BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Sungguh sangat sempurna agama Islam yang
diwahyukan oleh Allah SWT. kepada
junjungan Rasul-Nya Muhammad SAW untuk seluruh ummat manusia. Risalahnya telah mengajarkan kepada
manusia bagaimana berhubungan dengan
Allah dan bagaimana pula berhubungan dengan sesamanya.
Sebagaimana terdapat dalam firman Allah Q.S
Ali Imron Ayat 112: Artinya :“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka
berada kecuali jika mereka berpegang
teguh pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia”.
Penjelasan
tersebut mengajarkanprilaku ibadah dan hubungan baik sesama manusia adalah dua hal yang tidak
terpisahkan. Kewajiban menjalankan ibadah
diiringi dengan kewajiban berbuat baik sesama manusia. Oleh sebab itu, dalam persoalan hubungan sesama manusia, islam
mengajarkan kepada segenap pemeluknya
untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT dalam Q.S
al-Baqarah Ayat 148 : Departemen Agama
RI, al-Qur’a>n dan Terjemahnya, h.81 9e≅ä3Ï9uρ îπyγô_Íρ
uθèδ $pκÏj9uθãΒ (
(#θà)Î7tFó™$sù ÏN≡uöy‚ø9$# Artinya
:“dan tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya maka berlomba-lombalah kamu (dalam
membuat) kebaikan….” Ketentuan ayat tersebut menunjukkan bahwa
kehidupan manusia tidak akan mencapai
kesempurnaan jika hanyamenitik beratkan pada satu hubungan saja (hubungan dengan pencipta atauhubungan
dengan sesamanya), Islam mewajibkan agar
ada keseimbangan diantara keduanya.
Segala bentuk kegiatan yang mengerahkan sumber
dayayang dimiliki secara rasional dan
etis oleh setiapmanusia untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf hidupnya sebagai
khalifahAllah, yang disebut sebagai kegiatan
ekonomi adalah wajib hukumnyamenurut Islam. Islam mengajarkan agar dalam melakukan kegiatan ekonomi
seseorang harus menjunjung tinggi nilai-nilai
keadilan, kesederhanaan, penghematan dan sebagainya. Ekonomi Islam pada prinsipnya menunjuk kepada segala
bentuk kegiatan yang memanfaatkan
seluruh sumber daya untuk memproduksi barang dan jasa, mengkonsumsi dan mendistribusikannya sesuai
dengan petunjuk Allah SWT.
dengan tujuan mewujudkan kemaslahatan di muka
bumi dan meraih ridha-Nya.
Dengan demikian, kegiatan ekonomi di dalam
Islam di yakini sebagai bagian dari Ibid.
h. 28 manifestasi ibadah kepada Allah
SWT. dan melaksanakan tugas sebagai khalifah-Nya.
Agama Islam memandang bahwa semua bentuk
kegiatan ekonomi adalah bahagian dari
mu’amalah. Sedangkan mu’amalah sendiri juga termasuk bahagian dari syari’ah, salah satu dari kedua ajaran
Islam yang pokok lain yang tidak dapat dipisah-pisahkan
yaitu ‘aqidah dan akhlaq. Dalam kaitan
ini Allah SWT.
memberi gambaran tentang hubungan yang tak
terpisahkannya ketiga ajaran pokok Islam
itu dalam firman-NyaQ.S.Ibrahim Ayat 24-26: Artinya :“Tidakkah kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon
itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaanperumpamaan
itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya
dari permukaan bumi, tidak dapat tegak
sedikitpun.” Dalam kaitan ini, Al-Qur’an
telah menyerukan agar setiap muslim melakukan
segala aktivitas kehidupannya termasuk dalam bidang ekonomi selalu Ibid. h. 349 bertumpu pada ‘aqidah tauhid. Dalam hal ini
berarti bahwa pencipta, pemilik dan penguasa
segala yang ada hanyalah Allah Yang Maha Esa saja. Karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan-Nyadalam
melakukan kegiatan ekonomi selalu
bertumpu pada keimanan kepada Allah SWT dan bertujuan mencari ridhaNya.
Kegiatan ekonomi yang berlandaskan ‘aqidah tauhid menjamin terwujudnya kemaslahatan dan kebaikan
perekonomian untuk masyarakat luas, dan
bukan hanya pada masyarakat muslimsaja. Hal ini, karena ekonomi dalam pandangan Islam merupakan sarana dan fasilitas yang dapat membantu pelaksanaan ibadah dengan sebaik-baiknya.
Kegiatan ekonomi yang demikian dilaksanakan
oleh pelaku-pelaku ekonomi yang selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT, sehingga selalu berhias
dan menjunjung tinggi akhlak yang
terpuji, keadilan, bebas dari segala tekanan untuk meraih kebaikan hidup yang diridhai Allah SWT. di dunia dan di
akhirat.
Keterikatan kegiatan ekonomi yang berlandaskan
‘aqidah tauhid dengan akhlak yang
terpuji tidak dapat dipisahkan. Peranan ‘aqidah tauhid dan akhlak yang terpuji dalam semua kegiatan setiap
manusia, termasuk di dalamnya kegiatan
bidang ekonomi, adalah sangat penting. Kedua pokok ajaran Islam itu akan mengarahkan kegiatan perekonomian ke
jalan yang sesuai dengan syari’at Islam.
Konsep
Islam sangat jelas dan lantang bahwa manusia dilahirkan merdeka. Karenanya, tidak ada seorang pun
bahkan negara sekalipun yang boleh merampas
kemerdekaan tersebut dan membuat manusia menjadi terikat. Dengan kata lain, manusia diberi kebebasan sepanjang
dapat mempertanggungjawabkan, baik
kepada sosial maupun kepada Allah.
Pertanggungjawaban dalam kegiatan ekonomi
syari’ah memiliki arti bahwa manusia
sebagai pemegang amanahmemikul tanggung jawab atas segala keputusan yang telah diambil atau tindakan
yang telah dilakukan. Manusia, menurut
Islam, adalah makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan berbagai pilihan yang akan diambil.
Konsekwensi kebebasannya ini, kelak, akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Karena
itu, hampir tidak ditemukan di dalam
perkembangan ekonomi Islam tindakan-tindakan yang didasari oleh sikap positivesme yang merupakan salah satu
dari pilar penting dalam perekonomian
konvensional. Positivisme yang diartikan sebagai paham bebas nilai, bebas etika atau bebas dari
pertimbangan-pertimbangan normatif adalah bertentangan secara deametral dengan sikap
Islam yang mengakui bahwa segala yang
dimiliki manusia adalah amanat, titipan, dari Allah SWT. Seluruh sumberdaya adalah karunia Allah yang
dititipkan kepada manusia sebagai sarana mempermudah pengabdiannya kepada-Nya. Karena
itu segala tindakan manusia menyangkut
masalah ekonomi ini khususnya, kelak akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Yang memberikan
titipan, Allah SWT.
Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi