Rabu, 20 Agustus 2014

Skripsi Dakwah:PENGELOLAAN WISATA RELIGI (Studi Kasus Makam Sultan Hadiwijaya Untuk Pengembangan Dakwah)


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Dakwah  Islam  adalah  tugas  suci  yang  dibebankan  kepada  muslim  dimana  saja  ia  berada,  sebagaimana  termaktub  dalam  al  quran  dan  al  hadis.
 Dakwah  pada  era  kontemporer  ini  dihadapkan  pada  berbagai  tantangan  dan  problematika yang semakin kompleks.
 Mengingat  aktifitas  dakwah  tidak  terlepas  dari  masyarakat,  maka  perkembangannya  pun  harus  berbanding  lurus  dengan  perkembangan  masyarakat,  artinya  aktifitas  dakwah  hendaknya  dapat  mengikuti  perkembangan dan perubahan masyarakat (Abdul Basit, 2006: 3).
 Islam  adalah  agama  dakwah  artinya  agama  yang  selalu  mendorong  pemeluknya  untuk  selalu  senantiasa  aktif  melakukan  kegiatan  dakwah.  Maju  mundurnya  umat  islam  sangat  berkaitan  erat  dengan  kegiatan  dakwah  yang  dilakukannya,  karena  di  dalam  al  quran  dalam  menyebut  kegiatan  dakwah  dengan ahsanu qaula, dengan kata lain bisa menempati posisi tinggi dan mulia  dalam  kemajuan  agama  islam,  tidak  dapat  dibayangkan  apabila  kegiatan  dakwah mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh beberapa faktor terlebih  di era globalisasi sekarang ini, dimana berbagai informasi  masuk begitu cepat  dan instan yang tidak dapat dibendung lagi (Munir, 2003:4)
 Umat  islam  harus  dapat  memilah  dan  menyaring  informasi  tersebut  sehingga  tidak  bertentangan  dengan  nilai-nilai  agama  Islam.  Karena  1   merupakan suatu kebenaran, maka Islam harus tersebar luas dan penyampaian  kebenaran tersebut merupakan tanggung jawab Islam secara keseluruhan sesuai  dengan misinya “Rahmatan Lil Alamin” Islam harus ditampilkan dengan wajah  yang  menarik  supaya  umat  lain  beranggapan  dan  mempunyai  pandangan  bahwa  kehadiran  Islam  bukan  sebagai  ancaman  bagi  eksistensi  mereka  melainkan  pembawa  kedamaian  dan  ketentraman  dalam  kehidupan  mereka  sekaligus sebagai pengantar menuju  kebahagiaan  di dunia dan akhirat  (Munir,  2003: 5).
 Pengelolaan  merupakan   implementasi   dari   perencanaan   organisasi.
 Dalam   konteks  pengelolaan  manajemen  disini  lebih  diarahkan  pada  keberadaan  organisasi  salah  satu  ciri  utama  organisasi  yaitu  adanya  sekelompok  orang  yang  mengabungkan  diri  dengan  suatu  ikatan  norma,  peraturan, ketentuan dan kebijakan, ciri kedua adanya hubungan timbale balik  dengan  maksud  untuk  mencapai  sasaran  dan  tujuan,Sedangkan  ciri  yang  ketiga    diarahkan  pada  satu  titik  tertentu  yaitu  tujuan  yang  direalisasikan.(Siswanto,73:2005).    Pengelolaan  sebagai  suatu proses  harus  memperhatikan   beberapa   hal:  Pertama  struktur   harus    mencerminkan  tujuan   dan   rencana  kegiatan,  Kedua     harus     mencerminkan  wewenang  tersedia bagi pengelola,  Ketiga  harus memperhatikan lingkungan sekitar  baik   dari   faktor   internal   maupun   eksternal.  Faktor  internal  yang  dimaksudkan  disini  berasal  dari  juru  kunci  makam  dan  yayasan   Kraton  Surakarta  sebagai  pengelola  makam,  sedangkan  faktor  eksternal  berasal  dari  kelompok maupun pihak lain.(Munir,117:2006)   Selanjutnya   membahas  mengenai  wisata  adalah  perjalanan  yang  dilakukan  oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat  tertentu  untuk  tujuan  rekreasi  atau  mempelajari  keunikan  daya  tarik  wisata  yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.(Ismayanti,2010:3) Wisata   disisi   lain  merupakan   fenomena   sosial   yang  muncul  pada  masyarakat modern.
 Wisata  dibutuhkan  tidak  semata-mata  untuk  mencari  kesegaran  baru  namun digunakan untuk memperoleh ekses simbolik bagi yang melaksanakan.
 Disini dapat kita tunjukkan berbagai bentuk konsumsi waktu senggang yang  penekanannya   adalah  pada  konsumsi  pengalaman  dan  kesenangan  (seperti  theme  park,  pusat-pusat  wisata  dan  rekreasi)  serta  hal-hal  lain   yang  didalamnya   merujuk   pada    budaya  tinggi  yang  lebih  tradisional   seperti  museum dan galeri menarik kembali untuk melayani audien yang lebih luas  melalui  penjualan  seni  kanonik,  auratik  serta  berbagai  gagasan  edukatif  formatif  dengan  menekankan  hal  yang  bersifat  spektakuler,   populer,  menyenangkan dan dapat diterima (Featherstone, 231).
 Indonesia memiliki potensi wisata yang beranekaragam mulai dari  wisata  alam,  wisata  kuliner,  wisata  bahari  dan  lain  sebagainya.  Salah  satu  potensi wisata yang berkembang saat ini adalah wisata ziarah. Di Jawa makam  para  penyiar  agama  telah  lama  menjadi   obyek  kunjungan.  Wisata  ziarah  memiliki  dampak  ekonomi  dan  pengembangan  keberagamaan  yang  tidak  dapat  diabaikan.  Beberapa  contoh  berikut  dapat  diambil  representasi  dari  penjabaran.
  Pertama  Makam  Ki Ageng Pandanaran yang merupakan Adipati  Semarang pertama, tanggal diangkatnya beliau dijadikan sebagai hari jadi  kota Semarang. Ki Ageng Pandanaran meninggal pada tahun 1496. tempat ini  banyak dikunjungi oleh para peziarah pada acara khaul meninggalnya beliau  setiap bulan Muharram / setahun sekali. Letak makam Ki Ageng Pandanaran  di  Jl.  Mugas  Dalam  II/4  Kelurahan  Mugasari  kurang  lebih  1  KM  dari  Tugu Muda,  dibuka  untuk  umum  setiap  hari  dan  setiap  saat.
 (http/semarang.go.id/pariwisata/indeks.phpoption=com-contenstask  14/3/2009).
 Kedua  wisata religi di Pesarean gunung kawi, motivasi pengunjung ke  Pesarean  gunung  Kawi  secara  umum  adalah  untuk  memanjatkan  doa  atas  keinginan-keinginan  mereka  sesuai  dengan  cara  keyakinan  masing-masing.
 Pada  hari-hari  biasa  pengunjung  pesarean  gunung  kawi  berkisar  puluhan  hingga ratusan orang, tetapi pada malam Jumat Legi (kamis Kliwon) jumlah  pengunjung  melonjak  hingga  ribuan  orang.  Jumlah  ini  mencapai  puncaknya  pada  tanggal  1  dan  12  Suro.  Secara  tidak  langsung,  popularitas  Pesarean  gunung  Kawi  dan  frekuensi  kunjungan  yang  tinggi  dari  para  pengunjung  pesarean  yang  berjumlah  besar  telah  memacu  aktivitas  dan  pertumbuhan  ekonomi  masyarakat  sekitar  pesarean  tersebut.  Pasar  yang  ada  di  sebelah  timur  pesarean  semakin  semarak,  disisi-sisi  jalan  masuk  ke   Pesarean  masyarakat membuka kios lain-lain. Menjual barang-barang hasil karya lokal  seperti anyam-anyaman, ukir-ukiran, batu permata, keramik tanaman hias dan  lain-lain.  Para  remaja  putri  atau  kaum  perempuan  dibalik  kios-kios   menawarkan  bunga   untuk  ditaburkan  di  makam  atau  untuk  upacara  peribadatan,  menarik  pula  untuk  dinikmati  di   lebih  spesifik  dari  daerah  setempat  misal  ketela  rambat,  jagung  rebus  dan  bakar,  pisang,  apel  malang  dan  sebagainya.  Disamping  itu  tersedia  restoran  yang  menyajikan  makanan  Indonesia  dan  Tionghoa.  Kawasan  sekitar  komplek  makam  atau  pesarean  tersebut  sudah  mulai  tumbuh  seperti  „kota  mini”  yang  lengkap  dengan  berbagai fasilitas. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan-pengembangan  (Prastowardoyo,dkk.2009:32).
 Di  Indonesia ziarah dalam arti kunjungan ke makam ternyata sejalan  dengan  apa  yang  sudah  ada  terlebih  dahulu  yaitu  kebiasaan  mengunjungi  candi  atau  tempat  suci  lainnya  dengan  maksud  melakukan  pemujaan  roh  nenek moyang.  Pada zaman dahulu ziarah dipahami yaitu untuk meneruskan  kebiasaan  lama,  yaitu  pemujaan  selain  Allah  yang  kemudian  dilarang  dalam  ajaran Islam. (Soekmono,1973:85).
 Makam  Sultan  Hadiwijaya  sebagai  salah  satu  tempat  wisata  letaknya  di Desa Gedongan Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen yang biasanya ramai  dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah. Makam Sultan Hadiwijaya  yang  dikelola  oleh  juru  kunci  makam  yang  bernama  Aziz  yang  diwakilkan  dari  Kraton  Surakarta.  Tinggalan  arkeologis  yang  dapat  dilihat  berupa  bangunan  makam,  Kyai  Tambak  Boro/gethek  yang  digunakan  Sultan  Hadiwijaya semasa hidupnya, masjid yang dibangun dari pemerintah. Makam  Sultan  Hadiwijaya  ramai  dikunjungi  pada  malam  jumat  atau  pada  waktu  ruwah.  Adapun  ritual  yang  dilakukan  adalah  tahlil,  biasanya  para  peziarah   membawa  dupa  dan  kembang  dengan  maksud  sebagai  pewangi  tempatnya  aman bersih dan nyaman.
 Arti  penting  wisata  religi  yang  dimaksud  disini  bukan  hanya  bersenang-senang dan mencari hiburan saja artinya bersenang-senang dan cari  hiburan diperbolehkan dan halal tetapi yang lebih penting adalah memperluas  wawasan  untuk  menyaksikan  ayat-ayat  kebesaran  Allah  yang  tersebar  di persada  bumi  ciptaan  Allah  ini,  seperti  mengunjungi  tempat  rekreasi  atau  makam  orang  saleh  sebagai  wisata  rohani  atau  wisata  spiritual..  Dengan  menyaksikan keindahan alam kemanapun mata memandang dapat merasakan  wisata rohani yang indah dan kudus, dan mata hati dapat melihat dengan jelas  keindahan  sang  pencipta,  pelukis  agung  yang  Maha  Indah.  Wisata  rohani,  tamasya Spiritual dengan wisata rohani bukan hanya keindahan lahiriah yang  dapat  dinikmati.  Menurut  pandangan  Al  Quran  wisaata  diambil  dari  kata  siyahah  yang  secara  populer  diartikan  wisata,  kata  itu  mengandung  arti  penyebaran, terbentuk dari kata sahat  yang berarti lapangan yang luas. Wisata  religi dijelaskan dalam Al Quran surat Yusuf 109-111. ayat ini menjelaskan  perjalanan  wisata  yang  bertujuan  untuk  memperoleh  pelajaran  dan  ibrah (Departemen  Agama  RI,  1994  hlm.  365-367).  Wisata  religi  saat  ini  bukan  hanya pada makam saja, pada masjid juga bisa termasuk wisata religi. Wisata  religi  di  indonesia  yang  menonjol  adalah  pada  makam  wali  Allah  terutama  pada makam Walisongo yang dikenal oleh umat Islam.
 Wisata  merupakan  sebuah  perjalanan  yang  terencana  yang  disusun  oleh  perusahaan  perjalanan  menggunakan  waktu  seefektif  dan  efisien  agar   membuat  peserta  wisata  merasa  puas.    Berdasarkan  uraian  diatas  penulis  merasa  perlu  untuk  lebih  dalam  meneliti  tentang  pengelolaan  wisata  religi  (study kasus makam Sultan Hadiwijaya untuk pengembangan dakwah).
 B.  Rumusan Masalah Berdasarkan pembahasan diatas untuk melihat bagaimana pengelolaan  wisata   religi    disana  beberapa  hal  yang  perlu  diperhatikan  adalah  sebagai  berikut:  1.  Bagaimana pengelolaan wisata religi untuk pengembangan dakwah di  makam Sultan Hadiwijaya?  2.  Apa  saja  sumberdaya  yang  diperlukan   dalam   pengelolaan  makam  Sultan Hadiwijaya? 3.  Apa   faktor-faktor  pendukung   dan   penghambat   pengelolaan  Makam  Sultan Hadiwijaya? C.  Tujuan 1.  Tujuan Penelitian Penelitian  ini  mempunyai  beberapa  tujuan  yang  diharapkan  dapat  bermanfaat  bagi  pengembangan  ilmu  pengetahuan  adapun  tujuannya  sebagai berikut : a.  Untuk  mengetahui  bagaimana  pengelolaan   wisata   religi  kaitanya  dengan pengembangan dakwah di  Makam Sultan Hadiwijaya.
 b.   Untuk  mengetahui   sumberdaya  yang  digunakan   dalam  pengelolaan Makam di Makam Sultan Hadiwijaya.
  c.  Untuk  mengetahui  faktor-faktor  pendukung   dan   penghambat  pengelolaan di Makam Sultan Hadiwijaya.
 2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini menambah khasanah ilmu  pengetahuan tentang suatu pengelolaan,  terutama berkaitan dengan  pengelolaan wisata religi di Makam Sultan Hadiwijaya.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi