Kamis, 27 Maret 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH PENGALOKASIAN KREDIT TERHADAP PENGEMBANGAN USAHA KECIL PADA PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN (PKBL) PT. BANK MANDIRI



BAB I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang
 Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada periode 1998  mengakibatkan perekonomian Indonesia mengalami krisis di berbagai sektor. Hal  ini dapat diamati dari pertumbuhan ekonomi yang negatif, tingginya tingkat  inflasi, tingkat pengangguran yang meningkat, dan tingkat kemiskinan yang terus  bertambah. Demikian juga di dalam dunia usaha, kurs mata uang rupiah yang  tidak stabil serta pembayaran hutang luar negeri yang jumlahnya sangat besar dan  telah jatuh tempo, mengakibatkan dunia usaha banyak yang mengalami  kebangkrutan.

Permasalahan-permasalahan tersebut harus segera diatasi agar dapat keluar  dari krisis yang berkepanjangan. Menurut Nasution, dkk (2000 : 5) Usaha kecil  (berwirausaha) merupakan salah satu solusi dan alternatif terbaik di dalam  pemecahan masalah pengangguran, karena usaha kecil (berwirausaha) dapat  menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru yang pada akhirnya akan dapat juga  untuk mengatasi masalah pengangguran.
Usaha kecil mampu bertahan di saat krisis, dimana selalu terdapat pasar  bagi produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha kecil tersebut. Usaha  kecil merupakan penghasil barang dan jasa dengan harga yang terjangkau bagi  hampir semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat tingkat bawah sampai  dengan masyarakat tingkat atas. Usaha kecil juga mampu bertahan di tengah krisis  ekonomi disebabkan karena sebagian besar modal usaha dari usaha kecil   merupakan modal sendiri, yang tidak tergantung kepada hutang dan tidak perlu  khawatir akan tingginya tingkat suku bunga bank.
Di samping itu, modal usaha yang begitu kecil dan hanya mengandalkan  modal sendiri menyebabkan usaha kecil sulit untuk berkembang. Usaha kecil  sangat sulit dalam memperoleh kredit dari perbankan, karena banyaknya  persyaratan-persyaratan di dalam proses peminjaman kredit yang sulit untuk  dipenuhi oleh para pengusaha kecil tersebut. Terdapat dua permasalahan utama di  dalam hal aspek finansial para pelaku usaha kecil, yaitu mobilisasi modal awal  dan akses ke modal kerja serta finansial jangka panjang (Tambunan, 2004 : 74).
Modal awal usaha kecil biasanya bersumber dari tabungan pribadi para  pengusaha, sedangkan untuk modal kerja dan finansial jangka panjang diperoleh  dari pinjaman kredit.
Namun demikian, Usaha kecil merupakan sektor yang paling banyak  menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2005,  menunjukkan bahwa dari jumlah 43,22 juta unit usaha kecil tahun 2004  meningkat 1,61 persen dibandingkan dengan tahun 2003 yaitu sebesar 42,48 juta  unit usaha kecil. Jumlah tersebut merupakan bagian terbesar dari pelaku usaha di  Indonesia. Sementara tenaga kerja yang diserap oleh usaha kecil tahun 2004  mencapai 70,92 juta orang, turun sebesar 0,25 persen dibandingkan tahun 2003  seperti pada tabel 1.1 berikut.
 Tabel 1.1 Jumlah Unit Usaha, Penyerapan Tenaga Kerja dan Produktivitas Skala Usaha Pada Tahun  2003 dan 2004 Skala Usaha  Jumlah Usaha  (juta unit)  Tenaga Kerja  (juta orang)  Produktivitas (rupiah/TK)  2003   2004   2003  2004  2003   2004  Usaha Kecil   42.48   43.22  71.09   70.92   10.37 juta/TK   11.57 juta/TK  Usaha Menengah   0.05  0.06  8.30   8.15   33.70 juta/TK   38.71 juta/TK  Usaha Besar   2.17  2.25  0.42   0.40   1.87 miliar/TK   2.22 miliar/TK  Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) dengan Kementerian Koperasi dan UKM.
Perkembangan kontribusi Usaha kecil dan kemampuannya dalam  menyerap tenaga kerja selama periode tersebut menggambarkan produktivitas  pelaku usaha kecil. Produktivitas usaha kecil sebesar Rp. 10,37 juta per tenaga  kerja tahun 2003, meningkat cukup besar pada tahun 2004 menjadi Rp. 11,57 juta  per tenaga kerja. Dari uraian tersebut, terlihat bahwa masing-masing kelompok  usaha memiliki keunggulan komparatif dan saling melengkapi satu dengan  lainnya. Kelompok usaha besar memiliki potensi sebagai motor pertumbuhan,  sementara kelompok usaha kecil sebagai penyeimbang pemerataan dan  penyerapan tenaga kerja. Namun hal ini juga memperlihatkan bahwa unit-unit  usaha kecil dan menengah pada umumnya masih menjadi sandaran hidup  masyarakat kecil yang jumlahnya besar (Wijono, 2005 : 92).
Pemerintah menyadari peranan usaha kecil terhadap perekonomian  Indonesia sangat besar. Oleh karena itu, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai  kebijakan dan keputusan yang mengatur tentang pengembangan usaha kecil,  diantaranya adalah Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :  316/KMK.016/1994 Tentang Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi  Melalui Pemanfaatan Dana dari Bagian Laba Badan Usaha Milik Negara  (BUMN). Untuk lebih memperjelas Keputusan sebelumnya maka pemerintah   mengeluarkan kembali Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor  60/KMK.061/1996 Tentang Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi  Melalui Pemanfaatan Dana dari Bagian Laba Badan Usaha Milik Negara  (BUMN), dimana perlu penyesuaian terhadap besarnya bagian pemerintah atas  laba BUMN untuk pembinaan usaha kecil dan koperasi.
Sektor usaha kecil dan menengah, usaha mikro, dan koperasi menjadi  prioritas pembangunan yang diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian  Indonesia sebagaimana tercantum di dalam UU No.25 tahun 2000 mengenai  Program Pembangunan Nasional (Propenas). Pada tanggal 17 Juni 2003,  Pemerintah melalui Kementerian BUMN menerbitkan Keputusan Menteri BUMN  No.236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)  yang mengatur kemitraan BUMN dengan usaha kecil dan pelaksanaan bina  lingkungan yang lebih komprehensif dan sesuai dengan pengembangan ekonomi  serta kondisi lingkungan sekitar BUMN.
Program PKBL terdiri dari Program Kemitraan dan Program Bina  Lingkungan. Program Kemitraan merupakan suatu program yang ditujukan untuk  meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui  pemanfaatan dana dari 1% hingga 3% dari laba bersih perusahaan. Program  Kemitraan memiliki sasaran yaitu usaha kecil dan koperasi di wilayah regional  perusahaan, yang telah melakukan kegiatan usaha dan mempunyai prospek untuk  dikembangkan, dengan prioritas utamanya adalah usaha kecil perorangan/badan  usaha dan koperasi yang belum bankable atau tidak mempunyai jaminan yang  cukup untuk memperoleh kredit bank dan memiliki omset di bawah 200 juta.
Sedangkan Program Bina Lingkungan yaitu program pemberdayaan kondisi   masyarakat dan lingkungan yang berada di sekitar lokasi perusahaan, melalui  pemanfaatan dana sebesar maksimal 1% dari laba bersih perusahaan. Program  Bina Lingkungan diberikan dalam bentuk hibah khusus bagi masyarakat kurang  mampu dalam bentuk bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan bencana  alam, bantuan sarana dan prasarana umum, serta bantuan sarana ibadah.
PT. Bank Mandiri sebagai salah satu perusahaan BUMN yang bergerak  dalam bidang perbankan, juga menjalankan Program Kemitraan dan Bina  Lingkungan (PKBL), sebagai wujud dari pelaksanaan tanggung jawab sosial  perusahaan terhadap masyarakat (Corporate Social Responsibility/CSR).
PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan, sejak tahun 2004 sampai dengan  tahun 2008 telah mengalokasikan kredit sebesar Rp. 12.849.000.000 (dua belas  milyar delapan ratus empat puluh sembilan juta rupiah).
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri  memiliki sasaran kepada penciptaan wirausaha-wirausaha baru agar menjadi  seorang pengusaha yang tangguh dan mandiri, yang mampu juga untuk membuka  lapangan pekerjaan baru. Untuk mewujudkan hal tersebut, PT. Bank Mandiri juga  melakukan berbagai pembinaan seperti pelatihan manajemen, pelatihan  pemasaran, pelatihan penyusunan data keuangan, mengadakan seminar dan  pameran usaha kecil, serta dengan melakukan pengawasan dan pengendalian  terhadap mitra binaannya. Berdasarkan uraian dan penjelasan tersebut, maka  penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang : “Pengaruh Pengalokasian Kredit Terhadap Pengembangan Usaha Kecil  Pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri  Kantor Wilayah I Medan.
 B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka  perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah pengalokasian kredit  pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri Kantor  Wilayah I Medan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan  usaha kecil?” C. Kerangka Konseptual Usaha kecil sulit untuk berkembang disebabkan oleh karena keterbatasan  modal yang dimiliki oleh para pengusaha kecil. Usaha kecil juga sangat sulit  untuk memperoleh kredit dari perbankan, karena banyaknya persyaratanpersyaratan di dalam proses peminjaman kredit yang sulit untuk dipenuhi oleh  para pengusaha kecil tersebut. Terdapat dua permasalahan utama di dalam hal  aspek finansial para pelaku usaha kecil, yaitu mobilisasi modal awal dan akses ke  modal kerja serta finansial jangka panjang (Tambunan, 2004 : 74). Modal awal  usaha kecil biasanya bersumber dari tabungan pribadi para pengusaha, sedangkan  untuk modal kerja dan finansial jangka panjang diperoleh dari pinjaman kredit.
Dalam upaya perkembangan usaha kecil tersebut diperlukan adanya  pengalokasian kredit pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) oleh  PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan. Adapun yang menjadi kerangka  konseptual dalam penelitian ini adalah:   Sumber  : Penelitian lapangan 2009 (diolah) Gambar 1.1 : Kerangka Konseptual .
D. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara suatu permasalahan sehingga  kebenarannya perlu diuji. Menurut pola umum metode ilmiah, setiap penelitian  terhadap objek hendaknya di bawah tuntutan suatu hipotesis yang berfungsi  sebagai pegangan sementara atau jawaban sementara yang masih harus dibuktikan  kebenarannya dalam kenyataan (empirical verification),  percobaan  (eksperimental) atau praktek (implementation) (Umar, 2004 : 80).
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka hipotesis yang akan diuji  kebenarannya melalui penelitian ini adalah : “Pengalokasian kredit pada Program  Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I  Medan memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pengembangan  usaha kecil”.
Pengalokasian Kredit  (X) 1.  Modal Awal 2.  Jumlah Pinjaman  Kredit 3.  Penggunaan Kredit Pengembangan Usaha  Kecil (Y) 1.  Jumlah Pendapatan  2.  Cash in Flow 3.  Jumlah Pelanggan  E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah  untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pengalokasian kredit pada  Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri  Kantor Wilayah I Medan terhadap pengembangan usaha kecil.
2.  Manfaat Penelitian Selain tujuan tersebut, terdapat manfaat yang diharapkan dari  dilakukannya penelitian ini, yaitu sebagai berikut : a.  Bagi Perusahaan Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dan informasi  bagi PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan dalam hal  mengalokasikan kredit kepada pengusaha kecil pada Program  Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).
b.  Bagi Usaha Kecil.
Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan bagi para  pelaku usaha kecil di dalam rangka pengambilan keputusan untuk  menjalankan kegiatan usahanya.
c.  Bagi Pihak Lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dan bahan  referensi dalam melakukan penelitian dengan objek ataupun  permasalahan yang serupa pada waktu yang akan datang, maupun  untuk penelitian lanjutan.
 d.  Bagi Penulis Penelitian ini merupakan kesempatan bagi penulis untuk menerapkan  teori dan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah ke  dalam praktek lapangan, serta dapat memperluas wawasan penulis  tentang perkembangan sektor usaha kecil di Indonesia.
F.  Metode Penelitian 1.  Batasan Operasional Untuk menghindari kesimpangsiuran dan kesalahpahaman di dalam  rangka  membahas dan menganalisis permasalahan, serta di dalam  penyebaran kuesioner kepada responden, maka penelitian ini akan dibatasi  pada : a.  Usaha kecil yang berlokasi di kota Medan dan sekitarnya.
b.  Usaha kecil yang masih aktif menjadi mitra binaan dari Program  Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri Kantor  Wilayah I Medan, yang menerima kredit pada periode tahun 2004 –  2008.
2.  Definisi Operasional Definisi operasional bertujuan untuk melihat sejauh mana variabel dari  suatu faktor yang berkaitan dengan variabel faktor lainnya. Definisi  operasional merupakan petunjuk bagaimana suatu variabel diukur untuk  mengetahui baik buruknya suatu pengukuran dalam sebuah penelitian  (Kuncoro, 2003 : 29). Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian dapat  didefinisikan sebagai berikut :  a. Variabel Bebas (X) Variabel bebas adalah variabel yang nilainya tidak tergantung dengan  variabel lain. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengalokasian  kredit, yaitu sejumlah kredit yang diberikan oleh Program Kemitraan dan Bina  Lingkungan (PKBL) PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan. Kredit adalah  kemampuan untuk melaksanakan suatu pemberian atau melabakan suatu pinjaman  dengan janji bahwa waktu pembayarannya ditangguhkan pada suatu jangka yang  telah disepakati  (Astiko dan Sunardi, 2002 : 5). Adapun indikator dari  pengalokasian kredit yaitu :  1. Modal Awal Sebelum memberikan kredit kepada suatu unit usaha, pihak bank  tentunya memperhatikan jumlah modal awal yang dimiliki oleh unit  usaha tersebut. Modal awal merupakan salah satu indikator keputusan  bagi pihak bank untuk memberikan ataupun tidak memberikan  kreditnya kepada unit usaha tersebut.
 2. Jumlah Pinjaman Kredit Salah satu indikator pengalokasian kredit kepada unit usaha adalah  berapa jumlah kredit yang dibutuhkan oleh unit usaha tersebut. Pihak  bank juga akan membatasi jumlah kredit yang akan diberikan kepada  unit usaha sesuai dengan penilaian yang dilakukan oleh pihak bank  terhadap unit usaha tersebut.
 3. Penggunaan Kredit Dalam hal pengalokasian kredit kepada suatu unit usaha, tentunya pihak  bank akan mengawasi penggunaan kredit oleh unit usaha tersebut,   apakah kredit digunakan untuk pengembangan usaha ataupun digunakan  untuk keperluan konsumtif. Tingkat persentasi penggunaan kredit untuk  pengembangan usaha juga menjadi indikator dalam pengalokasian  kredit.
b. Variabel Terikat (Y) Variabel terikat adalah variabel yang nilainya tergantung atau dipengaruhi  oleh variabel bebas. Sebagai variabel terikat dalam penelitian ini adalah  pengembangan usaha kecil. Usaha kecil merupakan suatu usaha perdagangan atau  jasa yang mempunyai modal tidak lebih dari Rp. 800.000.000,- serta usaha  produksi/industri  atau  konstruksi,  yang  mempunyai  modal  tidak  lebih  dari  Rp. 200.000.000,- (Kanisius, 2003 : 2). Adapun yang menjadi indikator dari  pengembangan usaha kecil yaitu : 1.  Jumlah Pendapatan Jumlah pendapatan merupakan total keseluruhan dari pendapatan yang  diterima dari suatu unit usaha, perusahaan atau organisasi pada satu  periode tertentu. Peningkatan pendapatan merupakan salah satu  indikator untuk mengetahui pengembangan dari usaha kecil.
2.  Cash in Flow Tujuan utama dari Cash in Flow adalah menyediakan informasi yang  relevan mengenai penerimaan dan pembayaran kas suatu usaha selama  satu periode. Para investor terlebih dahulu akan memperhatikan laporan  arus kas dibandingkan laporan laba rugi, karena kas adalah harta lancar  yang tingkat likuiditasnya paling tinggi di antara semua harta lancar.
 3.  Jumlah Pelanggan Salah satu indikator dari pengembangan usaha kecil yaitu jumlah  pelanggan. Pelanggan merupakan konsumen tetap yang membeli produk  pada satu tempat yang sama. Usaha kecil dikatakan berkembang, bila  jumlah pelanggan dari usaha kecil tersebut mengalami peningkatan.
3.  Skala Pengukuran Variabel Pengukuran yang digunakan untuk mengetahui masing-masing  variabel, yaitu variabel X (Pengalokasian Kredit) dan variabel Y  (Pengembangan Usaha Kecil) adalah Skala Likert. Skala Likert  digunakan  untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok  mengenai fenomena sosial. (Sugiyono, 2005 : 79).
Untuk keperluan analisis kuantitatif dalam penelitian ini,  pertanyaan pada lembar kuesioner menggunakan bentuk pilihan ganda,  dimana responden memilih salah satu dari jawaban yang tersedia dengan  memberikan tanda silang ( X ) dalam kurung di depan jawaban yang  paling sesuai dengan keadaan responden. Jawaban masing-masing  responden diberi skor, dimana skor pernyataan dengan nilai nominal yang  terkecil diberi skor 1, begitu juga seterusnya hingga nilai nominal yang  terbesar diberi skor 5. Kemudian skor responden dijumlahkan dan jumlah  ini merupakan total skor. Total skor inilah yang ditafsirkan sebagai  keadaan responden dalam Skala  Likert. Sebagai contoh dari kriteria  pengukurannya adalah sebagai berikut :  Tabel 1.2 Skor Pernyataan No.  Pernyataan  Skor 1  < Rp. 5.000.000  1 2  Rp. 5.000.001 – Rp 10.000.000  2 3  Rp. 10.000.001 – Rp. 15.000.000  3 4  Rp. 15.000.001 – Rp. 20.000.000  4 5  > Rp. 20.000.000  5 Sumber : Penelitian Lapangan 2009 (diolah).
4.  Tempat dan Waktu Penelitian  a.  Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan,  Jl. Pulaupinang No.1, Medan, dimana PT. Bank Mandiri merupakan  salah satu bank BUMN yang telah ditetapkan oleh Pemerintah untuk  melaksanakan dan menjalankan Program Kemitraan dan Bina  Lingkungan (PKBL). Selain itu, penelitian ini juga dilakukan pada  usaha-usaha kecil yang telah menjadi mitra binaan dari PT. Bank  Mandiri Kantor Wilayah I Medan, yang menjadi sampel di dalam  penelitian ini.
b.  Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan April sampai dengan bulan Juli  tahun 2009.
 5.  Populasi dan Sampel a.  Populasi merupakan suatu kelompok elemen yang lengkap dan  biasanya berupa orang, objek, subjek, transaksi ataupun kejadian  dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadikan suatu  objek dari penelitian (Kuncoro, 2003 : 03). Pada penelitian ini yang  menjadi populasi adalah Usaha kecil yang telah menerima pinjaman  kredit dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT.
Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan, yang berlokasi di kota Medan  dan sekitarnya pada periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2008,  yaitu berjumlah 476 unit usaha kecil.
b.  Sampel yang diambil adalah dengan teknik purposive sampling yaitu  suatu proses pengambilan sampel dimana pengambilan elemen-elemen  yang terdapat di dalam sampel dilakukan dengan cara disengaja,  dengan catatan bahwa sampel tersebut telah representatif atau  mewakili dari suatu populasi (Sugiyono, 2005 : 52). Jumlah sampel  dalam penelitian ini yaitu sebanyak 47,6 unit usaha kecil  atau  dibulatkan menjadi 48 unit usaha kecil yang merupakan 10% dari  jumlah populasi yaitu sebesar 476 unit usaha kecil yang telah  representatif. Berikut ini merupakan data unit usaha kecil yang  menjadi mitra binaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan  (PKBL) PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan pada periode  tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 yang menjadi sampel dalam  penelitian ini adalah :  Tabel 1.3 Daftar Sampel Mitra Binaan PKBL PT. Bank Mandiri  Kantor Wilayah I Medan NO DATA MITRA BINAAN NAMA SEKTOR  EKONOMI JLH.
PINJAMAN ALAMAT 1  Asni Sihombing  Perdagangan  15,000,000.00  Jl. Enggang I No. 3 2  Budi Utomo  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Jati Luhur XIII No. 4 3  Desniar Tampubolon  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Kiwi XXVI RT010/004 No. 541 Kel. Kenangan Kec.
Percut Sei Tuan, Deli Serdang-20226  4  Dodi Anshari  Perdagangan  4,500,000.00  Jl. M. Yakub Lubis No. 73 Dusun II RT 001/001 5  Edy Khairunnas  Perdagangan  4,500,000.00  Jl. Setia Budi Ps. I Gg. Merak No. 25 6  Hafiz Khairul Rijal  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Pulau Bayu Lingk. 31 Kel. Pekan Labuhan Kec.
Medan Labuhan, Medan-20253  7  Ferdiansyah Putra  Perdagangan  12,000,000.00  Jalan Utama Gg. Tengah III No. 14 RT/RW 027/014 8  Lilia Trisyathia Que  Perdagangan  4,500,000.00  Jl. AR Hakim Gg. Padang Lawas 9  Maria Ulfa  Perdagangan  5,000,000.00  Jalan Tiung Raya No. 18 10  Masril Murza Manday  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Denai No. 56 RT/RW 007 11  Muharram  Perdagangan  5,000,000.00  Jalan Tuba I No. 07 Tegal Sari Mandala III Medan  Denai, Medan 20227 12  Nora Pakpahan  Perdagangan  10,000,000.00  Jl. HM Joni No. 40 A Kel. Teladan Timur Kec. Medan  Kota, Medan – 20217 13  Novi Astri  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Kap. Muslim Gg. Rukun Makmur No. 253 E  RT001/006  14  Ridwansyah Amin Ginting  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Jamin Ginting No. 606 15  Riswanto  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Merpati No. 20 Dusun VI RT/RW 004/001 16  Rohana  Perdagangan  15,000,000.00  Jl. Titipapan Gg. Pertahanan No. 18 Kel. Sei Kambing,  Medan 17  Rubiah Julianty Sebayang  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Sembada Gg. Badi No. 10 18  Samsumarni  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Baru No. 64 Lk III RT 016/004 Kel. Tembung Kec.
Medan Tembung, Medan - 20225  19  Sarbaini Dores  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Megawati No. 21 Kel. Pasar Merah, Medan  20  Saredi  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Gunung Karakatau No. 130 B Medan 21  Suyadi  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Abdul Hakim No. 12 22  Tiasana Pulungan  Perdagangan  8,000,000.00  Jalan Parkit 12 No. 7 23  Tuti  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Kapten Muslim Gg. Rukun Makmur No. 255A  RT001/RW006 24  Zainani  Perdagangan  15,000,000.00  Jl. Gedung Arca Gg. Jawa RT006/003 Kel. Pasar Merah  Timur Kec. Medan Area, Medan-20217 25  Ertika Dewi  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan MA Selatan No. 423 RT 004/003 Kelurahan  Sukaramai Kecamatan Medan Area 26  Sumarti  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Bunga Asoka Gg. Persatuan RT 004/008 Kelurahan  Asam Kumbang Kec. Medan Selayang 27  Endang Suhartini  Perdagangan  20,000,000.00  Jl. Mengkara No. 4 Kelurahan Petisah Tengah  Kecamatan Medan Petisah 28  Sri R. Oktavia Br. Sem  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Brigjend. Katamso Gg. Mesjid No. 17 Kelurahan  Kampung Baru Kecamatan Medan Kota.
29  Dini Eliza saragih  Perdagangan  20,000,000.00  Jalan Pukat Banting II No. 47 Kelurahan Bantan 30  Amri Chaniago  Perdagangan  5,000,000.00  Jalan Sakti Lubis Gang Amal No. 10 Kelurahan Sitirejo 31  Bariah  Perdagangan  5,000,000.00  Jalan Sakti Lubis Gang Amal No. 14 Kelurahan Sitirejo 32  Muhajirin  Perdagangan  5,000,000.00  Jalan Sakti Lubis Gang Bali No. 6 RT.007 RW. 003  Kelurahan Sitirejo 33  Fauziah Amran  Jasa  20,000,000.00  Jl. Bhakti Luhur Gg. Keluarga No. 50 B 34  Juliani  Jasa  20,000,000.00  Jl. Medan Area Selatan gg. Mangun No. 12 RT 022/012 35  Mudasman  Jasa  10,000,000.00  Jalan Langgar No. 4 36  Nurlina  Jasa  10,000,000.00  Jalan sakti Lubis Gg. Bali No. 45-B 37  Suryadi  Jasa  20,000,000.00  Pasar I Gang Gayo Lingkungan VII Kelurahan Tanjung  Sari Kecamatan Medan Selayang 38  Juliani  Jasa  20,000,000.00  Jl. Medan Area Selatan Gg. Mangun No. 12 RT022/012  39  Tarmizi Guci  Jasa  15,000,000.00  Jalan Medan Tenggara II Kelurahan Binjai Medan Denai 40  Ramawaty Sipayung  Jasa  20,000,000.00  Jl. Bunga Mawar XX No. 6 Selayang, Medan  41  Sugani  Jasa  10,000,000.00  Jalan Coklat 11 No. 13 Perumnas Mangga Medan  Tuntungan, Medan 20141 42  Purwanto Tambunan  Industri  15,000,000.00  Jalan Kesatria No. 25 RT 004 Kelurahan Tanjung Rejo  Kecamatan Sunggal  43  Rizaldi  Industri  20,000,000.00  Jalan Senam No. 1 D Kelurahan Pasar Merah Barat  Kecamatan Medan Kota 44  Suyadi  Industri  20,000,000.00  Jalan  Abdul Hakim No. 12 Kelurahan Tanjung Sari  Kecamatan Medan Selayang 45  Ali Munar  Industri  15,000,000.00  Jalan Bromo Gang Pukat II 46  Asral Effendi  Industri  15,000,000.00  Jl. AR. Hakim Gg. Langgar No. 10 47  Herman  Industri  15,000,000.00  Jl. Rawa I No. 44 48  Joko Susilo  Industri  20,000,000.00  Jalan Titi Papan Gang Pertama No. 16 6.  Jenis Data Menurut sumbernya (Umar, 2004 : 40), data dibedakan atas dua : a.  Data Primer, merupakan data yang didapat berasal dari sumber  pertama baik individu maupun kelompok. Data primer tersebut adalah hasil dari wawancara dan pengisian kuesioner kepada usaha kecil yang  telah menerima kredit dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan  (PKBL) PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan.
b.  Data Sekunder, merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut  dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer ataupun oleh  pihak lainnya. Data sekunder tersebut adalah data yang telah diolah  oleh pihak PT.Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan, seperti data  realisasi penyaluran kredit dan lain-lain.
7.  Teknik Pengumpulan Data a.  Wawancara : Yaitu dengan cara melakukan wawancara langsung kepada koordinator  dan karyawan PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan, serta  kepada para pengusaha kecil yang telah menjadi mitra binaannya.
 b.  Kuesioner : Yaitu dengan cara membuat daftar pertanyaan untuk diisi oleh para  responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini, yakni kepada  para pengusaha kecil yang telah menjadi mitra binaan PT. Bank  Mandiri Kantor Wilayah I Medan.
8.  Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Uji validitas dilakukan untuk menguji sejauh mana suatu alat  pengukur tersebut mengukur apa yang akan diukur (Ginting, 2008 : 172).
Bila korelasi setiap pertanyaan positif dan besarnya 0,30 ke atas maka  butir pertanyaan tersebut dianggap sudah valid.
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat  pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Ginting, 2008 : 176).
Skala pengukuran yang reliabel sebaiknya memiliki nilai minimal 0,70  pada pengujiannya. Pengujian validitas dan reliabilitas ini dilakukan  terhadap 48 responden dan menggunakan bantuan program software SPSS  (Statistic Product and Service Solution) 16 untuk menguji validitas dan  reliabilitas tersebut.
9.  Teknik Analisis Data a.  Metode Analisis Deskriptif Merupakan metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan,  mengolah, menyajikan dan menganalisis data sehingga diperoleh  gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti.
 b.  Metode Analisis Statistik Untuk mengetahui pengaruh pengalokasian dan penyaluran kredit  terhadap perkembangan usaha kecil pada Program Kemitraan dan Bina  Lingkungan pada PT. Bank Mandiri Kantor Wilayah I Medan,  digunakan analisis : (1). Analisis Regresi Sederhana Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui seberapa  besarnya hubungan dan pengaruh antara variabel bebas terhadap  variabel terikat. Untuk memperoleh hasil yang lebih terarah, maka  peneliti menggunakan bantuan program software SPSS  16. Menurut  Sugiyono (2005 : 194) persamaan regresi sederhana dapat dirumuskan  sebagai berikut : Y = a + bX + e Keterangan:  Y = Pengembangan Usaha Kecil  a  = Konstanta b  = Koefisien Regresi X = Jumlah Kredit e  = Standard error (2). Analisis Statistik t Merupakan sebagai uji signifikan yang digunakan untuk menunjukkan  seberapa besar pengaruh atau variabel penjelas secara individu  di dalam menerangkan variasi dari variabel terikat.
 Bentuk pengujiannya adalah : H0  : b1  = 0, artinya yaitu suatu variabel bebas bukan merupakan  variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
H0 : b1 ≠ 0, artinya yaitu suatu variabel bebas merupakan variabel  penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
Kriteria dalam pengambilan keputusan : H0 diterima jika thitung < ttabel pada α = 5% Hα diterima jika thitung > ttabel pada α = 5%.
(3). Uji Statistik F Uji Statistik F digunakan pada dasarnya adalah untuk menunjukkan  apakah variabel bebas yang dimasukkan ke dalam model tersebut  mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujiannya adalah : H0  : b1  = 0, artinya yaitu suatu variabel bebas bukan merupakan  variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
Hα : b1 ≠ 0, artinya yaitu suatu variabel bebas merupakan variabel  penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
Kriteria dalam pengambilan keputusan : H0 diterima jikaFhitung < Ftabel pada α = 5% Hα diterima jika Fhitung > Ftabel pada α = 5% (4). Koefisien determinasi (R 2 )  Merupakan Pengujian kontribusi pengaruh dari variabel bebas (X)  terhadap variabel terikat (Y), dapat dilihat dari koefisien determinasi   (R 2 ) dimana 0 < R 2 < 1. Hal ini berarti menunjukkan jika R 2 semakin  dekat dengan 1 maka pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel  terikat (Y) akan semakin kuat. Begitu juga sebaliknya, jika R 2 semakin  dekat dengan angka variabel 0, maka pengaruh variabel bebas (X)  terhadap variabel terikat (Y) akan semakin lemah.
(5). Uji t perbedaan dua harga rata-rata Untuk menguji perbedaan yang berarti di dalam perkembangan sektor  usaha kecil sebelum dan sesudah menerima kredit, digunakan uji t  perbedaan dua harga rata-rata dengan rumus (Sugiyono, 2005 : 198) : + −+ −+− − = 21 21 2 22 2 11 21 11 2 )1()1( nn nn snsn XX t Keterangan : X1  = Jumlah Pendapatan / Cash in Flow / Pelanggan sebelum  menerima kredit X2  = Jumlah Pendapatan / Cash in Flow / Pelanggan setelah  menerima kredit S1  = Standar Deviasi sebelum adanya kredit S2  = Standar Deviasi sesudah adanya kredit n1 = n2  = Jumlah sampel yang diteliti Tingkat kepercayaan  = 0,05 Derajat keabsahan  = n1 + n2– 2   Kriteria dalam pengambilan keputusan : Terima H0 jika thitung < ttabel.
Terima H0 jika thitung > ttabel.
Rumus hipotesis : Ho : X1 = X2 (Tidak ada perbedaan yang berarti antara X1 dan X2)  Ho : X1 ≠X2 (Terdapat perbedaan yang berarti antara X1 dan X2)    

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi