Kamis, 27 Maret 2014

Skripsi Manajemen: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KERJA PEGAWAI PADA PEGAWAI DINAS LUAR ASURANSI JIWA BERSAMA BUMIPUTERA 1912 CABANG SETIABUDI



BAB I PENDAHULUAN 
A.   Latar Belakang Masalah   
Kepuasan kerja (Job Satisfaction) adalah keadaan emosional positif yang  merupakan hasil dari evaluasi pengalaman kerja seseorang (Mathis dan  Jackson,2006:121). Menurut Gomes (2003:178) Kepuasan kerja merupakan  kesimpulan yang didasarkan pada perbandingan mengenai apa yang secara nyata  diterima oleh karyawan dari pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang  diharapkan, diinginkan dan dipikirkan sebagai hal yang pantas atau berhak  baginya. Karyawan akan merasakan kepuasan dalam bekerja apabila yang  didapatkannya dari pekerjaannya sama bahkan lebih dari yang diharapkannya.

Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk  mendapatkan hasil kerja yang optimal. Karyawan yang   merasakan kepuasan  dalam bekerja tentunya akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap  kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya, sehingga  prestasi kerja dapat dicapai. Menurut Robbins, (2006:102) Kepuasan kerja  cenderung berpusat pada efeknya terhadap kinerja karyawan, tingkat kehadiran,  dan tingkat keluar masuknya karyawan ( turnover ). Organisasi dengan karyawan  yang lebih puas cenderung memiliki kinerja dan tingkat kehadiran yang lebih  tinggi serta turnover  yang lebih rendah dibandingkan dengan organisasi yang  memiliki karyawan yang kurang puas.
Berdasarkan penjabaran mengenai kepuasan kerja dapat dilihat dampak  yang ditimbulkan dari kepuasan kerja karyawan. Hal ini menunjukan betapa  pentingnya kepuasan kerja karyawan untuk kemajuan perusahaan kedepannya   sehingga sangat diperlukan perhatian khusus dari perusahaan agar kepuasan kerja  dapat meningkat.
Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor dan ada  beberapa teori mengenai kepuasan kerja yang dikemukakan oleh para ahli. Teori  kepuasan kerja yang popular antara lain adalah teori kepuasan kerja yang  dikemukakan oleh Frederick Herzberg. Herzberg  dalam Luthans (2006:283) mengemukakan Teori Dua Faktor yang terdiri dari : Faktor motivator dan Faktor hygiene.
Faktor motivator berhubungan dengan aspek-aspek yang terkandung dalam  pekerjaan itu sendiri (job content) atau disebut juga sebagai aspek intrinsik dalam  pekerjaan. Faktor-faktor yang termasuk di sini adalah keberhasilan melakukan  tugas,  pengakuan,  pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kemungkinan untuk  pengembangan, kesempatan untuk maju. Faktor kedua adalah faktor hygiene yaitu faktor yang berada di sekitar pelaksanaan pekerjaan, berhubungan dengan  job context  atau aspek ekstrinsik pekerja, yang terdiri dari : kondisi kerja,  hubungan antar pribadi, kebijaksanaan perusahaan dan pelaksanaannya, teknik  pengawasan, upah/gaji (Luthans, 2006:283).
Herzberg  dalam Robbins (2006:212)  menyimpulkan dari hasil  penelitiannya bahwa orang-orang yang merasa puas cenderung menghubungkan  kepuasan mereka pada aspek instrinsik pekerjaan atau faktor motivator (satisfier).
Karyawan yang  merasa tidak puas cenderung menghubungkan ketidakpuasan  mereka dengan aspek ekstrinsik pekerjaan atau faktor hygiene (dissatisfier).
Herzberg dalam Robbins (2006:213)  berpendapat bahwa proses untuk  membuat karyawan merasakan kepuasan dalam bekerja memiliki dua tahap. Pada   tahap pertama manajer harus memastikan bahwa faktor hygiene telah memadai.
Gaji dan keamanan harus mencukupi, kondisi kerja harus aman, supervisi teknis  harus mencukupi, dll. Manajer yang menyediakan faktor-faktor hygiene secara  memadai belum dapat merangsang motivasi karyawan tetapi hanya memastikan  karyawan tidak merasakan ketidakpuasan atau berada pada titik nol landasan  motivasi. Manajer harus menyediakan faktor-faktor penggerak motivasi kepada  karyawan pada tahap kedua seperti pencapaian dan pengakuan, sehingga akan  menghasilkan kepuasan dan motivasi yang tinggi (Griffin,2006:43).
Manajer biasanya cenderung  berkonsentrasi pada faktor hygiene untuk  membuat karyawan merasa puas dengan memberikan gaji yang lebih tinggi,  benefit dan kondisi kerja yang lebih baik, akan tetapi karyawan cenderung masih  saja tidak termotivasi. Hal ini dikarenakan faktor hygiene tidak dapat memotivasi  sendiri (Luthans, 2006:284). Manejer yang berusaha menghilangkan faktor-faktor  yang menciptakan ketidakpuasan kerja dapat membawa ketentraman bagi  karyawannya, tetapi belum tentu memotivasi. Faktor motivator harus ditekankan  untuk memotivasi karyawan agar karyawan merasa puas (Robbins, 2006:212 ).
Berdasarkan  pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan  tidak bisa hanya menekankan pada faktor hygiene untuk meningkatkan kepuasan  kerja para karyawannya. Perusahaan juga harus menekankan pada prestasi,  pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kesempatan untuk berkembang  dan kemajuan yang merupakan unsur-unsur dari faktor motivator untuk membuat  karyawan puas dalam bekerja. Hal ini selaras dengan pernyataan  Gatot dan  Adisasmito ( 2005 ) faktor motivator  yang berhubungan dengan isi pekerjaan (job  content)  dan faktor hygiene yang berhubungan denganlingkungan Pekerjaan   (job context)  mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja. Kepuasan kerja  dipengrahuhi oleh terpenuhi atau tidaknya faktor motivator dan faktor hygiene.
Kinerja karyawan merupakan salah satu dampak atau tolak ukur kepuasan  kerja (Robbins,2006:102). Menurut Mathis (2006:78) kinerja karyawan adalah  kontribusi yang diberikan karyawan kepada perusahaan yang dapat diidentifikasi  dari hasil kerja karyawan.
Asuransi Jiwa Bersama (AJB ) Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi,  Medan, menurut data intern perusahaan memiliki 40 orang pegawai. Mayoritas  pegawai yaitu sebanyak 30  pegawai yang ada ditempatkan sebagai pegawai dinas  luar atau agen dan bekerja dengan jadwal kerja yang fleksibel. Agen memiliki  jumlah mayoritas pada perusahaan bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan agen  merupakan ujung tombak perusahaan yang sangat berperan terhadap  kelangsungan perusahaan kedepannya. Hal ini juga yang menyebabkan betapa  pentingya kepuasan kerja para agen karena nantinya akan berdampak langsung  pada kinerjanya.
Agen memiliki kinerja yang berkaitan dengan tingkat kemampuan untuk  mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan yang dapat dilihat dari  hasil kerjanya. Berikut disajikan aktivitas penagihan premi serta aktivitas produksi  polis pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan secara keseluruhan, sebagai representatif kinerja para agen selama 4  tahun terakhir.
 Tabel1.1 Aktivitas penagihan premi agen  Tahun  Tanggung jawab premi  Premi tertagih  Rasio 2005  4.666.321.694  3.603.800.244  77,23% 2006  4.858.185.125  4.145.975.186  85,34% 2007  5.473.251.869  4.143.798.990  75,71% 2008  6.500.589.145  4.580.315.112  70,46 % Sumber:Bagian Administrasi AJB Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan (diolah) Tabel1.2      Aktivitas produksi polis Tahun  Target   Realisasi   Rasio 2005  600  650  108,3% 2006  750  603  80,40% 2007  853  776  90,97% 2008  942  605  64,22% Sumber: Bagian Administrasi AJB Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan (diolah) Pada Tabel 1.1 dapat dilihat walaupun terjadi peningkatan dan penurunan  yang bervariasi namun para agen hanya mampu mengumpulkan premi tertagih  sesuai standar perusahaan pada tahun 2006 yaitu diatas 85%. Hal yang sama juga  dapat dilihat pada Tabel 1.2 dimana para agen hanya mampu memproduksi polis  sesuai target pada tahun 2005. Hal ini tentu mengindikasikan adanya faktor  kepuasan kerja yang tak terpenuhi atau kepuasan kerja yang menurun pada para  agen AJB Bumiputera 1912 cabang setiabudi, Medan.
Kepuasan kerja karyawan merupakan hal yang penting dilihat dari dampak  yang dapat ditimbulkan dan pentingya untuk mengetahui faktor apa yang dapat  mempengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk memilih  judul penelitian yaitu “Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pegawai  pada pegawai dinas luar AJB Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi”.
 B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan perumusan  masalah sebagai berikut :  “ Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kepuasan kerja pegawai pada  pegawai dinas luar Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912  Cabang Setiabudi, Medan?” C.  Kerangka Konseptual  Kepuasan kerja merupakan kesimpulan yang didasarkan pada  perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh karyawan dari  pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang diharapkan. Karyawan  akan  merasakan kepuasan dalam bekerja jika yang didapatkannya dari pekerjaannya  sama bahkan lebih dari apa yang diharapkannya. Kinerja karyawan merupakan  salah satu dampak atau tolak ukur kepuasan kerja (Robbins,2006:102). Menurut  Mathis dan Jackson (2006:78) kinerja karyawan adalah kontribusi yang diberikan  karyawan kepada perusahaan yang dapat diidentifikasi dari hasil kerja karyawan.
Menurut Herzberg dalam Luthans (2006:283) Two faktor theori ( teori dua  faktor ) terdiri dari Faktor motivator (Satisfier) dan Faktor hygiene (Dissatisfier)  yang berhubungan dengan puas atau tidaknya karyawan.  Faktor motivator (Satisfier) berhubungan dengan aspek-aspek yang terkandung dalam pekerjaan itu  sendiri  atau job content  yang  disebut juga sebagai aspek intrinsik dalam  pekerjaan.  Faktor-faktor yang termasuk dalam faktor  motivator  adalah  keberhasilan melakukan tugas, pengakuan, pekerjaan itu sendiri,tanggung jawab,  kemungkinan untuk pengembangan, kemajuan. Faktor yang kedua adalah faktor   hygiene  (dissatisfier)  yang berhubungan dengan aspek-aspek di sekitar  pelaksanaan pekerjaan atau job context yang disebut juga aspek ekstrinsik pekerja,  yang terdiri dari : kebijaksanaan dan prosedur perusahaan, supervisor, upah/gaji,  hubungan dengan rekan kerja, kondisi kerja.
Menurut Gatot dan Adisasmito ( 2005 ) Faktor-faktor Isi Pekerjaan (job  content)dan Lingkungan Pekerjaan (job context) mempunyai hubungan dengan  kepuasan kerja. Kepuasan karyawan akan dipengaruhi oleh terpenuhi atau tidak  faktor motivator dan faktor hygiene. Berdasarkan penjabaran tersebut maka  dibentuk kerangka konseptual sebagai berikut: Sumber : Herzberg dalam Luthans(2005), Gatot dan Adisasmito ( 2005 ) Gambar 1.1: Kerangka Konseptual D.  Hipotesis Menurut Kerlinger ( 2000: 30 ), hipotesis adalah pernyataan dugaan  tentang hubungan antara dua variabel atau lebih, atau dengan kata lain hipotesis  Faktor hygiene (Dissatisfier) (X2) a.  Kebijakakan dan  admnistrasi perusahaan b.  Pengawasan c.  Upah/gaji  d.  Hubungan dengan rekan  kerja e.  Kondisi kerja Faktor motivator (Satisfier)  ( X1 ) a.  Keberhasilan pelaksanaan  b.  Pengakuan  c.  Pekerjaan itu sendiri  d.  Tanggung jawab  e.  Kemungkinan untuk  mengembangkan diri  f.  Kesempatan untuk maju  Kepuasan Kerja ( Y )  merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Berdasarkan  perumusan masalah yang ada maka penulis menetapkan hipotesis sebagai berikut :  “ Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada pegawai dinas luar AJB  Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan adalah Faktor motivator dan Faktor  hygiene”.
E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor  apa saja yang mempengaruhi kepuasan kerja pada pegawai dinas luar  Asuransi  Jiwa Bersama ( AJB ) Bumiputera Cabang Setiabudi.
2.  Manfaat Penelitian  a.   Bagi perusahaan Hasil penelitian ini memberikan informasi tambahan untuk AJB  Bumiputera 1912 khususnya mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat  mempengaruhi kepuasan kerja pegawai dinas luar.
b.  Bagi peneliti lain Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi bagi penelitian lain yang  ingin melakukan penelitian dibidang yang sama dimasa mendatang.
c.  Bagi penulis Penelitian ini merupakan kesempatan bagi penulis untuk menerapkan  teori-teori yang penulis terima dibangku perkuliahan serta  menumbuhkembangkan dan memantapkan sikap profesionalisme dalam  memasuki dunia kerja sesuai dengan profesinya nanti.
 F.  Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Batasan operasional diperlukan untuk menghindari kesimpangsiuran  dalam penelitian. Penulis memberikan batasan operasional yaitu penelitian ini  hanya membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada pegawai  dinas luar Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan.
2.  Definisi Operasional Definisi operasional variabel diperlukan untuk menjelaskan variabel yang  diidentifikasi sebagai upaya pemahaman dalam penelitian. Definisi variabelvariabel yang diteliti adalah sebagai berikut : a.  Faktor motivator ( X1 )  Faktor motivator  berhubungan dengan aspek-aspek yang terkandung  dalam pekerjaan itu sendiri. Jadi berhubungan dengan job content atau  disebut juga sebagai aspek intrinsik dalam pekerjaan. Faktor-faktor yang  termasuk di sini adalah:  1) Keberhasilan menyelesaikan tugas  2) Penghargaan 3) Pekerjaan itu sendiri  4) Tanggung jawab  5) Kemungkinan untuk mengembangkan diri  6) Kesempatan untuk maju   b.  Faktor hygiene (X2)  Faktor hygiene  ini adalah faktor yang berada di sekitar pelaksanaan  pekerjaan; berhubungan dengan job context atau aspek ekstrinsik pekerja.
Faktor-faktor yang termasuk di sini adalah:  1)  Kebijaksanaan perusahaan dan pelaksanaannya 2)  Pengawasan 3)  Hubungan antar pribadi 4)  Upah/gaji  5)  Kondisi kerja c.  Kepuasan kerja ( Variabel Y ) Kepuasan kerja merupakan kesimpulan yang didasarkan pada  perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh karyawan dari  pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang diharapkan. Karyawan akan  merasa puas jika yang didapatkannya dari pekerjaannya sama bahkan lebih  dari apa yang diharapkannya maka karyawan. Dampak kepuasan kerja  dapat dilihat pada kinerja karyawan (Robbins,2006:102). Menurut Mathis dan Jackson (2006:78) kinerja karyawan adalah kontribusi yang diberikan  karyawan kepada perusahaan yang dapat diidentifikasi dari hasil kerja  Tabel 1.3 Operasional variabel  Variabel  Dimensi  Indicator variabel   Skala Faktor-faktor yang  mempengaruhi  Kepuasan Kerja  (X) Faktor Motivator  (X1)  a.  Keberhasilan  menyelesaikan  tugas/prestasi b.  Penghargaan c.  Pekerjaan itu sendiri  d.  Tanggung jawab  e.  Kemungkinan untuk  berkembang  f.  Kesempatan untuk maju Likert  Faktor hygiene (X2)  a. Kebijaksanaan  perusahaan dan  pelaksanaannya  b. Pengawasan c. Hubungan antar pribadi d. Upah atau gaji e. Kondisi kerja Likert  Kepuasan kerja  (Y) Kepuasan terhadap  prestasi, penghargaan,  pekerjaan itu  sendiri,tanggung jawab,  kemungkinan untuk  berkembang, kesempatan  untuk maju,kebijaksanaan  perusahaan, pengawasan,  hubungan antar pribadi,  upah atau gaji, dan kondisi  kerja dilihat dari hasil kerja  yang dicapai.
Likert Sumber: Herzberg dalam Luthans (2006:283), Robbins (2006:102), Mathis dan Jackson (2006:78) 3.  Skala Pengukuran Variabel Penelitian ini menggunakan skala likert yang digunakan untuk mengukur  sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena  sosial ( Sugiyono, 2005 : 85 ).
 Tabel1.4  Skor Pernyataan No.  Pernyataan Skor 1  Sangat Setuju  5 2  Setuju  4 3  Ragu-ragu  3 4  Tidak Setuju  2 5  Sangat Tidak Setuju  1 Sumber : Sugiyono ( 2005 : 85 ).
4.  Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera (AJB) 1912  Cabang Medan Setiabudi JL. Setiabudi No96 D-E . Waktu penelitian dimulai dari  Fabruari 2009 sampai dengan Juni 2009.
5.  Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pegawai dinas luar  yaitu para agen Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Medan  Setiabudi yang berjumlah 30 orang yang merupakan sampel jenuh. Penulis  menggunakan metode sensus untuk melakukan penarikan sampel yaitu seluruh  anggota populasi dimasukkan menjadi sampel, karena jumlah populasi yang  relatif kecil (Sugiyono, 2005 :78) 6.  Jenis dan Sumber Data Prosedur pengambilan data pada penelitian ini adalah menggunakan : a.  Data Primer Data yang diperoleh langsung dari responden yang ada dilokasi penelitian.
Data tersebut diperoleh dari wawancara serta dari hasil kuesioner.
 b.  Data Sekunder Data yang diperoleh untuk melengkapi data primer yang meliputi data  mengenai sejarah, perkembangan perusahaan, struktur organisasi dan  uraian tugas perusahaan, jumlah karyawan serta buku-buku ilmiah dan  literatur lainnya yang diperoleh sehubungan dengan masalah penelitian  yang diteliti 7.  Teknik Pengumpulan Data a.  Wawancara ( Interview )  Yaitu melakukan wawancara langsung dengan responden dengan  mengajukan pertanyaan mengenai kepuasan kerja dan faktor-faktor yang  mempengaruhinya.
b.  Studi Dokumentasi  Yaitu mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, tulisan ilmiah,  internet dan literatur lainnya yang memiliki relevansi dengan penelitian.
c.  Kuesioner  Yaitu pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan yang  tersusun secara sistematis untuk diisi oleh karyawan secara objektif.
8.  Uji Validitas dan Realibilitas  Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada instrumen penelitian, dalam  hal ini adalah kuesioner, untuk menguji apakah kuesioner layak digunakan  sebagai instrument penelitian. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan  untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dan reliabel berarti instrumen yang  digunakan beberapa kali mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data  yang sama ( Sugiyono, 2005 : 109). Pada pengujian validitas dan reliabilitas ini   kuesioner diberikan kepada 30 responden diluar sampel yang diteliti. Pengujian  dilakukan pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Wilayah Medan divisi asuransi  perorangan, yang berlamat di Jl. Iskandar Muda No.12 Medan, dan akan diberikan  kepada 30 orang agen yang bekerja disana.
9.  Metode Analisis Data a.  Metode Analisis Deskriptif Metode ini bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau  karakteristik dari suatu keadaan, dalam hal ini data yang sudah  dikumpulkan kemudian diklasifikasikan, diinterprestasikan, dan selajutnya  dirumuskan, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas megenai  masalah yang diteliti.
b.  Metode Analisis Kuantitatif / Infrensial Penulis menggunakan metode analisis statistik regresi linear berganda pada  penelitian ini. Metode analisis linear berganda yaitu untuk  memprediksi nilai dari variabel terikat yaitu kepuasan kerja dengan ikut  memperhitungkan nilai-nilai variabel bebas yaitu faktor-faktor yang  mempengaruhi kepuasan kerja yang terdiri dari Faktor motivator (X1) dan  Faktor hygiene (X2) dengan mengunakan bantuan aplikasi Software SPSS 15.00 For Windows. Menurut Sugiyono (2005:211 ) model persamaan  yang digunakan adalah sebagai berikut:  Y= a+b1X1+ b2X2 +e Keterangan   : Y  = Kepuasan kerja a   = Konstanta b1-b2 = Koefisien regresi X1 = Faktor motivator          X2  = Faktor hygiene    e   = Standar error  Data tersebut harus memenuhi syarat uji asumsi klasik dan dilakukan  pengujian hipotesis sebelum data dianalisis.
1)  Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan untuk meilhat atau menguji suatu suatu model  yang termasuk layak atau tidak layak digunakan dalam penelitian ini  adalah : a)  Pengujian heterokadestisitas dilakukan untuk melihat terjadi atau  tidaknya ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan  ke pengamatan yang lainnya dalam model regresi yang digunakan.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokadastisitas.
Menurut Ghozali (2005) jika variabel bebas signifikan terjadi  secara statistik mempengaruhi variabel terikat, maka ada indikasi  terjadi hetoskedastisitas.
b)  Pengujian multikolinierias dilakukan untuk melihat ada atau  tidaknya ditemukan korelasi antar variabel bebas. Masalah  multikolinierias terjadi jika ditemukannya korelasi antar variabel  bebas. multikolinierias  dapat dideteksi dengan melihat nilai   Variance Inflation Faktor (VIF). Menurut Santoso (2002) pada  umumnya jika VIF lebih besar dari 5, maka variabel tersebut  mempunyai persoalan multikolineritas dengan variabel bebas  lainnya.
c)  Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model  regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai  distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah  memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Data yang  berdistribusi normal dapat diketahui dengan melakukan analisis  grafik atau dengan melihat  normal probability plot  yang  membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya  dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal.. Jika distribusi  data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data  sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. (Gozali, 2005).
2)  Uji Hipotesis  Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji  statistiknya berada didalam daerah kritis ( daerah dimana H0 ditolak ) dan  sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam  daerah dimana H0 diterima. Dalam analisis regresi ada 3 jenis kriteria  ketepatan yaitu : a)  Koefisien determinasi (R²) Koefisen determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar  kemampuan model dalam menerangakan variabel terikat. Nilai R²   yang semakin besar (mendekati satu ) menunjukkan adanya  pengaruh variabel bebas (X) yang besar terhadap variabel terikat  (Y). Sebaliknya jika R² semakin kecil ( mendekati nol ) maka dapat  dikatakan pengaruh variabel bebas (X) adalah kecil terhadap  variabel terikat (Y ) b)  Uji-F  Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas  yang dimasukkan kedalam model mempunyai pengaruh bersamasama terhadap variabel terikat. Uji –F digunakan melihat secara  bersama-sama variabel bebas yaitu antara Faktor motivator (X1)  dan Faktor hygiene (X2) terhadap variabel terikat Kepuasan kerja  (Y).
Ho : b1=b2=0, artinya secara bersama-sama tidak terdapat  pengaruh  yang positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu Faktor motivator (X1) dan Faktor hygiene (X2)  terhadap variabel  terikat Kepuasan kerja (Y).
Ho :  b1≠b2≠0, artinya secara bersama-sama terdapat pengaruh  yang positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu  Faktor  motivator (X1) dan faktor hygiene (X2) terhadap variabel terikat kepuasan kerja (Y).
c)  Uji Signifikansi ( Uji t ) Uji t merupakan pengujian  dengan menggunakan kriteria  pengambilan keputusan sebagai berikut:  Ho : b1=b2=0, artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang  positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu faktor motivator (X1) dan faktor hygiene (X2)  terhadap variabel terikat  kepuasan  kerja  (Y).
Ho : b1≠b2≠0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif  dan signifikan dari variabel bebas yaitu antara Faktor motivator (X1) dan Faktor hygiene (X2) terhadap variabel terikat kepuasan  kerja (Y).
Kriteria pengambilan keputusan :    H0 diterima jika t hitung < t tabel, α = 5%    H0 ditolak jika t hitung > t tabel, α = 5%   

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi