Selasa, 01 April 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH KEPEMIMPINAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHA PADA INDUSTRI PAKAIAN



BAB I PENDAHULUAN 
A.  Latar Belakang Masalah 
Tingkat kepercayaan terhadap bisnis di kalangan pelaku usaha kecil  menengah (UKM) di Indonesia terus meningkat. Tren ini seiring dengan pulihnya  optimisme pelaku usaha kecil di Asia  maupun dunia sebelum masa krisis  melanda.  Mengenai konsistensi penguatan optimisme UKM Indonesia, Jeffrey C.

Tjoeng, head of business banking (HSBC) Indonesia mengatakan, awal tahun  2010, pelaku usaha kecil siap meningkatkan bisnisnya.  Hasil survei menunjukkan  bahwa pelaku usaha kecil memiliki kepercayaan yang lebih tinggi terhadap  prospek perekonomian Indonesia pada enam bulan mendatang. Lebih dari  setengah responden percaya bahwa ekonomi Indonesia akan stabil bahkan  meningkat. Sebesar 70 persen responden berpandangan bahwa ekonomi Indonesia  akan tumbuh di level yang sama atau meningkat. Jumlah UKM yang optimis ini  naik dari tahun 2009, menunjukkan bahwa semakin banyak pelaku bisnis yang  percaya akan prospek perekonomian di tahun 2010.
(http://mail.waspada.co.id/index.php:pengusaha-ukm-makin-optimis : Feb 2010) Pelaku usaha kecil Indonesia juga relatif lebih percaya diri untuk melakukan  ekspansi usaha dengan berinvestasi maupun belanja modal di tengah tahun  pertama 2010. Indonesia masih berada di atas rata-rata, lebih dari setengah UKM  Indonesia tidak berencana untuk mengurangi belanja modal mereka. Mereka  cenderung untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan anggaran investasi  dan belanja modal di tahun ini. UKM Indonesia juga melanjutkan komitmen  1  mereka di tahun lalu pada karyawannya. Dalam enam bulan ke depan, 94 persen responden tidak berencana untuk mengurangi jumlah tenaga kerja yang ada.
Bahkan 20 persen mulai untuk menambah mulai merekrut tenaga kerja baru.
Menurut Cahyo Pramono sebagai ketua Forda UKM Sumut mengatakan,  Pelaku usaha kecil dan mikro (UKM) di Sumatera Utara tercatat sebanyak 2 juta  orang, namun hanya 400 ribu yang terdaftar di dinas koperasi dan UKM. Data ini  terkumpul atas kerja sama Bank Indonesia regional Sumut dan NAD dengan  Fakultas Ekonomi   (USU).  Menurut Cahyo  keberadaan UKM yang sedemikian banyak ini seharusnya menjadi perhatian  pemerintah.Terbukti dari data yang dikeluarkan oleh kementerian koperasi dan  UKM, bahwa 99 persen  usaha di Indonesia adalah UKM dan penyumbang  terbesar pendapatan domestik bruto (PDB) berasal dari UKM.
(http://mail.waspada.co.id/index.php:ukm-penyumbang-terbesar-laju-ekonomiindonesia/html: Feb 2010)  Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), telah menjadi isu yang menarik  untuk dicermati dan disikapi. Hal ini dikarenakan ada beberapa alasan:  1.  Saat krisis sektor UMKM dapat bertahan sampai saat ini (eksis).
2.  Perhatian pemerintah terhadap sektor usaha mikro kecil (UMK) masih  kurang dan terjadi dikotomi antara pelaku UMK dengan pelaku ekonomi  menengah dan besar.
3.  Sektor UMKM yang jumlahnya cukup banyak sangat potensial dalam  menyerap tenaga kerja.
4.  Sektor UMKM memiliki peran penting dan kontribusinya cukup besar  dalam struktur perekonomian nasional. (Wahyuni, dkk, 2005:91)  Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat  berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian untuk  melindungi dan menutup dirinya. Pakaian juga digunakan sebagai simbol  status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya.
Perkembangan dan jenis-jenis pakaian tergantung pada adat-istiadat,  kebiasaan, dan budaya yang memiliki ciri khas masing-masing.
Peneliti memilih sekaligus melakukan penelitian di sebuah industri  pakaian yang memproduksi celana khusus pria di Jl. Denai Medan. Ada  empat objek penelitian yang terpilih, tiga diantaranya memproduksi celana  jeans pria dan satu memproduksi celana katun pria. Industri tersebut  sudah beroperasi berkisar antara tiga tahun hingga lima belas tahun.
Celana jeans dan katun merupakan salah satu pakaian yang sedang  tren saat ini. Artinya banyak masyarakat kota Medan yang memakai  celana tersebut dengan variasi warna dan model. Fakta di lapangan  bahwa hampir di setiap tempat masyarakat memakainya, misalnya:  seorang mahasiswa yang sedang kuliah, pengunjung Mal, saat ke pesta,  saat dirumah, dan sebagainya.
Fenomena yang terjadi sekarang ini, hampir di seluruh pasar/plaza di  kota Medan ataupun di kota-kota lain sebagian besar menjual celana  jeans dan katun baik celana pria maupun wanita mulai dari anak-anak  hingga orang tua. Dengan harga beli yang terjangkau, maka masyarakat  gemar membelinya.
Peneliti tertarik memilih sebagai objek penelitian di sebuah industri  pakaian yang berada di Jl. Denai Medan. Mengapa peneliti memilih   tempat tersebut? Karena Denai merupakan salah satu lokasi yang  masyarakatnya bekerja sebagai penjahit barang jadi. Tentu tidak menjahit  celana saja, ada yang menjahit/memproduksi tas, seragam sekolah,  pakaian kemeja, dan lain-lain. Sebagian penjahit menjadikan rumahnya  sebagai tempat produksi barang jadi dan ada pula yang tidak (pabrik).
Setiap pengusaha berkeinginan para karyawannya bekerja dengan  baik dan benar, mengikuti segala “aturan main” yang telah dibuat oleh  pemilik usaha. Karyawan yang baik adalah karyawan yang mampu  bertanggung jawab atas pekerjaannya. Pekerjaan terlaksana dengan baik,  tepat waktu, hasil yang dicapai memuaskan tentu bukan hanya  disebabkan karena karyawan. Mengapa? Karena peran pemimpin juga  ikut didalamnya.
Kepemimpinan yang baik akan memperlihatkan suatu keterkaitan bahwa  keberhasilan atau kegagalan suatu usaha dalam mencapai tujuannya berhubungan  dengan seorang pemimpin. Kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin  dapat memberikan pengaruh bagi karyawan untuk melakukan pekerjaan sesuai  dengan standar kerja yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh pemilik usaha dalam upaya mencapai tujuan yang telah direncanakan. Dalam hal ini tujuan  tersebut mencakup bagaimana menarik minat konsumen agar membeli produk  tersebut secara rutinitas.
Berikut tabel 1.1. menampilkan data produksi dalam hal ini adalah celana  jeans dan katun khusus pria pada setiap tahun yang diperoleh dari pemilik usaha  yang terpilih.
 Tabel 1.1.
Laporan Total Produksi Tahun 2006 – 2009  No.  Pemilik Usaha Tahun 2006  2007  2008  2009 1  Desriman  94.141  98.761  94.562  101.982 2  Buyung Safri  96.139  120.922  125.472  140.932 3  Jonnedi  144.182  147.632  138.929  137.311 4  Rosiman  -  155.264  190.221  192.586 Sumber : Laporan Produksi Industri Pakaian Jl. Denai Medan (data diolah) Laporan total produksi dapat dilihat dalam bentuk diagram batang sebagai  berikut:  Diagram 1.1.
Laporan Total Produksi Tahun 2006 – 2009  Sumber : Laporan Produksi Industri Pakaian Jl. Denai Medan (data diolah) Diagram 1.1. diatas menunjukkan bahwa total produksi memperoleh  kenaikan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Walaupun ada di tahun tertentu   yang mengalami penurunan produksi, namun yang menunjukkan lebih dominan  adalah terus meningkat.
Pengaruh kepemimpinan yang diterapkan dalam perusahaan  mengindikasikan tanda keberhasilan pada masing-masing usaha mereka. Setiap  orang memiliki kepemimpinan yang berbeda-beda. Peran apa saja yang telah  diterapkan di perusahaan. Bisa berawal dari komitmen, percaya diri, tanggung  jawab serta orientasi masa depan demi kesuksesan/keberhasilan perusahaan di  masa-masa mendatang.
Uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan  judul:  “Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Keberhasilan Usaha Pada  Industri Pakaian di Jl. Denai Medan.”  B.  Perumusan Masalah  Latar belakang masalah maka perumusan masalah yang dijadikan fokus dalam penelitian ini adalah:  1.  Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha pada industri  pakaian di Jl. Denai Medan?  2.  Apakah pengaruh yang paling dominan digunakan dalam mencapai  keberhasilan usaha pada industri pakaian di Jl. Denai Medan? C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.  Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:   a.  Mengetahui pengaruh  kepemimpinan terhadap keberhasilan usaha  pada industri pakaian di Jl. Denai Medan.
b.  Mengetahui tujuan yang ingin dicapai pemilik usaha dalam  menjalankan usaha kecil tersebut.
2.  Manfaat Penelitian  Ada beberapa manfaat dari penelitian ini yaitu: 1)  Bagi perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan  pemikiran bagi perusahaan dalam memecahkan berbagai masalah,  terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan.
2)  Bagi penulis  Dari hasil penelitian ini penulis memperoleh banyak manfaat yaitu: a.  Dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai  kepemimpinan.
b.  Merupakan perbandingan antara teori yang diperoleh selama  kuliah dengan praktek manajemen sebenarnya.
c.  Sebagai sumbangan pemikiran, akademis, khususnya dalam  manajemen usaha kecil mengenai aktifitas industri pakaian di Jl.
Denai Medan.
3)  Bagi pihak lain Diharapkan penulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan  menambah referensi perpustakaan dan untuk referensi bagi penelitian  selanjutnya.
 D.  Kerangka Konseptual  Kerangka konseptual/berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar  variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan tersebut,  selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa  tentang hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan varibel  tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis (Sugiono, 2004:49).
Kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian adalah seperti  digambarkan dibawah ini: Gambar 1.1. : Kerangka Konseptual Sumber : (Suryana, 2006) diolah E.  Hipotesis Perumusan masalah yang telah ditetapkan maka hipotesis yang diberikan  peneliti adalah:  1.  Faktor-faktor yang mempengaruhi wirausahawan pada industri pakaian di Jl.
Denai Medan untuk meraih keberhasilan dalam usahanya  adalah adanya komitmen, percaya diri, tanggung jawab, dan orientasi masa depan.
2.  Orientasi masa depan merupakan pengaruh utama wirausahawan industri  pakaian di Jl. Denai Medan.” Kepemimpinan (X)  1.  Komitmen 2.  Percaya Diri 3.  Tanggung Jawab 4.  Orientasi Masa Depan Keberhasilan Usaha (Y)  F.  Metode Penelitian  1.  Batasan Operasional  a.  Penulis hanya menganalisis masalah dikalangan pengusaha yang  memproduksi pakaian di Jl. Denai Medan.
b.  Pengusaha bidang konveksi yang diteliti yaitu pengusaha yang  memiliki tempat usaha tetap. Bentuk kepemilikan yaitu milik sendiri  (perusahaan perseorangan).
c.  Usaha yang diteliti adalah telah beroperasi minimal 3 tahun.
d.  Dalam penelitian ini penulisannya akan memakai variabel  kepemimpinan sebagai variabel bebas (X) dengan 4 (empat)  indikator, yakni:  1.  Komitmen  2.  Percaya diri  3.  Tanggung jawab  4.  Orientasi masa depan  Keberhasilan usaha sebagai variabel terikat (Y).
2.  Definisi Operasional Variabel  Dalam penelitian ini variabel-variabel yang dioperasionalkan adalah  semua variabel yang termasuk dalam hipotesis yang telah dirumuskan.
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan  penelitian, maka perlu defenisi variabel  yang akan diteliti sebagai  berikut:  a)  Kepemimpinan (X)  1.  Komitmen Yaitu Hubungan antara karyawan dengan perusahaan yang  ditunjukkan dengan adanya keinginan untuk mempertahankan  keanggotaan perusahaan, menerima nilai dan tujuan-tujuan  perusahaan serta bersedia untuk berusahan keras demi  tercapainya tujuan dan kelangsungan perusahaan.
2.  Percaya diri Yaitu Seseorang yang bersikap dan mempunyai keyakinan yang  kuat untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas yang  ada.
3.  Tanggung jawab Yaitu Seseorang yang  memiliki rasa tanggung jawab dalam  mengendalikan sumber daya yang digunakan dan mewujudkan  keberhasilan pada usahanya. .
4.  Orientasi masa depan Yaitu Seseorang yang mempunyai perspektif dan pandangan ke  masa depan, selalu mencari peluang, tidak cepat puas dengan  keberhasilan yang baru dicapai.
Tabel 1.2.
Definisi Operasionalisasi Variabel VARIABEL  INDIKATOR SKALA  UKUR Komitmen 1.  Kerja tuntas 2.  Kerja keras  3.  Menjaga kualitas produk 4.  Mengorbankan keluarga  Guttman  Percaya diri 1.  Optimisme 2.  Yakin terhadap diri sendiri 3.  Meraih kesuksesan 4.  Dicintai karyawan Guttman Tanggung jawab  1.  Disiplin  2.  Jujur  3.  Bersungguh-sungguh  4.  Berdedikasi tinggi  5.  Konsisten terhadap usaha 6.  Tenaga Kerja yang terlatih Guttman VARIABEL  INDIKATOR SKALA  UKUR 7.  Tanggung jawab akhir terletak  pada atasan 8.  Imbalan yang adil bagi  karyawan dan pengusaha Orientasi masa depan 1.  Menciptkan sesuatu yang baru  dan berbeda 2.  Mencari peluang/kesempatan 3.  Siap terhadap tantangan  (persaingan) 4.  Memiliki visi dan misi demi  tercapainya tujuan perusahaan  Guttman Sumber : diolah penulis(2010)  3.  Skala Pengukuran Variabel  Variabel yang mempengaruhi keberhasilan usaha pada industri pakaian  diukur dengan menggunakan skala Guttman. Skala pengukuran tipe ini,  akan didapat jawaban yang tegas; yaitu ”ya – tidak”, ”benar – salah”,  ”pernah – tidak pernah”, ”positif – negatif” dan lain – lain. Data yang  diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif).
Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin  mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang  ditanyakan.
 Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga  dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi  satu dan terendah nol. Misalnya untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan  tidak setuju diberi skor 0.
4.  Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di industri pakaian yang beralamat di Jl. Denai,  kecamatan Medan Denai, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan  dari bulan November 2009 hingga Februari 2010.
5.  Populasi dan Sampel  Penelitian ini merupakan studi kasus empat perusahaan industri pakaian  maka populasi yang sekaligus sebagai sampel yang representatif dalam  penelitian ini adalah orang yang berperan penting dalam menjalankan  usaha tersebut diteliti yaitu pemilik dari industri pakaian yang beralamat  di Jl. Denai Medan dimana dari mereka dapat diperoleh informasi dan  data-data penting dalam keseluruhan pelaksanaan aktivitas usaha mereka  yang telah berhasil.
6.  Jenis dan Sumber Data Penulis menggunakan dua jenis data untuk membantu memecahkan  masalah, yaitu: a.  Data Primer  Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden  terpilih pada lokasi penelitian.
Data primer diperoleh dengan wawancara terstruktur dengan pemilik  usaha secara langsung.
b.  Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi dokumen  dengan mempelajari berbagai tulisan melalui buku, jurnal, majalah  dan situs internet untuk mendukung penelitian.
7.  Teknik Pengumpulan Data a.  Observasi Observasi adalah pengumpulan data dengan cara melakukan  pengamatan langsung ke lokasi penelitian, dalam hal ini di Jl. Denai  Medan, untuk melengkapi cacatan penelitian yang diperlukan.
b.  Wawancara (interview) Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara melalui tatap muka  (face to face) dengan responden terpilih.  Wawancara dilakukan  dengan menggunakan alat bantu berupa seperangkat daftar  pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu atau sering  disebut interview guide.
c.  Kuesioner (angket) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan  dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan  tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
8.  Metode Analisis Data  Statistik deskriptif  adalah suatu metode analisis dimana data  yang  dikumpulkan mula – mula disusun, diklasifikasikan dan dianalisis  sehingga akan memberikan gambaran yang jelas mengenai perusahaan  dan masalah yang sedang diteliti. Jika tujuan penelitian adalah deskriptif  yang terbatas pada upaya memberi suatu gambaran tentang variabelvariabel yang diteliti, teknis, analisis yang sering digunakan adalah  statistika dasar yang berkaitan dengan parameter statistik deskriptif.
Termasuk dalam parameter statistik deskriptif antara lain adalah  penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram,  perhitungan modus, median, perhitungan desil,  persentil, perhitungan  penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi