Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PENGARUH RASIO HUTANG TERHADAP EARNING PER SHARE (EPS) PADA PERUSAHAAN PROPERTI



BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
 Pasar modal merupakan tempat terjadinya transaksi aset keuangan jangka  panjang atau long term financial assets antara investor dan perusahaan dengan  risiko untung dan rugi  (Sartono, 2001:21). Pasar modal merupakan sarana  perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual  saham atau mengeluarkan obligasi. Untuk menarik pembeli dan penjual untuk  berpartisipasi, pasar modal harus bersifat likuid dan efisien. Suatu pasar modal  dikatakan likuid jika penjual (perusahaan) dapat menjual dan pembeli (investor)  dapat membeli surat-surat berharga dengan cepat. Pasar modal dikatakan efisien  jika harga dari surat berharga mencerminkan nilai dari perusahaan secara akurat.

(Jogiyanto, 2003:15) Keputusan pendanaan dan invetestasi (baik jangka panjang maupun jangka  pendek) tentu  saja saling berkaitan. Jumlah investasi menentukan jumlah  pendanaan yang harus diperoleh, dan para investor yang berkontribusi mendanai  saat ini mengharapkan pengembalian investasi di masa depan. Oleh sebab itu,  investasi yang dilakukan perusahaan saat ini harus menghasilkan pengembalian di  masa depan untuk dibayarkan kepada para investor. Semakin tinggi pengembalian  maka minat investor akan semakin tinggi pada investasi tersebut. Investor perlu  mengetahui apakah investasi tertentu akan memberikan pengembalian yang wajar.
Oleh karena itu, investor memerlukan informasi yang relevan dalam  pengembalian keputusan investasinya. Dalam hal ini, laporan keuangan sebagai  informasi akuntansi menjadi  sumber informasi bagi investor  (Brealey, dkk.,  2007:7) Tingkat pengembalian yang merupakan nilai dari sebuah perusahaan  tercermin dari beberapa rasio salah satunya adalah nilai Earning Per Share (EPS).
EPS merupakan nilai dari laba yang tersedia bagi pemegang saham, yaitu laba  bersih (Earning After Tax / EAT) dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
Semakin tinggi nilai EPS hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin sehat  dan akan menjadi faktor yang memotivasi para investor untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan (Walsh, 2004: 150).
Manajer keuangan memiliki peran terhadap penggalangan dana, investasi  dalam aktiva, dan pengelolaan aktiva secara bijak. Keputusan pendanaan menjadi  hal yang sangat penting untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi bagi pemegang saham. Keputusan pendanaan ini menyangkut apakah perusahaan  menggunakan hutang lebih banyak atau modal sendiri (Brealey, dkk., 2007:3).
Penggunaan hutang yang lebih besar biasanya akan menyebabkan terjadinya  ekspektasi tingkat pengembalian atas ekuitas yang tinggi, tetapi di sisi lain hutang  akan meningkatkan risiko bagi pemegang saham.
Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi EPS, dalam penelitian ini  digunakan rasio hutang yang terdiri dari Debt to Total Asset ratio (DAR ) dan Debt to Equity Ratio (DER).  DAR merupakan rasio yang mengukur jumlah aktiva  perusahaan yang dibiayai oleh hutang atau modal yang berasal dari kreditur.DER  merupakan perbandingan hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan  menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh  kewajibannya.
DAR dan DER yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan  hutang yang tinggi. Kedua rasio ini memberitahu kita proporsi relatif kontribusi  modal oleh kreditor dan oleh pemilik, untuk menggambarkan kemampuan  perusahaan untuk menggunakan aktiva atau dana yang mempunyai beban tetap  (fixed cost assets or funds)  untuk memperbesar EPS  bagi pemilik  saham  perusahaan  (Van Horne  dan Wachowicz, 2005: 210).  Dengan memperbesar  tingkat rasio  hutang  maka hal ini akan berarti bahwa tingkat  ketidakpastian  (uncertainty) atau risiko dari EPS yang akan diperoleh akan semakin tinggi pula.
Rasio hutang memliki pengaruh terhadap EPS karena penggunaan hutang  akan mengurangi beban atas pajak sehingga menghasilkan EPS yang lebih besar.
Keputusan penggunaan hutang akan mempengaruhi kondisi kesehatan  perusahaan. Perusahaan akan semakin sehat dan dapat meningkatkan EPS apabila  perusahaan dapat memperoleh laba yang lebih besar daripada beban bunga yang  harus dibayar. Dan sebaliknya EPS akan negatif apabila laba yang diperoleh lebih  kecil daripada beban bunga atas hutang.
Laba yang diperoleh perusahaan pada satu periode tidak selalu dibagikan  kepada pemegang saham, ada kalanya laba yang diperoleh diinvestasikan kembali  dalam bentuk laba ditahan. Hal ini tergantung kepada keputusan perusahaan.
Tingkat  hutang  berbeda-beda antar perusahaan yang satu dengan perusahaan  lainnya, atau dari satu periode ke periode lainnya di dalam satu perusahaan  (Syamsuddin, 2007:89).
Subjek penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan emiten sektor properti.
Perusahaan-perusahaan sektor properti merupakan salah satu alternatif investasi  yang diminati investor dimana investasi di sektor properti merupakan investasi  jangka panjang dan properti merupakan aktiva multiguna yang dapat digunakan  oleh perusahaan sebagai jaminan.
Faktor utama yang dapat menghambat bisnis properti adalah tingginya  suku bunga KPR, kenaikan harga bahan bangunan, tinginya tingkat pajak dan  sulitnya perijinan atau birokrasi. Pada kenyataannya pada tahun 2009 suku bunga  dana mengalami penurunan sampai tahun 2010 menjadi sebesar 6,62 %. Suku  bunga kredit diperkirakan turut mengalami penurunan di tahun di tahun 2010  dengan tingkat suku bunga terendah pada kredit modal kerja sebesar 13,66 %. Hal  ini memicu semakin berkembangnya bisnis properti dan real di Indonesia.
Adapun rata-rata Debt to Total Asset Ratio (DAR) dan Debt to Equity  Ratio (DER) dan Earning Per Share (EPS) perusahaan sektor properti dan real  estate pada periode tahun 2006 sampai tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.1  berikut: Tabel 1.1 Data Debt to Total Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio(DER), dan  Rata–Rata Earning Per Share (EPS) Perusahaan Sektor Properti  yang Terdaftar di BEI Pada Tahun 2006 – 2009 NO  TAHUN  DAR  DER  EPS 1  2006  0.46  1.30  40.35 2  2007  0.49  1.49  19.22 3  2008  0.47  1.27  12.15 4  209  0.45  1.03  34.67 Sumber : www.idx.co.id (Diolah) Dari data pada tabel 1.1, kita dapat memperhatikan bahwa pada tahun  2006 DAR dan DER sebesar 0.46 dan 1.3 meningkat menjadi 0.49 dan 1.49 pada  tahun 2007 tetapi EPS menurun dari 40.35 pada tahun 2006 menjadi 19.22 pada  tahun 2007. Pada tahun 2007 DAR dan DER sebesar 0.49 dan 1.49 menurun pada  tahun 2008 menjadi 0.47 dan 1.27, dan EPS menurun dari 19.22 pada tahun 2007  menjadi 12.15 pada tahun 2008. Berdasarkan fluktuasi nilai DAR, DER, dan EPS  ini dapat diimpulkan bahwa pada periode tahun 2006 sampai 2009, peningkatan  dalam   DAR dan DER tidak selalu diikuti dengan peningkatan EPS, dan  sebaliknya penurunan dalam DAR dan DER tidak selalu diikuti oleh penurunan  return.
Berdasarkan fenomena ini, penulis merasa tertarik untuk melakukan  penelitian yang akan menganalisis pengaruh rasio hutang terhadap EPS  perusahaan sektor properti yang terdaftar di BEI pada tahun 2006 sampai 2009.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka penulis  merumuskan permasalahan sebagai berikut: ”Apakah rasio hutang yang terdiri  dari Debt to Total Asset   Ratio  (DAR)  dan   Debt to Equity Ratio (DER)  berpegaruh terhadap Earning Per Sahare (EPS) perusahaan sektor properti  yang terdaftar di BEI pada peride tahun 2006-2009” C. Kerangka Konseptual a. Earning Per Share (EPS) EPS merupakan rasio untuk melihat pengembalian saham bagi pemegang  saham biasa untuk setiap lembar saham yang diinvestasikan. (Van horne dan  Wachowicz, 2005:450). Perubahan dalam penggunaan hutang akan  mengakibatkan perubahan laba per saham. Menguntungkan atau tidaknya suatu  penggunaan hutang, dinilai dalam hal pengaruhnya terhadap EPS bagi pemegang  saham, yaitu apabila EPS mengalami peningkatan . Hal yang perlu  dipertimbangkan agar hutang yang digunakan dapat memberikan pengaruh positif  terhadap EPS adalah batasan proporsi hutang yang aman bagi perusahaan dan laba  yang harus diperoleh oleh perusahaan agar laba bisa menutupi semua bunga  hutang.
b. Debt to Total Asset Ratio (DAR)  Debt to Total Asset Ratio (DAR) merupakan rasio hutang yang mengukur  seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (Syamsuddin,  2007;540.  Semakin tinggi DAR  semakin besar jumlah modal pinjaman yang  digunakan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Umumnya, lebih banyak hutang perusahaan yang digunakan dalam kaitannya  dengan total aktiva, maka akan semakin besar tingkat pengembalian dan risiko  yang diharapkan (Sundjaja; 2003:139) b. Debt to Total Equity Ratio (DER)  Debt to Total Equity Ratio (DER) menggambarkan perbandingan hutang  dengan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan  modal sendiri perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. (Van Horne dan  Wachowicz, 2005:209). DER merupakan salah satu rasio yang dibutuhkan oleh  investor . Investor perlu mengetahui kesehatan perusahaan melalui perbandingan  antara modal pinjaman dan modal sendiri. Jadi investor harus selalu mengikuti  perkembangan rasio ekuitas terhadap rasio hutang. Semakin tinggi DER berarti  semakin besar hutang  yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan  keuntungan bagi pemegang saham biasa.Rasio DER yang semakin tinggi harus  diikuti oleh kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba agar bisa menutupi  beban sehingga  EPS meningkat.
Kerangka Konseptual dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1.1 : Kerangka Konseptual  Sumber  :Brigham (2001); Syamsuddin (2007); Warsono  (2003), diolah  D. Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah merupakan dugaaan sementara dari permasalahan dalam  penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa Rasio hutang yang  terdiri dari Debt to Total Asset Ratio dan Debt to Equity Ratio berpengaruh  secara signifikan terhadap EPS perusahaan sektor properti yang terdaftar  di BEI pada tahun 2006 sampai 2009 DER ( DAR ( ) EPS ( Y) E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Sesuai latar belakang masalah yang telah diuraikan, penelitian ini  bertujuan untuk melihat   pengaruh rasio hutang yang terdiri dari Debt to Total  Asset Ratio dan Debt to Equity Ratio terhadap EPS pada perusahaan sektor  properti yang terdaftar di BEI periode tahun 2006 sampai 2009 2. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut,yaitu: 1.  Bagi Peneliti  Penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan penulis tentang pengaruh  rasio hutang terhadap EPS.
2.  Bagi Perusahaan Sebagai sumber informasi dan masukan bagi perusahaan untuk menganalisis  penggunaan rasio hutang dalam aktivitas perusahaan.
3.  Bagi Investor dan Masyarakat Sebagai sumber informasi dan dapat membantu pihak-pihak yang terlibat  dalam perusahaan untuk dapat digunakan dalam pengambilan keputusan  investasi, terutama untuk berspekulasi  dengan return saham yang dapat  diperoleh dari perusahaan.
4.  Bagi peneliti Selanjutnya Penelitian ini diharapan dapat menjadi sumbangan pikian dan dapat membantu  untuk pihak yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.
F. Metodologi Penelitian 1. Batasan Operasional Adapun batasan operasional penelitian ini adalah hanya untuk melihat  pengaruh dari rasio hutang yang terdiri dari Debt to Total Asset  Ratio dan Debt to  Equity Ratio sebagai variabel independen terhadap EPS sebagai variabel dependen  pada perusahaan properti  yang terdaftar di BEI dengan memakai laporan  keuangan pada periode tahun 2006 sampai 2009 yang telah diaudit. Perusahaan  yang diteliti benar-benar menggunakan hutang sebagai salah satu sumber  pendanaan perusahaan.
2. Defenisi Operasional a. Variabel Independen (bebas) = X 1.  Debt to Total Asset Ratio (DAR= )  Debt to Total Asset Ratio (DAR) merupakan rasio yang mengukur seberapa  besar perusahaan menggunakan hutang dalam struktur modalnya. Rumus Van  Rumus (Van Horn, 2005 : 209) : DAR =  2. Debt to Equity Ratio (DER =  ) Debt to Total Equity Ratio (DER) menggambarkan perbandingan hutang  dengan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan  modal sendiri perusahaan untuk memenuhi kewajiban nya Rumus (Van Horn, 2005:209) DER =  3. EPS (Y) EPS merupakan informasi tentang laba yang diperoleh pemegang saham  biasa atas setiap lembar saham yang dimiliki.
Rumus (Walsh, 2004: 151) Keterangan: = Earning Per Share (laba Per lembar saham) = Earning After tax (laba setelah pajak) 3. Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari subjek atau objek  yang memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang dikumpulkan dari satuan  individu yang membentuk suatu data statistik yang akan dipelajari oleh peneliti,  kemudian akan ditarik suatu kesimpulan. Adapun jumlah populasi dalam  penelitian ini adalah seluruh emiten perusahaan properti yang terdaftar di BEI  pada periode tahun 2006 sampai 2009. Penelitian ini menggunakan sampel  dimana sampel adalah keseluruhan perusahaan sektor properti yang berada dalam  kurun waktu yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Kriteria perusahaan yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini  adalah: 1.  Perusahaan terdaftar (listing) di BEI dan tidak pernah disuspend selama  periode tahun 2006 sampai 2009.
2.  Perusahaan mempublikasikan laporan keuangannya yang telah diaudit  menggunakan tahun buku berakhir pada 31 Desember.
3.  Perusahaan menggunakan hutang .
Tabel 1.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Sampel NO  Karakteristik Sampel  Jumlah 1.
Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdatar  di BEI tahun 2006-2009 40 2.
Perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan  lengkap pada tahun 2006-2009 (22) Jumlah Sampel  18 Adapun perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah  18 perusahaan, dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1.3 Sampel Penelitian No Kode  Perusahaan Nama Perusahaan 1  LPKR  PT. Lippo Karawaci Tbk 2  CTRS  PT. Ciputra Surya Tbk 3  SIIP  PT. Surya Inti Permata Tbk 4  SMRA  PT. Sumarecon Agung Tbk 5  DUTI  PT. Duta Pertiwi Tbk 6  ELTY  PT. Bakrieland Tbk 7  JRPT  PT. Jaya Properti Tbk  8  GMTD  PT. Gowa Makasssar Tourism Development Tbk 9  LAMI  PT. Lamicitra Nusantara  10  MDLN  PT. Modernland Realty Tbk 11  BIPP  PT. Buwanaala Indah Permai Tbk 12  BKSL  PT. Sentul City tbk 13  JIHD  PT. Jakarta International Hotel And Development Tbk 14  KIJA  PT. Kawasan Industri Jababeka Tbk 15  PWON  PT. Pakuwon Jati Tbk 16  SMDM  PT. Suryamas Dutamakmur Tbk 17  CKRA  PT. Citra Kebun Raya Agri Tbk 18  OMRE  PT. Indonesia Prima Properti Tbk 4. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui media internet di Bursa Efek Indonesia  dengan situs www.idx.co.id, www.idsaham.com, www.duniainvestasi.com, mulai  dari pertengahan bulan agustus 2010 sampai Januari 2011.
5. Jenis Data Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang meliputi  semua data akuntansi, yaitu laporan keuangan periode 2006 sampai 2009 yang  diperoleh dari situs www.idx.co.id, www.idsaham.com www.duniainvestasi.com,  buku-buku referensi, jurnal-jurnal penelitian, surat kabar dan literatur lainnya  yang berkaitan dengan pembahasan permasalahan dalam penelitian ini.
6. Teknik Pengumpulan Data  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: 1. Pengumpulan data pendukung, yang dapat diperoleh dari penelitian terdahulu,  laporan yang dipublikasikan, dan pendapat para ahli yang bersumber dari  buku-buku teks dan literature serta dari jurnal-jurnal terkait dengan  permasalahan penelitian ini.
2. Penelitian secara tidak langsung yang dilakukan dengan meneliti ke Bursa Efek  Indonesia melalui situs  www.idx.co.id,  www.idsaham.com www.duniainvestasi.com. Situs ini diperlukan untuk mendapatkan laporan  keuangan perusahaan setiap tahunnya dan informasi lainnya yang  berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian ini.
7. Metode Analisis Data Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan analisis statistik.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tahap-tahap  sebagai berikut : a. Metode Analisis Deskriptif Metode deskriptif dilakukan dengan menentukan, mengumpulkan,  mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan data sehingga memberikan  gambaran yang objektif dari masalah yang dianalisis untuk menjelaskan objek.
b. Metode Analisis Statistik Sebuah model regresi linear berganda harus memenuhi uji normalitas dan  uji asumsi kasik, yaitu: 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah dalam satu regresi variable  dependen dan variable independen keduanya saling berdistribusi normal atau  tidak. Model regresi yang baik adalah model yang berdistribusi normal. Uji  dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov.
2. Uji Asumsi Klasik atau Kriteria BLUES (Best Linear Unbiased Estimator) a. Uji Heteroskedastisitas Uji ini dilakukan untuk melihat apakah dalam satu regresi terdapat  perbedaan varians dari residual antara satu pengamatan dengan pengamatan  lainnya. Model yang baik adalah model yang tidak terkena heteroskedastisitas,  oleh karena itu model harus homokedastisitas. Alat analisis untuk menguji  heterokedastisitas yakni dengan uji Glejser dengan melihat tingkat  signifikansinya, jika berada di atas nilai tingkat  kepercayaan    =  5  %)  maka  dalam model regresi tidak terjadi heterokedastisitas  b. Uji Multikolinearitas Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan linear antar variabel  independen dalam satu model. Model yang baik adalah model yang tidak terkena  multikolinearitas. Uji ini menggenakan batas tolerance value dan VIF (Variance  Inflation Factor)dengan ketentuan dalam buku Situmorang (2010:101)  Tolerance value < 0,1 atau VIF >5 = terdapat multikolinearitas Tolerance value >0,1 atau VIF  <5 = tidak terdapat multikolinearitas c. Uji Autokorelasi Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada korelasi antara variable  pengganggu pada periode tertentu dengan variable sebelumnya. Model yang baik  adalah model yang tidak terkena autokorelasi. Uji ini menggunakan Run Test.
Kaidah keputusan daari metode ini adalah tidak menolak hipotesis nol apabila  taksiran R berada pada jarak interval dan menolak hipotesis nol apabila taksiran R  di luar batas interval.
3. Analisis Linier Berganda Hubungan antaravariabel dependen dan variable independen dengan  metode regresi linier berganda dinyatakan dengan rumus : Y = a +  +  + e Dimana: Y = EPS a = Konstanta = (DAR) Debt to Total Asset Ratio = (DER) Debt to Total Equity Ratio = koefisien regresi variabel DAR = koefisien regresi variabel DER e = error  c. Pengujian Hipotesis Uji hipotesis digunakan untuk melihat apakah koefisien regresi  yang  diperoleh signifikan. Jenis koefisien regresi yang digunakan adalah : 1. Uji F (Uji Siginikansi Simultan) Uji ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel independen  memiliki pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen dan dapat diterima  sebagai model penelitian.
Bentuk pengujiannya adalah: H0 :   =  = 0, artinya secara simultan variabel DAR, DER tidak memenuhi  model penelitian.
Ha :    sama dengan 0 artinya secara simultan variabel DAR, DER  berpengaruh signifikan terhadap EPS. Maka dianggap variabel independen telah  memenuhi model penelitian. Kriteria Pengambilan Keputusan: Ho diterima jika F hitung ≤ F tabel pada α = 5 % Ha diterima jika F hitung > f tabel pada α = 5 % 2. Uji-t (Uji Parsial) Uji ini digunakan untuk menguji koefisien regresi secara individual. Uji  untuk melihat apakah secara parsial variabel independen memiliki pengaruh  signifikan terhadap variabel dependen. Setelah nilai t hitung didapat maka  selanjutnya nilai t hitung dan t tabel dibandingkan.
Bentuk pengujiannya adalah : Ho :   = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel DAR secara  parsial terhadap variabel EPS  Ha :   ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel DAR secara parsial  terhadap variabel EPS Ho :   = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel DER secara  parsial terhadap variabel EPS Ha :   ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel DER secara parsial  terhadap variabel EPS Pada penelitian ini t hitung dan t tabel akan dibandingka dengan α = 5 % Kriteria Pengambilan Keputusan: Ho diterima jika      pada α = 5 % Ha diterima jika  >   atau     pada α = 5 % 3. Uji Koefisien Determinan ( ) Uji koefisien determinan ( ) bertujuan untuk melihat seberapa besar  pengaruh masing-masing variabel bebas yaitu Debt to Total Asset Ratio dan Debt  to Equity Ratio terhadap variabel dependen Earning Per Share pada perusahaan  properti pada periode tahun 2006-2009. Koefisien determinan ( ) berkisar antara  nol sampai dengan satu (0 . Bila   mendekati nol, maka pengaruh dari  variabel bebas yaitu variabel Debt to Total Asset Ratio dan Debt to Equity Ratio terhadap variabel Earning Per Share adlah kecil. Bila   mendekati 1, maka  pengaruh dari variabel bebas yaitu variabel Debt to Total Asset Ratio dan Debt to  Equity Ratio adalah besar.   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi