BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Dakwah Islam
adalah tugas suci
yang dibebankan kepada
muslim dimana saja
ia berada, sebagaimana
termaktub dalam al qur‟an dan al
hadis.
Dakwah
pada era kontemporer
ini dihadapkan pada
berbagai tantangan dan problematika
yang semakin kompleks.
Mengingat
aktifitas dakwah tidak
terlepas dari masyarakat,
maka perkembangannya pun
harus berbanding lurus
dengan perkembangan masyarakat,
artinya aktifitas dakwah
hendaknya dapat mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat (Abdul
Basit, 2006: 3).
Islam
adalah agama dakwah
artinya agama yang
selalu mendorong pemeluknya
untuk selalu senantiasa
aktif melakukan kegiatan
dakwah. Maju mundurnya
umat islam sangat
berkaitan erat dengan
kegiatan dakwah yang dilakukannya, karena
di dalam al qur‟an dalam menyebut
kegiatan dakwah dengan ahsanu qaula, dengan kata lain bisa
menempati posisi tinggi dan mulia dalam kemajuan
agama islam, tidak
dapat dibayangkan apabila
kegiatan dakwah mengalami
kelumpuhan yang disebabkan oleh beberapa faktor terlebih di era globalisasi sekarang ini, dimana
berbagai informasi masuk begitu cepat dan instan yang tidak dapat dibendung lagi
(Munir, 2003:4)
Umat islam
harus dapat memilah
dan menyaring informasi
tersebut sehingga tidak
bertentangan dengan nilai-nilai
agama Islam. Karena 1 merupakan
suatu kebenaran, maka Islam harus tersebar luas dan penyampaian kebenaran tersebut merupakan tanggung jawab
Islam secara keseluruhan sesuai dengan
misinya “Rahmatan Lil Alamin” Islam harus ditampilkan dengan wajah yang
menarik supaya umat
lain beranggapan dan
mempunyai pandangan bahwa
kehadiran Islam bukan
sebagai ancaman bagi
eksistensi mereka melainkan
pembawa kedamaian dan
ketentraman dalam kehidupan
mereka sekaligus sebagai
pengantar menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat (Munir, 2003: 5).
Pengelolaan
merupakan implementasi dari
perencanaan organisasi.
Dalam
konteks pengelolaan manajemen
disini lebih diarahkan
pada keberadaan organisasi
salah satu ciri
utama organisasi yaitu
adanya sekelompok orang
yang mengabungkan diri
dengan suatu ikatan
norma, peraturan, ketentuan dan
kebijakan, ciri kedua adanya hubungan timbale balik dengan
maksud untuk mencapai
sasaran dan tujuan,Sedangkan ciri
yang ketiga diarahkan
pada satu titik
tertentu yaitu tujuan
yang direalisasikan.(Siswanto,73:2005). Pengelolaan
sebagai suatu proses harus memperhatikan beberapa
hal: Pertama struktur
harus mencerminkan tujuan
dan rencana kegiatan,
Kedua harus mencerminkan wewenang tersedia bagi pengelola, Ketiga
harus memperhatikan lingkungan sekitar baik
dari faktor internal
maupun eksternal. Faktor
internal yang dimaksudkan
disini berasal dari
juru kunci makam
dan yayasan Kraton Surakarta
sebagai pengelola makam,
sedangkan faktor eksternal
berasal dari kelompok maupun pihak lain.(Munir,117:2006) Selanjutnya
membahas mengenai wisata
adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan
mengunjungi tempat tertentu untuk
tujuan rekreasi atau
mempelajari keunikan daya
tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu
sementara.(Ismayanti,2010:3) Wisata
disisi lain merupakan
fenomena sosial yang
muncul pada masyarakat modern.
Wisata
dibutuhkan tidak semata-mata
untuk mencari kesegaran
baru namun digunakan untuk
memperoleh ekses simbolik bagi yang melaksanakan.
Disini dapat kita tunjukkan berbagai bentuk
konsumsi waktu senggang yang penekanannya adalah
pada konsumsi pengalaman
dan kesenangan (seperti theme
park, pusat-pusat wisata
dan rekreasi) serta
hal-hal lain yang didalamnya merujuk
pada budaya tinggi
yang lebih tradisional
seperti museum dan galeri menarik
kembali untuk melayani audien yang lebih luas melalui
penjualan seni kanonik,
auratik serta berbagai
gagasan edukatif formatif
dengan menekankan hal
yang bersifat spektakuler,
populer, menyenangkan dan dapat
diterima (Featherstone, 231).
Indonesia memiliki potensi wisata yang beranekaragam
mulai dari wisata alam,
wisata kuliner, wisata
bahari dan lain
sebagainya. Salah satu potensi
wisata yang berkembang saat ini adalah wisata ziarah. Di Jawa makam para
penyiar agama telah
lama menjadi obyek
kunjungan. Wisata ziarah memiliki
dampak ekonomi dan
pengembangan keberagamaan yang
tidak dapat diabaikan.
Beberapa contoh berikut
dapat diambil representasi
dari penjabaran.
Pertama Makam
Ki Ageng Pandanaran yang merupakan Adipati Semarang pertama, tanggal diangkatnya beliau
dijadikan sebagai hari jadi kota
Semarang. Ki Ageng Pandanaran meninggal pada tahun 1496. tempat ini banyak dikunjungi oleh para peziarah pada
acara khaul meninggalnya beliau setiap
bulan Muharram / setahun sekali. Letak makam Ki Ageng Pandanaran di
Jl. Mugas Dalam
II/4 Kelurahan Mugasari
kurang lebih 1
KM dari Tugu Muda,
dibuka untuk umum
setiap hari dan
setiap saat.
(http/semarang.go.id/pariwisata/indeks.phpoption=com-contenstask
14/3/2009).
Kedua
wisata religi di Pesarean gunung kawi, motivasi pengunjung ke Pesarean
gunung Kawi secara
umum adalah untuk
memanjatkan doa atas keinginan-keinginan mereka
sesuai dengan cara
keyakinan masing-masing.
Pada
hari-hari biasa pengunjung
pesarean gunung kawi
berkisar puluhan hingga ratusan orang, tetapi pada malam Jum‟at Legi (kamis Kliwon) jumlah pengunjung
melonjak hingga ribuan
orang. Jumlah ini
mencapai puncaknya pada
tanggal 1 dan
12 Suro. Secara
tidak langsung, popularitas
Pesarean gunung Kawi
dan frekuensi kunjungan
yang tinggi dari
para pengunjung pesarean
yang berjumlah besar
telah memacu aktivitas
dan pertumbuhan ekonomi
masyarakat sekitar pesarean
tersebut. Pasar yang
ada di sebelah timur
pesarean semakin semarak,
disisi-sisi jalan masuk
ke Pesarean masyarakat membuka kios lain-lain. Menjual
barang-barang hasil karya lokal seperti
anyam-anyaman, ukir-ukiran, batu permata, keramik tanaman hias dan lain-lain.
Para remaja putri
atau kaum perempuan
dibalik kios-kios menawarkan
bunga untuk ditaburkan
di makam atau
untuk upacara peribadatan,
menarik pula untuk
dinikmati di lebih
spesifik dari daerah setempat
misal ketela rambat,
jagung rebus dan
bakar, pisang, apel
malang dan sebagainya.
Disamping itu tersedia
restoran yang menyajikan
makanan Indonesia dan
Tionghoa. Kawasan sekitar
komplek makam atau
pesarean tersebut sudah
mulai tumbuh seperti
„‟kota mini” yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Oleh karena itu dibutuhkan
pengembangan-pengembangan (Prastowardoyo,dkk.2009:32).
Di
Indonesia ziarah dalam arti kunjungan ke makam ternyata sejalan dengan
apa yang sudah
ada terlebih dahulu
yaitu kebiasaan mengunjungi candi
atau tempat suci
lainnya dengan maksud
melakukan pemujaan roh nenek
moyang. Pada zaman dahulu ziarah
dipahami yaitu untuk meneruskan kebiasaan lama,
yaitu pemujaan selain
Allah yang kemudian
dilarang dalam ajaran Islam. (Soekmono,1973:85).
Makam
Sultan Hadiwijaya sebagai
salah satu tempat
wisata letaknya di Desa Gedongan Kecamatan Plupuh Kabupaten
Sragen yang biasanya ramai dikunjungi
oleh para peziarah dari berbagai daerah. Makam Sultan Hadiwijaya yang dikelola oleh
juru kunci makam
yang bernama Aziz
yang diwakilkan dari
Kraton Surakarta. Tinggalan
arkeologis yang dapat
dilihat berupa bangunan
makam, Kyai Tambak
Boro/gethek yang digunakan
Sultan Hadiwijaya semasa
hidupnya, masjid yang dibangun dari pemerintah. Makam Sultan
Hadiwijaya ramai dikunjungi
pada malam jum‟at atau
pada waktu ruwah.
Adapun ritual yang
dilakukan adalah tahlil,
biasanya para peziarah membawa
dupa dan kembang
dengan maksud sebagai
pewangi tempatnya aman bersih dan nyaman.
Arti
penting wisata religi
yang dimaksud disini
bukan hanya bersenang-senang dan mencari hiburan saja
artinya bersenang-senang dan cari hiburan
diperbolehkan dan halal tetapi yang lebih penting adalah memperluas wawasan
untuk menyaksikan ayat-ayat
kebesaran Allah yang
tersebar di persada bumi
ciptaan Allah ini,
seperti mengunjungi tempat
rekreasi atau makam
orang saleh sebagai
wisata rohani atau
wisata spiritual.. Dengan menyaksikan keindahan alam kemanapun mata
memandang dapat merasakan wisata rohani
yang indah dan kudus, dan mata hati dapat melihat dengan jelas keindahan
sang pencipta, pelukis
agung yang Maha
Indah. Wisata rohani, tamasya Spiritual dengan wisata rohani bukan
hanya keindahan lahiriah yang dapat dinikmati.
Menurut pandangan Al Qur‟an wisaata diambil
dari kata siyahah
yang secara populer
diartikan wisata, kata
itu mengandung arti penyebaran,
terbentuk dari kata sahat yang berarti
lapangan yang luas. Wisata religi
dijelaskan dalam Al Qur‟an surat Yusuf 109-111. ayat ini
menjelaskan perjalanan wisata
yang bertujuan untuk
memperoleh pelajaran dan
ibrah (Departemen Agama RI,
1994 hlm. 365-367).
Wisata religi saat
ini bukan hanya pada makam saja, pada masjid juga bisa
termasuk wisata religi. Wisata religi di
indonesia yang menonjol
adalah pada makam
wali Allah terutama pada makam Walisongo yang dikenal oleh umat
Islam.
Wisata
merupakan sebuah perjalanan
yang terencana yang
disusun oleh perusahaan
perjalanan menggunakan waktu
seefektif dan efisien
agar membuat peserta
wisata merasa puas.
Berdasarkan uraian diatas
penulis merasa perlu
untuk lebih dalam
meneliti tentang pengelolaan
wisata religi (study kasus makam Sultan Hadiwijaya untuk
pengembangan dakwah).
B.
Rumusan Masalah Berdasarkan pembahasan diatas untuk melihat bagaimana
pengelolaan wisata religi
disana beberapa hal
yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut: 1.
Bagaimana pengelolaan wisata religi untuk pengembangan dakwah di makam Sultan Hadiwijaya? 2.
Apa saja sumberdaya
yang diperlukan dalam
pengelolaan makam Sultan Hadiwijaya? 3. Apa
faktor-faktor pendukung dan
penghambat pengelolaan Makam Sultan
Hadiwijaya? C. Tujuan 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini
mempunyai beberapa tujuan
yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan
adapun tujuannya sebagai berikut : a. Untuk
mengetahui bagaimana pengelolaan
wisata religi kaitanya dengan pengembangan dakwah di Makam Sultan Hadiwijaya.
b.
Untuk mengetahui sumberdaya
yang digunakan dalam pengelolaan Makam di Makam Sultan Hadiwijaya.
c. Untuk
mengetahui faktor-faktor pendukung
dan penghambat pengelolaan di Makam Sultan Hadiwijaya.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis Secara
teoritis hasil penelitian ini menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang suatu pengelolaan, terutama berkaitan dengan pengelolaan wisata religi di Makam Sultan
Hadiwijaya.
Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi