BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bidang keuangan merupakan
bidang yang sangat penting dalam perusahaan.
Banyak perusahaan yang berskala besar atau kecil, akan mempunyai perhatian besar di bidang keuangan, karena
dari bidang tersebut juga dapat mengevaluasi
apakah kebijakan yang ditempuh suatu perusahaan sudah tepat atau belum,
terutama dalam perkembangan dunia usaha yang semakin maju, persaingan antara satu perusahaan dengan
perusahaan lainnya semakin ketat, belum
lagi kondisi perekonomian yang tidak menentu menyebabkan banyaknya perusahaan yang tiba-tiba mengalami
kebangkrutan karena faktor keuangan yang tidak sehat. Oleh karena itu, agar perusahaan
dapat bertahan atau bahkan bisa tumbuh
dan berkembang perusahaan harus mencermati kondisi keuangannya supaya meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Maka diperlukan analisis yang tepat untuk
merealisasikannya.
Salah satu alat
yang dapat dipakai untuk menilai kinerja perusahaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan
hasil pengumpulan dan pengolahan data
keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar lainnya yang sehingga dapat digunakan
untuk membantu para pemakai di dalam
menilai kinerja perusahaan sehingga dapat mengambil keputusan yang Analisis keuangan pada dasarnya ingin melihat prospek dan risiko perusahaan. Prospek
bisa dilihat dari tingkat keuntungan
(profitabilitas) dan risiko bisa dilihat dari kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau mengalami
kebangkrutan. (Hanafi,2005:21).
tepat. Laporan keuangan digunakan oleh manajer
untuk meningkatkan kinerja, oleh
kreditor untuk mengevaluasi kemungkinan dibayarnya pinjaman, dan oleh pemegang saham untuk meramalkan laba, deviden
dan harga saham.
Ada beberapa metode
analisis yang digunakan dalam menganalisislaporan keuangan, salah satu diantaranya adalah metode
analisis rasio keuangan, yaitu metode
analisis dengan cara menghubungkan dan membandingkan pos-pos yang terdapat di dalam laporan keuangan. Dari
analisis rasio ini akan dapat diperoleh gambaran
tentang keadaan keuangan perusahaan seperti kondisi likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, leverage, dan
sebagainya dari perusahaan yang bersangkutan. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh
dari hasil perbandingan dari satu pos
laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan
(berarti). Misalnya antara utang dan
modal, antara kas dan total aset, dan sebagainya (Syafri, 2009: 297).
Analisis laporan
keuangan akan memberikan hasil yang terbaik jika digunakan dalam suatu kombinasi untuk
menunjukkan suatu perubahan kondisi keuangan
atau kinerja operasional selama periode tertentu, lebih lanjut dapat memberikan gambaran trend dan pola perubahan,
yang pada akhirnya bisa memberikan indikasi adanya risiko dan peluang bisnis
(Kuncoro dan Suhardjono, 2002:557).
Menurut Munawir
(2007:31), dalam menganalisis dan menilai posisi keuangan dan potensi atau kemajuan-kemajuan
perusahaan, faktor yang paling utama
untuk mendapatkan perhatian oleh penganalisa adalah; (1) Likuiditas, (2) Solvabilitas, (3) Rentabilitas atau
Profitabilitas, dan (4) Stabilitas Usaha. Hal ini disebabkan karena rasio likuiditas memberikan
gambaran tentang kemampuan perusahaan
tersebut untuk membayar utang jangka pendek yang segera jatuh tempo, dan rasio solvabilitas digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan untuk
membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan
(dilikuidasi). Sedangkan kemampuan perusahaan
untuk memperoleh laba pada suatu periode tertentu dapat dilihat dari tingkat profitabilitas perusahaan yang
bersangkutan.
Laporan keuangan
bagi para kreditur dan orang-orang yang berkepentingan dalam laporan keuangan tersebut
yang terpenting adalah faktor rentabilitas,
karena rentabilitas ini merupakan jaminan yang utama bagi para kreditur tersebut dengan tanpa mengabaikan
faktor-faktor lainnya. Betapapun besarnya
likuiditas atau solvabilitas suatu perusahaan, kalau perusahaan tersebut tidak mampu menggunakan modalnya secara
efisien atau tidak mampu memperoleh laba
yang besar, maka perusahaan tersebut pada akhirnya akan mengalami kesulitan keuangan dalam
mengembalikan hutang-hutangnya.
Perusahaan untuk
meningkatkan kemampuan dalam memperoleh laba maka manajemen perusahaan harus dapat
melaksanaakan aktivitasnya dengan efektif.
Semakin efektif perusahaan dalam penggunaan aktivanya maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan untuk
memperoleh laba. Alat yang digunakan untuk
mengukur keefektifan manajemen perusahaan dalam menggunakan aktivanya adalah dengan menggunakan rasio
aktivitas.
Return on
Equity(ROE) bisa dikatakan sebagai rasio yang paling penting dalam keuangan perusahaan. ROE mengukur
pengembalian absolut yang akan diberikan
perusahaan kepada para pemegang saham. Suatu angka ROE yang bagus akan membawa keberhasilan bagi
perusahaan, yang mengakibatkan tingginya
harga saham dan membuat perusahaan dapat dengan mudah menarik dana baru. Hal itu juga memungkinkan
perusahaan untuk berkembang, menempatkan
kondisi pasar yang sesuai, dan pada gilirannya akan memberikan laba yang lebih besar. Semua hal tersebut
dapat menciptakan nilai yang tinggi dan pertumbuhan
yang berkelanjutan atas kekayaan para pemiliknya (Walsh, 2004:56).
Analisis dan
interpretasi dari macam-macam rasio dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentang kinerja
perusahaan dibandingkan analisis yang hanya
didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak berbentuk rasio.
Jenis analisis
bervariasi sesuai dengan kepentingan pihak-pihak yang melakukan analisis.
Ada dua perusahaan
perkebunan milik Negara yang ada di Propinsi Sumatera Utara yang memiliki luas lahan
terbesar yaitu PT. Perkebunan Nusantara
III (PTPN III), dan PT. Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV). PTPN III (Persero) merupakan salah satu Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang termasuk pada
perusahaan yang memiliki laba paling tinggi pada saat sekarang ini. Komoditi-komoditi utama dari perseroan
ini adalah kelapa sawit, karet dan kakao
dengan luas lahan ±160.000Ha. Sedangkan PTPN IV dengan luas lahan ±175.245Ha yang mengusahakan komoditi kelapa
sawit, kakao dan teh (Sumber: Pusat
Informasi BUMN Perkebunan).
Penelitian
Mahdi (2009) tentang analisis
keuangan PTPN III menyimpulkan bahwa
pihak manajemen perusahaan mempunyai kemampuan untuk menciptakan peningkatan nilai
perusahaan. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan pendapatan usaha yang cukup baik
yang juga mempengaruhi dalam memperoleh laba walaupun juga terjadi peningkatan
biayadan perusahaan telah menghasilkan
return yang melebihi biaya modal yang
harus ditanggung perusahaan.
Irma (2009)
meneliti tentang analisis kinerja keuangan PTPN IV.
Meyimpulkan
bahwa PTPN IV kurang mampu memaksimalkan
dalam penggunaan aktiva dan modal
perusahaan, sehingga mengakibatkan perusahaan tidak
dapat menekan biaya modalnya dan juga dalam memaksimalkan laba perusahaan.
Penelitian
pendahuluan menemukan perbedaan pada
tingkat ROE pada PTPN III dan PTPN IV
selama periode 2005-2008. Dalam penelitian ini, tahun 2005 diambil sebagai tahun dasar (tahun
pembanding).
Tabel 1.1 ROE PTPN III dan PTPN IV tahun 2005-2008 Tahun PTPN III
PTPN IV 2005 38,06 16,89 2006
22,74 10,50 2007 36,90
29,55 2008 33,44 32,11 Sumber: Laporan Keuangan PTPN III dan
PTPN IV(data diolah) PadaTabel 1 selama
kurun waktu 2005-2008 PTPN III lebih efektif dalam pemanfaatan modalnya dibandingkan dengan PTPN
IV, hal ini terlihat pada nilai ROE PTPN
III yang selama tahun 2005-2008 rata-rata kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modalnya sebesar
32,785%, sedangkan PTPN IV hanya menghasilkan
22,262%.
PTPN III dan PTPN
IV memiliki perbandingan lahan yang tidak begitu berbeda, sama-sama berada di Propinsi Sumatera
Utara, yang memiliki ko moditi utama
yang sama yaitu kelapa sawit, dan merupakan PTPN yang memiliki laba terbesar dari PTPN lainnya yang ada di
Sumatera Utara. Oleh sebab itu, Berdasarkan dari fenomena yang terjadi, perlu
dianalisis lebih dalam laporan keuangan
pada PTPN III dan PTPN IV dengan melihat rasio-rasio penggerak lainnya, dilakukan penelitian yang berjudul
“Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan
Perusahaan Perkebunan PT. Perkebunan Nusantara III dan PT.
Perkebunan
Nusantara IV Pada Periode 2005 – 2008”.
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar
belakang penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan pokok
permasalahan dalampenelitian ini adalah:
1. Bagaimana Perbandingan Rasio
Likuiditas antara PT Perkebunan Nusantara III dan PT Perkebunan Nusantara IV
selama periode 2005 sampai 2008.
2. Bagaimana
Perbandingan Rasio Solvabilitas antara PT Perkebunan Nusantara III dan PT Perkebunan Nusantara IV
selama periode 2005 sampai 2008.
3. Bagaimana
Perbandingan Rasio Profitabilitas antara PT Perkebunan Nusantara III dan PT Perkebunan Nusantara IV
selama periode 2005 sampai 2008.
4. Bagaimana
Perbandingan Rasio Aktivitas anatara PT
Perkebunan Nusantara III dan PT
Perkebunan Nusantara IV selama periode 2005 sampai 2008.
C. Kerangka
Konseptual Kinerja keuangan perusahaan
berhubungan mengenai kemampuan keuangan perusahaan dalam melaksanakan
fungsinya yaitu sebagai sumber pendanaan
dan mengatur semua pendanaan tersebut untuk seluruh kegiatan perusahaan dengan efektif dan efisien. Kinerja
keuangan perusahaan tentu saja sangat
bergantung dari operasional perusahaan itu sendiri. Dengan kata lain, makin baik operasional perusahaan, makin baik
pula kinerja keuangan perusahaan yang
akan tercemin di laporan keuangan. Bagi yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan sangatlah perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut, dan
kondisi keuangan perusahaan akan dapat
diketahui dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Laporan keuangan
merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan
keuangan atau ikhtisar lainnya yang
sehingga dapat digunakan untuk membantu para pemakai di dalam menilai kinerja perusahaan sehingga dapat mengambil
keputusan yang tepat. Ada beberapa
metode analisis yang digunakan dalam menganalisa laporan keuangan, salah satu diantaranya adalah metode analisis
rasio keuangan, yaitu metode analisis
dengan cara menghubungkan dan membandingkan pos-pos yang terdapat di dalam laporan keuangan. Rasio keuangan yang
sering dipakai untuk menganalisis
kinerja keuangan pada perusahaan yakni: rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas (Sawir,
2005:7).
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan
untuk menyelesaikan kewajiban
jangka pendeknya. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya
berarti perusahaan tersebut dalam keadaan
likuid, dan perusahaan dikatakan mampu memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya apabila perusahaan
tersebut mempunyai alat pembayaran ataupun
aktiva lancar yang lebih besar dari pada
hutang lancarnya. Dalam penelitian ini, rasio likuiditas diwakili oleh
Quick Ratio, dan Cash Ratio.
Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban
jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibanya apabila perusahaan dilikuidasi. Dalam penelitian ini,
rasio solvabilitas diwakili oleh Debt to
Assets (DTA), dan Debt to Equity (DER).
Rentabilitas atau
profitabilitas menggambarakan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan
sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah cabang,
dan sebagainya. Rentabilitas sering
digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan dengan memperbandingkan anatara
laba dengan modal yang digunakan dalam
operasi, oleh karena itu keuntungan yang besar tidak menjamin atau bukan merupakan ukuran bahwa perusahaan
tersebut rendabel. Maka, bagi manajemen
atau pihak-pihak lain, rentabilitas yang tinggi lebih penting daripada keuntungan yang besar. Dalam penelitian ini,
rasio profitabilitas diwakili oleh Return
on Investment (ROI), dan Return on Equity (ROE).
Rasio Aktivitas
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan
aktiva yang dimilikinya atau rasio ini digunakan
untuk mengukur tingkat efisiensi (efektifitas) pemanfaatan seumber daya perusahaan. Dalam penelitian ini, rasio
aktivitas diwakili oleh Fixed Assets Turn
Over, dan Total Assets Turn Over.
Adapun kerangka konseptual yang menjadi dasar
penelitian ini untuk memperbandingkan
kinerja keuangan adalah sebagai berikut.
Sumber: Sawir,
dimodifikasi Gambar 1.1: Kerangka Konseptual D. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian
oleh karena jawaban yang diberikan masih berdasar pada teori yang relevan belum berdasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan
data (Sugiyono, 2003:51) Berdasarkan
rumusan masalah dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka penelitian
mengajukan hipotesis bahwa: 1. Terdapat
perbedaaan Rasio Likuiditas yang signifikan
antara PT Perkebunan Nusantara
III dan PT Perkebunan Nusantara IV selama periode 2005 sampai 2008.
2. Terdapat perbedaaan Rasio Solvabilitas yang
signifikan antara PT Perkebunan
Nusantara III dan PT Perkebunan Nusantara IV selama periode 2005 sampai 2008 PTPN III Rasio
Likuiditas Rasio Solvabilitas Rasio Profotabilitas
Rasio Aktivitas PTPN IV Rasio Likuiditas
Rasio Solvabilitas Rasio Profotabilitas Rasio
Aktivitas 3. Terdapat perbedaaan Rasio Profitabilitas yang
signifikan antara PT Perkebunan
Nusantara III dan PT Perkebunan Nusantara IV selama periode 2005 sampai 2008 4. Terdapat perbedaaan Rasio Aktivitas yang
signifikan antara PT Perkebunan
Nusantara III dan PT Perkebunan Nusantara IV selama periode 2005 sampai 2008 E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan
Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: a.
Mengetahui dan menganalisis perbedaan Rasio Likuiditas pada PTPN III dan PTPN IV dari tahun 2005 – 2008.
b. Mengetahui dan menganalisis perbedaan Rasio
Solvabilitas pada PTPN III dan PTPN IV
dari tahun 2005 – 2008.
c. Mengetahui dan menganalisis perbedaan Rasio
Profitabilitas pada PTPN III dan PTPN IV
dari tahun 2005 – 2008.
d. Mengetahui dan menganalisis perbedaan Rasio
Aktivitas pada PTPN III dan PTPN IV dari
tahun 2005 – 2008.
2.Manfaat Penelitian Manfaat penelitian yang
diharapkan dari penelitian ini adalah: a. Bagi perusahaan, dapat memberikan data dan
informasi serta gambaran mengenai
analisis kinerja keuangan perusahaan ditinjau dari analisis rasio keuangan pada PTPN III dan PTPN IV tahun 2005
- 2008.
b. Bagi penulis,
merupakan latihan dan pembelajaran dalam menerapkan teori yang diperoleh sehingga menambah
pengetahuan, pengalaman dan dokumentasi
ilmiah.
c. Bagi pihak lain, diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam melakukan penelitian
pada masa mendatang khususnya bagi peneliti yang berminat dalam bidang yang serupa.
F. Metode
Penelitian 1. Batasan Operasional Adapun
yang menjadi batasan operasional penelitian adalah: a. Data
laporan keuangan keuangan PTPN III dan PTPN IV tahun 2005 – 2008.
b. Variabel-variabel yang diteliti dalam
memperngaruhi kinerja perusahaan adalah
Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, dan Rasio Aktivitas.
2.
Defenisi operasional Berdasarkan pada permasalahan dan hipotesis yang
akan diuji, variabel yang akan digunakan
dalam penelitian adalah: a. Likuiditas Menurut
Fred Weston, Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek. Untuk
mengukur likuiditas dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah Quick Ratio, dan Cash Ratio.
Quick Ratio
merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau
utang lancar dengan aktiva lancar. Quick
Ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus.
Quick Ratio = Cash Ratio
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar
hutang. Cash Ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus.
Cash Ratio = b.
Solvabilitas Rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunkan untuk
mengukur sejauh mana aktiva perusahaan
dibiayai dari hutang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan
dengan aktivanya. Dalam arti luas
dikatakan bahwa rasio ini digunkan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek
maupun jangka panjang apabila perusahaan
dibubarkan (dilikuidasi) Debt to Assets
(DTA) . Untuk mengukur
solvabilitas dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah Debt to Assets (DTA), dan Debt to Equity (DTE).
merupakan rasio
utang yang digunakan untuk mengukur
perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio ini maka pendanaan dengan utang semakin
banyak, maka semakin sulit bagi
perusahaan untuk memperoleh tambahan pinjaman karena dikhawatirkan perusahan tidak mampu menutupi utang-utangnya
dengan aktiva yang dimilikinya.
Debt to Assets
Ratio = DTA dapat dihitung dengan
menggunakan rumus.
Debt to Equity
(DTE) merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan
cara membandingkan antara seluruh utang
termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan
pinjaman (kreditor) dengan pemilik
prusahaan. Dengan kata lain rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan
untuk jaminan utang.
Bagi bank
(kreditor) semakin besar rasio ini maka akan semakin tidak menguntungkan karena
akan semakin besar resiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan.
DTE Debt to Equity Ratio = dapat dihitung dengan menggunakan rumus.
c. Profitabilitas Rasio
profitabilitas merupakan rasio ntuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari laba. Rasio ini juga memberikan
ukuran tingkat efektivitas manajemen
suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.
Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan
efisiensi perusahaan. Untuk mengukur profitabilitas dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah
Return on Investment (ROI), dan Return
on Equity (ROE).
Return on
Investment (ROI) adalah rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam
perusahaan. ROI juga merupakan ukuran
tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya. ROI dapat dihitung dengan menggunakan rumus.
ROI = Return on Equity (ROE) merupakan rasio untuk
mengukur laba bersih sesudah pajak
dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio
ini, semakin baik. ROE dapat dihitung
dengan menggunakan rumus.
ROE = d. Aktivitas Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur efektivitas perusahaan
dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Atau dapat juga dikatakan rasio ini digunakan untuk
mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan
sumber daya perusahaan. Untuk mengukur aktivitas dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah
Fixed Assets Turn Over, dan Total Assets
Turn Over.
Fixed Assets Turn
Over (FATO) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan
dalam aktiva tetap berputar dalam satu
periode. Dengan kata lain rasio ini untuk mengukur apakah perusahaan sudah menggunakan kapasitas aktiva
tetap dengan sepenuhnya atau belum.
Fixed Asset Turn
Over (FATO) = Total Assets Turn Over
(TATO) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki
perusahaan dan mengukur berapa jumlah
penjualan yang diperoleh dari tiap aktiva. Rumus: Total Asset Turn Over (TATO)
= 3.
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dikantor PTPN III,
yang beralamat Jln. Sei Batanghari No. 1
Medan, dan PTPN IV, yang beralamat Jln. Letjend Suprapto No. 2 Medan. Waktu penelitian direncanakan
dilakukan mulai bulan Mei hingga Juli 2010.
4. Jenis Data Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang dipergunakan adalah Laporan
Keuangan PTPN III dan PTPN IV dari tahun
2005 hingga 2008 yang terdiri dari
Laporan Laba-Rugi, Neraca dan gambaran
umum perusahaan yang diperoleh dari PTPN III dan PTPN IV Medan.
5. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data
dilakukan melalui studi dokumentasi
dengan mengumpulkan data
pendukung berupa literatur, jurnal, penelitian terdahulu, serta laporan keuangan. Laporan keuangan
tahunan PTPN III dan PTPN IV tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008.
6.
Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut: a.
Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan suatu metode dimana
data-data yang dikumpulkan dan
dikelompokkan kemudian dianalisis dan diinterprestasikan secara objektif.
b. Pengujian Hipotesis Pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan teknik statistik yang berupa uji beda dua rata-rata (independent
sample t-test). Tujuan dari uji hipotesis yang berupa uji beda dua rata-rata pada
penelitian ini adalah untuk menentukan menerima
atau menolak hipotesis yang telah dibuat.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi