusahaan sebagai hasil dari keuntungan (kerugian) transaksi valuta asing/derivatif. Oleh karena itu,
rata-rata nilai tukar ini akan dikaitkan dengan other operating revenue dengan cara
membagikan other operating revenue
dengan rata-rata nilai tukar tengah tahunan pada laporan keuangan masing-masing perusahaan.
3. Suku Bunga (X3 Suku
bunga yaitu berupa suku bunga riil yang dihitung dari perubahan suku bunga SBI jangka waktu satu bulan yang telah
disesuaikan dengan tingkat inflasi
(Utami dan Rahayu, 2003), yang dihitung dengan menggunakan rumus: ) Rata-rata suku bunga tahunan ini akan
dikalikan dengan piutang usaha perusahaan, yang disebut loans (pinjaman pada
pihak ketiga) pada laporan keuangan
masing-masing perusahaan.
b. Variabel Terikat (Dependent Variable) (Y) Universitas
Sumatera Utara Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
harga saham masing-masing perusahaan
yang termasuk perusahaan Multifinance
dan Perbankan yang terdaftar di BEI.
Harga saham dihitung dari harga bulanan yang
dikalkulasikan menjadi rata-rata tahunan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (dalam Utami dan Rahayu,
2003): 3. Populasi dan Sampel Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perusahaan Multifinance dan Perbankan yang listing atau
terdaftar di BEI selama periode tahun
2005-2009. Pengambilan sampel menggunakan pendekatan Non probability sampling, yaitu dengan metode “Purposive
Sampling”. Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan
kriteria (pertimbangan) tertentu
(Sugiyono, 2005:78).
Adapun kriteria
penarikan sampel dalam penelitian ini adalah: a. Emiten yang sahamnya aktif diperdagangkan di
Bursa Efek Indonesia dan tidak pernah
di-suspend (diberhentikan) selama periode tahun 2005-2009.
b. Emiten yang mempublikasikan laporan keuangan
per tahun selama periode tahun 2005-2009.
c. Emiten yang mempublikasikan harga saham
perbulan selama periode tahun 2005-2009 Universitas Sumatera Utara Tabel 1.3 Jumlah
Sampel Berdasarkan Karakteristik Pengambilan Sampel a. Perusahaan Multifinance b.
Perusahaan Perbankan No Karakteristik
Sampel Jumlah 1. Perusahaan Perbankan yang terdaftar selama
periode 2005-2009 20 2.
Perusahaan yang pernah disuspend
0 3. Perusahaan yang belum mempublikasikan laporan
keuangan (2) 4. Perusahaan yang tidak mempublikasikan harga
saham perbulan (1) Jumlah Akhir
Sampel 17 Sumber: www.idx.co.id (27/2/2010, diolah
peneliti) Berdasarkan Tabel 1.3, diperoleh sampel penelitian sebanyak 6
perusahaan Multifinance dan 17
perusahaan Perbankan, sebagai berikut: Tabel 1.4 Nama-nama Perusahaan
Multifinance Sumber: www.idx.co.id (27/2/2010, diolah peneliti) No Karakteristik Sampel Jumlah 1.
Perusahaan pembiayaan yang terdaftar selama periode 2005-2009 8 2. Perusahaan yang pernah disuspend 0 3. Perusahaan yang belum mempublikasikan laporan
keuangan (2) 4.
Perusahaan yang tidak mempublikasikan harga saham perbulan 0 Jumlah
Akhir Sampel 6 No. Kode
Nama Perusahaan 1. ADMF PT. Adira Dinamika Multifinance Tbk 2. BBLD
PT. Buana Finance Tbk 3.
BFIN PT. BFI Finance Indonesia
Tbk 4. CFIN PT. Clipan Finance Indonesia Tbk 5. INCF
PT. Indocitra Finance Tbk 6.
TRUS PT. Trust Finance Indonesia
Tbk Universitas Sumatera Utara Tabel 1.5 Nama-nama Perusahaan Perbankan Sumber:
www.idx.co.id (27/2/2010, diolah peneliti) 4.
Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui studi
dokumentasi dengan mengumpulkan data
pendukung literatur, jurnal, dan buku-buku referensi untuk mendapatkan gambaran masalah yang
diteliti serta mengumpulkan data sekunder
yang relevan dari laporan yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia.
5. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat
Penelitian No. Kode Nama Perusahaan 1. BABP
PT. Bank ICB Bumiputera Tbk 2.
BBCA PT. Bank Central Asia Tbk 3. BBNI
PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 4. BBNP
PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk 5.
BBRI PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk 6. BKSW PT. Bank Kesawan Tbk 7. BMRI
PT. Bank Mandiri Tbk 8. BNGA PT. Bank CIMB Niaga Tbk 9. BNII
PT. Bank Internasional Indonesia Tbk 10.
BNLI PT. Bank Permata Tbk 11. BSWD
PT. Bank Swadesi Tbk 12.
BVIC PT. Bank Victoria
International Tbk 13. INPC PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk 14. MAYA
PT. Bank Mayapada Internasional Tbk 15.
MEGA PT. Bank Mega Tbk 16. NISP
PT. Bank OCBC NISP Tbk 17.
PNBN PT. PAN Indonesia Bank Tbk Universitas
Sumatera Utara Penelitian dilakukan di BEI melalui situs www.yahoofinance.com, www.idx.co.id, dan www.bi.go.id.
b. Waktu Penelitian
Waktu penelitian yaitu dimulai pada bulan Mei 2010 sampai dengan Juli 2010.
6. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data kuantitatif yang bersumber dari data sekunder. Data sekunder
yaitu berasal dari publikasi Bursa Efek
Indonesia tentang data emiten, laporan-laporan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, berbagai hasil penelitian dan
buku referensi, jurnal-jurnal, majalah-majalah,
laporan harga saham yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.
7. Metode Analisis Data Metode analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis
statistik.
a. Metode Analisis Deskriptif Metode analisis
deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data yang dikumpulkan, diklasifikasikan, dianalisis, dan
diinterpretasikan secara objektif sehingga
memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang dibahas.
b. Metode Analisis Statistik 1) Analisis Regresi
Linear Berganda Universitas Sumatera Utara Analisis regresi linear berganda
digunakan untuk mengetahui pengaruh dari inflasi, nilai tukar, dan suku bunga terhadap
harga saham. Model yang digunakan adalah
sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 Di mana : Y = Harga saham + e a = Konstanta X1 X = Inflasi 2 X = Nilai Tukar 3 b = Suku Bunga 1-3 = Koefisien regresi variabel X e = Standard error 1-3 Ada
beberapa kriteria persyaratan asumsi klasik yang harus dipenuhi sebelum melakukan analisis regresi, agar
didapat perkiraan yang efisien dan tidak bias (Situmorang dkk, 2008 : 55-105), yaitu : a)
Uji Normalitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model
regresi, variabel bebas dan variabel
terikat atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model yang paling baik adalah
berdistribusi data normal atau mendekati
normal. Uji ini dilakukan melalui analisis Kolmogrov-Smirnov.
Apabila diperoleh
nilai signifikan uji Kolmogrov-Smirnov lebih besar dari (>) 0,05 maka data dinyatakan normal.
Universitas
Sumatera Utara b) Uji Multikolinearitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah
dalam model regresi linear ditemukan
adanya korelasi yang tinggi di antara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada tidaknya gejala multikolinearitas dapat
dilihat dari besarnya nilai Variance Inflation
Factor (VIF) dengan ketentuan : Bila VIF > 5 maka terdapat masalah
multikolinearitas yang serius.
Bila VIF < 5
maka tidak terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
Hubungan linear
antar variabel inilah yang disebut dengan multikolinearitas.
Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen.
c) Uji Autokorelasi Uji ini digunakan untuk
menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode
t dan kesalahan pengganggu pada t-1 Tabel
1.6 (periode sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk menguji ada tidaknya
autokorelasi dalam satu model regresi,
maka digunakan model statistik dari D-W (Durbin-Watson) dengan ketentuan sebagai berikut: Kriteria
Pengambilan Keputusan Uji Autokorelasi Hipotesis nol Keputusan
Jika Tidak ada autokorelasi positif
Tolak 0 < d < dl Tidak ada
autokorelasi positif No decision dl ≤ d ≤ du Tidak ada korelasi negatif Tolak
4 - dl < d < 4 Tidak ada korelasi negatif No decision
4 - du ≤ d ≤ 4 - dl Tidak ada autokorelasi, positif atau negatif
Tidak ditolak du < d < 4 -
du Sumber : Situmorang dkk (2008:86) Keterangan : du = batas atas Universitas
Sumatera Utara dl = batas bawah d) Uji Heteroskedastisitas Uji ini dilakukan
untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu
pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians
dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain sama, maka disebut homoskedastisitas. Cara mendeteksi ada
tidaknya gejala heteroskedastisitas
adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot di sekitar nilai X dan Y. Jika ada
pola tertentu, maka terjadi gejala heteroskedastisitas.
2) Pengujian
Hipotesis a) Pengujian Hipotesis
Serempak (Uji F) Pengujian ini dilakukan untuk menguji hipotesis bahwa
“Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga
mempunyai pengaruh yang signifikan secara simultan terhadap Harga Saham Perusahaan Multifinance
dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia”.
Bentuk pengujian: H0 : b1 = b2 = b3 H = 0, artinya inflasi, nilai tukar, dan
suku bunga tidak mempunyai pengaruh
signifikan secara simultan terhadap harga saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa
Efek Indonesia.
1 : b1 ≠ b2
≠ b3 Pada penelitian ini nilai F ≠ 0,
artinya inflasi, nilai
tukar, dan suku
bunga mempunyai pengaruh
signifikan secara simultan terhadap harga saham Perusahaan Multifinance dan Perbankan di Bursa
Efek Indonesia.
hitung akan
dibandingkan dengan Ftabel H pada tingkat signifikan α = 5%. Kriteria penilaian
hipotesis pada uji simultan atau uji F: 1 ditolak (H0 diterima) jika Fhitung ≤
Ftabel pada α = 5% Universitas Sumatera Utara H1 diterima (H0 ditolak) jika
Fhitung > Ftabel b) Pengujian
Hipotesis Secara Parsial (Uji t) pada α = 5% Pengujian ini dilakukan untuk
menguji hipotesis bahwa “Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga mempunyai pengaruh yang
signifikan secara parsial terhadap Harga
Saham Perusahaan Multifinance dan
Perbankan di Bursa Efek Indonesia”. Bentuk pengujian: H0 : b1 = b2 =
b3 H = 0, artinya inflasi, nilai tukar, dan suku bunga tidak mempunyai pengaruh signifikan secara parsial
terhadap harga saham Perusahaan
Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
1 : b1 ≠ b2 ≠
b3 Pada penelitian ini nilai t ≠
0, artinya inflasi,
nilai tukar, dan
suku bunga mempunyai pengaruh signifikan secara parsial
terhadap harga saham Perusahaan
Multifinance dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
hitung akan
dibandingkan dengan ttabel H pada
tingkat signifikan α = 5%. Kriteria
penilaian hipotesis pada uji parsial atau uji t: 1 ditolak (H0 diterima) jika
thitung ≤ ttabel H pada α = 5% 1 diterima (H0 ditolak) jika thitung > ttabel
c) Koefisien Determinasi (R pada α = 5% 2
Koefisien determinasi adalah koefisien nilai yang menunjukkan besarnya variasi variabel dependen (variabel terikat)
yang dipengaruhi oleh variasi variabel
independen (variabel bebas). Pengukuran besarnya persentase kebenaran dari uji regresi tersebut dapat
dilihat melalui nilai koefisien determinasi
multipleR ) 2 (koefisien determinan mengukur proporsi dari variasi yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas).
Semakin tinggi R 2 (mendekati Universitas
Sumatera Utara satu), maka semakin baik regresi tersebut. Namun, apabila
semakin mendekati nol maka variabel
bebas secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel terikat.
Universitas
Sumatera Utara
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi