BAB I PENDAHULUAN A. Latar
Belakang Masalah Masalah sumber daya manusia masih menjadi sorotan bagi
perusahaan untuk tetap dapat bertahan di
era globalisasi. Sumber daya manusia mempunyai peran utama dalam organisasi maupun
perusahaan. Walaupun didukung dengan sarana dan prasarana serta sumber dana yang
berlebihan, tetapi tanpa dukungan sumber
daya manusia yang handal kegiatan perusahaan tidak akan terselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan
bahwa sumber daya manusia merupakan
kunci pokok yang harus diperhatikan dengan segala kebutuhannya.
Sebagai kunci
pokok, sumber daya manusia akan menentukan keberhasilan pelaksanaan kegiatan perusahaan. Perusahaan
dituntut untuk memperoleh, mengembangkan dan mempertahankan sumber daya
manusia yang berkualitas semakin
mendesak sesuai dengan dinamika lingkungan yang selalu berubah.
Hal ini semakin
jelas karena peran sumber daya manusia sebagai faktor kr isis (crusial factor) yang dapat menentukan
maju mundurnya serta hidup matinya suatu
usaha dan kegiatan bersama, baik yang berbentuk organisasi sosial, lembaga pemerintah maupun badan usaha.
Rendahnya sumber daya manusia menyebabkan
turunnya efektifitas kerja karyawan, yang secara tidak langsung ditentukan oleh kompetensi (Wibowo, 2007:87).
Menurut Hasibuan
(2003:105) Efektivitas kerja sangat penting karena efektivitas adalah suatu keadaan yang
menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan. Tingkat
keberhasilan tersebut meliputi kuantitas
kerja, kualitas kerja, ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, serta kualitas kerja yang baik Untuk mencapai
efektivitas kerja perlu didukung oleh
sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan sehingga memperoleh hasil secara
efektif dan efisien. Untuk dapat mencapai
efektivitas kerja, perusahaan dituntut untuk mengetahui serta mengembangkan faktor – faktor yang mendukung
peningkatan efektivitas kerja karyawan
dan pimpinannya.
Menurut Spencer
& Spencer (1998) dalam Hutapea dan Thoha (2008:5) Salah satu faktor yang mendukung peningkatan
efektivitas kerja adalah kompetensi. Kompetensi adalah karakteristik dasar
seseorang yang terdiri dari knowledge, skill
dan attitude yang ada hubungan sebab-akibatnya dengan prestasi kerja yang luar biasa atau dengan efektifitas
kerja.
Dari sudut pandang
yang berbeda menurut Miller, Rankin dan Neathey (2001) dalam Hutapea dan Thoha (2008:3)
kompetensi didefenisikan sebagai gambaran
tentang apa yang harus diketahui atau dilakukan seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Sumber
daya manusia yang berbasis kompetensi
dapat meningkatkan kapasitas dan membangun fondasi yang kuat yang sesuai tuntutan usaha karena apabila
orang-orang yang bekerja dalam organisasi
memiliki kompetensi yang tepat sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.
Orang – orang
tersebut mampu baik dari segi pengetahuan (knowledge) keterampilan (skill), maupun mental serta
sikap (attitude) produktifnya. Dengan kepemilikan
nilai (value) yang kuat, mereka akan selalu siap menghadapi perubahan sesuai dengan tuntutan organisasi
tanpa menghilangkan jati dirinya.
Untuk melihat aplikasi ini dapat dilihat dari
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)
Marihat, Pematang Siantar. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar merupakan salah satu
lembaga penelitian yang sangat besar
peranannya dalam perekonomian Indonesia. Pusat penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar merupakan
perpanjangan tangan dari kantor Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Adapun tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Kelapa
Sawit (PPKS) Pematang Siantar adalah melakukan
penelitian dan pengembangan komoditi kelapa sawit yang meliputi semua aspek mulai dari perakitan bahan tanaman
dan teknik budidaya hingga pengelolahan
hasil, melakukan penelitian kelapa dan kakao, menyediakan benih kelapa sawit yang unggul berupa kecambah untuk
kebutuhan pihak perkebunan besar dan
perkebunan rakyat, memberi pelayanan kepada pengguna jasa baik perkebunan,
peneliti, pelajar, instansi, pemerintah maupun pihak-pihak lain serta menyampaikan konsep-konsep pemikiran yang
disampaikan kepada pemerintah sebagai
bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan untuk pengembangan perkebunan secara nasional.
