BAB I.
PENDAHULUAN.
A. LatarBelakangMasalah.
Skripsi Ekonomi: Analisis Pengaruh Indeks Nyse, Indeks Nikkei 225, Foreign Buy Dan Foreign Sell Terhadap Indeks Sektor Properti Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006-2010
Menurut Soros
dalam Fajar (2009:1)
krisis subprime mortgate di Amerika
Serikat bermula pada bulan Agustus 2007. Michel G. Crouhyet al. (2008:3) menambahkan
krisis kredit perumahan
atau subprime mortgage tahun 2007
dimulai di Amerika
Serikat. Penelitian yang
dilakukan oleh Patrick
Bajariet al. (2013:40) menjelaskan
krisis subprime mortgageini disebabkan longgarnya kebijakan pinjaman atas perumahan
dan penurunan harga rumah di Amerika
Serikat.
Menurut John B.
Taylor (2009:2) menambahkan monetary excesses
were the main
cause of that
boom and the
resulting bust (2009:2) juga
menjelaskan bahwa kebijakan The
Fedmenurukan tingkat suku
bunga menyebabkan para
pengembang dan perusahaan
leasing perumahan berlomba-berlomba membangun
dan menjual rumah
dengan murah sampai
pada akhirnya terjadi
booming karena banyaknya
gagal bayar.
Dari tiga
pendapat para ahli
tersebut menunjukkan bahwa
krisis subprime mortgage disebabkan oleh
kebijakan The Fedmenurunkan suku bunga, kebijakan
pemerintah atas pinjaman
perumahan yang longgar, terdapat
kelebihan keuangan, dan
turunnya harga perumahan
di Amerikat Serikat.
Indra
(2009:19-20) menjelaskan,
krisis ini mengakibatkanbeberapa bank investasi besar di Amerika Serikat bangkrut seperti Lehman Brothers Holding
Inc., Metropolitan Savings
Bank, Indy Mac,
ANB Financial, dan lainnya.
Bahkan Lehman Brothers meninggalkan hutang
hingga sebesar US$
613 miliar.Padakamis tanggal
17 Januari 2008, perdaganganbursa saham
Amerika Serikat dalam
indeks New York Stock Exchange(NYSE) mengalami
penurunan sebesar 2.8% menjadi8.818.95. (www.tempo.co: 2008).
Sumber:
www.finance.yahoo.comdiolah Gambar 1.Grafik Indeks New York Stock Exchange Tahun 2006-201Dari gambar grafik di atas
menunjukkan bahwa pergerakan New York Stock Exchange (NYSE) selama
tahun 2006-2010 mengalami
fluktuasi.
Pada bulan
1 (Januari 2006)
sampai bulan ke
22 (Oktober 2007)
NYSE mengalami bullishatau kenaikan
mencapai level 10.311,61. Namun
pada bulan ke
38 (Februari 2008)
NYSE mengalami bearish atau penurunan sebesar
55%. Hal ini
merupakan titik terendah
pada periode itu
yaitu 4.617,03.
Hal ini juga
menunjukkan bahwa selama
krisis subprime mortgageterjadi, indek NYSE mengalami bearish.
Krisissubprime mortgage ini
juga merambat ke negara-negara lain seperti
Eropa, Australia, Amerika Utara, dan Asia. (Michel G. Crouhy, et al, 2008:3). Dalam
studi ini selain
mengambil sampel dari
bursa saham Amerika
Serikat, studi ini
juga mengambil sampel
bursa saham di
Asia yaitu bursa saham Jepang
yangbernama Nikkei 225.
Sumber:
www.finance.yahoo.comdiolah Gambar 1.Grafik Indeks Nikkei 225 Tahun 2006-201Indeks Nikkei
225 selama tahun
2006-2010 mengalami resesi, meskipun pada bulan ke-18 (Juni 2007)
mengalami sedikit penguatan pada level
18.138,36. Pada bulan
ke-38 (Februari 2008)
indeks Nikkei 225 mencapai titik
terendah dalam periode tersebut hingga level 7.568,42. Hal ini menunjukkan
bahwa indeks Nikkei
225 mengalami penurunan
sebesar 58,3%.
Grafik di atas
menunjukkan selama krisis
indeks Nikkei 225 mengalami
penekanan.
Krisis subprime mortgageikut
merambat ke negara Indonesia. Banyak investor
asing yang menarik dananya ke negara asal mereka sehingga hal ini mempengaruhi
perekonomian di Indonesia.
Salah satu indikator
yang terlihat adalah
pada nilai tukar
rupiah terhadap dollar.
Rupiah tidak kuat menghadapi tekanan
yang begitu kuat.
Berikut grafik nilai
tukar rupiah terhadap dollar.
Sumber: www.bi.go.id Gambar 1.Grafik
NilaiTukar Rupiah Terhadap Dollar AmerikaSerikat Dari grafik nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat terlihat bahwa
nilai kurs rupiah
dari awal Januari
2006 hingga pertengahan
tahun 2008 mengalami
kestabilan. Namun pada
akhir tahun 2008
rupiah mengalami
tekanan hingga mencapai Rp.
12.338,00. Hal ini menunjukkan nilai kurs rupiah
turun sebesar 25,07 % dari awal tahun 2008 dengan nilai kurs
Rp. 9.245,00. Kemudian
mulai menguat kembali
pada bulan April 2009.
Selain menekan
nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika
Serikat, krisis subprime mortgageini
juga menekan bursa saham
Indonesia. Bursa Saham di Indonesia bernama Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). IHSG merupakan indeks
dari keseluruhan harga
saham yang ada
di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bursa Efek Indonesia
(BEI) merupakan gabungan
dari Bursa Efek
Jakarta dan Bursa
Efek Surabaya). Bursa
Efek Indonesia dibentuk
pada tahun 2007.
Berikut grafik IHSG
dari tahun 2006
hingga 2010.
Sumber:
www.finance.yahoo.comdiolah Gambar 1.Grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Tahun
2006-201Bursa saham Indonesia
ataudikenal dengan Indeks
Harga Saham Gabungan
(IHSG) pada awal
2006 hingga Desember
2007 (bulan ke-24) mengalami penguatan
mencapai level 2.745,83.
Namun kemudian IHSG melemah hingga
pada level 1.241,54 pada November
2008 (bulan ke-35).
Hal ini menunjukkan indeks IHSG
mengalami penurunan 55%. Setelah itu IHSG terus
mengalami penguatan hingga
pada akhir 2010
dengan level 3.703,51.
Berdasarkan penyebab
dari krisis subprime
mortgage yang diantaranya disebabkan
oleh kebijakan The
Fed menurunkan suku
bunga, kebijakan pemerintah atas
pinjaman perumahan yang longgarserta turunnya harga perumahan di
Amerika Serikat, peneliti
ingin mengetahui apakah krisis tersebut berdampak pada sektor properti
yang ada di Indonesiayang digambarkan oleh indeks sektor properti.
Pergerakan Indeks
Sektor Properti di
Bursa Efek Indonesia
selama tahun 2006 hingga 2010
sebagai berikut.
Sumber: www.duniainvestasi.com Gambar
1.Grafik Indeks Sektor Properti Tahun 2006-201 Indeks Sektor Properti dalam
bursa efek Indonesiapada grafik di atas terlihat
fluktuatif. Pada awal tahun 2006 pergerakan Indeks Sektor Properti mengalami
bullish hingga level 248. Namun bulan
Februari tahun200indeks mengalami
tekanan sehingga mengalami
penurunan sebesar 61% pada
level 97. Pada awal tahun 2009
indeks sektor properti
terlihat mulai menguat dan terus menguat hingga tahun 2010.
Selanjutnya beberapa penelitian
dari para ahli yang meneliti mengenai bursa
saham dan aksi jual-beli asing. Menurut Otavio R. de Medeiros, et al.
(2009:20)NYSE mempunyai pengaruh
kuat terhadap bursa saham di Brasil yang
digambarkan oleh indeks Bovespa. Mereka menjelaskan bahwa adanya pengaruh lag atau kelambanan
terhadap pergerakan indeks
dari Bovespa.
Metode yang
mereka gunakan untuk
menguji NYSE dengan
Bovespa menggunakan antara
lain uji kausalitas Granger, model
VECM, model simultan TSLS dan model GARCH.
Menurut Jodylyn Quijano-Arsenio,
et al.(2009:69) indeks NYSE dan Philipphines Stock
Exchange(PSE) yang dimana
juga menggunakan uji kausalitas
Grangermenemukan adapersamaan dan mempunyai
pengaruh.
Menurut mereka harga NYSE
membentuk harga dalam PSE.
Menurut Fajar Budhi
Darmawan (2009:71-72) bahwa
indeks Nikkei 225 yang merupakan bursa saham milik Jepang
berpengaruh terhadap bursa saham di
Indonesia yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selain itu Fajar juga meneliti bahwa FTSE dan Dow Jones
berpengaruh juga terhadap IHSG sementara Hang Seng
Stock Index(HSI) tidak
berpengaruh. Fajar meneliti menggunakan uji kausalitas Grangerdan
uji Chow-Break Point.
Menurut Moh.
Mansur (2005:203) menemukan
bahwa indeks Dow Jones,
TAIEX, HSI, KOSPI, FTSE, ASX, Nikkei 225 secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan Bursa Efek Jakarta (IHSG BEJ).
Namun jika di uji individu yang berpengaruh terhadap IHSG BEJ adalah indeks KOSPI, ASX, TAIEX,
Nikkei 225.
Menurut Ludovicus Sensi
Wondabio (2006:1) yang
meneliti hubungan dari Bursa efek
Jakarta (JSX) dan bursa saham London (FTSE),
bursa
saham Tokyo (Nikkei) dan bursa saham Singapura (SSI), menjelaskan bahwa Nikkei dan FTSE berpengaruh secara
signifikan terhadap BEJ namun BEJ tidak
berpengaruh terhadap Nikkei
dan FTSE. Hal ini menunjukkan perekenomian
negara berkembang dipengaruhi
oleh perekonomian negara maju. Nikkei dan FTSE mempunyai hubungan yang
negatifterhadap BEJ.
Menurut Ardian Agung Witjaksono
(2010:7) yang meneliti mengenai pengaruh
tingkat sukubunga SBI, hargaminyak dunia,harga emasdunia, kurs rupiah, indeks nikkei 225,
dan indeks dow jones terhadap IHSG, menemukan bahwa
variabel harga indeks nikkei
225 berpengaruh positif terhadap IHSG. Selain itu variabel
indeks dow jones, harga
minyak dunia, harga
emas juga berpengaruh
terhadap IHSG. Namun
tingkat suku bunga SBI
dan kurs rupiah berpengaruh negatif terhadap IHSG.
Dalam kaitannya mengenai
aksijual-beli asing terhadap harga saham Hyuk
Choe, et al. (1998:21) menemukan
bahwa tidak ada
bukti bahwa investor saham asing membuat destabilisasi
atau ketidakstabilan ekonomi di Korea. Padahal
selama krisis Korea
banyak investor saham
asing yang terlibat transaksi perdagangan dan secara
bersamaan.Menurut Budi Frensidy (2009:1) aksi
jual-beli asing mempunyai
pengaruh yang positif
terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). Selain itu Budi juga meneliti nilai kurs
dan indeks Hang
Seng terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dari berbagai banyak pendapat
yang disampaikan oleh beberapa para ahli ada
sebagian yang mengalami
perbedaan pendapat dan
menjadi perdebatan. Oleh karena
itu, perlu diteliti lebih lanjut permasalahan terhadap harga-harga
saham perusahaan sektor
properti. Berdasarkan uraian
di atas dan
beberapa literatur, judul
penelitian ini adalah Indeks
NYSE, Indeks Nikkei 225, Foreign Buydan Foreign Sell terhadap Indeks Sektor
Properti di Bursa Efek Indonesia
Tahun Periode 2006-201 1.
B. RumusanMasalah.
Dari latar
belakang yang telah
dijelaskan diatas dapat
diambil rumusan masalah sebagai
berikut:.
1. Bagaimanapengaruhindeks NYSE
terhadap indeks sektor propertidi Bursa Efek
Indonesia selama krisis subprime mortgage Amerika Serikat?.
2. Bagaimana pengaruh indeks Nikkei 225 terhadap indeks sektor propertidi Bursa
Efek Indonesia selama krisis subprime mortgage Amerika Serikat?.
3. Bagaimanapengaruhforeign buy dan foreign sell
terhadap indeks sektor
propertidi Bursa Efek
Indonesia selama krisis
subprime mortgageAmerika Serikat?.
C. TujuanPenelitian.
Dari rumusan masalah tersebut
maka tujuan penelitian ini adalah:.
1. Menganalisispengaruhindeks NYSE terhadap sektorpropertidi Bursa Efek
Indonesia selama krisis subprime mortgageAmerika Serikat.
2. Menganalisis
pengaruhindeks Nikkei 225terhadap sektor
propertidi Bursa Efek
Indonesia properti selama krisis
subprime mortgage Amerika Serikat.
3. Menganalisispengaruh
foreign buy dan foreign sell terhadap indeks sektorpropertidi Bursa
Efek Indonesia selamakrisis subprime mortgage Amerika Serikat.
D. ManfaatPenelitian.
Dari penelitian ini manfaat yang
diharapkan oleh peneliti adalah:.
1. Bagi Investor,
hasilstudiinidiharapkandapatmenjadi bahan masukan atau
pertimbangan dalam keputusan
berinvestasi sehingga dapat bermanfaat
bagi investor.
2. Bagi akademisi hasil studi ini
diharapkan dapat dijadikan pembelajaran dan
juga dijadikan salah
satu referensi dalam
meneliti mengenai bursa efek
Indonesia.
3. Bagiparapembuatkebijakan, hasil penelitianini diharapkandapat menjadi
bahan pertimbangan dalam
menentukan kebijakan dalam sektor
keuangan.
4. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah wawasan
serta mengetahui pengaruh krisis
subprime mortgageterhadap bursa saham di
Indonesia.
Skripsi Ekonomi: Analisis Pengaruh Indeks Nyse, Indeks Nikkei 225, Foreign Buy Dan Foreign Sell Terhadap Indeks Sektor Properti Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006-2010
Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi