Rabu, 02 April 2014

Skripsi Manajemen: PENGARUH KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI PADA PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT (PPKS) MARIHAT



 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah sumber daya manusia masih menjadi sorotan bagi perusahaan  untuk tetap dapat bertahan di era globalisasi. Sumber daya manusia mempunyai  peran utama dalam organisasi maupun perusahaan. Walaupun didukung dengan  sarana  dan prasarana serta sumber dana yang berlebihan, tetapi tanpa dukungan  sumber daya   manusia yang  handal kegiatan perusahaan tidak akan  terselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia  merupakan kunci pokok yang harus diperhatikan dengan segala kebutuhannya.

Sebagai kunci pokok, sumber daya manusia akan menentukan keberhasilan  pelaksanaan kegiatan perusahaan. Perusahaan dituntut  untuk memperoleh,  mengembangkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas  semakin mendesak sesuai dengan dinamika lingkungan yang selalu berubah.
Hal ini semakin jelas karena peran sumber daya manusia sebagai faktor  kr isis (crusial factor) yang dapat menentukan maju mundurnya serta hidup  matinya suatu usaha dan kegiatan bersama, baik yang berbentuk organisasi sosial,  lembaga pemerintah maupun badan usaha. Rendahnya sumber daya manusia  menyebabkan turunnya efektifitas kerja karyawan, yang secara tidak langsung  ditentukan oleh kompetensi (Wibowo, 2007:87).
Menurut Hasibuan (2003:105) Efektivitas kerja sangat penting karena  efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan  manajemen dalam mencapai tujuan. Tingkat keberhasilan tersebut meliputi    kuantitas kerja, kualitas kerja, ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan,  serta kualitas kerja yang baik Untuk mencapai efektivitas kerja perlu didukung  oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh  perusahaan sehingga memperoleh hasil secara efektif dan efisien. Untuk dapat  mencapai efektivitas kerja, perusahaan dituntut untuk mengetahui serta  mengembangkan faktor – faktor yang mendukung peningkatan efektivitas kerja  karyawan dan pimpinannya.
Menurut Spencer & Spencer (1998) dalam Hutapea dan Thoha (2008:5)  Salah satu faktor yang mendukung peningkatan efektivitas kerja adalah  kompetensi.  Kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang terdiri dari  knowledge, skill dan attitude yang ada hubungan sebab-akibatnya dengan prestasi  kerja yang luar biasa atau dengan efektifitas kerja.
Dari sudut pandang yang berbeda menurut Miller, Rankin dan Neathey  (2001) dalam Hutapea dan Thoha (2008:3) kompetensi didefenisikan sebagai  gambaran tentang apa yang harus diketahui atau dilakukan seseorang agar dapat  melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Sumber daya manusia yang berbasis  kompetensi dapat meningkatkan kapasitas dan membangun fondasi yang kuat  yang sesuai tuntutan usaha karena apabila orang-orang yang bekerja dalam  organisasi memiliki kompetensi yang tepat sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.
Orang – orang tersebut mampu baik dari segi pengetahuan (knowledge)  keterampilan (skill), maupun mental serta sikap (attitude) produktifnya. Dengan  kepemilikan nilai (value) yang kuat, mereka akan selalu siap menghadapi  perubahan sesuai dengan tuntutan organisasi tanpa menghilangkan jati dirinya.
  Untuk melihat aplikasi ini dapat dilihat dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit  (PPKS) Marihat, Pematang Siantar. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)  Marihat, Pematang Siantar merupakan salah satu lembaga penelitian yang sangat  besar peranannya dalam perekonomian Indonesia. Pusat penelitian Kelapa Sawit  (PPKS) Marihat, Pematang Siantar merupakan perpanjangan tangan dari kantor  Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Adapun tugas pokok yang harus  dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Pematang Siantar adalah  melakukan penelitian dan pengembangan komoditi kelapa sawit yang meliputi  semua aspek mulai dari perakitan bahan tanaman dan teknik budidaya hingga  pengelolahan hasil, melakukan penelitian kelapa dan kakao, menyediakan benih  kelapa sawit yang unggul berupa kecambah untuk kebutuhan pihak perkebunan  besar dan perkebunan rakyat, memberi pelayanan kepada pengguna jasa  baik  perkebunan, peneliti, pelajar, instansi, pemerintah maupun pihak-pihak lain serta  menyampaikan konsep-konsep pemikiran yang disampaikan kepada pemerintah  sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan untuk  pengembangan perkebunan secara nasional.
Dalam melaksanakan tugas pokok ini Pusat Penelitian Kelapa Sawit  (PPKS) mengembangkan model kompetensi yang berintegrasi dengan tolok ukur  penilaian  kinerja berdasarkan keterampilan (skill), pengetahuan  (knowledge),  sikap (attitude) yang dimiliki oleh setiap pegawai agar dapat mempermudah di  dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif yang dapat  dijadikan dasar pengembangan Sumber Daya Manusia. Berdasarkan kegiatankegiatan tersebut, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sangat mementingkan  kompetensi kerja dari setiap pegawai agar tanggung jawab dan wewenang yang    diberikan kepada masing-masing pegawai dapat dilaksanakan dengan baik  diantaranya faktor-faktor penilaian prilaku yaitu pengenalan pekerjaan,  kepatuhan, kerajinan, kemandirian, kerjasama tim, kedisiplinan (Surat Ketetapan  Penilaian Kinerja PPKS).
Dalam mengaplikasikan model kompetensi yang berintegrasi dengan  penilaian kerja Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar  mengalami beberapa tantangan diantaranya tanggung jawab pegawai yang kadang  tidak sesuai dengan tujuan perusahaan, tingkat kehadiran pegawai, pengetahuan  pegawai terhadap pengoperasian alat teknologi yang mendukung pelaksanaan  tugas pegawai, kemampuan pegawai untuk melaksanakan dan menyelesaikan  tugas tepat waktu dan tepat sasaran serta pendidikan pegawai.
Permasalahan-permasalahan tersebut membuat Pusat Penelitian Kelapa  Sawit (PPKS) khususnya PPKS Marihat, Pematang Siantar melakukan  pembinaan, pelatihan, dan penyuluhan untuk menyelesaikan masalah secara  berkesinambungan (continue)  agar efektivitas kerja yang terjadi PPKS tetap  sesuai dengan tujuan perusahaan.
Sumber daya manusia di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat,  Pematang Siantar terdiri dari karyawan pimpinan, karyawan pelaksana, karyawan  PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu), KHL (karyawan harian lepas). Namun,  Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mempunyai kebijakan untuk  mengharuskan para pegawai khususnya bagi para pegawai yang memiliki skill yang rendah untuk mengikuti seminar dan pelatihan yang berkaitan dengan sistem  kerja Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Kegiatan ini dilakukan untuk  mendukung penilaian peningkatan kinerja para pegawai dan untuk mempermudah    dalam mencapai efektivitas kerja pegawai di Pusat Penelitian Kelapa Sawit  (PPKS).
Pegawai pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) diatur dengan adanya  pemberian wewenang dan tanggung jawab. Peningkatan kinerja pegawai secara  perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan,  yang direkfleksikan dalam kenaikan produktifitas.  Efektivitas kerja juga  dilengkapi dengan kompetensi yang berhubungan dengan knowledge, skill, dan  attitude yaitu ko munikasi, kerjasama kelompok, kepemimpinan danpengambilan  keputusan secara analitis.  Penambahan kompetensi dalam penilaian  kinerja  diharapkan dapat memperbaiki proses penilaian efektivitas kerja pegawai. Bagi  Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pegawai merupakan pelaksana manajemen  puncak yang mampu berinteraksi dengan masing-masing pegawai (worker).
Hal ini mendorong penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada Pusat  Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Pematang Siantar  dengan judul  “Pengaruh  Kompetensi  Sumber Daya Manusia  Terhadap Efektivitas Kerja Pegawai  Pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar”.
B.  PerumusanMasalah  Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis akan  merumuskan permasalahan tentang kompetensi sumber daya manusia pada Pusat  Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar yaitu : “Bagaimana kompetensi sumber daya manusia berpengaruh terhadap efektivitas  kerja pegawai?”.
  C. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual yang akan diteliti pada penelitian ini yaitu  Kompetensi Sumber Daya Manusia sebagai variabel X dan Efektivitas Kerja  sebagai variabel Y. Pengelolaan sumber daya manusia yang terarah menentukan  mutu  pengetahuan, keterampilan, keahlian, tingkat kompetensi dan kinerja karyawannya. Peranan sumber daya manusia dalam organisasi perusahaan sangat menentukan arah kehidupan perusahaan. Penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan untuk merekflesikan efisiensi dan efektivitas kinerja karyawan.
Menurut Hasibuan (2003:105) Efektivitas kerja adalah suatu keadaan yang  menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan  yang meliputi kuantitas kerja, kualitas kerja dan ketepatan waktu dalam  menyelesaikan pekerjaan serta kualitas kerja yang baik.  Efektivitas kerja  karyawan akan meningkat apabila didukung oleh kompetensi sumber daya  manusia yang berkualitas.
Menurut Spenser & Spenser (1993) dalam Hutapea dan Thoha (2008:5)  kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang terdiri dari knowledge, skill  dan attitude yang ada hubungan sebab-akibatnya dengan prestasi kerja yang luar  biasa atau dengan efektifitas kerja.  Knowledge  (pengetahuan) merupakan  kemampuan yang dimiliki karyawan/pegawai yang berorientasi pada cara  pengoperasian alat/mesin, pemahaman semua aturan dan teori yang berkaitan  dengan pekerjaan, pelayanan yang baik serta berfikir kreatif dan memberikan ide  – ide dalam pekerjaan sedangkan skill (keterampilan) merupakan kemampuan  karyawan dalam bekerja sama, memecahkan masalah dan berkomunikasi serta  bertanggung jawab dalam pekerjaan. Sedangkan menurut Surat Penilaian    Karyawan/Pegawai pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Attitude (sikap)  karyawan dapat dilihat dari pengenalan pekerjaan, kepatuhan, kerajinan,  kemandirian, kerjasaman tim, serta kedisiplinan.
Kompetensi sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting  dalam mencapai efektivitas kerja. Dengan sumber daya manusia yang  berkompeten akan menghasilkan hasil positif yang sangat besar terhadap  peningkatan efektivitas kerja. Tanpa adanya kompetensi sumber daya manusia  maka efektivitas kerja akan sulit tercapai.
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Peneliti  Sumber : Hutapea & Thoha (2008), Hasibuan (2003), Surat Penilaian PPKS  D. Hipotesis Menurut Kuncoro (2003:47) menyatakan hipotesis merupakan suatu  penjelasan sementara tentang prilaku, fenomena, atau keadaan tertentu yang telah  terjadi atau akan terjadi. Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan  bahwa hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Kompetensi Sumber Daya Manusia mempunyai pengaruh  signifikan terhadap Efektivitas Kerja  Pegawai  Pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang  Siantar “.
Kompetensi Sumber Daya  Manusia (X) Knowledge (pengetahuan) (X1)  Skill ( keterampilan) (X2)  Attitude (sikap) (X3)  Efektivitas Kerja (Y) Kuantitas Kerja Kualitas Kerja Pemanfaatan Waktu   E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi sumber daya  manusia yang terdiri dari  knowledge, skill,dan attitude  berpengaruh terhadap  efektivitas kerja pegawai pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat,  Pematang Siantar.
2. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian antara lain : a.  Bagi Perusahaan yaitu untuk memberi masukan dan informasi bagi pihak  manajemen untuk semakin meningkatkan kompetensi sumber daya manusia  untuk dapat meningkatkan efektivitas kerja karyawan.
b.  Bagi pembaca dan peneliti lain, untuk menambah pengetahuan dan  keterampilan dalam penyusunan penelitian lanjutan dan sekaligus bahan  masukan informasi alamiah untuk melanjutkan penelitian tentang hubungan  antara kompetensi sumber daya manusia dengan efektivitas kerja karyawan.
c.  Bagi penulis, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pasca strata-1 jurusan manajemen serta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh berupa  teori dan praktek langsung pada perusahaan.
F.  Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Batasan oprasional penelitian ini adalah membahas mengenai kompetensi  sumber daya manusia dan efektivitas kerja karyawan pada Pusat Penelitian  Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar.
  2. Definisi Operasional Definisi operasional bertujuan untuk melihat sejauh mana variabelvariabel dari suatu faktor berkaitan dengan faktor lainnya. Variabel penelitian pada penelitian ini adalah : a. Variabel Bebas (X) : Kompetensi Sumber Daya Manusia Kompetensi sumber daya manusia adalah kemampuan yang dimiliki  seseorang karyawan atau pegawai didalam melakukan tindakan yang berhubungan  dengan tugas dan tanggung jawab agar dapat mencapai tujuan perusahaan.
Adapun indikator dari kompetensi sumber daya manusia (variabel X) yaitu : 1.  Knowledge adalah informasi atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang  pegawai/karyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai  dengan bidang atau divisi yang digelutinya (tertentu).
2.  Skill adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap pegawai/karyawan  untuk melaksanakan suatu tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh  perusahaan secara maksimal.
3.  Attitude adalah pola tingkah laku karyawan/pegawai dalam melaksanakan  tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan peraturan perusahaan b. Variabel Terikat (Y) : Efektivitas Kerja Karyawan  Variabel terikat dalam penelitian ini adalah efektivitas kerja. Efektivitas  kerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan baik dan benar, sehingga  pencapaian tujuan dapat tercapai sesuai yang diinginkan.Adapun indikator dari  efektivitas kerja (variabel terikat) yaitu: 1.  Kuantitas kerja adalah volume kerja yang dihasilkan dibawah kondisi normal.
Kuantitas juga menunjukkan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan dalam    satu waktu sehingga efektivitas dapat terlaksana sesuai dengan tujuan  perusahaan.
2.  Kualitas kerja adalah ketelitian, kerapian, dan keterikatan hasil kerja yang  dilakukan dengan baik agar dapat menghindari kesalahan didalam  menyelesaikan suatu pekerjaan.
3.  Pemanfaatan waktu adalah penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan  kebijakan perusahaan agar pekerjaan selesai tepat waktu pada waktu yang  ditetapkan.
Tabel 1.
Operasionalisasi Variabel Variabel  Defenisi  Oprasional Indikator Simbol  Skala Kompetensi  Sumber  Daya  Manusia (X) Kemampuan  yang dimiliki  seseorang  pegawai didalam  melakukan  tindakan yang  berhubungan  dengan tugas dan  tanggung jawab  agar dapat  mencapai tujuan  perusahaan 1.  knowledge (X1) ( mengetahui  teori dalam pekerjaan, cara  pengoprasian alat, aturan  pekerjaan, pelayanan yang  baik, berfikir kreatif dan  aturan dalam pekerjaan.
2.  Skill (X2)  (mampu  bekerjasama,  memecahkan  masalah, berkomunikasi dan  bertanggung jawab) 3.  Attitude  (X3)  (pengenalan  pekerjaan, kepatuhan,  kerajinan, kemandirian,  kerjasama tim serta  kedisiplinan)  Mengetahui teori pekerjaan(K1) Cara pengoprasian alat (K2) Aturan pekerjaan (K3) Pelayanan yang baik (K4) Berfikir kreatif (K5) Aturan dalam pekerjaan (K6) Mampu bekerjasama (S1)  Memecahkan masalah(S2) Mampu berkomunikasi (S3) Bertanggung jawab (S4) Pengenalan pekerjaan (A1) Kepatuhan (A2) Kerajinan (A3) Kemandirian (A4)  Kerjasama tim (A5) Kedisiplinan (A6) Likert Efektivitas  Kerja  Pegawai (Y) Suatu kegiatan  yang dilakukan  dengan baik dan  benar, sehingga  pencapaian  tujuan dapat  tercapai sesuai  yang diinginkan 1.  Kuantitas Kerja (volume kerja  yang dihasilkan) 2.  Kualitas Kerja (ketelitian dan  kerapian hasil kerja) 3.  Pemanfaatan  Waktu  (ketepatan waktu dalam  melaksanakan tugas dan  tanggung jawab) Kuantitas (E1-E3) Kualitas (E4-E6) Pemanfaatan Waktu (E7-E10)  Likert Sumber : Hutapea & Thoha (2008), Hasibuan (2003) dan Surat Penilaian PPKS   3. Skala Pengukuran Variabel Pada penelitian ini menggunakan skala Likert yaitu digunakan untuk  mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang  fenomena sosial (Sugiono,2007:86).
Peneliti memberikan lima alternatif jawaban kepada responden dengan  menggunakan skala 1 sampai 5 yang dapat dilihat pada Tabel 1.2 sebagai berikut: Tabel 1.
Instrumen Skala Likert Keterangan  Skor  Sangat Setuju (SS)  5  Setuju (S)  4  Ragu-ragu (RG)  3  Tidak Setuju (TS)  2  Sangat Tidak Setuju (STS)  1  4. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)  Marihat, Pematang Siantar. Waktu Penelitian dimulai dari bulan November 2009  sampai Januari 2010.
  5. Populasi dan Sampel a.  Populasi  Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap dan biasanya berupa  orang, objek, transaksi atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajari atau  menjadi objek penelitian Kuncoro(2003:103). Pada penelitian ini yang menjadi  populasi adalah karyawan Divisi Bidang Penelitian yang ada pada kantor Pusat  Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar yang berjumlah 145  orang.
b. Sampel Sampel pada penelitian ini dilakukan berdasarkan penarikan ukuran  sampel yang ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dalam Umar (2008 :  78) sebagai berikut :  n =   1 Ne N + Di mana n  = ukuran sampel N  = ukuran populasi e  = Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan  sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan.
Sehingga jumlah sampel dapat dihitung dengan cara : n =  )1,0(14 1  + n = 59, Dalam penelitian ini jumlah sampel dibulatkan menjadi 59 orang. Sampel  diberikan kepada satu divisi yaitu divisi produksi bagian penelitian yang terdiri    dari Divisi Pemuliaan, Bioteknologi/ K. Jaringan, Kelti Agronomi dan Kelti  Proteksi.
6. Jenis dan Sumber Data Prosedur pengambilan data dalam penelitian ini adalah menggunakan : a.  Data Primer Data Primer adalah data yang diperoleh langsung oleh penulis dari  responden yang ada di lokasi penelitian. Data tersebut diperoleh dari hasil  wawancara dan diskusi dengan atasan karyawan serta dari hasil kuesioner.
b.  Data Sekunder  Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang  sudah diolah berupa dokumen perusahaan atau organisasi dan publikasi  yang dikumpulkan oleh pihak atau instansi lain. Data sekunder dalam  penelitian ini meliputi profil perusahaan, struktur organisasi dan data yang  diperoleh dari hasil pengolahan buku, teori-teori dan literatur yang  berhubungan dengan masalah yang diteliti.
7 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah : a.  Daftar Pertanyaan (questioner), yaitu pengumpulan data dengan cara  mengajukan pertanyaan yang tersusun secara sistematis untuk diisi oleh  karyawan secara objektif.
b.  Wawancara (interview), yaitu mengadakan tanya jawab dengan pihak yang  mempunyai wewenang untuk memberikan informasi yang berkaitan  dengan penelitian.
  c.  Studi dokumentasi, yaitu mengumpulkan data dan informasi dari buku –  buku, tulisan ilmiah, internet dan literature lainnya yang memiliki  relevansi dengan penelitian.
8 Uji Validitas dan Reabilitas a. Validitas Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa  yang seharusnya diukur. Uji validitas bertujuan untuk menguji apakah kuesioner  layak untuk digunakan sebagai instrumen penelitian. Instrumen yang valid berarti  alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Menurut  Sugiono (2007:109), suatu instrumen dikatakan valid apabila rtabel = 0,361.
Kriteria dalam menentukan validitas adalah sebagai berikut : - Jika r hitung > r tabel maka pertanyaan tersebut valid - Jika r hitung < r tabel maka pertanyaan tersebut tidak valid Uji validitas data dapat dilakukan terhadap pengujian validitas konstruksi,  validitas isi, dan validitas eksternal. Validitas konstruksi adalah aspek-aspek yang  akan diukur berlandaskan teori tertentu. Pengujian validitas konstruksi dilakukan  dengan mengkorelasikan antar score item instrument.  Apabila korelasinya rendah  dan tidak signifikan maka instrumen dianggap tidak valid. Uji validitas ini dapat  diukur dengan teknik korelasi product moment (Sugiyono 2007 : 119).
Pengujian validitas dilakukan untuk membandingkan antara isi instrumen  dengan isi materi seperti seorang dosen memberi ujian di luar pelajaran yang  ditetapkan, berarti instrumen ujian tersebut tidak valid. Pengujian ini dapat  dilakukan kepada para ahli. Sedangkan validitas eksternal adalah cara  membandingkan antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta    empiris yang terjadi di lapangan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengujicobakan  kepada sampel, kalau ditemukan perbedaan yang terlalu mencolok maka  instrumen harus disesuaikan.
Hasil penelitian yang valid apabila tedapat kesamaan antara data yang  terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Kalau  data yang terkumpul tidak mencerminkan seperti objek yang sebenarnya maka  hasil penelitian tidak valid. Selanjutnya hasil penelitian yang reliabel apabila  terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda, artinya apabila pada masa  yang lalu bagus maka sekarang dan hari esok harus bagus. Dalam memperoleh  validitas dan reliabilitas data harus melalui instrumen yang valid yaitu dengan alat  ukur yang  valid.  Instrumen yang  reliabel  berarti instrumen yang dapat  menghasilkan hasil yang sama dalam beberapa kali pegukuran.
b. Reliabilitas Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat  pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan dengan tujuan melihat apakah  alat ukur yang diinginkan (kuesioner) menunjukkan konsistensi dalam mengukur  gejala yang sama. Bila suatu alat pengukur di pakai dua kali untuk mengukur  gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat  pengukur tersebut reliabel.
Sugiono (2007:121), Pengujian reliabilitas digunakan untuk menguji hasil  pengukuran angket (kuesioner) dapat dilakukan baik secara eksternal maupun  internal. Secara ekternal dilakukan dengan  test-retest, equivalen dan  gabungannya. Test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa  kali kepada responden, dalam hal ini instrumennya sama, respondennya sama dan    waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara  percobaan pertama dan yang berikutnya. Bila koefisien positif dan signifikan  maka instrumen tersebut dinyatakan  reliabel.  Sedangkan dengan pendekatan  equivalen adalah pernyataan yang secara bahasa berbeda tetapi maksudnya sama.
Pengujian reliabilitas instrumen ini dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan  hasil data yang diperoleh dari responden yang sama, waktunya sama, tetapi  instrumennya berbeda. Pengujian validitas dan reliabilitas ini akan dilakukan  sebelum melakukan penelitian yang sebenarnya. Menurut Sugiono (2007:114)  Sampel dalam pra pengujian yang digunakan sekitar 30 orang. Pra pengujian  (pengamatan) dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Uji  validitas dan uji reabilitas menggunakan bantuan program SPSS 14,0 for  Windows.
9. Metode Analisis Data a.  Metode Deskriptif Metode ini bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau  karakteristik dari suatu keadaan, dalam hal ini data yang sudah dikumpulkan  kemudian diklarifikasi, diinterprestasikan, dan selanjutnya dirumuskan, sehingga  dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti.
b.  Metode Analisis Kuantitatif Peneliti menganalisis data dengan menggunakan metode regresi linier berganda  dengan rumus :   Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e  Keterangan : Y   = Efektivitas Kerja a   = Konstanta b1-5  = Koefisien Regresi X1  = Knowledge (pengetahuan) X2  = Skill(keterampilan) X3  = Attitude (sikap) e   = Standar error Walpole (2001 : 340)  Model regresi linear berganda dapat disebut sebagai model yang baik jika model  tersebut memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik  satatistik.  Adapun syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi model regresi  berganda sebelum data tersebut dianalisi adalah sebagai berikut : a)  Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model  regresi, variabel independen dan variabel dependen atau keduanya  mempunyai distribusi normal atau tidak. Model yang paling baik  adalah distribusi data normal atau mendekati normal.
b)  Uji Heterokedastisitas Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model  regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan  ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual suatu pengamatan  ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas, jika varians    berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah  tidak terjadi heteroskedastisitas.
c)  Uji Multiko linearitas Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model sebuah regresi  ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terdapat  korelasi antar variabel independen maka dapat dikatakan terdapat  masalah multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak  terjadi korelasi antar variabel independen. Uji multikolinearitas  menggunakan kriteria Variance Inflation Factor (VIF) dengan  ketentuan : Bila VIF > 5 maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
Bila VIF < 5 maka tidak terdapat masalah multikolinearitas yang  serius.
d)  Uji Autokorelasi Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi  linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dan  kesalahan pengganggu pada periode t – 1 (periode sebelumnya). Model  regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Untuk keperluan analisis dan pengujian hipotesis, data diolah secara  statistik dengan menggunakan alat bantu SPSS versi 14.0.
  c. Uji Hipotesis 1. Uji t, yaitu menemukan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara parsial  terhadap variabel terikat.
H0  : b1  = 0, artinya secara parsial tidak ada pengaruh yang positif dan  signifikan dari variabel bebas (X1, X2, X3) yaitu knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), attitude  (sikap) terhadap efektivitas kerja  sebagai variabel  terikat (Y).
Ha : b1 ≠ 0, artinya secara parsial ada pengaruh yang positif dan signifikan dari  variabel bebas (X1, X2, X3) yaitu berupa variabel knowledge (pengetahuan),  skill (keterampilan), attitude (sikap) terhadap efektivitas kerja sebagai variabel  terikat (Y).
Kriteria pengambilan keputusan : H0 diterima jika thitung < ttabel  pada α = 5% Ha diterima jika thitung > ttabel pada α = 5% 2. Uji F, yaitu untuk menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan  dalam model mempunyai pengaruh secara serentak (simultan) terhadap variabel  terikat.
H0 : b1 = b2 = b3 = 0, artinya secara serentak (simultan) tidak terdapat pengaruh  yang positif dan signifikan dari variabel bebas (X1, X2, X3) yaitu berupa  variabel  knowledge  (pengetahuan),  skill  (keterampilan),  attitude (sikap)  terhadap efektivitas kerja sebagai variabel terikat (Y).
Ha : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0, artinya secara serentak (simultan) terdapat pengaruh yang  positif dan signifikan dari variabel bebas (X1, X2, X3,) yaitu berupa variabel    knowledge  (pengetahuan),  skill  (keterampilan),  attitude  (sikap) terhadap  efektivitas kerja sebagai variabel terikat (Y).
d. Koefisien Determinasi (R  )  Koefisien determinasi (R  ) pada intinya digunakan untuk mengukur  seberapa besar kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika  koefisien determinasi (R  ) semakin besar nilainya atau mendekati satu, maka  kontribusi variabel bebas (X1, X2, X3) adalah besar terhadap variabel terikat  (Y). Hal ini berarti model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan  pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika  koefisien determinasi (R  ) semakin mengecil nilainya atau mendekati nol  maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3) terhadap  variabel terikat (Y) semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak  kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap  variabel terikat.
  

Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi