Jumat, 15 Agustus 2014

Skripsi Syariah:TINJAUAN PRAKTEK NOVASI PADA KREDIT BARANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DIKELURAHAN KEDUNG COWEK, KECAMATAN BULAK, KOTA SURABAYA


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Sejak  awal  eksistensi  manusia  di  bumi  ini,  hajat  untuk  hidup  secara kooperatif  diantara  manusia  telah  dirasakan  dan  telah  diakui  sebagai  suatu faktor  esensial  untuk  bisa  hidup.  Seluruh  anggota  manusia  bergantung  pada yang lain  untuk  memenuhi  kebutuhan  mereka.  Ketergantungan  mutualistik dalam  kehidupan  individu  dan  sosial  telah  melahirkan  sebuah  proses  evolusi gradual dalam pembentukan sistem pertukaran barang dan pelayanan.
  Dengan  semakin  berkembangnya  peradaban  manusia  dari  zaman  demi zaman sistem ini berevolusi dari bentuknya yang sangat sederhana pada bentuk bisnis modern.
 Dan  untuk  mencapai  kemajuan  juga  tujuan  hidup  manusia,  diperlukan kerjasama  dan  kegotong-royongan  sebagaimana  dilandaskan  dalam  al-Qur’an surat al-Maidah ayat: 2 yang berbunyi : Artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa,  dan  jangan  tolong-menolong  dalam  berbuat  dosa  dan pelanggaran.”   Mustaq Ahmad, Etika Bisnis Dalam Islam. h. 93.
  Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya,h. 156-157.

   Diantara sekian banyak aspek kerjasama dan perhubungan manusia, maka ekonomi perdagangan termasuk salah satunya. Bahkan aspek ini sangat penting peranannya  dalam  meningkatkan  kesejahteraan  hidup  manusia,  setiap  orang akan  mengalami  kesulitan dalam  memenuhi  hajat  hidupnya  jika  tidak bekerjasama dengan orang lain.
 Untuk  menjamin  keselarasan  dan  keharmonisan  dalam  dunia  dagang dibutuhkan  suatu  kaidah,  patokan  atau  norma  yang  mengatur  perhubungan manusia  dalam  perniagaan  yakni  hukum  dan  moralitas perdagangan,  Islam dengan doktrinnya yang penuh dinamika tidak mengabaikan aspek penting ini.
 Meskipun  pemilik  absolut  dan  hakiki  dari  kekayaan  adalah  Allah  SWT, seseorang  tidak  bisa  membayangkan  kemungkinan  adanya  perdagangan  dan transaksi  yang  legal  hingga  hak-hak  individu  dan  juga  kelompok  untuk memiliki  dan  memindahkan  satu  kekayaan  diakui  secara  bebas  dan  tanpa paksaan.
   Hal  ini  bisa  memberikan  bukti,  bahwasannya  Islam  bukan  saja mengizinkan namun dari pada itu Islam mendorong dengan keras orang-orang beriman  untuk  ikut  terlibat  dalam  sebuah  perdagangan  yang  jujur  dan menguntungkan. Islam datang dengan dasar dan prinsip yang mengatur secara baik  persoalan-persoalan  muamalah  yang  akan  dilalui  oleh  setiap  manusia dalam kehidupan sosial mereka.
 Salah satubentuk muamalah yaitu hubungan manusia dengan sesamanya.
 Obyek  muamalah  dalam  hukum  Islam  itu  sendiri  mempunyai  bidang  yang  Mustaq Ahmad, Etika Bisnis Dalam Islam,h. 93-94.
   sangat  luas,  sehingga  al-Qur-an  dan  al-Sunnah  secara  mayoritas  lebih  banyak membicarakan  persoalan  muamalah  dalam  bentuk  global  dan umum  saja.  Hal ini  menunjukkan  bahwa  Islam  memberikan  peluang  bagi  manusia  untuk melakukan  inovasi  terhadap  bentuk  muamalah  yang  mereka  butuhkan  dalam kehidupan, dengan syarat bahwa bentuk muamalah itu tidak keluar dari prinsipprinsip yang di bentuk olehIslam. Dalam bidang muamalah, misalnya : sewamenyewa,  jual  beli,  dan  utang-piutang.  Kebutuhan  ini  timbul  dari  kenyataan bahwa  manusia  tidaklah  sanggup  melengkapi  dirinya  sendiri,  ia  memerlukan sandang,  pangan  dan papan,  dan  ini  harus  diperoleh  dengan  cara  berusaha.
 Karena kebutuhan seseorang berbeda dengan orang lainnya, maka mereka dapat mengusahakan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan pokok pribadinya.
 Dalam  jual  beli  di  kenal  dua  macam  cara  pembayaran,  yaitu  tunai  dan kredit. Pembayaran secara tunai adalah pembeli membayar secara keseluruhan dari  harga  barang  yang  dibelinya  bersamaan  dengan  waktu  terjadinya  akad.
 Sedangkan  pembayaran  secara  kredit  dimana  penjual  melaksanakan  penjualan barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran  yang dilakukan pembeli dalam beberapa kali angsuran atas harga yang telah disepakati dan di ikat dalam suatu perjanjian, dan hak milik atas barang tersebut diserahkan kepada pembeli.
 Dari  uraian  pembayaran  jual  beli  dengan  cara  kredit  di  atas,  maka  akad jual beli semacam ini dapat diidentikkan ke dalam utang-piutang. Dalam ajaran  agama  Islam  sendiri  telah  di  atur  suatu  tata  cara  utang-piutang  yang  baik diantaranya, Firman Allah SWT, surat al-Baqarah ayat 282 yang berbunyi : Artinya : “Wahai  orang-orang  yang  beriman,  apabila  kamu  berutang-piutang satu sama lain, untuk waktu tertentu hendaklah kamu menuliskannya dengan benar....”  Ini berarti, bahwa setiap transaksi utang piutang harus jelas tertulis tanpa merugikan si peminjam. Sang kreditur harus mencegah jangan sampai berlaku tidak adil pada orang  yang berutang. Ayat al-Qur’an di atas juga memberikan ketentuan  bagi  debitur  untuk  menunaikan  atau  melunasi  hutangnya  apabila sudah jatuh tempo sesuai dengan perjanjian.
 Pembaharuan  utang (novasi) ialah  suatu  perjanjian  yang menghapuskan perikatan lama, tetapi pada saat  yang sama menimbulkan perikatan baru  yang menggantikan perikatan lama.
  Dalam novasi pihak  kreditur  dan  debitur  memang  bersepakat  untuk menghapuskan  perikatan  lama  dan  menggantinya  dengan  perikatan  baru.
  Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya,h. 70.
  Ridwan Syahrani, Seluk-beluk dan Asas-asas Hukum Perdata,h. 276.
   Karena dalam pembaharuan hutang (novasi)perikatan yang lama hapus, maka pokok perikatan yang baru dapat berbeda dari pokok perikatan yang lama.
  Penanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berpiutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si berhutang, manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya.
  Dalam  dunia  dewasa  ini  banyak  ditemui  orang-orang  yang  beragama Islam  melakukan  akad  jual  beli  dengan  sistem  kredit,  yaitu  jual  beli  dimana pembayaran dilakukan secara angsuran atau cicilan. Keadaan yang demikian ini salah  satunya  bisa  dijumpai  pada  masyarakat  di  Kelurahan  Kedung  Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya.
 Para  pedagang  menjual  barang  dagangan  secara  kecil-kecilan  karena pembelinya  adalah  para  konsumen  yang  memerlukan  barang  untuk keperluannya sehari-hari. Biasanya para pedagang menjual barang dengan jalan mengirimkan  contoh  barangnya  kepada  pihak-pihak  yang  akan  membutuhkan atau  akan  bisa  meningkatkan  penjualan.  Tetapi  seringkali  dari  calon  pembeli menentukan  sendiri  kriteria  dari  barang  yang  diinginkan,  sehingga  para pedagang terlebih dahulu mencari barang yang diinginkanoleh calon pembeli di pasar-pasar modern.


Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan skripsi