Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: Hubungan Kebijakan Pemberian Kredit Terhadap Peningkatan Kemampuan LabaPerusahaan Pada PT. (Persero) Djakarta Lloyd



 BAB I  PENDAHULUAN  
 A. Latar Belakang  
 Pada umumnya tujuan perusahaan melakukan kegiatan operasional untuk  memperoleh laba yang maksimum disamping itu juga untuk mencapai tujuantujuan perusahaan yang lainnya. Setiap perusahaan berusaha agar mencapai laba  atau memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin. Dengan adanya laba  yang cukup tinggi dan didukung oleh nilai perusahaan yang semakin baik maka  kredibilitas dan kontinuitas perusahaan dapat dipertahankan serta perusahaan  dapat tumbuh terus dan melakukan ekspansi dalam bisnisnya.

 Memaksimalkan laba berarti menekankan pada pemanfaatan barang dan  modal secara efektif efisien. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk dapat  melakukan kegiatan operasionalnya secaraefektif dan efisien sehingga akan  meningkatkan pendapatan yang akan diterima. Seorang manajer keuangan dengan  mudah dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dengan mengurangi beban  riset dan pengembangan kegiatan ataupun beban pemeliharaan rutin yang memang  biasanya diperlukan. Dalam jangka pendek, hal tersebut dapat meningkatkan  keuntungan, namun untuk jangka panjang, hal ini sama sekali tidak baik bagi  perusahaan. Setiap tujuan perusahaan harus dinyatakan dengan tepat dan jelas  sesuai dengan kondisi dan segala kompleksitas permasalahan dunia nyata. Pada  kenyataannya, manajer keuangan untuk setiap harinya harus selalu berhadapan  dengan dua masalah yang tidak tercakup dalam tujuan perusahaan untuk  memaksimalkan laba yaitu waktu dan ketidakpastian (Keown 2004:3)   Besarnya jumlah volume penjualan kredit setiap triwulan, periode atau  tahunnya, berarti perusahaan harus dapat menyediakan penanaman investasi yang  lebih besar lagi dalam piutang. Penjualan kredit yang dilakukan oleh perusahaan  biasanya akan membawa dampak resiko yaitu munculnya berbagai macam biaya,  seperti halnya menambah pegawai yang mengurus dan mengawasi administrasi  kredit, adanya bunga pinjaman terkait dengan piutang serta akan bertambahnya  resiko berupa penjualan kredit yang tidak terbayar oleh pelanggan atau piutang  yang tidak tertagih (bad dedt), sehingga biasanya mengurangi jumlah penjualan  bersih perusahaan dari total besarnya piutang yang dimiliki.
   Perusahaan dapat menjual piutangnya dalam keadaan tertentu kepada  perusahaan lain yang biasa disebut anjak piutang (factoring) dan pembeli piutang  disebut  factor. Kelebihannya bagi perusahaan adalah perusahaan akan  mendapatkan dana secara cepat dengan tujuan untuk mengisi kas dan mendukung  kegiatan operasional lainnya yang masih begitu penting untuk kelanjutan hidup  perusahaan. Di samping itu, resiko piutang tak tertagih secara sebagian dapat  dipindahkan kepada factoratau tergantung pada kesepakatan anjak piutang.
 Rencana pembayaran kembali atau pelunasan kredit oleh pelanggan  disusun sesuai dengan cash budget atau cash flow projection, jenis serta sifat yang  diminta berikut  projected income statement. Dengan demikian  schedule pembayaran kembali ini hanya merupakan alat untuk lebih mempermudah dalam  melihat rencana perluasan kredit dariperusahaan. Pemberian kredit juga  mengandung suatu tingkat resiko (degree of risk) tertentu yang seharusnya dapat  diketahui secara seksama.
 Menghindari ataupun memperkecil resiko piutang yang mungkin terjadi,  maka pemberian kredit harus dinilai olehperusahaan atas dasar syarat-syarat  perusahaan teknis; yang terkenal dalam 5C yaitu: character, capacity, capital,  collateral dan conditions. Di samping formula 5C tersebut di dalam pemberian  kredit perusahaan akan memperhatikan aspek-aspek pertimbangan kredit seperti  aspek umum, aspek ekonomi/komersil, aspek teknik, aspek yuridis, aspek  kemanfaatan dan kesempatan kerja, aspek terakhir yang harus di analisa yang  merupakan aspek yang paling penting adalah aspek keuangan.    Pada dasarnya manajer keuangan langsung mengawasipiutang dagang  melalui keterlibatannya dalam pengelolaan kebijakan kredit dan penagihan  piutang (Ridwan 2002:235). Agar prosespiutang dalam perusahaan dapat  mencapai sasaran, dalam arti bahwa kredit itu dapat membantu pelanggan sesuai  dengan kebutuhannya, di samping itu juga menguntungkan bagi perusahaan dalam  arti sesuai dengan tujuan perusahaan meliputi dua fungsi pokok yaitu profitability  (perusahaan memperoleh keuntungan dari piutang/kredit tersebut) dan safety (bahwa piutang yang berjalan benar-benar terjamin), maka harus dihitung jumlah  kebutuhan piutang tersebut, dengan cara yang cermat dan tepat sebagai bentuk  suatu investasi bagi peusahaan.
   PT. (Persero) Djakarta Lloyd merupakan salah satu BUMN yang  berbentuk perseroan dan bergerak dalam bidang jasa perkapalan dan angkutan  laut. Sebagai perusahaan pelayaran samudera nasional, perusahaan ini memiliki  tugas pokok menyediakan fasilitas jasa angkutan laut dan sejenis lainnya yang  berhubungan untuk kepentingan angkutan laut.
 PT. (Persero) Djakarta Lloyd mengalami kerugian yang cukup besar dalam  pelaksanaan aktivitas perusahaan. Kerugian PT. (Persero) Djakarta Lloyd ditandai  dengan adanya kesulitan untuk memenuhi kewajiban pihak ketiga, pembiayaan  perawatan kapal laut, Rencana Dana Investasi (RDI) dan Sub Loan Agreement (SLA). Sehingga dengan adanya keadaan seperti ini, penulisberantusias untuk  melakukan penelitian dalam hal pemberian kredit yang diberlakukan oleh PT.
(Persero) Djakarta Lloyd.
 Pada Tabel 1.1 berikut adalah perhitungan fluktuasi total piutang,  penjualan, laba bersih, Return On Investment(ROI) yang berdasarkan pada  laporan keuangan dan laporan piutang diPT. (Persero) Djakarta Lloyd Medan  selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2007.
Tabel 1.
Piutang, Penjualan, Laba Bersih, ROI  Periode tahun 2005-20 Tahun Piutang  Fluktuasi Penjualan Fluktuasi Laba Bersih Fluktuasi ROI  (Rp)  (%) (Rp) (%) (Rp)  (%) (%)  2005  5,527,420,386   1,401,986,000   520,711,000   8.
2006 2,739,001,996  101.8  1,371,741,000  2.2  456,232,000  14.1   2007 1,726,040,000  58.7  1,205,376,000  13.8  340,616,000  33.9   Sumber: Laporan Keuangan dan Laporan Piutang PT. (Persero) Djakarta Lloyd   Pada Tabel 1.1. dapat diketahui bahwa total piutang PT. (Persero) Djakarta  Lloyd Medan dari tahun 2005-2007 mengalami penurunan terus menerus yaitu  tahun 2006 sebesar 101,8% dan 2007 sebesar 58,7%. Penurunan total piutang  dipengaruhi oleh penurunan total penjualan yang terjadi pada tahun 2005-2007.
Fluktuasi penjualan yang mengalami penurunan pada tahun 2006 adalah 2,2% dan  tahun 2007 total penurunan bertambah sebesar 13,8%. Besarnya jumlah piutang  yang seterusnya mengalami penurunan yang dasarnya dipengaruhi oleh penurunan  penjualan ternyata cukup berpengaruh terhadap total penurunan laba bersih yang  terjadi pada tahun yang sama. Total laba bersih pada tahun 2005 adalah Rp.
520.711.000,- kemudian turun menjadi 456.232.000,- di tahun 2006 atau sebesar    14,1% dan turun lagi pada tahun 2007 menjadi Rp. 340.616.000,- atau sebesar  33,9%. Penurunan laba bersih ini bisa sajadiakibatkan oleh menrunnya penjualan  dan besarnya piutang yang mungkin tidak tertagih selanjutnya berakibat pada  memburuknya pendapatan perusahaan. Walaupun laba bersih mengalami  penurunan namun tidak begitu dengan Return On Investment (ROI) perusahaan  yang mengalami peningkatan terus dari tahun 2005 sebesar 8,7% seterusnya tahun  2006 sebesar 14% dan tahun 2007 sebesar 17%. Ini sungguh menandakan  perbedaan serta kenyataan dimana lababersih turun dan ROI perusahaan  mengalami peningkatan yang cukup baik yang dikarenakan total piutang yang  terus turun selama tiga periodeberturut-turut dan penerimaan laba bersih sesudah  pajak yang juga cukup besar.
Tabel 1.
RTO, ACP, Piutang Tak Tertagih, ROI  Periode tahun 2005-20 Tahun RTO  ACP  Piutang Tak Tertagih  ROI  (X)  (hari)  Saldo Piutang  Saldo Penjualan  (%)  2005 0.3  1,200 138,185,509  2,803,972  8.
2006 0.5  720  68,475,050  2,743,482   2007 0.7  514  43,151,000  2,410,752   Sumber: Laporan Keuangan dan Laporan Piutang PT. (Persero) Djakarta Lloyd   Pada Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa total Rasio Perputaran  Piutang/Receivable Turn Over ratio(RTO), Periode Rata-rata Pengumpulan  Piutang/Average Collection Period(ACP), Kemampuan memperoleh laba/Return  On Investment (ROI) dan Piutang tak tertagih berfluktuasi cukup signifikan dari  tahun ke tahun selama tiga periode yaitudari tahun 2005 – 2007. Total RTO pada  tahun 2005 tergolong kecil yaitu 0,25% dan bertambah besar pada tahun 20 yaitu 0,5 % serta tahun 2007 meningkat lagi menjadi 0,7%. Namun, RTO tahun  2005 sebesar 0,25% tidak berdampak terlalu baik terhadap hari pengumpulan  piutang yang mencapai 1.440 hari dan begitu pula hari pengumpulan piutang  tahun 2006 yang turun menjadi 720 hari dengan RTO sebesar 0,5% dan tahun  2007 periode pengumpulan piutang cenderung turun lagi sebesar 514 hari dengan  rasio pengumpulan piutang 0,7%. Piutang tak tertagih menurut saldo piutang pada  tahun 2005 tergolong besar yaitu Rp. 138.185.509,- yang seterusnya turun yaitu di  tahun 2006 Rp. 68.475.050,- dan tahun 2007 Rp. 43.151.000,-. Hal seperti ini juga  dialami seperti menurut saldo penjulan piutang tak tak tertagih yang pada tahun    2005 sebesar Rp.2.803.972,- dan pada tahun berikutnya mengalami penurunan  yaitu tahun 2006 Rp. 2.743.482,- dan tahun 2007 Rp. 2.410.752,-. Menurut  (Munawir 2002:89), besarnya sebagian dariROI akan mengalami perubahan jika  ada perubahan pada piutang tak tertagih, RTO ataupun ACP baik masing-masing  ketiganya dalam rangka berusaha untuk memperbesar atau mempertinggi ROI  untuk kelangsungan hidup ataupun aktivitas perusahaan.
 Penulis termotivasi untuk melakukan penelitian ini adalah untuk dapat  memahami sifat kebijakan pemberian kredit terhadap piutang tak tertagih. Judul  yang penulis tetapkan pada pembahasan ini adalah sebagai berikut:  “Hubungan Kebijakan Pemberian Kredit Terhadap Peningkatan  Kemampuan Laba Perusahaan Pada PT. (Persero) Djakarta Lloyd”.
Metode pengamatan yang penulis gunakan dalam penelitian diatas terdiri  dari bermacam-macam teknik. Teknik-teknik tersebut adalah perhitungan  pemberian piutang perusahaan, perhitungan penjualan perusahaan, perhitungan  laba bersih perusahaan, analisis rasio aktivitas piutang (retrun turn over ratio dan  average collection period), dan pendapatan piutang tak tertagih yang dihubungkan  terhadap Return On Investmentperusahaan serta penelusurannya yang diteruskan  dengan menggunakan analisis korelasi productmomen Pearson.Pengamatanpengamatan tersebut dapat dipergunakan untuk membantu pada kelompok tertentu  yang berkepentingan yaitu bagi para pemegang saham dan calon pemegang  saham, kreditur dan calon kreditur serta manajemen perusahaan yang pada  dasarnya diperlukan untuk pengambilan keputusan yang beralasan dan bermanfaat  bagi mereka dalam hubungannya kebijakan kredit dan keuntungan perusahaan.
 Pemberian kredit yang penulis teliti selama tiga periode dari Tabel 1.1 dan  Tabel 1.2 dapat diketahui bahwasanya berpengaruh terhadap beberapa kegiatan  perusahaan diantaranya adalah penjualan perusahaan yang terlihat menurun  dikarenakan piutang yang diberikan pada tahun 2005 terlalu besar ataupun adanya  beban piutang tak tertagih yang besar sehingga mengakibatkanvolume penjulan  cenderung menurun. Begitu pula dengan laba bersih yang menurun diakibatkan  adanya pemberian piutang yang terlalu besar sehinggaberpengaruh terhadap  pendapatan bersih perusahaan.
  B. Perumusan Masalah   Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis  menyatakan suatu masalah yaitu: “Apakah realisasi kebijakan pemberian kredit  mempunyai hubungan dengan peningkatan kemampuan laba perusahaan pada PT.
(Persero) Djakarta Lloyd?”.
C. Kerangka Konseptual  Menurut (Soemarso 2002:338) penyisihan piutang tak tertagih yang  didasarkan atas saldo piutang dapat dilakukan dengan menetapkan suatu  persentase terhadap saldo piutang. Biasanya saldo yang dipakai adalah rata-rata  antara saldo awal piutang pada awal dan akhir periode. Masih menurut Soemarso,  sisi lain dari penjualan kredit adalah timbulnya piutang. Ini berarti perusahaan  mempunyai hak klaim terhadap seseorang atau perusahaan lain. Dengan adanya  hak klaim ini perusahaan dapat menuntut pembayaran dalam bentuk uang atau  jasa lain kepada pihak yang berpiutang. Untuk tujuan pelaporan, piutang dinilai  sebesar jumlah yang diharapkan dapat diterima. Jumlah ini belum tentu sama  dengan jumlah yang secara formal tercantum sebagai piutang. Perbedaan  disebabkan perusahaan telah mengurangkan, dari jumlah piutangnya, penyisihan  terhadap piutang-piutang yang tidak akan tertagih.
 Memperhatikan kriteria yang digunakan dalam pemberian kredit dan  prosedur penagihan yang diterapkan, biasanya sebagian dari penjualan kredit  dipastikan tidak akan tertagih. Beban operasi yang muncul karena tidak  tertagihnya piutang dinamakan beban piutang tak tertagih (uncollectible accounts  expense), beban piutang sangsi (bad debts expense), atau beban piutang tak  tertagih (doubtful accounts expense) (Warren 2005:395).
 Piutang usaha atau wesel tagih menjadi tak tertagih jika tidak ada satupun  ketentuan umum yang dapat digunakan untuk menentukan kapan suatu piutang  atau wesel menjadi tidak tertagih. Jikaseorang debitor gagal untuk membayar  piutang sesuai kontrak penjualan ataupun weselnya belum dibayar saat jatuh  tempo, tidak berarti bahwa utang-utang  tersebut tidak akan dapat tertagih.
Penutupan bisnis pelanggan atau gagalnya upaya penagihan setelah dilakukan    beberapa kali usaha adalah petunjuk lain tidak tertagihnya sebagian atau seluruh  piutang.
 Aktiva perusahaan harus di kelola dengan efektif dan efisien yaitu dalam  hal perputaran piutang (receivable turn over) juga memberikan kontribusi  terhadap pencapaian laba perusahaan. Rasio ini menunujukkan berapa lama dalam  setahun suatu perusahaan menerima kembali piutangnya. Semakin cepat piutang  berputar menunjukkan semakin cepat piutang berubah menjadi kas.
 Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa kerangka konseptual  adalah sebagai berikut:  Sumber  : Nisrayni, 2008 (diolah)  Gambar 1.1  : Kerangka Konseptual  D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Peneletian   a. Mengetahui dan menganalisis kondisi keuangan perusahaan melalui  analisis hubungan antara Kebijakan Pemberian Kredit dengan tujuan untuk  meningkatkan kemampuan laba perusahaan.
 b. Mengetahui seberapa besar bahwasanya kondisi kinerja keuangan  perusahaan di dalam mencapai keuntungan yang dipengaruhi oleh besarnya  jumlah piutang yang tak tertagih.
 c.  Untuk lebih mengetahui dan menganalisis tingkat perputaran piutang  perusahaan dalam pemberian kreditnya atau jasanya yang besar dengan tujuan  Pemberian Kredit/Piutang  (X1)  Piutang Tak Tertagih  (X2.1,X2.2)  Rasio Aktivitas Piutang  (X3.1,X3.2)  Kemampuan Memperoleh  Laba (ROI)  (Y)    agar memperoleh tingkat keuntungan yang baik bagi kemampuan laba  perusahaan.
2. Manfaat Penelitian    Manfaat penelitian yang dapat diambil dalam penelitian perusahaan ini  adalah sebagai berikut:   a. Bagi Perusahaan    Dapat memberikan tambahan informasi yang dapat digunakan sebagai  acuan dan bahan pertimbangan bagi manajemen dalam pelaksanaan kebijakan  yang akan diambil berkaitan dengan kebijakan kredit, penanggulangan piutang  dan profitabilitas perusahaan.
 b. Bagi penulis  Dapat mengembangkan dan memperluas wawasan berpikir yang tentunya  berkaitan dengan manajemen piutang khususnya hubungan Kebijakan Pemberian  Kredit dalam meningkatkan kemampuan laba perusahaan.
 c. Bagi pembaca    Dapat dijadikan referensi dalam penelitian-penelitian selanjutnya yang  tentunya mengenai manajemen piutang khususnya Kebijakan Pemberian Kredit  dalam meningkatkan kemampuan laba perusahaan.
E. Hipotesis  Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena, atau  keadaan yang telah terjadi atau akan terjadi. Fungsi dari hipotesis adalah sebagai  pedoman untuk dapat mengarahkan penelitian agar sesuai dengan apa yang kita  harapkan (Koncoro 2003:47).
 Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan maka hipotesis  nya menurut penulis sebagai berikut:  1. Pemberian kredit mempunyai  hubungan signifikan dengan tingkat  kemampuan laba pada PT. (Persero) Djakarta Lloyd.
2. Piutang tak tertagih mempunyai hubungan signifikan dengan tingkat  kemampuan laba pada PT. (Persero) Djakarta Lloyd.
3. Rasio aktivitas piutang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat  kemampuan laba pada PT. (Persero) Djakarta Lloyd    F. Metode Penelitian   1. Batasan Operasional    Pembahasan pada penelitian difokuskan pada hubungan antara pemberian  kredit, resiko piutang tak tertagih dan rasio perputaran piutang dengan  kemampuan memperoleh laba yang diukur dengan Return on Investment  perusahaan.
2. Defenisi Operasional  Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai  berikut ini:  a.  Pemberian Kredit/Piutang (X1) merupakan variabel bebas pertama  yang menunjukkan periode rata-rata dalam pemberian kredit/piutang  oleh perusahaan. Perumusan ini dapat dilihat sebagai berikut:  Pemberian Kredit/Piutang = Piutang sekarang – Piutang Sebelumnya       Piutang sebelumnya  b.  Piutang Tak Tertagih  Berdasarkan Saldo Piutang (X2.1)  merupakan varibel bebas kedua yang menunjukkan seberapa besar  jumlah piutang yang tak tertagih dari dana yang tertanam dalam saldo  piutang untuk mengetahui keefektfian aktiva. Rumus dapat diketahui  sebagai berikut:  Saldo Piutang Rata-Rata = Piutang Rata-Rata x 5%   Berdasarkan Saldo Penjualan (X2.2)  merupakan varibel kedua selanjutnya yang menunjukkan seberapa  besar jumlah piutang tak tertagih berdasarkan saldo penjualan dari  dana yang tertanam pada saldo piutang untuk mengetahui keefektifan  aktiva. Dengan penyisihan 1/5 % dari penjualan. Perumusan sebagai  berikut:  Saldo Penjualan = 1/5 % x Penjualan per Periode  c.  Rasio Aktivitas Piutang   Rasio Perputaran Piutang/Receivable Turn Over ratio (X3.1)     merupakan variabel bebas ketiga yang menunjukkan kemampuan dari  dana yang tertanam dalam piutang untuk berputar dalam suatu periode  tertentu. Perumusan dapat diketahui sebagai berikut:   Rasio Perputaran Piutang = Penjualan Kredit      Piutang Rata – rata  Periode Pengumpulan Piutang/Average Collection Period (X3.2)  merupakan variabel bebas ketiga selanjutnya yang menunjukkan  periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang.
Perumusan dapat diketahui berikut ini:     Periode rata-rata Pengumpulan Piutang = 3       Perputaran Piutang  d. Kemampuan Memperoleh Laba/Return On Investment (Y)  merupakan variabel terikat dalam penelitian yang diukur dengan salah  satu rasio rentabilitas, yaitu dengan menggunakan ROI yang bertujuan  untuk menilai keberhasilan perusahaan secara keseluruhan, yang  secara umum didefenisikan sebagai net incomedibagi dengan total  investasi. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:  Return On Investment= Laba Bersih Sesudah Pajak x 100%         Total Aktiva  3. Jenis Data  Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan data-data sebagai  berikut:  a.  Data Sekunder  Data sekunder perusahaan yaitu terdiri dari sejarah perkembangan  perusahaan, struktur organisasi  dan uraian tugas serta laporan  keuangan yaitu berupa laporan aruskas, laporan hasil usaha cabang  dan laporan piutang perusahaan.
4.  Lokasi dan Waktu Penelitian     Penelitian dilaksanakan pada PT. (Persero) Djakarta Lloyd yang berlamat  di jalan Perintis Kemerdekaan No. 15 Medan. Waktu dan penelitian dimulai dari  07 November 2009 sampai dengan 05 Maret 2010.
  5.  Teknik Pengumpulan Data     Pengumpulan data oleh yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:  a. Studi dokumentasi   Penulis mengumpulkan informasi yang bersumber dari laporan  keuangan PT.(Persero) Djakarta Lloyd Medan tahun 2005 sampai  dengan 2008, serta data-data lainnya yang berkaitan dengan penelitian  baik itu yang bersumber dari perusahaan itu sendiri maupun dari buku  ilmiah dan literatur pendukung lainnya yang berkaitan dengan masalah  penelitian.
b.  Teknik wawancara  Pada penelitian ini penulis melakukan tanya jawab langsung dengan  karyawan yang berwenang memberikan informasi yang diperlukan.
Dalam hal ini penulis melakukan wawancara dengan karyawan bagian  keuangan yang tentunya menangani masalah berkaitan dengan  penelitian.
6.  Metode Analisis Data   Penelitian dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan  pelaksanaannya dengan menetapkan metodeanalisis data terlebih dahulu.
Metode analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut:   a.  Metode Analisis Deskriptif   Metode ini merupakan salah satu metode yang digunakan untuk  melakukan pengumpulan, penyusunan dan analisis data mengenai  sejarah, struktur organisasi dan kegiatan berupa laporan keuangan  sehingga dapat memberikan yang hasil akurat mengenai masalah yang  dihadapi untuk melakukan penelitian.
b.  Metode Analisis Korelasi Rank Spearman  Metode analisis korelasi Rank oleh Spearman spearman digunakan  untuk mengetahui hubungan atau menguji signifikan hipotesis asosiatif  bila masing-masing variabel yang digunakan berbentuk ordinal, dan  sumber data antara variabel tidak harus sama (Syafrizal et all 2008:47).
Penulis menggunakan bantuan aplikasi komputer program SPSS versi    12,0 untuk mengerjakan metode ini. Korelasi Rank Spearmen (rs)  dihitung dengan rumus sebagai beikut:     nn di r s Dimana:  rs  :  Koefisien korelasi rank spearman  di  :  Selisih peringkat untuk setiap data  n  :  Jumlah sampel atau data  Nilai rsmenggambarkan besarnya hubungan antara variabel. Nilai rs yang mendekati 1 berarti hubungan antara kedua variabel tersebut  kuat dan bila nilai rs mendekati nol menggambarkan hubungan kedua  variabel tersebut lemah dan mendekati tidak ada.Tanda positif (+)  menunjukkan arah hubungan dua variabel yang positif dan tanda  negatif (-) menunjukkan arah hubungandua variabel yang negatif.
Interpretasi koefisien korelasi adalah sebagai berikut:  Tabel 1.
Pedoman Untuk memberikan Interpretasi  Koefisien Korelasi  Interval Koefisien  Tingkat Hubungan  0,000 - 0,199  Sangat lemah  0,200 – 0,399  Lemah  0,400 – 0,599  Sedang  0,600 – 0,799  Kuat  0,800 – 1,000  Sangat Kuat  c.  Pengujian Hipotesis   Pengujian hipotesis dilakukan adalahuntuk mengetahui signifikansi  dari koefisien korelasi spearman dengan menggunakan uji-t. Rumus  yang digunakan:  r n rt    Dimana:  t  :  Nilai t yang dihitung  n  :  Jumlah sampel atau data  r : Koefisien korelasi  Dalam pengujian ini digunakan hipotesis sebagai berikut:  H0: rs= 0, artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara  variabel X dengan variabel Y.
H1: rs≠0, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel  X dengan variabel Y.
Kriteria pengambilan keputusan:  H0diterima jika t tabel> thitungpada alpha = 5 %  H1diterima jika t tabel< thitungpada alpha = 5 %    

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi