BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Setiap perusahaan dalam aktivitas usahanya selalu
berusaha untuk mencapai laba yang
optimal dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Keuntungan atau
laba merupakan sarana yang penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, makin tinggi
laba yang diperoleh maka perusahaan akan
mampu bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang serta mampu menghadapi persaingan. Perusahaan dituntut
untuk efisien, dalam arti bahwa dalam
pengorbanan tertentu yang diberikan maka akan dicapai hasil yang optimal, dimana pengorbanan yang dimaksud disini adalah
modal usaha dan hasilnya laba usaha.
Kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu disebut rentabilitas atau profitabilitas
(Riyanto 2001:331). Masalah profitabilitas ini penting bagi kelangsungan hidup dan
perkembangan perusahaan. Bagi pimpinan
perusahaan, profitablitas dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui berhasil atau tidaknya perusahaan
yang dipimpinnya. Sedangkan bagi penanam
modal dapat digunakan sebagai tolak ukur prospek modal yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut.
Kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki disebut Return on Equity
(ROE) (Sutrisno 2000:267). Salah satu
cara pemilik untuk dapat mengoptimalkan profitabilitas (ROE) adalah dengan memperhatikan tingkat likuiditas
perusahaannya. Menurut Riyanto (2001: 25), likuiditas perusahaan merupakan kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban
finansiilnya yang segera harus dipenuhi. Perusahaan yang memiliki likuiditas yang baik berarti mampu memenuhi
segala pembayaran yang diperlukan untuk
kelancaran proses produksinya.
Salah satu alat
ukur likuiditas adalah Rasio Lancar (Current Ratio) yang merupakan perbandingan antara aktiva lancar
dengan hutang jangka pendek (hutang
lancar). Perusahaan yang dapat mengelola rasio lancarnya dengan baik menunjukkan bahwa aktiva lancar perusahaan
tersebut dapat menutup hutang lancarnya,
dengan kata lain perusahaan tersebut memiliki likuiditas yang baik.
Akan tetapi pemilik
juga harus memperhatikan jangan sampai perusahaan terlalu likuid, karena hal tersebut akan mengurangi
risiko ketidakmampuan memenuhi kewajiban
jangka pendek yang jatuh tempo, yang akan mengurangi profitabilitas.
Pemilik perusahaan
juga hendaknya mampu mengelola modal kerja perusahaannya dengan baik untuk dapat
mengoptimalkan profitabilitas (ROE), karena
sebagian besar sumber daya yang dimiliki perusahaan tertanam dalam modal kerja, dimana modal kerja tersebut harus
mampu membiayai pengeluaranpengeluaran untuk kegiatan operasi perusahaan
sehari-hari. Modal kerja disini adalah
modal kerja bersih yang merupakan kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek (hutang lancar). Modal
kerja yang cukup akan menguntungkan bagi
perusahaan, karena disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis
dan efisien perusahaan tidak mengalami
kesulitan keuangan. Adanya modal kerja yang berlebihan menunjukkan adanya dana yang tidak produktif
dan hal ini akan menimbulkan kerugian
bagi perusahaan karena tidak mempergunakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan melalui dana yang ada,
sehingga pemilik haruslah benarbenar dapat mengelola modal kerjanya dengan baik.
Perputaran modal
kerja adalah bentuk pengukuran apakah modal kerja sudah dikelola dengan baik atau tidak.
Perputaran modal kerja yang tinggi menunjukkan
bahwa perusahaan dapat beroperasi dengan baik dan menutup pengeluaran biaya yang ada di perusahaan.
Peningkatan perputaran modal kerja akan
dapat meningkatkan penjualan dan modal juga dapat kembali dengan cepat sehingga keuntungan atau ROE perusahaan juga
meningkat.
Sumber dan
penggunaan dana dalam operasi perusahaan biasanya dibiayai dengan modal sendiri dan hutang, yang dalam
hal ini untuk mengukur seberapa besar
penggunaan hutang dapat diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER).
Sebagian pemilik
lebih banyak menggunakan hutang daripada modal sendiri, karena dengan adanya penambahan pinjaman
(hutang) dapat menghasilkan risiko yang
lebih besar, tetapi potensi hasil (profitabilitas) yang diperoleh juga dapat menjadi lebih besar, sebab pemilik perusahaan
akan menuntut tingkat pengembalian yang
lebih tinggi dari biaya hutang.
Penelitian ini
dilakukan pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008.
Pemilihan kelompok industri manufaktur ini
didasarkan pada alasan bahwa industri manufaktur merupakan kelompok emiten yang terbesar dibandingkan kelompok
industri yang lain, sehingga dengan asumsi
semakin besar objek yang diamati maka akan semakin akurat hasil penelitian. Perusahaan Manufaktur merupakan
perusahaan yang mengubah bahan baku
menjadi barang jadi yang terdiri dari 3 sektor, yaitu industri dasar dan kimia,
aneka industri, dan industri barang
konsumsi. Industri barang konsumsi terdiri dari perusahaan makanan dan minuman. Dalam
laporan keuangan perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 terlihat bahwa adanya nilai tertinggi dan terendah dari rasio
lancar, perputaran modal kerja, DER, dan
demikian pula dengan ROE. Hal ini terlihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 1.1 Data Rasio Lancar, Perputaran Modal
Kerja, DER, dan ROE pada Beberapa
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2008 Ket Perusahaan Rasio Lancar
WCTO DER
ROE Nilai Rasio Lancar tertinggi & terendah Davomas Abadi Tbk (DAVO) 27.50
2.80 4.45 -68.90 Polysindo
Eka Perkasa Tbk (POLY) 0.11 -0.32
-1.53 25.47 WCTO tertinggi
& terendah Trias Sentosa Tbk (TRST) 1.01
186.52 1.08 2.41 Tembaga
Mulia Semanan Tbk (TBMS) 0.97
-121.86 14.61 -52.97 DER
tertinggi & terendah Centex Tbk (CNTX) 0.79 -7.20
322.27 -69.92 Panasia Filament
Tbk (PAFI) 0.88 -11.91
-25.25 607.82 Sumber: www.idx.co.id, diolah Uraian
sebelumnya mengatakan bahwa Rasio Lancar berbanding terbalik dengan ROE, dimana apabila rasio lancar
meningkat, maka ROE akan mengalami penurunan
dan sebaliknya. Akan tetapi tabel memperlihatkan bahwa pada Perusahaan Panasia Filament Tbk memiliki nilai
ROE yang tinggi padahal Rasio Lancar
yang dimilikinya positif dan lebih kecil daripada perusahaan yang memiliki nilai Rasio Lancar tertinggi yaitu
Davomas Abadi Tbk. Berbeda dengan rasio
lancar terhadap ROE, perputaran modal kerja (WCTO) berbanding lurus dengan ROE. Pada saat perputaran modal kerja
mengalami kenaikan atau penurunan, maka
ROE juga mengalami kenaikan atau penurunan juga, akan tetapi pada yang memiliki nilai Perputaran Modal
Kerja yang tinggi justru nilai ROE yang
dimilikinya kecil. Demikian juga dengan DER yang berbanding lurus dengan ROE, pada perusahaan yang memiliki
nilai DER tertinggi justru memiliki nilai
ROE yang rendah dibandingkan dengan yang lainnya.
Maka berdasarkan
uraian sebelumnya, penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam tentang pengaruh rasio lancar,
perputaran modal kerja, dan Debt to Equity ratio (DER) terhadap profitabilitas (ROE).
1.2 Perumusan
Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya, perumusan
masalah pada penelitian ini adalah :
“Apakah Rasio lancar, Perputaran Modal Kerja,
dan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh terhadap Profitabilitas pada perusahaan Manufaktur di Bursa Efek
Indonesia (BEI)?” 1.3 Kerangka Konseptual Salah satu cara untuk mengetahui
seberapa besar kemampuan perusahaan melunasi
hutang-hutang lancar adalah melalui rasio lancar, yang juga merupakan alat ukur likuiditas. Apabila nilainya semakin
tinggi maka likuiditas perusahaan akan
semakin baik, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa kelebihan likuiditas akan mengurangi risiko ketidakmampuan memenuhi
kewajiban jangka pendek yang jatuh tempo
dan akan mengurangi laba. (Sundjaja, 2003: 135) Semakin tinggi tingkat
perputaran modal kerja, semakin cepat modal kerja tersebut kembali lagi menjadi kas, dimana hal
ini akan dapat meningkatkan laba perusahaan.
(Riyanto, 2001: 63) Perbandingan antara hutang jangka panjang dengan dana yang
diberikan oleh pemilik (ekuitas) disebut
Debt to Equity Ratio (DER). Adanya penambahan pinjaman (hutang) dapat menghasilkan risiko
yang lebih besar, demikian pula potensi
hasil (laba) yang diperoleh juga menjadi lebih besar, karena semakin besar pengaruh keuangan maka potensi risiko dan
hasil juga lebih besar. (Sundjaja, 2003:
140) Gambar 1.1. Kerangka Konseptual Sumber: Sundjaja (2003) dan Riyanto
(2001), diolah 1.4 Hipotesis Hipotesis atau jawaban sementara atas permasalahan
yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
Terdapat Pengaruh antara Rasio Lancar, Perputaran Modal Rasio Lancar (X1) Perputaran Modal Kerja (X2) DER (X3) ROE (Y) Kerja, dan Debt to Equity Ratio (DER)
terhadap Profitabilitas yang dalam hal ini adalah ROE pada Perusahaan Manaufaktur yang
terdapat di Bursa Efek Indonesia.
1.5 Tujuan dan
Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variabel Rasio Lancar, Perputaran Modal Kerja, dan Debt to
Equity Ratio terhadap profitabilitas pada perusahaan Manufaktur di
Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini
adalah: a. Bagi Perusahaan Penelitian
ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan mengambil kebijaksanaan serta keputusan terutama yang
berhubungan dengan pencapaian keuntungan
atau laba pada perusahaan manufaktur.
b. Bagi pihak lain Penelitian ini bermanfaat
sebagai bahan referensi yang nantinya dapat memberikan perbandingan dalam melakukan
penelitian-penelitian selanjutnya yang sejenis.
c. Bagi peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan pola pikir
peneliti.
1.6 Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Adapun yang menjadi
batasan operasional penelitian penulis, yaitu: a. Subjek dalam penelitian ini adalah perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI).
b. Data laporan keuangan yang digunakan adalah
laporan keuangan perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008.
c. Penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh
profitabilitas terhadap rasio lancar,
perputaran modal kerja, dan Debt to Equity Ratiodengan analisis regresi berganda, yang dilakukan
dengan menggunakan alat bantu program
SPSS versi 16.0 for window (Statistic Product and Sosial Sciences).
2. Defenisi Operasional Berdasarkan masalah dan hipotesis yang akan
diuji, parameter yang digunakan adalah
sebagai berikut: a. Variabel terikat
(dependen variabel) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Return On
Equity (ROE) atau disebut juga dengan
tingkat pengembalian modal sendiri.
b.
Variabel Bebas (independent variabel) 1)
Rasio Lancar Yang dimaksud Rasio Lancar adalah rasio yang membandingkan antara aktiva lancar dengan hutang jangka
pendek (hutang lancar).
2) Perputaran Modal Kerja (working capital
turnover) Perputaran modal kerja adalah peredaran uang yang dimulai pada saat kas diinvestasikan dalam komponen modal
kerja sampai kembali lagi menjadi kas.
Dalam penelitian ini perputaran modal kerja
yang akan diteliti adalah keseluruhan penjualan dibagi modal kerja rata-rata.
3) Debt to Equity Ratio (DER) Debt to Equity
Ratio (DER) atau Rasio hutang-ekuitas
adalah perbandingan antara total
hutang dengan ekuitas saham biasa (stock equity).
3. Populasi dan Sampel Target populasi dalam
penelitian ini adalah sebanyak 113 Perusahaan Manufaktur pada tahun 2008, karena tahun 2008
merupakan tahun terakhir dimana
perusahaan-perusahaan manufaktur mempublikasikan laporan keuangannya dengan lengkap.
Table 1.2 Nama-nama
Sampel Perusahaan Kode Perusahaan ADES Akasha Wira International Tbk AKKU Aneka Kemasindo Utama Tbk AKPI Argha Karya Prima Inds. Tbk ALMI Alumindo Light Metal Inds. Tbk AMFG Asahimas Flat Glass Tbk AQUA Aqua Golden Mississi Tbk ARGO Argo Pantes Tbk ARNA Arwana Citra Mulia Tbk ASIA Asia Natural Resources Tbk AUTO Astra Otoparts Tbk BATA Sepatu Bata Tbk BATI BATI Indonesia Tbk BIMA Primarindo Asia Infrastr. Tbk BRAM Indo Kordsa Tbk BRNA Berlina Tbk BTON Betonjaya Manunggal Tbk BUDI Budi Acid Jaya Tbk CEKA Cahaya Kalbar Tbk CNTX Centex Tbk CTBN Citra Tubindo Tbk DAVO Davomas Abadi Tbk DLTA Delta Djakarta Tbk DOID Delta Dunia Petroindo Tbk DPNS Duta Pertiwi Nusantara DSUC Daya Sakti Unggul Corp. Tbk DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk DYNA Dynaplast Tbk EKAD Ekadharma Internasional Tbk ERTX Eratex Djadja Tbk ESTI Ever Shine Textile Inds. Tbk ETWA Eterindo Wahanatama Tbk FASW Fajar Surya Wisesa Tbk FPNI Titan Kimia Nusantara Tbk GDYR Goodyear Indonesia Tbk HDTX Panasia Indosyntec Tbk HMSP HM Samprna Tbk IGAR Kageo Igar Jaya Tbk IKAI Intikeramik alamasri Inds. Tbk IKBI
Sumi Indo Kabel tbk IMAS
Indomobil Sukses Int I. Tbk INAF
Indofarma Tbk INAI Indal
Aluminiun Industri Tbk INCI Intanwijaya
Internasional Tbk INDR Indorama
Syntetics Tbk INDS Indospring Tbk INRU Toba Pulp Lestari Tbk ITMA Itamaraya Tbk JECC Jembo Cable Company Tbk JKSW Jakarta Kyoei Steel Works Tbk JPFA JAPFA Tbk KARW Karwell Indonesia Tbk KBLI KAMI Wire and Cable Tbk KBLM Kabelindo Murni Tbk KBLV First Media Tbk KBRI Kertas Basuki Rachmat Ind. Tbk KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk KIAS Keramik Indonesia Assosiasi KICI Kedaung Indah Can Tbk LION Lion Metal Works Tbk LMPI Langgeng Makmur Plastic I Tbk LMSH
Lion Mesh P Tbk LPIN Multi Prima
Sejahtera Tbk MAIN Malindo Feedmill Tbk MASA Multistrada Arah Sarana Tbk MERK Merck Tbk MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk MLIA Mulia Industrindo Tbk MRAT Mustika Ratu Tbk MYOH Myoh Tecnology Tbk MYOR Mayora Indah Tbk MYRX Hanson International Tbk NIPS Nipress Tbk PAFI Panasia Filament Tbk PBRX Pan Brothers Tex Tbk PICO Pelangi Indah Canindo Tbk POLY Polysindo Eka Perkasa Tbk PRAS Prima Alloy Steel Tbk PROD Sara Lee Body Care Indonesia PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk PTSN Sat Nusapersada Tbk PYFA Pyridam Farma Tbk RDTX Roda Pipatex Tbk RICY
Ricky Putra Globalindo Tbk SAIP
Surabaya Agung Industri P. Tbk SCCO
Supreme Cable Manufacture Co.
SCPI Schering Plough Indonesia Tbk SIAP Sekawan Intipratama Tbk SIMA Siwani Makmur Tbk SIMM Surya Intrindo Makmur Tbk SIPD Sierad Produce Tbk SKBM Sekar Bumi Tbk SKLT Sekar Laut Tbk SMSM Selamat Sempurna Tbk SQBI Bristol-Myers Squibb Indonesia SQMI Allbond makmur Usaha Tbk SRSN Indo Acidatama Tbk SSTM Sunson Textile Manufacture Tbk STTP Siantar Top Tbk SUGI Sugi Samapersada Tbk TALF Tunas Alfin Tbk TBMS Tembaga Mulia Semanan Tbk TCID Mandom Indonesia Tbk TFCO Teijin Indonesia Fiber Tbk TIRT Tirta Mahakam Resources Tbk TOTO Surya Toto Indonesia Tbk TPIA Tri Polyta Indonesia Tbk TRST Trias Sentosa Tbk ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk UNIC Unggul Indah Cahaya Tbk UNIT Nusantara Inti Corpora Tbk UNTX Unitex Tbk VOKS Voksel Electric Tbk YPAS Yanaprima Hastapersada Tbk Sumber:
www.idx.co.id (diolah) 4. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dengan
menggunakan situs www.idx.co.id.
b. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan
sejak Oktober 2009 sampai dengan Maret 2010.
5. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data kuantitatif yang bersumber
dari data sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data laporan keuangan perusahaan,
antara lain neraca (balance sheet), laporan
laba / rugi (income statements), Ratio, diperoleh dari hasil publikasi Bursa Efek Indonesia, media internet,
buku-buku, dan jurnal referensi lainnya.
6. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data
dilakukan melalui studi pustaka berupa literatur, jurnal, skripsi, dan buku-buku referensi untuk
mendapatkan gambaran masalah yang diteliti
serta mengumpulkan data sekunder yang diperlukan yaitu laporanlaporan yang
dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia.
7. Metode Analisis Data Metode analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis
statistic sebagai berikut: a. Metode Analisis Deskriptif Metode analisis
deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data yang dikumpulkan dan digolongkan kemudian
dianalisis dan diinterpretasikan secara
obyektif.
b. Metode Regresi Berganda Analisis regresi
berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Rasio Lancar, Perputaran Modal Kerja, dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap
Profitabilitas (ROE). Persamaan regresi berganda yang dipakai adaah sebagai berikut: Y = a +b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Keterangan: Y = Profitabilitas (ROE) a = konstanta X1 = Rasio Lancar X2 = Perputaran Modal Kerja X3 = Debt to Equity Ratio (DER) b1 =
Koefisien regresi variabel Rasio Lancar b2 =
Koefisien regresi variabel Perputaran Modal Kerja b3 =
Koefisien regresi variabel DER e = error Adapun syarat uji normalitas dan uji asumsi
klasik yang harus dipenuhi model regresi
berganda sebelum data tersebut dianalisis adalah sebagai berikut: 1) Pengujian Normalitas Uji normalitas atau
distribusi normal dilakukan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi, variabel
independen, variabel dependen,
atau keduanya berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal
atau mendekati normal. Uji ini dilakukan
melalui kolmogorov-smirnov.
2) Uji Multikolineritas Uji multikolineritas
diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan linear antar variabel independen
dalam satu model. Hubungan linear antar
variabel independen inilah yang disebut multikolineritas.
3) Uji Autokorelasi Pengujian ini bertujuan
untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara
variabel pengganggu pada periode tertentu dengan variabel pengganggu periode sebelumnya. Jika terjadi
autokorelasi maka dikatakan ada problem
autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi ini
menggunakan uji Durbin Watson (DW).
4) Uji Heterokedastisitas Uji ini digunakan
untuk menguji apakah suatu model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari suatu
pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika
varians dari residual dari suatu pengamatan e pengamatan lainnya tetap, maka disebut homokedastisitas,
tetapi jika varians residualnya berbeda
disebut heterokedastisitas. Model yang baik adalah tidak terdapat heterokedastisitas.
5) Koefisien Determinasi Pengujian determinasi
(R 2 ) akan menunjukkan besarnya persentase sumbangan Modal Kerja, Perputaran modal kerja,
dan DER terhadap ROE, dimana 0<R 2 <1.
Hal ini berarti bahwa nilai R 2 semakin
mendekati 1 merupakan indicator yang
menunjukkan semakin kuatnya pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
c. Pengujian Hipotesis Uji Hipotesis berguna
untuk memeriksa atau menguji apakah koefisien regresi yang didapat signifikan. Ada dua jenis
koefisien regresi yang dapat dilakukan,
yaitu uji-F dan uji-t.
1) Uji-F (Uji Signifikansi Simultan) Pengujian
ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua varabel bebas secara simultan dapat diterima menjadi model
penelitian terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujiannya
adalah: Ho : b1 = b2 = b3 = 0, artinya secara simultan variabel Rasio Lancar, perputaran modal kerja, dan DER tidak memenuhi
model penelitian.
Ha : Tidak semua bi
(b1,b2,b3) sama dengan nol, maka dianggap variabel independen telah memenuhi model penelitian
terjadap variabel dependen.
Kriteria
pengambilan keputusan: H0 diterima jika
Fhitung ≤ Ftabel pada α = 5% Ha diterima jika Fhitung > Ftabel pada α = 5% 2) Uji-t (Uji Parsial) Digunakan untuk menguji
koefisien regresi secara individual. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah secara parsial masing-masing variabel bebas mempunyai pengaruh signifikan
atau tidak terhadap variabel terikat.
Setelah didapat nilai thitung maka selanjutnya nilai thitung dibandingkan
dengan nilai ttabel. Bentuk pengujiannya sebagai berikut: H0 : b1 = 0, artinya
tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel Raso Lancar, terhadap ROE secara parsial.
Ha : b1 ≠ 0,
artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel Rasio Lancar secara parsial terhadap variabel ROE H0 : b2 =
0,artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel Perputaran Modal Kerja secara parsial terhadap
variabel ROE Ha : b2 ≠ 0,artinya terdapat
pengaruh signifikan dari
variabel Perputaran Modal Kerja secara parsial terhadap variabel
ROE H0 : b3 = 0, artinya tidak terdapat pengartuh signifikan dari variabel DER secara persial terhadap ROE Ha : b3 ≠
0,artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel DER secara parsial terhadap variabel ROE Pada penelitian
ini thitung akan dibandingkan dengan
ttabel pada tingkat signifikansi (α) = 5% Kriteria pengambilan
keputusan: H0 diterima jika - ttabel ≤
thitung ≤ ttabel pada α = 5% Ha diterima jika - ttabel > thitung> ttabel
pada α = 5%
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi