Jumat, 15 Agustus 2014

Skripsi Syariah:STUDI KOMPARASI TERHADAP LEVERING(PENYERAHAN) SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Bumi dan segala isinya diciptakan oleh Allah SWT bagi kepentingan hidup manusia, agar manusia dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 22 yang berbunyi : Artinya : “Dialah  yang  menjadikan  bumi  sebagai hamparan  bagimu  dan  langit sebagai  atap,  dan  Dia  menurunkan  air  (hujan)  dari  langit,  lalu  Dia menghasilkan  dengan  air  hujan  itu  segala  buah-buahan sebagai rizki untukmu”. (Al-Baqarah (2) : 22)  Fasilitas yang ada di atas bumi dengan segala isinya masih berupa potensi, masih  berupa  kemungkinan  yang  sama  sekali  belum  dapat  dimanfaatkan  secara langsung. Oleh karena itu potensi yang ada masih butuh diolah dan diproses agar dapat digunakan oleh manusia.
 Selain itu, potensi yang ada di muka bumi antara satu daerah dengan daerah yang lainnya berbeda. Ada satu daerah yang bagus untuk pertanian, yang lainnya tidak. Ada satu daerah yang kaya minyak, yang lainnya tidak dan lain sebagainya.

  Departemen agama RI, Al-Qur'an dan terjemahnya, h.
  Dengan kenyataan yang seperti ini, maka apa yang dihasilkan oleh daerah tertentu tidak  dapat  memenuhi  kebutuhan  hidupnya  dengan  baik. “Kondisi  seperti  ini mengakibatkan  adanya  saling  membutuhkan  antara  satu  daerah dengan  daerah yang lainnya sehingga timbullah aktivitas perniagaan atau jual beli”.
  Menurut  KUHPerdata  Pasal  1457 “jual beli  adalah  suatu  perjanjian,  dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak lain membayar harga yang telah dijanjikan”.
  Dari  perumusan pasal di  atas  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  dalam  jual beli terdapat dua pihak yaitu penjual dan pembeli, dan di antara keduanya terdapat hak  dan  kewajiban  masing-masing.  Pihak  penjual  berkewajiban  menyerahkan barang  yang  telah  dijualnya,  sedangkan  pihak  pembeli  berkewajiban  untuk membayar harga barang yang telah dibeli kepada penjual.
 Jual  beli  yang  dianut dalam  Hukum  Perdata  hanya  bersifat Obligator, yaitu: “perjanjian  jual beli  meletakkan  hak  dan  kewajiban  timbal  balik  antara kedua  belah  pihak  (penjual  dan  pembeli)”,   yaitu  meletakkan  kepada  penjual.
 Kewajiban  untuk  menyerahkan  hak  milik  atas  barang  yang  telah  dijualnya, sekaligus  memberikan  kepadanya  hak untuk  menuntut  pembayaran  harga  yang telah disetujui, dan di sebelah lain meletakkan kewajiban kepada pembeli untuk membayar harga barang sebagai imbalan haknya untuk menuntut penyerahan hak milik  atas  barang  yang  telah  dibelinya.  Atau dengan  perkataan  lain,  bahwa  jual  Mustofa Kamal, Fikih Islam, h.
  . . . . . .. . , Kitab Undang-undang Hukum Perdata, h.
  Sudaryo Soimin, Status Hak dan Pembebasan Tanah,h.
  beli yang dianut di dalam Hukum Perdata, jual beli belum bisa memindahkan hak milik.
 Adapun  unsur-unsur  perjanjian  jual  beli  adalah  harus  adanya  barang  dan harga  serta  kesepakatan, karena  jika  dalam  proses  jual  beli  salah  satu  unsurnya tidak  terpenuhi,  maka  jual  beli tidak  akan  terlaksana.  Sebagaimana  ditegaskan dalam  KUHPerdata  Pasal  1458  yang  berbunyi  :  “jual  beli  itu  dianggap  telah terjadi  antara  kedua  belah  pihak  seketika  setelahnya  orang-orang  ini  mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan harganya, meskipun kebendaan itu belum diserahkan, maupun harganya belum dibayar”.
  Sedangkan  ditinjau  dari  ajaran  Islam,  perniagaan atau perdagangan dibedakan menjadi dua macam antara lain: 1. Bentuk-bentuk perdagangan yang halal, yang dalam bahasa Arab disebut bay’ (jual beli), 2. Bentuk perdagangan yang haram, yang disebut riba.
 “Perdagangan  yang  berbentuk jual  beli  hukumnya  mubah,  sedangkan perdagangan yang berbentuk riba hukumnya haram.”  Yang dimaksuddengan jual beli yang hukumnya mubah adalah “jual beli yang diperbolehkan, yang telah memenuhi syarat-syarat dan rukunnya.”  Sedang  . . . . . . . . , Kitab Undang-undangHukum Perdata, h.
  Mustofa Kamal, Fiqih Islam,h.
  Sudarsono,. Pokok-pokok Hukum Islam, h.
  yang  dimaksud  dengan  jual  beli yang  hukumnya haram  adalah “jual  beli  yang dilarang”.
  Seperti  menjual  barang  najis atau barang  yang  tidak  tampak  tanpa adanya penjelasan tentang isi barang tersebut.
 Adapun yang dimaksud jual beli menurut istilah Islam adalah : “pertukaran hartaatas dasar saling merelakanatau memindahkan hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan”  Dari  beberapa  pengertian  jual  beli  di  atas  dapat  dipahami  bahwa  inti  jual beli adalah suatu perjanjian tukar menukar harta yang mempunyai nilai atas dasar kerelaan dan barang yang diperjualbelikan harus bermanfaat bagi manusia. Yang dimaksud  dengan  harta dalam jual  beli  adalah  “semua  yang  dimiliki  dan  dapat dimanfaatkan”.
  Adapun  benda  yang  diperjualbelikan  dalam  Islam  haruslah  memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan antara lain: "(1) suci(2) bermanfaat(3) milik  penjual  (dikuasainya)  (4) dapat  diserahkan (5)  dapat  diketahui keadaannya”.
  Maksud adanya ketentuan-ketentuan tersebut di atas agar tidak ada tipu  daya dalam  jual  beli,  sehingga  kedua  belah  pihak  tidak  merasa  dirugikan tetapi saling menguntungkan. Sebagaimana firman Allah SWT. yang berbunyi :  : 29 (  Ibidh.
  Mustafa Kamal, Fikih Islam,h.
  Chairuman Pasaribu dan SuhrawardiK. Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, h.
  Abdul Fatah Idrus dan Abu Ahmadi, Fiqh Islam Lengkap, h.1   Artinya : “Hai  orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  makan  harta  yang ada  di  antara  kamu  dengan  jalan  batil  melainkan  dengan  jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka”(An Nisa’ :29)  Dalam jual beli barang yang diperjualbelikan harus diketahui keadaan dan sifatnya.  Barang  tidak  tampak  dan  tidak  diketahui  keadaannya,  tidak  boleh diperjualbelikan.  Tetapi  jika  diterangkan  sifat-sifat  atau  ciri-cirinya  dan  sesuai dengan keterangan penjual, maka jual beli diperbolehkan tetapi jika tidak sesuai dengan keterangan penjual, maka pembeli mempunyai hak khiyar,artinya boleh meneruskan atau membatalkan jual belinya, selamakeduanya sudah berpisah atau belum. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi yang berbunyi: ُ Artinya : “Rasulullah  SAW  bersabda: Dua  orang  yang  jual  beli  dengan  khiyar selama keduanya belum berpisah”.( HR. Muslim)  Barang  yang  diperjualbelikan  harus  suci  dan  bermanfaat  untuk  manusia.
 Tidak boleh berjual beli barang-barang yang najisatau tidak bermanfaat, seperti : arak, babi, bangkai dan anjing. Sebagaimanahadits Nabi yang diriwayatkan oleh ImamMuslim yang berbunyi : ِ ( Artinya : “Allah  melarang  jual  beli  arak,  bangkai,  babi,  anjing  dan  berhala” .(HR. Muslim)   Departemen Agama RI, Al-Qur'an Terjemah, h.
  Imam Abi Husayn Muslim Ibnu Hajjaj, Jami’ Sahijuz v, h.
  Ibid,h.
  Sedangkan  menurut  Ahmad  bin  Hanbal,  “barang  yang  diperjualbelikan harus bisa diserahkan baik secara nyata maupun simbolis, sehingga barang yang tidak  dapat  diserahkan  tidak  sah  untuk  diperjualbelikan.  Karena  ditakutkan  ada unsur penipuan”.
  Misalnya jual beli ikan di air. Sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi : ( Artinya : “janganlah kamu membeli ikan di air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung unsur penipuan”. (HR. Ahmad)  Sebagaimanayang sudah dipaparkan di atas, dalam KUH Perdata jual beli hanya  bersifat  obligator,  artinya  transaksi atau perjanjian  dalam  jual  beli  belum bisa memindahkan hak  milik. Hak milik baru berpindah ketika sudah dilakukan levering (penyerahan). Berarti Levering (penyerahan)  adalah  perbuatan  yang menurut  hukum  diperlukan  untuk  mengalihkan  hak  milik  atas  barang  yang diperjualbelikan dari si penjual ke pembeli.
 Begitu juga menurut Islam tidak diperbolehkan menjual barang yang tidak dapat  diserahkan,  baik  barang  itu  tidak  ada  atau  pun  ada  tetapi  tidak  mungkin untuk diserahkan, takutnya ada unsur penipuan atau gharar.
 Melihat uraian-uraian di atas masih ada ketidakjelasan dalam masalah jual beli tentang hak milik. Apakah pembeli sudah memperoleh hak milik atas barang yang telah dibelinya sebelumadanya penyerahan (levering). Jika ya, barang yang  Abdul Fatah IdrisdanAbu Ahmadi, Fiqih Islam Lengkap, h.
  Imam Ahmad, Musnad Ahmad bin Hambal juz I,h.
  bagaimanakah  itu.  Ataukah  si  pembeli  baru  memperoleh  hak  milik  atas  barang yang  telah  dibelinya  ketika  sudah  ada  penyerahan (levering).  Berdasar  dari pertanyaan-pertanyaan  di  atas  maka  penulis  tertarik  untuk  membahas  tentang penyerahan(levering)sebagai cara untuk memperoleh hak milik dalam jual beli, baik  menurut  Hukum  Perdata  maupun  Hukum  Islam  dalam  judul  skripsi “Studi Komparasi  Tentang  Levering  Sebagai  Cara  Untuk  Memperoleh  Hak  Milik menurut Hukum Perdata dan Hukum Islam”.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi