Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PENGARUH RASIO LANCAR, PERPUTARAN MODAL KERJA, DAN DEBT TO EQUITY RATIO TERHADAP PROFITABILITAS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR



BAB I PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang Masalah
 Setiap perusahaan dalam aktivitas usahanya selalu berusaha untuk mencapai  laba yang optimal dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Keuntungan atau laba merupakan sarana yang penting untuk mempertahankan  kelangsungan hidup perusahaan, makin tinggi laba yang diperoleh maka  perusahaan akan mampu bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang serta mampu  menghadapi persaingan. Perusahaan dituntut untuk efisien, dalam arti bahwa  dalam pengorbanan tertentu yang diberikan maka akan dicapai hasil yang optimal,  dimana pengorbanan yang dimaksud disini adalah modal usaha dan hasilnya laba  usaha.

Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu  disebut rentabilitas atau profitabilitas (Riyanto 2001:331). Masalah profitabilitas  ini penting bagi kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. Bagi  pimpinan perusahaan, profitablitas dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk  mengetahui berhasil atau tidaknya perusahaan yang dipimpinnya. Sedangkan bagi  penanam modal dapat digunakan sebagai tolak ukur prospek modal yang  ditanamkan dalam perusahaan tersebut.
Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal  sendiri yang dimiliki disebut Return on Equity (ROE) (Sutrisno 2000:267). Salah  satu cara pemilik untuk dapat mengoptimalkan profitabilitas (ROE) adalah dengan   memperhatikan tingkat likuiditas perusahaannya. Menurut Riyanto (2001: 25),  likuiditas perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi  kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi. Perusahaan yang memiliki  likuiditas yang baik berarti mampu memenuhi segala pembayaran yang  diperlukan untuk kelancaran proses produksinya.
Salah satu alat ukur likuiditas adalah Rasio Lancar (Current Ratio) yang  merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang jangka pendek  (hutang lancar). Perusahaan yang dapat mengelola rasio lancarnya dengan baik  menunjukkan bahwa aktiva lancar perusahaan tersebut dapat menutup hutang  lancarnya, dengan kata lain perusahaan tersebut memiliki likuiditas yang baik.
Akan tetapi pemilik juga harus memperhatikan jangan sampai perusahaan terlalu  likuid, karena hal tersebut akan mengurangi risiko ketidakmampuan memenuhi  kewajiban jangka pendek yang jatuh tempo, yang akan mengurangi profitabilitas.
Pemilik perusahaan juga hendaknya mampu mengelola modal kerja  perusahaannya dengan baik untuk dapat mengoptimalkan profitabilitas (ROE),  karena sebagian besar sumber daya yang dimiliki perusahaan tertanam dalam  modal kerja, dimana modal kerja tersebut harus mampu membiayai pengeluaranpengeluaran untuk kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Modal kerja disini  adalah modal kerja bersih yang merupakan kelebihan aktiva lancar terhadap  hutang jangka pendek (hutang lancar). Modal kerja yang cukup akan  menguntungkan bagi perusahaan, karena disamping memungkinkan bagi  perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan efisien perusahaan tidak  mengalami kesulitan keuangan. Adanya modal kerja yang berlebihan   menunjukkan adanya dana yang tidak produktif dan hal ini akan menimbulkan  kerugian bagi perusahaan karena tidak mempergunakan kesempatan untuk  memperoleh keuntungan melalui dana yang ada, sehingga pemilik haruslah benarbenar dapat mengelola modal kerjanya dengan baik.
Perputaran modal kerja adalah bentuk pengukuran apakah modal kerja  sudah dikelola dengan baik atau tidak. Perputaran modal kerja yang tinggi  menunjukkan bahwa perusahaan dapat beroperasi dengan baik dan menutup  pengeluaran biaya yang ada di perusahaan. Peningkatan perputaran modal kerja  akan dapat meningkatkan penjualan dan modal juga dapat kembali dengan cepat  sehingga keuntungan atau ROE perusahaan juga meningkat.
Sumber dan penggunaan dana dalam operasi perusahaan biasanya dibiayai  dengan modal sendiri dan hutang, yang dalam hal ini untuk mengukur seberapa  besar penggunaan hutang dapat diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER).
Sebagian pemilik lebih banyak menggunakan hutang daripada modal sendiri,  karena dengan adanya penambahan pinjaman (hutang) dapat menghasilkan risiko  yang lebih besar, tetapi potensi hasil (profitabilitas) yang diperoleh juga dapat  menjadi lebih besar, sebab pemilik perusahaan akan menuntut tingkat  pengembalian yang lebih tinggi dari biaya hutang.
Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di  Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008. Pemilihan kelompok industri manufaktur  ini didasarkan pada alasan bahwa industri manufaktur merupakan kelompok  emiten yang terbesar dibandingkan kelompok industri yang lain, sehingga dengan  asumsi semakin besar objek yang diamati maka akan semakin akurat hasil   penelitian. Perusahaan Manufaktur merupakan perusahaan yang mengubah bahan  baku menjadi barang jadi yang terdiri dari 3 sektor, yaitu industri dasar dan kimia,  aneka industri, dan industri barang konsumsi. Industri barang konsumsi terdiri  dari perusahaan makanan dan minuman. Dalam laporan keuangan perusahaan  manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 terlihat bahwa  adanya nilai tertinggi dan terendah dari rasio lancar, perputaran modal kerja,  DER, dan demikian pula dengan ROE. Hal ini terlihat dalam tabel sebagai  berikut:  Tabel 1.1 Data Rasio Lancar, Perputaran Modal Kerja, DER, dan ROE pada  Beberapa Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2008 Ket  Perusahaan  Rasio  Lancar WCTO  DER  ROE Nilai Rasio  Lancar  tertinggi &  terendah Davomas Abadi Tbk  (DAVO) 27.50  2.80  4.45  -68.90  Polysindo Eka  Perkasa Tbk (POLY) 0.11  -0.32  -1.53  25.47  WCTO  tertinggi &  terendah Trias Sentosa Tbk  (TRST) 1.01  186.52  1.08  2.41  Tembaga Mulia  Semanan Tbk  (TBMS) 0.97  -121.86  14.61  -52.97  DER  tertinggi &  terendah Centex Tbk (CNTX) 0.79  -7.20  322.27 -69.92  Panasia Filament Tbk  (PAFI) 0.88  -11.91  -25.25  607.82  Sumber: www.idx.co.id, diolah Uraian sebelumnya mengatakan bahwa Rasio Lancar berbanding terbalik  dengan ROE, dimana apabila rasio lancar meningkat, maka ROE akan mengalami  penurunan dan sebaliknya. Akan tetapi tabel memperlihatkan bahwa pada  Perusahaan Panasia Filament Tbk memiliki nilai ROE yang tinggi padahal Rasio  Lancar yang dimilikinya positif dan lebih kecil daripada perusahaan yang   memiliki nilai Rasio Lancar tertinggi yaitu Davomas Abadi Tbk. Berbeda dengan  rasio lancar terhadap ROE, perputaran modal kerja (WCTO) berbanding lurus  dengan ROE. Pada saat perputaran modal kerja mengalami kenaikan atau  penurunan, maka ROE juga mengalami kenaikan atau penurunan juga, akan tetapi  pada yang memiliki nilai Perputaran Modal Kerja yang tinggi justru nilai ROE  yang dimilikinya kecil. Demikian juga dengan DER yang berbanding lurus  dengan ROE, pada perusahaan yang memiliki nilai DER tertinggi justru memiliki  nilai ROE yang rendah dibandingkan dengan yang lainnya.
Maka berdasarkan uraian sebelumnya, penulis tertarik untuk meneliti lebih  dalam tentang pengaruh rasio lancar, perputaran modal kerja, dan Debt to Equity  ratio (DER) terhadap profitabilitas (ROE).
1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya, perumusan  masalah pada penelitian ini adalah : “Apakah Rasio lancar, Perputaran Modal  Kerja, dan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh terhadap Profitabilitas  pada perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI)?” 1.3 Kerangka Konseptual Salah satu cara untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan  melunasi hutang-hutang lancar adalah melalui rasio lancar, yang juga merupakan  alat ukur likuiditas. Apabila nilainya semakin tinggi maka likuiditas perusahaan  akan semakin baik, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa kelebihan likuiditas akan   mengurangi risiko ketidakmampuan memenuhi kewajiban jangka pendek yang  jatuh tempo dan akan mengurangi laba. (Sundjaja, 2003: 135) Semakin tinggi tingkat perputaran modal kerja, semakin cepat modal kerja  tersebut kembali lagi menjadi kas, dimana hal ini akan dapat meningkatkan laba  perusahaan. (Riyanto, 2001: 63) Perbandingan antara hutang jangka panjang dengan dana yang diberikan oleh  pemilik (ekuitas) disebut Debt to Equity Ratio (DER). Adanya penambahan  pinjaman (hutang) dapat menghasilkan risiko yang lebih besar, demikian pula  potensi hasil (laba) yang diperoleh juga menjadi lebih besar, karena semakin besar  pengaruh keuangan maka potensi risiko dan hasil juga lebih besar. (Sundjaja,  2003: 140) Gambar 1.1. Kerangka Konseptual Sumber: Sundjaja (2003) dan Riyanto (2001), diolah 1.4 Hipotesis Hipotesis atau jawaban sementara atas permasalahan yang dikemukakan  adalah sebagai berikut: Terdapat Pengaruh antara Rasio Lancar, Perputaran Modal  Rasio Lancar (X1) Perputaran Modal  Kerja (X2)  DER (X3) ROE (Y)  Kerja, dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Profitabilitas yang dalam hal ini  adalah ROE pada Perusahaan Manaufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variabel Rasio  Lancar, Perputaran Modal Kerja, dan Debt to Equity Ratio  terhadap  profitabilitas pada perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2.  Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: a.  Bagi Perusahaan Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan mengambil  kebijaksanaan serta keputusan terutama yang berhubungan dengan  pencapaian keuntungan atau laba pada perusahaan manufaktur.
b.  Bagi pihak lain Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi yang nantinya dapat  memberikan perbandingan dalam melakukan penelitian-penelitian  selanjutnya yang sejenis.
c.  Bagi peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan pola  pikir peneliti.
 1.6 Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Adapun yang menjadi batasan operasional penelitian penulis, yaitu: a.  Subjek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang  terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
b.  Data laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan  perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada  tahun 2008.
c.  Penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh profitabilitas terhadap  rasio lancar, perputaran modal kerja, dan Debt to Equity Ratiodengan  analisis regresi berganda, yang dilakukan dengan menggunakan alat  bantu program SPSS versi 16.0 for window (Statistic Product and  Sosial Sciences).
2.  Defenisi Operasional  Berdasarkan masalah dan hipotesis yang akan diuji, parameter yang  digunakan adalah sebagai berikut: a.  Variabel terikat (dependen variabel) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Return On Equity  (ROE) atau disebut juga dengan tingkat pengembalian modal sendiri.
 b.  Variabel Bebas (independent variabel) 1)  Rasio Lancar Yang dimaksud Rasio Lancar adalah rasio yang membandingkan  antara aktiva lancar dengan hutang jangka pendek (hutang lancar).
2)  Perputaran Modal Kerja (working capital turnover) Perputaran modal kerja adalah peredaran uang yang dimulai pada  saat kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai  kembali lagi menjadi kas. Dalam penelitian ini perputaran modal  kerja yang akan diteliti adalah keseluruhan penjualan dibagi modal  kerja rata-rata.
3)  Debt to Equity Ratio (DER) Debt to Equity Ratio (DER) atau Rasio hutang-ekuitas  adalah  perbandingan antara total hutang  dengan ekuitas saham biasa  (stock equity).
3.  Populasi dan Sampel Target populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 113 Perusahaan  Manufaktur pada tahun 2008, karena tahun 2008 merupakan tahun terakhir   dimana perusahaan-perusahaan manufaktur mempublikasikan laporan  keuangannya dengan lengkap.
Table 1.2 Nama-nama Sampel Perusahaan Kode  Perusahaan ADES  Akasha Wira International Tbk AKKU  Aneka Kemasindo Utama Tbk AKPI  Argha Karya Prima Inds. Tbk ALMI  Alumindo Light Metal Inds. Tbk AMFG  Asahimas Flat Glass Tbk AQUA  Aqua Golden Mississi Tbk ARGO  Argo Pantes Tbk ARNA  Arwana Citra Mulia Tbk ASIA  Asia Natural Resources Tbk AUTO  Astra Otoparts Tbk BATA  Sepatu Bata Tbk BATI  BATI Indonesia Tbk BIMA  Primarindo Asia Infrastr. Tbk BRAM  Indo Kordsa Tbk BRNA  Berlina Tbk BTON  Betonjaya Manunggal Tbk BUDI  Budi Acid Jaya Tbk CEKA  Cahaya Kalbar Tbk CNTX  Centex Tbk CTBN  Citra Tubindo Tbk DAVO  Davomas Abadi Tbk DLTA  Delta Djakarta Tbk DOID  Delta Dunia Petroindo Tbk DPNS  Duta Pertiwi Nusantara DSUC  Daya Sakti Unggul Corp. Tbk DVLA  Darya-Varia Laboratoria Tbk DYNA  Dynaplast Tbk EKAD  Ekadharma Internasional Tbk ERTX  Eratex Djadja Tbk ESTI  Ever Shine Textile Inds. Tbk ETWA  Eterindo Wahanatama Tbk FASW  Fajar Surya Wisesa Tbk FPNI  Titan Kimia Nusantara Tbk GDYR  Goodyear Indonesia Tbk HDTX  Panasia Indosyntec Tbk HMSP  HM Samprna Tbk IGAR  Kageo Igar Jaya Tbk IKAI  Intikeramik alamasri Inds. Tbk  IKBI  Sumi Indo Kabel tbk IMAS  Indomobil Sukses Int I. Tbk INAF  Indofarma Tbk INAI  Indal Aluminiun Industri Tbk INCI  Intanwijaya Internasional Tbk INDR  Indorama Syntetics Tbk INDS  Indospring Tbk INRU  Toba Pulp Lestari Tbk ITMA  Itamaraya Tbk JECC  Jembo Cable Company Tbk JKSW  Jakarta Kyoei Steel Works Tbk JPFA  JAPFA Tbk KARW  Karwell Indonesia Tbk KBLI  KAMI Wire and Cable Tbk KBLM  Kabelindo Murni Tbk KBLV  First Media Tbk KBRI  Kertas Basuki Rachmat Ind. Tbk KDSI  Kedawung Setia Industrial Tbk KIAS  Keramik Indonesia Assosiasi KICI  Kedaung Indah Can Tbk LION  Lion Metal Works Tbk LMPI  Langgeng Makmur Plastic I Tbk  LMSH  Lion Mesh P Tbk LPIN  Multi Prima Sejahtera Tbk MAIN  Malindo Feedmill Tbk MASA  Multistrada Arah Sarana Tbk MERK  Merck Tbk MLBI  Multi Bintang Indonesia Tbk MLIA  Mulia Industrindo Tbk MRAT  Mustika Ratu Tbk MYOH  Myoh Tecnology Tbk MYOR  Mayora Indah Tbk MYRX  Hanson International Tbk NIPS  Nipress Tbk PAFI  Panasia Filament Tbk PBRX  Pan Brothers Tex Tbk PICO  Pelangi Indah Canindo Tbk POLY  Polysindo Eka Perkasa Tbk PRAS  Prima Alloy Steel Tbk PROD  Sara Lee Body Care Indonesia PSDN  Prasidha Aneka Niaga Tbk PTSN  Sat Nusapersada Tbk PYFA  Pyridam Farma Tbk RDTX  Roda Pipatex Tbk  RICY  Ricky Putra Globalindo Tbk SAIP  Surabaya Agung Industri P. Tbk SCCO  Supreme Cable Manufacture Co.
SCPI  Schering Plough Indonesia Tbk SIAP  Sekawan Intipratama Tbk SIMA  Siwani Makmur Tbk SIMM  Surya Intrindo Makmur Tbk SIPD  Sierad Produce Tbk SKBM  Sekar Bumi Tbk SKLT  Sekar Laut Tbk SMSM  Selamat Sempurna Tbk SQBI  Bristol-Myers Squibb Indonesia SQMI  Allbond makmur Usaha Tbk SRSN  Indo Acidatama Tbk SSTM  Sunson Textile Manufacture Tbk STTP  Siantar Top Tbk SUGI  Sugi Samapersada Tbk TALF  Tunas Alfin Tbk TBMS  Tembaga Mulia Semanan Tbk TCID  Mandom Indonesia Tbk TFCO  Teijin Indonesia Fiber Tbk TIRT  Tirta Mahakam Resources Tbk TOTO  Surya Toto Indonesia Tbk TPIA  Tri Polyta Indonesia Tbk TRST  Trias Sentosa Tbk ULTJ  Ultra Jaya Milk Tbk UNIC  Unggul Indah Cahaya Tbk UNIT  Nusantara Inti Corpora Tbk UNTX  Unitex Tbk VOKS  Voksel Electric Tbk YPAS  Yanaprima Hastapersada Tbk Sumber: www.idx.co.id (diolah)  4.  Tempat dan Waktu Penelitian a.  Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan situs www.idx.co.id.
b.  Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan sejak Oktober 2009 sampai dengan Maret  2010.
5.  Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang  bersumber dari data sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini  berupa data laporan keuangan perusahaan, antara lain neraca (balance sheet),  laporan laba / rugi (income statements), Ratio, diperoleh dari hasil publikasi  Bursa Efek Indonesia, media internet, buku-buku, dan jurnal referensi lainnya.
6.  Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka berupa literatur, jurnal,  skripsi, dan buku-buku referensi untuk mendapatkan gambaran masalah yang  diteliti serta mengumpulkan data sekunder yang diperlukan yaitu laporanlaporan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia.
7.  Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode  analisis deskriptif dan metode analisis statistic sebagai berikut:  a.  Metode Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data yang  dikumpulkan dan digolongkan kemudian dianalisis dan diinterpretasikan  secara obyektif.
b.  Metode Regresi Berganda Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari  Rasio Lancar, Perputaran Modal Kerja, dan  Debt to Equity Ratio  (DER)  terhadap Profitabilitas (ROE). Persamaan regresi berganda yang dipakai adaah  sebagai berikut: Y = a +b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Keterangan:  Y = Profitabilitas (ROE)  a = konstanta  X1 = Rasio Lancar  X2 = Perputaran Modal Kerja  X3 = Debt to Equity Ratio (DER)  b1  = Koefisien regresi variabel Rasio Lancar  b2  = Koefisien regresi variabel Perputaran Modal Kerja  b3  = Koefisien regresi variabel DER  e = error  Adapun syarat uji normalitas dan uji asumsi klasik yang harus dipenuhi  model regresi berganda sebelum data tersebut dianalisis adalah sebagai berikut: 1)  Pengujian Normalitas Uji normalitas atau distribusi normal dilakukan untuk mengetahui  apakah dalam suatu model regresi,  variabel  independen,  variabel dependen, atau keduanya berdistribusi normal atau tidak. Model regresi  yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Uji  ini dilakukan melalui kolmogorov-smirnov.
2)  Uji Multikolineritas Uji multikolineritas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya  hubungan linear antar variabel independen dalam satu model. Hubungan  linear antar variabel independen inilah yang disebut multikolineritas.
3)  Uji Autokorelasi Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi  antara variabel pengganggu pada periode tertentu dengan variabel  pengganggu periode sebelumnya. Jika terjadi autokorelasi maka dikatakan  ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang  bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi ini menggunakan uji Durbin  Watson (DW).
4)  Uji Heterokedastisitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah suatu model regresi terjadi  ketidaksamaan varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan  lainnya. Jika varians dari residual dari suatu pengamatan e pengamatan   lainnya tetap, maka disebut homokedastisitas, tetapi jika varians  residualnya berbeda disebut heterokedastisitas. Model yang baik adalah  tidak terdapat heterokedastisitas.
5)  Koefisien Determinasi Pengujian determinasi (R 2 ) akan menunjukkan besarnya persentase  sumbangan Modal Kerja, Perputaran modal kerja, dan DER terhadap  ROE, dimana 0<R 2 <1. Hal ini berarti bahwa nilai R 2  semakin mendekati 1  merupakan indicator yang menunjukkan semakin kuatnya pengaruh  variabel independen terhadap variabel dependen.
c.  Pengujian Hipotesis Uji Hipotesis berguna untuk memeriksa atau menguji apakah koefisien  regresi yang didapat signifikan. Ada dua jenis koefisien regresi yang dapat  dilakukan, yaitu uji-F dan uji-t.
1)  Uji-F (Uji Signifikansi Simultan) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua varabel bebas  secara simultan dapat diterima menjadi model penelitian terhadap variabel  terikat.
Bentuk pengujiannya adalah: Ho : b1 = b2 = b3 = 0, artinya secara simultan variabel Rasio Lancar,  perputaran modal kerja, dan DER tidak memenuhi model penelitian.
Ha : Tidak semua bi (b1,b2,b3) sama dengan nol, maka dianggap variabel  independen telah memenuhi model penelitian terjadap variabel dependen.
Kriteria pengambilan keputusan:  H0 diterima jika Fhitung ≤ Ftabel pada α = 5% Ha diterima jika Fhitung > Ftabel pada α = 5% 2)  Uji-t (Uji Parsial) Digunakan untuk menguji koefisien regresi secara individual. Pengujian  ini dilakukan untuk mengetahui apakah  secara parsial masing-masing  variabel bebas mempunyai pengaruh signifikan atau tidak terhadap  variabel terikat. Setelah didapat nilai thitung maka selanjutnya nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel. Bentuk pengujiannya sebagai berikut: H0 : b1 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel Raso  Lancar, terhadap ROE secara parsial.
Ha : b1 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel Rasio Lancar  secara parsial terhadap variabel ROE H0  : b2  = 0,artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel  Perputaran Modal Kerja secara parsial terhadap variabel ROE Ha : b2 ≠  0,artinya  terdapat  pengaruh  signifikan  dari  variabel  Perputaran  Modal Kerja secara parsial terhadap variabel ROE H0 : b3 = 0, artinya tidak terdapat pengartuh signifikan dari variabel DER  secara persial terhadap ROE Ha : b3 ≠ 0,artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel DER secara  parsial terhadap variabel ROE Pada penelitian ini thitung  akan dibandingkan dengan ttabel  pada tingkat  signifikansi (α) = 5% Kriteria pengambilan keputusan:  H0 diterima jika - ttabel ≤ thitung ≤ ttabel pada α = 5% Ha diterima jika - ttabel > thitung> ttabel pada α = 5%    

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi