Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: ANALISIS PERBANDINGAN ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN FINANCIAL VALUE ADDED (FVA) SEBAGAI ALAT UKUR PENILAIAN KINERJA KEUANGAN PADA PT. SOUCI INDOPRIMA



BAB I PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang 
Dalam menentukan alternatif kebijakan, perusahaan perlu mengumpulkan  data yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan  keputusan. Salah satu data yang dapat digunakan perusahaan  dalam  mempertimbangkan pengambilan alternatif kebijakan perusahaan adalah data  kinerja perusahaan.

Kinerja dapat diartikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau tujuan  perusahaan, tingkat pencapaian misi perusahaan, tingkat pencapaian pelaksanaan  tugas secara aktual dan pencapaian misi perusahaan. Kinerja juga dapat diartikan  sebagai prestasi yang dicapai perusahaan dalam periode tertentu yang  mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut. (Sugiyarso & Winarni,  2005:111).
Penilaian kinerja merupakan kegiatan yang sangat penting karena dari  hasil dari penilaian tersebut, kita dapat mengetahui keberhasilan perusahaan  dalam suatu periode dan juga kelemahan – kelemahannya. Sehingga diharapkan  penyusunan rencana di waktu mendatang dapat memperbaiki  kelemahan-  kelemahan tersebut dan hasil yang dianggap baik dapat dipertahankan. Jadi, hasil  dari penilaian kinerja dapat digunakan sebagai pedoman dalam perbaikan dan  peningkatan kinerja perusahaan selanjutnya.
Saat ini perusahaan tidak hanya sebagai organisasi yang aktivitasnya  berorientasi pada laba tetapi orientasi utamanya adalah memaksimalkan   kemakmuran pemegang saham. Keberhasilan perusahaan dalam pencapaian  tujuan keuangannya dapat dilihat dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan  yang dilakukan dengan analisis data keuangan yang tersusun dalam laporan  keuangan. Hal terpenting dari analisis laporan keuangan dari segi investor adalah  untuk meramalkan masa depan, dan dari segi manajemennya, analisis laporan  keuangan berguna sebagai cara untuk mengantisipasi keadaan di masa mendatang  dan yang lebih penting sebagai titik tolak bagi tindakan perencanaan yang akan  mempengaruhi jalannya kejadian di masa mendatang.
Pada umumnya perusahaan melakukan analisis keuangan dengan  menggunakan rasio- rasio keuangan. Rasio keuangan dapat dibagi dalam tiga  kelompok, yaitu liquidity and activity ratio, debt ratio dan profitability ratio.
(Syamsuddin,2002). Pada umumnya ada tiga kelompok yang berkepentingan  dengan rasio-rasio keuangan yaitu para pemegang saham, kreditur, serta  manajemen perusahaan (the firm’s own management).
Para pemegang saham menaruh perhatian pada tingkat keuntungan,baik  yang sekarang maupun tingkat keuntungan pada masa yang akan datang. Para  kreditur pada umumnya merasa berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan  dalam membayar kewajiban-kewajiban finansial baik jangka pendek maupun  jangka panjang. Kreditur ingin mendapatkan jaminan bahwa perusahaan tempat  mereka menanamkan modalnya akan mampu membayar bunga dan pinjaman  pokok tepat pada waktunya. Sedangkan bagi manajemen perusahaan sendiri (the  firm’s own management) merasa berkepentingan dengan seluruh keadaan  keuangan perusahaan dan menyadari bahwa hal-hal tersebut yang akan dinilai   oleh para pemilik perusahaan maupun para kreditur, oleh karena itu manajemen  perusahaan akan berusaha mempertahankan rasio-rasio yang dianggap baik oleh  kedua kelompok tersebut.
Analisa rasio keuangan pada dasarnya dapat melakukannya dengan 2  macam cara perbandingan,yaitu dengan cross-sectional approach dan time series  analysis. Cross-sectional approach adalah suatu cara mengevaluasi dengan jalan  membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan  lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan. Hal ini dimaksudkan untuk  mengetahui seberapa baik atau buruk suatu perusahaan dibandingkan perusahaan  sejenis lainnya. Perbandingan ini juga dapat dilakukan dengan membandingkan  rasio finansial perusahaan dengan rasio rata–rata industri (the firm’s ratio to  industry average).
Time series analysis dilakukan dengan cara membandingkan rasio-rasio  finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Perkembangan  perusahaan akan dilihat pada trend dari tahun ke tahun sehingga dengan melihat  perkembangan ini perusahaan dapat membuat rencana-rencana untuk masa  depannya.
Perusahaan selalu berusaha untuk meningkatkan labanya yaitu dengan  meningkatkan penjualan, namun saat ini akibat persaingan yang semakin ketat  maka perusahaan lebih menekankan pada pengurangan biaya operasi dengan  tujuan peningkatan labanya. Salah satu cara yang banyak dilakukan perusahaan  belakangan ini adalah dengan mengurangi biaya operasi yang berasal dari sumber  daya manusianya yaitu dengan menggunakan jasa perusahaan outsourcing.
 Keuntungan dalam pengunaan outsourcing  maka perusahaan akan  mengurangi pengeluaran dalam hal perekrutan karyawan-karyawan baru, biaya  pelatihan, pengeluaran seperti pesangon, jaminan hari tua, karena karyawan yang  direkrut oleh perusahaan outsourcing biasanya dikontrak selama waktu tertentu.
Oleh karena itu, tidak heran jika perusahaan outsourcing  mulai bermunculan  karena perusahaan jasa ini memberikan prospek yang jelas kedepannya meski  banyak pula yang menentang penggunaan outsourcing.
Kompetisi dalam usaha jasa outsourcing  ini pastinya akan semakin  meningkat. Perusahaan outsourcing  akan berusaha mengembangkan usahanya  dengan menarik investor dan menjalin networking yang seluas-luasnya, hal itu  dilakukan tentu saja dengan pencitraan nilai yang baik dari perusahaan  outsourcing  tersebut. Salah satu perusahaan  outsourcing  yang juga sedang  berkompetisi dengan perusahaan lainnya adalah PT. Souci Indoprima.
PT Souci Indoprima adalah sebuah merk dagang yang berdiri pada tanggal  28 Desember 2002. PT Souci Indoprima merupakan perusahaan jasa yang  melayani jasa alih sumber daya manusia (man power outsourcing) maupun alih  daya proses bisnis (business process outsourcing) dari industri-industri yang ada  di area Sumatera.
PT. Souci Indoprima merupakan perusahaan yang mengukur kinerja  keuangan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. PT. Souci menggunakan  rasio keuangan seperti current ratio, debt ratio. return on equity (ROE),  dan  return on asset (ROA) sebagai alat ukur kinerja keuangannya.
 Current ratio  mewakili rasio likuiditas. Rasio ini dihitung dengan  membagi aktiva lancar dengan utang lancar. Current ratio  digunakan untuk  menghitung berapa kemampuan perusahaan dalam membayar utang lancar dengan  aktiva lancar yang tersedia. Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar  kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendek  (Fakhruddin & Hadianto,2001:59).
Debt ratio  mewakili rasio leverage. Rasio ini dihitung dengan  membagikan total utang dengan total aktiva. Debt ratio  digunakan untuk  mengukur jumlah aktiva perusahaan yang dibiayai oleh utang atau modal yang  berasal dari kreditur. Semakin besar rasio semakin besar pula risiko yang  dihadapi.
Return on equity (ROE) dan return on assets (ROA) mewakili rasio  profitabilitas. Return on equity dihitung dengan cara membagikan laba setelah  pajak dengan modal sendiri. Return on equity mengukur kemampuan perusahaan  memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham. Rasio ini juga dipengaruhi  besar kecilnya utang, apabila proporsi utang semakin besar maka rasio ini akan  semakin besar. Return on assets dihitung dengan cara membagikan laba setelah  pajak dengan total aktiva. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan  menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan.
 Tabel 1.1 Kinerja Keuangan PT.Souci Indoprima Berdasarkan  Rasio-Rasio Keuangan Uraian/Tahun  2005  2006  2007  2008  2009 Current Ratio  380%  497%  401%  339%  634% Debt Ratio  59,48%  52,34%  54,27%  45,53%  34,02% ROA  19,36%  13,42%  8,34%  7,78%  6,31% ROE  47,8%  28,2%  18,2%  14,3%  9,6% Sumber : Laporan keuangan PT. Souci Indoprima (data diolah) Dari Tabel 1.1 dapat dilihat gambaran bahwa kinerja keuangan pada PT.
Souci Indoprima berdasarkan rasio keuangan secara umum dalam kondisi baik.
Dapat terlihat rasio-rasio tersebut mengalami fluktuasi, seperti penurunan dalam  beberapa tahun, tetapi kemudian dapat diikuti dengan kenaikan  di tahun  berikutnya. Para investor pasti akan mengharapkan jika rasio keuangan  perusahaan menjadi semakin baik.berikut ini gambaran grafik current ratio, debt  ratio, ROA, ROE pada PT. Souci Indoprima.
0% 100% 200% 300% 400% 500% 600% 700% 2005 2006 2007 2008 2009 current Ratio Debt Ratio ROA ROE Sumber : Laporan Keuangan PT. Souci Idoprima Gambar 1.1 Kinerja Keuangan Berdasarkan Rasio Keuangan  Kelebihan pengukuran perhitungan dengan menggunakan rasio keuangan  adalah kemudahan dalam perhitungan selama data historis tersedia, sedangkan  pengukuran ini juga memiliki kelemahan-kelemahan yaitu diantaranya (Weston  dan Brigham,2005:313) : 1.  Banyak perusahaan besar mengoperasikan beberapa divisi yang berbeda pada  industri yang berlainan dan dalam keadaan ini maka sulit untuk mencari ratarata industri yang dapat digunakan sebagai bahan pembanding yang tepat.
2.  Hampir semua perusahaan ingin berprestasi diatas rata-rata, sehingga  pencapaian prestasi rata-rata semata belumlah harus dinyatakan baik, patokan  terbaik seharusnya adalah perusahaan dengan rasio yang sangat baik.
3.  Inflasi menyebabkan distorsi besar pada neraca, nilai yang tercatat pada neraca  kerap kali sangat berbeda dari nilai yang sebenarnya. Oleh karena itu, analisis  rasio bagi perusahaan dari tahun ke tahun, atau analisis komparatif atas  perusahaan-perusahaan pada usia yang berbeda harus diinterpretasikan secara  cermat dan dengan pertimbangan.
4.  Faktor-faktor musiman juga menyebabkan ketimpangan pada analisis rasio.
5.  Perusahaan dapat menggunakan teknik window dressing  (teknik untuk  mempercantik laporan keuangan) agar laporan keuangannya nampak lebih  baik bagi analisis kredit.
6.  Perbedaan praktek operasi dan akuntansi bisa menyebabkan distorsi dalam  perbandingan.
Salah satu cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam  pengukuran kinerja keuangan berdasarkan data akuntansi, maka dapat digunakan   pengukuran kinerja dengan berdasarkan nilai (value based). Pengukuran tersebut  dapat dijadikan dasar bagi manajemen perusahaan dalam melakukan pengendalian  modalnya, rencana pembiayaan, wahana komunikasi dengan para pemegang  saham, serta dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan insentif bagi para  karyawan.
Adanya Economic Value Added  (EVA) akan mempermudah untuk  mengukur kinerja berdasarkan nilai (value), karena EVA merupakan ukuran nilai  tambah ekonomis yang dihasilkan oleh perusahaan akibat dari aktivitas dan  strategi manajemen. Dengan adanya EVA, pemilik perusahaan hanya akan  memberi imbalan (reward) aktivitas yang menambah nilai dan membuang  aktivitas yang merusak atau mengurangi nilai keseluruhan perusahaan.
Diharapkan  pemilik perusahaan dapat mendorong manajemen mengambil  tindakan atau strategi yang value added karena hal ini memungkinkan perusahaan  untuk beroperasi lebih baik.
Menurut Tunggal (2001:1) EVA atau nilai tambah ekonomis (NITAMI)  adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi pada  suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika  perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya  modal (cost of capital) . EVA menunjukkan ukuran yang baik sejauh mana  perusahaan telah menambah nilai terhadap para pemilik perusahaan. Dengan kata  lain, apabila manajemen memusatkan diri pada EVA, maka mereka akan  mengambil keputusan-keputusan keuangan yang konsisten dengan tujuan  memaksimumkan kemakmuran pemilik perusahaan.
 Pengukuran value added yang belum begitu banyak dikemukakan adalah  Financial Value Added (FVA). Financial Value Added (FVA) merupakan metode  baru dalam mengukur kinerja dan nilai tambah perusahaan. Metode ini  mempertimbangkan kontribusi dari fixed assets dalam menghasilkan keuntungan  bersih perusahaan (Iramani:2005).
1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya,  maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1.  Bagaimana Economic Value Added  (EVA) dalam pengukuran kinerja  keuangan pada PT. Souci Indoprima? 2.  Bagaimana Financial Value Added (FVA)  dalam pengukuran kinerja  keuangan pada PT. Souci Indoprima? 3.  Bagaimana perbandingan Economic Value Added (EVA) dan Financial  Value Added (FVA) dalam pengukuran kinerja keuangan pada PT. Souci  Indoprima? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penulis melakukan penelitian adalah untuk mengetahui kinerja  keuangan berdasarkan EVA dan FVA pada tahun 2005 sampai dengan 2009 pada  PT. Souci Indoprima Medan.
 1.4. Manfaat Penelitian a. Bagi Perusahaaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan  dan masukan bagi perusahaan dalam pengukuran kinerja keuangan di masa  mendatang.
b. Bagi Pihak Lain Sebagai bahan pertimbangan dan referensi bagi pihak lain yang nantinya dapat  memberikan perbandingan dalam mengadakan penelitian di masa yang akan  datang.
c. Bagi Peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan  menambah wawasan di bidang keuangan khususnya EVA dan FVA.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi