BAB I.
PENDAHULUAN.
A.Latar Belakang.
Skripsi Ekonomi: Determinan Internet Financial Local Government Reporting Di Indonesia
Negara Kesatuan
Republik Indonesia adalah
negara yang berasaskan demokrasi dengan kekuasaan
tertinggi berada di tangan rakyat.Pejabat yang dipercaya oleh rakyat untuk
diberikan amanah menjadi wakil rakyat ditentukan
melalui proses pemilihan.
Terdapat pemisahan kekuasaan
di tubuh pemerintahan.
Dalam penyelenggaraannya, terdapat hubungan
pendelegasian kekuasaan antara
eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sistem
ini dibuat sebagai
bentuk pengawasan dan menjaga
keseimbangan atas kemungkinan
adanya penyimpangan wewenang
di dalam proses
penyelenggaraan
pemerintahan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 71
Tahun 2010 tentang kerangka konseptual
akuntansi pemerintahan, dijelaskan
bahwa sebagaimana berlaku
dalam lingkungan keuangan
pemerintahan, pihak eksekutif menyusun anggaran dan menyampaikannya
kepada pihak legislatif
untuk mendapatkan
persetujuan. Setelah mendapat persetujuan,
pihak eksekutif melaksanakannya dalam batas-batas apropriasi dan
ketentuan perundangundangan yang berhubungan dengan apropriasitersebut. Pihak
eksekutif bertanggung jawab atas penyelenggaraan
keuangan tersebut kepada pihak legislatif
dan rakyat.
Daerah dibentuk dengan
mempertimbangkan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut seperti kemampuan
ekonomi, sosial-budaya, sosialpolitik, jumlah penduduk, luas wilayah,
dan pertimbangan lain yang dirasa perlu untuk
mendukung terselenggaranya otonomi
daerah. Dijelaskan dalam
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun
1999 tentang pemerintah
daerah bahwa wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia
dibagi dalam daerah
propinsi, daerah kabupaten,
dan daerah kota
yang bersifat otonom. Adanya
otonomi daerah secara otomatis akan menimbulkan
tuntutan dari masyarakat
dalam pengelolaan keuangan daerah
yang dapat dipertanggungjawabkan. Dimuat
dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 105 Tahun
2000 mengenai pengelo laan
dan pertanggungjawaban keuangan
daerah, ditegaskan bahwa
pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara
tertib, taat pada
peraturan perundangundangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan
asas keadilan dan
kepatuhan. Bukti kinerja pemerintahan daerah yang baik akan tercermin
melalui kinerja pemerintah dalam mengelola
Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD).
APBD memuat
pembiayaan apa saja
yang dikeluarkan dalam menyelenggarakan pemerintahan.
Wahyuni (2010) menegaskan
bahwa evaluasi terhadap
pengelolaan keuangan daerah dan pembiayaan keuangan daerah akan
sangat menentukan kedudukan
suatu pemerintah daerah dalam rangka melaksanakan otonomi daerah.
Di dalam bukunya, Mardiasmo
(2009) menjelaskan bahwa terdapat dua
macam informasi yang digunakan untuk mengukur kinerja pemerintah daerah.
Pertama, penilaian laporan kinerja
finansial yang diukur berdasarkan pada
anggaran yang telah
dibuat. Kedua,penilaian laporan kinerja
non-finansial yang dapat
menambah keyakinan terhadap
kualitas proses pengendalian
manajemen. Semakin besarnya
tuntutan terhadap pelaksanaan akuntabilitas sektor publik juga
akanmemperbesar kebutuhan atas transparansi
informasi keuangan sektor
publik (Nordiawan, 2006).
Pemerintah yang tidak
secara transparan dalam menyampaikan informasi keuangan akan menimbulkan dampak
yang negatif bagi
masyarakat.
Dampak negatif yang akan
timbul dikarenakan tidak
adanya transparansi adalah
dapat menimbulkan distorsi
dalam alokasi sumber
daya, memunculkan ketidakadilan
bagi masyarakat, menyuburkan
praktikpraktik korupsi, penyalahgunaan wewenang
dan kekuasaan (Ridha
dan Basuki, 2012).
Berdasarkan penelitian
yang dilakukan Suhardjanto
dan Yulianingtyas (2011),
hasil statistik menunjukkan
bahwa nilai rerata pengungkapan
wajib dalam neraca pemerintah
daerah sebesar 10,49 atau 30,85%
dengan nilai maksimum
sebesar 55,88% (Kabupaten
Sinjai) dan nilai
minimum 14,70% (Kota
Sukabumi). Hasil tersebut
menunjukkan bahwa tingkat
pengungkapan wajib pemerintah daerah di Indonesia masih sangat rendah,
sehingga ketaatan pemerintah
daerah dalam penerapan Standar
Akuntansi Publik (SAP) dapat
dikatakan masih rendah. Menurut Kothari
et.al (2009), permintaan
atas pengungkapan dan
pelaporan keuangan muncul dari
asimetri informasi dan konflik keagenan. Informasi keuangan
yang dimiliki salah
satu pengguna mejadi
tidak sama dengan pengguna
informasi keuangan yang
lain. Hal ini dapat
berakibat atas informasi
yang dilaporkan oleh
perusahaan menjadi terbatas
dengan mementingkan
profitperusahaan saja. Hal ini dapat dimaklumi mengingat adanya persaingan bisnis di dalam
perusahaan-perusahaan profit oriented.
Namun, hal
ini menjadi tidak
wajar apabila terjad i
pada sektor publik.
Penghasilan pemerintah
daerah sebagian juga
dihasilkan melalui pajak yang
dibayarkan oleh rakyat, sehingga rakyat turut
berkontribusi sebagai sumber dana
pemerintahan. Rakyat memiliki
hak untuk mengakses informasi
dan mengetahui informasi
keuangan pemerintahan sebagai bentuk
pengawasan apakah penggunaan
pajak sebagai pembiayaan penyelenggaraan telah dialokasikan dengan
benar dan bertanggung jawab.
Menurut Laporan
Survei Indeks Persepsi
Korupsi Indonesia oleh Transparency International
Indonesia, rata-rata indeks
korupsi di tingkat kota
pada tahun 2006 mencapai angka
4,72, sedangkan pada tahun 2010 mencapai
angka 4,93. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan sebesar 0,20 antara tahun 2006 hingga 2010.
Akibatnya adalah munculnya krisis
kepercayaan masyarakat
terhadap kinerja pemerintah.
Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) RI selaku
pihak yang memiliki
wewenang dalam membangun tata
kelola pemerintah yang
baik, mempunyai tugas
dan tanggung jawab berupa
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara serta pengawasan tindak lanjut
hasil pemeriksaan. Setiap pemerintahan daerah
akan berusaha untuk
mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP) dari hasil
audit BPK sebagai
bukti kinerja yang baik dalam mengelola keuangan daerah.
Semakin berkembangnya teknologi
informasi dan komunikasi telah banyak mempengaruhi
perkembangan perekonomian. Hal
ini ditandai dengan
pertukaran informasi melalui
berbagai media komunikasi
yang memanfaatkan teknologi informasi
seperti internet. Beberapa tahun
yang lalu, beberapa
perusahaan mulai secara
sukarela mengungkapkan semua jenis informasi
keuangan dan non-keuangan
untuk memenuhi tuntutan informasi dari pengguna eksternal (Bonson
danEscobar, 2005). Penelitian yang dilakukan
oleh Muhammad (2012)
menunjukkan bahwa rata-rata indeks
tingkat pengungkapan informasi
keuangan pada tahun
2012 terbukti lebih rendah
daripada rata-rata indeks non keuangan. Berdasarkan penelitian
tersebut dapat disimpulkan
bahwa banyak pemerintah kota/kabupaten
yang masih kurang
optimal dalam mengembangkan pelaporan
keuangan melalui
website-nya. Sehubungan dengan
adanya Undang-Undang Keterbukaan
Informasi Publik (UU
KIP) Nomor 14 Tahun 2008,
pemerintah daerah terkesan
hanya sekedar memenuhi kewajiban
mempunyai website agar setiap
informasi publik dapat diperoleh secara
cepat dan tepat
waktu, dengan biaya
ringan, dan cara yang sederhana. Di sisi lain, Pemerintah
Kota/Kabupaten masih memilihmilih
informasi yang dianggap aman
yaitu informasi yang tergolong non keuangan (Muhammad, 2012).
Penelitian yang
terkait dengan pengungkapan
laporan keuangan belum
banyak diterapkan pada
laporan keuangan pemerintahan
jika dibandingkan dengan
perusahaan di sektor
swasta karena terbatasnya informasi
dari pemerintah yang
dapat diakses publik
dan sulitnya mengembangkan
motif yang mendasari
pengungkapan (Hilmi dan Martani, 2012). Penelitian yang dilakukan
Laswad et.al., (2005) membandingkan
karakteristik pemerintahan daerah
yang menggunakan internet
sebagai media pengungkapan dengan pemerintah
daerah yang memilih
untuk tidak menggunakan
media internet. Hasil
dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengungkapan
laporan keuangan pemerintah daerah di
internet dapat diprediksi berdasarkan tingkat financial leverage, municipal
wealth, press visibility dan council type.
Sedangkan local authority
size dan level
of political competition tidak dapat
digunakan untuk memprediksi ada atau
tidaknya Internet Financial
Reporting (I FR) oleh pemerintah daerah
di Selandia Baru.
Yentifa dkk, (2010) menerangkan bahwa
investor dan kreditor membutuhkan
informasi kondisi keuangan,
informasi kondisi ekonomi, informasi
kepatuhan terhadap aturan,
informasi kinerja, informasi perencanaan dan penganggaran serta informasi
naratif di dalam pelaporan keuangan
pemerintah daerah. Sedangkan yang terjadi, pelaporan keuangan pemerintah belum
menggungkapkan informasi yang
penting untuk membantu investor dan kreditor dalam
pengambilan keputusan. Pelaporan keuangan saat
ini lebih mengutamakan
tujuan akuntabilitas dari pada tujuan
prospektif dan prediktif yang seharusnya sama-sama diutamakan.
Penelitian ini mengacu dari
penelitian Laswad et.al., (2005) yang diterbitkan dalam Journal of Accounting and
Public Policy. Terdapat tiga perbedaan antara
penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Laswad et.al., (2005).
Pertama, terdapat perbedaan populasi yang
digunakan dalam penelitian
ini, yaitu pemerintahan daerah (kota/kabupaten) di Indonesia. Kedua, terdapat
perbedaan jumlah variabel independen yang digunakan. Dalam
penelitian ini hanya
menggunakan lima variabel
independen, yaitu kompetisi
politik (political competition), ukuran
pemerintahan daerah (size), leverage,
kekayaan pemerintahan daerah (municipal wealth),
dan tipe pemerintahan
daerah (council type).
Satu variabel
yang tidak digunakan
dalam penelitian ini
adalah variabel visibilitas
pers (press visibility) yang dikarena
tingkat kesulitan dalam mendapatkan data
yang tergolong tinggi.
Visibilitas pers diukur
dari jumlah berita terkait
pemerintahan daerah yang muncul pada media masa daerah
setempat di mana
dalam penelitian terdahulu
data ini dapat diperoleh melalui
akun “Newzindex”. Ketiga, terdapat
perbedaan rumus untuk menghitung kelima variabel dalam
penelitian ini sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan metode penelitian.
Berdasarkan penjabaran latar belakang di atas,
peneliti mengambil judul penelitian
“Determinan Internet
Financial Local Government Reportingdi Indonesia”.
B.Perumusan Masalah.
Masalah dalam penelitian ini
dapat dirumuskansebagai berikut :.
1. Apakah kompetisi
politik (politcal competition)
berpengaruh terhadap pelaporan keuangan pemerintah daerah di internet?.
2. Apakah ukuran (size) pemerintahan daerah berpengaruh terhadap pelaporan keuangan pemerintah daerah di
internet?.
3. Apakah leverage berpengaruh terhadap
pelaporan keuangan pemerintah daerah di internet?.
4. Apakah kekayaan
pemerintahan daerah (wealth) berpengaruh terhadap pelaporan keuangan pemerintah daerah
di internet?.
5. Apakah tipe
pemerintahan (type) berpengaruh
terhadap pelaporan keuangan
pemerintah daerah di internet?.
C.Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh bukti empirispengaruh kompetisi politik (political competition),
ukuran pemerintah daerah(size), leverage, kekayaan
pemerintah daerah (wealth),
dantipe pemerintahan (type) terhadap Internet Financial Local
Government Reporting (IFLGR).
D.Manfaat Penelitian.
Penelitian ini dilakukan agar
memberi manfaat kepada pihak-pihak sebagai
berikut ini.
1. Bagi Pemerintahan Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi
referensi terhadap pelaporan evaluasi
atas kinerja pemerintah
daerah secara sukarela
di internet, yaitu dengan cara melaporkannya melalu i
website pemerintah daerah.
Melalui internet,
informasi yang disampaikan
akan lebih cepat
dan mudah untuk
diakses oleh siapapun,
di manapun, dan
dengan biaya yang lebih murah.
2. Bagi pengguna (investor, kred
itur, dan donator) Penelitian ini dapat
digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan kerjasama
di bidang keuangan atau tidak
dengan suatu pemerintahan
daerah baik berupa
donasi, investasi, maupun dana
pinjaman kepada pemerintah daerah.
3. Bagi masyarakat Penelitian ini
dapat digunakan oleh
masyarakat sebagai informasi untuk
mengetahui kinerja pemerintah
daerah sehingga dapat dipergunakan sebagaialat
pengawasan kinerja keuangan
pemerintah daerah.
4. Bagi akademisi Penelitian ini
dapat menambah pengetahuan
para akademisi tentang sektor
publik dan menjadi referensi atas penelitian selanjutnya dalam hal
sektor publik pada umumnya dan khususnya tentang pengungkapan laporan keuangan oleh pemerintah daerah di
internet.
Skripsi Ekonomi: Determinan Internet Financial Local Government Reporting Di Indonesia
Download lengkap Versi PDF

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
pesan skripsi