Dalam melaksanakan
tugas pokok ini Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mengembangkan model kompetensi yang
berintegrasi dengan tolok ukur penilaian kinerja berdasarkan keterampilan (skill),
pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) yang dimiliki oleh setiap
pegawai agar dapat mempermudah di dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif yang dapat dijadikan dasar pengembangan Sumber Daya
Manusia. Berdasarkan kegiatankegiatan tersebut, Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS) sangat mementingkan kompetensi
kerja dari setiap pegawai agar tanggung jawab dan wewenang yang diberikan kepada masing-masing pegawai dapat
dilaksanakan dengan baik diantaranya
faktor-faktor penilaian prilaku yaitu pengenalan pekerjaan, kepatuhan, kerajinan, kemandirian, kerjasama
tim, kedisiplinan (Surat Ketetapan Penilaian
Kinerja PPKS).
Dalam
mengaplikasikan model kompetensi yang berintegrasi dengan penilaian kerja Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS) Marihat, Pematang Siantar mengalami
beberapa tantangan diantaranya tanggung jawab pegawai yang kadang tidak sesuai dengan tujuan perusahaan, tingkat
kehadiran pegawai, pengetahuan pegawai
terhadap pengoperasian alat teknologi yang mendukung pelaksanaan tugas pegawai, kemampuan pegawai untuk
melaksanakan dan menyelesaikan tugas
tepat waktu dan tepat sasaran serta pendidikan pegawai.
Permasalahan-permasalahan
tersebut membuat Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) khususnya PPKS Marihat, Pematang
Siantar melakukan pembinaan, pelatihan,
dan penyuluhan untuk menyelesaikan masalah secara berkesinambungan (continue) agar efektivitas kerja yang terjadi PPKS
tetap sesuai dengan tujuan perusahaan.
Sumber daya manusia
di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar terdiri dari karyawan
pimpinan, karyawan pelaksana, karyawan PKWT
(perjanjian kerja waktu tertentu), KHL (karyawan harian lepas). Namun, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mempunyai
kebijakan untuk mengharuskan para
pegawai khususnya bagi para pegawai yang memiliki skill yang rendah untuk
mengikuti seminar dan pelatihan yang berkaitan dengan sistem kerja Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung
penilaian peningkatan kinerja para pegawai dan untuk mempermudah dalam mencapai efektivitas kerja pegawai di
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Pegawai pada Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) diatur dengan adanya pemberian wewenang dan tanggung jawab.
Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan
akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan, yang direkfleksikan dalam kenaikan
produktifitas. Efektivitas kerja juga dilengkapi dengan kompetensi yang berhubungan
dengan knowledge, skill, dan attitude
yaitu ko munikasi, kerjasama kelompok, kepemimpinan danpengambilan keputusan secara analitis. Penambahan kompetensi dalam penilaian kinerja diharapkan dapat memperbaiki proses penilaian
efektivitas kerja pegawai. Bagi Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pegawai merupakan pelaksana manajemen puncak yang mampu berinteraksi dengan
masing-masing pegawai (worker).
Hal ini mendorong
penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Pematang
Siantar dengan judul “Pengaruh Kompetensi
Sumber Daya Manusia Terhadap
Efektivitas Kerja Pegawai Pada Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar”.
B. PerumusanMasalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka
penulis akan merumuskan permasalahan
tentang kompetensi sumber daya manusia pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat,
Pematang Siantar yaitu : “Bagaimana kompetensi sumber daya manusia berpengaruh
terhadap efektivitas kerja pegawai?”.
C. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual
yang akan diteliti pada penelitian ini yaitu Kompetensi Sumber Daya Manusia sebagai
variabel X dan Efektivitas Kerja sebagai
variabel Y. Pengelolaan sumber daya manusia yang terarah menentukan mutu
pengetahuan, keterampilan, keahlian, tingkat kompetensi dan kinerja karyawannya.
Peranan sumber daya manusia dalam organisasi perusahaan sangat menentukan arah
kehidupan perusahaan. Penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan untuk
merekflesikan efisiensi dan efektivitas kinerja karyawan.
Menurut Hasibuan
(2003:105) Efektivitas kerja adalah suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan
manajemen dalam mencapai tujuan yang
meliputi kuantitas kerja, kualitas kerja dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan serta kualitas kerja
yang baik. Efektivitas kerja karyawan akan meningkat apabila didukung oleh
kompetensi sumber daya manusia yang
berkualitas.
Menurut Spenser
& Spenser (1993) dalam Hutapea dan Thoha (2008:5) kompetensi adalah karakteristik dasar
seseorang yang terdiri dari knowledge, skill dan attitude yang ada hubungan sebab-akibatnya
dengan prestasi kerja yang luar biasa
atau dengan efektifitas kerja.
Knowledge (pengetahuan) merupakan
kemampuan yang dimiliki karyawan/pegawai
yang berorientasi pada cara pengoperasian
alat/mesin, pemahaman semua aturan dan teori yang berkaitan dengan pekerjaan, pelayanan yang baik serta
berfikir kreatif dan memberikan ide –
ide dalam pekerjaan sedangkan skill (keterampilan) merupakan kemampuan karyawan dalam bekerja sama, memecahkan
masalah dan berkomunikasi serta bertanggung
jawab dalam pekerjaan. Sedangkan menurut Surat Penilaian Karyawan/Pegawai pada Pusat Penelitian
Kelapa Sawit (PPKS) Attitude (sikap) karyawan
dapat dilihat dari pengenalan pekerjaan, kepatuhan, kerajinan, kemandirian, kerjasaman tim, serta
kedisiplinan.
Kompetensi sumber
daya manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai efektivitas kerja. Dengan
sumber daya manusia yang berkompeten
akan menghasilkan hasil positif yang sangat besar terhadap peningkatan efektivitas kerja. Tanpa adanya
kompetensi sumber daya manusia maka
efektivitas kerja akan sulit tercapai.
Gambar 1.1 Kerangka
Konseptual Peneliti Sumber : Hutapea
& Thoha (2008), Hasibuan (2003), Surat Penilaian PPKS D. Hipotesis Menurut Kuncoro (2003:47)
menyatakan hipotesis merupakan suatu penjelasan
sementara tentang prilaku, fenomena, atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi. Berdasarkan rumusan
masalah diatas dapat disimpulkan bahwa
hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Kompetensi Sumber Daya Manusia
mempunyai pengaruh signifikan terhadap
Efektivitas Kerja Pegawai Pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)
Marihat, Pematang Siantar “.
Kompetensi Sumber
Daya Manusia (X) Knowledge (pengetahuan)
(X1) Skill ( keterampilan) (X2) Attitude (sikap) (X3) Efektivitas Kerja (Y) Kuantitas Kerja Kualitas
Kerja Pemanfaatan Waktu E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan
Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi sumber daya
manusia yang terdiri dari knowledge, skill,dan attitude berpengaruh terhadap efektivitas kerja pegawai pada Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang
Siantar.
2. Manfaat
Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian antara lain : a. Bagi Perusahaan yaitu untuk memberi masukan
dan informasi bagi pihak manajemen untuk
semakin meningkatkan kompetensi sumber daya manusia untuk dapat meningkatkan efektivitas kerja
karyawan.
b. Bagi pembaca dan peneliti lain, untuk
menambah pengetahuan dan keterampilan
dalam penyusunan penelitian lanjutan dan sekaligus bahan masukan informasi alamiah untuk melanjutkan
penelitian tentang hubungan antara
kompetensi sumber daya manusia dengan efektivitas kerja karyawan.
c. Bagi penulis, sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan studi pasca strata-1 jurusan manajemen serta dapat
mengaplikasikan ilmu yang diperoleh berupa teori dan praktek langsung pada perusahaan.
F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional Batasan
oprasional penelitian ini adalah membahas mengenai kompetensi sumber daya manusia dan efektivitas kerja
karyawan pada Pusat Penelitian Kelapa
Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar.
2. Definisi Operasional Definisi operasional
bertujuan untuk melihat sejauh mana variabelvariabel dari suatu faktor
berkaitan dengan faktor lainnya. Variabel penelitian pada penelitian ini adalah
: a. Variabel Bebas (X) : Kompetensi Sumber Daya Manusia Kompetensi sumber daya
manusia adalah kemampuan yang dimiliki seseorang
karyawan atau pegawai didalam melakukan tindakan yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab agar dapat
mencapai tujuan perusahaan.
Adapun indikator
dari kompetensi sumber daya manusia (variabel X) yaitu : 1. Knowledge adalah informasi atau pengetahuan
yang dimiliki oleh seorang pegawai/karyawan
untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan bidang atau divisi yang digelutinya
(tertentu).
2. Skill adalah kemampuan yang harus dimiliki
oleh setiap pegawai/karyawan untuk
melaksanakan suatu tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh perusahaan secara maksimal.
3. Attitude adalah pola tingkah laku
karyawan/pegawai dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya sesuai dengan peraturan perusahaan b. Variabel Terikat
(Y) : Efektivitas Kerja Karyawan Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah efektivitas kerja. Efektivitas kerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan
dengan baik dan benar, sehingga pencapaian
tujuan dapat tercapai sesuai yang diinginkan.Adapun indikator dari efektivitas kerja (variabel terikat) yaitu: 1. Kuantitas kerja adalah volume kerja yang
dihasilkan dibawah kondisi normal.
Kuantitas juga
menunjukkan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan dalam satu waktu sehingga efektivitas dapat
terlaksana sesuai dengan tujuan perusahaan.
2. Kualitas kerja adalah ketelitian, kerapian,
dan keterikatan hasil kerja yang dilakukan
dengan baik agar dapat menghindari kesalahan didalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
3. Pemanfaatan waktu adalah penggunaan masa
kerja yang disesuaikan dengan kebijakan
perusahaan agar pekerjaan selesai tepat waktu pada waktu yang ditetapkan.
Tabel 1.
Operasionalisasi
Variabel Variabel Defenisi Oprasional Indikator Simbol Skala Kompetensi Sumber Daya
Manusia (X) Kemampuan yang dimiliki seseorang pegawai didalam melakukan tindakan yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab agar dapat mencapai tujuan perusahaan 1.
knowledge (X1) ( mengetahui teori
dalam pekerjaan, cara pengoprasian alat,
aturan pekerjaan, pelayanan yang baik, berfikir kreatif dan aturan dalam pekerjaan.
2. Skill (X2)
(mampu bekerjasama, memecahkan masalah, berkomunikasi dan bertanggung jawab) 3. Attitude
(X3) (pengenalan pekerjaan, kepatuhan, kerajinan, kemandirian, kerjasama tim serta kedisiplinan) Mengetahui teori pekerjaan(K1) Cara
pengoprasian alat (K2) Aturan pekerjaan (K3) Pelayanan yang baik (K4) Berfikir
kreatif (K5) Aturan dalam pekerjaan (K6) Mampu bekerjasama (S1) Memecahkan masalah(S2) Mampu berkomunikasi
(S3) Bertanggung jawab (S4) Pengenalan pekerjaan (A1) Kepatuhan (A2) Kerajinan
(A3) Kemandirian (A4) Kerjasama tim (A5)
Kedisiplinan (A6) Likert Efektivitas Kerja
Pegawai (Y) Suatu kegiatan yang dilakukan dengan baik dan benar, sehingga pencapaian tujuan dapat tercapai sesuai yang diinginkan 1. Kuantitas Kerja (volume kerja yang dihasilkan) 2. Kualitas Kerja (ketelitian dan kerapian hasil kerja) 3. Pemanfaatan
Waktu (ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab) Kuantitas (E1-E3) Kualitas
(E4-E6) Pemanfaatan Waktu (E7-E10) Likert
Sumber : Hutapea & Thoha (2008), Hasibuan (2003) dan Surat Penilaian PPKS 3. Skala Pengukuran Variabel Pada penelitian
ini menggunakan skala Likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial (Sugiono,2007:86).
Peneliti memberikan
lima alternatif jawaban kepada responden dengan menggunakan skala 1 sampai 5 yang dapat
dilihat pada Tabel 1.2 sebagai berikut: Tabel 1.
Instrumen Skala
Likert Keterangan Skor Sangat Setuju (SS) 5 Setuju
(S) 4 Ragu-ragu (RG)
3 Tidak Setuju (TS) 2 Sangat
Tidak Setuju (STS) 1 4. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi
penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Pematang Siantar. Waktu Penelitian
dimulai dari bulan November 2009 sampai
Januari 2010.
5. Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap
dan biasanya berupa orang, objek,
transaksi atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajari atau menjadi objek penelitian Kuncoro(2003:103).
Pada penelitian ini yang menjadi populasi
adalah karyawan Divisi Bidang Penelitian yang ada pada kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat,
Pematang Siantar yang berjumlah 145 orang.
b. Sampel Sampel
pada penelitian ini dilakukan berdasarkan penarikan ukuran sampel yang ditentukan dengan menggunakan
rumus Slovin dalam Umar (2008 : 78)
sebagai berikut : n = 1 Ne N + Di mana n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = Persen kelonggaran ketidaktelitian karena
kesalahan pengambilan sampel yang masih
dapat ditolerir atau diinginkan.
Sehingga jumlah
sampel dapat dihitung dengan cara : n = )1,0(14
1 + n = 59, Dalam penelitian ini jumlah
sampel dibulatkan menjadi 59 orang. Sampel diberikan kepada satu divisi yaitu divisi
produksi bagian penelitian yang terdiri dari Divisi Pemuliaan, Bioteknologi/ K.
Jaringan, Kelti Agronomi dan Kelti Proteksi.
6. Jenis dan Sumber
Data Prosedur pengambilan data dalam penelitian ini adalah menggunakan : a. Data Primer Data Primer adalah data yang
diperoleh langsung oleh penulis dari responden
yang ada di lokasi penelitian. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dan diskusi dengan atasan karyawan
serta dari hasil kuesioner.
b. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam
bentuk yang sudah diolah berupa dokumen
perusahaan atau organisasi dan publikasi yang dikumpulkan oleh pihak atau instansi
lain. Data sekunder dalam penelitian ini
meliputi profil perusahaan, struktur organisasi dan data yang diperoleh dari hasil pengolahan buku,
teori-teori dan literatur yang berhubungan
dengan masalah yang diteliti.
7 Teknik
Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini
adalah : a. Daftar Pertanyaan (questioner),
yaitu pengumpulan data dengan cara mengajukan
pertanyaan yang tersusun secara sistematis untuk diisi oleh karyawan secara objektif.
b. Wawancara (interview), yaitu mengadakan tanya
jawab dengan pihak yang mempunyai
wewenang untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan penelitian.
c.
Studi dokumentasi, yaitu mengumpulkan data dan informasi dari buku – buku, tulisan ilmiah, internet dan literature
lainnya yang memiliki relevansi dengan
penelitian.
8 Uji Validitas dan
Reabilitas a. Validitas Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk
mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji
validitas bertujuan untuk menguji apakah kuesioner layak untuk digunakan sebagai instrumen
penelitian. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan
data (mengukur) itu valid. Menurut Sugiono
(2007:109), suatu instrumen dikatakan valid apabila rtabel = 0,361.
Kriteria dalam
menentukan validitas adalah sebagai berikut : - Jika r hitung > r tabel maka
pertanyaan tersebut valid - Jika r hitung < r tabel maka pertanyaan tersebut
tidak valid Uji validitas data dapat dilakukan terhadap pengujian validitas
konstruksi, validitas isi, dan validitas
eksternal. Validitas konstruksi adalah aspek-aspek yang akan diukur berlandaskan teori tertentu.
Pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan mengkorelasikan antar score item
instrument. Apabila korelasinya rendah dan tidak signifikan maka instrumen dianggap
tidak valid. Uji validitas ini dapat diukur
dengan teknik korelasi product moment (Sugiyono 2007 : 119).
Pengujian validitas
dilakukan untuk membandingkan antara isi instrumen dengan isi materi seperti seorang dosen
memberi ujian di luar pelajaran yang ditetapkan,
berarti instrumen ujian tersebut tidak valid. Pengujian ini dapat dilakukan kepada para ahli. Sedangkan
validitas eksternal adalah cara membandingkan
antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. Hal ini
dapat dilakukan dengan mengujicobakan kepada
sampel, kalau ditemukan perbedaan yang terlalu mencolok maka instrumen harus disesuaikan.
Hasil penelitian
yang valid apabila tedapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya
terjadi pada objek yang diteliti. Kalau data
yang terkumpul tidak mencerminkan seperti objek yang sebenarnya maka hasil penelitian tidak valid. Selanjutnya
hasil penelitian yang reliabel apabila terdapat
kesamaan data dalam waktu yang berbeda, artinya apabila pada masa yang lalu bagus maka sekarang dan hari esok
harus bagus. Dalam memperoleh validitas
dan reliabilitas data harus melalui instrumen yang valid yaitu dengan alat ukur yang
valid. Instrumen yang reliabel
berarti instrumen yang dapat menghasilkan
hasil yang sama dalam beberapa kali pegukuran.
b. Reliabilitas Reabilitas
adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan
dengan tujuan melihat apakah alat ukur
yang diinginkan (kuesioner) menunjukkan konsistensi dalam mengukur gejala yang sama. Bila suatu alat pengukur di
pakai dua kali untuk mengukur gejala
yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel.
Sugiono (2007:121),
Pengujian reliabilitas digunakan untuk menguji hasil pengukuran angket (kuesioner) dapat dilakukan
baik secara eksternal maupun internal.
Secara ekternal dilakukan dengan
test-retest, equivalen dan gabungannya.
Test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali kepada responden, dalam hal ini
instrumennya sama, respondennya sama dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur
dari koefisien korelasi antara percobaan
pertama dan yang berikutnya. Bila koefisien positif dan signifikan maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.
Sedangkan dengan pendekatan equivalen
adalah pernyataan yang secara bahasa berbeda tetapi maksudnya sama.
Pengujian
reliabilitas instrumen ini dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil data yang diperoleh dari responden yang
sama, waktunya sama, tetapi instrumennya
berbeda. Pengujian validitas dan reliabilitas ini akan dilakukan sebelum melakukan penelitian yang sebenarnya.
Menurut Sugiono (2007:114) Sampel dalam
pra pengujian yang digunakan sekitar 30 orang. Pra pengujian (pengamatan) dilakukan di Pusat Penelitian
Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Uji validitas
dan uji reabilitas menggunakan bantuan program SPSS 14,0 for Windows.
9. Metode Analisis
Data a. Metode Deskriptif Metode ini
bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau karakteristik dari suatu keadaan, dalam hal
ini data yang sudah dikumpulkan kemudian
diklarifikasi, diinterprestasikan, dan selanjutnya dirumuskan, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
masalah yang diteliti.
b. Metode Analisis Kuantitatif Peneliti
menganalisis data dengan menggunakan metode regresi linier berganda dengan rumus : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Keterangan : Y = Efektivitas Kerja a = Konstanta b1-5 = Koefisien Regresi X1 = Knowledge (pengetahuan) X2 = Skill(keterampilan) X3 = Attitude (sikap) e = Standar error Walpole (2001 : 340) Model regresi linear berganda dapat disebut
sebagai model yang baik jika model tersebut
memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik satatistik.
Adapun syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi model regresi berganda sebelum data tersebut dianalisi adalah
sebagai berikut : a) Uji Normalitas Uji
normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel independen dan variabel
dependen atau keduanya mempunyai
distribusi normal atau tidak. Model yang paling baik adalah distribusi data normal atau mendekati
normal.
b) Uji Heterokedastisitas Uji ini dilakukan
untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari
residual suatu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Jika varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut
homokedastisitas, jika varians berbeda
disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.
c) Uji Multiko linearitas Uji ini digunakan
untuk menguji apakah dalam model sebuah regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel
independen. Jika terdapat korelasi antar
variabel independen maka dapat dikatakan terdapat masalah multikolinearitas. Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi korelasi
antar variabel independen. Uji multikolinearitas menggunakan kriteria Variance Inflation Factor
(VIF) dengan ketentuan : Bila VIF > 5
maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
Bila VIF < 5
maka tidak terdapat masalah multikolinearitas yang serius.
d) Uji Autokorelasi Uji ini digunakan untuk
menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan
pengganggu pada periode t dan kesalahan
pengganggu pada periode t – 1 (periode sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas
dari autokorelasi.
Untuk keperluan
analisis dan pengujian hipotesis, data diolah secara statistik dengan menggunakan alat bantu SPSS
versi 14.0.
c. Uji Hipotesis 1. Uji t, yaitu menemukan
seberapa besar pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
H0 : b1 =
0, artinya secara parsial tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas (X1, X2, X3)
yaitu knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), attitude (sikap) terhadap efektivitas kerja sebagai variabel terikat (Y).
Ha : b1 ≠ 0,
artinya secara parsial ada pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas (X1, X2, X3) yaitu berupa
variabel knowledge (pengetahuan), skill
(keterampilan), attitude (sikap) terhadap efektivitas kerja sebagai variabel terikat (Y).
Kriteria
pengambilan keputusan : H0 diterima jika thitung < ttabel pada α = 5% Ha diterima jika thitung >
ttabel pada α = 5% 2. Uji F, yaitu untuk menunjukkan apakah semua variabel
bebas yang dimasukkan dalam model
mempunyai pengaruh secara serentak (simultan) terhadap variabel terikat.
H0 : b1 = b2 = b3 =
0, artinya secara serentak (simultan) tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas
(X1, X2, X3) yaitu berupa variabel knowledge
(pengetahuan), skill (keterampilan), attitude (sikap) terhadap efektivitas kerja sebagai variabel
terikat (Y).
Ha : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠
0, artinya secara serentak (simultan) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas
(X1, X2, X3,) yaitu berupa variabel knowledge (pengetahuan), skill
(keterampilan), attitude (sikap) terhadap efektivitas kerja sebagai variabel terikat (Y).
d. Koefisien
Determinasi (R ) Koefisien determinasi (R ) pada intinya digunakan untuk mengukur seberapa besar kontribusi variabel bebas
terhadap variabel terikat. Jika koefisien
determinasi (R ) semakin besar nilainya
atau mendekati satu, maka kontribusi
variabel bebas (X1, X2, X3) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). Hal ini berarti model yang digunakan
semakin kuat untuk menerangkan pengaruh
variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika koefisien determinasi (R ) semakin mengecil nilainya atau mendekati
nol maka dapat dikatakan bahwa pengaruh
variabel bebas (X1, X2, X3) terhadap variabel
terikat (Y) semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas
yang diteliti terhadap variabel terikat.
Download lengkap Versi Word

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi