BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sepeda motor merupakan sarana
transportasi primadona masyarakat Indonesia
selama beberapa dekade terakhir. Akibatnya, puluhan merek sepeda motor membanjiri pasar Indonesia. Persaingan
antar merek setiap produk jelas akan semakin tajam dalam merebut konsumen.
Bagi konsumen,
pasar menyediakan berbagai pilihan produk, tipe dan merek yang banyak. Konsumen bebas memilih
produk dan merek yang akan dibelinya.
Konsumen akan menggunakan berbagai kriteria dalam membeli dan menentukan preferensinya terhadap produk dan
merek tertentu. Diantaranya yaitu konsumen
akan membeli produk yang sesuai kebutuhannya, seleranya dan daya belinya. Selain itu, faktor-faktor budaya,
sosial, pribadi, dan psikologi juga sangat mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihan
akhir produk yang akan dibelinya.
Preferensi diawali
dari proses pencarian informasi mengenai beberapa merek produk, dan kemudian mengumpulkannya
untuk di evaluasi lebih lanjut satu per
satu, hingga akhirnya menetapkan satu merek yang akan dibeli.
Dalam pasar sepeda
motor nasional sendiri terdapat setidaknya 4 pabrikan atau merek besar yang dari tahun ke tahun
terus mendominasi, yaitu Honda, Yamaha,
Suzuki, dan Kawasaki, semuanya berasal dariJepang. Honda dari tahun ke tahun selalu memimpin pasar, sedangkan
Yamaha dengan setia terus menempel posisi
Honda. Akan tetapi posisi Yamaha ini tidak bisa di remehkan begitu saja oleh Honda. Yamaha terus memperbaiki diri,
hingga secara perlahan selisih jumlah
penjualannya semakin menipis dengan Honda. Bahkan dari tahun ke tahun penjualannya Yamaha kerap meningkat. Seperti
disajikan dalam tabel 1.1 berikut ini: Tabel
1.1 Penjualan Sepeda Motor Nasional Tahun 2005-2009 Tahun Merek Honda Yamaha
Suzuki Kawasaki LainLain Total 2005 2.648.091
1.236.187 1.092.236 77.043
35.329 5.088.886 2006 2.264.168
1.488.561 598.041 34.686
32.886 4.427.342 2007 2.141.025
1.835.251 637.031 38.134
36.822 4.688.263 2008 2.874.576
2.465.546 793.758 44.690
37.295 6.215.865 2009 * 2.190.181
2.150.731 361.774 47.892
2.900 4.753.478 Diolah dari
berbagai sumber di internet.
*) hingga Oktober
2009 Kunci keberhasilan Yamaha meningkatkan penjualan antara lain karena sensitifnya mereka dalam menyelami gaya hidup
konsumen, sepeda motor produksi Yamaha
memiliki keunggulan dalam hal desain fisik dan kecepatan dibanding produk merek lain.
Iklan juga merupakan
komponen yang tidak bisa diabaikan peranannya, Yamaha sangat produktif dalam beriklan,
frekuensi iklannya di berbagai media mengungguli
berbagai merek sepeda motor lain, termasuk Honda.
(www.triatmono.wordpress.com)
Tidak saja di kota-kota besar seperti di
Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Yamaha juga tidak
luput dalam melihat target pasar yang berada di daerah-daerah.
Karena pasar di
daerah merupakan pasar potensial dimana jumlah konsumennya tidak kecil dan masih belum begitu tergarap.
Perumahan karyawan
PTPN IV Pabatu merupakan komplek perumahan yang letaknya relatif jauh dari kota besar,
jaraknya dari kota Medan yang merupakan
ibukota propinsi mencapai 90 km. Sedangkan kota yang paling dekat di akses dari komplek perumahan ini adalah
kota Tebing Tinggi, yang jaraknya kira-kira
hanya 6 km. Sehingga dalam keseharian, masyarakat Pabatu menjadikan sepeda motor menjadi alat transportasi utama,
bahkan telah menjadi gaya hidup yang
tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian.
Konsep gaya hidup
konsumen menunjukkan bagaimana seseorang hidup, bagaimana mereka membelanjakan uangnya,
dan bagaimana mereka mengalokasikan waktu. Konsep ini tidak statis,
akan tetapi dinamis, seiring dengan
berkembangnya peradaban. Dan Yamaha menyadari betul konsep ini, sehingga Yamaha mengutamakan inovasi dan
melakukan pengembangan teknologi secara
berkesinambungan dalam merancang sepeda motornya.
Selain itu, tidak
bisa dipungkiri bahwa iklan tetap memegang peranan paling penting untuk mempengaruhi konsumen
agar membeli suatu produk. Pesan iklan
juga harus efektif dan informatif karena menentukan tepat atau tidaknya iklan tersebut diluncurkan dan mendapat
tanggapan memuaskan dari audience.
Kenyataan
menunjukkan, sebagian besar penonton televisi misalnya, memutuskan mengganti saluran saat iklan ditayangkan.
Sehingga pemasar perlu jeli memilih dan
menentukan pesan iklan yang disampaikan. Iklan yang disajikan harus merupakan “suguhan imajinatif, interaktif,
menghibur dan bermanfaat”.
Setiap iklan
juga harus ditata sedemikian rupa
sehingga isinya dapat membangkitkan
kesadaran khalayak bahwa suatu produk yang diperlukan, selama ini ternyata disediakan oleh orang lain, lalu
mencoba produk dan terakhir peneguhan
pada produk sehingga konsumen akan tetap ingat
dan memahami produk tersebut.
Dengan berdasarkan
konsep itu, dalam beriklan, Yamaha tidak hanya mengemas iklannya dengan sangat rapi, tapi juga menggandeng tokoh-tokoh ataupun selebriti yang dianggap memiliki
kemampuan yang baik dalam mengkomunikasikan
informasi tentang produknya ke audience.
Dalam iklan Jupiter
MX versi televisi yang terbaru, Yamaha Indonesia menggandeng Valentino Rossi dan Komeng sebagai
endorser-nya. Hal ini tentu menimbulkan
respon positif dari konsumen yang melihat iklan ini, karena nantinya akan membentuk image bahwa Yamaha
umumnya adalah motor dengan kualitas
yang bagus. Cepat, tangguh, dan bergengsi. Dalam iklan tersebut Valentino Rossi
juga menyebutkan Jupiter MX “very fast”.
Itu juga akan menimbulkan rasa percaya
(trust) yang kuat oleh konsumen, di karenakan yang berbicara adalah sang juara dunia moto gp.
(www.triatmono.wordpress.com) B. Perumusan Masalah Berdasarkan pada uraian
latar belakang diatas, dirumuskan masalah yaitu “Bagaimana gaya hidup dan respon atas iklan
berpengaruh terhadap preferensi merek
pada pengguna sepeda motor Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi ?” C. Kerangka Konseptual Fatmanovita (2005)
menyatakan bahwa lifestyle (gaya hidup) yang bervariasi pada konsumen ikut serta dalam
penentuan keputusan yang akan diambil.
Cara pandangnya dalam situasi yang beragam mampu mempengaruhi brand preference (preferensi merek) konsumen.
Hal ini merujuk pada kemampuan merek
untuk mengekspresikan sisi karakter pemakainya. Respon atas advertising (iklan)
dapat mempengaruhi konsumen untuk memilih suatu merek, karena konsumen menganggap iklan tersebut adalah
suatu titik awal jawaban pemenuhan kebutuhannya.
Berdasarkan uraian
diatas, maka dapat digambarkan kerangka konseptual penelitian ini adalah sebagai berikut : Gambar
1.1 Kerangka Konseptual Sumber : Fatmanovita, 2005 (diolah) Gaya Hidup Respon
Atas Iklan Preferensi Merek D. Hipotesis Hipotesis pada penelitian ini
adalah sebagai berikut : “Gaya hidup dan
respon konsumen atas iklan memiliki
pengaruh terhadap preferensi merek pada pengguna sepeda motor
Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi” E. Tujuan dan Manfaat
Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
apakah gaya hidup dan respon atas iklan
berpengaruh terhadap preferensi merek pada pengguna Yamaha di Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu,
Tebing Tinggi.
2. Manfaat
Penelitian Manfaat dalam penelitian ini adalah: a. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini
sekiranya dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi Yamaha agar produknya disesuaikan dengan gaya hidup para konsumennya. Selain itu juga agar Yamaha
memperhatikan iklan dan promosi
produknya, sehingga merek Yamaha selalu menjadi pilihan utama dan melekat erat di hati para pecinta sepeda
motor tanah air.
b. Bagi Departemen Manajemen FE USU Penelitian
ini diharapkan dapat menambah atau memperluas khazanah ilmu pemasaran khususnya, di Departemen
Manajemen FE USU.
c. Bagi Pihak Lain Dapat digunakan sebagai
bahan perbandingan bagi penulis lain dalam melakukan penelitian objek maupun masalah yang
sama di masa yang akan datang.
d. Bagi Penulis Penelitian
ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam bidang pemasaran terutama dalam memahami
seberapa besar pengaruh gaya hidup
maupun iklan dalam pemilihan merek yang dilakukan oleh konsumen.
F. Metode
Penelitian 1. Batasan Operasional Adapun batasan operasional dalam penelitian
ini adalah mengenai gaya hidup dan
respon atas iklan dan pengaruhnya terhadap preferensi merek pada pengguna sepeda motor Yamaha di perumahan
Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi.
2. Definisi
Operasional Variabel Adapun definisi operasional variabel pada penelitian ini,
adalah : a. Variabel bebas yaitu variabel yang nilainya tidak tergantung pada
variabel lain, terdiri dari : 1) Variabel gaya hidup (X1) merupakan pola
hidup seseorang di dunia yang
diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya.
2) Variabel respon
atas iklan (X2) adalah tindakan atau tanggapan yang akan dilakukan oleh konsumen dalam menanggapi
pesan iklan yang ditawarkan.
b. Variabel terikat adalah variabel yang
dipengaruhi oleh variabel lain. Pada penelitian
ini yang menjadi variabel terikat (Y) adalah preferensi merek pengguna sepeda motor Yamaha di Perumahan Karyawan
PTPN IV Pabatu.
Preferensi merek
merupakan kecenderungan terhadap suatu merek yang didasarkan pada kepercayaan pelanggan yang
kuat pada saat tertentu.
Penjelasan lebih
lengkap mengenai definisi operasional variabel penelitian ini dapat di lihat pada Tabel 1.2
berikut ini.
Tabel 1.2 Definisi
Operasional Variabel Variabel
Pengertian Indikator Skala Gaya hidup (X1) Pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya.
1. Sepeda motor Yamaha sangat membantu aktivitas sehari-hari.
2. Model dan desain sepeda motor Yamaha yang memberi kesan stylish.
3. Sepeda motor Yamaha dapat membantu hidup lebih hemat.
4. Sepeda motor Yamaha membuat lebih percaya diri dalam pergaulan.
Likert Respon atas iklan (X2) Tindakan atau tanggapan yang akan dilakukan oleh konsumen dalam menanggapi pesan iklan yang ditawarkan.
1. Memberikan perhatian terhadap iklan-iklan sepeda motor Yamaha 2. Menancapkan rasa ketertarikan terhadap iklan-iklan Yamaha 3. Rencana melakukan pembelian setelah melihat iklan sepeda motor Yamaha Likert Preferensi merek (Y)
Kecenderungan terhadap suatu merek yang
didasarkan pada kepercayaan pelanggan
yang kuat pada saat tertentu.
1. Memilih sepeda
motor Yamaha adalah pilihan tepat.
2. Kualitas produk
sepeda motor merek Yamaha lebih baik.
3. Kualitas
pelayanan yang diberikan penjual sepeda motor merek Yamaha lebih memuaskan dibanding merek lain.
Likert Sumber :
Setiadi, Stuart and Sundeen, Mitchel and Olsen (diolah) 3. Pengukuran Variabel Pada penelitian ini
variabel yang diukur yaitu variabel gaya hidup, konsep diri, respon atas iklan dan juga preferensi
merek dengan menggunakan skala Likert.
Skala Likert yaitu alat ukur yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok
orang tentang sosial (Sugiyono, 2005)
misalnya dengan pembagian sebagai berikut: Sangat Setuju (SS) : diberi skor 5 Setuju (S)
: diberi skor 4 Kurang Setuju
(KS) : diberi skor 3 Tidak Setuju
: diberi skor 2 Sangat Tidak Setuju (STS) : diberi skor 1 4. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Perumahan
Karyawan PTPN IV Pabatu di Jalan Lintas
Medan-Pematang Siantar sejak bulan November- Desember2009.
5. Populasi dan
Sampel a. Populasi Populasi dalam
penelitian ini adalah penduduk Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu yang menggunakan sepeda motor Yamaha
berbagai tipe.
b. Sampel Teknik pengambilan sampel menggunakan metode
purposive sampling, yaitu sampel yang
dipilih dengan kriteria tertentu (Sugiyono, 2005). Kriteria dari sampel adalah warga Perumahan Karyawan
PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi yang
memiliki sepeda motor Yamaha berbagai tipe dengan tahun produksi 2005 keatas.
Dalam kasus ini
populasi tidak dapat diidentifikasi jumlah pastinya oleh penulis, dan untuk setiap populasi yang tidak
terindentifikasi, maka digunakan rumus
penentuan jumlah sampel sebagai berikut: (Zα) 2 (p)(q) n = d 2 Keterangan:
n = Jumlah sampel Zα = Nilai standard normal yang besarnya
tergantung α, bila α = 0,05 → z = 1,67 bila α = 0,01 → z = 1,96 p = Estimator proporsi populasi q = 1 –
p d
= Penyimpangan yang di tolerir Untuk memperoleh n (jumlah sampel) yang
besar dan nilai p belum diketahui, maka
dapat digunakan p = 0,5. Dengan demikian, jumlah sampel yang mewakili populasi dalam penelitian ini adalah: (1,96) 2
(0,5)(0,5) n = ——————= 96,04 = 96
orang (0,1) 2 6. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan beberapa
teknik antara lain: a. Wawancara
(Interview) Dilakukan dengan Kepala Desa
Kedai Damar Pabatu untuk memperoleh keterangan dan informasi yang diperlukan
dalam penelitian.
b. Daftar Pertanyaan (Questionnaire) Yaitu pengumpulan data dengan cara mengajukan
pertanyaan melalui daftar pertanyaan
pada responden yang terpilih, yakni warga Perumahan Karyawan PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi yang
memiliki sepeda motor Yamaha berbagai
tipe dengan tahun produksi 2005 keatas.
c. Studi Dokumentasi Mengumpulkan data dan
informasi dari buku-buku, tulisan ilmiah dan internet yang memiliki relevansi dengan
penelitian.
7.
Jenis dan Sumber Data a. Data Primer Data yang diperoleh langsung dari :
1) Warga Perumahan Karyawan PTPN IV
Pabatu, Tebing Tinggi yang memiliki
sepeda motor Yamaha berbagai tipe dengan tahun produksi 2005 keatas sebagai responden yang diambil dari
sampel.
2) Kantor Kepala
Desa Kedai Damar Pabatu b. Data Sekunder
Yaitu data yang diperoleh melalui studi dokumen dengan mempelajari berbagai tulisan melalui buku, jurnal,
majalah, informasi dari perusahaan ataupun
internet untuk mendukung penelitian ini.
8. Uji Validitas
dan Reliabilitas Uji validitas dan
reliabilitas kuesioner dilakukan untuk menguji suatu pertanyaan (kuesioner) layak digunakan sebagai
instrumen penelitian. Valid berarti
instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas berhubungan
dengan ketepatan alat ukur melakukan
tugasnya mencapai sasaran. Pengukuran dikatakan valid jika mengukur tujuannya dengan nyata dan benar.
Reliabilitas menunjukkan akurasi dan
konsistensi dari pengukurannya. Dikatakan konsisten jika beberapa pengukuran terhadap subyek yang sama diperoleh
hasil yang tidak berbeda (Sugiyono,
2005). Uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian ini menggunakan bantuan software SPSS 15.0 for
windows.
a. Uji Validitas Uji validitas dilakukan
dengan menggunakan program SPSS 15.0 dengan kriteria sebagai berikut : a. Jika rhitung
positif ataurhitung > rtabel, maka butir pertanyaan tersebut valid.
b. Jika rhitung
positif atau rhitung < rtabel, maka butir pertanyaan tersebut tidak valid.
Penyebaran
kuesioner khusus dalam uji validitas dan reliabilitas diberikan kepada 30 orang responden diluar dari
responden penelitian yang hasilnya dapat
dilihat pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3 Uji Validitas Pertanyaan r hitung
r table Keterangan p1 .495
0.361 Valid p2 .486
0.361 Valid p3 .535
0.361 Valid p4 .750
0.361 Valid p5 .875
0.361 Valid p6 .662
0.361 Valid p7 .488
0.361 Valid p8 .404
0.361 Valid p9 .557
0.361 Valid p10 .628
0.361 Valid Sumber: Hasil
Penelitian (Januari, 2010) diolah Pada
Tabel 1.3 diatas menunjukkan korelasi antara skor item dengan skor total item yang dapat digunakan untuk menguji
validitas instrumen. Untuk mengetahui
validitas pada setiap pertanyaan, maka nilai pada colom corrected item total correlation yang merupakan nilai
rhitung dibandingkan dengan rtabel.
Adapun pada
α = 0,05
dengan derajat bebas
df = 30,
sehinggan r (0,05:30), diperoleh rtabel adalah 0,361.
Tabel 1.3 juga
menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan valid karena rhitung > rtabel yang dapat dilihat
dari rhitung pada corrected item total correlation
yang pada keseluruhan butir lebih besar dari rtabel (0,361).
Dengan demikian,
kuesioner dapat dilanjutkan pada tahap reliabilitas.
b. Uji Reliabilitas
Pengujian dilakukan dengan menggunakan SPSS 15.0 dengan kriteria sebagai berikut : a. Jika ralpha positif atau
lebih besar dari rtabel maka dinyatakan reliabel.
b. Jika ralpha positif atau lebih besar dari rtabel maka dinyatakan tidak reliabel.
Menurut Ghozali dan
Kuncoro (Situmorang dkk, 2006) butir pertanyaan yang sudah dinyatakan valid dalam uji
validitas akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut: a. Menurut
Ghozali nilai Cronbach’s Alpha > 0.60 b. Menurut Kuncoro nilai Cronbach’s
Alpha > 0.80 Tabel 1.4 Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items 0.863 10 Sumber: Hasil Penelitian (Januari, 2010)
diolah Pada tabel 1.4 dapat diketahui bahwa nilai ralpha sebesar 0,863 dan r tabel
sebesar 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ralpha positif dan lebih besar dari rtabel (0,863 > 0,361) maka
kuesioner tersebut dinyatakan reliabel dan
dapat digunakan untuk penelitian. Kriteria lain menyatakan bahwa suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan
nilai cronbach's alpha > 0,60 atau 0,80
berdasarkan hasil SPSS pada Tabel 1.4 maka ke 10 pernyataan dinyatakan reliabel dengan kriteria tersebut.
9. Metode Analisis Data Metode analisis data
dalam penelitian ini adalah: a. Metode Analisis Deskriptif Metode analisis
deskriptif adalah metode penganalisaan yang dilakukan dengan cara menentukan data, mengumpulkan data
dan mengintrepetasikan data sehingga
dapat memberikan gambaran masalah yang dihadapi. Metode analisis deskriptif ini bertujuan untuk
menggambarkan sifat sesuatu yang tengah
berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu (Umar, 2003).
b. Analisis Regresi Linear Berganda Untuk
mengetahui pengaruh atau hubungan variabel bebas (gaya hidup dan respon atas
iklan) dan variabel terikat (preferensi merek), maka untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, penulis
menggunakan bantuan program software
SPSS (Statistik Product and Service Solution) versi 15.0.
Rumusnya adalah
sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + e Dimana : Y = Preferensi merek a = Konstanta b1-b2 = Koefisien Regresi X1 = Gaya hidup X2 = Respon atas iklan e = Error of term c. Pengujian Hipotesis Suatu
perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah krisis
(daerah dimana Ho ditolak).
Sebaliknya, disebut
tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima. Dalam analisisnya
ada beberapa kriteria ketepatan, yaitu: 1) Pengujian variabel bebas secara simultan (Uji
F) Merupakan pengujian untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang digunakan, mempunyai pengaruh
terhadap variabel dependen atau tidak.
Adapun rumusnya adalah (Gujarati, 1995) :
F hitung = R 2 / (k – 1) (1 – R 2 ) / (n – k) F tabel = (
α : k-1, n-k ) α = 5 % Dimana : R 2 = Koefisien determinan n = jumlah sampel k = jumlah variabel bebas Langkah-langkah
pengujian : a) H0 : β1, β2, β3=0 Ha :
β1, β2, β3≠0 b) Menentukan level of
significance c) Menentukan kriteria
pengujian d) Melakukan penghitungan
nilai F e) Kesimpulan : H0 diterima jika
Fhitung < Ftabel, berarti secara bersama-sama variabel independen tidak mempengaruhi variabel
dependen.
Dan sebaliknya, H0
ditolak jika Fhitung > Ftabel, berarti secara bersama-sama variabel independen mempengaruhi variabel
dependen.
2) Pengujian variabel bebas secara parsial (Uji
t) Merupakan pengujian untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independent) secara parsial terhadap variabel
bebas (dependent), dengan asumsi bahwa
variabel bebas lain dianggap konstan.
Adapun
langkah-langkah dalam pengujian adalah sebagai berikut : a) H0
: βi = 0 Ha : β1 ≠ 0 b) Menentukan level
of significance c) Menentukan kriteria
pengujian d) Melakukan perhitungant
dengan rumus : thitung = bi - βi se(bi) Dimana : bi = koefisien βi βi = nilai
hipotesis i se = standar error e)
Kesimpulan : H0 diterima jika –ttabel<thitung<ttabel, artinya
variabel independen tidak mempengaruhi
variabel dependen.
H0 ditolak jika
thitung>ttabel dan thitung<˗ttabel, artinya variabel independen mempengaruhi variabel dependen.
3) Uji Determinasi (R 2 ) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui
seberapa besar variasi variabel dependen
dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen.
Nilai R 2 berada
diantara 0 dan 1. Besarnya R 2 dapat dihitung dari persamaan sebagai berikut (Gujarati, 1995) : R
2 = ESS / TSS, atau R 2 = 1 - (RSS / TSS), Dimana : ESS = Explained Sum of Square TSS =
Total Sum of Square RSS = Residual Sum of Square 10. Uji Asumsi Klasik Uji
asumsi klasik dilakukan sebelum melakukan analisis regresi, agar didapat perkiraan yang tidak bias dan
efisiensi maka dilakukan pengujian asumsi
klasik yang harus dipenuhi, yaitu: a. Uji Normalitas Tujuan uji normalitas
adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi
normal. Uji normalitas dilakukan dengan
menggunakan pendekatan kolmogrov smirnov. Dengan menggunakan tingkat signifikan 5% maka jika nilai
Asymp.sig. (2-tailed) diatas nilai signifikan
5% artinya variabel residual berdistribusi normal.
b. Uji
Heteroskedastisitas Terjadi jika gangguan muncul dalam fungsi regresi yang
mempunyai varian yang tidak sama,
sehingga penaksir kuadrat terkecil biasa (OLS) tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel
besar. Untuk mengetahui ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dalam suatu
model, maka dilakukan pengujian dengan
metode Glejser. Langkah-langkah dalam uji Glejser adalah (Gujarati, 1995) : 1) Membuat model regresi yang digunakan tanpa
memperdulikan adanya heteroskedastisitas.
Dari hasil pengujian tersebut diperoleh nilai residual ( ).
2)
Meregresikan nilai absolut dari
( ) terhadap variabel X yang
diduga mempunyai hubungan yang erat
dengan 2 .
3) Membuat nilai thitung dan ttabel. Apabila thitung > ttabel atau
thitung < -ttabel, berarti ada gejala
heteroskedastisitas. Sebaliknya jika –ttabel < thitung < ttabel, maka tidak ada gejala heteroskedastisitas.
c. Uji
Multikolinearitas Asumsi
multikolinearitas menyatakan bahwa variabel independen harus terbebas dari gejala multikolinearitas, yakni
gejala korelasi antar variabel independen.
Dengan kata lain, model regresi yang baik seharusnya tidak terdapat korelasi atau hubungan linear yang
sempurna atau pasti antar variabel independennya.
Cara yang akan digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dalam penelitian ini, dengan
melihat nilai Variance Inflation Factor
(VIF). Semakin besar nilai VIF, maka semakin besar juga kolinearitas antara variabel X (Gujarati, 1995). Jika VIF
dari suatu variabel bernilai diatas 10,
maka dapat dikatakan multikolinearitas tinggi.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi