Rabu, 26 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH GAYA HIDUP DAN RESPON ATAS IKLAN TERHADAP PREFERENSI MEREK



BAB I PENDAHULUAN 
A.  Latar belakang 
Sepeda motor merupakan sarana transportasi primadona masyarakat  Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Akibatnya, puluhan merek sepeda  motor membanjiri pasar Indonesia. Persaingan antar merek setiap produk jelas akan semakin tajam dalam merebut konsumen.
 Bagi konsumen, pasar menyediakan berbagai pilihan produk, tipe dan  merek yang banyak. Konsumen bebas memilih produk dan merek yang akan  dibelinya. Konsumen akan menggunakan berbagai kriteria dalam membeli dan  menentukan preferensinya terhadap produk dan merek tertentu. Diantaranya yaitu  konsumen akan membeli produk yang sesuai kebutuhannya, seleranya dan daya  belinya. Selain itu, faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologi juga sangat  mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihan akhir produk yang akan  dibelinya.
Preferensi diawali dari proses pencarian informasi mengenai beberapa  merek produk, dan kemudian mengumpulkannya untuk di evaluasi lebih lanjut  satu per satu, hingga akhirnya menetapkan satu merek yang akan dibeli.
Dalam pasar sepeda motor nasional sendiri terdapat setidaknya 4 pabrikan  atau merek besar yang dari tahun ke tahun terus mendominasi, yaitu Honda,  Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki, semuanya berasal dariJepang. Honda dari tahun  ke tahun selalu memimpin pasar, sedangkan Yamaha dengan setia terus menempel  posisi Honda. Akan tetapi posisi Yamaha ini tidak bisa di remehkan begitu saja   oleh Honda. Yamaha terus memperbaiki diri, hingga secara perlahan selisih  jumlah penjualannya semakin menipis dengan Honda. Bahkan dari tahun ke tahun  penjualannya Yamaha kerap meningkat. Seperti disajikan dalam tabel 1.1 berikut  ini: Tabel 1.1 Penjualan Sepeda Motor Nasional Tahun 2005-2009  Tahun Merek Honda  Yamaha  Suzuki  Kawasaki LainLain Total 2005  2.648.091  1.236.187  1.092.236  77.043  35.329  5.088.886 2006  2.264.168  1.488.561  598.041  34.686  32.886  4.427.342 2007  2.141.025  1.835.251  637.031  38.134  36.822  4.688.263 2008  2.874.576  2.465.546  793.758  44.690  37.295  6.215.865 2009 *  2.190.181  2.150.731  361.774  47.892  2.900  4.753.478 Diolah dari berbagai sumber di internet.
*) hingga Oktober 2009 Kunci keberhasilan Yamaha meningkatkan penjualan antara lain karena  sensitifnya mereka dalam menyelami gaya hidup konsumen, sepeda motor  produksi Yamaha memiliki keunggulan dalam hal desain fisik dan kecepatan  dibanding produk merek lain.
Iklan juga merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan peranannya,  Yamaha sangat produktif dalam beriklan, frekuensi iklannya di berbagai media   mengungguli berbagai merek sepeda motor lain, termasuk Honda.
(www.triatmono.wordpress.com)  Tidak saja di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Yamaha juga tidak luput dalam melihat target pasar yang berada di daerah-daerah.
Karena pasar di daerah merupakan pasar potensial dimana jumlah konsumennya  tidak kecil dan masih belum begitu tergarap.
Perumahan karyawan PTPN IV Pabatu merupakan komplek perumahan  yang letaknya relatif jauh dari kota besar, jaraknya dari kota Medan yang  merupakan ibukota propinsi mencapai 90 km. Sedangkan kota yang paling dekat  di akses dari komplek perumahan ini adalah kota Tebing Tinggi, yang jaraknya  kira-kira hanya 6 km. Sehingga dalam keseharian, masyarakat Pabatu menjadikan  sepeda motor menjadi alat transportasi utama, bahkan telah menjadi gaya hidup  yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian.
Konsep gaya hidup konsumen menunjukkan bagaimana seseorang hidup,  bagaimana mereka membelanjakan uangnya, dan  bagaimana mereka  mengalokasikan waktu. Konsep ini tidak statis, akan tetapi dinamis, seiring  dengan berkembangnya peradaban. Dan Yamaha menyadari betul konsep ini,  sehingga Yamaha mengutamakan inovasi dan melakukan pengembangan  teknologi secara berkesinambungan dalam merancang sepeda motornya.
Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa iklan tetap memegang peranan  paling penting untuk mempengaruhi konsumen agar membeli suatu produk. Pesan  iklan juga harus efektif dan informatif karena menentukan tepat atau tidaknya  iklan tersebut diluncurkan dan mendapat tanggapan memuaskan dari audience.
Kenyataan menunjukkan, sebagian besar penonton televisi misalnya, memutuskan   mengganti saluran saat iklan ditayangkan. Sehingga pemasar perlu jeli memilih  dan menentukan pesan iklan yang disampaikan. Iklan yang disajikan harus  merupakan “suguhan imajinatif, interaktif, menghibur dan bermanfaat”.
Setiap iklan juga  harus ditata sedemikian rupa sehingga isinya dapat  membangkitkan kesadaran khalayak bahwa suatu produk yang diperlukan, selama  ini ternyata disediakan oleh orang lain, lalu mencoba produk dan terakhir  peneguhan pada produk sehingga konsumen akan tetap ingat  dan memahami  produk tersebut.
Dengan berdasarkan konsep itu, dalam beriklan, Yamaha tidak hanya  mengemas iklannya dengan sangat rapi,  tapi juga menggandeng tokoh-tokoh  ataupun selebriti yang dianggap memiliki kemampuan yang baik dalam  mengkomunikasikan informasi tentang produknya ke audience.
Dalam iklan Jupiter MX versi televisi yang terbaru, Yamaha Indonesia  menggandeng Valentino Rossi dan Komeng sebagai endorser-nya. Hal ini tentu  menimbulkan respon positif dari konsumen yang melihat iklan ini, karena  nantinya akan membentuk image bahwa Yamaha umumnya adalah motor dengan  kualitas yang bagus.  Cepat,  tangguh, dan bergengsi.  Dalam iklan tersebut Valentino Rossi juga  menyebutkan Jupiter MX “very fast”. Itu juga akan  menimbulkan rasa percaya (trust) yang kuat oleh konsumen, di karenakan yang  berbicara adalah sang juara dunia moto gp. (www.triatmono.wordpress.com)  B.  Perumusan Masalah Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas, dirumuskan masalah yaitu  “Bagaimana gaya hidup dan respon atas iklan berpengaruh terhadap preferensi   merek pada pengguna sepeda motor Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV  Pabatu, Tebing Tinggi ?” C.  Kerangka Konseptual Fatmanovita (2005) menyatakan bahwa  lifestyle  (gaya hidup) yang  bervariasi pada konsumen ikut serta dalam penentuan keputusan yang akan  diambil. Cara pandangnya dalam situasi yang beragam mampu mempengaruhi  brand preference (preferensi merek) konsumen. Hal ini merujuk pada kemampuan  merek untuk mengekspresikan sisi karakter pemakainya. Respon atas advertising (iklan) dapat mempengaruhi konsumen untuk memilih suatu merek, karena  konsumen menganggap iklan tersebut adalah suatu titik awal jawaban pemenuhan  kebutuhannya.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat digambarkan kerangka konseptual  penelitian ini adalah sebagai berikut : Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber : Fatmanovita, 2005 (diolah) Gaya Hidup Respon Atas Iklan Preferensi Merek  D.  Hipotesis Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut : “Gaya hidup  dan  respon konsumen atas iklan memiliki pengaruh terhadap preferensi merek pada  pengguna  sepeda motor  Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu,  Tebing Tinggi” E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah gaya hidup dan  respon atas iklan berpengaruh terhadap preferensi merek pada pengguna  Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi.
2. Manfaat Penelitian Manfaat dalam penelitian ini adalah: a.  Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini sekiranya dapat memberi masukan yang bermanfaat  bagi Yamaha agar  produknya disesuaikan dengan gaya hidup para  konsumennya. Selain itu juga agar Yamaha memperhatikan iklan dan  promosi produknya, sehingga merek Yamaha selalu menjadi pilihan utama  dan melekat erat di hati para pecinta sepeda motor tanah air.
b.  Bagi Departemen Manajemen FE USU Penelitian ini diharapkan dapat menambah atau memperluas khazanah  ilmu pemasaran khususnya, di Departemen Manajemen FE USU.
 c. Bagi Pihak Lain Dapat digunakan sebagai bahan perbandingan bagi penulis lain dalam  melakukan penelitian objek maupun masalah yang sama di masa yang  akan datang.
d. Bagi Penulis Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam  bidang pemasaran terutama dalam memahami seberapa besar pengaruh  gaya hidup maupun iklan dalam pemilihan merek yang dilakukan oleh  konsumen.
F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional    Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah mengenai gaya  hidup dan respon atas iklan dan pengaruhnya terhadap preferensi merek pada  pengguna sepeda motor Yamaha di perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu,  Tebing Tinggi.
2. Definisi Operasional Variabel Adapun definisi operasional variabel pada penelitian ini, adalah : a. Variabel bebas yaitu variabel yang nilainya tidak tergantung pada variabel  lain, terdiri dari :  1) Variabel gaya hidup (X1) merupakan pola hidup seseorang di dunia  yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya.
2) Variabel respon atas iklan (X2) adalah tindakan atau tanggapan yang  akan dilakukan oleh konsumen dalam menanggapi pesan iklan yang  ditawarkan.
 b. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. Pada  penelitian ini yang menjadi variabel terikat (Y) adalah preferensi merek  pengguna sepeda motor Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu.
Preferensi merek merupakan kecenderungan terhadap suatu merek yang  didasarkan pada kepercayaan pelanggan yang kuat pada saat tertentu.
Penjelasan lebih lengkap mengenai definisi operasional variabel  penelitian ini dapat di lihat pada Tabel 1.2 berikut ini.
Tabel 1.2 Definisi Operasional Variabel Variabel  Pengertian  Indikator  Skala Gaya hidup  (X1) Pola hidup seseorang di dunia  yang diekspresikan dalam  aktivitas, minat, dan opininya.
1.  Sepeda motor Yamaha  sangat membantu  aktivitas sehari-hari.
2.  Model dan desain  sepeda motor Yamaha  yang memberi kesan  stylish.
3.  Sepeda motor Yamaha  dapat membantu hidup  lebih hemat.
4.  Sepeda motor Yamaha membuat lebih percaya  diri dalam pergaulan.
Likert Respon atas  iklan (X2)  Tindakan atau tanggapan yang  akan dilakukan oleh konsumen  dalam menanggapi pesan iklan  yang ditawarkan.
1.  Memberikan perhatian  terhadap iklan-iklan  sepeda motor Yamaha 2.  Menancapkan rasa  ketertarikan terhadap  iklan-iklan Yamaha 3.  Rencana melakukan  pembelian setelah  melihat iklan sepeda  motor Yamaha Likert  Preferensi  merek  (Y) Kecenderungan terhadap suatu  merek yang didasarkan pada  kepercayaan pelanggan yang  kuat pada saat tertentu.
1. Memilih sepeda motor  Yamaha adalah pilihan  tepat.
2. Kualitas produk sepeda  motor merek Yamaha  lebih baik.
3. Kualitas pelayanan yang  diberikan penjual  sepeda motor merek  Yamaha lebih  memuaskan dibanding  merek lain.
Likert Sumber : Setiadi, Stuart and Sundeen, Mitchel and Olsen (diolah)  3. Pengukuran Variabel Pada penelitian ini variabel yang diukur yaitu variabel gaya hidup, konsep  diri, respon atas iklan dan juga preferensi merek dengan menggunakan skala  Likert. Skala Likert yaitu alat ukur yang digunakan untuk mengukur sikap,  pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang sosial  (Sugiyono, 2005) misalnya dengan pembagian sebagai berikut: Sangat Setuju (SS)    : diberi skor 5  Setuju (S)     : diberi skor 4  Kurang Setuju (KS)   : diberi skor 3  Tidak Setuju    : diberi skor 2 Sangat Tidak Setuju (STS)  : diberi skor 1   4. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian  Penelitian ini akan dilakukan di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu di  Jalan Lintas Medan-Pematang Siantar sejak bulan November- Desember2009.
5. Populasi dan Sampel  a. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk Perumahan Karyawan PTPN  IV Pabatu yang menggunakan sepeda motor Yamaha berbagai tipe.
b. Sampel  Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling,  yaitu sampel yang dipilih dengan kriteria tertentu (Sugiyono, 2005). Kriteria  dari sampel adalah warga Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing  Tinggi yang memiliki sepeda motor Yamaha berbagai tipe dengan tahun  produksi 2005 keatas.
Dalam kasus ini populasi tidak dapat diidentifikasi jumlah pastinya oleh  penulis, dan untuk setiap populasi yang tidak terindentifikasi, maka digunakan  rumus penentuan jumlah sampel sebagai berikut:  (Zα) 2 (p)(q) n =  d 2  Keterangan: n  = Jumlah sampel Zα  = Nilai standard normal yang besarnya tergantung α,  bila α = 0,05 → z = 1,67  bila α = 0,01 → z = 1,96 p  = Estimator proporsi populasi  q  = 1 – p  d  = Penyimpangan yang di tolerir Untuk memperoleh n (jumlah sampel) yang besar dan nilai p belum diketahui,  maka dapat digunakan p = 0,5. Dengan demikian, jumlah sampel yang mewakili  populasi dalam penelitian ini adalah: (1,96) 2 (0,5)(0,5) n =    ——————= 96,04 = 96 orang (0,1) 2  6.  Teknik Pengumpulan Data  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan  menggunakan beberapa teknik antara lain: a.  Wawancara (Interview)  Dilakukan dengan Kepala Desa Kedai Damar Pabatu untuk memperoleh keterangan dan informasi yang diperlukan dalam penelitian.
b.  Daftar Pertanyaan (Questionnaire)  Yaitu pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan melalui  daftar pertanyaan pada responden yang terpilih, yakni warga Perumahan  Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi yang memiliki sepeda motor  Yamaha berbagai tipe dengan tahun produksi 2005 keatas.
c.  Studi Dokumentasi Mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, tulisan ilmiah dan  internet yang memiliki relevansi dengan penelitian.
 7.  Jenis dan Sumber Data a. Data Primer Data yang diperoleh langsung dari :  1) Warga Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi yang  memiliki sepeda motor Yamaha berbagai tipe dengan tahun produksi 2005  keatas sebagai responden yang diambil dari sampel.
2) Kantor Kepala Desa Kedai Damar Pabatu  b. Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh melalui studi dokumen dengan mempelajari  berbagai tulisan melalui buku, jurnal, majalah, informasi dari perusahaan  ataupun internet untuk mendukung penelitian ini.
8. Uji Validitas dan Reliabilitas  Uji validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan untuk menguji suatu  pertanyaan (kuesioner) layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Valid  berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang  seharusnya diukur. Validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur  melakukan tugasnya mencapai sasaran. Pengukuran dikatakan valid jika  mengukur tujuannya dengan nyata dan benar. Reliabilitas menunjukkan akurasi  dan konsistensi dari pengukurannya. Dikatakan konsisten jika beberapa  pengukuran terhadap subyek yang sama diperoleh hasil yang tidak berbeda  (Sugiyono, 2005). Uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian ini  menggunakan bantuan software SPSS 15.0 for windows.
 a. Uji Validitas Uji validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 15.0 dengan  kriteria sebagai berikut : a. Jika rhitung positif ataurhitung > rtabel, maka butir pertanyaan tersebut valid.
b. Jika rhitung positif atau rhitung < rtabel, maka butir pertanyaan tersebut  tidak valid.
Penyebaran kuesioner khusus dalam uji validitas dan reliabilitas diberikan  kepada 30 orang responden diluar dari responden penelitian yang hasilnya  dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3  Uji Validitas Pertanyaan  r hitung  r table  Keterangan p1  .495  0.361  Valid p2  .486  0.361  Valid p3  .535  0.361  Valid p4  .750  0.361  Valid p5  .875  0.361  Valid p6  .662  0.361  Valid p7  .488  0.361  Valid p8  .404  0.361  Valid p9  .557  0.361  Valid p10  .628  0.361  Valid Sumber: Hasil Penelitian (Januari, 2010) diolah   Pada Tabel 1.3 diatas menunjukkan korelasi antara skor item dengan skor  total item yang dapat digunakan untuk menguji validitas instrumen. Untuk  mengetahui validitas pada setiap pertanyaan, maka nilai pada colom corrected  item total correlation yang merupakan nilai rhitung dibandingkan dengan rtabel.
Adapun  pada  α  =  0,05  dengan  derajat  bebas  df  =  30,  sehinggan  r  (0,05:30),  diperoleh rtabel adalah 0,361.
Tabel 1.3 juga menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan valid karena  rhitung > rtabel yang dapat dilihat dari  rhitung pada corrected item total  correlation  yang pada keseluruhan butir lebih besar dari rtabel (0,361).
Dengan demikian, kuesioner dapat dilanjutkan pada tahap reliabilitas.
b. Uji Reliabilitas Pengujian dilakukan dengan menggunakan SPSS 15.0 dengan kriteria  sebagai berikut : a. Jika ralpha positif atau lebih besar dari rtabel maka dinyatakan reliabel.
b. Jika ralpha  positif atau lebih besar dari rtabel  maka dinyatakan tidak  reliabel.
Menurut Ghozali dan Kuncoro (Situmorang dkk, 2006) butir pertanyaan  yang sudah dinyatakan valid dalam uji validitas akan ditentukan reliabilitasnya  dengan kriteria sebagai berikut: a. Menurut Ghozali nilai Cronbach’s Alpha > 0.60 b. Menurut Kuncoro nilai Cronbach’s Alpha > 0.80  Tabel 1.4  Reliability Statistics Cronbach's Alpha  N of Items 0.863  10 Sumber: Hasil Penelitian (Januari, 2010) diolah Pada tabel 1.4 dapat diketahui bahwa nilai ralpha sebesar 0,863 dan r tabel sebesar 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ralpha positif dan lebih  besar dari rtabel (0,863 > 0,361) maka kuesioner tersebut dinyatakan reliabel  dan dapat digunakan untuk penelitian. Kriteria lain menyatakan bahwa suatu  variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach's alpha > 0,60 atau  0,80 berdasarkan hasil SPSS pada Tabel 1.4 maka ke 10 pernyataan dinyatakan  reliabel dengan kriteria tersebut.
9.  Metode Analisis Data Metode analisis data dalam penelitian ini adalah: a. Metode Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah metode penganalisaan yang dilakukan  dengan cara menentukan data, mengumpulkan data dan mengintrepetasikan  data sehingga dapat memberikan gambaran masalah yang dihadapi. Metode  analisis deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang  tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari  suatu gejala tertentu (Umar, 2003).
 b. Analisis Regresi Linear Berganda Untuk mengetahui pengaruh atau hubungan variabel bebas (gaya hidup dan respon atas iklan) dan variabel terikat (preferensi merek), maka untuk  memperoleh hasil yang lebih akurat, penulis menggunakan bantuan program  software SPSS (Statistik Product and Service Solution) versi 15.0.
Rumusnya adalah sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + e Dimana : Y  = Preferensi merek a   = Konstanta b1-b2  = Koefisien Regresi X1  = Gaya hidup X2  = Respon atas iklan e  = Error of term c. Pengujian Hipotesis Suatu perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai  uji statistiknya berada dalam daerah krisis (daerah dimana Ho  ditolak).
Sebaliknya, disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam  daerah dimana Ho diterima. Dalam analisisnya ada beberapa kriteria ketepatan,  yaitu: 1)  Pengujian variabel bebas secara simultan (Uji F) Merupakan pengujian untuk mengetahui apakah semua variabel  independen yang digunakan, mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen  atau tidak. Adapun rumusnya adalah (Gujarati, 1995) :  F hitung  =     R 2  / (k – 1)  (1 – R 2 ) / (n – k) F tabel    =   ( α : k-1, n-k ) α = 5 %  Dimana : R 2  = Koefisien determinan n  = jumlah sampel k  = jumlah variabel bebas Langkah-langkah pengujian : a)  H0 : β1, β2, β3=0 Ha : β1, β2, β3≠0 b)  Menentukan level of significance c)  Menentukan kriteria pengujian d)  Melakukan penghitungan nilai F e)  Kesimpulan : H0 diterima jika Fhitung < Ftabel, berarti secara bersama-sama variabel  independen tidak mempengaruhi variabel dependen.
Dan sebaliknya, H0 ditolak jika Fhitung > Ftabel, berarti secara bersama-sama  variabel independen mempengaruhi variabel dependen.
2)  Pengujian variabel bebas secara parsial (Uji t) Merupakan pengujian untuk mengetahui pengaruh variabel bebas  (independent) secara parsial terhadap variabel bebas (dependent), dengan  asumsi bahwa variabel bebas lain dianggap konstan.
Adapun langkah-langkah dalam pengujian adalah sebagai berikut :  a)  H0 : βi = 0 Ha : β1 ≠ 0 b)  Menentukan level of significance c)  Menentukan kriteria pengujian d)  Melakukan perhitungant dengan rumus : thitung  = bi - βi se(bi)  Dimana : bi = koefisien βi βi = nilai hipotesis i se = standar error e)  Kesimpulan : H0 diterima jika –ttabel<thitung<ttabel, artinya variabel independen tidak  mempengaruhi variabel dependen.
H0 ditolak jika thitung>ttabel dan thitung<˗ttabel, artinya variabel independen  mempengaruhi variabel dependen.
3)  Uji Determinasi (R 2 )  Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variasi variabel  dependen dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen.
Nilai R 2 berada diantara 0 dan 1. Besarnya R 2 dapat dihitung dari  persamaan sebagai berikut (Gujarati, 1995) : R 2 = ESS / TSS, atau R 2 = 1 - (RSS / TSS),   Dimana : ESS = Explained Sum of Square TSS = Total Sum of Square RSS = Residual Sum of Square 10. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan sebelum melakukan analisis regresi, agar  didapat perkiraan yang tidak bias dan efisiensi maka dilakukan pengujian  asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu: a. Uji Normalitas Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah  data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Uji normalitas dilakukan  dengan menggunakan pendekatan kolmogrov smirnov. Dengan menggunakan  tingkat signifikan 5% maka jika nilai Asymp.sig. (2-tailed) diatas nilai  signifikan 5% artinya variabel residual berdistribusi normal.
b. Uji Heteroskedastisitas Terjadi jika gangguan muncul dalam fungsi regresi yang mempunyai  varian yang tidak sama, sehingga penaksir kuadrat terkecil biasa (OLS) tidak  efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar. Untuk mengetahui ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dalam suatu model, maka dilakukan  pengujian dengan metode Glejser. Langkah-langkah dalam uji Glejser adalah  (Gujarati, 1995) : 1)  Membuat model regresi yang digunakan tanpa memperdulikan adanya  heteroskedastisitas. Dari hasil pengujian tersebut diperoleh nilai residual ( ).
 2)  Meregresikan nilai absolut dari   (   ) terhadap variabel X yang diduga  mempunyai hubungan yang erat dengan  2 .
3)  Membuat nilai thitung  dan ttabel. Apabila thitung > ttabel atau thitung < -ttabel,  berarti ada gejala heteroskedastisitas. Sebaliknya jika –ttabel < thitung < ttabel,  maka tidak ada gejala heteroskedastisitas.
c. Uji Multikolinearitas  Asumsi multikolinearitas menyatakan bahwa variabel independen harus  terbebas dari gejala multikolinearitas, yakni gejala korelasi antar variabel  independen. Dengan kata lain, model regresi yang baik seharusnya tidak  terdapat korelasi atau hubungan linear yang sempurna atau pasti antar variabel  independennya. Cara yang akan digunakan untuk mendeteksi adanya  multikolinearitas dalam penelitian ini, dengan melihat nilai Variance Inflation  Factor (VIF). Semakin besar nilai VIF, maka semakin besar juga kolinearitas  antara variabel X (Gujarati, 1995). Jika VIF dari suatu variabel bernilai diatas  10, maka dapat dikatakan multikolinearitas tinggi.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi